TEOLOGI LINGKUNGAN RANGGAWARSITA: KAJIAN TERHADAP TEKS-TEKS ZAMAN EDAN Agus Iswanto Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta Jl. Rawa Kuning No. 6 Pulo Gebang cakung Jakarta Timur . E-mail: agus. iswanto83@gmail. Abstrak Tulisan ini menyajikan pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, pujangga Jawa di Keraton Sukararta. Tulisan ini berdasarkan pada studi teks-teks Zaman Edan. Teks-teks ini adalah sebuah karya terjemahan dari beberapa puisi, yang mencakup Serat Kalathida. Serat Sabda Jati. Serat Sabdatama. Serat Jaka Lodhang dan Serat Wedharage, yang diterjemahkan dan diedit oleh Ahmad Norma dalam buku yang diberi judul Zaman Edan. Studi ini memberikan kontribusi bagi wacana teologi lingkungan dari seorang pemikir budaya lokal. Pemikiran teologi lingkungan Ranggawarsita, yang ditafsirkan dari teks-teks tersebut, dapat dimasukan dalam pandangan Aukekerabatan manusia dengan alamAy atau yang juga disebut dengan Audeep ecology. Ay Dalam pandangan ini, kelestarian lingkungan dan bencana akan selalu dikaitkan dengan hubungan antara manusia sebagai AohambaAo dan AokhalifahAo dengan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta. Konsep teologi lingkungan Ranggawarsita menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Jawa dengan ajaran-ajaran Islam. Hal ini dimungkinkan karena konteks sosial-budaya, yakni Ranggawarsita sebagai santri sekaligus juga sebagai priyayi Jawa. Kata kunci : Teologi lingkungan. Ranggawarsita. Zaman Edan, kearifan Islam Jawa, kajian teks. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 Abstract This article presents eco-theology thought of Ranggawarsita, the poet of Surakarta Javanese keraton . This article based on the study of Zaman Edan texts. These texts is translation work from some poetry text, include Serat Kalatidha. Serat Sabda Jati. Serat Sabdatama. Serat Jaka Lodhang, dan Serat Wedharage, which translated and edited by Ahmad Norma in the book of Zaman Edan. This study gives a contribution for eco-theology discourse from local cultural Eco-theology thought of Ranggawarsita, which interpreted from Zaman Edan texts, can be included in the view of Auhuman kinship with all creaturesAy or which may be called deep ecology. this view, environmental sustainability and disasters will always be associated with the relationship between man as servant and caliph with God as the Creator and the universe. The concept of ecotheologyAos Ranggawarsita combine the values AUAUof Javanese local wisdom with Islamic teachings. is possible with socio-cultural context, ie. Ranggawarsita as a santri as well as Javanese priyayi. Keywords: Eco-theology. Ranggawarsita, zaman edan, javanese islamic wisdom, textual studies Pendahuluan Amin Abdullah1 pernah menulis tentang dimensi etis-teologis dan etisantropologis mengenai pembangunan berwawasan lingkungan. Ia menjelaskan bagaimana wawasan teologis . alam hal ini Isla. dapat menjadi pertimbangan etis bagi pembangunan yang mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Dalam hal ini, ia banyak mengajukan teks-teks al-QurAoan untuk menunjukkan wawasan dan etika al-QurAoan mengenai lingkungan hidup. Tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan hidup sangat ditekankan dalam al-QurAoan. Namun, dimensi etis-teologis tersebut kehilangan kekuatannya manakala dipraktikan dalam dunia nyata, sehingga terjadi suatu kesenjangan antara AoideaAo dengan Aorealita. Ao Karena itu, menurut Abdullah, perlu ada creative tension . egangan kreatif antara yang idea dan realitas tersebu. , yang salah satunya memanfaatkan modal dasar budaya yang ada, agar kesadaran akan kelestarian dan bahkan keharmonisan lingkungan tetap mewacana dan menjadi praksis di masyarakat. Apa yang disebut dengan Aomodal dasar budaya,Ao sebagaimana yang disebut oleh Abdullah di atas, tampaknya sangat terkait dengan gagasan local wisdom atau Amin Abdullah. Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , h. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan local knowledge yang akhir-akhir ini amat terasa mengemuka. Bahkan, beberapa hasil penelitian tentang bagaimana respon masyarakat lokal atas bencanaAisebagai bentuk dampak kerusakan lingkungan atau merupakan siklus alamAitelah Memang, tidak semua bencana adalah hasil kerusakan/pencemaran lingkungan, ada beberapa yang memang merupakan siklus atau peristiwa alami Namun demikian, tetaplah hal itu menuntut sikap etis manusianya dalam soal mitigasi dan penyikapan terhadap dampaknya. Bagaimanapun, agamaAi termasuk di dalamnya AukeyakinanAy agama lokal dapat digunakan manusia untuk memahami, menyesuaikan dan mengontrol alam lingkungan dan kerusakannyanya. Riset-riset tentang hubungan antara bencana, agama dan budaya, dengan contoh kasus bencana ekologis3 telah dilakukan. Misalnya, dalam kasus bencana lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo . ang terjadi pada 29 Mei 2. , respon terhadap bencana tersebut, oleh tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah banyak diwarnai oleh pemahaman teologis atas bencana, sehingga unsur agama dianggap menjadi bagian penting penyebab bencana tersebutAimeskipun antara NU dan Muhammadiyah terdapat perbedaan dalam tingkat pemahaman teologis tersebut. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh sebuah riset tentang pandangan kaum pesantren terhadap bencana banjir di Situbondo, yang juga sangat dikaitkan dengan faktor agama . akni takdir Tuha. , meskipun ada juga faktor manusia di dalamnya. Sebuah riset juga menunjukkan faktor manusia sebagai . alah sat. penyebab bencana diajukan oleh komunitas Sedulur Sikep . uatu komunitas adat di Pati Jawa Tenga. Menurut Sedulur Sikep, berbagai macam bencana . eperti banjir, kekeringan, gempa dan tsunam. adalah wujud genepe alam . ranata ala. Artinya, berbagai macam bencana yang terjadi di hadapan manusia merupakan konsekuensi Lotte Kemkens. On the Connections between Religion and Disaster: A Literature Review (Yogyakarta: Center for Religious and Cross-cultural Studies Gadjah Mada University, 2. , h. Di sini penulis menggunakan istilah Aobencana ekologisAo untuk menunjuk pada sebuah AobencanaAo yang disebabkan ulah manusia. Ini dibedakan dengan bencana alam yang bersumber pada peristiwa alami . empa, gunung meletus, angin ribut dll. Dani Muhtada. AuRespon Komunitas Keagamaan di Porong atas Bencana Lumpur Lapindo: Melacak Akar Teologis,Ay dalam Agama. Budaya dan Bencana: Kajian Integratif Ilmu. Agama dan Budaya. Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono (Penyuntin. (Bandung: Mizan Pustaka bekerjasama dengan CRCS Yogyakarta, 2. , h. Hatim Gazali. AuInterpretasi Pesantren atas Banjir: Studi atas Pondok Pesantren Darun Najah Situbondo. Audalam Agama. Budaya dan Bencana: Kajian Integratif Ilmu. Agama dan Budaya. Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono (Penyuntin. (Bandung: Mizan Pustaka bekerjasama dengan CRCS Yogyakarta, 2. , h. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 dari hukum alam yang melibatkan tangan-tangan manusia. Ketika alam dikelola dengan penuh keluguan . emperhatikan keseimbangan ala. , dan sikap demunung . esuai dengan sifat-sifat alam yang merindukan sentuhan kepedulian dan tak dieksploitas. , maka alam akan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan. Alam memiliki kepribadian yang tak jauh dengan manusia, yaitu kepribadian yang polos dan jujur, demikian menurut Sedulur Sikep. Riset-riset tersebut lebih banyak berupa penggalian terhadap pandanganpandangan langsung manusia sekarang, yang didapat melalui sebuah riset etnografis, di mana data yang didapatkan lebih merupakan fenomena Auke-kinian,Ay yang didapat saat waktu dilakukan penelitian. Sehingga, belum ditemukan penjelasan mengenai bagaimana sesungguhnya bencana ekologis . tau dalam beberapa hal bencana ala. dipandang di waktu dahulu, dan masih saja berlaku hingga sekarang. Tentu saja hal ini, akan sulit didapat