ISSN 2721-1703 Vol. No. x, 202x, pp. xx-xx Jurnal Cakrawala Bahari Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan Berasrama Terhadap Kedisiplian Taruna Dalam Dinas Jaga Elfira Wirza1*. Muhammad Hasan ALBana2 and Author2 1Program Studi Transportasi Laut 2Politeknik Pelayaran Sumatera Barat Article Info Article history: Received Jun 12th, 201x Revised Aug 20th, 201x Accepted Aug 26th, 201x Keyword: Manajemen Waktu Kedisiplinan taruna Dinas jaga Lingkungan asrama Pendidikan Pelayaran ABSTRACT . PT) This study was motivated by the importance of discipline among cadets while performing guard duty in a maritime vocational education environment, where time management and dormitory conditions are considered dominant factors influencing disciplinary behavior. The main objective of this study was to evaluate the extent to which time management and dormitory conditions contribute to the level of discipline among cadets while performing guard duty at the West Sumatra Maritime Polytechnic. This study uses an explanatory method with a quantitative approach. All cadets were included in the population, while sampling was conducted randomly to obtain 100 The main data were collected through a structured questionnaire and analyzed using multiple linear regression, accompanied by validity and reliability tests. F-tests, t-tests, and coefficient of determination analysis. The findings show that time management has a positive and significant effect on cadet discipline, with a regression coefficient of 0. 195 and a significance of 0. addition, the dormitory environment also has a significant positive effect, with a regression coefficient of 0. 241 and a significance of The F test results show a significance of 0. 000, indicating that both independent variables simultaneously affect cadet discipline. The adjusted RA value of 0. 971 indicates that 97% of the variation in cadet discipline is explained by these two factors, while the remaining 3% is influenced by other factors outside the model. The practical implication is that strengthening time management training and dormitory guidance is very important in shaping cadet discipline. A 2021 The Authors. Published by Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Hasan ALBana. Politeknik Pelayaran Sumatera Barat Email: Email: albahzhen76@email. Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Pendahuluan Latar Belakang Penelitian Dorongan penulis dalam melakukan penelitian ini didasari oleh perhatian terhadap urgensi disiplin di kalangan taruna saat menjalankan dinas jaga di lingkungan pendidikan vokasi Taruna, sebagai calon perwira pelayaran, diharapkan memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi, salah satunya tercermin dalam pelaksanaan dinas jaga. Akan tetapi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih terdapat taruna yang belum mampu mengatur waktu secara optimal, sehingga berdampak pada ketepatan serta mutu pelaksanaan dinas jaga. Temuan awal dari observasi menunjukkan bahwa sebagian taruna mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan waktu antara kegiatan akademik, aktivitas organisasi, dan kewajiban dinas jaga, yang mengindikasikan adanya permasalahan dalam pengelolaan waktu. Selain itu, lingkungan asrama sebagai tempat tinggal taruna juga memberikan pengaruh terhadap pembentukan sikap disiplin. Lingkungan asrama yang kurang terorganisir, minim pengawasan, atau lemahnya solidaritas antar taruna dapat menurunkan tingkat kesadaran disiplin. Permasalahan ini penting untuk diteliti lebih lanjut, mengingat disiplin merupakan landasan utama bagi taruna yang nantinya akan memikul tanggung jawab besar di atas Secara teoritis, penelitian ini didasarkan pada teori manajemen waktu serta teori lingkungan belajar yang relevan dalam memahami perilaku disiplin pada taruna. Konsep manajemen waktu menekankan esensi dari aktivitas perencanaan, pengorganisasian, serta pengendalian waktu guna mencapai tujuan secara optimal. Taruna yang menguasai keterampilan manajemen waktu umumnya dapat menjalankan tugas dinas jaga dengan tingkat tanggung jawab yang tinggi, menunjukkan ketepatan waktu, serta memelihara disiplin dalam pelaksanaan tugasnya. Teori manajemen waktu dan teori