JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa Salilah Zahira Ramadhani*. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sari Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. *salilahramadhani@gmail. Abstract George Herbert's symbolic interaksionisme theory of Herbert Mead confirmed that human communication occurred through symbols that have a social meaning. In this perspective, mind . plays a crucial role as the capacity to interpret symbols, provide reflective response, and executes the interaction. In a lecturer relationship - students, the implementation of the mind frame is the basis to reduce the risk of miscommunication and improve the quality of interpersonal relationships through empathic attitudes and openness. This research adopted a qualitative descriptive approach with a phenomenology foundation to explore the subjective experience of communication actors. Informants consist of two senior lecturers who have a teaching experience of more than ten years and two S2 program students who often interact formally or informally at a private university in Jakarta. The findings show that the urgency of the mind is seen in the symbol exchange process between lecturers and students. mind serves as an internal mechanism that includes perception, understanding, attitudes/emotions, motivation, and awareness of Thus, mind plays an important role in the formation of meaning, smooth interpersonal communication, and strengthening academic relationships. Keywords: Symbolic Interactionism. Interpersonal Communication. Lecturer-Student Relationship Abstrak Teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead menegaskan bahwa komunikasi manusia terjadi lewat simbolsimbol yang memiliki makna sosial. Dalam perspektif ini, mind . memainkan peran krusial sebagai kapasitas untuk menafsirkan simbol, memberikan respons reflektif, dan menjalankan interaksi secara sadar. Dalam hubungan dosen-mahasiswa, penerapan kerangka mind menjadi landasan untuk mengurangi risiko miskomunikasi serta memperbaiki kualitas hubungan interpersonal melalui sikap empatik dan keterbukaan. Penelitian ini mengadopsi pendekatan deskriptif kualitatif dengan landasan fenomenologi untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif pelaku Informan terdiri atas dua dosen senior yang memiliki pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun dan dua mahasiswa program S2 yang sering berinteraksi secara formal maupun informal di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Temuan menunjukkan bahwa urgensi mind terlihat dalam proses pertukaran simbol antara dosen dan mahasiswa. mind berfungsi sebagai mekanisme internal yang meliputi persepsi, pemahaman, sikap/emosi, motivasi, dan kesadaran akan peran. Dengan demikian, mind memegang peranan penting dalam pembentukan makna, kelancaran komunikasi interpersonal, dan penguatan relasi akademik. Kata Kunci: Interaksionisme Simbolik. Komunikasi Interpersonal. Hubungan Dosen-Mahasiswa PENDAHULUAN Komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa merupakan salah satu aspek fundamental dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Relasi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk pola hubungan sosial, psikologis, dan budaya yang memiliki pengaruh signifikan terhadap mutu pendidikan. Dalam perspektif pendidikan tinggi, kualitas komunikasi antara dosen dan mahasiswa sering kali menjadi penentu keberhasilan pembelajaran, karena interaksi yang sehat dan produktif mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif, membangun motivasi belajar, serta meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses akademik. Oleh karena itu. Submitted: January 2025. Accepted: August 2025. Published: September 2025 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 memahami komunikasi antar pribadi bukan hanya sebatas memahami bagaimana informasi ditransmisikan, melainkan juga bagaimana makna dibangun, dinegosiasikan, dan dipahami bersama. Dalam ranah ilmu komunikasi, interaksi antar pribadi dipandang lebih dari sekadar pertukaran Proses komunikasi melibatkan dimensi simbolik yang membentuk makna melalui bahasa verbal, ekspresi wajah, gestur, intonasi suara, serta norma-norma sosial yang berlaku. Simbol-simbol ini berfungsi sebagai medium interpretasi yang memungkinkan individu mengonstruksi realitas sosialnya. Dengan kata lain, komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa adalah proses pertukaran makna yang senantiasa dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, maupun psikologis. Melalui proses ini, baik dosen maupun mahasiswa berperan aktif dalam membangun makna bersama, yang pada akhirnya menentukan kualitas interaksi akademik. Teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead memberikan landasan teoretis yang penting untuk memahami fenomena tersebut. Mead menekankan bahwa komunikasi manusia pada hakikatnya terjadi melalui simbol-simbol yang memiliki makna sosial. Simbol tersebut tidak bersifat alamiah, melainkan merupakan hasil dari kesepakatan dan interaksi sosial yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka teori ini, mind . menjadi aspek vital karena merepresentasikan kemampuan manusia untuk menggunakan simbol, menafsirkannya, serta memberikan respons yang reflektif. Melalui mind, individu tidak hanya merespons stimulus secara mekanis, tetapi mampu mengolah makna, mempertimbangkan konsekuensi, serta mengambil keputusan secara sadar. Konsep mind dalam interaksionisme simbolik berfungsi sebagai mekanisme internal yang memungkinkan manusia berinteraksi secara bermakna. Mead memandang mind bukan sekadar kesadaran individual, tetapi sebagai proses sosial yang terbentuk melalui interaksi. Artinya, kapasitas berpikir dan menafsirkan simbol lahir dari pengalaman sosial individu. Dalam konteks interaksi dosen dan mahasiswa, mind menjadi dasar penting dalam memahami simbol-simbol yang digunakan kedua belah pihak. Ketika dosen menyampaikan respons verbal seperti arahan, kritik, atau apresiasi, mahasiswa tidak langsung menanggapi secara instingtif, melainkan menafsirkan makna dari simbol tersebut. Sebaliknya, dosen juga membangun kesan terhadap mahasiswa melalui interpretasi simbol yang ditunjukkan, misalnya melalui ekspresi wajah, sikap tubuh, atau gaya komunikasi mahasiswa. Dengan demikian, komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa tidak hanya bersifat fungsional, melainkan sarat dengan interpretasi simbolik yang melibatkan proses berpikir, pemaknaan, dan refleksi. Hal ini sejalan dengan pandangan Mead bahwa manusia adalah makhluk yang mampu memaknai realitas sosialnya melalui simbol. Proses komunikasi pun menjadi lebih kompleks karena melibatkan dimensi psikologis dan sosial sekaligus. Hubungan interpersonal yang positif dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan diri (Shidqi & Nuraeni, 2. Namun demikian dinamika interaksi simbolik antara dosen dan mahasiswa tidak selalu berjalan optimal. Terdapat berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya kesalahpahaman atau miskomunikasi. Salah satu faktor utama adalah ketidaksesuaian interpretasi simbol. Ketika pesan yang disampaikan dosen ditafsirkan secara berbeda oleh mahasiswa, atau sebaliknya, maka komunikasi menjadi tidak efektif. Misinterpretasi ini dapat terjadi karena perbedaan latar belakang budaya, pengalaman, serta kerangka berpikir masing-masing individu. Perbedaan latar belakang budaya, misalnya, sering kali menjadi pemicu kesalahpahaman dalam Budaya membentuk cara individu memahami simbol dan memberi makna pada suatu tindakan. Penelitian Nugroho . tentang simbol-simbol budaya dalam arsitektur Ponorogo menunjukkan bahwa budaya dapat memengaruhi cara masyarakat menafsirkan simbol, bahkan dalam ranah material seperti Simbol-simbol arsitektural tidak hanya dipandang sebagai elemen fisik, melainkan sebagai representasi nilai-nilai budaya yang lahir dari interaksi sosial masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 simbol selalu terkait dengan konteks budaya, sehingga interpretasi maknanya dapat berbeda pada latar sosial yang lain. Demikian pula penelitian Fadila . mengenai interaksi simbolik di kalangan sosialita memperlihatkan bagaimana simbol diproduksi dan dipahami dalam lingkup sosial tertentu. Pada kalangan sosialita, simbol-simbol yang ditampilkan, seperti gaya berpakaian, bahasa tubuh, dan pola konsumsi, menjadi representasi status sosial dan identitas diri. Hal ini menunjukkan bahwa simbol dapat memiliki makna yang berbeda sesuai dengan latar belakang sosial masyarakat yang menafsirkannya. Oleh karena itu, dalam interaksi dosen dan mahasiswa, perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya dapat menimbulkan perbedaan penafsiran simbol yang berpotensi memunculkan miskomunikasi. Selain faktor budaya dan sosial, jarak