CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care Peningkatan Literasi Filsafat Islam dan Berpikir Kritis Berbasis Epistemologi Islam *1Fatih Ibrahim Putra Muhammad UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta *Koresponden: fatihibrahimpm@gmail. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berangkat dari urgensi penerapan nilai-nilai epistemologi Islam dalam membentuk cara berpikir kritis, ilmiah, dan berkeadaban di tengah masyarakat modern. Selama ini, konsep epistemologi Islam yang terdiri dari pendekatan bayani, burhani, dan irfani masih banyak dipahami secara teoritis di ruang akademik, namun belum banyak diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran dan pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi filsafat Islam serta kesadaran berpikir kritis berbasis epistemologi Islam di masyarakat. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui ceramah, diskusi interaktif, dan pelatihan berpikir reflektif. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi tingkat pemahaman awal peserta tentang konsep dasar epistemologi Islam, penyusunan modul sederhana berbasis tiga pilar epistemologi . ayani, burhani, dan irfan. , serta pelaksanaan edukasi dan tanya jawab dengan pendekatan kontekstual yang disesuaikan dengan lingkungan pesantren. Evaluasi dilakukan melalui observasi, umpan balik peserta, dan kuesioner sederhana untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis peserta setelah kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman santri terhadap peran ilmu dalam Islam, pentingnya berpikir rasional dan reflektif, serta tumbuhnya kesadaran untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam mendiskusikan isu-isu kontemporer dengan perspektif epistemologi Islam. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat berbasis penguatan literasi keilmuan Islam yang aplikatif, dan sekaligus menjadi langkah nyata dalam membangun masyarakat Islami modern yang berilmu, beretika, dan berdaya pikir kritis. Kata kunci: epistemologi Islam, filsafat Islam, berpikir kritis, pengabdian masyarakat, literasi keilmuan. Abstract This community service activity stems from the urgency of implementing Islamic epistemological values in shaping critical, scientific, and civilized thinking in modern society. To date, the concept of Islamic epistemology, consisting of the bayani, burhani, and irfani approaches, is still largely understood theoretically in academic settings, but has not been widely implemented in learning and community development activities. Therefore, this community service activity aims to increase Islamic philosophical literacy and awareness of critical thinking based on Islamic epistemology in the community. The activity implementation method is carried out through lectures, interactive discussions, and reflective thinking training. The activity stages include identifying participants' initial level of understanding of the basic concepts of Islamic epistemology, developing simple modules based on the three pillars of epistemology . ayani, burhani, and irfan. , and implementing education and question and answer sessions with a contextual approach adapted to the Islamic boarding school Evaluation is carried out through observation, participant feedback, and a simple questionnaire to measure the increase in participants' knowledge and critical thinking skills after the activity. The results of the activity demonstrated an increase in students' understanding of the role of knowledge in Islam, the importance of rational and reflective thinking, and a growing awareness of integrating knowledge and Islamic values into daily life. Participants also demonstrated high enthusiasm in discussing contemporary issues from an Islamic epistemological perspective. Therefore, this activity is expected to serve as a model for community service based on strengthening applicable Islamic scientific literacy, while simultaneously representing a concrete step in building a modern Islamic society that is knowledgeable, ethical, and critically thinking. Keywords: Islamic epistemology. Islamic philosophy, critical thinking, community service, scientific PENDAHULUAN Term Epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, bukanlah sesuatu yang asing lagi kita ketahui. Term Epistemologi yang dalam sejarah awalnya berasal dari Yunani ini merupakan gabungan dari dua kata. Pertama ada kata Episteme yang biasa diartikan sebagai pengetahuan, pemahaman, atau pengenalan, sedangkan kata kedua Logos diartikan sebagai ilmu, argumen, atau alasan. Meski demikian, definisi dari epistemologi ini CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care tidaklah sebatas penggabungan dari kedua kata yang membentuk term epistemologi ini. Pengertian epistemologi ini selalu berkembang seiring bertumbuhnya kajian filsafat, periode sejarah yang spesifik berimplikasi pada persoalan