CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU DESA MULYAJAYA KECAMATAN BANJARWANGI SEBAGAI AGEN PERUBAHAN PENGGERAK KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI KETERAMPILAN KOMUNIKASI EFEKTIF Asep Anggi Dikarsa1. Ade Suherman2. Bilqis Ar-Rohman3. Supriadi4. Prima Melati5 ,Hermansyah6 1,2,4,6 Institut Pendidikan Indonesia Garut 3,5STIKES Karsa Husada Garut Corresponding e-mail: adikarsa@institutprndidikan. Copyright A 2025 The Author This is an open access article Under the Creative Commons Attribution Share Alike 4. 0 International License DOI: 0. 53866/jimi. Abstract Posyandu cadres play a strategic role in delivering health-related information to the community. However, many cadres still face challenges in effective communication skills, which affect community participation in Posyandu activities. This community service program was conducted by IPI Garut in Mulyajaya Village. Banjarwangi Subdistrict, in August 2025 with the aim of improving the communication skills of Posyandu cadres. The training methods included presentations, focus group discussions (FGD), and role-playing. The results showed a significant improvement in communication The average pre-test score of 20 cadres was 64. 65, while the average post-test score increased to 7, with an improvement of 12. 05 points. This enhancement had a positive impact on increasing community participation in Posyandu activities. Nevertheless, cadres still require further training, particularly in utilizing communication technology and social media as tools for health communication. Therefore, continuous training programs accompanied by regular monitoring and evaluation are necessary to ensure the sustainable improvement of Posyandu cadresAo communication quality. Keywords: Posyandu cadres, effective communication, training, community participation, community Abstrak Kader Posyandu memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi terkait program kesehatan kepada masyarakat. Namun, masih banyak kader yang menghadapi kendala dalam keterampilan komunikasi efektif sehingga berpengaruh terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh IPI Garut di Desa Mulyajaya. Kecamatan Banjarwangi pada bulan Agustus 2025 dengan tujuan meningkatkan keterampilan komunikasi kader Posyandu. Metode pelatihan yang digunakan meliputi presentasi, diskusi kelompok terarah (FGD), dan role playing. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi yang signifikan. Nilai rata-rata pre-test dari 20 kader adalah 64,65, sedangkan nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 76,7, dengan selisih peningkatan sebesar 12,05 poin. Peningkatan keterampilan ini berdampak positif terhadap meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Meskipun demikian, kader masih membutuhkan pelatihan lanjutan terutama dalam pemanfaatan teknologi komunikasi dan media sosial. Oleh karena itu, diperlukan program pelatihan berkelanjutan disertai monitoring dan evaluasi untuk memastikan kualitas komunikasi kader Posyandu terus berkembang. Kata kunci: Kader Posyandu, komunikasi efektif, pelatihan, partisipasi masyarakat, pengabdian Hlm | 1230 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal Pendahuluan Kesehatan merupakan unsur penting dalam kehidupan bermasyarakat sehingga permasalahan akan kesehatan tidak terlepas dari berbagai elemen yang mendukungnya diantaranya adalah posyandu, dimana posyandu merupakan central utama kesehatan masyarakat khususnya di daerah-daerah terpencil yang masih minim fasilitas kesehatan. (Coenraad, et al. Menurut Nuzula, et al. yang dikutip dari Depkes RI, 2018 AuPeran serta masyarakat semakin menonjol dalam upaya penyelenggaraan kesehatan seperti dalam pelaksanaan Posyandu yang dilakukan di setiap Desa di seluruh Indonesia sebagai salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat dengan sasaran kegiatannya adalah KIA. KB. Gizi. Imunisasi dan penanggulangan Diare, sedang bentuk kegiatannya berupa penimbangan balita, penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan, tablet Vitamin A dosis tinggi, dan sebagainya dengan bantuan petugas kesehatanAu. Kader penggerak kesehatan desa sebagai kelompok yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat disekitarnya sehingga mempunyai kedudukan yang strategis dan sarana yang efektif dalam mengkomunikasikan pesan atau informasi yang berhubungan dengan masalah kesehatan yaitu menekankan kemampuan individu, kelompok dan masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatan. Namun realita permasalahan yang dihadapi kader posyandu pertama masih rendahnya peran kader Posyandu kedua kurangnya pengetahuan terhadap manfaat program posyandu ketiga kurangnya partisipasi dalam kegiatan Posyandu keempat kurangnya sarana dan prasarana kegiatan Posyandu kelima kurangnya kerja sama lintas program dan lintas sector. (Nurbaya, et . kurangnya kerja sama lintas program dan lintas sector serta Kurangnya partisipasi dalam kegiatan posyandu merupakan keadaan yang disebabkan oleh berbagai factor diantaranya adalah komunikasi yang tidak efektif Menurut Wisman, . yang dikutip menurut Ron Ludlow & Fergus Panton . 2 : 10-. , hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif pada kader posyandu yaitu : . Status effect Adanya perbedan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia. Semantic Problems Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Perceptual distorsion Cara pandang yang sempit pada diri sendiri dan perbedan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Cultural Differences Perbedaan kebudayaan, agama, dan lingkungan sosial. Physical Distractions Gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Kemampuan komunikasi sangat penting dimiliki oleh individu terlebih jika individu tersebut memiliki peran dalam masyarakat. Kemampuan komunikasi dapat berpengaruh terhadap respon dari penerima informasi. Seseorang dapat melaksanakan komunikasi efektif jika individu tersebut memahami pengertian, proses, tujuan, dan Teknik dari komunikasi efektif (Rohmani & Utari, 2. Komunikasi efektif sebagai kegiatan komunikasi yang dapat menimbulkan perubahan sikap dari penerima pesan selama interaksi (Budiman & Doringin, 2. Komunikasi yang efektif bisa dijadikan sebagai modal dasar kader posyandu untuk melaksanakan peran dan tugasnya sebagai penggerak masyarakat (Rohmani & Utari, 2. Selain itu, kesejahteraan mental kader posyandu harus diperhatikan agar kader posyandu dalam menjalankan tugasnya dapat memberikan pelayana terbaik kepada masyarakat. Pemberdayaan kader posyandu tentang Keterampilan komunikasi efektif ini diharapkan para kader mampu mengembangkan keterampilan dasar kader didalam pengelolaan posyandu yang bertujuan sebagai sarana edukasi terhadap masyarakat terutama pada usia sekolah dan remaja di samping itu kader posyandu dapat membuka kerjasama lintas sector serta kerjasama peningkatan produktivitas lintas program yang selama ini sudah berjalan yaitu harum madu dan daur ulang sampah yang di lakukan oleh kader posyandu sebagai langkah besar menjadikan kader posyandu sebagai agen perubahan penggerak kesehatan masyarakat dalam rangka ikut berkontribusi terhadap Asta Cita Pemerintah di bidang kesehatan dan Pendidikan Maka dari itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader mengenai komunikasi efektif. Untuk menyukseskan programprogram posyandu di desa mulyajaya kecamatan banjarwangi kabupaten garut. Kader posyandu belum memiliki pemahaman dan keterampilan dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan maupun Pendidikan, kader posyandu sebagai agen perubahan penggerak kesehatan masyarakat sudah saatnya memliki kemampuan Hlm | 1231 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal komunikasi yang efektif di dalam menjalankan tugasnya, oleh karena itu kader posyandu desa mulyajaya kecamatan banjarwangi kabupaten Garut di tuntut memiliki keterampilan komunikasi efektif demi menjalankan fungsinya serta dalam rangka upaya melakukan kemudahan untuk membuka komunikasi dalam meningkatka kerja sama lintas program dan lintas sector untuk mendukung program-program Metode Menurut Putri & Sembiring, . Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah Metode PAR (Participatory Action Researc. Participatory Action Research (PAR) mengacu pada metode penelitian, biasanya berkaitan dengan penilaian diri organisasi, di mana subjek penelitian berpartisipasi dengan peneliti profesional(Danley& Ellison, 1. PAR adalah penelitian yang secara aktif melibatkan semua pihak dalam mengkaji yang sedang berlangsung (Watters. Comeau, & Restall, 2. Dengan kata lain. PAR sering disebut juga dengan penelitian yang melibatkan masyarakat sebagai objek penelitiannya. Tujuan dari metode PAR yakni untuk melakukan perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan pendekatan yang sistematis dan terencana, melibatkan tiga tahapan di mulai dari persiapan. aksi hingga