relasi hierarkis juga merupakan faktor yang signifikan dalam memengaruhi kualitas interaksi. Relasi hierarkis merujuk pada hubungan antar entitas yang tersusun dalam tingkatan atau jenjang tertentu, di mana satu entitas memiliki kedudukan lebih tinggi daripada entitas lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat dilihat dalam hubungan antara atasan dan bawahan, guru dan murid, serta dosen dan mahasiswa. Meskipun dalam dunia akademik hubungan ini tidak sepenuhnya bersifat hierarkis formal, namun jarak relasi tetap terasa dalam interaksi sehari-hari. Relasi hierarkis pada akhirnya membentangkan jarak komunikasi yang dapat memengaruhi cara simbol ditafsirkan. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin menafsirkan instruksi dosen sebagai bentuk otoritas yang menekan, sementara dosen melihatnya sebagai upaya membimbing. Perbedaan penafsiran ini menunjukkan bahwa simbol tidak memiliki makna tunggal, melainkan selalu terbuka terhadap interpretasi berdasarkan posisi sosial dan relasi hierarkis para pelaku komunikasi. Dengan demikian, relasi hierarkis dapat memperbesar potensi kesalahpahaman jika tidak disertai kesadaran dan keterbukaan dalam proses komunikasi. Oleh karena itu, studi mengenai urgensi mind dalam interaksi simbolik menjadi penting untuk Penelitian ini berusaha mengeksplorasi secara mendalam bagaimana mind berfungsi sebagai alat tafsir simbol dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana mind bekerja sebagai mekanisme internal yang melibatkan proses persepsi, pemahaman, sikap emosional, motivasi, serta kesadaran peran, sehingga mampu memengaruhi kualitas komunikasi interpersonal di lingkungan akademik. Lebih jauh lagi, pemahaman tentang peran mind dalam interaksi simbolik memiliki implikasi penting terhadap peningkatan efektivitas komunikasi di perguruan tinggi. Komunikasi yang efektif tidak hanya berkontribusi pada kelancaran proses pembelajaran, tetapi juga mem perkuat pengembangan karakter mahasiswa, membangun kedekatan emosional, serta meningkatkan hubungan antar individu dalam institusi pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik yang signifikan, baik secara teoritis maupun praktis, terhadap pengembangan kajian komunikasi antar pribadi, khususnya dalam konteks interaksi dosen dan mahasiswa di lingkungan akademik. METHODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dan bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana bagaimana mind bekerja sebagai mekanisme internal dalam menafsirkan simbol, baik dari sudut pandang dosen maupun mahasiswa, dalam proses komunikasi interpersonal. Pendekatan fenomenologis, adalah studi yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa kehidupan manusia dalam kerangka pemikiran dan perilaku masyarakat sebagaimana yang dipahami atau dipikirkan oleh individu itu sendiri. Selain itu. Penelitian fenomenologis memberikan jawaban atas permasalahan (Fitriana 2. Studi fenomenologi bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang realitas. Karena pengalaman manusia dievaluasi melalui deskripsi menyeluruh tentang individu yang diselidiki, penelitian fenomenologi bersifat kualitatif. Pengetahuan yang berupa gambaran. Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 keyakinan, gagasan, nilai, dan sikap yang diperoleh dari lingkungan sekitar seseorang menentukan pengalaman seseorang. (Gandaputra 2. Pengalaman pengalaman ini digunakan untuk menganalisis peristiwa, memahami maksud dan motif orang, mencapai pemahaman topik, dan mengoordinasikan (Nasir et al. , 2. Untuk mendapatkan informasi yang valid terkait tujuan penelitian, maka informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki pengalaman dalam interaksi formal maupun informal secara akademik, baik dari sisi mahasiswa maupun dosen. Sedangkan dalam pencarian dan pemilihan informannya teknik yang digunakan adalah purposive dengan menetapkan kriteria usia dan pengalaman. Teknik sampling purposive (Lawrence A. Palinkas, 2. adalah teknik yang banyak digunakan dalam penelitian kualitatif untuk mengidentifikasi dan memilih kasus yang kaya informasi untuk penggunaan sumber daya terbatas yang paling efektif (Patton, 2. Adapun kriteria informan yang digunakan: memiliki pengalaman komunikasi interpersonal dalam konteks akademik . uliah, bimbingan, diskus. , bersedia untuk diwawancarai dan berpartisipasi dalam observasi, mewakili keragaman latar belakang . sia, gender, program studi, dan pengalaman akademi. Terpilihlah 2 orang dosen yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun mengajar dan 2 orang mahasiswa S2, dengan tempat penelitian di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan waktu penelitian Bulan Mei-Juli 2025. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara mendalam, peneletian ini mendapatkan bahwa urgensi mind dalam teori interaksi simbolik, adalah sebuah konsep yang merujuk pada proses mental yang terjadi dalam diri individu saat mereka berinteraksi dengan orang lain. Konsep ini menekankan bahwa interaksi sosial tidak hanya terjadi melalui perilaku eksternal, tetapi juga melibatkan proses mental internal, seperti: Persepsi, yakni proses menginterpretasikan dan memberi makna pada stimulus lingkungan. Pemahaman, yakni proses mengerti dan memahami makna simbolsimbol yang digunakan dalam interaksi. Sikap, yaitu proses membentuk dan mengubah sikap terhadap orang lain, objek, atau situasi. Motivasi, sebuah proses yang mendorong individu untuk bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Serta kesadaran, yakni proses mengenali dan memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar. Persepsi dan ruang interaksi Interaksi antara dosen dengan mahasiswa bukan sekedar proses pertukaran pesan verbal yang terkait dengan konteks perkuliahan saja. Terbentuknya persepsi atas pesan dalam interaksi tersebut tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya Adalah ruang interaksi atau tempat dimana interaksi antara dosen dan mahasiswa tersebut terjadi. Bahwa ruang interaksi dapat mempengaruhi komunikasi adalah suatu hal yang pasti. Bisa dikatakan bahwa ruang, seperti halnya waktu merupakan bahasa non verbal yang dapat memengaruhi persepsi orang dalam menerima dan mengirimkan pesan. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada para informan, secara umum mereka menyatakan bahwa lingkungan atau ruang interaksi sangat memengaruhi persepsi mereka. Ruang interaksi menjadi penting, kemampuan menempatkan diri dalam ruang interaksi dan penggunaan simbol nonverbal, seperti pemilihan kata, intonasi serta gesture berpengaruh terhadap persepsi dalam interaksi. Artinya, ruang interaksi tidak secara langsung mempengaruhi persepsi tapi menjadi urgensi mind, karena ruang interaksi dapat mengubah gaya interaksi dan penggunaan pesan non verbal guna terbentuknya kesamaan persepsi. Meskipun demikian, ada sedikit perbedaan tentang hal ini diantara mahasiswa dan dosen mengenai urgensi mind yang yang terkait dengan persepsi. Bagi dosen, ruang interaksi adalah faktor yang Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 harus diperhatikan dalam memahami pesan yang disampaikan oleh mahasiswa, bagi mereka tempat dimana interaksi tersebut berlangsung berpengaruh terhadap cara mereka menangkap pesan dari Sedangkan bagi mahasiswa, ruang interaksi atau tempat mereka berbicara dengan dosen berpengaruh terhadap cara mereka mengemas pesan baik verbal maupun non verbalnya yang pada akhirnya berpengaruh terhadap proses persepsinya. Memahami makna pesan dalam interaksi non verbal Komunikasi nonverbal merupakan salah satu aspek penting dalam interaksi manusia sehari-hari. Meskipun tidak menggunakan kata-kata, tetapi gerakan tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh dapat memberikan informasi yang sama pentingnya dengan kata-kata (Humam Ramadhan et al. Komunikasi nonverbal bahkan diyakini jauh lebih banyak menyampaikan makna dibanding komunikasi verbal. Dalam hal ini komunikasi nonverbal memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah membantu memperjelas pesan verbal dan memastikan pesan tersampaikan dengan baik. Selain itu juga dapat membaca perasaan dan niat orang lain, serta memberikan respons yang tepat baik secara interpersonal maupun secara professional. Hal ini juga tergambar dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa, dimana komunikasi nonverbal memegang peranan penting dalam percakapan. Baik dalam konteks terbentuknya persepsi maupun proses pemaknaan pesannya. Ini dapat diartikan bahwa interaksi antara dosen dan mahasiswa menempatkan posisi pesan nonverbal sebagai urgensi mind. Gesture, intonasi gerak tubuh dan pemilihan kata adalah bentuk pesan nonverbal sebagai bagian dari proses pemahaman antara kedua belah pihak. Berdasarkan data yang dikemukakan oleh para informan terdapat beberapa perbedaan urgensi