jika hanya mengandalkan data-data lapangan hasil observasi atau wawancana belaka. Perlu mencari sumbersumber untuk menunjukkan dan menjelaskan hal itu, dan itu dapat dilakukan melalui pembacaan atas sumber-sumber tertulis atau teks. Apakah bencana ekologis disebabkan oleh manusia atau Tuhan dalam pandangan orang-orang dahulu? Tentu saja ini memerlukan sumber tertulis yang diteliti melalui sebuah pemaknaan untuk mendapatkan jawaban tersebut. Dalam sebuah kebudayaan, ada saja tokoh panutan yang dijadikan sumber pengetahuan yang dapat diterima oleh sebuah komunitas kebudayaan. Seringkali juga pandangan-pandangan sang tokoh itu menjadi puncak-puncak nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki komunitas tersebut, yang masih dianggap relevan dengan masa sekarang. Seringkali pula, pengetahuan tersebut menjadi sebuah pengetahuan lokal bersama dalam sebuah komunitas tersebut. Tulisan ini memaparkan bagaimana teologi lingkungan sebagai etika pelestarian lingkungan dalam perspektif tradisi lokal Indonesia, yang dalam hal ini diartikulasikan oleh salah satu pujangga Jawa yang popular. Ranggawarsita, dalam beberapa karyanya, yang kesemuanya terkumpul dalam buku Zaman Edan. Tulisan ini tentu saja merupakan tafsir atas karya tersebut, yang dipertimbangkan Nur Said. AuStrategi Saminisme dalam Membendung Bencana: Perlawanan Komunitas Sedulur Sikep terhadap Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo Pati,Au dalam Agama. Budaya dan Bencana: Kajian Integratif Ilmu. Agama dan Budaya. Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono (Penyuntin. (Bandung: Mizan Pustaka bekerjasama dengan CRCS Yogyakarta, 2. , h. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan dan diuji dengan teks-teks lain, misalnya al-QurAoan, untuk menemukan makna yang merujuk pada konsepsi teologi lingkungan. Bencana Ekologis dan Teologi Lingkungan Bencana . berasal dari bahasa Yunani, yang berarti bintang. Istilah ini mengacu kepada fenomena astronomi yang berkonotasi pada sesuatu yang buruk. Kemunculan bintang-bintang tertentu di cakrawala diyakini sebagai pertanda akan terjadinya sesuatu yang buruk bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, keseluruhan peristiwa AualamiAy yang bersifat destruktif, misalnya gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami, badai salju, kekeringan seringkali dianggap sebagai Aubencana. Ay Orang cenderung tidak membedakan apa penyebab, dampak yang ditimbulkan, serta implikasi terhadap kelangsungan hidup manusia. Padahal, bencana memiliki spektrum yang luas. Dari segi penyebab, bencana mencakup segala proses yang mengancam kelangsungan hidup manusia, mulai dari yang bersumber dari peristiwa alam . empa bumi, tsunam. , hingga yang disebabkan oleh manusia . enurunan kualitas lingkungan, limbah, banjir, tanah 8 Dengan dimasukkannya aspek perilaku manusia sebagai salah satu penyebab bencana, maka cakupan definisi bencana menjadi semakin kompleks, karena ia memasukkan semua kategori perilaku yang mengancam kehidupan. Bencana mencakup hal perubahan iklim, krisis air, krisis energi, urbanisasi, kriminalitas, kesehatan global dan kemiskinan. 9 Dalam konteks tulisan ini, yang terakhir inilah yang dimaksud dengan bencana ekologis, untuk membedakannya dengan bencana alamiAimeskipun bencana alami ini terkadang dapat menyebabkan bencana ekologis dalam tahap selanjutnya. AoEkologiAo sebagai sebuah istilah pertama digunakan oleh seorang ahli biologi asal Jerman Ernst Haekel, yang mengartikan sebagai Auilmu tentang relasi antara organisme dan dunia luar sekitarnya. Bersamaan dengan itu, digunakan juga istilah lingkungan hidup . , yang dipahami sebagai padanan yang tak Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono. AuInterpretasi dan Respons atas Becana: Kajian Integratif Ilmu. Agama dan Budaya,Ay dalam Agama. Budaya dan Bencana: Kajian Integratif Ilmu. Agama dan Budaya. Agus Indiyanto dan Arqom Kuswanjono (Penyuntin. (Bandung: Mizan Pustaka bekerjasama dengan CRCS Yogyakarta, 2. , h. Mengenai sebab bencana dapat dilihat dalam Lotte Kemkens. On the Connections between Religion and Disaster, h. Lotte Kemkens. On the Connections. , h. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 terpisahkan antara hidup atau kehidupan dengan lingkungan. Maka disebutlah dengan Aolingkungan hidup. Ao Lingkungan hidup dipahami sama artinya dengan ekologi, yakni berkaitan dengan kehidupan organisme . ermasuk manusi. dan ekosistemnya serta interaksi di antaranya. Sesungguhnya, menghubungkan persolan ekologi dengan agama . alam hal ini Isla. bukanlah sebuah upaya baru. Di kalangan agamawan, kepedulian akan lingkungan muncul sejak tahun 1970-an, sebagai akibat dari tumbuhnya kesadaran umum tentang ekologi tahun 1960-an. Respon kalangan agamawan ini bermula dari artikel karya Lynn White. Jr pada jurnal Science pada 1967. 11 White, di dalam artikelnya itu, menegaskan bahwa persoalan lingkungan berakar dari keyakinan agama. Agama dipandang sebagai akar dari asumsi-asumsi yang mendasari perubahan perlakuan manusia atas lingkungan, seiring dengan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Sejak saat itulah, perdebatan teologi-ekologi . mulai diperbincangkan. Pandangan White ini, menurut Ian Barbour, meskipun tidak sepenuhnya benar, tetapi setidaknya memancing para agamawan, termasuk di dalamnya para agamawan Islam, untuk melakukan refleksi kritis tentang relasi Tuhan dan alam, serta manusia dan alam lingkungan dalam kitab suci al-QurAoan. Hubungan manusia dengan alam dalam al-QurAoan di mana manusia berkedudukan sebagai khalifah, harus juga dilihat dari segi penundukan . dan kehambaan . l-Aoubdiyya. Manusia selaku khalifah di bumi . l-Baqarah ayat . dilengkapi dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan . l-Baqarah ayat . dan ditundukkannya alam semesta dan seisinya untuk manusia. Allah lah yang menundukkan langit dan bumi dan seisinya . l-JAthiyah/45:12-. , bukan Oleh karena itu, meskipun manusia sebagai khalifah diberi kuasa untuk mengelola dan memelihara alam, kedudukan manusia dengan alam semesta adalah setara di hadapan Allah. 12 Lebih jauh, menurut Nasr, sebagai hamba Allah, manusia Sonny Keraf. Filsafat Lingkungan Hidup: Alam sebagai Sebuah Sistem Kehidupan (Yogyakarta: Kanisius, 2. , h. Kaveh L. Afrasiabi. AuToward an Islamic Ecotheology,Ay dalam Islam and Ecology: A Bestowed Trust. Richard C. Folt. Frederick M. Denny dan Azizan Baharuddin . (Massachutetts: The President and Fellows of Harvard College, 2. , h. Muhammd Quraish Shihab. Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1. , h. Seyyed Hossein Nasr. AuSacred Science and the Environmental Crisis: an Islamic Perspective,Ay dalam Islam and the Environment. Harfiyah Abdel Haleem . ) (London: Taha Publishers LTD, 1. , h. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan bertindak pasif dan hanya menerima karunia yang diberikan Allah kepadanya. sisi lain, sebagai khalifah, ia harus aktif menjaga kelestarian alam dan mengelolanya bagi kemanfaatan semua makhluk. Sesungguhnya, ketika membahas manusia dan alam . , pembahasan posisi Tuhan tidak mungkin diabaikan. Alasannya, ketika membahas relasi manusia dan alam, peran dan keberadaan Tuhan juga, mau atau tidak mau. Oleh karena itu, di samping relasi antara manusia dan alam semesta, ada dua relasi yang lain: . relasi manusia dan Tuhan. relasi alam semesta dan Tuhan. Untuk memahami salah satu dari tiga relasi tersebut, relasi manusia dan alam misalnya, dua relasi yang lain akan sangat membantu untuk memahami relasi tersebut. Masing-masing dari ketiga relasi di atas memiliki elemen penting yang membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan. Relasi antara alam semesta dan Tuhan dihubungkan dengan konsep penundukan . relasi antara manusia dan Tuhan dihubungkan dengan konsep kehambaan (Aoab. relasi antara manusia dan alam semesta adalah relasi khalfah dan amAnah. Sampai di sini, kita