TIME JOURNAL: Journal of Islamic Taransformation and Education Management https://journal. id/index. php/time/index Vol 2. No 1, 2025 | Page . ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM PENGAJARAN PESANTREN TRADISIONAL DAN MODERN DI INDONESIA Muhammad Arrafi Muzhaffar Permadi 1. Wahyudin Khairul Sya'ban 2. Hilalludin 3 1, 2, 3 Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta. Indonesia e : k404784@gmail. com 1, wahyudinkhairuls@gmail. com 2, hilalluddin34@gmail. Abstract Pesantren is one of the oldest Islamic educational institutions in Indonesia that has an important role in preserving Islamic values and shaping the character of the nation. Along with the development of the era, globalization, and the demands of modernization of education, pesantren have transformed into two main models, namely traditional pesantren . and modern pesantren . This study aims to compare the two models in order to identify their respective characteristics, advantages, and The study used a descriptive qualitative approach with a literature study method reinforced by interviews with pesantren caretakers in Yogyakarta and East Java. The results of the study showed that traditional pesantren emphasize the deepening of religious knowledge through classical methods such as sorogan and bandongan, and uphold the spiritual relationship between teachers and students. Meanwhile, modern pesantren integrate the national curriculum with the pesantren curriculum, apply interactive technology-based learning methods, and use a structured evaluation system. This comparison confirms that both models have complementary advantages. Therefore, an integrative approach is needed that is able to maintain the spiritual and moral values of traditional pesantren while adopting modern learning innovations. Thus. Islamic boarding schools can continue to exist, be relevant, and be able to produce graduates who are religious and competent in the global era. Keywords: Islamic Boarding School. Learning Innovation. Curriculum Integration Article Sejarah Received 16/3/2025 Revised 5/6/2025 Accepted 25/6/2025 Abstrak Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam melestarikan nilai-nilai keislaman dan membentuk karakter bangsa. Seiring dengan perkembangan zaman, globalisasi, dan tuntutan modernisasi pendidikan, pesantren telah bertransformasi menjadi dua model utama, yaitu pesantren tradisional . dan pesantren modern . Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedua model tersebut guna mengidentifikasi karakteristik, keunggulan, dan tantangannya masing-masing. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka yang diperkuat wawancara dengan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren tradisional menitikberatkan pada pendalaman ilmu agama melalui metode klasik seperti sorogan dan bandongan, serta menjunjung tinggi hubungan spiritual antara guru dan santri. Sementara itu, pesantren modern mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren, menerapkan metode pembelajaran interaktif berbasis teknologi, dan menggunakan sistem evaluasi yang terstruktur. Perbandingan ini menegaskan bahwa kedua model memiliki keunggulan yang saling melengkapi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan integratif yang mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual dan moral pesantren tradisional sekaligus mengadopsi inovasi pembelajaran modern. Dengan demikian, pesantren dapat terus eksis, relevan, dan mampu mencetak lulusan yang religius serta kompeten di era Kata Kunci : Pesantren. Inovasi Pembelajaran. Integrasi Kurikulum How to Cite: Muzhaffar Permadi. Sya'ban. , & Hilalludin. Comparative Analysis of Traditional and Modern Islamic Boarding School Teaching Systems in Indonesia: Analisis Perbandingan Sistem Pengajaran Pesantren Tradisional Dan Modern Di Indonesia. TIME: Transformation in Islamic Management and Education Journal, 2. , 25Ae31. DOI: - INTRODUCTION Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang sejak dahulu telah memainkan peran sentral dalam membentuk karakter bangsa, menjaga Page | 25 kelestarian ajaran Islam, serta mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan yang berakar kuat pada tradisi ulama Nusantara (Mujahid, 2021. Isbah, 2020. Gama, et al. , 2. Dari era pra-kemerdekaan hingga masa modern, pesantren telah melahirkan ulama, cendekiawan, dan pemimpin bangsa yang berintegritas tinggi, serta berperan sebagai pusat pembinaan moral, spiritual, dan etika sosial bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Dalam konteks sosial Indonesia yang plural dan multikultural, pesantren juga berfungsi sebagai benteng moral dan agen integrasi