antara dosen dan mahasiswa dalam penggunaan pesan nonverbal. Dari sisi dosen, mereka lebih menekankan pengamatan makna atas pesan nonverbal yang tampak pada saat mahasiswa berbicara dengan mereka. Hal tersebut digunakan untuk memastikan, maksud dibalik pesan yang disampaikan oleh mahasiswa, tingkat keseriusan atau sekedar memastikan apa yang disampaikan mahasiswa tersebut. Berbeda dengan dosen, bagi mahasiswa pesan nonverbal memang digunakan untuk menafsirkan makna dibalik pesan verbal, namun lebih jauh lagi, mahasiswa juga menjadikan gesture, intonasi gerak tubuh dan pemilihan kata sebagai cara untuk menyesuaikan diri dalam berinteraksi. Faktor Emosional Dalam Menyikapi Interaksi Interaksi yang terjadi antara dosen dengan mahasiswa memang lebih banyak yang terkait dengan urusan akademik. Dosen akan memulai interaksi atau merespon interaksi mahasiswa tentunya dengan latar belakang hubugan formal akademik. Demikian pula sebaliknya, mahasiswa berikteraksi dengan dosen lebih banyak yang terkait dengan uruasan akademik formal. Dalam prakteknya faktor emosional seringkali terlibat untuk memastikan interaksi dapat berjalan Faktor emosional tidak semata tentang hal-hal yang bersifat pribadi tetapi juga yang berhubungan dengan pendekatan komunikasi. Faktor sikap/emosi turut berperan dalam interaksi antara dosen dan Urgensi yang terjadi disana adalah bahwa faktor emosional kerap lahir dari inisiasi dosen dibanding mahasiswa. Hal ini tentunya terbilang wajar mengingat peran dan fungsi dosen yang bukan saja sebagai pengajar tetapi melekat juga fungsi pendidik didalam dirinya. Singkatnya, inisiatif menyelami emosi dalam berinteraksi dilakukan oleh dosen melalui pemahaman atas symbol symbol nonverbal yang tampak dalam interaksi tersebut. Sebaliknya, dari sisi mahasiswa, pelibatan emosi dalam interaksi hanyalah sebuah respon atas situasi tersebut. Hal ini disebabkan dari perspektif mahasiswa, unsur hati-hati, takut kesalahpahaman, tidak mau missed communication menjadi faktor-faktor yang memposisikan mahasiswa tidak berinisiatif melibatkan sisi emosional dalam berinteraksi. Sebaliknya, peran dan fungsi dosen sebagai pendidik pada akhirnya Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 membuat dosen dapat berinisiatif menggunakan pendekatan emosional dalam berinteraksi dengan latar belakang akademis yang formal. Motivasi dan Dorongan Berinteraksi Motivasi adalah dorongan yang datang dari manusia dengan kesadaran atau ketidaksadaran untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan tertentu. Seperti kita ketahui perilaku manusia dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan untuk kepentingan yang memenuhi kebutuhan dari seorang individu (Siregar, 2. Hal ini tentunya melatarbelakangi interaksi komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa. Deskripsi tentang motivasi apa yang mendorong dosen ataupun mahasiswa dalam berinteraksi antar pribadi, pada dasarnya adalah sama, bahkan bisa dikatakan symbiosis mutualisme. Secara umum dosen mengakui bahwa mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas dibandingkan dengan mahsiswa, maka interaksi antar pribadi dapat mereka jadikan sebagai media ajar dan tularkan pengetahuan maupun pengalaman akademiknya kepada mahasiswa. Mereka pun mengatakan bahwa pengetahuan tidak hanya diajarkan di ruang kelas ketika kuliah berlangsung, melainkan dapat juga berlangsung diruang interaksi informal Secara singkat dapat disimpulkan bahwa urgensi interaksi antara mahasiswa dan dosen ada pada himpitan kepentingan yang sama, dimana dosen menempatkan interaksi anatar pribadi sebagai media perluasan Pendidikan . elain dikelas, buku ataupun modu. , disisi lain mahasiswa menempatkan interaksi antar pribadi dengan dosen sebagai metode memperdalam pengetahuan melalui cara informal selain dikelas atau buku. Berdasarkan hal tersebut, urgensi mind dalam interaksi pada akhirnya berada pada himpitan kepentingan tersebut, pemahaman atas kepentingan itu menjadikan interaksi antar pribadi dosen dan mahasiswa dapat berlangsung efektif. Kesadaran Atas Peran Dalam Berinteraksi Antara Dosen dan Mahasiswa Kesadaran atas peran secara khusus menggambarkan bagaimana dosen atau mahasiswa menempatkan dirinya ketika berkomunikasi. Apakah mereka memahami perannya dan menjalankan perannya dengan baik. Dalam konteks komunikasi formal, seperti dikelas, atau ruang formal lain seperti ujian