epistemologi yang spesifik pula. Adapun persoalan pokok terhadap kajian epistemologi ini adalah meliputi sumber pengetahuan baik berupa sumber-sumber pengetahuan, kredibilitas sumber pengetahuan, serta bagaimana proses dalam memperoleh pengetahuan. Selanjutnya epistemologi ini juga berkenaan dengan watak pengetahuanAiapakah hanya apa yang ada di pikiran atau justru terdapat pengetahuan yang berada diluar pikiran manusia serta berkaitan dengan pengujian atau penilaian kebenaran . dari pengetahuan yang diperoleh (Titus et al, 1. Dalam sejarah perkembangan epistemologi terdapat dua aliran besar epistemologi, yaitu Rasionalisme dan Empirisme, masing-masing dari keduanya memiliki tolak ukur tersendiri dalam melihat sebuah pengetahuan dapat diperoleh manusia. Aliran Rasionalisme telah kukuh dan yakin dengan konsep epistemologi Neoplatonisme. Aliran ini meyakini bahwa dunia idea sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang diakui, serta hanya rasio sebagai instrumen pengetahuan yang dapat mengakses sumber pengetahuan tersebut. Adapun tokoh sentral dari aliran Rasionalisme ini adalah Rene Descartes. Sebaliknya, pada aliran Aristotelianisme membantah sistem pengetahuan yang berlandaskan pada dunia idea Aliran Aristotelianisme justru kukuh dengan pendiriannya, bahwa pengetahuan yang valid merupakan pengetahuan hasil abstraksi realitas eksternal melalui panca indera. Menarik untuk kita ketahui bahwa pada dasarnya masing-masing dari aliran ini memegang teguh pada apa yang mereka anggap sebagai sistem epistemologi yang tunggal dengan menyangkal sistem yang berlainan (Muthahhari, 2. Dalam sejarah perkembangan filsafat selanjutnya, muncul aliran yang mencoba mewadahi pertentangan Epistemologi antara aliran Empirisme Aristoteles dengan Rasionalisme Plato. Tepatnya, melalui Immanuel Kant dengan Kritisismenya yang berusaha mengkritik dan meluruskan sikap-sikap eksklusif yang selama ini dipegang masing-masing aliran yang berseteru. Bagi Kant, aliran Rasionalisme yang memposisikan dunia idea sebagai tumpuan epistemologi, justru berujung pada pemikiran metafisika spekulatif dan dianggap telah terlalu jauh melampaui batas kemampuan akali manusia. Pengetahuan yang diperoleh rasio murni juga bersifat tautologis, bersifat pengulangan sehingga kesulitan dalam menyajikan kebaruan ilmu pengetahuan. Selanjutnya Kant juga melakukan kritik terhadap EmpirismeAikhususnya dalam pemikiran David Hume yang kabur dalam memahami hukum sebab akibat, prinsip-prinsip nonkontradiksi, kebebasan, serta moralitas. Pengetahuan yang dihasilkan pengalaman empiris secara murni ini tentunya bergantung pada dunia objektif serta dibatasi pengalaman yang dirasakan, sehingga kehilangan aspek universalitas dalam ilmu pengetahuan (AsyAoarie et al. Aliran Kritisisme Kant selanjutnya mencoba mengajukan solusi bahwa pada dasarnya, sistem epistemologi tidak bisa dipandang secara dikotomi. Epistemologi menurut Kant merupakan pembagian lokus-lokus alih-alih berat sebelah seperti pada Rasionalisme ataupun Empirirsisme. Dari tangan Kant kemudian rasio dan pengalaman empiris manusia menjadi harmonis. Sistem epistemologi Kant menjadi sintesa dari unsur apriori pengetahuan yang tidak melibatkan pengalaman empiris dan aposteriori pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman empirik. Oleh karena itu, dapat diketahui kemudian bahwa pada bagian tertentu pengetahuan diperoleh melalui rasio murni, serta pada sisi yang berlainan terdapat pengetahuan yang diperoleh hanya melalui pengalaman empiris (Dinata, 2. Jika kita tinjau dalam sejarah filsafat Islam, perkembangan epistemologi ini boleh dikata melalui sejarah pengaruhnya tersendiri. Bahkan dalam perkembangan aspek epistemologi ini CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care mengalami kemandegan jika dibandingkan dengan aspek-aspek lain yang tumbuh subur dalam filsafat Islam, khususnya metafisika. Kajian mendalam selanjutnya sangat diperlukan guna mengatasi kemandekan epistemologi filsafat Islam ini. Oleh karena itu kajian artikel tentang aspek epistemologi filsafat Islam ini menjadi penting, khususnya dalam menjawab apa saja jenis epistemologi yang ada dalam filsafat Islam? Pada aliran epistemologi apa selanjutnya filsafat Islam minim dalam pengembangannya, serta bukankah hal tersebut kurang bersesuaian dengan al-QurAoan sebagai otoritas tertinggi Islam? Apa peran sesungguhnya yang diemban manusia dalam memperoleh pengetahuan, serta bagaimana upaya mengembalikan peran yang meredup tersebut? METODE Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatifpartisipatif yang berfokus pada transfer pengetahuan dan pembentukan kesadaran berpikir kritis berbasis epistemologi Islam. Berbeda dengan penelitian kepustakaan yang bersifat teoretis, metode pelaksanaan dalam kegiatan ini diarahkan untuk mengaplikasikan konsepkonsep epistemologi Islam yakni bayani, burhani, dan irfani ke dalam kegiatan pembelajaran praktis di Masyarakat. Tahapan kegiatan diawali dengan persiapan dan identifikasi kebutuhan, yaitu mengkaji literatur relevan tentang epistemologi filsafat Islam serta melakukan koordinasi dengan pihak pesantren untuk menyesuaikan materi dengan tingkat pemahaman santri. Berdasarkan hasil diskusi awal, disusunlah materi dan media pembelajaran berupa modul dan slide presentasi yang menjelaskan peran manusia berpengetahuan dalam membangun masyarakat Islami modern. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan kegiatan edukasi dan sosialisasi, yang dilakukan melalui metode ceramah interaktif, tanya jawab, dan diskusi kelompok. Pendekatan partisipatif ini bertujuan agar santri tidak hanya memahami konsep epistemologi secara teoretis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari, seperti pentingnya berpikir rasional, ilmiah, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman dalam menghadapi tantangan modern. Setelah kegiatan berlangsung, dilakukan evaluasi hasil dan refleksi, dengan mengumpulkan umpan balik dari peserta untuk menilai sejauh mana pemahaman dan kesadaran mereka meningkat terhadap konsep keilmuan dalam Islam. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung terhadap partisipasi peserta, wawancara singkat, serta diskusi reflektif di akhir kegiatan. Dengan metode ini, kegiatan pengabdian diharapkan tidak hanya menjadi sarana penyebaran pengetahuan tentang epistemologi Islam, tetapi juga mampu menumbuhkan semangat ilmiah dan kesadaran kritis di kalangan santri sebagai calon intelektual muslim yang berperan dalam membangun masyarakat Islami yang modern dan berkeadaban. HASIL DAN PEMBAHASAN Epistemologi Filsafat Islam Konsep epistemologi filsafat IslamAiyang tentu berbeda dengan filsafat Barat yang berangkat dari sekularismeAiterdapat beberapa sumber pengetahuan manusia. Namun dalam epistemologi filsafat Islam ini kita agaknya cukup sulit dalam menentukan pengelompokan epistemologi filsafat Islam secara clear and cutAiyang mana hal ini akan lebih kita temukan dalam filsafat Barat. Tidak bisa kita pungkiri bahwa hal ini termasuk akibat dari masa perkembangan filsafat Islam yang mengalami AukekeliruanAy dalam menerjemahkan filsafat pemikiran Neoplatonisme yang bercampur dengan corak pemikiran Aristotelianisme. Kekaburan ini tidak hanya berakibat pada sejarah filsafat Islam saja, tetapi juga turut mempengaruhi aspek epistemologi filsafat Islam. Seperti yang telah kita pahami bahwa CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care sejarah pengaruh yang dimiliki filsafat Islam dalam perkembangannya turut dipengaruhi oleh filsafat Yunani Kuno, khususnya melalui gelombang Hellenisme yang masuk melalui pertemuan kebudayaan Islam bersama kebudayaan di luar Arab lain. Tentu akan banyak perdebatan yang muncul tentang apa yang menjadi faktor utama dalam perkembangan filsafat Islam atau pada kapan tepatnya pergumulan kebudayaan Islam dengan gerakan Hellenisme sebelum lahirnya filsafat dalam tubuh Islam yang mana hal ini perlu dilakukan kajian tersendiri. Namun terlepas dari hal itu kita sepakat bahwa dalam fakta sejarahnya filsafat Islam turut dipengaruhi kelompok besar aliran filsafat yang juga berimbas pada perkembangan aliran epistemologinya (Amril et al. , 2. Dalam lingkup perkembangan awal filsafat Yunani, terdapat dua corak pemikiran dimana sebagian filosof Muslim turut terpengaruh menjadi bagian dari penganut aliran tersebut. Pertama, terdapat aliran Neoplatonisme atau Rasionalisme yang lebih menekankan pada teguhnya perenungan dunia ide abstrak dari peran intelek manusia, sedang peran pengalaman indrawi dikesampingkan. Adapun penganutnya adalah sebagian besar filosof Muslim awal yang memiliki pemikiran emanasi seperti al-Farabi. Ibnu Sina, hingga filosof sekaliber al-Farabi. Kedua, adalah aliran Empirisme yang digagas oleh Aristoteles yang sejatinya adalah murid dari Plato di mana bayang-bayang pemikirannya dapat dilihat dalam pemikiran filosof Muslim seperti Ibnu Rusyd. Aliran ini merupakan antitesis dari aliran Platonis sebelumnya yang mana aliran ini meragukan pengetahuan yang datang dari dunia idea dan menekankan pada pentingnya peran pengalaman empiris manusia (AsyAoarie et al. , 1. Selain dipengaruhi aliran Neoplatonisme dan Aristotelianisme, perkembangan epistemologi filsafat Islam juga dipengaruhi oleh kajian keagamaan yang bersumber dari internal agama Islam sendiri. Pergumulan antara filsafat bersama dengan kajian kalam . ataupun tasawuf misalnya turut mempengaruhi atau bahkan mendominasi paradigma filsafat Islam. Selain itu adanya teks wahyu keagamaan yang bersumber dari al-QurAoan dan as-Sunnah sebagai sumber otoritatif keagamaan Islam turut menjadi pertimbangan dalam menjadi sumber pengetahuan dalam epistemologi filsafat Islam (AsyAoarie et al. , 1. Tentunya dari semua pengaruh yang terlibat dalam menentukan perkembangan epistemologi