Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 KURIKULA: JURNAL PENDIDIKAN VOLUME: 10 NO: 2 TAHUN 2026 P-ISSN E-ISSN https://ejournal. id/index. php/kurikula/ind ex STRATEGI DAN PERAN GURU PAI DALAM MEMBENTUK KARAKTER IBADAH (SHALAT DAN PUASA) SISWA DI SMP ISLAM TERPADU INSAN QURAoANI PONCOWARNO Muhammad Zakwan Alfaruq 1. Mellia Lesthari 2. Ahmad Faizin3 Markaz Hafshah Binti Umar. Indonesia Markaz Hafshah Binti Umar. Indonesia Markaz Hafshah Binti Umar. Indonesia Email : kartikadwisafitri18@gmail. Email : mellialesthari17@gmail. Email : ahmadfaizin1390@gmail. Article history Submitted 18/25/2026 Accepted 11/03/2026 Published 31/03/2026 ABSTRACK: This study aims to analyze the strategies and roles of Islamic Religious Education (PAI) teachers in shaping the character of prayer . and fasting . among students at SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. This research employs a qualitative approach with an ethnographic method. The research subjects were selected using purposive sampling, with the PAI teacher as the primary informant, while students and school documents served as supporting Data collection techniques included participatory observation, in-depth interviews, and Data analysis followed the Miles. Huberman, and Saldaya model, which involves data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that PAI teachers implement three main strategies in shaping studentsAo worship character. First, the habituation strategy through the regular implementation of midday congregational prayers every day. Second, the role-modeling strategy demonstrated by teachers through their daily religious behavior. Third, the guided worship practice strategy that provides students with direct learning experiences. Additionally, the school supports these efforts through various religious programs, including regular religious guidance. Ramadan pesantren kilat . ntensive Islamic boarding school progra. , and worship monitoring through daily worship logbooks. In this process. PAI teachers simultaneously act as educators, mentors, motivators, and role models. This study concludes that the formation of worship character is not solely derived from formal programs but is shaped through a living religious culture embedded in the daily interactions between teachers and students. The transformation from external compliance to internal awareness serves as an indicator of successful character education. This study recommends that future researchers conduct comparative studies across educational institutions, employ quantitative or mixed-method approaches, and expand the focus to include other stakeholders such as parents and school principals. Keywords: Teacher strategy, teacher role, worship character, prayer and fasting, ethnography ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter ibadah salat dan puasa siswa di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan informan utama yaitu guru PAI dan informan pendukung yaitu siswa serta dokumen sekolah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldaya melalui tahap kondensasi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan tiga strategi utama dalam Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 membentuk karakter ibadah siswa. Pertama, strategi pembiasaan ibadah melalui pelaksanaan salat zuhur berjamaah secara rutin setiap hari. Kedua, strategi keteladanan yang ditunjukkan guru melalui perilaku religius dalam keseharian. Ketiga, strategi bimbingan praktik ibadah yang memberikan kesempatan siswa belajar langsung melalui pengalaman. Selain itu, sekolah juga memiliki program pendukung seperti pembinaan keagamaan rutin, pesantren kilat, dan monitoring ibadah melalui buku catatan ibadah harian. Dalam proses tersebut, guru PAI berperan secara simultan sebagai pendidik, pembimbing, motivator, dan teladan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan karakter ibadah tidak hanya bersumber dari program formal, tetapi terbentuk melalui budaya religius yang hidup dalam interaksi keseharian antara guru dan siswa. Transformasi dari kepatuhan eksternal menuju kesadaran internal menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter. Penelitian ini merekomendasikan agar peneliti selanjutnya melakukan studi komparatif antar lembaga pendidikan, menggunakan pendekatan kuantitatif atau metode campuran, serta memperluas kajian pada peran aktor lain seperti orang tua dan kepala sekolah. Kata Kunci : Strategi guru, peran guru, karakter ibadah, salat dan puasa, etnografi PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia, yang secara esensial bertujuan untuk membentuk individu yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia serta memiliki kapabilitas untuk menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Sebagaimana dikemukakan oleh (Abudin Nata, 2. esensi pendidikan terletak pada upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Definisi ini menegaskan bahwa pencapaian kompetensi kognitif semata tidaklah cukup. pendidikan harus pula menjangkau pembentukan dimensi afektif dan psikomotorik yang selaras dengan nilainilai luhur. Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, penguatan pembentukan karakter menjadi salah satu fokus utama yang diamanatkan oleh sistem pendidikan. Hal ini tercermin dalam kebijakan Merdeka Belajar yang menekankan Profil Pelajar Pancasila sebagai karakter utama yang diharapkan, yaitu individu yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbud, 2. Fokus ini menegaskan bahwa pendidikan di Indonesia tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan . iterasi dan numeras. , tetapi lebih luas lagi pada internalisasi sikap, nilai, dan moral. Pendidikan karakter dipandang sebagai upaya sengaja untuk menanamkan nilai-nilai kebajikan yang menjadi pedoman peserta didik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Dengan demikian, proses pendidikan menjadi wahana integratif yang menyatukan pengembangan intelektual dengan pembentukan kepribadian yang bertanggung jawab, sehingga lulusan pendidikan nasional diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kokoh secara moral dan berkontribusi positif bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara(Siti Aminah et al. , 2. Dalam pendidikan Islam, pembentukan karakter religius merupakan tujuan utama yang harus dicapai. Karakter religius dapat diwujudkan melalui kebiasaan menjalankan ibadah Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 seperti salat dan puasa. Ibadah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang karena melalui ibadah, seseorang dilatih untuk memiliki kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, serta kesadaran spiritual. Sebagaimana dijelaskan oleh (Fachrudin, 2. ibadah bukan sekadar ritual formal, melainkan sarana pendidikan ruhani yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. Salat, misalnya, mengajarkan kedisiplinan waktu dan kekhusyukan yang melatih seseorang untuk fokus serta menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia. Dalam perspektif psikologi modern, praktik ini sejalan dengan konsep mindfulness yang terbukti efektif menurunkan kecemasan dan stress . pijabar, 2. Sementara itu, puasa melatih pengendalian diri . elf-regulatio. secara lebih intensif karena tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga emosi dan hawa nafsu selama durasi yang panjang, (Haris, 2. menegaskan bahwa puasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan membawa dampak positif bagi kehidupan sehari-hari, menjadikan seseorang lebih sabar, disiplin, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pembiasaan ibadah secara konsisten baik melalui program formal di lembaga pendidikan maupun pembinaan di lingkungan keluarga menjadi strategi fundamental dalam internalisasi nilai-nilai karakter religius yang berkelanjutan (Z. A, 2. Dalam pendidikan Islam, pembentukan karakter religius merupakan tujuan utama yang harus dicapai. Karakter religius dapat diwujudkan melalui kebiasaan menjalankan ibadah seperti salat dan Ibadah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang karena melalui ibadah, seseorang dilatih untuk memiliki kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, serta kesadaran spiritual. Sebagaimana dijelaskan oleh (Fachrudin, 2. , ibadah bukan sekadar ritual formal, melainkan sarana pendidikan ruhani yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia. Salat, misalnya, mengajarkan kedisiplinan waktu dan kekhusyukan yang melatih seseorang untuk fokus serta menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia. Dalam perspektif psikologi modern, praktik ini sejalan dengan konsep mindfulness yang terbukti efektif menurunkan kecemasan dan stress . pijabar, 2. Sementara itu, puasa melatih pengendalian diri . elf-regulatio. secara lebih intensif karena tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga emosi dan hawa nafsu selama durasi yang panjang (Haris, 2. , menegaskan bahwa puasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan membawa dampak positif bagi kehidupan sehari-hari, menjadikan seseorang lebih sabar, disiplin, dan bertanggung jawab. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab fundamental dalam membentuk karakter religius peserta didik. Tanggung jawab ini tidak dapat dipisahkan dari peran sentral guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam konteks pembelajaran, guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajar yang mentransfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual . dan teladan (Uswah hasana. bagi siswa dalam menjalankan ajaran agama(Safiqo & Ghofur, 2. Lebih lanjut, peran guru PAI mencakup berbagai dimensi penting, di antaranya sebagai fasilitator yang menyediakan kemudahan belajar, motivator yang mendorong semangat siswa, pengatur lingkungan belajar yang kondusif, serta evaluator yang menilai capaian pembelajaran secara holistik(Indah Permatasari, 2. Berbagai peran ini menuntut guru PAI untuk memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, dan profesional yang memadai agar Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 mampu menginternalisasi nilai-nilai agama secara efektif kepada peserta didik(Jafar Sidik, 2. Dalam perspektif teori pendidikan karakter, pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan transfer pengetahuan moral. Sebagaimana dikemukakan oleh Lickona . , pendidikan karakter yang utuh harus mengintegrasikan tiga komponen utama, yaitu pengetahuan moral (Moral Knowin. , perasaan moral (Moral Feelin. , dan tindakan moral (Moral Actio. Pengetahuan moral mengajarkan siswa tentang apa yang baik dan benar, perasaan moral menumbuhkan kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai tersebut, sementara tindakan moral mewujudkannya dalam perilaku nyata(Hikmah et al. , n. Prashanty et al. , 2. Integrasi ketiga komponen ini menjadi landasan penting bagi guru PAI dalam merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Namun, dalam praktiknya di lapangan, masih ditemukan sejumlah tantangan. Beberapa siswa belum memiliki kesadaran penuh dalam melaksanakan ibadah secara konsisten. Mereka cenderung menjalankan ibadah karena faktor eksternal, seperti aturan sekolah atau pengawasan guru, didorong oleh kesadaran internal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter ibadah khususnya dalam pelaksanaan salat dan puasa memerlukan strategi yang tepat, terencana, dan berkelanjutan dari guru PAI. Guru dituntut untuk tidak sekadar mengawasi, tetapi juga membangun kesadaran spiritual melalui pendekatan yang menyentuh aspek emosional dan pembiasaan . Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana strategi dan peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter ibadah salat dan puasa siswa di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. SMP Islam Terpadu (SMPIT) Insan QurAoani merupakan sekolah swasta yang berlokasi di Kabupaten Lampung Tengah. Provinsi Lampung, dengan akreditasi B dan berdiri sejak tahun 2012 . Sekolah ini memiliki komitmen kuat untuk membentuk generasi QurAoani yang berakhlak mulia melalui berbagai program unggulan, seperti program Tahfidz QurAoan, program Bahasa Arab, dan program pengembangan diri yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman . Penelitian ini diharapkan dapat mengungkap strategi konkret yang diterapkan oleh guru PAI dalam membangun karakter ibadah siswa, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam proses tersebut, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah-sekolah Islam terpadu pada umumnya. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara komprehensif strategi serta peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter ibadah salat dan puasa peserta didik di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. Secara lebih rinci, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi yang digunakan oleh guru PAI dalam membentuk karakter ibadah salat dan puasa siswa, yang mencakup perencanaan pembelajaran, metode pengajaran, pendekatan pembiasaan . , keteladanan . , serta pemanfaatan program-program keagamaan sekolah. menganalisis peran guru PAI sebagai pengajar, pembimbing, teladan, fasilitator, motivator, dan evaluator dalam Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 proses pembinaan ibadah. mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi efektivitas strategi dan peran guru, baik yang berasal dari internal siswa maupun eksternal seperti dukungan keluarga dan lingkungan sekolah. serta memberikan kontribusi pemikiran dan rekomendasi yang dapat menjadi acuan bagi guru PAI, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan dalam mengoptimalkan pembentukan karakter ibadah peserta didik, khususnya pada jenjang pendidikan menengah pertama di lingkungan sekolah berbasis Islam terpadu. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekolah terkait pembentukan karakter ibadah siswa. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi makna, perspektif, dan pengalaman subjek penelitian secara holistik dalam konteks alamiahnya (Creswell, 2. Dalam penelitian ini, peneliti tidak sekadar mengukur variabel secara statistik, tetapi berusaha menangkap secara utuh bagaimana proses pembentukan karakter ibadah salat dan puasa berlangsung melalui interaksi antara guru PAI dan siswa di lingkungan SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. Metode etnografi digunakan untuk menggambarkan budaya religius yang berkembang di lingkungan sekolah. Etnografi sebagai salah satu tradisi dalam penelitian kualitatif menekankan pada pemahaman mendalam tentang pola-pola budaya, kebiasaan, serta sistem makna yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu (De Fina. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memahami secara komprehensif bagaimana kebiasaan, nilai, serta praktik keagamaan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci (Key instrumen. yang terjun langsung ke lapangan untuk mengamati, berinteraksi, dan menghayati pengalaman informan dalam menjalankan aktivitas keagamaan, seperti pelaksanaan salat berjamaah, kegiatan puasa sunnah, serta program pembiasaan ibadah lainnya. Pendekatan etnografi juga memungkinkan peneliti untuk mengungkap makna di balik perilaku religius yang tampak, serta memahami bagaimana nilai-nilai karakter internalisasi melalui proses sosialisasi dan enkulturasi di lingkungan sekolah (McNabb, 2. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini digunakan karena peneliti mempertimbangkan bahwa informan yang dipilih memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kualifikasi yang relevan dengan fokus penelitian(Patton. Informan utama dalam penelitian ini adalah guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bertugas di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno. Guru PAI dipilih sebagai informan utama karena mereka memiliki peran sentral dalam pembinaan ibadah dan pembentukan karakter religius siswa. Selain itu, guru PAI juga terlibat langsung dalam merancang dan melaksanakan berbagai program keagamaan di sekolah. Informan pendukung dalam penelitian ini adalah siswa yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, seperti tingkat partisipasi dalam kegiatan ibadah, serta dokumen sekolah yang berkaitan dengan program pembinaan ibadah, seperti kurikulum muatan lokal keagamaan, jadwal kegiatan, dan laporan pelaksanaan program. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam . n-depth intervie. , dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan dengan cara peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan keseharian di sekolah, seperti mengamati pelaksanaan salat zuhur berjamaah, kegiatan kultum, serta pembinaan ibadah Observasi ini bertujuan untuk melihat secara langsung perilaku religius siswa, interaksi antara guru dan siswa, serta suasana religius yang terbangun di lingkungan sekolah. Wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara semiterstruktur yang disusun berdasarkan indikator-indikator pembentukan karakter ibadah. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai strategi yang digunakan guru dalam membentuk karakter ibadah siswa, kendala yang dihadapi, serta persepsi siswa terhadap pembinaan yang diberikan. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian berupa arsip program kegiatan keagamaan, jadwal ibadah, foto kegiatan, serta catatan evaluasi program yang disusun oleh sekolah. Ketiga teknik ini digunakan secara simultan dan saling melengkapi untuk mencapai validitas data melalui triangulasi sumber dan Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui tiga tahap sebagaimana dikemukakan oleh (Miles & Hubberman, 2. kondensasi data . ata condensatio. , penyajian data . ata displa. , dan penarikan kesimpulan/verifikasi . onclusion drawing and Reduksi data . alam kerangka Miles et al. disebut kondensas. dilakukan dengan memilah, menyederhanakan, dan mengkategorikan data yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu strategi dan peran guru PAI dalam membentuk karakter ibadah salat dan Data yang tidak relevan disisihkan untuk memudahkan proses analisis. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif yang disusun secara sistematis berdasarkan tematema temuan, sehingga memudahkan dalam memahami pola dan hubungan antartema. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara terus-menerus selama proses penelitian berlangsung, dengan melakukan verifikasi ulang terhadap data yang diperoleh untuk memastikan keabsahan dan ketepatan interpretasi. Proses analisis ini dilakukan secara interaktif dan berulang-ulang . hingga ditemukan makna yang mendalam dan komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran sentral dan multidimensional dalam membentuk karakter ibadah siswa melalui berbagai strategi yang diterapkan secara terintegrasi, konsisten, dan berkelanjutan di sekolah. Temuan ini sejalan dengan pandangan (BunaAoi, 2. yang menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang tepat menjadi faktor kunci dalam menanamkan nilai religius kepada peserta didik. Dalam perspektif etnografi, strategi-strategi yang diterapkan guru PAI tidak hanya bersifat instruksional atau teknis pedagogik semata, tetapi secara lebih luas membentuk pola budaya religius yang hidup, berkembang, dan menjadi identitas khas sekolah. Budaya religius ini terwujud dalam berbagai ritual, kebiasaan, norma, dan interaksi sosial yang secara kolektif membentuk habitus religius siswa, yaitu suatu sistem disposisi yang terinternalisasi dan memandu perilaku individu dalam konteks sosial tertentu (Bourdieu, 1977, sebagaimana dikutip dalam (McNabb, 2. Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 Strategi pertama yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pembiasaan ibadah . Sekolah menerapkan kegiatan salat zuhur berjamaah secara rutin setiap hari sebagai bagian dari program pembinaan karakter yang tidak dapat ditawar. Berdasarkan observasi peneliti, kegiatan ini dilaksanakan dengan pengawasan langsung oleh guru PAI dan wali kelas yang bertugas secara bergiliran, memastikan setiap siswa mengikuti salat berjamaah tepat waktu, tertib, dan khusyuk. Lima menit sebelum azan berkumandang, bel sekolah berbunyi sebagai tanda seluruh siswa bersiap menuju masjid sekolah. Guru PAI berdiri di depan barisan siswa, memimpin doa bersama sebelum salat, dan memberikan arahan singkat terkait pentingnya menjaga kekhusyukan. Pembiasaan ini bertujuan untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kesadaran spiritual, serta rasa kebersamaan di antara siswa. Dalam perspektif etnografi, pembiasaan merupakan mekanisme enkulturasi yang sangat penting, di mana praktik keagamaan menjadi rutinitas yang terstruktur dan membentuk habitus religius siswa secara bertahap. Melalui pengulangan yang konsisten dalam jangka waktu panjang, nilai-nilai ibadah tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati secara afektif dan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Proses ini mencerminkan apa yang dalam teori pendidikan karakter disebut sebagai moral action, yaitu tahap di mana pengetahuan dan perasaan moral termanifestasi dalam perilaku otentik (Hikmah et al. , n. Strategi kedua yang ditemukan adalah keteladanan guru . swah hasana. Guru PAI memberikan contoh langsung dalam menjalankan ibadah, seperti datang lebih awal ke masjid sebelum salat berjamaah dimulai, membaca Al-QurAoan dengan tartil di sela-sela waktu luang, menunjukkan sikap khusyuk saat salat, serta berbicara dengan santun dan penuh kesabaran kepada siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dari gurunya, sehingga keteladanan menjadi metode yang sangat efektif dalam pendidikan karakter, bahkan seringkali lebih berpengaruh daripada instruksi verbal semata. Hal ini diperkuat oleh (Hamalik, 2. yang menyatakan bahwa keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling berpengaruh karena peserta didik secara alami cenderung meniru figur yang mereka kagumi dan anggap otoritatif. Dalam konteks etnografi, guru berperan sebagai role model yang menjadi pusat pembentukan budaya religius di sekolah. Melalui observasi partisipatif, peneliti melihat bahwa guru PAI tidak hanya berbicara tentang pentingnya ibadah, tetapi juga menunjukkan komitmen pribadi yang kuat dalam menjalankannya, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih bermakna, autentik, dan mudah diterima oleh siswa. Keteladanan ini juga mencakup aspek akhlak sehari-hari, seperti cara guru menyapa siswa, menegur dengan lembut ketika ada siswa yang lalai, serta menunjukkan sikap sabar dan istiqamah dalam membimbing. Strategi ketiga yang ditemukan adalah bimbingan praktik ibadah. Guru PAI memberikan bimbingan langsung kepada siswa mengenai tata cara pelaksanaan ibadah yang benar, baik dalam salat maupun puasa. Bimbingan ini dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti praktik salat bersama secara berkelompok, simulasi tata cara wudhu yang benar sesuai sunnah, demonstrasi gerakan salat yang khusyuk, serta pengarahan mendetail tentang ketentuan puasa, baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Selain itu, pada bulan Ramadan, sekolah mengadakan program pesantren kilat yang di dalamnya terdapat sesi praktik ibadah Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 intensif, seperti latihan salat tarawih, tadarus Al-QurAoan, serta pembahasan fikih ibadah yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Melalui bimbingan yang intensif dan personal ini, siswa tidak hanya memahami aspek prosedural ibadah secara kognitif, tetapi juga dapat merasakan makna dan tujuan spiritual di balik setiap gerakan dan bacaan ibadah. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pendekatan learning by doing atau belajar melalui pengalaman langsung sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami praktik ibadah secara teori. Bimbingan praktik ibadah ini merupakan wujud nyata dari peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing yang membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai agama secara bertahap, mulai dari tahap pengetahuan . , pemahaman . , hingga pelaksanaan . yang diikuti dengan kesadaran internal (M. Rusman, 2. Selain ketiga strategi utama tersebut, sekolah juga memiliki berbagai program keagamaan yang mendukung dan memperkuat pembentukan karakter religius siswa. Program-program tersebut antara lain kegiatan pembinaan keagamaan rutin setiap Jumat pagi yang diisi dengan kultum, pembacaan surat-surat pendek, dan doa bersama. pesantren kilat yang dilaksanakan pada bulan Ramadan dengan durasi satu minggu penuh. serta monitoring ibadah siswa melalui buku catatan ibadah harian yang dikenal dengan nama buku kontrol Program monitoring ibadah ini menjadi instrumen penting yang memungkinkan guru dan orang tua memantau konsistensi siswa dalam menjalankan salat lima waktu, puasa sunnah Senin-Kamis, serta membaca Al-QurAoan setiap hari. Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh peneliti, setiap siswa diwajibkan mencatat pelaksanaan ibadah harian mereka dalam buku tersebut, yang kemudian diparaf oleh orang tua di rumah dan diperiksa secara berkala oleh guru PAI setiap pekan. Bagi siswa yang menunjukkan konsistensi tinggi, diberikan penghargaan berupa pujian atau insentif kecil, sementara bagi siswa yang masih kurang konsisten diberikan pembinaan khusus dan komunikasi dengan orang tua. Pembiasaan nilai religius secara berkelanjutan melalui berbagai program yang terintegrasi dan saling mendukung ini terbukti efektif dalam membentuk karakter siswa, sebagaimana ditegaskan oleh(Zubaedi, 2. bahwa pendidikan karakter yang berhasil adalah yang dilakukan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, melibatkan seluruh komponen sekolah dan keluarga. Dalam proses pembentukan karakter ibadah yang kompleks ini, guru PAI menjalankan berbagai peran secara simultan dan saling terkait. Pertama, guru berperan sebagai pendidik yang memberikan pengetahuan keagamaan yang memadai kepada siswa, mencakup aspek teologis, yuridis, dan filosofis dari ibadah. Kedua, guru berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa memahami dan mempraktikkan ibadah dengan benar, memberikan koreksi secara langsung dan personal ketika ditemukan kesalahan dalam pelaksanaan ibadah. Ketiga, guru berperan sebagai motivator yang memberikan dorongan, penguatan positif, teguran edukatif, serta inspirasi agar siswa tetap konsisten dan bersemangat menjalankan ibadah, bahkan ketika tidak dalam pengawasan langsung guru. Keempat, guru berperan sebagai teladan yang memberikan contoh perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Temuan ini memperkuat konsep bahwa guru PAI memiliki peran multidimensional yang tidak terbatas pada transfer pengetahuan semata, tetapi juga Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 mencakup pembinaan sikap, pembentukan kebiasaan, dan internalisasi nilai-nilai luhur yang menjadi inti dari pendidikan karakter (Abudin Nata, 2. Dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pembentukan karakter ibadah di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno bukan sekadar hasil dari program formal yang dirancang secara administratif, melainkan terbentuk melalui interaksi keseharian yang konsisten, hangat, dan penuh keteladanan antara guru dan Budaya religius yang teramati melalui pembiasaan ibadah yang terstruktur, keteladanan guru yang autentik, bimbingan praktik yang intensif, serta berbagai program pendukung yang terintegrasi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terbentuknya habitus religius. Dalam proses ini, siswa tidak hanya menjalankan ibadah karena aturan sekolah atau pengawasan guru, tetapi secara bertahap mulai mengembangkan kesadaran internal, pemahaman makna, dan rasa tanggung jawab pribadi dalam menjalankan perintah Transformasi dari kepatuhan eksternal menuju kesadaran internal inilah yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter yang sejati. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sentral dan multidimensional dalam membentuk karakter ibadah salat dan puasa siswa di SMP Islam Terpadu Insan QurAoani Poncowarno melalui tiga strategi utama yang saling melengkapi dan terintegrasi. Pertama, strategi pembiasaan ibadah . yang diwujudkan melalui pelaksanaan salat zuhur berjamaah secara rutin setiap hari, yang terbukti efektif menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual kepada siswa melalui pengulangan yang konsisten. Kedua, strategi keteladanan . swah hasana. yang ditunjukkan guru PAI melalui perilaku religius dalam keseharian, yang menjadi metode pendidikan paling berpengaruh karena siswa cenderung meniru figur yang mereka kagumi dan anggap otoritatif. Ketiga, strategi bimbingan praktik ibadah yang memberikan kesempatan siswa belajar langsung melalui pengalaman . earning by doin. , sehingga pemahaman terhadap tata cara dan makna ibadah menjadi lebih mendalam. Keberhasilan pembentukan karakter ibadah juga didukung berbagai program keagamaan terintegrasi seperti pembinaan keagamaan rutin, pesantren kilat, dan monitoring ibadah melalui buku catatan ibadah harian yang melibatkan peran aktif orang tua. Dalam menjalankan strategi tersebut, guru PAI berperan secara simultan sebagai pendidik yang mentransfer pengetahuan keagamaan, pembimbing yang membantu praktik ibadah, motivator yang memberikan dorongan dan penguatan positif, serta teladan yang menunjukkan perilaku religius secara autentik. Melalui metode etnografi, penelitian ini mengungkap bahwa pembentukan karakter ibadah tidak sekadar hasil program formal, melainkan terbentuk melalui budaya religius yang hidup dalam interaksi keseharian antara guru dan siswa. Melalui pembiasaan terstruktur, keteladanan autentik, dan bimbingan intensif, siswa tidak hanya menjalankan ibadah karena aturan atau pengawasan, tetapi secara bertahap mengembangkan kesadaran internal, pemahaman makna, dan tanggung jawab pribadi transformasi dari kepatuhan eksternal menuju kesadaran internal yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter hakiki. Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, terdapat beberapa rekomendasi bagi peneliti selanjutnya. Pertama, melakukan penelitian Jurnal Kurikula : Jurnal Pendidikan Volume 10 No 2 Tahun 2026 komparatif antar lembaga pendidikan dengan karakteristik berbeda, seperti membandingkan sekolah Islam terpadu dengan sekolah umum atau sekolah di wilayah perkotaan dengan pedesaan, untuk memahami pengaruh konteks institusional dan geografis terhadap strategi pembentukan karakter ibadah. Kedua, mengembangkan penelitian dengan pendekatan kuantitatif atau metode campuran . ixed method. untuk mengukur efektivitas strategi guru PAI terhadap peningkatan kesadaran dan konsistensi ibadah siswa secara lebih terukur. Ketiga, memperluas fokus kajian dengan meneliti peran aktor lain seperti orang tua, kepala sekolah, dan teman sebaya dalam membentuk karakter ibadah siswa, sehingga memberikan gambaran lebih komprehensif melalui pendekatan ekologi pendidikan. Keempat, melakukan penelitian longitudinal yang mengamati perkembangan karakter ibadah siswa dalam jangka waktu lebih panjang, misalnya dari kelas VII hingga IX, untuk menangkap dinamika perubahan dan faktor yang mempengaruhi konsistensi karakter ibadah. Kelima, mengkaji integrasi teknologi digital seperti aplikasi pengingat ibadah atau platform pembelajaran agama online dengan strategi pembentukan karakter ibadah konvensional, mengingat perkembangan teknologi yang pesat di era digital. Keenam, mengembangkan kajian dengan fokus spesifik pada strategi guru menghadapi siswa yang mengalami krisis spiritual atau kurang memiliki motivasi internal dalam beribadah, serta bagaimana sekolah menangani tantangan pembentukan karakter ibadah di tengah pengaruh negatif lingkungan sosial dan media sosial yang semakin kompleks. Dengan memperhatikan rekomendasi tersebut, diharapkan penelitian selanjutnya dapat memberikan kontribusi lebih signifikan bagi pengembangan ilmu pendidikan agama Islam dan pendidikan karakter, serta manfaat praktis bagi pendidik dan pemangku kebijakan dalam upaya membentuk generasi yang cerdas secara intelektual, kokoh secara spiritual, dan luhur secara akhlak. DAFTAR PUSTAKA