Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 1 Januari . : http://dx. org/10. 25157/jkg. TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA KEPERAWATAN TENTANG PATIENT SAFETY: CROSS-SECTIONAL STUDY Prodalima A*. Delfriana Ayu Astuty A. Elpriska 3 1, 3 Universitas Bunda Thamrin. Indonesia Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Indonesia (Article History: Submitted 2026-01-12. Accepted 2026-01-23. Published 2026-01-. ABSTRAK Patient safety merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki mahasiswa keperawatan sejak tahap Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Bunda Thamrin tentang patient safety berdasarkan tiga komponen utama, yaitu budaya keselamatan pasien, sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden, serta komunikasi efektif dan keterlibatan pasien. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 39 mahasiswa yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Penelitian dilaksanakan di Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Bunda Thamrin pada bulan OktoberAeNovember 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur sebanyak 5 pernyataan dengan total pernyataan sebanyak 15 pernyataan mewakili masing-masing komponen patient safety. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% responden memiliki tingkat pengetahuan patient safety kategori baik dan 15% kategori cukup. Seluruh responden . %) menyatakan persetujuan tinggi pada pernyataan inti terkait budaya keselamatan pasien, pelaporan insiden non-punitif, serta pentingnya komunikasi efektif dan keterlibatan pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki dasar pengetahuan patient safety yang kuat, namun masih bersifat kognitif. Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan perlunya penguatan pembelajaran patient safety berbasis aplikasi klinik dan simulasi sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik. Kata kunci: Pengetahuan. Mahasiswa Keperawatan. Patient Safety ABSTRACT Patient safety is an essential competency that nursing students must develop during their educational training. This study aimed to describe the level of patient safety knowledge among students of the Diploma in Nursing Program at Universitas Bunda Thamrin based on three main components: patient safety culture, risk management and incident reporting systems, and effective communication and patient engagement. A descriptive quantitative cross-sectional design was conducted among 39 nursing students selected using accidental sampling. The study was carried out at the Diploma in Nursing Program of Universitas Bunda Thamrin from October to November 2025. Data were collected using a structured questionnaire consisting of 15 statements, with five items representing each patient safety component. The results showed that 85% of respondents had a good level of patient safety knowledge, while 15% had a moderate level. All respondents . %) demonstrated high agreement with key statements related to patient safety culture, non-punitive incident reporting, and the importance of effective communication and patient These findings indicate that nursing students possess a strong foundational understanding of patient however, this knowledge remains primarily cognitive. Practically, the results highlight the need to strengthen patient safety education through clinically oriented learning approaches and simulation-based training to bridge the gap between knowledge and practice. Keywords: Knowledge. Nursing Students. Patient Safety PENDAHULUAN Patient fundamental dalam pelayanan kesehatan yang merujuk pada serangkaian sistem, proses, dan tindakan terstruktur untuk mencegah terjadinya Alamat Korespondensi: Universitas Bunda Thamri. Indonesia Email: prodalima@gmail. com 1* cedera atau kerugian yang tidak perlu pada pasien selama pemberian asuhan kesehatan. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa kejadian tidak diinginkan (KTD) masih menjadi masalah global yang signifikan, dengan estimasi bahwa eISSN: 2656-4122 Prodalima. Astuty. , & Elpriska / Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Patient Safety: Cross-Sectional Study sebagian besar insiden keselamatan pasien sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan prinsip patient safety yang konsisten dan berbasis sistem (WHO, 2. Dalam konteks pelayanan keperawatan, isu patient safety menjadi sangat krusial mengingat perawat merupakan tenaga kesehatan dengan frekuensi kontak tertinggi dan durasi interaksi terpanjang dengan pasien, sehingga memiliki peluang besar baik dalam mencegah maupun berkontribusi terhadap terjadinya insiden keselamatan pasien (Lee et al. , 2. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan, khususnya perawat, merupakan determinan utama dalam keberhasilan implementasi patient safety. Studi Alshammari et al. menemukan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan perawat mengenai prinsip keselamatan pasien berhubungan signifikan dengan tingginya angka kesalahan prosedur dan kegagalan pelaporan insiden. Temuan serupa dilaporkan oleh Kim dan Park . yang menyatakan bahwa pengetahuan patient safety yang baik berkorelasi positif dengan sikap keselamatan, kepatuhan terhadap standar prosedur operasional, serta perilaku aman dalam praktik keperawatan sehari-hari. Secara akademik, temuan ini menegaskan bahwa pengetahuan bukan hanya faktor pendukung, tetapi merupakan fondasi kognitif yang membentuk perilaku keselamatan dalam praktik klinik. Salah satu komponen inti dalam patient safety adalah budaya keselamatan pasien, yang mencerminkan nilai, keyakinan, dan norma kolektif dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Penelitian oleh Halligan dan Zecevic . menunjukkan bahwa budaya keselamatan yang kuat berkontribusi signifikan terhadap penurunan insiden keselamatan pasien dan peningkatan pelaporan insiden secara sukarela. Namun, budaya keselamatan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses internalisasi nilai sejak tahap pendidikan. Oleh karena itu, pemahaman mahasiswa keperawatan mengenai konsep budaya keselamatan pasien menjadi aspek penting yang menentukan kesiapan mereka dalam memasuki dunia praktik profesional (Ridelberg et al. , 2. Selain manajemen risiko dan pelaporan insiden merupakan pilar penting dalam upaya peningkatan keselamatan WHO menekankan bahwa sistem pelaporan insiden yang efektif memungkinkan organisasi kesehatan untuk belajar dari kesalahan dan hampir cedera . ear mis. , serta melakukan perbaikan berbasis sistem tanpa menyalahkan individu (WHO. Penelitian oleh Nguyen et al. mengungkapkan bahwa mahasiswa keperawatan sering kali memiliki pemahaman terbatas mengenai mekanisme pelaporan insiden dan analisis risiko, sehingga kurang siap berpartisipasi aktif dalam sistem keselamatan pasien saat praktik klinik. Hal ini menunjukkan adanya celah pengetahuan yang berpotensi melemahkan upaya pencegahan insiden di masa mendatang. Komponen penting lainnya dalam patient safety adalah komunikasi efektif dan keterlibatan pasien dalam proses asuhan. Komunikasi yang tidak efektif telah lama diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama terjadinya kejadian tidak diinginkan di fasilitas pelayanan kesehatan. Studi oleh OAoConnor et al. menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi antar tenaga kesehatan dan berkontribusi terhadap lebih dari 60% insiden keselamatan pasien. Sementara itu, penelitian Sari et al. menegaskan bahwa keterlibatan aktif pasien dan keluarga dalam proses pengambilan keputusan asuhan dapat meningkatkan deteksi dini kesalahan dan memperkuat keselamatan pasien. Namun, kemampuan komunikasi dan pemahaman konsep keterlibatan pasien sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang diperoleh sejak masa pendidikan keperawatan. Mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat profesional memegang peran strategis dalam keberlanjutan implementasi patient safety. Pendidikan keperawatan tidak hanya bertujuan membentuk kompetensi klinis, tetapi juga membangun kerangka berpikir keselamatan yang sistematis dan berorientasi pada pencegahan risiko. Penelitian oleh Sari et al. menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat pengetahuan patient safety yang baik memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap identifikasi risiko, kepatuhan prosedur, serta pelaporan insiden. Namun demikian, berbagai studi juga melaporkan adanya variasi tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang patient safety. Putri dan Rahman . menemukan bahwa sebagian mahasiswa masih memiliki pemahaman yang terbatas, khususnya pada aspek identifikasi pasien, sistem pelaporan insiden, dan pencegahan risiko jatuh. Meskipun penelitian mengenai