Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 8. No 2. Novenber 2024 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: 10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Orang Tua Dalam Memberikan Pendidikan Seks Pada Remaja Di Desa Kabobona. Kabupaten Sigi Israwaty Suriady1. Ilyas2. Rizqy Alfiyaty3,Dwi Rohma W. Prodi Ilmu Komunikasi. Univesitas Tadulako. Kota Palu. Indonesia Prodi Ilmu Komunikasi. Univesitas Tadulako. Kota Palu. Indonesia Prodi Ilmu Komunikasi. Univesitas Tadulako. Kota Palu. Indonesia Prodi Ilmu Komunikasi. Univesitas Tadulako. Kota Palu. Indonesia *Korespondensi : rizqyalfiyaty@gmail. Abstrak Angka pernikahan dini di Sulteng masih diatas rata-rata nasional yakni 15,8%, pernikahan dini di Kabupaten Sigi masih tinggi dan ini akan berdampak pada timbulnya masalah stunting. Maka diperlukan berbagai pendekatan pada berbagai faktor penyebab terjadinya pernikahan dini, salah satunya keterbukaan antara orang tua dan anak tentang pendidikan seks. Diharapkan hal tersebuut dapat mencegah anak mencari dan mendapatkan informasi terkait seks dari orang lain ataupun melalui media online secara bebas. Untuk bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman ini, maka diperlukan kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan ini dapat mengarahkan anak usia remaja untuk menerima semua informasi secara efektif. Untuk itu tekah dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat: Diseminasi Hasil Penelitian dengan judul Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks pada Remaja di Desa Kabobona. Kabupaten Sigi. Provinsi Sulawesi Tengah. Minimnya pengetahuan warga desa terhadap pengkomunikasian pendidikan seks pada anak, khususnya remaja berdampak pada potensi meningkatnya angka pernikahan dini akibat hamil diluar pernikahan. Oleh karena itu keluarga perlu dibekali pencerahan pendidikan Metode yang dilakukan pada kegiatan PkM berupa penyuluhan/sosialisasi pendidikan seks yang diisi dengan ceramah tatap muka disertai diskusi tanya-jawab terhadap sekitar 25 ibu-ibu PKK Desa Kabobona. Hasil yang diperoleh dari kegiatan PkM ini semakin tercerahkannya dan menambah pemahaman sekitar 12 warga Desa Kabobona yang bersedia memberikan pendidikan seks kepada anak remaja dari sebelumnya berjumlah hanya 3 orang yang pernah melakukan hal tersebut. Sehingga total ada 15 ibu-ibu yang akan memberikan pendidikan seks pada anak remaja demi kebaikan masa depan. Kesimpulan materi kegiatan PkM ini adalah bahwa pendidikan seks sejak dini dinilai lebih baik untuk dilakukan, mengingat hal tersebut dianggap AotabuAo untuk dilakukan. Orang tua berpendapat bahwa anak-anak dengan sendirinya akan paham bahkan ada beberapa ibu yang masih bingung materi atau topik yang akan dibahas dalam pendidikan seks. Kata Kunci : Kemampuan Komunikasi. Pendidikan Seks. Remaja. Desa Kabobona Abstract The rate of early marriage in Central Sulawesi is still above the national average, namely 15. 8%, early marriage in Sigi Regency is still high and this will have an impact on the emergence of stunting problems. So various approaches are needed to various factors that cause early marriage, one of which is openness between parents and children regarding sex education. It is hoped that this can prevent children from freely seeking and obtaining information related to sex from other people or through online media. To be able to provide this knowledge and understanding, good communication skills are needed. This ability can direct adolescent children to receive all information effectively. For this reason. Community Service activities have been carried out: Dissemination of Research Results titled Improving Parents' Communication Skills in Providing Sex Education to Adolescents in Kabobona Village. Sigi Regency. Central Sulawesi Province. The lack of knowledge among village residents regarding communicating sex education to children, especially teenagers, has an impact on the potential for increasing rates of early marriage due to pregnancy outside of marriage. Therefore, families need to be provided with sexual education enlightenment. The method used in PkM activities is in the form of sex education outreach/socialization which is filled with face-to-face lectures accompanied by question-and-answer discussions with around 25 PKK women in Kabobona Village. The results obtained from this PkM activity have further enlightened and increased the understanding of around 12 residents of Kabobona Village who are willing to provide sex education to teenagers compared to previously only 3 people who had done this. So a total of 15 mothers