lingkungan belajar sama-sama menyediakan landasan konseptual yang kokoh dalam memahami variasi perilaku disiplin di kalangan peserta didik. Manajemen waktu berfokus pada kemampuan individu dalam merencanakan, mengatur prioritas, serta mengelola waktu secara efektif agar setiap tugas dapat diselesaikan sesuai tenggat. Sementara itu, teori lingkungan belajar menyoroti peran faktor eksternal, baik fisik, sosial, maupun organisasi, yang dapat mendukung ataupun menghambat terciptanya perilaku yang diharapkan. Integrasi kedua teori ini memungkinkan dilakukannya analisis pada berbagai tingkatan: perilaku individu . dipengaruhi oleh kemampuan internal . egulasi diri/manajemen wakt. serta faktor eksternal seperti lingkungan asrama, peraturan, dan budaya institusi. Temuan-temuan empiris terbaru . 1Ae2. menunjukkan bahwa kedua aspek ini tidak hanya memberikan pengaruh secara terpisah terhadap pencapaian akademik, tetapi juga saling berinteraksi dalam membentuk disiplin harian, seperti ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas atau dinas, kepatuhan terhadap jadwal, serta pembentukan kebiasaan patroli atau jaga. Penelitian yang dilakukan oleh Alyami . serta ulasan dari Calonia . mengindikasikan bahwa mahasiswa atau pelajar yang mampu merencanakan waktu secara efektif, menerapkan teknik prioritas, dan mengendalikan kecenderungan untuk menunda pekerjaan, cenderung memiliki tingkat ketepatan waktu dan penyelesaian tugas yang lebih baik dua aspek yang menjadi tolok ukur kedisiplinan secara praktis. Temuan ini sangat relevan dalam konteks pelaksanaan dinas jaga, sebab aspek-aspek seperti kesiapan saat bertugas, ketepatan dalam pelaporan, serta konsistensi terhadap jadwal sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengelola waktu. (Calonia et al. Penelitian mengenai kehidupan di asrama . mengindikasikan bahwa aspek-aspek pengelolaan asrama seperti kejelasan peraturan, mekanisme pengawasan, serta budaya kolektif Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan. berperan dalam membentuk kebiasaan akademik dan tingkat kedisiplinan para penghuni. Lingkungan asrama yang terorganisir secara baik cenderung mendukung terciptanya rutinitas yang menumbuhkan perilaku disiplin, misalnya kebiasaan bangun pagi dan persiapan sebelum menjalankan tugas jaga. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa ingkungan asrama Keberadaannya tidak terbatas sebagai latar tempat, tetapi juga berfungsi secara dinamis dalam membangun norma-norma sosial. Meskipun telah banyak penelitian sebelumnya, sebagian besar studi tentang kedisiplinan mahasiswa masih terpusat pada faktor lingkungan akademik, gaya kepemimpinan, atau motivasi Sementara itu, kajian yang secara khusus meneliti pengaruh manajemen waktu dan lingkungan asrama terhadap kedisiplinan taruna di lembaga pendidikan pelayaran masih sangat jarang ditemukan. Beberapa riset memang menyoroti Keterkaitan antara kemampuan mengelola waktu secara efektif dengan pencapaian hasil belajar mahasiswa menjadi salah satu topik yang menarik untuk dikaji. Pengelolaan waktu yang baik diyakini dapat memberikan dampak positif terhadap performa akademik, sehingga mahasiswa yang mampu memanfaatkan waktunya secara optimal cenderung memperoleh prestasi yang lebih baik di lingkungan perkuliahan, namun belum banyak yang mengaitkannya dengan aspek kedisiplinan dalam pelaksanaan dinas jaga. Padahal, pendidikan pelayaran memiliki karakteristik unik, di mana dinas jaga menjadi elemen penting dalam pembentukan karakter serta profesionalisme taruna. Selain itu, kehidupan asrama bagi taruna pelayaran juga memiliki perbedaan mendasar dibandingkan mahasiswa pada umumnya, karena diwarnai oleh aturan yang lebih ketat, budaya hierarkis, serta pola interaksi sosial yang khas. Oleh sebab itu, terdapat celah penelitian yang cukup besar, yakni kurangnya studi yang secara bersamaan mengkaji pengaruh manajemen waktu dan lingkungan asrama terhadap kedisiplinan taruna Novelty dari penelitian ini terletak pada fokus kajian yang mengaitkan manajemen waktu dan lingkungan asrama secara simultan terhadap kedisiplinan taruna dalam konteks dinas jaga. Penelitian ini berbeda dari studi sebelumnya yang lebih menyoroti motivasi, kepemimpinan, atau metode pembelajaran, karena menekankan pada aspek pembiasaan sehari-hari yang bersifat praktis dan kontekstual. Penelitian ini juga memperluas cakupan teori manajemen waktu dan lingkungan belajar dengan mengaplikasikannya pada sistem pendidikan vokasi pelayaran. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengisi gap riset, tetapi juga memperkaya literatur dalam bidang pendidikan pelayaran dan memberikan kontribusi konseptual bahwa disiplin bukan hanya dipengaruhi faktor internal taruna, tetapi juga dipengaruhi oleh manajemen diri serta lingkungan tempat mereka berinteraksi. Penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti, baik dalam ranah teoretis maupun Dari aspek teoretis, studi ini menambah pemahaman mengenai urgensi manajemen waktu serta pengaruh lingkungan asrama sebagai faktor dominan yang membentuk kedisiplinan taruna. Selain itu, penelitian ini juga memperkaya khazanah literatur ilmiah di bidang pendidikan vokasi dan kemaritiman. Dari segi praktis, temuan yang dihasilkan dapat dijadikan acuan oleh pihak pengelola Politeknik Pelayaran Sumatera Barat dalam menyusun kebijakan terkait pembinaan asrama dan pengaturan jadwal kegiatan taruna. Temuan ini juga bermanfaat bagi dosen, pembina, maupun instruktur dalam memberikan arahan yang lebih optimal kepada taruna, sehingga pelaksanaan dinas jaga dapat berjalan dengan tingkat kedisiplinan yang lebih baik. Selain itu, temuan dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi sebagai acuan bagi studi-studi selanjutnya yang membahas berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kedisiplinan di lingkungan pendidikan semi-militer. Oleh sebab itu, penelitian ini memiliki peranan penting dalam mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan pelayaran di Indonesia Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Materials and Methods Metode penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksplanatif dengan basis pendekatan kuantitatif, sehingga hasil yang diperoleh dapat menggambarkan pola hubungan antarvariabel secara sistematis. Menurut Sugiyono . , kajian ilmiah yang ditinjau dari tingkat eksplanasinya bertujuan untuk mendeskripsikan posisi setiap variabel yang menjadi objek kajian, sekaligus menganalisis keterkaitan antar variabel tersebut. Lebih lanjut, studi penelitian ini juga bertujuan Agar dapat menganalisis serta memastikan hipotesis yang pernah diterapkan sebelumnya. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai Kausalitas antarvariabel yang dianalisis dengan pendekatan pengujian hipotesis untuk memastikan validitas hubungan yang terjadi. Studi ini bertujuan mengungkap sejauh mana manajemen waktu (X. dan lingkungan asrama (X. sebagai variabel independen berhubungan dengan tingkat kedisiplinan taruna dalam melaksanakan dinas jaga (Y). Populasi Dan Sampel Penelitian Menurut Sugiyono . , populasi dipahami sebagai keseluruhan subjek atau elemen yang menjadi sasaran dalam suatu penelitian. Dalam konteks kajian ini, populasi yang ditetapkan adalah seluruh Taruna di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat. Dari populasi tersebut, sampel penelitian ditentukan dengan mengambil sebagian Taruna dari institusi yang sama. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah accidental sampling, yaitu metode pemilihan responden secara kebetulan atau spontan, sehingga setiap individu dalam populasi memperoleh peluang yang relatif sama untuk menjadi bagian dari sampel (Sugiyono, 2. Adapun jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 100 orang, sesuai dengan kuota yang telah dirancang sebelumnya. Teknik perolehan data penelitian Dalam penelitian ini, sumber informasi utama diperoleh melalui data primer. Data tersebut dihimpun secara langsung dari responden dengan memanfaatkan instrumen penelitian berupa kuesioner. Kuesioner ini terdiri dari sejumlah pertanyaan yang disusun secara sistematis guna memfasilitasi proses pengumpulan data dari responden, khususnya terkait dengan analisis hubungan antara manajemen waktu dan lingkungan asrama terhadap tingkat kedisiplinan taruna. Teknis analisis Tahap pengumpulan data Tahap pengumpulan data data meliputi Editing : Setelah proses pengumpulan data Setelah selesai dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap setiap kuesioner yang telah diisi oleh responden. Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner telah dijawab dengan Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan. lengkap dan tidak ada bagian yang terlewatkan. Dengan demikian, validitas dan kelengkapan data yang diperoleh dapat terjamin sebelum data tersebut dianalisis lebih lanjut. Coding : Proses pengkodean terhadap beragam respons yang diberikan oleh responden pada kuesioner dilakukan dengan tujuan untuk mengelompokkan jawaban-jawaban tersebut ke dalam kategori-kategori yang memiliki kesamaan Melalui tahapan ini, setiap jawaban yang diperoleh dari kuesioner akan diberikan kode tertentu sehingga memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi dan mengorganisasi data berdasarkan kategori yang relevan. Dengan demikian, proses pengelompokan ini tidak hanya membantu dalam menyederhanakan data yang kompleks, tetapi juga memungkinkan analisis yang lebih sistematis dan terstruktur terhadap hasil penelitian yang diperoleh. Pemberian skor : menggunakan skala Likert dengan lima kategori yang diuraikan sebagai berikut: Jawab sangat setuju diberi nilai 5 Jawab setuju diberi nilai 4 Jawab cukup diberi nilai 3 Jawab tidak setuju diberi nilai 2 Jawab sangat tidak setuju diberi nilai 1 Tabulasi : Proses ini diawali dengan melakukan pengelompokan terhadap jawabanjawaban yang diberikan oleh para responden secara terstruktur dan sistematis. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan serta rekapitulasi terhadap seluruh respons yang telah diperoleh. Hasil dari tahapan tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang dirancang sedemikian rupa agar informatif dan mudah dipahami, sehingga memudahkan pembaca dalam menyusun kajian analitik secara mendalam atas data yang telah diperoleh sebelumnya. Uji Instrumen Penelitian Uji Validitas Validitas merupakan suatu tahapan evaluasi yang dilakukan untuk memastikan bahwa setiap butir pertanyaan dalam kuesioner benar-benar dapat mencerminkan konstruk yang ingin diteliti secara akurat. Pada penelitian ini, pengujian validitas dilakukan melalui analisis faktor, yaitu untuk memastikan apakah setiap indikator atau butir dalam kuesioner dapat mengonfirmasi suatu faktor atau konstruk tertentu. Suatu pertanyaan dianggap valid Apabila Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai KMO yang didapatkan berada di atas 0,5, sedangkan tingkat signifikansinya tercatat kurang dari 0,05. serta memenuhi kriteria loading factor. Pengujian ini dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS for Windows versi 22 dengan kriteria yang dijelaskan oleh Ghozali . Loading faktor > role of thumb . , berati valid Loading faktor < role of thumb . , berati tidak valid Hasil pengujian validitas menunjukkan bahwa seluruh item pada variabel X1 memiliki nilai Corrected Item-Total Correlation di atas 0,70. Temuan ini mengindikasikan bahwa setiap butir instrumen memiliki hubungan yang kuat dengan Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx skor total, sehingga dapat dinyatakan valid. Ghozali . menyatakan bahwa suatu instrumen dianggap valid jika nilai korelasi item melebihi r tabel pada tingkat signifikansi tertentu. Oleh karena itu, instrumen ini dinilai layak untuk digunakan dalam penelitian berikutnya. Uji Realibilitas Sebuah instrumen pengukuran dikatakan memiliki reliabilitas yang baik apabila alat tersebut mampu memberikan hasil pengukuran yang konsisten atau relatif sama meskipun digunakan pada waktu yang berbeda. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya dalam menghasilkan data yang stabil dari waktu ke waktu. Untuk menilai tingkat reliabilitas suatu instrumen, salah satu metode yang umum digunakan adalah dengan menghitung koefisien Alpha Cronbach. Pengujian ini biasanya dilakukan dengan bantuan perangkat lunak statistik, seperti SPSS for Windows versi 22, serta menggunakan tingkat signifikansi sebesar 0,05 sebagaimana dijelaskan oleh Ghozali . Melalui pengujian ini, peneliti dapat menentukan apakah instrumen yang digunakan sudah memenuhi kriteria reliabel atau belum, sehingga hasil penelitian yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Nilai alpha > 0,70 maka instrumen realibel Nilai alpha < 0,70 maka instrumen tidak realibel Analisis deskriptif Pada bagian ini akan dijelaskan secara rinci mengenai metode yang digunakan dalam proses pengolahan dan analisis data penelitian. Proses ini mencakup dua tahapan utama, yaitu analisis deskriptif dan pengujian hipotesis. Analisis deskriptif sendiri merupakan metode yang digunakan untuk mendeskripsikan atau mengilustrasikan karakteristik dari objek penelitian berdasarkan data atau sampel yang telah Dengan demikian, dari hasil analisis tersebut dapat diperoleh kesimpulan umum mengenai objek yang diteliti. Analisis inferensial Sebuah analisis dihasilkan dari pengolahan data yang diperoleh melalui serangkaian pertanyaan, kemudian diinterpretasikan menggunakan angka-angka serta dibahas melalui metode statistik. Pada proses analisis inferensial, instrumen yang dimanfaatkan adalah: Metode regresi berganda adalah pendekatan statistik yang bertujuan untuk menilai tingkat pengaruh yang diberikan oleh satu atau lebih variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) dalam suatu penelitian, yaitu dengan menggunakan persamaan tertentu dalam proses perhitungannya. Persamaan yang digunakan: Y= 1X1 2X2 eY = \alpha \beta_1 X_1 \beta_2 X_2 eY= 1X1 2X2 Di mana: Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan. Y = Kedisiplinan Taruna X1 = Manajemen Waktu X2 = Lingkungan Asrama = konstanta 1, 2 = koefisien regresi e = error Uji Goodnes Of Fit (Uji Mode. A Koefisiensi determinasi Koefisien determinasi, yang biasa disimbolkan dengan RA, merupakan salah satu tolok ukur utama dalam analisis regresi. Indikator ini berfungsi untuk menunjukkan seberapa besar proporsi variasi pada variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam suatu model regresi. Dengan kata lain, analisis ini digunakan untuk menilai seberapa signifikan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai RA sendiri berkisar antara nol hingga satu. Jika nilai RA yang diperoleh tergolong rendah, maka hal tersebut menandakan bahwa variabel independen hanya mampu menjelaskan sebagian kecil variasi yang terjadi pada variabel dependen. Sebaliknya, apabila nilai RA mendekati angka satu, maka dapat diartikan bahwa hampir seluruh variasi pada variabel dependen telah berhasil dijelaskan oleh variabel independen yang terdapat dalam model regresi yang digunakan (Ghozali, 2. A Uji signifikan F Pengujian signifikansi dilakukan untuk menilai sejauh mana variabel independen memberikan pengaruh terhadap variabel dependen, sekaligus mengevaluasi apakah model regresi yang diterapkan sudah sesuai atau belum. Proses analisis ini memanfaatkan perangkat lunak SPSS versi 22 sebagai alat bantu statistik (Ghozali, 2. Adapun kriterianya apabila tarif signifikan () < 0,05. Pengambilan keputusan: Jika tingkat signifikan < 0,05, maka seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen Jika tingkat signifikan > 0,05, maka seluruh variabel dependen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan melalui uji t pada model regresi linear berganda, yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Proses analisis ini menggunakan perangkat lunak SPSS versi 22 (Ghozali, 2. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Hasil dan diskusi Hasil penelitian Pengujian Regresi Linear berganda Suatu proses yang dimaksudkan untuk menentukan hubungan antara variabel dependent dan independent. Dilihat dari hasil penelitian diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Y: 0,614 0,195 X1 0,241 X2 Berdasarkan persamaan tersebut dapat dijelaskan : Nilai konstanta sebesar 0,614 berati apabila manajemen waktu, kehidupan berasrama, dan lingkungan asrama, maka kedisiplinan taruna akan meningkat Nilai koefisiensi regresi Manajemen waktu . sebesar 0,035 berati ada pengaruh positif, apabila manajemen waktu baik, maka kedisiplinan taruna akan meningkat. Nilai koefisiensi regresi Lingkungan asrama 0,241 berati ada pengaruh positif, apabila lingkungan asrama yang baik maka kedisiplinan taruna akan meningkat. Uji model Uji koefisiensi determinasi (R. Koefisien determinasi (RA) dalam penelitian ini dianalisis melalui nilai Adjusted R Square, yang berfungsi untuk menilai sejauh mana variabel-variabel independen mampu memberikan penjelasan terhadap variasi yang terjadi pada variabel dependen. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai Adjusted R Square sebesar 0,971. Nilai ini menunjukkan bahwa implementasi manajemen waktu (X. serta kehidupan berasrama (X. secara bersamasama memiliki kontribusi sebesar 97% dalam mempengaruhi tingkat kedisiplinan taruna ketika menjalankan dinas jaga (Y. Dengan kata lain, sebesar 97% perubahan atau variasi yang terjadi pada kedisiplinan taruna dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut, yaitu manajemen waktu dan lingkungan asrama. Sementara itu, sisanya, yakni sebesar 3% . asil dari 100% dikurangi 97%), merupakan proporsi variasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar manajemen waktu dan kehidupan berasrama yang tidak diikutsertakan dalam model penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa kedua variabel independen yang diteliti memiliki peranan yang sangat dominan dalam menjelaskan perilaku kedisiplinan taruna, sedangkan pengaruh dari variabel lain di luar model relatif kecil. Uji F Pengujian F merupakan salah satu tahapan penting dalam proses analisis data, yang bertujuan untuk menilai apakah model yang diterapkan telah sesuai atau layak digunakan dalam penelitian. Suatu model regresi dapat dikatakan layak . apabila nilai signifikansi F yang diperoleh berada di bawah ambang batas 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh variabel independen yang dimasukkan ke dalam model secara simultan memberikan pengaruh yang berarti terhadap variabel dependen yang diteliti. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh nilai F hitung sebesar 8,384 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000, yang mana nilai ini jauh lebih kecil daripada 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel manajemen waktu serta lingkungan asrama terhadap tingkat kedisiplinan. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria kelayakan dan dapat diandalkan untuk menjelaskan hubungan antar variabel yang Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis menggunakan uji secara parsial . untuk menguji pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent secara parsial dengan kriteria taraf signifikan sebesar 0,05 Berdasarkan hasil pengujian koefisien regresi, diperoleh nilai sebesar 0,195 untuk pengaruh manajemen waktu terhadap kedisiplinan taruna. Selain itu, tingkat signifikansi yang dihasilkan adalah 0,035, yang mana nilai ini lebih kecil daripada batas signifikansi yang telah ditetapkan, yaitu 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama (H. , yang menyatakan bahwa manajemen waktu memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan taruna, dapat diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik manajemen waktu yang dimiliki oleh taruna, maka tingkat kedisiplinan mereka juga cenderung meningkat secara signifikan. Hasil ini memperkuat pentingnya penerapan manajemen waktu dalam upaya meningkatkan kedisiplinan di lingkungan taruna. Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan untuk menguji hipotesis mengenai pengaruh lingkungan asrama terhadap tingkat kedisiplinan taruna, diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,241. Selain itu, nilai signifikansi yang dihasilkan dari pengujian tersebut adalah 0,000, yang mana angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan batas signifikansi yang telah ditetapkan, yaitu 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua (H. , yang menyatakan bahwa lingkungan asrama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan taruna, dapat diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik lingkungan asrama yang diciptakan, maka akan semakin tinggi pula tingkat kedisiplinan yang dimiliki oleh para taruna. Hasil ini menegaskan pentingnya peran lingkungan asrama dalam membentuk perilaku disiplin di kalangan taruna, sebagaimana tercermin dari hubungan positif dan signifikan yang ditemukan dalam penelitian ini. hipotesis pengaruh lingkungan asrama terhadap kedisiplinan taruna Hasil koefisien regresi uji hipotesis pengaruh lingkungan asrama terhadap kedisiplinan taruna sebesar 0,241 dan tingkat signifikan 0,000 < 0,05 sehingga hipotesis kedua