dapat membangun pandangan keagamaan terhadap ekologi . co-theolog. Tiga relasi di atas, menurut penulis, adalah sebuah sistem yang terstruktur, yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Tiga relasi di atas menunjukan betapa zat yang paling memiliki kekuasaan adalah Tuhan, sehingga semua ciptaanya akan tunduk terhadapnya, termasuk manusia, inilah yang kemudian menjadi konsep Aoabd. Apabila konsep Aoabd, maka hal itu bisa dijelaskan bahwa manusia dianugerahi potensi sebagai khalfah dan dibekali dengan penundukan . alam semesta baginya. akan tetapi kemampuan dan penundukan tersebut diimbangi dengan tanggung jawabnya melalui elemen amAnah dan Aoabd. Ranggawarsita dan AoZaman EdanAo Menurut Simuh, 14 yang pernah meneliti teks Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita, belum ada suatu karya biografis AuilmiahAy tentang Ranggawarsita. Menurutnya, yang ada hanya berupa karya-karya yang sifatnya narasi yang belum Muhammd Quraish Shihab. Membumikan al-Quran. , h. Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Suatu Studi terhadap Serat Wirid Hidayat Jati (Jakarta: UI Press, 1. , h. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 dapat dianggap ilmiah, karena masih bercampur dengan cerita-cerita mitos di Karya-karya mengenai kehidupan Ranggawarsita yang disebut oleh Simuh adalah: pertama, hasil survei Padmawarsita yang masih dalam bentuk tulisan tangan . berhuruf latin, ditulis pada tahun 1908 M. Kedua. Serat Babad Lelampahanipun Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang disusun oleh Padmawidagda dan Honggopradoto. Keduanya adalah cucu dan buyut Ranggawarsita. Karya ini sudah dicetak pada tahun 1931 dengan huruf latin berbahasa Jawa. Dari kedua karya tersebutlah. Simuh merekonstruksi mengenai kehidupan Ranggawarsita, dan tulisan ini pula banyak merujuk pada karya Simuh tersebut yang dielaborasi dengan beberapa sumber lain. Nama asli atau nama kecil Ranggawarsita adalah Bagus Burham. Ia lahir pada 15 Maret 1802, dan wafat pada tahun 1873. Ia berasal dari keluarga Yasadipuran, keturunan pujangga istana Surakarta, dan dididik oleh pujangga Yasadipura II, 15 Adapun Yasadipura I, kakek buyutnya, adalah seorang pujangga besar istana pula, yang dalam beberapa literatur disebut banyak menggubah kembali karya-karya sastra Jawa kuna, dan dikenal sebagai pembangkit kepustakaan Jawa pada masa Surakarta awal. Keluarga Ranggawarsita adalah keluarga santri, artinya mereka pernah mengeyam pendidikan pesantren. Dapat dicatat. Ranggawarsita pernah belajar di Pesantren Tagal Sari Ponorogo dibawah asuhan Kiai Hasan Besari. Hal ini tidak seperti kebanyakan anggapan bahwa mereka adalah orang kejawen, sehingga selalu lebih mengunggulkan aspek-aspek kejawaannya saja dari pada keislamannya. Sejak dari Yasadipura I. Yasadipura II, hingga Ranggawarsita . okoh pujangga penutu. sangat akrab dengan teks-teks keislaman. Yasadipura I, kakek buyut Ranggawarsita, diperkirakan yang menggubah versi Jawa dari teks Tajusalatin, yang banyak mengutip ayat-ayat al-QurAoan. Yasadipura I juga adalah yang mengarang Serat Cabolek, sebuah teks yang diantaranya menceritakan perdebatan antara kalangan ulama kerajaan dengan seorang tokoh sufi17Ai teks yang menurut Lihat Simuh, h. Lihat juga Ahmad Norma. AoPujangga Rakyat Ronggowarsito,Ao dalam Ronggowarsito. Zaman Edan (Yogyakarta: Penerbit Forum, 2. , h. Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja. Kepustakaan Djawa (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1. Soebardi. The Book of Cabolek: A Critical Edition with Introduction. Translation and Notes: A Contributionto the Study of the Javanese Mystical Tradition (Leiden: KITLV, 1. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan Florida bersifat intertekstual. 18 Sementara Yasadipura II, kakek Ranggawarsita, adalah tiada lain pengarang sebuah teks Jawa yang sudah banyak dikenal. Serat Centhini, sebuah teks yang banyak juga terdapat ide-ide Islam didalamnya. 