will provide sex education to teenagers for the good of their future. The conclusion of this PkM activity material is that sex education from an early age is considered better to do, considering that it is considered 'taboo' to do. Parents are of the opinion that their children will naturally understand, and there are even some mothers who are still confused about the material or topics that will be discussed in sex Keywords: Communication Skills. Sex Education. Teenager. Kabobona Village Submit: Oktober 2024 Diterima: November 2024 Publis: November 2024 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta. Surabaya. Palu dan Banjarmasin. Angka pernikahan dini di Sulteng masih diatas rata-rata nasional yakni 15,8%, pernikahan dini di Kabupaten Sigi masih tinggi dan ini akan berdampak pada timbulnya masalah Stunting maka diperlukan berbagai pendekatan pada berbagai faktor penyebab terjadinya pernikahan dini . ernyataan Camat Sigi Kota Ajusiar. STP). Beliau juga menyebutkan pernikahan dini menjadi salah satu faktor penyebab Stunting. Provinsi Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan prevalensi pernikahan anak terbanyak dan menempati posisi ke 3 tertinggi Nasional. Prevalensi Stunting di Indonesia dimana Provinsi Sulawesi Tengah menempati Urutan ke-8 dengan Status Stunting terbanyak. Prevalensi Stunting di Kabupetan Sigi yakni 40,7% (SSGI 2. Banyak sekali kasus pernikahan anak yang terjadi di Sulawesi Tengah khususnya di kabupaten Sigi. Berdasarkan data terhitung sekitar 25 kasus pernikahan anak dikabupaten sigi yang masuk daftar laporan ke KPKPST direntang . ttps://hawa. id/detail/kasus-pernikahananak- di-sigi-menigkat/ yang unggah pada 1 Februari 2. Pemberian edukasi seksualitas pada masyarakat dapat membantu mencegah terjadinya suatu pernikahan dini kepada seorang anak dan sudah dapat dilakukan sejak dini. Namun, perlu dilakukan secara bertahap sesuai dengan usia tumbuh kembang seorang anak. (Psikolog Klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Anna Surti Ariani melalui laman https://w. com/berita/24042 81/psikolog-edukasi-seksualitasbantucegah-pernikahan-dini-pada-ana. Pada saat memberikan edukasi seksualitas yang terkait dengan pernikahan dini, penting untuk setiap pihak menjabarkan bagaimana sebenarnya suka duka yang terjadi apabila melakukan pernikahan dini, tidak hanya PENDAHULUAN Keluarga pendidik pertama bagi anak-anak. Orang tua yang memiliki tanggungjawab untuk memgembangkan seluruh potensi anaknya, baik jasmani maupun rohani sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadipribadi yang baik. Orang tua harus selalu mendampingi anaknya dan menyadari secara terus menerus untuk membina dan mendidik anak. Menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun Perlindungan Anak, disebutkan bahwa tugas dan tanggung jawab orang tua adalah. Mengasuh memelihara, melindungi, dan mendidik anak, . Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakatnya, . Mencegah anak menikah pada usia dini, dan . Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti Salah satu pendidikan yang sangat penting diberikan oleh orang tua kepada anak adalah memperkenalkan tentang sex dari usia dini. Sex education adalah pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Utamanya anak yang memasuki usia remaja setelah masa pubertas. Perubahan pada masa remaja dari segi fisik, fisiologis serta keingintahuan remaja yang tinggi tentang berbagai hal, salah satunya adalah sex. Untuk itu orang tua perlu mendampingi anak dan menjawab problematika tentang seksualitas, kebebasan, kewajiban dan dampak terkait hal tersebut. Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak jenjang perkawinan. Pakar seks juga spesialis Obstentri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5% pada tahun 1980 -an, menjadi 20% pada Kisaran angka tersebut, kata Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) bagaimana cara berhubungan seks yang sehat atau sekadar memperkenalkan alat kelamin itu sendiri, tetapi juga segala hal yang berhubungan dengan seks termasuk cara berkomunikasi sehat dengan orang Berdasarkan hal tersebut, sangat dibutuhkan keterbukaan antara orang tua dan anak tentang pendidikan seks sejak dini, agar mencegah anak mencari dan mendapatkan informasi dari orang lain ataupun melalui media online secara bebas. Untuk bisa memberikan pengetahuan dan kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan ini dapat mengarahkan anak untuk menerima semua informasi secara Berdasarkan hasil penelitian terkait tingkat kemampuan komunikasi orangtua kepada remaja terkait Pendidikan Seks yang dilakukan