sosial, yang menjembatani nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal (Malisi, & Sulasman, 2024. Perkembangan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, serta transformasi sosial budaya yang pesat telah memaksa pesantren untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dengan tuntutan zaman. Salah satu wujud adaptasi tersebut adalah lahirnya dua model pesantren yang berkembang secara berdampingan, yaitu pesantren tradisional . dan pesantren modern . (Nursyamsi, et al. , 2023. Muhajir, 2022. Rozi, 2. Pesantren tradisional mempertahankan metode pembelajaran klasik seperti sorogan, bandongan, dan halaqah, dengan fokus pada pendalaman kitab kuning sebagai literatur utama. Sementara itu, pesantren modern mengintegrasikan kurikulum nasional, memadukan pendidikan agama dan umum, serta mengimplementasikan metode pembelajaran interaktif yang didukung teknologi (Mustapa, et al. , 2. Meskipun berbagai penelitian telah mengulas karakteristik masing-masing model pesantren secara terpisah, kajian komparatif mendalam mengenai perbedaan, keunggulan, dan tantangan kedua sistem pengajaran tersebut masih terbatas. Padahal, perbedaan mendasar antara keduanya bukan hanya terletak pada kurikulum, tetapi juga pada orientasi pendidikan, pola hubungan guru dan santri, serta sistem evaluasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan akademik sekaligus praktis: model pesantren manakah yang lebih efektif dalam menjawab kebutuhan pendidikan Islam kontemporer, serta bagaimana peluang integrasi kedua model untuk menciptakan sistem pengajaran yang ideal di masa Berdasarkan latar belakang dan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian komparatif terhadap sistem pengajaran pada pesantren tradisional dan modern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah berupa analisis komprehensif mengenai karakteristik, keunggulan, serta tantangan kedua model, sekaligus menawarkan arah pengembangan pesantren yang adaptif, inklusif, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur Islam. Dengan demikian, pesantren dapat terus eksis dan berdaya saing di era global, serta menjadi pusat lahirnya generasi Muslim yang religius, kritis, dan berkontribusi positif bagi peradaban. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. yang dilengkapi dengan wawancara mendalam . n-depth Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu menggali secara mendalam perbedaan, keunggulan, serta tantangan sistem pengajaran pada pesantren tradisional . dan pesantren modern . melalui interpretasi literatur dan perspektif praktisi pesantren. Data penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder (Schneider, et al. , 2023. Amato, et al. , 2. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan enam pengasuh dan pengelola pesantren di wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur. Pemilihan narasumber dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan beberapa kriteria, yaitu memiliki pengalaman minimal lima tahun dalam mengelola pesantren, memahami kebijakan dan implementasi sistem pengajaran di pesantren masing-masing, serta bersedia memberikan informasi secara mendalam. Sementara itu, data sekunder diperoleh melalui telaah literatur yang relevan, yang mencakup artikel jurnal nasional dan internasional, buku-buku kajian pendidikan Islam klasik dan kontemporer, serta dokumen kebijakan terkait seperti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Literatur tersebut ditelusuri melalui mesin pencari akademik seperti Google Scholar dengan menggunakan kata kunci Pengajaran pesantren tradisional. Modernisasi pesantren, dan Metode kitab kuning. Proses pengumpulan data dilakukan dengan dua teknik utama. Teknik dokumentasi digunakan untuk menelusuri, menyeleksi, dan mereview literatur yang sesuai dengan tema penelitian (Hiebl, 2023. Chigbu, et al. , 2023. Van Dinter, et al. , 2. Selain itu, dilakukan wawancara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman pertanyaan terbuka untuk menggali informasi mendalam mengenai pengalaman, pandangan, dan Page | 26 praktik pengelolaan sistem pengajaran di pesantren. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi tematik . hematic content analysi. sebagaimana yang dijelaskan oleh Yu, . Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data dengan cara mengelompokkan informasi berdasarkan tema sentral seperti kurikulum, metode pengajaran, pola hubungan guru-santri, dan sistem evaluasi melalui penyajian data dalam bentuk narasi deskriptif sesuai tema, serta penarikan kesimpulan yang merumuskan pola, perbedaan, dan hubungan antara kedua model pesantren untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Untuk meningkatkan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber dengan cara membandingkan hasil wawancara dengan literatur yang telah direview (Natow, 2020. Farquhar, et al. , 2020. Jones, & Donmoyer, 2. FINDINGS AND DISCUSSION Transformasi pendidikan Islam melalui institusi pesantren merupakan suatu keniscayaan dalam menghadapi dinamika globalisasi, kemajuan teknologi, serta perubahan sosial budaya yang semakin kompleks. Berdasarkan hasil studi pustaka dan wawancara mendalam dengan beberapa pengasuh pesantren di Yogyakarta dan Jawa Timur, penelitian ini menemukan beberapa perbedaan mendasar sekaligus potensi integrasi antara sistem pengajaran di pesantren tradisional dan pesantren modern. Berikut pemaparan hasil dan pembahasan secara tematik. Perbedaan Kurikulum Pesantren tradisional atau salafiyah masih mempertahankan kurikulum berbasis kitab kuning sebagai sumber utama pembelajaran. Kitab-kitab tersebut, seperti Fathul MuAoin. Tafsir Jalalain, dan Syarah TaAolim al-MutaAoallim, dipelajari dengan metode pembacaan teks Arab gundul dan penjelasan makna oleh kiai. Pendekatan ini menekankan pendalaman ilmu agama secara intensif tanpa terikat pada kurikulum formal negara (Ammerman, 2. Sementara itu, pesantren modern menerapkan kurikulum ganda yang mengintegrasikan kurikulum nasional, seperti Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013, dengan kurikulum keislaman khas pesantren. Hasil wawancara menunjukkan bahwa model integrasi ini bertujuan agar santri tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi akademik yang diakui secara formal, sehingga lebih adaptif menghadapi dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja (Zainuri, & Huda, 2022. Shaw, 2020. Laili, et al. , 2. Perbedaan kurikulum ini menunjukkan bahwa pesantren tradisional lebih berorientasi pada pelestarian keilmuan Islam klasik, sedangkan pesantren modern mengedepankan relevansi dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Temuan ini sejalan dengan pendapat yang menekankan pentingnya fleksibilitas kurikulum agar pesantren dapat menjawab tantangan global (Hilalludin, & Althof, 2. Perbedaan Metode Pengajaran Metode pengajaran di pesantren tradisional didominasi oleh sorogan dan Dalam metode sorogan, santri membaca teks kitab secara individual di hadapan kiai untuk diperbaiki dan dijelaskan maknanya, sedangkan bandongan dilakukan secara berkelompok di mana kiai membaca dan menafsirkan isi kitab diikuti oleh santri secara kolektif. Pendekatan ini cenderung pasif, dengan penekanan pada hafalan dan ketekunan pribadi (Manshur, 2. Sebaliknya, pesantren modern menggunakan metode pengajaran klasikal dengan sistem kelas terstruktur. Proses pembelajaran lebih interaktif, didukung oleh teknologi seperti LCD, papan digital, dan modul pembelajaran. Santri dilibatkan aktif melalui diskusi, presentasi, dan kerja kelompok. Hasil wawancara menegaskan bahwa pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi, sebagaimana juga diungkapkan oleh Singhal, dkk. , . Perbedaan metode ini menunjukkan bahwa pesantren modern lebih responsif terhadap perkembangan pedagogi kontemporer, meskipun berisiko melemahkan nilai ketekunan dan keikhlasan belajar yang menjadi ciri khas metode tradisional. Hubungan Guru dan Santri Hubungan antara guru . dan santri di pesantren tradisional memiliki dimensi spiritual yang sangat kental. Kiai dianggap sebagai mursyid atau pembimbing spiritual sekaligus teladan hidup, sehingga santri menunjukkan penghormatan total dalam segala aspek kehidupan sehari-hari (Marwiji, 2. Hal ini berbeda dengan pesantren modern yang membangun relasi guru-santri lebih profesional dan akademik. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, sementara santri dihargai sebagai peserta Page | 27 didik aktif yang kritis. Walau nilai adab tetap dijaga, nuansa spiritual cenderung tidak sekuat di pesantren tradisional (Carless, 2. Temuan ini mendukung kajian Idhofi . yang menekankan bahwa pergeseran pola relasi ini berdampak pada penanaman nilai-nilai moral dan karakter santri, yang perlu diantisipasi dengan strategi pembinaan karakter secara terintegrasi. Sistem Evaluas Pesantren tradisional menggunakan sistem evaluasi kualitatif, dengan penilaian kiai berdasarkan pengamatan keaktifan, ketekunan, dan kemajuan spiritual santri sehari-hari, tanpa ujian tertulis atau nilai angka yang ketat. Fokus utamanya adalah pada keberkahan ilmu dan penguasaan materi secara mendalam (Idhofi, 2. Sebaliknya, pesantren modern menerapkan evaluasi akademik yang terstruktur, berupa ujian tengah semester, ujian akhir, tugas individu, tugas kelompok, dan Sistem ini dinilai lebih objektif dan memberikan parameter capaian belajar yang terukur (Jayalath, & Esichaikul, 2. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa evaluasi akademik yang kaku berpotensi menggeser tujuan pendidikan pesantren menjadi sekadar penilaian angka, sehingga perlu keseimbangan antara evaluasi kuantitatif dan pembinaan spiritual. Gambar 1. Perbandingan Model Pesantren Hasil penelitian ini menegaskan bahwa masing-masing model pesantren memiliki keunggulan dan tantangan. Pesantren tradisional unggul dalam pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, dan pelestarian ilmu agama mendalam, tetapi menghadapi keterbatasan dalam adopsi teknologi dan akses ilmu pengetahuan kontemporer. Sebaliknya, pesantren modern menawarkan relevansi kurikulum, metode pembelajaran inovatif, dan kesiapan santri menghadapi tantangan global, tetapi berisiko melemahkan nilai spiritual dan keikhlasan. Oleh karena itu, model pesantren transformatif yang mengintegrasikan keunggulan kedua pendekatan menjadi alternatif yang ideal. Beberapa pesantren seperti Gontor dan Tebu Ireng telah menerapkan model hibrida ini dengan menjaga kajian kitab kuning dan adab santri, sembari membuka ruang pendidikan formal, teknologi, dan kewirausahaan (Hasyim, 2. Implikasi praktisnya, pemerintah dan pengelola pesantren perlu merancang kebijakan pengembangan kurikulum integratif, pelatihan guru, dan pendampingan manajemen agar transformasi pesantren tetap berlandaskan nilai-nilai Islam yang otentik. CONCLUSION Page | 28 Penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan dalam merespons dinamika globalisasi dan modernisasi pendidikan. Pesantren tradisional . tetap mempertahankan karakteristik pembelajaran berbasis kitab kuning, metode sorogan dan bandongan, hubungan guru-santri yang kental dengan nuansa spiritual, serta sistem evaluasi kualitatif yang menekankan keberkahan ilmu dan pembentukan akhlak. Di sisi lain, pesantren modern . hadir sebagai bentuk adaptasi terhadap tuntutan zaman, dengan mengintegrasikan kurikulum nasional dan pesantren, menerapkan metode pembelajaran interaktif berbasis teknologi, serta menggunakan sistem evaluasi akademik yang terstruktur dan terstandar. Temuan ini menegaskan bahwa kedua model pesantren memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing. Pesantren tradisional unggul dalam menjaga kedalaman ilmu agama dan pembinaan karakter, tetapi memiliki keterbatasan dalam akses ilmu kontemporer dan teknologi. Sebaliknya, pesantren modern berhasil menyiapkan santri yang religius sekaligus kompeten secara akademik, namun berpotensi melemahkan dimensi spiritual dan nilai-nilai keikhlasan yang menjadi kekuatan pesantren tradisional. Berdasarkan hasil kajian ini, disarankan adanya pengembangan model pesantren transformatif yang mampu menggabungkan keunggulan kedua sistem secara harmonis. Model integratif ini diharapkan dapat mempertahankan nilai-nilai spiritual dan moral khas pesantren tradisional, sambil mengadopsi inovasi pendidikan modern yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya kebijakan pengembangan kurikulum integratif, penguatan kapasitas guru, dan peningkatan sarana teknologi pembelajaran di pesantren. Sebagai arah penelitian lanjutan, studi mendalam mengenai strategi implementasi model pesantren transformatif di berbagai daerah Indonesia perlu dilakukan, guna memastikan keberlanjutan transformasi pendidikan Islam yang adaptif, inklusif, dan berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang otentik. CONFESSION Penulis dengan tulus mengakui kontribusi signifikan dari berbagai pihak yang telah mendukung terselenggaranya penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada dosen pembimbing atas bimbingan ilmiah dan arahannya yang berharga. Penghargaan juga diberikan kepada lembaga pesantren yang telah menyediakan data dan informasi yang diperlukan. Selain itu, penulis berterima kasih kepada keluarga dan sahabat atas doa, semangat, dan dukungan moral yang tiada henti. Segala bentuk kontribusi tersebut sangat berarti dalam penyelesaian karya ini. ACKNOWLEDGMENT Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan, bimbingan, dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan tulus dan penuh hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada: Kedua Orang Tua yang senantiasa memberikan doa, motivasi, dan dukungan tanpa henti. Bapak/Ibu Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan, kritik konstruktif, dan saran berharga selama proses penelitian, dan Semua Pihak yang Tidak Dapat Disebutkan Secara Khusus, namun telah memberikan dukungan langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran tasawuf dan dunia pendidikan Islam secara lebih luas. REFERENCES