JOURNAL OF EDUCATION AND TEACHING LEARNING Journal of Education and Teaching Learning, 2019 Vol. No. 1, 1-9 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK Diana Manurung SMP Negeri 1 Patumbak ABSTRAK Penelitan ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yakni suatu pencermatan terhadap semua kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi di dalam sebuah kelas (Suharsllni krikunto, dkk:16:2. Tempat penelitian tindakan kelas ini adalah di SMP Negeri 1 Patumbak kelas IX Tahun Pelajaran 2013/2014. dan waktu penyelenggaraan penelitian ini adalah pada semester I . mulai dari bulan September 2013 sainpai bulan Desember 2013. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Patumbak Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 29 siswa. Data-data tes hasil belajar, aktivitas belajar siswa terhadap model pembelajaran Generatif selarna kegiatan belajar mengajar tersusun, kemudian dianalisis, sehingga dapat disimpulkan sesuai dengan rumusan masalah. Data aktivitas siswa menurut kedua pengamatan pengamat pada Siklus I antara lain: menulis/membaca . ,8%), bekeja . ,3% ), bertanya sesama teman . ,5%), bertanya kepada guru . ,5%), dan yang tidak relevan dengan KBM . ,9%). Dan Data aktivitas siswa menurut pengamatan pada Siklus II antara lain: menulis/membaca . ,2%), bekerja . ,7%), bertanya sesama teman . ,8%), bertanya kepada guru . ,0%), dan yang tidak relevan dengan KBM . ,3%). Dengan menerapkan model pembelajaran Generatif, hasil belajar siswa dari Siklus I ke Siklus berikutnya mengalami perbaikan. Hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Generatif pada Formatif I dan Formatif II menunjukkan 9 orang siswa tuntas secara individu, sedangkan kelas tidak tuntas. Pada Siklus II, tuntas secaia individu sebanyak 26 orang siswa, sedangkan kelas adalah tuntas dengan rata-rata siklus I dan siklus II adalah 70,4 dan 84,5 dan persentase ketuntasan klasikal adalah 3 1,05% pada siklus I dan 89,65% pada siklus II. Kata Kunci: Model Pembelajaran Generatif. Aktivitas Belajar Ipa PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK PENDAHULUAN Salah satu masalah yang di hadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, peserta didik kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalarn kelas diarahkan kepada kemarnpuan peserta didik untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami infonnasi yang diingat. (Sanjaya, 2010:. Dalam pandangan psikologis modem belajar bukan hanya sekedar menghapal sejumlah fakta atau informasi, akan tetapi proses mental dan proses pengalaman. Sanjaya menyatakan: "Belajar bukanlah menghapal sejumlah fakta atau infomasi. Belajar adalah memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental" (Sanjaya, 2006:. Dalam memahami bagaimana belajar IPA Terpadu yang diharapkan terjadi pada siswa di lingkungan sekolah, ada baiknya terlebih dahulu memahami belajar IPA Terpadu dalam paradigma absolutisme dan konstruksivisme yang sangat berpengaruh terhadap IPA Terpadu. Dalarn didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku mencerminkan dari keadaan belum tahu ke keadaan sudah tahu. Contoh pada Pembelajaran PA Terpadu, siswa yang belajar tinggal datang ke sekolah, duduk manis, menyimak, mendengarkan, mencatat, dan mengulang kembali di rumah serta menghapalkannya untuk menghadapi tes hasil belajar atau ulangan. Dalam paradigma absolutisme, siswa dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa ketika berada di awal proses pembelajaran. Sebaliknya, dalam paradigma konstruktivisme, siswa diakui telah mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki sebelum mengikuti proses kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya merupakan pengetahuan awal siswa. Begitu hanya dengan siswa SMP Negeri 1 Patumbak kabupaten Deli Serdang, dalam mempelajari IPA Terpadu siswa telah mempunyai pengalaman belajar IPA Terpadu baik dari sekolah dasar maupun dari tingkatan kelas sebelumnya. Untuk mempertahankan konsep pelajaran yang diterima siswa dalam pelajaran IPA Terpadu siswa dituntut untuk mengulangi pelajaran di rumah. Dengan pemberian tugas rumah, tugas hafalan untuk mengikuti ulangan harian ataupun