Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 Original Artikel Penatalaksanaan Radioterapi pada Kasus Mycosis Fungoides di Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais Rory Agustria1*. Lalu Verry Holistia2 Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Polekkes Kemenkes Jakarta II. Jakarta Instalasi Radioterapi. National Cancer Center (NCC) Rumah Sakit Dharmais. Indonesia Email corespondent: roryagus120121@gmail. ABSTRACT Editor: AN Diterima: 15 November 2024 Direview: 25 Desember 2024 Publish: 30 Januari 2025 Hak Cipta: A2025 Artikel ini memiliki akses terbuka dan dapat didistribusikan Lisensi Atribusi Creative Commons, yang distribusi, dan reproduksi yang tidak dibatasi dalam media apa pun, asalkan nama penulis dan sumber Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Creative Commons Attribution Share Alike 4. Internasional. Introduction: Electron beam radiotherapy is commonly used to treat tumors located near the surface of the body due to its limited tissue penetration. Mycosis fungoides is a type of cutaneous T-cell lymphoma, a rare disease that predominantly affects men over the age of 40. Objectives: To describe the use of electron beam radiotherapy in the treatment of mycosis fungoides at the Radiotherapy Installation of Dharmais Cancer Hospital. Jakarta. Method: This descriptive study was conducted through observations, in-depth interviews, and documentation analysis related to electron beam radiotherapy procedures in a case of mycosis fungoides. Result: Electron beam radiotherapy was administered using a 25 x 25 cm field size. Radiotherapy plays a significant role in treating mycosis fungoides, both in early and advanced stages. Localized and total skin electron therapy can offer effective treatment Conclution: Electron beam radiotherapy is an effective modality for treating mycosis fungoides, particularly for lesions located on or near the skin surface, as demonstrated in the case treated at Dharmais Cancer Hospital. Keyword: electron, mycosis fungoides, radiotherapy Pendahuluan Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan kasus keganasan . dengan memanfaatkan radiasi pengion untuk membunuh dan menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Sinar dibagi atas gelombang elektromagnetik dan partikel. 3 Jenis sinar yang digunakan dalam dunia medis adalah sinar x, sinar gamma dan elektron. Berkas elektron digunakan pada proses radioterapi untuk mematikkan sel-sel tumor yang berada dekat dengan permukaan tubuh dikarenakan berkas elektron tidak dapat menembus terlalu jauh ke dalam jaringan. 6,7 Jika posisi kanker berada dipermukaan kulit atau sekitar 5 cm dari permukaan kulit maka pengobatan kanker tersebut menggunakan berkas radiasi elektron. 8,9 Elektron berbeda dari foton, elektron memiliki batas, elektron menempuh jarak, kemudian berhenti dan energi kinetiknya Nol sedangkan foton energi yang diberikan berkurang dengan kedalaman yang ditentuhkan. Linac dapat menghasilkan beberapa energi elektron dalam kisaran 4 MeV Ae 25 MeV. Limfoma kulit dibagi kedalam limfoma sel-B dan sel-T dan merupakan bagian proses limfomatosa yang tergeneralisasi. Ini harus dibedakan dari pseudolimfoma, proses reaktif dengan simtomatologi yang sulit dibeda-bedakan. Terapi yang digunakan terdiri atas radioterapi atau terapi Mycosis fungoides adalah suatu limfoma set-T dari kulit. 