PROGRESSA: Journal of Islamic Religious Instruction P-ISSN 2579-9665 | e-ISSN 2579-9673 Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 https://jurnal. id/index. php/pgr/index NEUROSPIRITUALITAS DALAM PENDIDIKAN KARAKTER: ANTARA KOGNISI. MORALITAS. DAN PENGEMBANGAN DIRI Anas Amin Alamsyah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya anasaminalamsyah@uinsa. Abstrak: Artikel ini merupakan hasil dari penelitian yang mengkaji neurospiritualitas sebagai kerangka interdisipliner yang memadukan neurosains kognitif, psikologi moral, dan filsafat pendidikan Islam dalam rangka memperkuat pendidikan karakter. Penelitian ini difokuskan pada tiga pertanyaan pokok: . bagaimana relasi antara neurospiritualitas dan perkembangan kognitif dalam pendidikan karakter? . sejauh mana pengaruh neurospiritualitas terhadap moralitas individu? dan . bagaimana pendekatan neurospiritualitas dapat diterapkan secara praktis dalam mendukung pengembangan diri peserta didik? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan dokumentasi berbasis studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data dan pendekatan hermeneutik-filosofis sebagai dasar analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman spiritual berpengaruh langsung terhadap aktivitas neurologis, khususnya pada korteks prefrontal dan sistem limbik Aidua area yang berkaitan dengan empati, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan moral. Analisis terhadap pemikiran Al-Ghazali. Ibn Sina. Ibn Miskawayh, dan tokoh-tokoh lainnya memperkuat temuan ini, dengan menekankan pentingnya integrasi antara akal dan jiwa dalam pembentukan akhlak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis neurospiritualitas tidak hanya menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan ilmiah, tetapi juga mampu mengisi kekosongan makna dalam pendidikan kontemporer yang selama ini cenderung terjebak pada pendekatan kognitif dan normatif semata. Kata kunci: neurospiritualitas, pendidikan karakter, kognisi, moralitas, pengembangan diri Abstract: This article is the result of a research that study neurospirituality as an interdisciplinary framework that combines cognitive neuroscience, moral psychology, and Islamic educational philosophy in order to strengthen character education. The research focuses on three main questions: what is the relationship between neurospirituality and cognitive development in character education? . to what extent does neurospirituality influence individual morality? and . how can the neurospirituality approach be practically applied in supporting students' self-development? The research is a qualitative research using documentation based on literature studies as a data collection technique and a hermeneutic-philosophical approach as the basis for analysis. The results of the research indicate that spiritual experience has a direct effect on neurological activity, especially in the prefrontal cortex and limbic system - two areas related to empathy, emotional regulation, and moral decision-making. Analysis of the thoughts of Al-Ghazali. Ibn Sina. Ibn Miskawayh, and other figures strengthens these findings, emphasizing the importance of integration between Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter reason and soul in the formation of morals. The research concludes that neurospirituality-based character education not only offers a more comprehensive and scientific approach, but is also able to fill the void of meaning in contemporary education which has tended to be trapped in purely cognitive and normative approaches. Keywords : neurospirituality, character education, cognition, morality, self-development PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction, 2025. Vol. 9 No. 2, 128-139 DOI: 10. 32616/pgr. Diserahkan: 05/07/2025. Diterima: 25/08/2025. Diterbitkan: 29/08/2025 E-mail Redaksi: redaktur@jurnal. Naskah ini berada di bawah kebijakan akses terbuka dan Creative Common Attribution License . ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. Oleh karena itu, segala penggunaan, distribusi, dan reproduksi artikel ini, di media apa pun, tidak dibatasi selama sumber aslinya disebutkan dengan Pendahuluan Kajian mengenai neurospiritualitas semakin mendapatkan tempat dalam diskursus akademik, khususnya dalam konteks pendidikan karakter. Bidang ini merangkul integrasi antara temuan-temuan neurosains dan nilai-nilai spiritual untuk menelaah bagaimana pengalaman spiritual dapat membentuk aspek kognitif, moral, dan emosional individu. 