evaluasi. pengabdian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2025 di Kantor Desa Mulyajaya Kecamatan Bamjarwangi. Peserta dalam kegiatan ini adalah seluruh kader Posyandu di Desa Mulyajaya, yang berjumlah 20 orang. Pemilihan kader atas dasar pada peran strategis kader posyandu dalam mendukung program posyandu di dalam kehidupan masyarakat. Tahapan pertama, dilakukan observasi awal dengan asesmen awal untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan keterampilan kader terkait komunikasi efektif. Asesmen ini dilakukan melalui pre-test yang mencakup berbagai pertanyaan dalam aspek komunikasi efektif secara garis besar, seperti penyampaian informasi kesehatan secara jelas dan sederhana, interaksi dua arah yang ramah dan responsif, serta advokasi dan penggerakan masyarakat dalam aspek preventif . encegahan penyaki. , promosi kesehatan, dan rehabilitasi sederhana. Tahap kedua adalah pelaksanaan pelatihan dalam bentuk penyuluhan secara langsung dengan 20 kader posyandu desa mulyajaya yang terdiri dari tiga komponen utama: presentasi, diskusi, dan praktek langsung. Presentasi melalui narasumber digunakan untuk memberikan pemahaman teknis kepada peserta tentang pengertian komunikasi efektif, tujuan, prinsip. Teknik serta hambatan komunikasi efektif kader posyandu. Diskusi kelompok dilakukan untuk mengenal lebih dalam anatar kade serta menggali pemahaman peserta lebih dalam dan memfasilitasi berbagi pengalaman antar kader. Praktek langsung digunakan untuk mengimplementasikan konsep dasar mengenai pemahaman keterampilan komunikasi efektif kader posyandu. Tahap ketiga adalah evaluasi yang dilakukan melalui post-test, umpan balik serta observasi selama praktek. Post-test digunakan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan, sementara umpan balik adalah kesempatan bagi kader untuk mempertanyakan seputar pemahaman komunikasi efektif serta observasi digunakan untuk menganalisis secara keseluruhan kemampuan kader dalam menerapkan teknik komunikasi secara efektif. Data yang diperoleh dari pretest dan post-test dianalisis untuk mengevaluasi keberhasilan pelatihan dan mengidentifikasi area yang masih memerlukan perbaikan. Hasil dan Pembahasan Hasil Tabel 1. Hasil skor pre-tes dan skor post test mengenai pengetahaun keterampilan komuniasi efektif kader posyandu desa mulyajaya kecamatan banjarwangi No Nama Kader Asal Posyandu Skor PreTest Skor PostTest Selisih Keterangan Eneng Dahlia 1 Meningkat Lia Dahlia 1 Meningkat Hlm | 1232 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal No Nama Kader Asal Posyandu Skor PreTest Skor PostTest Selisih Keterangan Nia Dahlia 1 Meningkat Egi Dahlia 2 Meningkat Errna Dahlia 2 Meningkat Indah Dahlia 2 Meningkat Ita Dahlia 3 Meningkat Dewi Dahlia 3 Meningkat Siti Dahlia 3 Meningkat 10 Susi Dahlia 4 Meningkat 11 Tanti Dahlia 4 Meningkat 12 Imas Dahlia 5 Meningkat 13 Eti Dahlia 5 Meningkat 14 Anah Dahlia 6 Meningkat 15 Sumi Dahlia 6 Meningkat 16 Sinta Dahlia 7 Meningkat 17 Rodiah Dahlia 7 Meningkat 18 Enok Dahlia 8 Meningkat 19 Cici Dahlia 8 Meningkat 20 Ida Dahlia 8 Meningkat Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan dalam pengetahuan komunikasi efektif kader Posyandu Desa Mulajaya . Berdasarkan hasil pretest dan post-test, rata-rata skor peserta mengalami peningkatan sebesar 12%, yang mencerminkan peningkatan pemahaman mereka tentang teknik-teknik komunikasi yang efektif. metode SAJI (Salam. Ajak Bicara. Jelaskan dan Bantu. Ingatka. , mendengarkan secara aktif, menggunakan bahasa yang jelas dan ramah, bersikap terbuka, serta memperhatikan bahasa tubuh dan nada bicara. Sebelum pelatihan, banyak kader posyandu yang tidak paham dengan car acara komunikasi yang efektif serta mengalami kesulitan dalam menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat. Namun, setelah mengikuti pelatihan, para kader menunjukkan kemampuan yang lebih baik diantaranya dalam memotivasi masyarakat, mengajak masyarakat untuk berpartispasi dalam mengkomunikasikan informasi penting yang berkaitan dengan program posyandu, seperti pentingnya imunisasi, manfaat ASI eksklusif, cara mengatasi gizi buruk. Pencegahan stunting, kesehatan reproduksi serta penyuluhan anak usia sekolah dan remaja. kegiatan yang diawali dengan presentasi mengenai pengertian, konsep dasar, tujuan. Teknik, cara serta hambatan komunikasi efektif, dan pemberian materi role-play komunikasi terapeutik yang terdiri dari empat studi kasus ilustratif. Studi kasus ini dirancang untuk