H2 : lingkungan asrama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan taruna. Hasil Penelitian Berdasarkan analisis regresi linear berganda, diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 0,614 0,195X1 0,241X2 Keterangan: A Y = Kedisiplinan taruna A X1 = Manajemen waktu A X2 = Lingkungan asrama Temuan utama penelitian adalah: Manajemen waktu (X. efek positif dan signifikan pada kedisiplinan taruna. Nilai koefisien regresi sebesar 0,195 dengan tingkat signifikansi 0,035 (< 0,. Lingkungan asrama (X. juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan taruna. Nilai koefisien regresi sebesar 0,241 dengan tingkat signifikansi 0,000 (< 0,. Uji F menunjukkan bahwa model regresi layak digunakan dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,. Artinya, variabel X1 dan X2 secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kedisiplinan taruna. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx Adjusted RA = 0,971, yang berarti 97% variasi kedisiplinan taruna dapat dijelaskan oleh variabel manajemen waktu dan lingkungan asrama. Sisanya 3% dipengaruhi faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model. Pembahasan Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kedisiplinan taruna tidak dapat dilepaskan dari faktor internal dan eksternal yang memengaruhinya. Pengaruh Manajemen Waktu terhadap Kedisiplinan Taruna Taruna yang mampu mengatur waktu secara efektif menunjukkan tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi, khususnya dalam menjalankan tugas dinas jaga. Temuan ini sejalan dengan teori manajemen diri yang menyebutkan bahwa kemampuan mengalokasikan waktu secara tepat mendukung terbentuknya perilaku disiplin dan konsistensi akademik maupun Dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05, dapat dipastikan bahwa keterampilan manajemen waktu memiliki kontribusi nyata dalam membentuk pola perilaku yang teratur dan bertanggung jawab. Pengaruh Lingkungan Asrama terhadap Kedisiplinan Taruna Lingkungan asrama yang kondusif, ditandai dengan adanya pengawasan, aturan yang jelas, serta iklim sosial yang positif, terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap kedisiplinan taruna. Koefisien regresi yang lebih tinggi . dibanding manajemen waktu menunjukkan bahwa faktor lingkungan memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam membentuk kedisiplinan. Hal ini mendukung pandangan ekologi pendidikan, yang menekankan bahwa interaksi sosial dan budaya organisasi dapat memperkuat kepatuhan terhadap aturan serta meningkatkan kesadaran kolektif untuk menjaga kedisiplinan. Temuan bahwa 97% variasi kedisiplinan dapat dijelaskan oleh variabel manajemen waktu dan lingkungan asrama mengindikasikan peranan dominan kedua faktor tersebut. Dengan demikian, penguatan program pembinaan kedisiplinan di Politeknik Pelayaran Sumatera Barat perlu diarahkan pada peningkatan keterampilan manajemen waktu taruna dan optimalisasi sistem kehidupan berasrama. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Manajemen waktu memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan Mahasiswa kedinasan yang memiliki kemampuan manajemen waktu yang efektif umumnya menunjukkan tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi, baik dalam menjalankan tanggung jawab akademik maupun dalam melaksanakan tugas-tugas kedinasan lainnya. Kemampuan untuk mengatur dan memanfaatkan waktu secara optimal tidak hanya membantu mereka dalam menyelesaikan berbagai kewajiban dengan tepat waktu, tetapi juga membentuk karakter disiplin yang tercermin dalam setiap aspek aktivitas Dengan demikian, pengelolaan waktu yang baik merupakan salah satu elemen krusial yang memberikan andil signifikan terhadap peningkatan kedisiplinan taruna, baik dalam konteks pembelajaran di lingkungan akademik maupun dalam pelaksanaan tugas-tugas yang berkaitan dengan kedinasan. Lingkungan asrama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kedisiplinan taruna Sebuah lingkungan yang diorganisasi secara sistematis dengan penerapan aturanaturan yang tegas, didukung oleh mekanisme pengawasan yang efektif, serta ditopang Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Implentasi Manajemen Waktu Dan Kehidupan. oleh budaya kolektif