1 Dalam ranah pendidikan, pendekatan neurospiritual memberikan peluang untuk membangun karakter peserta didik secara lebih utuh, menyentuh dimensi intelektual, emosional, serta etika secara bersamaan. Minat terhadap hubungan antara spiritualitas dan aktivitas otak telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai studi dalam neuroteologi menunjukkan bahwa praktik-praktik spiritual, seperti meditasi dan refleksi etis, berdampak positif terhadap fleksibilitas otak dan kemampuan dalam membuat keputusan bermoral. 2 Dari sudut pandang psikologi perkembangan, pengalaman spiritual juga dipandang sebagai faktor penting dalam pembentukan identitas moral seseorang, sekaligus memperkuat empati dan kesadaran sosial. Penelitian berbasis neuroimaging turut memperlihatkan bahwa pengalaman religius atau spiritual berkaitan erat dengan aktivasi area-area otak yang berperan dalam pengendalian emosi, pengaturan impuls, dan pemrosesan nilai moral. Dalam konteks pendidikan karakter, pendekatan neurospiritual membuka cara pandang baru dalam memahami penanaman nilai-nilai moral melalui proses biologis dan kognitif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan yang melibatkan aspek spiritualitas mampu meningkatkan keterlibatan emosional peserta didik, menumbuhkan perilaku prososial, serta mengurangi kecenderungan perilaku menyimpang. 5 Namun demikian, meskipun wacana tentang hubungan antara spiritualitas dan fungsi kognitif sudah cukup berkembang, 1 Andrew B. Newberg. Neurotheology: How Science Can Enlighten Us About Spirituality (New York: Columbia University Press, 2. , 27. 2 Richard J. Davidson dan Sharon Begley. The Emotional Life of Your Brain (New York: Penguin Group, 2. , 145. 3 Harold Koenig. Spirituality and Health Research: Methods. Measurement. Statistics, and Resources (West Conshohocken. PA: Templeton Press, 2. , 83. 4 James W. Fowler. Stages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning (New York: HarperOne, 1. , 112. 5 Mario Beauregard dan Denyse OAoLeary. The Spiritual Brain: A NeuroscientistAos Case for the Existence of the Soul (New York: HarperOne, 2. , 98. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter masih terdapat celah dalam menjelaskan secara konkret bagaimana interaksi antara pengalaman spiritual dan sistem saraf dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter. Penelitian ini dimaksudkan untuk membedah celah tersebut melalui analisis mendalam tentang keterkaitan antara neurospiritualitas, moralitas, dan pengembangan diri dalam kerangka pendidikan karakter. Secara spesifik, penelitian ini dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan masalah: . bagaimana relasi antara neurospiritualitas dan perkembangan kognitif dalam pendidikan karakter? . sejauh mana pengaruh neurospiritualitas terhadap moralitas individu? dan . bagaimana pendekatan neurospiritualitas dapat diterapkan secara praktis dalam mendukung pengembangan diri peserta didik? Dengan mengandalkan studi pustaka dan pendekatan hermeneutik-filosofis, penelitian ini bertujuan untuk menawarkan perspektif yang lebih kaya dalam merancang pendidikan karakter yang mempertimbangkan dimensi neurospiritual. Oleh sebab itu, kajian dalam penelitian ini tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi di bidang neurosains, psikologi, dan pendidikan, tetapi juga penting bagi para pendidik yang ingin mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berbasis spiritualitas secara ilmiah dan terarah. Hubungan antara spiritualitas, moralitas, dan perkembangan kognitif telah lama menjadi fokus kajian di bidang psikologi, pendidikan, dan ilmu saraf. Salah satu tokoh yang memberikan kontribusi awal dalam memahami keterkaitan ini adalah James W. Fowler, melalui teorinya Stages of Faith. Dalam kerangka tersebut. Fowler menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bukan sekadar dimensi religius, melainkan bagian dari proses psikososial dan kognitif yang penting dalam pembentukan identitas dan moralitas individu. 6 Gagasannya menempatkan spiritualitas sebagai elemen sentral dalam pendidikan karakter, bukan sekadar pelengkap. Dari perspektif neuropsikologi. Andrew B. Newberg melakukan kajian neurologis terhadap pengalaman spiritual dan religius. Ia memanfaatkan teknologi neuroimaging untuk menunjukkan bahwa aktivitas seperti meditasi dan doa berdampak langsung pada bagian-bagian otak yang mengatur fokus, empati, dan regulasi emosi. 7 Pendekatan ini memperlihatkan adanya dasar biologis dari praktik spiritual, yang relevan dalam konteks pendidikan karakter. Temuan Newberg sejalan dengan hasil penelitian Richard J. Davidson, yang meneliti pengaruh meditasi terhadap sistem limbik, khususnya amigdala dan prefrontal cortex. Kedua area tersebut memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan moral dan pengendalian impul. 