11,12 Penyakit yang jarang terdapat ini DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 lebih banyak didapat pada laki-laki daripada perempuan, dengan frekuensi terbesar diatas umur 40 Tiga stadium klinis yang biasanya dijalani oleh proses penyakit. Bersama-sama dapat memakan waktu yang cukup lama. Terutama stadium pertama, stadium premikotik eritematosa, menyerupai eksema seboroik atau psoriasis, dapat berlangsung lama, sebelum pindah kedalam stadium kedua, dengan terjadinya infiltrat kulit . Gambar 1. Gambaran histopatologi khas mycosis fungoides Gambaran histologic yang semula tampak sebagai dermatitis kronik sebenarnya hanya menjadi jelas dalam keadaan yang telah lanjut, sitofotometri DNA dan mikroskopi electron membantu pada Terapi mycosis fungoides mengenai lesi permulaan, terdiri dari PUVA (Psoralen UV-A) atau UV-B. 13,14 Penyinaran electron seluruh kulit tubuh memberi hasil yang baik, terutama pada stadium dini. Pengusapan kulit dengan larutan nitrogen mustard ternyata juga efektif. Pada stadium lanjut kombinasi kemoterapi dapat memberi remisi yang lama dan baik. Gambar 2. Mycosis Fungoides Pada tahap awal, lokasi yang sering muncul adalah dibagian bokong dan area terlindung dari sinar matahari. Histologi mengungkapkan dominasi sel pleomorfik kecil. Selama perjalanan penyakit, transformasi sel besar dapat terjadi prognosis yang lebih buruk. Strategi pengobatan lanjut dapat diobati dengan kemoterapi sistemik, fotoferesis ekstrakorporeal, dan/atau radioterapi. Modalitas pengobatan eksperimental baru termasuk retinoid baru . aitu, bexaroten. , imiquimod, obat kemoterapi baru . aitu, gemcitabine, fludarabine, doxorubicine pegilate. , pentostatin, dan transplantasi sel induk alogenik. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut, yaitu bagaimana penatalaksanaan terapi radiasi elektron pada kasus mycosis fungoides di Rumah Sakit DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 Kanker Dharmais Jakarta?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur terapi radiasi elektron pada kasus mycosis fungoides di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta? Metode Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus, penulis melakukan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi data tentang terapi radiasi elektron pada kasus mycosis fungoides di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Sampel penelitian adalah pasien kasus mycosis fungoides stadium IV dengan nama SH, umur 53 tahun. Dilakukan pengumpulan data mengenai penatalaksanaan radioterapi pada kasus mycosis fungoides di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, maka didapatkan hasil berdasarkan observasi dan wawancara sebagai berikut : Konsultasi dan Pemeriksaan Dokter Riwayat pasien. Seorang laki-laki umur 52 tahun datang dengan membawa surat rujukan ke poliklinik onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta untuk konsultasi tindakan penyinaran yang akan dilakukan. Pasien membawa dokumen-dokumen hasil pemeriksaan sebelumnya sepert hasil patologi klinik, dan hasil swab test dimasa pandemi. Setelah pasien konsultasi dengan dokter onkologi, dokter menentukan jenis Tindakan radioterapi dan dosis penyinaran yang sesuai dengan indikasi pasien. Pasien di arahkan untuk menjalankan simulasi penyinaran menggunakan alat simulator 2 dimensi. Simulasi Pesawat simulator merupakan salah satu alat bantu dalam pelayanan radioterapi, yang pada dasarnya adalah proses pencitraan dari fluoroscopy yang hasilnya berbentuk gambar 2 dimensi . D). Hasil dari simulator ini nantinya akan diolah untuk acuan penghitungan waktu penyinaran di bagian TPS (Treatment Planning Syste. Simulator ini bertujuan untuk melakukan simulasi sebelum dilakukan tindakan radiasi. Persiapan alat dan bahan: Pesawat Simulator . Spidol permanen . Alat DR . Bantal biasa Gambar 3. Pesawat Simulator(Dok. Pribad. Persiapan Pasien Tidak ada persiapan khusus pada pasien mycosis fungoides saat melakukan simulator. Pasien melepas pakaian yang melekat di area yang akan diperiksa. Tatalaksana Simulator . Pasien masuk ke ruang simulator dan dilakukan identifikasi pasien