di tahun 2023 yaitu : . sebagai pembicara atau komunikator, orang tua mengetahui aspek apa dan bagaimana Pengetahuan yang baik tentang seksual dan penyampaian yang mudah dimengerti serta perilaku yang sesuai ketika berbicara. orang tua di kota Palu masih perlu meningkatkan motivasi atau dorongan pendidikan seks pada remaja. Orang tua masih memiliki motivasi yang cenderung ketidakmampuan terbuka kepada anak untuk berbicara terkait Pendidikan seks. tingkat keterampilan orang tua di Sigi masih Palu pendidikan seks kepada anak . Salah satu langkah guna mencegah pernikahan dini selain melalui pendidikan seks, yaitu pembuatan Perdes ini kerjasama antara pihak pemerintah desa bersama Yayasan Libu Perempuan dan Unicef selama kurang lebih 6 Bulan. Menyelesaikan Perdes ini khususnya di Kabupaten Sigi ada 4 Desa yang dibantu yaitu Desa Kalukubula. Desa Mpanau. Desa Kabobona dan Desa Matauwe. Perdes ini lahir dari banyaknya masalah anak yang terjadi di desa yaitu, kekerasan Vol. 8 No. November 2024 pada anak, pernikahan dini, pekerja anak dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut dinilai penting untuk memberikan pemahaman komunikasi orang tua kepada anak . dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks yang bisa mengakibatkan tingginya angka pernikahan dini yang akhirnya menjadi salah satu penyebab Pemilihan Desa Kabobona tentu disertai alasan, yaitu sebagai desa yang berkontribusi dalam pembuatan Perdes Perlindungan Anak dan menjadi salah satu Kampung . ttps://kampungkb. id/kampung/ 17767/kabobon. dan menjadi desa terkecil sekaligus gerbang pertama saat memasuki wilayah Kecamatan Dolo. Selain itu memiliki jumlah penduduk 2. 484 jiwa termasuk 715 jiwa remaja, ini berarti 28,78% Dibanding dengan Desa Kalukubula dengan jumlah penduduk sekitar 11. 740 jiwa dengan jumlah pelajar/mahasiswa 2596, yang artinya 22% adalah angka yang berpotensi terjadinya pernikahan dini. Berdasarkan hal tersebut dinilai penting untuk memberikan pemahaman sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi orang tua kepada anak . dalam pendidikan seks. Sehingga hal ini diharapkan berkontribusi positif terhadap upaya menekan angka pernikahan dini dan angka penyakit menular. METODE PELAKSANAAN Berikut pelaksanaan yang dilakukan oleh tim pengabdian dalam menawarkan solusi permasalahan yang ada pada mitra. Dalam proses tahapan ini dilakukan dengan metode ceramah: Dilakukan dengan waktu 150 menit . ,5 ja. Menjelaskan tentang konsep komunikasi keluarga, antara orang tua dan anak . Menjelaskan tentang manfaat Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 2024 di Desa Kabobona yang dibuka langsung oleh Bapak Anwar selaku Kepala Desa di desa tersebut. Kegiatan ini berlangsung selama dari pukul 30- Selesai yang diikuti oleh sekitar 25 ibu-ibu PKK sekitar desa tersebut. pendidikan seks bagi kehidupan di masa depan Menjelaskan cara pendekatan kepada remaja agar mau saling Dalam metode ceramah digunakan juga proses umpan balik sehingga komunikasinya berlangsung dengan efektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan tentang kesehatan seksual merupakan aspek penting Seksualitas lebih dari sekadar aspek identitas individu, ia juga berperan penting dalam membentuk cara kesejahteraan mental dan fisik remaja. Pengetahuan yang memadai mengenai isu-isu kesehatan seksual, ditambah dengan komunikasi yang terbuka dan efektif antara orang tua dan anak, dapat Sehingga pentingnya kemampuan komunikasi Pendidikan Seks terhadap anaknya menjadi salah satu alasan dari pengabdian ini. Pengabdian yang berlangsung selama satu hari ini sangat dinanti oleh pihak kelurahan Desa Kabobona. Kabupaten Sigi. Angka pernikahan dini di Sulawesi Tengah masih lebih tinggi daripada rata-rata nasional, yaitu 15,8%, dan pernikahan dini di Kabupaten Sigi Tingginya angka pernikahan dini berpotensi menimbulkan masalah pendekatan yang beragam untuk Dengan menargetkan ibu-ibu sebagai peserta, diharapkan mereka dapat menerapkan komunikasi berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anak. Pengabdian dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Juni Gambar 4. 1 Pembukaan dan Penyampaian Materi Ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa dalam upaya memberikan pendidikan seks yang tepat kepada anak-anak mereka. Interaksi yang menciptakan suasana yang nyaman, sehingga para ibu dapat berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi dalam mengajarkan konsep pendidikan seks kepada anakanak. Gambar 4. 