ujian semester guna mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa. Namun ternyata tidak mudah untuk mempertahankan konsep pelajaran yang PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK telah diterima siswa terlihat dari masalah-masalah belajar siswa khususnya aktivitas dan hasil belajar siswa, sebagai contoh siswa kelas lX-3 SMP Negeri 1 Patumbak. Berdasarkan arsip peneliti kelas IX-3 adalah kelas yang paling rendah hasil belajarnya dari kelas IX Hanya 30% siswa secara klasikal yang mendapat nilai KKM jika dilakukan ulangan sedangkan sisanya harus mengikuti program remedial. Selain itu aktivitas belajar siswa juga rendah seperti hasil temuan peneliti berikut: . selama prose belajar, guru menerangkan seluruh materi sedangkan siswa hanya mencatat dan ada beberapa siswa yang bahkan melakukan aktivitas negatif seperti tidur, melamun, atau melihat keluar jendela. siswa kurang berani bertanya maupun menjawab pcrtanyaan yang diberikan guru. siswa kurang berminat untuk mengerjakan soal latihan yang diberikan guru maupun PR yang diberikan guru. siswa kurang memperhatikan penjelasan guru tentang materi ajar, dan tidak membuat catatan atau rangkuman. Sebagai faktor penyebab dari rendahnya aktivitas irri kemungkinan karena guru kurang berinteraksi dengan siswa saat mengajar dan penerapan metode atau model pembelajaran yang monoton dan satu arah. Pembelajaran yang meninggalkan kesan dalam diri siswa akan membantu siswa mengahadapi materi-materi selanjutnya. Siswa yang mengahafal tanpa memahami hakikat materi yang dihafalnya akan mengalami kesulitan dalarn menemukan kaitan setiap materi yang diajarkan kepada siswa. Dalam standar proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa. Artinya, sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas Siswa yang belajar hanya sekedar diam mendengarkan dan mencatat tidak mempunyai kesan yang mendalam pada dirinya tentang apa yang dipelajarinya. Tetapi jika guru memposisikan dirinya sebagai fasilisator dalam belajar dan memberikan bimbingan pada siswa yang ditempatkan sebagi subjek dalam belajar akan memberikan darnpak yang lebih dalam pada ingatan siswa tentang materi yang dipelajarinya. Karena siswa dilibatkan langsung sebagai orang yang belajar ataupun yang mengalami pembelajaran. hal ini akan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran karena siswa mengetahui apa yang ia kurang pahami dan apa yang sudah ia ketahui dari materi yang dipelajari akan mampu ia keluarkan sebagai bentuk pertanyaan ataupu dalam bentuk mengeluarkan pendapat. Melibatkan siswa dalam membahas materi pelajaran dengan meningkatkan komunikasi dalam belajar. Seperti halnya bertanya kepada guru, bertanya kepada teman, memberikan pendapat tentang pernyataan dan menanggapinya. Tidaklah semudah PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK membalikan telapak tangan, guru mesti membangun konsep yang kuat dalam setiap pembelajarannya pada diri siswa. Untuk mendukung kemarnpuan belajar siswa dalam meningkatkan daya serap belajar siswa hendaknya guru menggunakan media pembelajaran yang relevan dan menerapkan metode pembelaran yang mendukung konsep pembelajaran dengan menjaga siswa sebagai pusat dari pembelajaran. Penggunaan media belajar sebagai pendukung komunikasi belajar dalam usaha guru menyampaikan informasi kepada siswa agar cepat dan tepat tanpa mengubah inti sari materi yang akan disampaikan. Melibat siswa secara langsung dalam penggunaan media pembelajaran akan membangun kesan yang mendalam pada diri siscra nierigenai materi yang sedang dipelajarinya. Narnun hal ini akan sangat disayangkan jika kedaan sekolah tidak dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung Demikian pernaparan diatas saya membutuhkan tindakan selanjutnya dalam pembelajaran yaitu pemilihan model pembelajaran, saya memerlukan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar yang dapat' kita sebut sebagai model pembelajaran, yang dapat memberikan kompetensi Salah satu model pembelajaran yang dapat memberikan kompetensi kognitif adalah model pembelajaran generatif. Dengan demikian penelitian ini akan menerapkan salah satu model pembelajaran, dianggap dapat memperbaiki aktivitas belajar dan hasil belajar kognitif siswa adalah model pembelajaran generatif (Generatflearnin. METODE PENELITIAN Penelitan ini termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yakni suatu pencermatan terhadap semua kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi di dalam sebuah kelas (Suharsllni krikunto, dkk:16:2. Tempat penelitian tindakan kelas ini adalah di SMP Negeri 1 Patumbak kelas IX Tahun Pelajaran 2013/2014. dan waktu penyelenggaraan penelitian ini adalah pada semester I . mulai dari bulan September 2013 sainpai bulan Desember 2013. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Patumbak Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 29 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Siklus I Dalarn pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: Hasil belajar . ilai formatif I) pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 patumbak masih sebesar 31,03% yang tuntas dari KKM 75. Beberapa siswa belum memahami peran dan tugasnya dalam bekeja kelompok karena belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan ditunjukkan oleh aktivitas mengerjakan yang tidak begitu menonjol . ,3%) . Interaksi antar siswa belum bejalan dengan baik karena siswa belum terbiasa untuk menyampaikan pendapatnya kepada sesama ternan lainnya dalam menyelesaikan masalah terlihat dalam aktivitas bertanya sesama teman yang rendah . ,5%). Adanya siswa yang pasif dan menggantungkan permasalahan yang dihadapi kepada kelompoknya terlihat dari aktivitas individual menulis dan membaca yang sangat menonjol . ,8%) dan aktivitas tidak relevan yang seharusnya tidak ada . ,9%) . Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam pengelolaan waktu yang telah ditentukan dalam RPP . Siswa masih takut dalam mengutarakan pendapatnya. Siklus II Beberapa hal yang dapat dicatat dalam refleksi pembelajaran Siklus II adalah sebagai . Siswa mulai aktif dalam diskusi dengan ditunjukkan oleh hasil observasi aktivitas belajarnya yang sedikit lebih baik dari pada Siklus I. Ketuntasan hasil belajar siswa meningkat dari 31,03 % atau gagal menjadi 89,65% atau dalam ketegori berhasil. Hasil belajar siswa diakhir Siklus I. telah mencapai ketuntasan klasikal 89,65%, yang berarti hampir seluruh siswa telah memperoleh nilai tuntas dengan 3 orang siswa yang belum mendapatkan nilai di atas KKM. Dengan dernikian tindakan yang diberikan pada Siklus II telah berhasil memberikan perbaikan hasil belajar pada siswa. Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah ierlaksana dengan baik maupun masih ada kurang baik dalam proses PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK belajar mengajar dengan penerapan model pembelajaran Generatif. Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagi berikut: Meski siswa sudah mulai terbiasa dengan beke rja secara kelompok namun kegiatan individual menulis dan membaca masih cukup menonjol persentasinya . ,2%). Kondisi kelas juga sudah kondusif hal ini digambarkan deh data aktivitas yang tidak relevan yang menurun . ,3%). Siswa suilah terbiasa bekerja dalam kelompok dan siswa sudah berani dalam mengajukan pendapatnya. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Guru sudah baik dalam pengelolaan waktu sehingga seluruh kegiatan yang ada dalam RPP dalat dilaksanakan. Hasil belajar siswa pada siklus II mencapai ketuntasan. Pembahasan Setelah dilakukan pretes maka peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran Siklus I dalam dua kali pertemuan. KBM dilakukan sesuai perencanaan yang telah disusun. Ketika peneliti menerapkan model pembelajaran Generatif maka peneliti dibantu oleh dua orang pengamat yang mengamati aktivitas siswa pada saat kerja kelompok dan mengambil dokumentasi penelitian. Diakhir Siklus I diberikan tes hasil belajar pada siswa sebagai Formatif I. instrument Formatif I adalah bagian dari instrument pretes yang indikatornya telah diajarkan pada Siklus I. Merujuk pada Tabel 4. 