oleh radiographer, lalu wajah pasien di foto untuk keperluan identitas dan dokumentasi, dilakukan edukasi dan inform consent terhadap pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 . Posisi pasien prone head first di meja pemeriksaan yang datar dengan tangan di atas kepala, menggunakan bantal sebagai alat fiksasi, alat fiksasi ini harus disamakan dengan bantal diruang penyinaran. Sebelum simulasi, gantry diatur terlebih dahulu sesuai set up mesin yang akan digunakan untuk penyinaran. Posisi pasien diatur selurus mungkin atau sejajar dengan laser digital, lalu Central Point diarahkan pada tengah-tengah target penyinaran. Dokter onkologi radiasi menentukan ukuran luas lapangan. Radiografer mengatur Central Point dan parameter simulator sesuai dengan arahan dokter onkologi radiasi yaitu gantry 0 derajat, lapangan radiasi 25x25 cm. FSD 100 cm. Radiografer menggambar area penyinaran yang sudah ditetapkan. Gambar 4. Gambar Lapangan Penyinaran (Dok. Pribad. Radiographer membuat dokumentasi berupa foto pasien yang sudah dilengkapi dengan identitas pasien dan foto area penyinaran yang sudah ditandai dengan spidol permanent serta immobilisasi yang sudah diberikan bantal biasa dan bantal baji sebagai acuan posisi pasien pada saat penyinaran. Gambar 5. Foto Posisi Pasien dengan identitas pasien(Dok. Pribad. Radiographer menyimpan semua data pasien yang telah disetujui oleh dokter dan print data kemudian dokter tanda tangan. Setelah semua Tindakan simulasi selesai, radiographer melakukan edukasi ke pasien untuk menjaga gambar agar tidak hilang dan menjelaskan pemeriksaan selanjutnya yang akan dilakukan. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 Treatment Planning System (TPS) Prosedur operasional TPS dilakukan oleh Fisikawan Medis. Setelah proses simulator selesai, status pasien dilanjutkan ke ruang TPS untuk dilakukan perhitungan dosis electron oleh fisikawan medis berdasarkan data dari simulator. Adapun data yang dihitung di TPS adalah waktu penyinaran agar teknik radiasi yang diberikan paling optimal untuk terapi pasien. Hasil Radiograf simulasi 2 dimensi di scan kemudian petugas fisika medis melakukan perhitungan dosis di TPS dengan luas 25x25 cm, kedalaman 2 cm. FSD 100 cm, dilakukan penyinaran dengan menggunakan electron sebesar 30 Gy dibagi menjadi 15 fraksi masingmasing penyinaran mendapatkan 2 Gy sesuai dengan arahan dari dokter onkologi radiasi. Gambar 6. Alat Scan Radiograf (Dok. Pribad. Tahap berikutnya adalah approve data untuk dilakukan treatment pada pesawat linac. Gambar 7. Proses Approve di TPS (Dok. Pribad. Treatment Persiapan Alat dan Bahan . Pesawat linac Varian trilogy . Aplikator dengan luas 25x25 cm . Bantal biasa . Bantal baji Persiapan Pasien . Tidak ada persiapan khusus pada pasien dengan kasus mycosis fungoides ini. Pasien hanya membuka pakaian pada bagian tubuh yang akan dilakukan penyinaran. Data pasien dicatat pada buku pasien. Data dari simulator dan TPS ditulis . uas lapangan, teknik yang digunakan, dosis, waktu DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 . Pasien diposisikan prone di atas meja penyinaran dan diposisikan sama persis seperti pada saat di simulator. Dengan menggunakan laser sebagai alat bantu agar lurus. Gambar 8. Posisi Pasien Prone(Dok. Pribad. Lampu kolimator dan lampu skala jarak dihidupkan. Jarak SSD (Source Skin Distanc. 