merefleksikan skenario potensial yang mungkin muncul dalam situasi nyata di lapangan Praktek langsung digunakan untuk memberikan pengalaman nyata kepada kader posyandu dalam menerapkan teknik komunikasi yang telah dipelajari. Selanjutnya pembentukan (FGD) dilakukan untuk menggali pemahaman peserta lebih dalam dan memfasilitasi berbagi pengalaman antar kader. pelatihan dihadiri oleh 20 kader dari beberapa Posyandu, seluruh desa mulyajaya kecamatan banjarwangi yang berpartisipasi dalam pelatihan kelompok dan sesi tanya jawab. Sesi ini dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 10 orang, dengan diskusi yang difasilitasi oleh narasumber. Efektivitas komunikasi di antara para kader dievaluasi sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan sosialisasi pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang dinilai berkaitan dengan komunikasi efektif, mulai dari definisi komunikasi efektif, kelebihan dan kekurangan komunikasi, faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi, dan strategi yang dapat digunakan ketika melakukan komunikasi efektif serta Komponen-komponen yang harus dikuasai kader dalam berkomunikasi yang efektif adalah Hlm | 1233 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal keterbukaan . , empati . , dukungan . , sikap positif . , dan kesetaraan . (Rimawati et al. , 2021. Ulfah, 2. Pada penilaian pre-test, rata-rata skor pengetahuan di antara 20 kader adalah 64,65. Sebaliknya, rata-rata skor pengetahuan pada hasil post-test adalah 76,7. Hal ini menunjukkan bahwa para kader menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah kegiatan sosialisasi, dengan peningkatan rata-rata sebesar 12,05. Pembahasan Menurut Magta. M, et al . menyatakan kader Posyandu harus dapat menjelaskan informasi kesehatan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat dari berbagai latar belakang Pendidikan (Silvia et al. , 2. Harmonisasi hubungan kedua belah pihak akan memberi dampak jangka panjang terhadap derajat kesehatan masyarakat yang madani (Karimullah et al. , 2023. Paramadina et al. , 2. Hal ini akan mendorong para peserta Posyandu untuk aktif terlibat dalam program Posyandu sehingga tercipta harmonisasi antara kader dengan peserta Posyandu. Pelatihan ini berkontribusi pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kompetensi kader Posyandu, yang berdampak pada derajat kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan. Implikasi dari pelatihan ini yaitu kader Posyandu dapat berkomunikasi yang lebih efektif, sehingga dapat memberikan wawasan tentang pemenuhan gizi. Selain meningkatkan kompetensi kader posyandu desa mulyajaya pemberdayaan ini juga berhasil meningkatkan keterampilan praktis para kader dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Observasi selama sesi praktek menunjukkan bahwa kader Posyandu lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan masyarakat, menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami, serta lebih peka terhadap respon dan kebutuhan masyarakat. Para kader juga dilatih untuk menggunakan berbagai media digital lewat social media yang mereka miliki untuk membuat sebuah konten pengumuman sertaa ajakan dalam bentuk kreativitas dan inovasi dalam rangka menarik perhatian masyarakat untuk pergi ke posyandu. Selain itu juga penting untuk menjadi agen bagi masyarakat dalam memberikan edukasi terkait berita hoax yang beredar di masyarakat terkait isu -isu kesehatan. Menurut Rohmani. , & Utari. Peran media informasi menjadi sangat penting. Masyarakat cenderung sangat mudah mendapatkan informasi kesehatan melalui media massa, sosial ataupun elektronik. Media promosi kesehatan yang tepat dapat menjadi alat bantu yang berfungsi untuk memperlancar komunikasi, menyiarkan dan menyebarluaskan informasi kesehatan. Media terbukti membantu kader dalam melaksanakan tugas-tugas Posyandu (Wardani. Martanti, & Wahyudi, 2. Salah satu dampak positif dari pelatihan keterampilan komunikasi efektif kader posyandu desa mulyajaya adalah meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Setelah pelatihan, tercatat peningkatan jumlah ibu dan anak yang datang ke Posyandu, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya membantu dalam penyampaian informasi, tetapi juga berperan penting dalam memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam program-program posyandu Seperti Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Imunisasi. Keluarga Berencana (KB). Pencegahan dan