yang kuat, secara signifikan berkontribusi dalam membangun dan memelihara perilaku disiplin yang berkelanjutan di antara individu-individu yang berada di dalamnya. Kombinasi antara kejelasan regulasi, adanya kontrol sosial, serta internalisasi nilai-nilai bersama, menciptakan suasana yang kondusif bagi terbentuknya konsistensi dalam penerapan disiplin, sehingga perilaku tersebut tidak hanya bersifat sementara, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Secara simultan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa variabel manajemen waktu serta lingkungan asrama dengan kolaborasi, dapat memberikan penjelasan secara komprehensif sebesar 97% variasi yang terjadi pada tingkat kedisiplinan taruna. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua faktor tersebut memiliki kontribusi yang sangat signifikan dan dominan dalam memengaruhi serta membentuk perilaku disiplin di kalangan taruna. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa upaya peningkatan kedisiplinan pada taruna sangat erat kaitannya dengan optimalisasi pengelolaan waktu dan penciptaan lingkungan asrama yang kondusif. Agar tercipta peningkatan dalam aspek kedisiplinan para taruna, sangat diperlukan implementasi program yang secara khusus berfokus pada pengembangan kemampuan manajemen waktu. Selain itu, upaya pembentukan lingkungan asrama yang mendukung, terorganisir dengan baik, serta diarahkan untuk memperkuat budaya disiplin juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Melalui pelaksanaan pelatihan manajemen waktu yang terstruktur dan pembinaan lingkungan asrama yang kondusif, diharapkan nilai-nilai kedisiplinan dapat tertanam secara lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari para taruna. Dengan demikian, kedua aspek tersebut saling melengkapi dalam menciptakan suasana yang mendukung terbentuknya karakter disiplin yang kuat di kalangan taruna. Daftar pustaka Brady. Anna C. Christopher A. Wolters, dan Shirley L. Yu. AuSelf-regulation of time: The importance of time estimation accuracy. Ay Frontiers in Psychology 13(Octobe. : 1Ae9. Calonia. Julsar T. Dickson P Pagente. Daisy Jane Desierto, dan Rodrigo T Capio. AuTime Management and Academic Achievement: Examining the Roles of Prioritization. Procrastinationand Socialization. Ay International Journal of Innovative Science and Research Technology 8. : 766Ae75. Chung. Eun Kyung et al. AuFactors associated with academic performance among medical students at a medical school in South Korea: A retrospective cohort study. Ay PLoS ONE 19. Februar. : 1Ae11. http://dx. org/10. 1371/journal. Formela. Bonjak, dan V. Pusch. AuModern Cadet Training. The Challenge Between the Various Training Systems and New Demands Set by the Industry. Ay TransNav 17. : 929Ae34. Giot. Claire. Laure Lejeune. Nicolas Bessot, dan Damien Davenne. AuA Survey Exploring How Watch Officers Manage Effects of Sleep Restrictions during Maritime Navigation. Ay International Journal of Environmental Research and Public Health 20. Hilla. Yannik. Maximilian Stefani. Elisabeth V. Friedrich, dan Wolfgang Mack. AuMilitary experience Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb Elfira wirza 1. Hasan ALBana 2 Jurnal Cakrawala Bahari Vol. No. x, 201x, pp. xx-xx predicts military multitasking better than laboratory measures in officer cadets. Ay Cognitive Research: Principles and Implications 10. https://doi. org/10. 1186/s41235-025-00639-0. Mori. , dan M. Manuel. AuAn Exploration of the Theoretical Foundations of Onboard Seafarer Training: A Systematic Review of the Literature. Ay TransNav 17. : 913Ae28. Richardson. Sarah. Megan Kelly. Catherine Whiting, dan Ben Peddie. Australian Education Research Organisation Effectively managing classrooms to create safe and supportive learning environments. Rinella. Hailey L. , dan Adam L. Putnam. AuThe study strategies of small liberal arts college students before and after COVID-19. Ay PLoS ONE 17. Decembe. : 1Ae18. http://dx. org/10. 1371/journal. Szapary. Claire et al. AuAdolescent extracurricular activities and perception of risk of harm from binge Ay PLOS Mental Health 2. : e0000278. https://doi. org/10. 1371/journal. Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/jcb