UNES Journal of Education Volume 1. Issue 4. Agustus 2017 P-ISSN 2549-4201 E-ISSN 2549-4791 Open Access at: http://journal. univ-ekasakti-pdg. PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS XI NFLUENCE OF REALISTIC MATHEMATIC LEARNING APPROACH (PMR) ON THE ABILITY OF MATHEMATICS CLASSROOM XI Yurnalis. Rika Gusti Rahmi. Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMSB E-mail: Ena_yurnalis@ymail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Kata kunci: Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika yang mengajar dikelas XI SMK N 2 Padangpanjang diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran matematika kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah. Ketika diberikan suatu permasalahan matematika siswa belum mampu menentukan model matematika dari permasalahan pada soal yang diberikan. Sehingga berdampak pada hasil belajar siswa. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMK N 2 Padangpanjang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dengan rancangan One Group Pretest Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI SMK N 2 Padangpanjang yang terdaftar pada tahun pelajaran 2016/2017. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI RPL Analisis data untuk menguji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis t_hitung=22,24,t_tabel=2,11. Karena 22,24>2,11 maka H_0 ditolak. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI. realistis, matematika, pemecahan masalah Copyright A 2017 JE. All rights reserved. P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords: Based on the results of interviews with teachers who teach math class XI SMK N 2 Padangpanjang obtained information that in learning mathematics problem solving ability of students is still low. When given a mathematical problem students have not been able to determine the mathematical model of the problem on the given So that impact on student learning outcomes. Efforts that can be done to overcome these problems is to apply Realistic Mathematics Learning (PMR). The purpose of this study is to determine whether the Realistic Mathematics Learning Approach (PMR) has an effect on the problem solving ability of mathematics students of class XI SMK N 2 Padangpanjang. This type of research is experimental research, with the design of One Group Pretest Posttest Design. The population in this study were all students of class XI SMK N 2 Padangpanjang registered in the academic year 2016/2017. Sampling is done by using random sampling technique. Samples in this study are class XI RPL 1. Data analysis to test the hypothesis in this study using the t-test. Based on hypothesis test result thitung = 22,24, ttabel = 2,11. Because 22. 24> 2. 11 then H0 is Based on the above, it can be concluded that Realistic Mathematics Learning Approach (PMR) has an effect on students problem solving ability of mathematics class XI. problem solving Copyright A 2017 JE. All rights reserved. PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting terhadap berbagai disiplin ilmu, dan mengembangkan daya pikir manusia. Menurut Hudojo . 1: . AuMatematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berfikirAy. Oleh karena itu matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang mempunyai peranan penting dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Peranan yang dimiliki diantaranya disebabkan karena matematika bersifat logis, rasional dan eksak, sehingga menunjang perkembangan cabang-cabang ilmu lainnya. Dalam perkembangannya ternyata banyak konsep matematika yang diperlukan untuk perhitungan suatu masalah dan untuk membantu menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Perlunya penguasaan matematika tidak hanya sekedar perhitungan dasar, lebih dari itu dalam Permendiknas No 22 tahun 2006 dijelaskan bahwa kompetensi yang diharapkan agar tercapai dalam pembelajaran matematika salah satunya: Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Berdasarkan kompetensi tersebut aspek pemecahan masalah merupakan kemampuan yang harus dimiliki siswa sehingga mampu menafsirkan solusi yang diperoleh. UNES Journal of Education. : 311-322 Untuk itu, pembelajaran matematika di sekolah harus mampu menyiapkan siswa untuk memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang baik. Berdasarkan