Penanggulangan Diare dan Program Tambahan. Komunikasi yang efektif sangat penting dalam memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat,terutama bagi ibu dan balita. Kader posyandu,sebagai agen perubahan,memiliki peran utama dalam menyampaikan pesanAapesan kesehatan yang dapat memengaruhi perilaku Peningkatan keterampilan komunikasi kader dapat memperbaiki kualitas pelayanan posyandu dan meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap program kesehatan. ( Fitriyani. , et,al. Tujuan utama melalui sosialisasi penyuluhan, pelatihan kader posyandu desa mulyajaya kecamatan banjarwangi adalah. meningkatkan kapasitas dan kompetensi kader posyandu, melalui pelatihan dan pembinaan secara berkala kepada kader Posyandu agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam memberikan pelayanan. meningkatkan koordinasi antara kader Posyandu dengan Stakeholder, tenaga kesehatan lainnya untuk memastikan layanan yang diberikan komprehensif dan terpadu. meningkatkan partisipasi masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya Posyandu terintegrasi bagi kesehatan ibu, anak, remaja dan usia lanjut untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi. Serta . meningkatkan dukungan dan pembinaan dengan mendorong pemerintah daerah untuk memberikan dukungan yang lebih optimal dalam bentuk pembinaan, supervisi, dan pengawasan terhadap kegiatan Posyandu terintegrasi. Pelatihan ini juga menghadapi berbagai tantangan- tantangan diantaranya keterbatasan waktu yang tersedia untuk pelatihan sehingga tidak semua materi dapat dibahas secara mendalam. serta keterbatasan dana dalam mengembangkan program-program selanjutnya sehingga tidak semua kader posyandu diikut sertakan mengikuti pelatihan, perbedaan latar belakang pendidikan, budaya, kearifan local serta kondisi Hlm | 1234 das-institute. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol 5. No. 4, 2025 ISSN: 2807-5994 https://journal. das-institute. com/index. php/citizen-journal social masyarakat di antara para kader menjadi tantangan besar dalam penyampaian materi, yang berkaitan dengan keterampilan komunikasi efektif yang perlu di miliki oleh kader posyandu desa Selain tantangan yang dihadapi adapaun beragai Kendala dianataranya Para kader posyandu masih membutuhkan dukungan dan pelatihan lanjutan dalam hal penggunaan teknologi komunikasi dan pemanfaatan media sosial sebagai alat komunikasi kesehatan. Untuk itu, perlu diadakan pelatihan lebih lanjut yang berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Selain tu,perlu adanya monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan kader dapat terus meningkatkan kualitas komunikasi mereka di posyandu. Meskipun demikian, hasil yang dicapai cukup baik dimana pelatihan ini telah berhasil memberikan dampak positif yang signifikan, baik bagi kader Posyandu maupun masyarakat di Desa Mulayajaya. Yang terlihat adalah semangat dan antusias para kader posyandu desa mulyajaya dalam mengikuti pelatihan komunikasi efektif, keaktifan dalam memahami materi serta berusaha untuk belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan keterampilan komunikasi Kesimpulan dan saran Dampak positif dari pelatihan keterampilan komunikasi efektif kader posyandu desa mulyajaya adalah meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu. Setelah pelatihan, tercatat peningkatan jumlah ibu dan anak yang datang ke Posyandu, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif tidak hanya membantu dalam penyampaian informasi, tetapi juga berperan penting dalam memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam program-program posyandu Seperti Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Imunisasi. Keluarga Berencana (KB). Pencegahan dan Penanggulangan Diare dan Program Tambahan. Namun Pelatihan ini juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk pelatihan sehingga tidak semua materi dapat dibahas secara mendalam. keterbatasan dana dalam mengembangkan program-program selanjutnya sehingga tidak semua kader posyandu diikut sertakan mengikuti pelatihan. Selain itu, perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman di antara para kader juga menjadi tantangan dalam penyampaian materi, yang memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif. Juga masih belum jelas status hokum keberadaan kader posyandu menjadi permasalahan klasik yang timbul menjadil alasan kurang bersemangatnya kader dalam melaksanakan program-program posyandu. Saran