2 Penyampaian Materi Melihat pertimbangan latar belakang peserta yang berbeda-beda, isi penyampaian materi dibuat untuk lebih mudah dipahami melalui diskusi. Dalam diskusi kali ini juga para ibu berbagi pengalamannya tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga terkait Pendidikan seks. Antusiasme mereka Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) terlihat ketika mereka berbicara tentang pembelajaran dengan anak dan berusaha menciptakan suasana yang baik agar anak leluasa bertanya dan memahami dengan Sebelum penyampaian materi terkait pendidikan seks, terdapat sekitar 25 ibu-ibu yang hadir dalam kegiatan tersebut. Dari jumlah tersebut, hanya tiga orang yang berani membahas topik pendidikan seks kepada anak-anak mereka. Sebanyak 22 orang lainnya mengungkapkan belum melakukannya dengan beberapa indikator alasan yang kami berikan, dari mereka yang belum membahas pendidikan seks, dua orang merasa tidak paham tentang apa yang seharusnya dibahas. Sementara itu, delapan orang berpendapat bahwa anak-anak akan memahami hal tersebut dengan sendirinya melalui pengalaman dan pengaruh dari pihak eksternal. Selain itu, tidak ada ibu yang menyatakan bahwa pembahasan ini dianggap tabu atau bertentangan dengan Namun, sisanya mengungkapkan kebingungan tentang bagaimana memulai pembicaraan tersebut. Dengan beragam alasan ini, terlihat bahwa masih ada kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan diri para ibu dalam memberikan pendidikan seks yang penting kepada anak-anak mereka. Vol. 8 No. November 2024 untuk Pendidikan seks kepada anaknya. Karna Pendidikan seks ini tentu memiliki tujuan, tujuan pengenalan pendidikan seks pada anak usia dini menurut Piet Go mencakup tiga aspek utama: pertama, anak dapat mengembangkan pengetahuan tentang kedua, anak belajar menerima dan ketiga, anak memiliki tanggung jawab penuh terhadap seluruh bagian tubuhnya serta memahami pengaruh dan bahaya dari lingkungan sekitar (Kwirisnus, 2. Sehingga diharapkan angka pernikahan dini dapat berkurang. Berdasarkan hasil dari survey yang kami buat saat penyampaian materi, maka ada perbedaan antara sebelum dengan sesudah pemberian materi dari program pengabdian ini. Setelah penyampaian materi tentang pendidikan seks, terjadi perubahan yang signifikan di antara ibu-ibu yang hadir. Dari jumlah awal 25 orang, kini 15 ibu menyatakan keinginan untuk memberikan pendidikan seks kepada keluarga mereka. Ini pemahaman dan kepercayaan diri setelah mendapatkan edukasi yang diberikan. Meskipun demikian, masih ada sejumlah ibu lainnya yang tidak memberikan jawaban karena merasa belum bisa mengambil keputusan. Kebingungan mencerminkan tantangan yang masih pengetahuan yang baru mereka peroleh. Proses edukasi ini tidak hanya menumbuhkan harapan bahwa mereka akan lebih siap untuk membahas topik penting ini di lingkungan keluarga. Dengan demikian, langkah ini menjadi awal yang baik untuk menciptakan komunikasi yang lebih terbuka mengenai pendidikan seks dalam keluarga, sekaligus membangun fondasi yang kuat bagi pemahaman yang lebih baik di masa Gambar 4. 3 Diskusi Kegiatan ini bermaksud agar orang tua turut aktif dalam memberikan perhatian Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Kabupaten Madiun (NUGROHO Jurnal Ilmiah Pendidikan 2. , 2. , 124 Ae 131 Widawati. Lestari. Model Komunikasi Pendidikan Seksualitas Orang Tua Pada Remaja. Indonesian Journal of Islamic psychology. Vol Number 1. Muslich. Pentingnya Pengenalan Pendidikan Seks Dalam Pencegahan Sexual Abuse Pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 33. KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian Masyarakat dalam skema Diseminasi hasil Penelitian dengan tema AuPengabdian kepada masyarakat meningkatkan kemampuan komunikasi orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada remaja di Desa Kabobona. Kabupaten SigiAy menjadi salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya bagi keluarga yang ingin memberikan pendidikan seks yang tepat kepada anakanak mereka dikabupaten sigi yang tingkat pernikahan dininya masih tinggi. Peran keluarga sangat krusial dalam mengedukasi generasi muda tentang seksualitas, karena orang tua adalah pihak yang paling berpengalaman dalam berkomunikasi dan menjelaskan topik ini. Melalui program ini, para ibu diharapkan dapat meningkatkan pemahaman memberikan pendidikan seks yang sehat dan aman kepada anak-anak. Kegiatan-kegiatan seperti ini sangat penting, mengingat ibu-ibu menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi anak-anak mereka. Dengan dukungan pendidikan seks yang baik, diharapkan anakanak dapat tumbuh dengan pengetahuan yang benar dan sikap yang positif terhadap tubuh mereka dan hubungan antar manusia. Vol. 8 No. November 2024 REFERENSI