filsafat Islam terdapat pula kategorisasi dalam menentukan sumber apa dan perangkat ilmu pengetahuan apa saja yang bekerja dalam epistemologi filsafat Islam. Jika kita mengikuti tipologi epistemologi kontemporer yang digagas oleh Abid al-Jabiri, terdapat tiga aliran dalam epistemologi filsafat Islam adalah epistemologi bayani, irfani, dan burhani (Amril et al. , 2. Pertama, yaitu aliran epistemologi bayani yang menitik beratkan pada teks . wahyu seperti al-QurAoan. Hadis, qiyas, hingga ijmaAo sebagai sumbernya. Epistemologi bayani ini mendasarkan pada pemikiran analogis serta memproduksi pemikiran secara analogis pula yang disandarkan pada teks wahyu. Artinya pada sesuatu yang tidak diketahui maksud dan hukumnya perlu dilakukan proses analogi dengan menyandingkan pada hal sejenis yang sebelumnya telah diketahui dan terdapat dalam teks wahyu. Proses epistemologis yang muncul dalam aliran epistemologi bayani ini turut memperhatikan proses transmisi teks wahyu dalam menentukkan valid atau tidaknya makna atau hukum yang diambil. Metode yang demikian ini dapat kita temukan dengan jelas pada proses penelitian terhadap kebenaran suatu periwayatan Hadis (Badruzaman, 2. Tingkat validitas hukum dan pengetahuan yang bergantung pada kebenaran teks wahyu yang dapat dipertanggung jawabkan memunculkan dua proses atau jalan yang perlu ditempuh. Jika berpegang pada redaksi teks, maka perlu menggunakan kaidah bahasa Arab dan nahwusharaf sebagai alat analisa. Sedangkan jika berpegang pada makna teks, maka perlu menggunakan metode qiyas atau istidlal bi al-syahid Aoala al-ghaib atau tasybih. Disini teks akan dijadikan sebagai al-ashl sebagai yang dirujuk untuk kemudian memperoleh sesuatu CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care yang baru dan sebagai hasil dari rujukan berupa al-farAo. Oleh karena itu peran akal di sini adalah sebagai pengukuh kebenaran atau otoritas dari teks wahyu sehingga akan mampu menemukan pengetahuan yang baru (Rizal, 2. Adapun yang menjadi masalah dewasa ini adalah epistemologi bayani ini yang mendominasi corak pemikiran dalam studi Islam. Dominasi politis yang menghegemoni kalangan Muslim memunculkan ketundukan dan kepatuhan pada ketentuan yang dihasilkan dari penggalian hukum yang tentunya telah digariskan melalui kaidah-kaidah. Akibatnya muncul keilmuan yang kaku dalam pranata sosial serta kesulitan dalam merespon tantangan zaman modern. Kritikan terhadap epistemologi bayani ini juga muncul karena tradisi berpikir bayani yang tekstual-literalis terlalu kaku ketika berdialog dengan teks agama atau tradisi di luar dirinya. Tradisi berpikir bayani ini cenderung bersikap dogmatis, defensif, apologies, dan bahkan polemis. Hal ini boleh disebabkan karena kekakuan akal penganut epistemologi bayani ini (AsyAoarie et al. , 1. Kedua, epistemologi burhani yang merupakan epistemologi pengetahuan melalui penyimpulan yang didasarkan pada suatu proposisi yang dikaitkan dengan proposisi yang lain sehingga mampu ditarik kesimpulan darinya tanpa melalui proses berpikir yang panjang serta kebenarannya bersifat aksiomatik. Epistemologi burhani ini berpegang pada potensi pengetahuan alamiah manusia baik berupa pengetahuan inderawi, eksperimental, hingga pengetahuan yang dihasilkan rasio manusia dalam mengolah realitas kosmos sebagai satu kesatuan. Epistemologi burhani pada dasarnya merupakan epistemologi yang dipengaruhi oleh filsafat aristoteles hingga kemudian ketika masuk ke dalam filsafat Islam memperoleh formulasi yang berbeda meski tetap dengan prinsip-prinsip dasar yang telah digagas Aristoteles. Dalam filsafat Islam sendiri epistemologi burhani mengalami pertemuan dengan doktrin-doktrin teologis sehingga memunculkan nuansa baru berupa muatan ideologis. Epistemologi burhani dalam filsafat Islam juga turut terlibat dalam membangun argumen teologis yang memuat manusia, alam, serta Allah SWT (Rizal, 2. Sumber pengetahuan epistemologi burhani adalah realitas objektif-eksternal seperti realitas alamiah, sosial, kemanusiaan, dan psikologis. Realitas eksternal ini dalam epistemologi burhani dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan tetap dan ada secara berkelanjutan sehingga memungkinkan untuk dikembangkan melalui riset-riset ilmiah. Realitas mandiri yang berada di luar subjek pengamat merupakan wujud yang mempunyai struktur, bentuk, serta hukum yang inheren termuat di dalam dirinya. Realitas yang merupakan objek pengamatan ini oleh indera subjek pengamat diabstraksi serta dipelajari sedemikian rupa untuk mengungkapkan struktur dan hukum-hukumnya sehingga mampu dipahami dan diinternalisasikan ke dalam pikiran subjek pengamat. Setelah dapat dipahami kemudian dapat dilahirkan rumusan-rumusan pasti sebagai hasil riset yang telah dilakukan. Kemajuan pengetahuan saintifik merupakan hasil dari pengembangan melalui epistemologi burhani tersebut (Rizal, 2. Epistemologi burhani ini juga memiliki