tesis, skripsi, disertaisi dan lainnya, peran masing-masing pasti akan terlihat dan terjaga dengan jelas, namun bagaimana hal nya dengan peran mereka pada interaksi antar pribadi. Penelitian ini mendapati gambaran yang cukup terang tentan g bagaimana kesadaran diri dosen maupun mahasiswa tetap harus dijaga dalam konteks interaksi antar pribadi. Namun yang menjadi catatan penting adalah, kesadaran dosen secara professional tetap diikuti kesadaran dirinya sebagai pembimbing guna kemajuan dan perkembangan si mahasiswa dalam dunia akademis. Interaksi antar pribadi dengan mahasiswa yang dibatasi dengan kesadaran profesional dosen adalah urgensi dari interaksi tersebut. Demikian pula dari sisi mahasiswanya, interaksi antar pribadi dengan dosen adalah sebuah praktik yang perlu dilakukan untuk pengembangan diri. Kesadaran atas posisi sebagai mahasiswa. Adalah kesdaran untuk terus belajar di ruang ruang yang tidak terbatas kelas dan Seperti halnya dosen, mahasiswa pun menyadari bahwa interaksi antar pribadi dengan dosen semata untuk pengembangan pengetahuan dan akademik dengan tetap mempertimbangkan etika dan Kesadaran posisi diantara dosen dan mahasiswa adalah sebuah urgensi mind dalam kerangka interaksi antar pribadi. Interaksi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa dapat berlangsung secara baik dan efektif ketika menempatkan kesadaran atas posisi masing-masing dan profesionalisme peran sebagai Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 PEMBAHASAN Interaksi simbolik adalah teori yang diperkenalkan oleh George Herbert Mead mengenai keterkaitan antara symbol dan interaksi. Teori ini popular dengan konsep-konsep utamanya yakni Mind, self dan society . ikiran, diri dan Masyaraka. yang secara umum menggambarkan bahwa makna atas symbol komunikasi terbentuk karena adanya interaksi. Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes . dalam West & Turner 2. mengatakan bahwa interaksi simbolik Auyaitu kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, sebaliknya, membentuk perilaku manusiaAy. Dalam pernyataan ini, kita dapat melihat argumen Mead mengenai saling ketergantungan antara individu dan masyarakat. Pada kenyataannya, interaksi simbolik membentuk sebuah jembatan antara teori yang berfokus pada individu-individu dan teori yang berfokus pada kekuatan sosial . Konsep mind, self dan society adalah konsep utama dalam teori ini yang mendiskripsikan tentang bagaimana symbol dipertukarkan. Penelitian ini fokus pada bagaimana mind bekerja dalam interaksi simbolik, penggunaan urgensi mind dalam interaksi ternyata pada akhirnya tetap menggambarkan hubungan antara Mind Ae self Ae society itu sendiri. Penelitian ini memberikan beberapa temuan menarik seputar Mind dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa. Urgensi mind dalam interaksi itu sendiri memiliki 5 konsep mendasar yang mempengaruhi seseorang dalam berinteraksi. Konsep Mind menekankan bahwa interaksi sosial tidak hanya terjadi melalui perilaku eksternal, tetapi juga melibatkan proses mental internal, seperti: Persepsi, proses menginterpretasikan dan memberi makna pada stimulus lingkungan. Pemahaman, proses mengerti dan memahami makna simbol-simbol yang digunakan dalam . Sikap, proses membentuk dan mengubah sikap terhadap orang lain, objek, atau situasi. Motivasi, proses yang mendorong individu untuk bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Kesadaran, proses mengenali dan memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar. Temuan urgensi mind dalam penelitian ini secara singkat dapat dilihat dalam gambar model berikut ini : MIND MIND Simbol Simbol Pemahaman Simbol Simbol Sikap/emosional Simbol Simbol Persepsi DOSEN Persepsi Mahasiswa Pemahaman Sikap/emosional Motivasi Kesadaran Motivasi Simbol Signifikan Simbol Signifikan Gambar 1 Urgensi Mind Gambar 1 diatas secara sederhana menjelaskan tentang bagaimana urgensi mind bekerja pada ranah interaksi simbolik. Berangkat dari asumsi utama teori interaksi simbolik bahwa individu membentuk makna melalui interaksi sosial dan menggunakan simbol-simbol untuk berkomunikasi dan membangun pemahaman tentang dunia, individu mengawali interprtasi makna dalam interaksinya melalui praktik mind Praktik mind adalah proses seseorang berfikir untuk mempersepsi, memahami, menyikapi hingga menyadari posisi ketika mereka berada dalam lingkungan ketika berinteraksi. Melalui proses dan