pengetahuan patient safety pada mahasiswa keperawatan telah banyak dilakukan, sebagian besar studi sebelumnya hanya menilai pengetahuan secara umum tanpa pemetaan yang terstruktur berdasarkan komponen utama patient safety. Selain itu, masih terbatas penelitian yang secara khusus mengkaji pengetahuan mahasiswa diploma keperawatan dengan pendekatan komprehensif yang mencakup budaya keselamatan pasien, sistem manajemen Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 74 - 81 risiko dan pelaporan insiden, serta komunikasi efektif dan keterlibatan pasien secara simultan. Kesenjangan inilah yang menunjukkan perlunya penelitian deskriptif yang mendalam sebagai dasar pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, dan intervensi pendidikan berbasis keselamatan pasien (Lee et al. , 2. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Bunda Thamrin memiliki komitmen untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berorientasi pada keselamatan pasien. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat data empiris yang menggambarkan secara sistematis tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan terkait patient safety berdasarkan tiga komponen utama Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting tidak hanya secara praktis, tetapi juga secara akademik sebagai upaya penguatan evidence base dalam pendidikan keperawatan dan pengembangan ilmu keselamatan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Bunda Thamrin tentang patient safety berdasarkan tiga komponen utama, yaitu budaya keselamatan pasien, sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden, serta komunikasi efektif dan keterlibatan pasien. METODE PENELITIAN Metode penelitian menggunakan deskriptif kauntitatif dengan pendekatan cross sectional, yaitu suatu desain penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena atau karakteristik variabel pada satu waktu pengamatan tanpa melakukan intervensi terhadap responden. Desain ini dipilih karena sesuai untuk menggambarkan tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan mengenai patient safety berdasarkan tiga komponen utama, yaitu budaya keselamatan pasien, sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden, serta komunikasi efektif dan keterlibatan pasien. Penelitian dilaksanakan di Program Studi Diploma Tiga Keperawatan Universitas Bunda Thamrin pada periode OktoberAeNovember 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan besaran sampel yang digunakan yaitu sebanyak 39 Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti berdasarkan kajian teori dan literatur terkait patient Kuesioner terdiri dari 15 pernyataan, yang merepresentasikan tiga komponen patient safety, yaitu: . budaya keselamatan pasien, . sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden, dan . komunikasi efektif dan keterlibatan pasien. Setiap pernyataan diukur menggunakan skala Likert lima tingkat, yaitu sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Penggunaan skala Likert bertujuan untuk menggambarkan tingkat persetujuan responden terhadap pernyataan yang mencerminkan pengetahuan patient safety secara lebih objektif dan terukur, serta memungkinkan identifikasi variasi tingkat pengetahuan secara lebih Sebelum digunakan pada sampel penelitian, kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada mahasiswa keperawatan di luar sampel penelitian. Uji validitas dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan tingkat signifikansi 5% ( = 0,. Nilai rtabel ditentukan berdasarkan jumlah responden uji coba instrumen . , sehingga diperoleh nilai rtabel sebesar A0,361. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan memiliki nilai r-hitung lebih besar daripada r-tabel, sehingga seluruh item dinyatakan valid dan layak digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian ini. Selain uji validitas, dilakukan pula uji reliabilitas instrumen untuk menilai konsistensi internal kuesioner. Uji reliabilitas dianalisis menggunakan CronbachAos alpha. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai CronbachAos alpha sebesar Ou0,70, yang menandakan bahwa instrumen memiliki tingkat reliabilitas yang baik dan konsisten dalam mengukur pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang patient safety. Dengan demikian, kuesioner dinyatakan reliabel dan dapat digunakan dalam pengumpulan data penelitian. Penggunaan kuesioner tertutup dipilih untuk meminimalkan bias interpretasi responden serta mempermudah proses pengolahan dan analisis data. Responden diminta memilih jawaban yang paling sesuai dengan pemahaman mereka terhadap setiap pernyataan, sehingga data yang diperoleh diharapkan mencerminkan kondisi pengetahuan mahasiswa secara aktual dan objektif. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Analisis data dilakukan dengan menghitung frekuensi dan persentase untuk setiap kategori jawaban pada masing-masing item kuesioner. Selanjutnya, tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan tentang patient safety disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan tiga komponen utama patient safety. Analisis deskriptif ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang sistematis dan komprehensif mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan, tanpa melakukan pengujian hubungan atau pengaruh Prodalima. Astuty. , & Elpriska / Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Patient Safety: Cross-Sectional Study HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Semester Saat ini Karakteristik Usia: 19-22 Tahun > 23 Tahun Total Jenis Kelamin: Laki-Laki Perempuan Total Semester saat ini: Total Frekuensi Persentasi Berdasarkan Tabel 1, sebagian besar responden berada pada rentang usia 19Ae22 tahun, yaitu sebanyak 31 orang . %), sementara responden berusia >23 tahun berjumlah 8 orang . %). Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan, yaitu 32 orang . %), sedangkan responden laki-laki berjumlah 7 orang . %). Ditinjau dari semester saat ini, responden terbanyak berada pada semester 5, yaitu 21 orang . %), dan sisanya berada pada semester 3 sebanyak 18 orang . %). Karakteristik ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan mahasiswa aktif tingkat menengah hingga akhir pada program Diploma Tiga Keperawatan. Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Patient Safety Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Persentasi Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas tingkat pengetahuan responden tentang patient safety berada pada kategori baik yaitu sebanyaj 33 orang . %), dan cukup sebanyak 6 orang . %). Tabel 3. Pembangunan Budaya Keselamatan Pasien . Pernyataan Saya memahami prioritas utama STS dalam praktik Saya menyadari bersikap jujur dan terbuka apabila terjadi kesalahan dalam Saya merasa perlu dibiasakan kesalahan tanpa rasa takut Saya memahami bahwa sikap antar tenaga kesehatan dapat Saya mengetahui bahwa budaya pasien harus ditanamkan sejak masa pendidikan SS=Sangat Setuj. S=Setuj. N=Netra. TS=Tidak Setuj. STS=Sangat Tidak Setuju Hasil pada Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat persetujuan yang sangat tinggi terhadap seluruh pernyataan yang berkaitan dengan pembangunan budaya keselamatan pasien. Seluruh responden . %) menyatakan sangat setuju bahwa mahasiswa keperawatan perlu dibiasakan untuk melaporkan kesalahan tanpa rasa takut disalahkan serta bahwa budaya keselamatan pasien harus ditanamkan sejak masa pendidikan keperawatan. Selain itu, sebagian besar responden juga menyatakan sangat setuju bahwa sikap saling mengingatkan antar tenaga keselamatan pasien. Temuan utama pada komponen ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai pentingnya nilai kejujuran, keterbukaan, dan pembentukan budaya keselamatan pasien sejak tahap pendidikan. Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 74 - 81 Tabel 4. Sistem Manajemen Risiko dan Pelaporan Insiden . Tabel 5. Komunikasi Efektif dan Keterlibatan Pasien . Pernyataan Saya memahami pasien merupakan prioritas utama dalam praktik Saya menyadari bersikap jujur dan terbuka apabila terjadi kesalahan dalam praktik Saya merasa keperawatan perlu dibiasakan untuk kesalahan tanpa rasa takut Saya memahami bahwa sikap saling antar tenaga kesehatan dapat Saya mengetahui bahwa budaya pasien harus ditanamkan sejak masa pendidikan STS Pernyataan Saya memahami komunikasi yang jelas dan tepat dalam menjaga Saya mengetahui komunikasi yang tidak efektif dapat kesalahan dalam Saya memahami informasi pasien secara sistematis Saya mengetahui bahwa pasien dan dilibatkan dalam Saya mengetahui dilaporkan sesuai STS SS=Sangat Setuj. S=Setuj. N=Netra. TS=Tidak Setuj. STS=Sangat Tidak Setuju SS=Sangat Setuj. S=Setuj. N=Netra. TS=Tidak