19 Adapun Ranggawarsita sendiri,20 selain banyak mengarang teks-teks Jawa lainnya, dikenal sebagai pengarang teks tasawuf. Serat Wirid Hidayat Jati. Adapun teks-teks yang dibahas di sini adalah teks-teks yang menyiratkan kegelisahan Ranggawarsita akan situasi zaman yang serba semrawut, yang diakhiri dengan sebuah ramalan akan sebuah zaman gilang gemilang. Teks-teks tersebut adalah Serat Kalatidha . aman eda. Serat Sabda Jati . abda kesejatia. Serat Sabdatama . asihat utam. Serat Jaka Lodhang (Jaka Lodhan. , dan Serat Wedharage . edoman dir. Keempat teks inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi satu dalam sebuah buku Zaman Edan, sehingga penulis sebut sebagai teks-teks Zaman Edan. Frasa Aozaman edanAo menjadi judul yang mengumpulkan teks-teks lainnya bukan tanpa alasan. Selain. Aozaman edanAo sudah menjadi istilah yang terkenal bagi masyarakat untuk menunjukkan tentang situasi masa yang kacau, juga teks-teks tersebut dianggap memiliki keseragaman, baik dalam tema, melainkan juga bahasa dan terminologi: tentang masa depan bangsa, penyelewengan moral penguasa, penderitaan rakyat, kutukan zaman, nasihat moral-spiritual, serta harapan zaman Beberapa penulis atau sarjana, seringkali mengaitkan Serat Kalatidha, dan teks-teks lainnya sebagaimana disebut di atas, dengan kritik sosial Ranggawarsita terhadap situasi zamannya. Termasuk penyunting dan penerjemah teks-teks yang dikaji dalam tulisan ini, meskipun menurutnya masih ada Auharta karunAy budaya yang dapat dipelajari dari teks-teks tersebut. 22 Kritik-kritik sosial tersebut Nancy K. Florida. AuPada Tembok Keraton Ada Pintu: Unsur Santri dalam Dunia Kepujanggaan AuKlasikAy di Keraton Surakarta,Ay dalam Tradisi Tulis Nusantara. Karsono H. Saputra (Peny. ) (Depok: Masyarakat Pernaskahan Nusantara, 1. , 167-190. Soebardi mencatat bahwa banyak terdapat unsur-unsur AuIslam santriAy di dalam teks ini, yang diantaranya ditunjukkan dengan banyaknya teks-teks kitab fikih yang cukup dikenal di kalangan Lihat Soebardi. AuSantri-Religious Elements as Reflected in the Book of Tjentini,Ay Bijdragen tot de Taal-. Land-en Volkenkunde (Leiden: KITLV) Vol. 127/1971. No: 3, h. Untuk pembahasan karya-karya Ranggawarsita, lihat Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja. Kepustakaan Djawa, h. Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, h. Ahmad Norma. AoPujangga Rakyat Ronggowarsito,Ao dalam Ronggowarsito. Zaman Edan (Yogyakarta: Penerbit Forum, 2. , h. Ibid. , h. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 biasanya mengaitkan dengan nilai-nilai etika dan ajaran-ajaran agama yang terhubung dengan kearifan lokal . ocal wisdo. Putut Setiadi misalnya, berpendapat bahwa Serat Kalatidha . tau Zaman Edan. merupakan sebuah karya puitis yang menyampaikan sistem kognisi dan kearifan lokal Jawa, yang dapat membentuk pendidikan karakter, dalam hubungannya dengan agama, etika, moral dan sikap kepemimpinan yang baik. Padahal, jika dicermati dan ditafsirkan lebih dalam, teks-teks tersebut dapat mengandung sebuah konsep teologi lingkungan . co-theolog. Tentu saja, untuk membangun sebuah konsep tersebut. Ranggawarsita merasa perlu memberikan kritik-kritik terlebih dahulu terhadap situasi zaman di masa ia hidup, hingga munculah istilah Aozaman bencana. Ao Teologi Lingkungan Ranggawarsita Menurut Ranggawarsita, kerusakan lingkungan diawali dengan keserakahan Ia mengungkapkan dalam Nasihat Utama: Membongkar gunung-gunung melahap hutan-hutan tanpa ada yang berani mencegah takut karena semburan ludah yang beracun dan mematikan24 Meskipun ajaran agama dan pesan-pesan bijak telah diberikan, tetapi itu semua tidak memberikan dampak bagi hilangnya keserakahan manusia. Hanya karena ingin memuaskan hawa nafsunya, lingkungan alam dirusak oleh manusia. Segala mantra dan kitab suci runtuh tanpa daya kekuatan lagi ibarat telah padam nyala matahari ular kepala dua mengambil kesempatan lewat mulut dan dubur lahap memakan25 Putut Setiadi. AuDiscourse Analysis of Serat Kalatidha: Javanese Cognition System and Local Wisdom,Ay Asian Journal of Social Sciences & Humanities. Vol. 2 No. 4/2013. Ranggawarsita. AuNasihat Utama,Ay dalam Zaman Edan Ronggowarsito. Ahmad Norman (Penyuntin. (Yogyakarta: Forum, 2. , h. Ibid. , h. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan Sebagaimana disebutkan oleh Franz Magnis Suseno,26 bagi orang Jawa, masyarakat dan alam merupakan lingkup kehidupan orang Jawa sejak kecil. Melalui masyarakat, ia berhubungan dengan alam. Irama-irama alamiah seperti siang dan malam, musim hujan dan musim kering menentukan kehidupannya sehari-hari dan seluruh perencanaannya. Dari lingkungan sosial, orang Jawa belajar bahwa alam bisa mengancam, tetapi juga memberikan berkat dan Ia berpandangan bahwa seluruh eksistensinya tergantung dari Melalui lingkungannya, ia belajar untuk berhubungan dengan alam, irama alam menjadi iramanya juga, dan ia belajar apa yang harus dikerjakannya di saat yang sesuai. Begitu juga, kekuatan-kekuatan alam disadarinya dalam peristiwaperistiwa penting kehidupan seperti kehamilan, kelahiran, kematangan seksual, pernikahan, tua dan muda serta dalam hal kematian. Tetapi, alam tidaklah terkait dengan alam empiris semata, alam bagi orang Jawa juga sangat terkait dengan Aoalam gaibAo atau sebuah dimensi yang membawahi atau menguasai alam empiris ini, yang kemudian disebut dengan sangkan paran . empat asal tujua. 27 Dalam tradisi Islam, yang kemudian menyatu dalam tradisi Jawa . ehingga menjadi Islam Jaw. , sangkan paran itulah yang disebut Gusti Allah. Sehingga dalam sistem pandangan dunia Jawa, dikenal dua unsur, yakni lahir dan batin, jagad cilik . dan jagad gedhe . , di mana keduanya selalui sesuai dengan sangkan paran. Maka dalam banyak tempat, teks-teks Zaman Edan ini. Ranggawarsita banyak menyebut Aemenyebut kekuasaan Tuhan di dalamnya. Misalnya dalam AuNasihat UtamaAy: Keberhasilan zaman yang terasa terbawa oleh saatnya kehendak Allah yang Mahatahu kepastian telah turun bagai wahyu tak akan dapat pernah di lawan. Franz Magnis Suseno. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijksanaan Hidup Jawa (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2. , h. Ibid. , h. Ranggawarsita. AuNasihat Utama,Ay h. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 Bahkan dalam AuKabar KepastianAy disebutkan bahwa: Tidak percaya kekuasaan Tuhan yang merakit alam penuh berisi siapa yang mencari akan mendapatkan keberuntungan akan mendatangi kemurahan yang Mahatinggi29 Tampak dari kutipan bait-bait tersebut. Ranggawarsita sangat menunjukkan adanya kesatuan antara alam, manusia dan Tuhan. Memang, ia tidak menyebutkan bencana apa yang dimaksud dalam teks-teks tersebut, tetapi dari beberapa kutipan itu, tampak jelas bagaimana pandangannya mengenai hubungan alam, manusia dan Tuhan, yang hal ini dapat menjadi basis bagi konsep teologi lingkungan . Pandangan ini dapat juga ditemukan dalam karya Ranggawarsita yang Misalnya dalam Serat Wirid Hidayat Jati, ia menyebut manunggaling kawula-gusti . enyatunya hamba-Tuha. 30Ini sebetulnya juga menyarankan pada manunggaling jagad gedhe-jagad cilik . enyatunya alam besar-kecil/menyatunya makrokosmosmikrokosmo. , menyatunya kehidupan manusia dengan alam yang pada akhirnya menyatunya kehidupan manusia dengan Tuhan . ang Illah. Menurut Keraf,32 pandangan seperti ini sesuai dengan apa yang ditekankan oleh penganut deep ecology,33 yang berpandangan bahwa ada kesatuan asasi antara Auyang satuAy dan alam semesta. Karena itu, lelaku kehidupan manusia harus diselaraskan secara harmonis dengan alam dan Sang Pencipta, dalam sebuah pola relasi dan laku kehidupan yang saling merawat, saling memelihara, saling menghargai dan saling peduli. Memelihara dan melindungi alam dihayati juga sebagai memelihara dan melindungi diri sendiri, yakni kehidupan manusia. Ranggawarsita. AuKabar Kepastian,Ay dalam dalam Zaman Edan Ronggowarsito. Ahmad Norman (Penyuntin. (Yogyakarta: Forum, 2. , h. Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, h. Sonny Keraf. Filsafat Linkungan Hidup, h. Ibid. , h. Banyak pengertian mengenai deep ecology ini, namun di antara ciri pokoknya adalah, sebuah pandangan dunia atas alam dan manusia yang saling terkait, serta adanya orientasi spiritual dalam memandang dunia sebagai Auyang suci. Ay Lihat David Landis Barnhill dan Roger S. Gotlieb. AuIntroduction,Ay dalam Deep Ecology and World Religions: New Essays on Sacred Grounds. David Landis Barnhill dan Roger S. Gotlieb . (Albany: State University of New York Press, 2. , h. Teologi Lingkungan Ranggawarsita: Kajian Terhadap Teks-Teks Zaman Edan Menurut Simuh,34 konsep manunggaling kawula-gusti yang terdapat dalam Serat Wirid Hidayat Jati itu erat kaitannya dengan istilah Aoabd . dan Rabb (Tuhan yang mengasuh, memelihara, memiliki, dan menguasa. dalam Islam. Dalam konsepsi teologi lingkungan dalam Islam, sebagaimana yang telah dijabarkan di atas, diketahui istilah-istilah Aoabd, khali>fah, taskhi>r, dan taAoabbud, ketiganya dihubungkan dengan Rabb sebagai Sang Pencipta ketika dihubungan dengan alam ciptaannya. Manusia . amba/Aoab. bukanlah diciptakan sekadar sebagai hamba yang diperintah mengabdi kepada Penciptanya, tetapi ia juga diciptakan sebagai khali>fah . Tuhan untuk memakmurkan . alam hal ini konsep taskhi>r/menunduka. bumi dan alam semesta ini. Perintah taskhi>r lalu dibatasi dengan perintah taAoabbud . enghambaan terhadap Tuha. Tentu saja dalam perintah penghambaan ini, manusia harus juga AumeniruAy apa yang dilakukan Sang Penciptanya dalam memperlakukan alam (Rabb: Tuhan yang mengasuh, memelihara, memiliki, dan Oleh karena tidak ada keseimbangan antara fungsi Aoabd dan khali>fah dengan alam dan Tuhan, maka yang terjadi adalah bencana dan krisis lingkungan. Konsepsi ini, jika dicermati, berkesesuaian dengan dengan ayat yang seringkali dikutip tentang akibat manusialah kerusakan alam terjadi . l-Rum ayat 40 dan juga al-Hajj ayat 45-. Surat al-Hajj ayat 45-46 misalnya, sebenarnya memberikan informasi tentang akhir perjalanan suatu kaum yang zalim, meskipun begitu, ayat ini juga memberikan gambaran tentang dampak dari suatu bencana besar, yang pernah terjadi di masa lalu, yaitu banyak bangunan yang roboh, sumur-sumur tercemar, beberapa rumah yang masih berdiri namun sudah ditinggal pergi penghuninya, yang kesemuanya merupakan gambaran umum dari dampak suatu Memang, tidak semuanya sebagai akibat langsung dari ulah manusia. Namun ungkapan Aukarena penduduknya dalam keadaan zalimAy dalam ayat tersebut . l-Hajj ayat 45-. seharusnya dipandang sebagai sebab atas terjadinya bencana alam atau lingkungan meski tidak langsung. Ini menjadi cukup penting dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan bencana agar tepat dan komprehensif, sehingga tidak hanya mengandalkan pemulihan dan penanggulangan yang bersifat fisik, tetapi juga, yang tak kalah penting, melakukan perubahan dari sisi sikap Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, h. Lajnah Pentashih Mushaf al-QurAoan. Tafsir Al-QurAoan Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. AKADEMIKA. Vol. No. Juli - Desember 2014 Simpulan Jika merujuk pada beberapa pandangan mengenai relasi manusia dengan lingkungan alam yang diurai oleh beberapa sarjana, maka pandangan teologi lingkungan yang ditafsirkan dari teks-teks AoZaman EdanAo dapat dimasukkan dalam pandangan Aukekerabatan manusia dengan semua makhlukAy atau yang dapat disebut dengan deep ecology. Dalam pandangan ini, kelestarian lingkungan dan bencanaya akan selalu terkait dengan hubungan antara manusia sebagai hamba dan khalifah dengan Tuhan sebagai Pencipta dan alam semesta. Konsep teologi lingkungan Ranggawarsita memadukan antara nilai-nilai kearifan lokal Jawa dengan ajaran Islam. Hal ini sangat dimungkinkan dengan kondisi dan konteks sosial budayanya, yakni sebagai seorang santri sekaligus sebagai priyayi Jawa. REFERENSI