100 cm. Verifikasi Tidak ada verifikasi karena pada penyinaran lapangan electron luas lapangan langsung digambar dipermukaan kulit. Tatalaksana Penyinaran . Pemberian penyinaran pada kasus mycosis fungoides menggunakan total dosis 30 Gy dengan 2 Gy perfraksi sebanyak 15 kali penyinaran. Fraksi pertama sampai dengan fraksi ke 15 diberikan masing-masing fraksi sebesar 2 Gy. Semua fraksi memiliki tatalaksana yang sama sesuai dengan hasil dari simulasi dan TPS serta verifikasi di pesawat linac yaitu : Persiapkan alat dan bahan yang sama sesuai dengan pada saat disumulasi dan verifikasi. Pasien di panggil untuk masuk ke ruang penyinaran. Dilakukan identifikasi pasien. Pasien diposisikan sama dengan pada saat simulasi dan verifikasi. Gambar 9. Pasien dengan aplikator (Dok. Pribad. Lakukan penyinaran sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan oleh dokter onkologi radiasi yaitu sebesar 2 Gy. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 . Setelah selesai penyinaran 15 fraksi, pasien di instruksikan untuk kembali ke dokter onkologi untuk dilakukan pemeriksaan lebuh lanjut. Hasil Berdasarkan hasil observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi tentang teknik terapi radiasi elektron pada Kasus Mycosis fungoides di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, penulis mendapatkan hasil tentang penatalaksanaan radioterapi electron pada kasus mycosis fungoides. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik terapi radiasi elektron pada kasus mycosis fungoides meliputi proses penentuan parameter penyinaran di simulator, penyinaran menggunakan dosis fraksi 30 Gy dengan 2 Gy perfraksi, perhitungan dosis elektron di TPS dengan perhitungan kedalaman 2 cm dan luas 25x25 cm, menggunakan proyeksi Postero Anterior, tindakan terapi radiasi eksternal menggunakan pesawat linac berkas radiasi elektron. Pemberian radiasi ini menggunakan aplikator sesuai dengan luas lapangan yang disinar tujuannya untuk menghambat energi foton agar sinar yang dikeluakan hanya sinar elektron untuk permukaan saja. Pembahasan Prosedur radioterapi meliputi pemeriksaan pasien oleh dokter onkologi radiasi yaitu pemeriksaan fisik dan anamnesa, penentuan lapangan di simulator, perhitungan waktu penyinaran di TPS dan Tindakan terapi radiasi eksternal menggunakan pesawat linac dengan berkas radiasi elektron di ruang Omer Sager dkk. Dalam penelitiannya menyatakan bahwa terapi radiasi elektron adalah salah satu pengobatan untuk MF (Mycosis Fungoide. MF dianggap sangat radiosensitif, dengan hasil pengobatan menggunakan radiasi dosis rendah yaitu elektron dengan menunjukan hasil sangat Di rumah sakit kanker Dharmais teknik terapi radiasi elektron pada kasus mycosis fungoides meliputi proses penentuan parameter penyinaran di simulator, penyinaran menggunakan dosis fraksi 30 Gy dengan 2 Gy perfraksi, perhitungan dosis elektron di TPS dengan perhitungan kedalaman 2 cm dan luas 25x25 cm, menggunakan proyeksi Postero Anterior, tindakan terapi radiasi eksternal menggunakan pesawat linac berkas radiasi elektron dikerenakan elektron memiliki batas, elektron menempuh jarak, kemudian berhenti dan energi kinetiknya nol. Alasan teknik radiasi elektron untuk mematikkan sel-sel tumor yang berada di permukaan kulit. Alasan pemberian dosis fraksi untuk mengurangi efek samping yang diterima. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan gambar atau data dari perencanaan radiasi dan ruang penyinaran seperti identitas pasien, alat bantu/perangkat yang digunakan, lokasi yang akan disinar. Kesimpulan Kanker kulit Mycosis fungoides dapat dilakukan pengobatan dengan cara pemberian dosis radiasi elektron per fraksi pada area kanker dengan metode lapangan lansung. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan bahwa tidak terdapat konflik kepentingan, baik secara pribadi maupun institusional, dalam pelaksanaan dan pelaporan penelitian ini. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran dan terselesaikannya penelitian ini. Pendanaan Pendanaan kegiatan penelitian ini berasal dari dana pribadi peneliti. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Januari 2025 References