Setuj. STS=Sangat Tidak Setuju Berdasarkan Tabel menunjukkan tingkat persetujuan yang sangat tinggi terhadap pernyataan yang berkaitan dengan sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden. Seluruh responden . %) menyatakan sangat setuju bahwa keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam praktik keperawatan serta bahwa sikap jujur dan terbuka ketika terjadi kesalahan sangat penting. Selain itu, hampir seluruh responden menyatakan sangat setuju bahwa mahasiswa perlu dibiasakan untuk melaporkan kesalahan tanpa rasa takut Secara umum, temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan telah memiliki kesadaran yang kuat mengenai pentingnya sistem pelaporan insiden dan pendekatan non-punitif sebagai bagian dari manajemen risiko keselamatan Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa seluruh responden . %) menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan mengenai pentingnya komunikasi yang jelas dan tepat dalam menjaga keselamatan pasien, dampak komunikasi yang tidak efektif terhadap terjadinya kesalahan, serta kewajiban pencatatan dan pelaporan setiap kejadian keselamatan pasien sesuai prosedur. Selain itu, sebagian besar responden juga menyatakan sangat setuju bahwa pasien dan keluarga perlu dilibatkan dalam upaya menjaga keselamatan pasien. Temuan utama pada komponen ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai peran komunikasi efektif dan keterlibatan pasien sebagai strategi penting dalam pencegahan kejadian tidak diinginkan. Prodalima. Astuty. , & Elpriska / Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Patient Safety: Cross-Sectional Study Pembahasan Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Patient Safety Berdasarkan tabel 2. 1 menunjukkan bahwa mayoritas tingkat pengetahuan responden tentang patient safety berada pada kategori baik yaitu sebanyaj 33 orang . %), dan cukup sebanyak 6 orang . %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan tentang patient safety pada kategori baik . %), sementara sebagian kecil berada pada kategori cukup . %). Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum mahasiswa keperawatan telah memiliki pemahaman kognitif yang memadai mengenai prinsip-prinsip keselamatan pasien. Tingginya proporsi pengetahuan baik dapat mencerminkan efektivitas proses pembelajaran patient safety dalam kurikulum pendidikan keperawatan, khususnya pada aspek pengenalan konsep dasar keselamatan pasien, nilai keselamatan, dan tanggung jawab profesional perawat sebagai penjaga keselamatan pasien. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Alquwez et al. yang melaporkan bahwa sebagian besar mahasiswa keperawatan memiliki tingkat pengetahuan patient safety yang baik setelah mendapatkan paparan materi keselamatan pasien dalam pembelajaran teori. Pengetahuan yang baik tersebut dipengaruhi oleh integrasi materi patient safety dalam kurikulum serta peran dosen dalam menekankan pentingnya keselamatan pasien sebagai bagian dari kompetensi inti perawat. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran formal memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman awal mahasiswa terhadap patient safety. Namun demikian, masih ditemukannya responden dengan tingkat pengetahuan kategori cukup . %) menunjukkan adanya variasi pemahaman di antara mahasiswa. Penelitian oleh Gleason et al. menegaskan bahwa perbedaan tingkat pengetahuan patient safety pada mahasiswa keperawatan sering dipengaruhi oleh perbedaan pengalaman klinik, intensitas paparan kasus keselamatan pasien, serta metode pembelajaran yang digunakan. Mahasiswa yang lebih banyak terlibat dalam pembelajaran berbasis kasus dan simulasi klinik cenderung memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya memperoleh pembelajaran Penelitian lain oleh Mansour et al. juga mengungkapkan bahwa meskipun mahasiswa menunjukkan skor pengetahuan yang baik, pemahaman tersebut sering kali masih bersifat konseptual dan belum sepenuhnya terinternalisasi sebagai kesiapan praktik. Hal ini menegaskan bahwa hasil penelitian ini perlu ditafsirkan secara kritis, karena kategori pengetahuan baik belum tentu mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan prinsip patient safety secara konsisten di lingkungan klinik yang kompleks dan berisiko Selain itu, studi oleh Al Thobaity dan May . menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pengetahuan patient safety mahasiswa keperawatan berkaitan erat dengan strategi pembelajaran aktif, seperti simulasi keselamatan pasien, refleksi insiden, dan diskusi interprofesional. Tanpa pendekatan tersebut, pengetahuan mahasiswa cenderung stagnan pada level pemahaman dasar. Dengan demikian, meskipun hasil penelitian ini menunjukkan dominasi kategori pengetahuan baik, temuan ini sekaligus menegaskan perlunya penguatan pembelajaran patient safety yang berorientasi pada aplikasi praktis dan pengambilan keputusan klinik. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan gambaran empiris bahwa mahasiswa keperawatan telah memiliki dasar pengetahuan patient safety yang relatif kuat, namun masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk memastikan kedalaman pengetahuan, terutama bagi mahasiswa dengan kategori pengetahuan cukup. Temuan ini memperkuat pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap proses pendidikan patient safety agar tidak hanya menghasilkan pemahaman teoritis, tetapi juga kesiapan praktik yang berorientasi pada keselamatan pasien. Pembangunan Budaya Keselamatan Pasien Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden . %) menyatakan sangat setuju bahwa sikap saling mengingatkan antar tenaga kesehatan serta penanaman nilai keselamatan pasien sejak masa pendidikan keperawatan merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara kognitif mahasiswa telah memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai prinsip dasar budaya keselamatan pasien. Namun demikian, tingginya tingkat persetujuan ini perlu dianalisis secara kritis, mengingat desain penelitian yang bersifat deskriptif hanya menggambarkan pengetahuan yang dipersepsikan, bukan perilaku nyata dalam situasi klinik. Secara teoritis, budaya keselamatan pasien terbentuk melalui interaksi berulang antara nilai, sikap, dan perilaku kolektif dalam suatu organisasi. Penelitian Al Habib et al. menunjukkan bahwa budaya keselamatan yang kuat tidak hanya bergantung pada pemahaman individu, tetapi juga Jurnal Keperawatan Galuh. Vol. 8 No. 74 - 81 pada iklim organisasi yang mendukung komunikasi terbuka, kerja tim, dan perilaku saling mengingatkan . utual monitorin. Dengan demikian, meskipun mahasiswa dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan yang tinggi, belum dapat disimpulkan bahwa budaya keselamatan tersebut telah terinternalisasi secara mendalam tanpa adanya pengalaman praktik klinik yang memadai. Penelitian lain oleh Ridelberg et al. menegaskan bahwa mahasiswa keperawatan sering kali menunjukkan skor pengetahuan yang tinggi tentang budaya keselamatan, namun mengalami kesulitan dalam menerapkan prinsip tersebut ketika berada dalam lingkungan klinik yang hierarkis atau kurang mendukung perilaku berbicara . peaking Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian ini perlu dipahami sebagai modal awal yang positif, tetapi masih memerlukan penguatan melalui pembelajaran kontekstual dan pengalaman klinik yang aman secara psikologis. Sistem Manajemen Risiko dan Pelaporan Insiden Pada komponen sistem manajemen risiko dan pelaporan insiden, seluruh responden . %) menyatakan sangat setuju bahwa keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam praktik keperawatan serta pentingnya bersikap jujur dan terbuka apabila terjadi kesalahan. Temuan ini menunjukkan adanya kesadaran normatif yang sangat kuat mengenai pentingnya sistem pelaporan Namun, secara kritis perlu dicermati bahwa persetujuan penuh terhadap pernyataan tersebut belum tentu mencerminkan kesiapan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pelaporan insiden di praktik nyata. Penelitian oleh Lee et al. menunjukkan bahwa meskipun tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang baik tentang pentingnya pelaporan insiden, praktik pelaporan sering kali terhambat oleh faktor ketakutan terhadap konsekuensi, budaya menyalahkan, dan kurangnya pemahaman teknis tentang mekanisme pelaporan. Studi serupa pada hasiswa keperawatan juga pengetahuan dan tindakan, terutama ketika mahasiswa berada di lingkungan klinik yang belum sepenuhnya menerapkan pendekatan non-punitif terhadap kesalahan (Nguyen et al. , 2. Hasil penelitian ini menguatkan pentingnya menanamkan konsep manajemen risiko dan pelaporan insiden sejak masa pendidikan, tetapi juga menegaskan bahwa pembelajaran teoritis perlu dilengkapi dengan simulasi, studi kasus, dan pembiasaan pelaporan insiden dalam konteks Tanpa pengetahuan yang tinggi berisiko tetap berada pada level deklaratif dan belum berkembang menjadi kompetensi praktis yang berkelanjutan (Kim & Park, 2. Komunikasi Efektif dan Keterlibatan Pasien Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden . %) sangat setuju mengenai pentingnya komunikasi yang jelas dan tepat, dampak negatif komunikasi yang tidak efektif, serta kewajiban pencatatan dan pelaporan kejadian keselamatan pasien. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menempatkan komunikasi sebagai salah satu faktor paling dominan dalam terjadinya kejadian tidak diinginkan. Penelitian Novrifa et al. menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan pelaporan insiden keselamatan pasien, sedangkan komunikasi yang buruk berkontribusi terhadap miskomunikasi informasi klinis yang berpotensi membahayakan Namun, secara kritis, beberapa studi menekankan bahwa mahasiswa sering kali konseptual, tetapi belum sepenuhnya menguasai keterampilan komunikasi klinik yang kompleks, seperti handover terstruktur, komunikasi lintas profesi, dan keterlibatan aktif pasien (Jang et al. Selain itu, keterlibatan pasien dalam menjaga keselamatan pasien juga membutuhkan kemampuan komunikasi interpersonal yang matang. Penelitian OAoConnor et al. menegaskan bahwa pasien yang dilibatkan secara aktif dalam proses asuhan cenderung lebih mampu mengidentifikasi potensi kesalahan, tetapi keterlibatan ini sangat bergantung pada kemampuan tenaga kesehatan dalam menjelaskan informasi secara jelas dan empatik. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan potensi yang baik dari sisi pengetahuan, namun masih memerlukan penguatan keterampilan komunikasi praktis melalui pembelajaran berbasis simulasi dan praktik klinik terstruktur. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan hasil. Pertama, desain penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional tidak memungkinkan peneliti untuk menilai hubungan sebab-akibat maupun perubahan tingkat pengetahuan dari waktu ke waktu. Kedua, jumlah sampel yang relatif kecil dan terbatas pada satu institusi pendidikan penelitian ke populasi mahasiswa keperawatan yang lebih luas. Ketiga, penggunaan kuesioner berbasis persepsi berpotensi menimbulkan bias sosial . ocial Prodalima. Astuty. , & Elpriska / Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Tentang Patient Safety: Cross-Sectional Study desirability bia. , di mana responden cenderung memberikan jawaban yang dianggap benar secara normatif, bukan mencerminkan pemahaman atau kesiapan praktik yang sesungguhnya. Implikasi Bagi Pendidikan Keperawatan Meskipun memiliki keterbatasan, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan Tingginya tingkat pengetahuan mahasiswa tentang patient safety menunjukkan bahwa materi keselamatan pasien telah diterima dengan baik secara kognitif. Namun, institusi pendidikan keperawatan perlu menggeser fokus pembelajaran dari sekadar transfer pengetahuan menuju pengembangan kompetensi aplikatif melalui pembelajaran berbasis simulasi, studi kasus insiden keselamatan pasien, dan integrasi patient safety secara longitudinal dalam kurikulum. Selain itu, penciptaan lingkungan belajar yang aman secara psikologis menjadi penting agar mahasiswa terbiasa berbicara, melaporkan kesalahan, dan terlibat aktif dalam upaya keselamatan pasien sejak masa Dengan pendekatan tersebut, lulusan keperawatan diharapkan tidak hanya memahami patient safety, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten dalam praktik profesiona. SIMPULAN Berdasarkan disarankan agar institusi pendidikan keperawatan mengintegrasikan pembelajaran patient safety secara longitudinal melalui pendekatan berbasis simulasi klinik, studi kasus insiden nyata, dan praktik reflektif untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan konseptual dan kemampuan aplikatif mahasiswa. Selain itu, penelitian lanjutan perlu menggunakan desain analitik atau eksperimental dengan jumlah sampel yang lebih luas guna mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi penerapan patient safety dalam praktik klinik mahasiswa, sehingga dapat dihasilkan model pembelajaran keselamatan pasien yang berbasis bukti dan kontekstual terhadap kebutuhan pendidikan keperawatan. DAFTAR PUSTAKA