8 Secara umum, temuan-temuan ini menegaskan bahwa pengalaman spiritual berkontribusi pada pengembangan kapasitas kognitif dan afektif manusia. Dalam ranah pendidikan. Thomas Lickona dikenal luas lewat konsep pendidikan karakter yang menyeluruh, mencakup aspek moral, performatif, dan spiritual. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya dengan pendekatan kognitif, tetapi juga perlu menyentuh nilai-nilai inti kemanusiaan, termasuk kesadaran spiritual. 9 Namun, pendekatan Lickona masih lebih menekankan dimensi psikopedagogis, dan belum secara eksplisit mengaitkan spiritualitas dengan proses neurologis. Sumbangan penting juga datang dari tradisi pemikiran Islam, yang memperkaya pemahaman tentang hubungan antara akal, jiwa, dan pembentukan akhlak. Al-Ghazali, dalam 6 Fowler. Stages of Faith, 42Ae46. 7 Andrew B. Newberg. How God Changes Your Brain (New York: Ballantine Books, 2. , 67Ae71. 8 Davidson dan Begley. The Emotional Life of Your Brain, 145Ae148. 9 Thomas Lickona. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (New York: Bantam Books, 1. , 77Ae80. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter karyanya IuyAAo AoUlm al-Dn, menegaskan bahwa pendidikan sejati bertujuan untuk penyucian jiwa . azkiyat al-naf. , melalui gabungan antara ilmu, amal, dan pengendalian hawa nafsu. 10 Ia menempatkan hati sebagai pusat kesadaran moral, dan menyatakan bahwa akhlak yang luhur hanya dapat dibentuk melalui disiplin spiritual yang terus-menerus. Pemikiran ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter erat kaitannya dengan proses spiritual, selaras dengan pandangan modern tentang pentingnya regulasi diri dalam pendidikan. Ibn Sina, melalui karyanya Al-ShifAAo, menegaskan bahwa jiwa manusia memiliki dua potensi utama: intelektual dan spiritual. Keduanya, menurutnya, harus diasah secara berimbang agar individu mencapai kesempurnaan moral. Ia berpandangan bahwa proses pendidikan ideal adalah yang mengarahkan peserta didik menuju pengenalan diri dan pencapaian dimensi transendental melalui pembinaan ilmu dan akhlak. 11 Pemikiran ini mencerminkan keterpaduan antara pengembangan fungsi intelektual Aiyang selaras dengan ranah neurologisAi dan pembinaan jiwa, yang berkaitan erat dengan spiritualitas. Konsep tersebut sangat sejalan dengan pendekatan neurospiritualitas, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek biologis dan spiritual dalam pengembangan karakter. Gagasan ini kemudian diperdalam oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui konsep taAodb, yakni proses pendidikan yang berfokus pada penanaman adab sebagai bentuk integrasi antara ilmu, akal, dan nilai-nilai Ilahiah. Menurut al-Attas, pendidikan bukan sekadar pemindahan pengetahuan, melainkan proses pembentukan makna dan internalisasi nilai yang berakar pada kesadaran spiritual. 12 Pandangan ini memberikan dasar filosofis yang kokoh bagi pendidikan karakter berbasis neurospiritualitas, karena mendorong keterpaduan antara dimensi intelektual, biologis, dan transendental dalam diri manusia. Penelitian-penelitian kontemporer dalam konteks pendidikan Islam juga mulai mengangkat isu serupa. Salah satunya disampaikan oleh Abuddin Nata, yang menekankan bahwa pendidikan berlandaskan nilai-nilai spiritual Islam mampu memperkuat karakter peserta didik, khususnya dalam aspek integritas moral, tanggung jawab sosial, dan kesadaran diri. Meski demikian, pendekatan ini masih banyak bersandar pada kerangka normatif dan belum banyak mengeksplorasi keterkaitannya secara langsung dengan aspek neurologis atau pendekatan neurospiritual secara eksplisit. Berdasarkan berbagai literatur tersebut, tampak bahwa masih terdapat kesenjangan dalam penelitian yang berusaha mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan neurologis dalam satu kerangka konseptual yang menyeluruh. Kajian-kajian yang ada cenderung bersifat parsialAi sebagian besar fokus pada aspek spiritual normatif atau dimensi teologis, sementara lainnya menitikberatkan pada sisi biologis atau kognitif. Penelitian ini hadir untuk menjembatani celah tersebut dengan pendekatan filosofis dan konseptual, yang tidak hanya memetakan hubungan antara spiritualitas dan kerja sistem saraf, tetapi juga menawarkan bagaimana relasi tersebut dapat diwujudkan dalam praktik pendidikan karakter yang konkret, menyeluruh, dan 10 Ab HAmid al-GhazAl. IuyAAo AoUlm al-Dn, terjemahan oleh Nabih Amin Faris (Beirut: DAr al-MaAorifah, 2. , 212Ae218. 11 Ibn Sina. AuAl-Nafs,Ay Al-ShifAAo, suntingan oleh F. Rahman (Oxford: Oxford University Press, 1. , 87Ae94. 