wawancara dan observasi XI SMK N 2 Padangppanjang. hasil belajar siswa masih randah disebabkan semangat siswa dalam belajar masih rendah dan motivasi siswa dalam belajar matematika masih kurang, hal ini terlihat dalam proses pembelajaran, siswa malas mencatat dan mengerjakan latihan yang diberikan. Disamping itu siswa masih banyak yang tidak aktif dalam diskusi yang dilakukan dan sedikit sekali siswa yang mampu merubah soal cerita ke model matematika. Model pembelajaran yang digunakan guru adalah model pembelajaran kooperatif, dimana siswa dibagi dalam beberapa kelompok belajar. Namun kenyataannya siswa masih jauh dari yang diharapkan, siswa belum mampu menemukan konsepnya sendiri dan berkolaborasi dengan temannya. Disamping itu sedikit sekali siswa yang mampu merubah soal cerita ke model matematika. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih kurang, siswa belum mampu menggunakan konsep dan rumus yang diperlukan dalam pemecahan masalah karena sulitnya siswa membayangkan masalah yang diberikan. Kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah, peneliti melakukan tes tertulis kepada siswa tentang menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan SPLDV. Gambar 1. Soal Kemampuan Pemecahan Masalah yang Dikerjakan Siswa Untuk skor penilaian jawaban siswa di atas dapat dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian dengan indikator pemecahan masalah yaitu: Kemampuan mengidentifikasi masalah. Kemampuan merencanakan penyelesaian masalah Kemampuan menyelesaikan masalah Kemampuan menafsirkan solusi Berdasarkan jawaban siswa diatas, setelah dilakukan analisis berdasarkan indikator pemecahan masalah, diperoleh nilai untuk kemampuan mengidentifikasi masalah 0. P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 kemampuan merencanakan penyelesaikan masalah 0, kemampuan menyelesaikan masalah 3, dan kemampuan menafsirkan solusi 0, sehingga jumlah skor yang diperoleh siswa adalah 3 sedangkan skor total adalah 16. Dari data yang didapatkan terlihat bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal masih rendah, siswa tidak menuliskan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal, tidak menuliskan rumus sama sekali, tidak memberikan jawaban yang lengkap dan tidak menafsirkan solusi dari soal. Setiap siswa memiliki kemampuan dan keterampilan yang berbeda, untuk itu seorang guru dengan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya diharapkan dapat untuk memilih dan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Salah satu usaha untuk menggali dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah dengan menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Pendekatan Matematika Realistik adalah pendekatan pembelajaran dalam matematika berdasarkan pada Realistic Mathematics Education (RME), yang pertama kali dikembangkan di Negeri Belanda oleh Freundenthal pada tahun 1991. Menurut Freudenthal AuMatematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusiaAy yang melandasi pengembangan Pendidikan Matematika Realistik (Realistic Mathematics Education. Kata AurealistikAy berasal dari bahasa Belanda Auzich realiserenAy yang berarti Auuntuk dibayangkanAy (Wijaya, 2012:. Suatu masalah disebut AurealistikAy jika masalah tersebut dapat dibayangkan atau nyata dalam pikiran siswa. Pada pembelajaran matematika realistik bisa bermakna bila dikaitkan dengan kenyataan . dalam kehidupan di masyarakat yang di alami Selain sebagai suatu proses aktivitas, tidak hanya sebagai suatu produk yang dijadikan bahan ajar. Menurut Murdani . langkah-langkah dalam Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) yaitu: Memahami masalah konstekstual Guru memberikan masalah . konstekstual dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut. Jika ada bagian-bagian tertentu yang kurang dipahami oleh siswa, maka siswa yang memahami bagian itu diminta menjelaskannya kepada temannya yang belum paham. Jika siswa yang belum paham tadi merasa tidak puas, guru menjelaskan lebih lanjut dengan cara memberi petunjuk-petunjuk atau saran-saran terbatas . tentang situasi dan kondisi masalah . Petunjuk dalam hal ini berupa pertanyaan-pertanyaan terbatas yang menuntun siswa untuk memahami masalah . Pada tahap ini, karakteristik PMR yang muncul adalah menggunakan konstekstual dan interaksi. Menyelesaikan masalah konstektual Siswa secara individual disuruh menyelesaikan masalah konstektual yang Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan UNES Journal of Education. : 311-322 pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengarahkan siswa memperoleh penyelesaiaan soal. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk menemukan kembali tentang konsep atau prinsip melalui masalah konstekstual yang diberikan. Disamping itu, pada tahap ini siswa juga di arahkan untuk membentuk dan menggunakan model sendiri untuk membentuk dan menggunakannya guna memudahkan menyelesaikan masalah . Guru diharapkan tidak memberi tahu penyelesaian soal atau masalah tersebut, sebelum siswa memperoleh penyelesaiannya sendiri. Pada langkah ini karakteristik PMR yang muncul adalah menggunakan model dan interaksi. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban Siswa diminta untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban mereka dalam kelompok kecil. Setelah itu, hasil dari diskusi itu dibandingkan pada diskusi kelas yang dipimpin oleh guru. Pada tahap ini dapatdigunakan untuk melatih keberanian mengemukakan pendapat, meskipun berbe da dengan teman lain atau bahkan dengan gurunya. Karakteristik PMR yang muncul pada tahap ini adalah penggunaan ide atau pemanfaatan hasil konstruksi siswa dan interaksi antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan sumber Menyimpulkan Berdasarkan hasil diskusi kelas yang dilakukan, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan tentang konsep, defenisi, teorema, prinsip atau prosedur matematika yang terkait dengan masalah konstektual yang baru diselesaikan. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah interaksi antara guru dan siswa dan kontribusi siswa. Pemecahan masalah didefinisikan oleh Polya . alam Hudojo, 2003:. yaitu Ausebagai upaya mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, mencapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapaiAy. Karena pemecahan masalah merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual tinggi, maka pemecahan masalah harus didasarkan atas struktur kognitif yang dimiliki siswa. Untuk dapat memecahkan suatu masalah, seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan dankemampuan yang ada kaitannya dengan masalah tersebut. Pengetahuan-pengetahuan dan kemampuan-kemampuan itu harus diramu dan diolah secara kreatif, dalam rangka memecahkan masalah yang bersangkutan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMK N 2 Padang Panjang. METODE PENELITIAN Arikunto . menyatakan bahwa AuPopulasi adalah keseluruhan subjek penelitianAy. Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XISMK N 2 Padang Panjang tahun pelajaran 2016/2017. P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 Tabel 1. JumlahsiswaKelasXI SMK N 2 Padang Panjang Kelas XI TKJ 1 XI TKJ 2 XI TKJ 3 XI RPL 1 XI RPL 2 XI MM 1 XI MM 2 XI TP Sumber: Guru Matematika SMK N 2 Padang Panjang Jumlah Siswa Sampel adalah himpunan bagian dari populasi yang diteliti. Menurut Arikunto . mengatakan AuSampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan ditelitiAy. Untuk mendapatkan sampel yang representatif dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, uji normalitas dilakukan dengan uji liliefors diperoleh bahwa populasi berdistribusi normal dan uji homogen menggunakan uji barlett Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh Karena maka Ho diterima (Populasi homoge. , maka untuk mengambil kelas eksperimen digunakan teknik random sampling . yang terambil sebagai kelas eksperimen adalah kelas XI RPL 1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), variabel terikat pada penelitian ini adalah Kemampuan Pemecahan Masalah siswa. Instrumen penelitian ini soal tes berbentuk essay diberikan sebanyak dua kali yaitu tes di awal . pembelajaran guna mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum diterapkan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika dan tes di akhir . pembelajaran guna mengetahui hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah diterapkan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran serta mengetahui perkembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Sebelumnya soal tes di uji cobakan kemudian dianalisis dengan mencari validitas