praktek Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 mind ini lah symbol-simbol akhirnya menemukan makna signifikannya. Melalui proses mind inilah kemudian dosen dan mahasiswa mampu berinteraksi tanpa harus takut terjadi kesalahpahaman, missed communications, pelanggaran etika hingga hilangnya Batasan profesionalisme. Dari gambar tersebut menjelaskan bahwa Individu . bertukar symbol melalui interaksi antar pribadi dengan indvidu lain . melalui proses mind yang memiliki fungsi persepsi, pemahaman, sikap/emosional, motivasi dan kesadaran peran. Demikian pula sebaliknya Mahasiswa sebagai individu bertukar symbol dalam interaksi antar pribadi dengan dosen melalui proses mind yang sama. Kesamaam proses mind ini yang kemudian menjadikan dosen dan mahasiswa mendapatkan kesamaan makna baik secara persepsi, pemahaman, sikap/emosional, motivasi dan kesadaran peran, yang kemudian disebut sebagai makna signifikan. Magna signifikan adalah kesamaan makna yang dipertukarkan antar individu . osen dan mahasisw. Kesulruhan proses ini lah yang menggambarkan bagaimana parktik urgensi mind bekerja dalam ranah interaksi simbolik, dalam komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa. Secara rinci, proses dan praktik urgensi mind dapat dibahas dalam uraian berikut : Persepsi dan pemahaman, terbentuknya persepsi dosen maupun mahasiswa yang kemudian melahirkan pemahaman dalam interaksi, pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa hal. Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa persepsi dapat terbentuk karena kemampuan individu dalam menempatkan diri ketika berinteraksi. Kampus, kelas, lorong bahkan kantin adalah ruang interaksi yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi. Beda ruang, maka akan beda proses persepsi dan pemahaman, karena hal tersebut pada akhirnya membutuhkan metode yang berbeda dalam interaksinya. Pilihan kata, gesture, intonasi bahkan akan mempengaruhi proses persepsi dan pemahaman. Artinya, kemampuan menempatkan diri dalam ruang interaksi dan penggunaan symbol nonverbal, seperti pemilihan kata, intonasi serta gesture berpengaruh terhadap persepsi dalam interaksi. Artinya, ruang interaksi tidak secara langsung mempengaruhi persepsi tapi menajdi urgensi mind, karena ruang interaksi dapat mengubah gaya interaksi dan penggunaan pesan non verbal guna terbentuknya kesamaan persepsi dan pemahaman atas pesan dalam interaksi antara mahasiswa dan dosen. Namun demikian, dalam proses persepsi di ruang interaksi ini terdapat perbedaan antara dosen dan mahasiswa. Bagi dosen, ruang interaksi adalah faktor yang harus diperhatikan dalam memahami pesan yang disampaikan oleh mahasiswa, bagi mereka tempat dimana interaksi tersebut berlangsung berpengaruh terhadap cara mereka menangkap pesan dari mahasiswa. Sedangkan bagi mahasiswa, ruang interaksi atau tempat mereka berbicara dengan dosen berpengaruh terhadap cara mereka mengemas pesan baik verbal maupun non verbalnya yang pada akhirnya berpengaruh terhadap proses persepsinya. Perbedaan ini sebenernya Adalah perbedaan yang saling melengkapi, karena perbedaan tersebut seperti kesepakatan tidak tertulis antara dosen dan mahasiswa namun berlangsung secara natural. Dosen membaca symbol, mahasiswa mengemas symbol yang menyesuaikan. Sikap dan pelibatan emosi dalam interaksi, adalah hal yang alamiah ketika interaksi antar pribadi melibatkan sikap emosional atau perasaan. Demikian pula halnya dalam interaksi antarpribadi antara dosen dengan mahasiswa. Namun yang kami temukan dalam penelitian ini adalah, bahwa pelibatan emosi atau perasaan diinisiasi oleh dosen, sedangkan sebaliknya mahasiswa justru berupaya sedapat mungkin tidak melibatkan perasaan meskipun membutuhkan tempat untuk mencurahkan. Meskipun kerap terlibat faktor emosional dalam interaksinya, namun interaksi antar pribadi antara dosen dan mahsiswa ini masih dalam konteks akademis. Keterlibatan emosi dalam interaksi dengan dosen tetap menempatkan etika antara dosen dengan mahasiswa terjaga. Secara urgensi. Mind dalam konteks pelibatan sikap dan sisi emosional dalam interaksi antara mahasiswa dan dosen adalah dinisiasi oleh dosen, sedangkan dari sisi mahasiswa hal lebih kepada bagaimana mereka merespon atas sisi Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 emosional tersebut. Dengan kata lain, pelibatan faktor emosional ini pada prinsipnya tetap menjaga profesionalisme antara dosen dan mahasiswa