12 Syed Muhammad Naquib al-Attas. The Concept of Education in Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1. , 19Ae21. 13 Abuddin Nata. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2. , 104Ae108. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter Metode Penelitian Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan . ibrary researc. yang menitikberatkan pada pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber tertulis yang relevan. Tipe penelitian ini dipilih karena paling sesuai untuk mengkaji konsep-konsep abstrak, seperti neurospiritualitas, karakter, moralitas, dan pengembangan diri Aitema-tema yang tidak dapat dijelaskan secara numerik atau diukur melalui metode kuantitatif. 14 Pendekatan hermeneutikfilosofis digunakan sebagai kerangka analisis utama, karena memungkinkan eksplorasi makna secara mendalam serta memberikan ruang bagi pembacaan konseptual yang kritis dan reflektif terhadap hubungan antara pengalaman spiritual, fungsi neurologis, dan pembentukan karakter dalam konteks pendidikan. 15 Kerangka filosofis dan hermeneutik dalam penelitian ini beroperasi melalui penalaran logis dan analisis koheren antar gagasan, yang bergerak dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pendekatan ini memungkinkan penelusuran struktur makna dan nilai yang tersembunyi di balik konsep-konsep dasar yang menjadi fokus kajian. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, penelitian dimulai dengan melakukan kajian literatur terhadap sumber-sumber akademik yang relevan dari berbagai bidang, seperti neuropsikologi, pendidikan karakter, filsafat, dan teologi Islam. Literatur yang dikaji meliputi buku-buku utama, dokumen institusional, dan referensi lainnya yang membahas persoalan-persoalan terkait neurospiritualitas, proses moral dalam otak, dan integrasi antara kognisi serta spiritualitas dalam pembelajaran. 16 Tujuan kajian dalam penelitian pada tahap ini adalah membangun kerangka konseptual yang kokoh dan mengidentifikasi titik-titik temu antara fokus penelitian ini dengan temuan-temuan sebelumnya, sekaligus menegaskan posisi baru yang Pada tahap kedua, penelitian melibatkan analisis filosofis dan hermeneutik secara sistematis terhadap konsep-konsep kunci, seperti akal, jiwa, spiritualitas, dan karakter. Analisis ini dilakukan dengan membongkar ulang . pemahaman dari berbagai perspektif, termasuk filsafat pendidikan, pemikiran Islam klasik dan kontemporer, serta wacana modern dalam neuroteologi dan etika. Fokus dari proses ini tidak hanya pada deskripsi konsep, tetapi juga pada evaluasi kritis terhadap asumsi ontologis dan epistemologis yang melandasi modelmodel pendidikan karakter dan spiritualitas yang sudah ada. 17 Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menghasilkan konstruksi pemikiran yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif dan argumentatif. Dalam penelitian ini, sumber data dibagi menjadi dua kategori: sumber primer dan sumber Sumber primer mencakup karya-karya otentik dari pemikir-pemikir utama seperti AlGhazali. Ibn Sina. Syed M. Naquib al-Attas. James Fowler. Andrew Newberg, dan Thomas Lickona. Karya-karya mereka digunakan untuk menggali langsung ide-ide pokok yang menjadi fondasi konseptual penelitian ini. Adapun sumber sekunder meliputi berbagai literatur pendukung seperti buku akademik, artikel jurnal ilmiah, laporan riset, serta kajian yang membahas, menafsirkan, atau mengembangkan pemikiran dari tokoh-tokoh tersebut. Kedua jenis sumber ini saling melengkapi dan dipadukan untuk menyusun argumentasi yang kuat dan kontekstual dalam analisis. 14 John W. Creswell dan Cheryl N. Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches, edisi 4 (Thousand Oaks. CA: Sage, 2. , 76. 15 Edmund Husserl. The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology, terjemahan oleh David Carr (Evanston. IL: Northwestern University Press, 1. , 14Ae18. 16 Michael Quinn Patton. Qualitative Research & Evaluation Methods, edisi 3 (Thousand Oaks. CA: Sage, 2. , 93Ae 17 R. Peters. Ethics and Education (London: Allen & Unwin, 1. , 33Ae35. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter Proses pengumpulan data dilakukan melalui kajian dokumen . dan pembacaan teks secara sistematis. Dokumen yang digunakan mencakup literatur klasik dan kontemporer, 18 baik dari tradisi pemikiran Timur maupun Barat. Pemilihan literatur dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kesesuaian tema, kredibilitas akademik, serta relevansi teoritis terhadap fokus kajian. Setiap teks dianalisis dengan mencatat gagasan-gagasan kunci, pernyataan-pernyataan penting, dan keterhubungan antar sumber guna membentuk struktur pemikiran yang utuh dan terarah. Analisis data dilakukan dengan pendekatan hermeneutik-filosofis, yang menekankan pada interpretasi makna secara mendalam, reflektif, dan kritis. Proses ini melibatkan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi tema-tema sentral, pola pemikiran, dan hubungan antara konsepkonsep19 utama yang muncul dalam teks. Selain itu, dilakukan integrasi teoritis guna merumuskan keterkaitan antara neurospiritualitas, perkembangan moral dan kognitif, serta pembentukan karakter dalam konteks pendidikan. Tujuan dari analisis ini bukan semata menyajikan gambaran deskriptif, melainkan membangun konstruksi konseptual yang dapat menjadi dasar pemikiran dalam merancang kebijakan dan praktik pendidikan yang transformatif. Hasil dan Pembahasan Hasil Analisis Hasil dari penelitian ini mengungkap adanya keterkaitan konseptual yang kuat antara pengalaman spiritual, aktivitas neurologis, dan proses pembentukan karakter dalam pendidikan. Temuan pertama menunjukkan bahwa praktik spiritual memainkan peran penting dalam meningkatkan fungsi-fungsi kognitif tertentu, terutama yang berkaitan dengan kesadaran diri, pengendalian impuls, dan pengaturan emosi. Salah satu studi yang relevan, dilakukan oleh Lazar dan koleganya pada tahun 2005, mengindikasikan bahwa aktivitas seperti meditasi tidak hanya memberikan ketenangan psikologis, tetapi juga berdampak pada penebalan korteks prefrontal Aibagian otak yang terlibat dalam konsentrasi dan penalaran moral. Dalam konteks pendidikan, penguatan area ini menjadi sangat penting karena berhubungan langsung dengan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan etis, mengelola tekanan akademik, serta memahami konsekuensi moral dari perilaku mereka. Dengan demikian, praktik spiritual dapat dilihat sebagai strategi penguatan karakter yang berdampak langsung pada kesiapan mental dan moral siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan belajar. Temuan selanjutnya menyoroti peran pengalaman spiritual dalam mengaktifkan jaringan saraf yang mendukung empati dan koneksi sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Dimitrios Kapogiannis dan rekan-rekannya menggunakan MRI 21 pada kelompok orang dengan pengalaman religius menunjukkan bahwa mereka yang melaporkan pengalaman intens Aiseperti kehadiran Tuhan, ritual religius, atau keyakinan kuatAi memiliki volume dan aktivitas otak yang lebih besar di area temporoparietal junction (TPJ) Aistruktur kunci di wilayah otak yang berperan 18 Bonnie Stone Sunstein dan Elizabeth Chiseri-Strater. FieldWorking: Reading and Writing Research, edisi 4 (Boston: Bedford/St. MartinAos, 2. , 221Ae225. 19 Paul Ricoeur. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning (Fort Worth. TX: Texas Christian University Press, 1. , 20Ae24. 20 Sara W. Lazar dkk. AuMeditation Experience Is Associated with Increased Cortical Thickness,Ay NeuroReport 16, 17 . : 1893Ae1897. 21 MRI (Magnetic Resonance Imagin. merupakan metode pemeriksaan di bidang medis dengan menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar organ, tulang, dan jaringan tubuh secara detail. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter dalam memahami perspektif orang lain dan berempati. 22 Kemampuan ini sangat penting dalam pendidikan karakter karena berkaitan dengan nilai-nilai prososial dan keterampilan interaksi sosial yang sehat. Dengan demikian, praktik spiritual tidak hanya memberikan penguatan moral, tetapi juga memiliki dampak nyata pada pengembangan kecerdasan sosial-emosional melalui mekanisme neurologis yang dapat diukur secara ilmiah. Dari sisi pemikiran Islam, hasil kajian juga menunjukkan bahwa para pemikir klasik seperti Al-Ghazali dan Ibn Sina telah menyinggung keterkaitan antara pengalaman spiritual dan fungsi Al-Ghazali, misalnya, menekankan pentingnya muraqabah, yakni kesadaran akan kehadiran Tuhan, sebagai jalan menuju kejernihan hati dan pikiran. Kejernihan ini diyakini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai kebenaran dan kebijaksanaan. 23 Gagasan ini sejalan dengan prinsip dalam neurospiritualitas yang menyatakan bahwa keterlibatan spiritual dapat mengarahkan fokus dan aktivitas kognitif individu ke arah yang lebih reflektif dan terarah. Dalam dunia pendidikan, pemahaman semacam ini mendukung pengembangan peserta didik yang tidak hanya unggul dalam aspek intelektual, tetapi juga dewasa secara moral dan spiritual. Penelitian ini juga menemukan bahwa spiritualitas tidak hanya berperan dalam membentuk dasar moral seseorang, tetapi turut memengaruhi kestabilan dalam mempertahankan komitmen moral. Dalam studi longitudinal yang dilakukan oleh Robert Coles terkait perkembangan moral anak, terlihat bahwa anak-anak yang terbiasa dengan pengalaman spiritualAiseperti doa, pembelajaran nilai-nilai religius, atau keterlibatan dalam lingkungan spiritualAimenunjukkan pemahaman moral yang lebih tajam dan konsistensi perilaku etis 24 yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak mendapat paparan serupa. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa spiritualitas bukan hanya menciptakan norma internal, tetapi juga memperkuat dorongan batin untuk bertindak etis dalam situasi konkret. Dalam ranah kognisi moral, teori tahapan perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg memang cukup berpengaruh. Namun, model ini lebih menekankan aspek rasional dan kognitif, serta cenderung mengabaikan dimensi emosional dan spiritual sebagai pendorong motivasi 25 Hasil penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menegaskan bahwa spiritualitas menyumbangkan kerangka afektif dan makna eksistensial yang penting dalam proses pengambilan keputusan etis. Pengalaman spiritual membantu individu membangun narasi nilai, kesadaran akan keberadaan transendental, serta refleksi diri yang mendorong tindakan berbasis prinsip, bukan sekadar berdasarkan tuntutan sosial atau kepatuhan formal terhadap aturan. Salah satu temuan penting lainnya adalah bagaimana konsep neurospiritualitas mendukung pengembangan diri secara menyeluruh. Dimensi spiritual tidak hanya memengaruhi aspek moral dan intelektual, tetapi juga memperkuat sisi afektif dan eksistensial individu. Penelitian Lisa Miller menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang memiliki keterhubungan spiritual yang kuat cenderung memiliki daya tahan mental yang lebih tinggi, tingkat refleksi diri yang lebih dalam, serta orientasi terhadap makna hidup yang lebih jelas. Temuan ini mengisyaratkan bahwa spiritualitas yang berakar kuat dapat menjadi pondasi 22 Dimitrios Kapogiannis dkk. AuNeuroanatomical Variability of Religiosity,Ay PLOS ONE 4, no. : e7180. 23 Al-GhazAl. IuyAAo AoUlm al-Dn, 274. 24 Robert Coles. The Moral Life of Children (Boston: Atlantic Monthly Press, 1. , 129Ae132. 25 Lawrence Kohlberg. AuThe Philosophy of Moral Development: Moral Stages and the Idea of Justice,Ay Essays on Moral Development, vol. 1 (San Francisco: Harper & Row, 1. , 212Ae218. 26 Lisa Miller. The Spiritual Child: The New Science on Parenting for Health and Lifelong Thriving (New York: St. MartinAos Press, 2. , 103Ae107. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter psikologis yang kokoh dalam membangun resiliensi dan arah hidup yang bermakna Aidua elemen yang sangat penting dalam pendidikan karakter masa kini. Analisis filosofis dalam penelitian ini turut menegaskan bahwa pemikiran Islam klasik telah lama menekankan pentingnya integrasi antara pembinaan spiritual dan pengembangan diri. Ibn Miskawayh, dalam karya klasiknya Tahdhb al-AkhlAq, menyatakan bahwa pengembangan akhlak bukan sekadar latihan moral, tetapi juga proses pembinaan jiwa agar sejalan dengan akal dan fitrah spiritual manusia. 27 Ia memandang pendidikan sebagai jalan menuju terbentuknya insAn kAmilAimanusia paripurna yang memiliki keseimbangan antara rasio, ruhani, dan perilaku. Gagasan ini memberikan dasar konseptual yang kuat bagi keyakinan bahwa spiritualitas yang mendalam tidak hanya menciptakan perilaku moral yang tampak, tetapi juga membentuk kedalaman batin yang stabil, terarah, dan selaras dengan nilai luhur. Selain temuan-temuan sebelumnya, penelitian ini juga menyoroti pentingnya integrasi antara neurospiritualitas dan pendidikan karakter sebagai suatu pendekatan holistik. Pendekatan ini mencakup tiga komponen utama: aspek kognitif . , afektif . , dan konatif . Dalam perspektif neuroedukatif, integrasi ini selaras dengan pandangan Eric Jensen, yang menekankan bahwa pembelajaran yang efektif harus melibatkan keseluruhan fungsi otak Aitidak hanya logika dan rasio, tetapi juga emosi dan spiritualitas. 28 Ketika unsur spiritual hadir secara autentik dalam proses pendidikan, keterlibatan emosional siswa meningkat, motivasi intrinsik tumbuh, dan proses internalisasi nilai karakter berlangsung lebih mendalam serta Penelitian ini juga menemukan bahwa pendidikan karakter berbasis neurospiritualitas memiliki dampak positif dalam mendorong regulasi diri . elf-regulatio. dan kemampuan melampaui ego pribadi . elf-transcendenc. Studi yang dilakukan oleh Emmons dan Paloutzian menunjukkan bahwa individu dengan orientasi spiritual yang tinggi cenderung memiliki pengendalian diri yang lebih baik dan dorongan untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai luhur, bukan sekadar kepentingan pribadi. 