konteks lain berupa silogisme demonstratif . iyas jamiA. yang biasa ditemukan dalam pemikiran para filosof maupun ahli ilmu mantiq. Proses qiyas ini merupakan pengumpulan dua posisi atau premis . ayor dan mino. dan dirumuskan hubungan keduanya melalui bantuan term tengah sehingga darinya mampu ditarik kesimpulan baru. Aplikasi dari silogisme ini perlu melewati tahap pengertian . aAoqula. , tahan pernyataan (Aoibara. , serta tahap penalaran . Tahap pengertian merupakan proses abstraksi berpikir dari hasil pengalaman, penginderaan, dan penalaran sehingga diketahui gambaran ataupun pengertiannya yang juga turut memperhatikan konsep universal berupa spesies, genus, differensia, dan propium (Badruzzaman, 2. Adapun validitas pengetahuan dalam epistemologi burhani diukur melalui parameter koherensi dan CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care Koherensi merupakan kebenaran yang diukur dengan melihat kesesuaian suatu argumen atau pernyataan dengan premis-premis pengetahuan yang telah diakui Sedangkan korespondensi merupakan pengujian validitas yang baru dari pengetahuan logis untuk selanjutnya dilakukan uji empirik sehingga akan ditemukan sejauh mana kesimpulan logis yang ada bersesuaian dengan realitas objektif-empirik. Adapun kebenaran yang dihasilkan dari metode silogisme demonstratif didasarkan pada hubungan antara putusan baru dengan keputusan lain yang telah ada dan diakui kebenaran yang dikandung sebelumnya. Validitas pengetahuan yang muncul adalah konsistensi dan keseiringan karena hubungan yang sistematis antara putusan-putusan yang ada (Rizal, 2. Ketiga, epistemologi irfani merupakan epistemologi yang metodenya berupa penghayatan batin dan erat kaitannya dengan ilmu tasawuf. Melalui penghayatan hati ini maka akan timbul kesadaran spiritual dan intuitif yang bersifat otentik, tidak tereduksi, bahkan pengetahuan yang diperoleh merupakan unspeakable knowledge. Oleh para sufi pengetahuan irfani merujuk pada pengetahuan tertinggi yang dihadirkan melalui pengilhaman . ke dalam hati . Artinya pengetahuan yang diperoleh bukan merupakan hasil dari apa yang diupayakan, melainkan sepenuhnya tergantung pada kehendak dan karunia Allah SWT, dan hal ini berkaitan dengan segala pengetahuan esoterik yang bersifat rahasia dan samar seperti astronomi, sihir, dan lain sebagainya. Adapun bagaimana perkembangan epistemologi irfani dalam filsafat Islam dipengaruhi oleh banyak aspekAiyang memunculkan banyak perdebatan di dalamnyaAiseperti dipengaruhi MajusiPersia, dipengaruhi sumber-sumber Nasrani, dipengaruhi wilayah Khurasan-India, hingga ajaran Neoplatonisme serta Hermes yang berasal dari Yunani (Badruzzaman, 2. Sejalan dengan pengertiannya, dalam epistemologi irfani memiliki sumber pengetahuan berupa realitas ketuhanan yang tersingkap sebagai limpahan pengetahuan yang diberikan Tuhan secara langsung. Sebagai catatan bahwa terlimpahnya pengetahuan langsung dari Tuhan ini mensyaratkan perlunya kesiapan penerimanya, yaitu kesiapan hati . sebagai perangkat dalam memperoleh pengetahuan dan percikan rohaniah ketuhanan. Seseorang perlu melewati proses atau perjalanan spiritual guna mencapai kesiapan hati, dan proses yang dimaksud ini berisi tahapan-tahapan kondisi batiniah (Soleh, 2. Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati diibaratkan sebagai cermin yang memantulkan realitas pengetahuan sebagai bayangannya. Cermin sebagai penggambaran hati perlu bersih bening untuk mampu menampilkan bayangan yang cemerlang. Hati yang bersih ini dapat diperoleh melalui upaya ketaatan penuh kelada Allah serta memalingkan diri dari hawa nafsu yang merusak. Singkatnya, upaya membersihkan hati ini dapat ditempuh melalui 3 tahap yaitu penyucian hati sebagai tahap persiapan, mengisi hati dengan dzikir sebagai tahap penerimaan, hingga mencapai pada tahap kasyaf sebagai tahap pengungkapan realitas (Rizal, 2. Epistemologi irfani juga memiliki kaitan erat dengan ilmu hudhuri, isyraqi atau pengetahuan intuitif yang awal kelahirannya dibawakan oleh filosof Muslim Ibnu Sina dan besar di tangan filsafat iluminasi. Dalam menjelaskan tentang bagaimana konsep ilmu hudhuri tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu tentang dua jenis pengetahuan dimana salah satunya merupakan apa yang dimaksud dengan ilmu hudhuri. Pertama, yaitu ilmu korespondensi yang diperoleh melalui pengujian layaknya pada epistemologi burhani. Adapun yang kedua yaitu pengetahuan kehadiran . lmu hudhur. yang mana pengetahuan ini berada pada kerangka ada pada dirinya sendiri . wa-objekti. sehingga kebenarannya seluruhnya benar dan tidak bergantung pada realitas objektif eksternal. Pengetahuan ini langsung ada dan dirasakan subjek karena bersatunya subjek dengan pengetahuan yang esensial dan bersifat imanen (Rizal, 2. CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care Adapun metode memperoleh ilmu hudhuri dalam aplikasinya dapat dipahami menjadi