dikedua pihak. Motivasi dalam interaksi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa. Motivasi adalah dorongan yang datang dari manusia dengan kesadaran atau ketidaksadaran untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan tertentu. Demikian pula halnya pada interaksi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa memiliki motivasi. Secara umum kedua pihak, baik dosen maupun mahasiswa memiliki persepsi, pemahaman bahkan pelibatan emosi dalam interaksi antar pribadi, dengan motivasi akademis. Disatu sisi dosen menginginkan agar tercipta ruang informal/antar pribadi dalam melakukan pengajaran atau pengembangan potensi mahasiswa, disisi mahasiswa merekapun bermotivasi serupa. Mahasiswa berharap mendapatkan pengetahuan atau pengalaman tambahan dari dosen diluar interaksi formal mereka di ruang-ruang kelas, buku dan modul. Secara urgensi, proses mind yang terjadi adalah kesamaan motivasi antara dosen dan mahasiswa yang dapat menyebabkan interaksi ntar pribadi dapat berjalan dengan baik dan lancer. Secara urgensi, proses mind ini berjalan secara natural bahkan menjadi kebutuhan yang sejatinya sudah ada pada individu dosen maupun mahasiswa yang berinteraksi secara antar pribadi. Kesadaran atas peran dan profesionalisme, yang dimaksud dengan kesadaran atas peran adalah bagaimana seorang dosen memposisikan dirinya terhadap mahasiswa ketika berinteraksi antar pribadi dan sebaliknya. Yakni bagaimana mahasiswa meenempatkan dirinya ketika berinteraksi antar pribadi dengan dosen. Penelitian ini mendapati bahwa dosen memiliki kesadaran peran ketika berinteraksi antar pribadi dengan mahasiswa. Urgensi mind disini, mengharuskan dosen berinteraksi secara professional. Pendekatan anatar pribadi dalam interaksi adalah kesadaran dirinya sebagai pembimbing ataupun pendidik guna kemajuan dan perkembangan si mahasiswa dalam dunia akademis. Disisi lain, mahasiswa juga memiliki kesadaran peran yang sama, mahasiswa menyadari bahwa interaksi antar pribadi dengan dosen semata untuk pengembangan pengetahuan dan akademik dengan tetap mempertimbangkan etika dan profesionalisme meskipun berada diruang informal. KESIMPULAN Adapun simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Pemaknaan simbol-simbol dalam interaksi simbolik komunikasi antar pribadi antara dosen dan mahasiswa pada dasarnya sama dengan proses interaksi antar pribadi lainnya. Pemaknaan pesan atau symbol yang dipertukarkan bukan semata dari pesan verbal yang disampaikan, melainkan juga pesan pesan nonverbal yang mana pemaknaannya dipengaruhi oleh kesadaran peran antara mahasiswa dan dosen yang dibatasi oleh etika dan Selain itu, konsepsi tentang urgensi mind adalah, bagaimana proses mind bekerja dalam penafsiran symbol-simbol interaksi. Adapun proses mind dalam urgensinya bekerja sebagai berikut: Individu . bertukar symbol melalui interaksi antar pribadi dengan indvidu lain . melalui proses mind yang memiliki fungsi persepsi, pemahaman, sikap/emosional, motivasi dan kesadaran peran. Sebaliknya, mahasiswa sebagai individu bertukar symbol dalam interaksi antar pribadi dengan dosen melalui proses mind yang sama. Kesamaan proses mind ini lah yang kemudian menjadikan dosen dan mahasiswa mendapatkan kesamaan makna. Keseluruhan proses ini lah yang menggambarkan bagaimana parktik urgensi mind bekerja dalam ranah interaksi simbolik komunikasi antar pribadi dosen dan Urgensi Mind dalam Interaksi Simbolik Komunikasi Antar Pribadi Dosen dan Mahasiswa (Salilah Zahira Ramadhani. Hana Rizqy Tazkia. Putri Giani Nabila Salwa. Yunita Sar. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. September 2025, 503-513 SARAN Penelitian ini secara teoritis menjelaskan bahwa simbol-simbol yang digunakan dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa menempatkan mind sebagai hal yang paling penting. Didasari atas hal tersebut kami menyarankan agar diperbanyak referensi ataupun penelitian susulan yang menjembatani teori ini dengan ilmu psikologis agar dapat menjelaskan bagaimana Mind dan self bekerja secara psikologis bukan hanya secara sosiologis. Selain itu penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai praktik baik untuk interaksi antar pribadi pendidik dan anak didik, seperti guru dan murid. Dimana interaksi antara pribadi dapat dilakukan sebagai ruang interaksi pengembangan pengetahuan namun masih dalam kesadaran peran etika dan profesionalisme. DAFTAR PUSTAKA