29 Kualitas seperti kejujuran, empati, kesabaran, dan tanggung jawab sosial muncul lebih kuat dalam diri individu yang terbina secara spiritual dan neurologis secara simultan. Ini mempertegas bahwa pendidikan yang merangkul dimensi spiritual tidak hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk kepribadian yang matang secara etis dan eksistensial. Secara umum, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa neurospiritualitas bukan sekadar konstruksi teoretis, melainkan juga pendekatan konseptual-praktis yang membawa implikasi nyata bagi pendidikan karakter. Ketika spiritualitas tidak dibatasi hanya pada aspek religius, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari dinamika neurologis dan psikologis manusia, maka perancangan pendidikan dapat dilakukan dengan lebih ilmiah, menyeluruh, dan berorientasi pada kemanusiaan. Dalam konteks krisis moral dan kegamangan identitas yang kini melanda dunia pendidikan, integrasi neurospiritualitas tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak untuk diterapkan sebagai fondasi penguatan karakter yang bermakna dan berkelanjutan. 27 Ibn Miskawayh. Tahdhb al-AkhlAq wa Tahr al-AAorAq, suntingan oleh Constantine Zurayk (Beirut: DAr al-Fikr alLubnAn, 1. , 52Ae55. 28 Eric Jensen. Teaching with the Brain in Mind, edisi 2 (Alexandria. VA: ASCD, 2. , 47Ae49. 29 Robert A. Emmons dan Raymond F. Paloutzian. AuThe Psychology of Religion,Ay Annual Review of Psychology 54 . : 377Ae402. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter Pembahasan Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan neurospiritualitas memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara dimensi biologis, psikologis, dan spiritual dalam pengembangan karakter melalui pendidikan. Temuan-temuan ini sekaligus mengafirmasi dan memperluas berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa spiritualitas memiliki pengaruh langsung terhadap struktur dan fungsi otak. Salah satu contoh yang signifikan adalah studi yang dilakukan oleh Lazar dan rekan-rekannya . , yang menemukan adanya peningkatan ketebalan korteks prefrontal sebagai hasil dari praktik meditasi. Sementara itu. Lisa Miller . menunjukkan bahwa spiritualitas berperan dalam membentuk jalur neurokognitif yang berkaitan erat dengan daya tahan psikologis . dan kemampuan regulasi diri. Dalam kerangka pendidikan karakter, hal ini memperkuat argumen bahwa nilai-nilai spiritual tidak hanya bersifat moralistik atau simbolik, tetapi memiliki dasar biologis yang nyata dan dapat dikembangkan melalui pendekatan pedagogis yang tepat. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga memperkuat kritik terhadap model perkembangan moral yang dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg, yang terlalu menitikberatkan pada aspek rasional dan logika tahapan moral, sementara peran emosi dan spiritualitas cenderung diabaikan. Sebagaimana dikritik oleh Carol Gilligan, pendekatan Kohlberg dianggap terlalu formal dan kurang memperhatikan nuansa relasional dan afektif dalam proses pengambilan keputusan 31 Dalam konteks ini, pendekatan neurospiritualitas menawarkan penyempurnaan dengan mengintegrasikan dimensi afektif dan transendental ke dalam pemahaman tentang perkembangan moral. Temuan neurologis yang menunjukkan keterlibatan sistem limbik dan prefrontal cortex Aibagian otak yang berperan dalam empati, intuisi moral, serta kontrol diriAi memberikan landasan empiris bahwa moralitas tidak hanya dibentuk melalui penalaran rasional, tetapi juga dipengaruhi secara langsung oleh dinamika afeksi dan spiritualitas. Dari sudut pandang filsafat dan pendidikan Islam, hasil penelitian ini turut memperkuat gagasan bahwa pembentukan karakter sejati hanya dapat terwujud melalui integrasi antara akal, hati, dan ruh. Pemikiran-pemikiran klasik dari Al-Ghazali. Ibn Sina, dan Ibn Miskawayh menunjukkan bahwa latihan spiritual, penyucian jiwa, dan pengembangan kesadaran batiniah merupakan fondasi penting dalam membentuk manusia yang bermoral. Temuan neurologis modern yang menyoroti efek positif dari praktik spiritual terhadap struktur otak justru menghidupkan kembali relevansi pemikiran mereka, yang selama ini sering dianggap semata normatif atau metafisik. Dalam konteks pendidikan karakter, khususnya di lingkungan masyarakat Muslim, integrasi antara warisan intelektual Islam dan ilmu saraf kontemporer membuka peluang untuk merancang model pendidikan yang tidak hanya religius secara simbolik, tetapi juga efektif dan terukur secara biologis dan psikologis. Lebih