dua, yaitu melalui pengetahuan tentang diri serta melalui kesatuan mistik. Pertama, dalam membuktikan subjek apakah benar-benar menyadari keberadaan dirinya adalah melalui kesadaran bahwa dirinya mengetahui objek di luar dirinya sehingga mengindikasikan adanya diri subjek yang mengetahui. Pembuktian lain terhadap kesadaran diri subjek adalah melalui perenungan sehingga mampu mengetahui diri sendiri secara Kedua, kesatuan mistik sebagai pengalaman keakuan subjek dengan Subjek yang lebih nyata adanya. Pengalaman akan kefanaan ini sangat diperlukan karena hawa nafsu yang mereduksi dan membuat kejatuhan pada hal yang bersifat duniawi. Untuk menemukan keakuan yang murni adalah dengan memiliki kesadaran akan kehadiran-Nya dan sebagai bagian dari-Nya . esadaran unite. Amril et al. , 2. Dimensi Kuriositas al-QurAoan Seperti yang kita bahas pada sub penjelasan sebelumnya, bahwa pada kajian epistemologi dalam filsafat Islam sejatinya hampir tidak ditemukan eksklusifitas Secara eksplisit kita tidak dapat menemukan aliran-aliran tertentu yang menganggap bahwa sumber satu-satunya ilmu pengetahuan adalah pengalaman empiris, ataupun dunia ide dalam rasio manusia. Justru menurut berbagai kalangan filosof muslim, pengetahuan yang dapat diperoleh manusia memiliki tahapan-tahapan tersendiri. Mereka tidak hanya meyakini bahwa pengetahuan hanya bersumber pada sisi pengalaman eksperimental saja, melainkan juga turut memperhatikan pengetahuan dengan menggunakan rasio saja tanpa perlu melakukan eksperimen dari apa yang telah ditangkap indera. Bahkan lebih jauh lagi seperti pada sub pembahasan yang sebelumnya telah penulis paparkan di atas, bahwa dalam Epistemologi filsafat Islam terdapat tiga aliran epistemologi yang memiliki aspek sumber dan perangkatnya masing-masing (Muthahhari, 2. Sistem epistemologi filsafat Islam memang sangat beragam karena memiliki sejarah pengaruh yang berlapis-lapis. Namun hal tersebut bukan berarti tanpa celah sehingga tidak ada aspek kekurangan di dalamnya. Pada perkembangan epistemologi filsafat Barat, kita dapat menemukan aliran-aliran yang memegang eksklusifitas sistem epistemologinya sebagai satu-satunya yang benar secara sistematis. Sedangkan pada filsafat Islam yang memiliki sistem epistemologi beragam justru memunculkan sikap eksklusifitas yang serupa, meski dalam konteks yang berbeda. Sikap eksklusifitas yang dipegang umat Muslim selama ini lebih pada ranah ideologis dan boleh dikatakan politis. Khususnya jika kita melihat sejarah awal perkembangan filsafat Islam, dimana di dalamnya memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan aliran-aliran teologi Islam, yang bermuara pada penetapan mazhabmazhab resmi yang diakui oleh pemerintahan Islam pada kala itu (AsyAoarie et al. , 1. Akibat yang muncul kemudian adalah sistem epistemologi Islam yang hanya berkutat pada sumber tekstual wahyu dan pengalaman intuitif subjek, sedang realitas eksternal justru luput untuk dikembangkan (AsyAoarie et al. , 1. Sejatinya jika kita melihat lebih dalam pada kajian empiris memuat bukti-bukti keberadaan Tuhan. Kajian empiris yang berdasarkan pada data-data penelitian tersebut tentu sejalan dengan kerangka moral agama Islam maupun al-QurAoan sebagai sumber otoritatif keagamaan Islam alih-alih justru seperti filsafat Barat yang bermuara pada sekularisme. Lalu tentang mengapa bisa terjadi proses dikotomi dan dominasi dalam epistemologi filsafat Islam, jawaban singkatnya adalah karena al-QurAoan yang satu dapat memunculkan multi tafsir dan tentunya melahirkan berbagai macam aliran pemikiran. Kitalah yang bertanggung jawab atas proses reduksi al-QurAoan sehingga seolah-olahnya sifatnya menjadi elitis. CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care Jika kita berkaca pada kisah Nabi Ibrahim dalam prosesnya mencari Tuhan, alQurAoan justru menggambarkan proses yang metafisis ini dengan turut memanfaatkan sistem inderawi sebagai instrumennya. Nabi Ibrahim menggunakan bukti-bukti empiris berupa burung yang dapat hidup kembali pasca disembelih, dipotong-potong tubuhnya, dan dipisahkan beberapa potongan tubuhnya dari gunung ke gunung lain. Bukti empiris ini yang menjadi bukti keberadaan dan kekuasaan Tuhan (Syahputra, 2. Setelah kita berkaca pada kisah pencarian Tuhan secara empiris tersebut, tentu pada proses-proses yang lebih bersifat empiric seperti pengetahuan yang berkenaan dengan alam maupun kehidupan manusia seperti sosiologis, psikologis, antropologi, hingga sejarah sekalipun memungkinkan dan bahkan sangat perlu memperhatikan epistemologi yang berasaskan pengalaman empiris Hukum-hukum alamiah yang berkenaan dengan ranah empiris akan lebih berbunyi dan mendalam ketika proses perenungan . menggunakan instrumen pengetahuan yang cocok dan sesuai. Berbeda halnya jika ayat-ayat kauniyah yang memuat tentang alam semesta sebagai tanda kebesaran Tuhan dalam pola kajiannya hanya terpaku pada pendekatan yang