tes, reliabilitas, daya pembeda soal, indeks kesukaran soal diperoleh validitas soal 1, 2, 3 tinggi dan validitas soal 4 sangat tinggi. Dari perhitungan reliabilitas diperoleh Dilihat dari kriterianya maka soal uji coba mempunyai reliabilitas yang tinggi, indeks pembeda soal no 1, 3, 4 signifikan sedangkan no 2 tidak signifikan dan indeks kesukaran soal berada pada kategori Diperoleh klasifikasi tes uji coba seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Analisis Soal Tes Uji Coba No Daya Pembeda 5,40 1,76 3,66 5,36 Kriteria Signifikan TidakSignifikan Signifikan Signifikan Indeks Kesukaran (%) 59,38 58,75 63,75 43,13 Kriteria Sedang Sedang Sedang Sedang Klasifikasi Dipakai Diperbaiki Dipakai Dipakai UNES Journal of Education. : 311-322 Uji hipotesis dalam penelitian ini berguna untuk melihat apakah pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam pembelajaran matematika. Pengujian dari Hipotesis akan diuji dengan Uji-t, karena hasil tes berdistribusi normal dan Berdasarkan Karena Hal ini berarti perlakuan yang diberikan berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Pada penelitian ini, hasil belajar matematika siswa didapatkan melalui tes. Tes dilaksanakan dua kali yaitu sebelum pembelajaran diberikan . dan setelah pembelajaran diberikan . Pretest dan posttest memiliki soal yang sama yaitu berbentuk uraian sebanyak 4 butir dengan alokasi waktu Pretest dan posttest diikuti oleh siswa kelas XI RPL 1terdiri dari 18 siswa pada materi Statistika. Distribusi nilai pretest dan posttest siswa. Tabel 3. Distribusi Nilai Pretest dan Posttest Siswa Pretest Posttest Point Peningkatan 17,19 92,19 75,00 25,00 89,06 64,06 17,19 84,38 67,19 18,75 73,44 54,69 25,00 85,94 60,94 28,13 87,50 59,37 25,00 96,88 71,88 28,13 96,88 68,75 25,00 79,69 54,69 23,44 76,56 53,12 28,13 95,31 67,18 12,50 76,56 64,06 23,44 73,44 50,00 15,63 96,88 81,25 21,88 78,13 56,25 23,44 81,25 57,81 17,19 71,88 54,69 37,50 98,44 60,94 22,92 85,25 62,34 37,50 98,44 12,50 Sumber: Olahan data pretest dan postest 71,88 P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa nilai tertinggi pretest adalah 37,50 dan nilai tertinggi posttest adalah 98,44. Sedangkan nilai terendah pretest adalah 12,50 dan nilai terendah posttest adalah 71,88. Siswa yang tuntas dengan nilai Ou 75 sesuai dengan KKM 75 adalah sebanyak 15 orang. Rata-rata nilai pretest adalah 22,92 dan rata-rata nilai posttest adalah 85,25, sedangkan peningkatan rata-rata nilai pretest ke posttest adalah 62,34. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kemampuan Mengidentifikasi Masalah Berdasarkan analisis yang dilakukan pada lembar jawaban pretest dan posttest siswa, dideskripsikan hasil perkembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tersebut dalam mengidentifikasi masalah. Tabel 4. Rata-Rata Kemampuan Siswa dalam Mengidentifikasi Masalah No Soal Pretest Posttest 2,72 3,28 2,94 1,94 4,00 3,94 0,78 4,00 Sumber: Olahan data indikator 1 BerdasarkanTabel 4 rata-rata kemampuan siswa dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Gambar 1. Grafik Perkembangan Kemampuan Siswa dalam Mengidentifikasi Masalah Matematika Berdasarkan Tabel 4 dan Gambar 1 terlihat bahwa kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah matematika mengalami perubahan. Pada soal no 1 sampai4 rata-rata kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah pada pretest mengalami peningkatan pada posttest. Perkembangan tertinggi rata-rata kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah matematika terjadi pada soal no 4 sebanyak 3,22 dan perkembangan terendah terjadi pada soal no 1 sebanyak 0,56. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam mengidentifikasi masalah meningkat setelah diterapkan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika. UNES Journal of Education. : 311-322 Kemampuan Merencanakan Penyelesaian Masalah Berdasarkan analisis yang dilakukan pada lembar jawaban pretest dan posttestsiswa, dideskripsikan hasil perkembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam merencanakan penyelesaian masalah Tabel 5. Rata-Rata Kemampuan Siswa Dalam Merencanakan Penyelesaian Masalah Matematika No Soal Pretest Posttest 0,22 0,78 3,06 3,06 0,00 0,00 3,56 3,94 Sumber: Olahan data indikator 2 Berdasarkan Tabel 5 rata-rata kemampuan siswa dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti pada Gambar 2. Gambar 2. Grafik Perkembangan Kemampuan Siswa dalam Merencanakan Penyelesaian Masalah Matematika Berdasarkan Tabel 5 dan Gambar 2 terlihat bahwa kemampuan siswa dalam merencanakan penyelesaian masalah matematika mengalami perubahan. Pada soal no 1 sampai 4 rata-rata kemampuansiswa dalam merencanakan penyelesaian masalah padapretest mengalami peningkatan pada posttest. Perkembangan tertinggi rata-rata kemampuan siswadalam merencanakan penyelesaian masalah terjadi pada soal no 1 sebanyak 3,94 dan perkembangan terendah terjadi pada soal no 2 sebanyak 2,28. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam merencanakan penyelesaian masalah meningkat setelah diterapkan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika. Kemampuan Menyelesaikan Masalah Berdasarkan analisis yang dilakukan pada lembar jawaban pretest dan posttest siswa, dideskripsikan hasil perkembangan kemampuanpemecahan masalah matematika siswa dalam menyelesaikan masalah. Hasil perkembangan tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 3. P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 Tabel 6. Rata-Rata Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika No Soal Pretest Posttest 1,44 2,00 3,72 3,56 1,06 3,67 0,00 3,89 Sumber: Olahan data indikator 3 Berdasarkan tabel 6 rata-rata kemampuan siswa dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 3. Gambar 3. Grafik Perkembangan Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Berdasarkan Tabel 6 dan Gambar 3 terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah mengalami perubahan. Pada soal no 1 sampai 4 rata-rata kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah padapretest mengalami peningkatan pada posttest. Perkembangan tertinggi rata-rata kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah terjadi pada soal no 4 sebanyak 3,89 dan perkembangan terendah terjadi pada soal no 2 sebanyak 1,56. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah meningkat setelah diterapkan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika. Kemampuan Menafsirkan Solusi Berdasarkan analisis yang dilakukan pada lembar jawaban pretest dan posttestsiswa, dideskripsikan hasil perkembangan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menafsirkan solusi. Tabel 7. Rata-Rata Kemampuan Siswa dalam Menafsirkan Solusi No Soal Pretest Posttest 0,39 0,28 0,11 0,00 2,22 2,22 3,22 3,44 Sumber: Olahan data indikator 4 UNES Journal of Education. : 311-322 Berdasarkan tabel 7 rata-rata kemampuan siswa dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti Gambar 4. Gambar 4. Grafik Perkembangan Kemampuan Siswa dalam Menafsirkan Solusi Matematika Berdasarkan Tabel 7 dan Gambar 4 terlihat bahwa kemampuan siswa dalam menafsirkan solusi mengalami perubahan. Pada soal no 1 sampai 4 rata-rata kemampuan siswa dalam menafsirkan solusi padapretest mengalami peningkatan pada posttest. Perkembangan tertinggi rata-rata kemampuan siswa terjadi pada soal no 4 sebanyak 3,44 dan perkembangan terendah terjadi pada soal no 1 sebanyak 1,83. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam menafsirkan solusi meningkat setelah diterapkan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dalam pembelajaran matematika. SIMPULAN Berdasarkan hasil analis data pada taraf kepercayaan = 0,05 diperoleh Karena Dengan demikian Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI SMK N 2 Padang Panjang. SARAN Berdasarkan kesimpulandi atas, makadisarankanhal-hal sebagai berikut: Guru bidang studi Matematika diharapkan mampu menerapkan pembelajaran matematika dengan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR), karena dapatmeningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematikasiswa. Guru bidang studi Matematika perlu memberikan penekanan pada siswa bahwa penyelesaian masalah tidak hanya prosedur penyelesaian saja tapi juga dibutuhkan indikator lain yang ada pada pemecahan masalah. Para peneliti berikutnya diharapkan dapat menerapkan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) pada materi ajar yang lebih luas sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan benar-benar tercapai dan lebih mudah dalam mengukur kemampuan matematika lainnya. P-ISSN: 2549-4201. E-ISSN: 2549-4791 DAFTAR PUSTAKA