jauh, pembahasan ini menggarisbawahi bahwa pendekatan neurospiritualitas tidak hanya bersifat multidisipliner, tetapi juga memuat potensi transformatif dalam pendidikan Selama ini, pendekatan pendidikan karakter cenderung terjebak dalam pola normatif dan indoktrinatif yang kaku. Dengan kerangka neurospiritual, pendidikan karakter dapat direkonstruksi menjadi lebih partisipatif, reflektif, dan berfokus pada pengembangan kesadaran diri serta pencarian makna hidup. Hal ini sejalan dengan gagasan taAodb yang dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang menekankan pentingnya pembentukan adab sebagai 30 Lazar. AuMeditation Experience. ,Ay 1893Ae1897. Miller. The Spiritual Child, 103Ae107. 31 Carol Gilligan. In a Different Voice: Psychological Theory and WomenAos Development (Cambridge. MA: Harvard University Press, 1. , 18Ae19. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter inti dari kesadaran spiritual dan transendental dalam proses pendidikan. 32 Temuan neurologis kontemporer dapat memberikan dukungan empiris bagi pendekatan ini, memungkinkan modernisasi konsep taAodb tanpa harus meninggalkan substansi filosofis dan nilai-nilai aslinya. Di sisi lain, hasil penelitian ini juga menyoroti adanya kekosongan dalam praktik pendidikan karakter yang berlaku saat ini. Banyak kurikulum formal belum memberikan ruang yang memadai bagi dimensi spiritual sebagai bagian dari pembentukan kepribadian peserta didik. Kecenderungan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada pencapaian akademik dan penilaian kognitif menyebabkan aspek afektif dan spiritual sering kali terabaikan. Padahal, seperti dibuktikan dalam penelitian ini, pengalaman spiritual yang autentik mampu meningkatkan kecerdasan emosional, memperkuat motivasi intrinsik, dan mendukung pengendalian diri Aisemuanya merupakan komponen esensial dari karakter yang tangguh dan Oleh karena itu, pembahasan ini mempertegas urgensi integrasi neurospiritualitas dalam pendidikan karakter. Pendekatan ini tidak hanya menawarkan relevansi teoritis, tetapi juga menjawab kebutuhan praktis dunia pendidikan saat ini. Dengan menggabungkan wawasan dari filsafat Islam, psikologi perkembangan, dan ilmu saraf, pendekatan ini menghasilkan kerangka konseptual yang utuh dan saling melengkapi. Dalam konteks krisis nilai, kehilangan orientasi, dan tantangan identitas yang dihadapi sistem pendidikan modern, pendekatan neurospiritual memberikan arah baru yang lebih berakar pada nilai, lebih manusiawi dalam pendekatan, dan lebih ilmiah dalam dasar pijakannya. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan neurospiritualitas dalam pendidikan karakter mampu mengintegrasikan tiga dimensi utamaAibiologis, spiritual, dan moralAike dalam satu kerangka yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Temuan menunjukkan bahwa pengalaman spiritual berdampak langsung pada aktivitas otak, terutama di area yang mengatur fungsi kognitif, pengambilan keputusan etis, pengendalian emosi, dan pengembangan diri. Spiritualitas tidak lagi dapat dipandang sebatas ekspresi simbolik atau emosional, tetapi sebagai kekuatan internal yang memengaruhi struktur dan fungsi neurologis yang membentuk karakter seseorang. Secara filosofis, pendekatan ini sejalan dengan pemikiran tokoh-tokoh besar dalam tradisi Islam klasik seperti Al-Ghazali. Ibn Sina, dan Ibn Miskawayh, yang menekankan pentingnya pembinaan jiwa dan akal yang dilandasi kesadaran spiritual dalam pembentukan akhlak. Perspektif tersebut kini mendapat dukungan dari riset neurosains modern, yang membuktikan bahwa praktik spiritual dapat memperkuat fungsi otak yang berkaitan dengan empati, kontrol diri, dan refleksi moral. Dengan memadukan pendekatan kualitatif dan analisis filosofis, penelitian ini merumuskan kerangka pendidikan karakter yang menyatukan pemikiran Islam, teori pendidikan kontemporer, dan bukti ilmiah dari ilmu saraf. Pendekatan ini menawarkan alternatif yang lebih manusiawi, bermakna, dan berbasis bukti dalam pembentukan karakter peserta didik. Di tengah krisis identitas dan disorientasi moral global, neurospiritualitas menjadi fondasi untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga utuh secara batinAiberintegritas, berdaya tahan emosional, dan memiliki arah hidup yang jelas. Pendidikan karakter pun tidak lagi diposisikan sebagai formalitas 32 Al-Attas. The Concept of Education in Islam, 19Ae21. Vol. 09 No. 02 Agustus 2025 . Alamsyah. Neurospiritualitas dalam Pendidikan Karakter moral, melainkan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, yang menyatukan akal, jiwa, dan makna dalam perjalanan hidup yang bernilai. Daftar Pustaka