biasa dipakai dalam kajian ilmu kalam ataupun tasawuf (Muthahhari, 2. Satu hal yang perlu kita pahami bahwa kecenderungan ahli kalam maupun tasawuf dalam memandang sesuatu adalah pada apa yang kekal atau paripurna. Sedangkan pada ilmu pengetahuan yang berlandaskan pada aspek empiris manusia justru menitik beratkan pada proses yang terjadi pada sesuatu yang lebih dinamis. Adapun sejatinya di dalam al-QurAoan sendiri kedua aspek ini dipandang dalam posisi yang lebih dialektis. Pada sesuatu yang dinamis juga turut terindikasikan adanya proses sebelum akhirnya menuju pada sesuatu yang kekal tadi, sehingga diantara keduanya adalah saling meliputi. Al-QurAoan memperhatikan kejadian-kejadian alam semesta seperti terciptanya bintang-bintang hingga penciptaan manusia adalah sebagai proses. Segala bentuk penciptaan alam semesta dan seisinya memang dalam rangka membuktikan keagungan Tuhan yang mana hal ini menjadi ranah kajian ilmu kalam, tasawuf serta filsafat, tetapi bagaimana kita melihat proses penciptaan secara saintifik adalah ranah kalian yang berbeda. Jika kita berkaca pada perkembangan filsafat ilmu di Barat, maka lingkup kajiannya tidak hanya pada aspek fondasinya melainkan juga memperhatikan hal-hal yang bersifat Dalam menekankan kajian pada ranah proses dan perubahan inilah kemudian tertaut pada apa yang dikenal sebagai keingintahuan intelektual . Curiosity yang kemudian bersanding dengan dimensi kreativitas akan membantu perkembangan ilmu pengetahuan yang mana hal ini bisa dibuktikan dengan kemajuan sains modern di Barat. Hal ini justru yang sering luput atau bahkan dihilangkan dalam kajian yang dilakukan intelektual Muslim yang masih terjebak pada sejarah ideologis atau bahkan politis. Demi kemajuan ilmu pengetahuan dalam Islam ini kemudian Curiosity bersama kreativitas sebagai apa yang diperintahkan al-QurAoanAiperlu ditekankan kembali demi pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih baik (AsyAoarie et al. , 1. Peran Manusia yang Mengetahui Seperti yang telah kita ketahui, bahwa epistemologi dalam filsafat Islam ternyata bersifat elitis tentang siapa saja orang yang boleh disebut sebagai orang yang Pengetahuan dianggap hanya bisa diakses oleh kalangan terpelajar dan tidak mampu disosialisasikan hingga seluruh masyarakat khususnya pada kalangan bawah yang ditakutkan justru memunculkan kontroversi. Hal ini menjadi pertanyaan kemudian bahwa bagaimana hal ini dapat terjadi jika kemudian pada pada ayat-ayat al-QurAoan justru memerintahkan kita untuk mencari ilmu pengetahuan sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Menciptakan? Atau apakah karena kita takut terjatuh layaknya Audosa asalAy CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care iblis karena curiosity yang sejatinya lebih diartikan sebagai pembangkangan intelektual kepada TuhanAidalam mempertanyakan Aumengapa?Ay atas apa yang telah diperintahkan Tuhan? Tentunya atas pertanyaan tersebut kita lebih sepakat bahwa al-QurAoan memiliki sisi curiosity yang mendorong umat manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan, dan hal ini merupakan perintah untuk semua orang (Nuseibeh, 2. Di dalam Islam, terdapat dua jenis pengetahuan yang dapat diakui kebenarannya, yaitu pengetahuan langsung dan pengetahuan tidak langsung. Pada jenis pengetahuan yang pertama, yaitu pengetahuan langsung merupakan pengetahuan yang diungkapkan Allah SWT. kepada subjek secara langsung, baik berupa pengetahuan instingtif maupun pengetahuan yang diturunkan Allah SWT. utusannya dalam bentuk wahyu. Konsep kunci dalam pengetahuan jenis ini adalah bahwa kita selalu diperintahkan untuk ingat . kepada Allah SWT. sebagai sumber dari segala Kemudian kita dituntun untuk mampu merenungkan . segala bentuk ciptaan Allah SWT. sebagai tanda dari kebesarannya (Azram, 2. Adapun pengetahuan jenis kedua adalah pengetahuan tidak langsung dimana pengetahuan ini diperoleh subjek melalui metode-metode ilmiah tertentu. Konsep kunci dalam pengetahuan tidak langsung ini adalah bahwa manusia perlu menggunakan metodologi yang islami serta memanfaatkan instrumen pengetahuan yang diberikan Allah SWT. baik berupa indera maupun akal untuk memahami dunia eksternal. Pengetahuan tidak langsung melalui metodologi ilmiah ini yang kemudian perlu dikembangkan manusia, khususnya dalam memahami alam semesta sebagai prosesAiyang tentu turut mengantarkan pada kesadaran akan kebesaran Tuhan (Azram, 2. Lalu bagaimana terhadap pandangan skeptis tentang kebenaran inderawi dalam kalangan Muslim? Banyak tokoh pemikiran Islam yang mencoba menjawab hal ini, salah satu yang paling dikenal adalah al-Ghazali dengan sikap skeptisnya terhadap kebenaran persepsi indera yang perlu diragukan. Al-Ghazali juga turut menolak taklid buta yang dilakukan manusia terhadap pengajaran yang diberikan pemegang otoritas pengetahuan, sehingga ia kemudian menawarkan prinsip intuitif sebagai sesuatu yang lebih