3, nilai rata-rat. kelas adalah 70,4 dalam kategori tidak tuntas, maka 20 orang siswa dari 29 siswa mendapat nilai dibawah kriteria ketuntasan atau ketuntasan klasikal adalah sebesar 31,03%. Dengan mengacu pada ketuntasan Masikal minimum sebesar 85% maka nilai ini berada di bawah kriteria keberhasilan sehingga dapat dikatakan KBM Siklus I gagal memberi ketuntasan belajar dalam kelas. Uraian di atas menyatakan bahwa pada Siklus I pembelajaran yang terjadi mengalami kendala. Oleh karena itu perlu adanya suatu tindakan pada Siklus II agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dan mencapai indikator keberhasilan dengan ketuntasan klasikal mencapai maksimum. Dalam hal ini peneliti mendiskusikan kembali langkah tindakan yang akan diambil dalam memperbaiki proses pembelajaran. Kemudin peneliti melaksanakan Siklus II sesuai rencana dalam dua kali pertemuan. Setelah dilakukan Siklus PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK II maka peneliti memberikan tes hasil belajar kepada siswa sebagai Formatif II. Instrument Formatif II adalah bagian instrument pretes yang indikatornya diajarkan pada Siklus II. Merujuk pada Tabel 4. 6, nilai. rata-rata kelas adalah 84,5 yang dalam kategori tuntas, maka 3 orang siswa mendapat uilai dibawah kriteria ketuntasan atau ketuntasan klasikal adalah sebesar 89,65%. Mengacu pada kriteria ketuntasan klasikal minimum sebesar 85% rnaka nilai ini berada di atas kriteria keberhasilan sehingga dapat dikatakan KBM Sikius II sudah memkri ketuntasan. belajar dalam kelas secara menyeluruh. Penting dalam catatan peneliti adalah bahwa kelemahan yang terjadi dalam menerapkan model pembelajaran Generatif ini adalah jumlah siswa yang hang proporsional terhadap penerapan model. Yang lebih penting lagi adalah bahwa untuk menerapkan model ini siswa kelihatmya terlehih dahulu harus memiliki kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan memiliki rasa bertangung jawab atas tugas kelompok atau memiliki sikap sosial yang cukup mendukung. Dimana pada awal pembelajaran dalarn menerapkan model ini semua aspek itu belum benar-benar menjadi karakter siswa subjek penelitian. Model pembelajaran generatif dapat memperbaiki aktivitas belajar dan hasil belajar kognitif siswa karena pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengembangkan kemampuan kognitif dengan menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. Dalam penelitin ini, siswa menciptakan asumsi-asumsi terhadap suatu fakta yang dipaparkan peneliti, kemudian melakukau pengujian terhadap kebenarannya. Pengujianpengujian terhadap pengetahuan bm siswa dilakukan melalui bantuan LKS yang telah disusun sedemikian rupa sehingga mengarahkan siswa menemukan sendiri, menguji d& membentuk pengetahuan. Peneliti sebagai fasilitator memposisikan di untuk tidak memberikan jawaban secara sembarang, namun membirnbing siswa untuk mengolah kognitifya, menciptakan suatu konsep atau membangun pengetahuan. Dengan demikian tentu hasil belajar kognitifhya akan semakin membaik dan meningkat. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF DALAM MEPERBAIKI AKTIVITAS BELAJAR IPA TERPADU SISWA DI KELAS IX SMP NEGERI 1 PATUMBAK KESIMPULAN Data-data tes hasil belajar, aktivitas belajar siswa terhadap model pembelajaran Generatif selarna kegiatan belajar mengajar tersusun, kemudian dianalisis, sehingga dapat disimpulkan sesuai dengan rumusan masalah. Data aktivitas siswa menurut kedua pengamatan pengamat pada Siklus I antara lain: ,8%), bekeja . ,3%), bertanya sesama teman . ,5%), bertanya kepada guru . ,5%), dan yang tidak relevan dengan KBM . ,9%). Dan Data aktivitas siswa menurut pengamatan pada Siklus II antara lain: menulis/membaca . ,2%), bekerja . ,7%), bertanya sesama teman . ,8%), bertanya kepada guru . ,0%), dan yang tidak relevan dengan KBM . ,3%). Dengan menerapkan model pembelajaran Generatif, hasil belajar siswa dari Siklus I ke Siklus berikutnya mengalami perbaikan. Hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Generatif pada Formatif I dan Formatif II menunjukkan 9 orang siswa tuntas secara individu, sedangkan kelas tidak tuntas. Pada Siklus II, tuntas secaia individu sebanyak 26 orang siswa, sedangkan kelas adalah tuntas dengan rata-rata siklus I dan siklus II adalah 70,4 dan 84,5 dan persentase ketuntasan klasikal adalah 3 1,05% pada siklus I dan 89,65% pada siklus II. DAFTAR PUSTAKA