pasti dalam memperoleh kebenaran. Kita boleh saja sepakat atas apa yang disampaikan al-Ghazali tentang pengetahuan yang lebih pasti dalam mencapai kebenaranAi tetapi tidak berarti saintifik. Al-Ghazali tidaklah menutup dan menolak secara penuh atas pengetahuan yang didasarkan pada fakultas inderawi manusia. Al-Ghazali hanya meletakkan ilmu-ilmu sains, ilmu rasional, dan bahkan filsafat sebagai pengetahuan yang lebih inferior ketimbang kebenaran Agama (Azram, 2. Pengetahuan intuitif langsung memang merupakan titik tertinggi dalam mencapai kebenaran, tetapi perlu digaris bawahi bahwa pengetahuan ini bukan merupakan satusatunya sumber pengetahuan yang diakui kebenarannya. Karena baik disadari ataupun tidak, pada pemikiran dengan hanya mengandalkan satu sudut pandang saja justru akan menjebak diri ketimbang menjawab permasalahan. Pengetahuan yang dihasilkan pun akan terkesan normatif dan terkesan berbentuk bantahan tanpa mampu melihat lebih jauh dalam menemukan solusi akibat pemikiran yang ada hanya didominasi satu metodologi maupun satu aliran saja. Akhirnya kita sepakat bahwa sangat penting membangun sistem pengetahuan yang turut memperhatikan sisi empiris untuk memberikan alternatif dan sudut pandang lain dalam membaca realitas. Tentunya perlu diingat bahwa kita juga tidak boleh luput dari muatan spiritualitas dan moralitas demi mengendalikan pengetahuan dari kerusakan yang bisa dibawanya. Penggunaan rasio dan indera sebagai perangkat manusia dalam memperoleh pengetahuan ini sejatinya telah diutarakan oleh filosof Islam awal, seperti Ibnu Rusyd Bahkan secara tegas Ibnu Rusyd memberikan uraian tentang adanya dua bentuk realitas yang masing-masing darinya memiliki lingkup kajiannya tersendiriAiselain adanya CARE: Journal Pengabdian Multi Disiplin Vol. 3 No. PP 62-72 Hompage: https//journal. id/index. php/care wahyu sebagai sumber pengetahuan. Pertama terdapat objek inderawi yang selanjutnya melalui pengembangannya melahirkan sains hingga fisika, sedangkan pada objek rasional memunculkan kajian filsafat (Soleh, 2. Tentunya garansi yang diperlukan selanjutnya adalah bagaimana memposisikan pengetahuan tersebut agar tidak bersifat ekstrimis dan menolak Wahyu seperti yang terjadi pada filsafat Barat modern. Bagi Ibnu Rusyd sendiri bahwa antara wahyu dan realitas sejatinya berasal dari sumber yang sama sehingga keduanya akan membawa pada kebenaran yang sama pula (Soleh dan nukul, 2. Salah satu solusi yang dapat kita upayakan bersama adalah dengan melakukan reaktualisasi terhadap sistem epistemologi filsafat Islam. Terlebih dalam upaya membangkitkan kembali semangat terhadap ilmu pengetahuan yang berbasis pada pengalaman empirik dalam bentuk ilmu-ilmu Hal ini perlu diupayakan mengingat sistem ilmu pengetahuan modern saat ini terpusat pada sainsAiseperti yang terjadi di Barat. Dalam upaya menghadapi . engejar ketertinggala. era modern ini, kita tentu tidak bisa abai apalagi masih berkutat pada pembenaran teologi secara apologetik. Tentunya kita juga perlu berpegang pada wahyu sebagai otoritas pengetahuan Islam. Sehingga sistem pengembangan epistemologi yang digagas adalah epistemologi empiris . ased on dat. yang disandingkan dengan pemahaman keagamaan . ased on text QurAoan -hadit. sebagai acuan nilai moralitasnya. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa epistemologi Islam menurut Abid al-Jabiri terdiri atas tiga pendekatan utama, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Epistemologi bayani berlandaskan pada teks wahyu dan metode penggalian hukum seperti qiyas dan ijmaAo. burhani menekankan rasionalitas dan logika dalam memperoleh pengetahuan melalui pengamatan dan penalaran. sedangkan irfani berfokus pada pengetahuan intuitif dan pengalaman spiritual melalui penyucian hati. Ketiga sistem ini menggambarkan keseimbangan antara wahyu, akal, dan intuisi dalam memperoleh Dalam tradisi filsafat Islam, epistemologi sering kali lebih menonjolkan aspek wahyu dan intuisi, sementara pendekatan empiris kurang mendapatkan perhatian. Padahal, pengamatan terhadap realitas alam dan sosial juga sejalan dengan ajaran al-QurAoan yang mendorong manusia untuk berpikir kritis dan meneliti ciptaan Allah. Oleh karena itu, penggabungan antara pendekatan empiris, rasional, dan spiritual menjadi penting untuk memperkaya khazanah keilmuan Islam. Selain itu. Islam mengenal dua bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan langsung dari Allah berupa wahyu atau ilham, dan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh melalui usaha ilmiah manusia. Keduanya memiliki kedudukan penting dalam Islam dan saling melengkapi. Integrasi antara rasionalitas ilmiah dan spiritualitas wahyu inilah yang perlu dikembangkan agar filsafat Islam mampu melahirkan sistem pengetahuan yang tidak hanya rasional dan empiris, tetapi juga bernilai moral dan spiritual, sesuai dengan cita-cita masyarakat Islami modern. REFERENSI