Tuntunlah ke Jalan yang Benar: Panduan Mengajar Remaja di Jemaat. Oleh Ruth Kadarmanto. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , x 160h. Penulis buku ini, yang menyelesaikan studinya di Presbyterian School of Christian Education. Richmond-Virginia, adalah seorang dosen Pendidikan Kristiani di STT Jakarta sejak tahun 1990 yang sangat memberi perhatian khusus pada pendidikan kristiani bagi anak-anak dan remaja di jemaat dan keluarga. Beliau juga adalah konsultan untuk penulisan kurikulum di berbagai gereja/lembaga dan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi pembina anak dan remaja. Beban tersebut jugalah yang membuat penulis untuk menulis buku yang terdiri dari sembilan bab ini. Tujuan utamanya adalah menolong para calon pembina dan pembina remaja, khususnya di daerah yang jauh dari kota besar, agar dapat mengembangkan diri menjadi semakin berkualitas . Bab pertama adalah hal dasar yang sangat penting dan perlu diketahui oleh para calon maupun pembina remaja, yaitu mengenal pribadi dari remaja itu sendiri, baik karakter, perkembangan, kebutuhan, serta masalah/pergumulan yang timbul pada usia mereka. Remaja yang dimaksud adalah orang yang berusia 12-20 tahun yang sedang berada di masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Di masa ini, mereka mengalami banyak perubahan dalam berbagai aspek yang saling berpengaruh, seperti fisik, sosial, kognitif, moral dan spiritual. Oleh karena itu, sebagai seorang pembina harus dapat mengenal orang yang dibina sehingga dapat terbina dengan baik. Di bab ini penulis menguraikan beberapa kondisi yang remaja hadapi dan saran bagi pembina Jurnal Amanat Agung untuk menghadapinya . , juga ada beberapa contoh yang menjadi kebutuhan . dan pergumulan mereka, secara khusus dalam hal spiritual . Selanjutnya di bab kedua penulis juga menekankan pentingnya disiplin bagi remaja sebagai respon balik bagi remaja untuk mengetahui batasan-batasan yang diperbolehkan dan tidak. Ada dua pendekatan yang diberikan oleh penulis dalam mengembangkan disiplin pada diri remaja, yaitu pendekatan tradisional . erupa pujian atau hukuman Ae h. dan pendekatan dengan memberikan dorongan . Pendekatan yang ideal adalah perpaduan dari kedua pendekatan tersebut sehingga remaja dapat mengalami semua respon dan belajar membuat keputusan yang bijak, mandiri dan bertanggung jawab. Seorang calon maupun pembina tidak hanya cukup mengenal remaja yang akan dibinanya, ia pun harus mengenal dirinya terlebih dahulu sehingga dapat menjadi pembina yang baik. Itulah yang dipaparkan oleh penulis pada bab ketiga. Seorang pembina yang dibutuhkan remaja adalah yang dapat mendukung, menaruh percaya, bersedia mendengar, menerima, tegas, memberi batasan, peka, serta memiliki kehidupan rohani yang baik . Pembina juga harus menanamkan jiwa kepemimpinan kepada remaja dengan melayani, bertanggung jawab, mengupayakan bantuan yang dibutuhkan dan suka bekerja . Remaja bukanlah anak-anak dan juga belum menjadi pemuda. Remaja berada di antara kedua tahap tersebut. Oleh karena itu, seorang pembina juga perlu memerhatikan cara belajar dari anak-anak remajanya yang unik . ab empa. Setiap remaja memunyai keunikan masingmasing di dalam cara belajar. Penulis menyebutkan ada empat pola belajar pada remaja, yaitu imaginatif, analitis, logis dan dinamis . Keberadaan keempat pola tersebut mendor-ong pembina harus kreatif dalam membuat tema dan kegiatan untuk remaja. Salah satu hal yang menarik bagi remaja adalah belajar melalui kelompok kecil . ab Sebuah kelompok kecil yang baik terdiri dari 5-8 orang dan di dalamnya harus ada aturan main yang jelas. Di bab enam penulis menguraikan salah satu peran dari seorang pembina remaja, yaitu siap menjadi konselor bagi anak didiknya yang Tinjauan Buku membutuhkan konseling. Ia memaparkan tentang prinsip dasar konseling . , proses konseling . Selain pembina di gereja, salah satu faktor yang mendorong remaja dapat berkembang dengan baik adalah keberadaan orang tua di rumah . ab tuju. Masa remaja adalah masa penyesuaian antara si anak dan orang tuanya sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik . Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengenal kondisi anaknya . , dapat melakukan pendekatan yang tepat kepada mereka . dan menjadi orang tua yang memiliki karakter yang dibutuhkan oleh remaja . Dua bab terakhir adalah pemaparan mengenai kegiatan yang bersifat spiritual, yaitu ibadah . ab delapa. dan retret . ab sembila. Beribadah adalah waktu untuk merenungkan relasi dengan Tuhan . yang di dalamnya tercakup ungkapan syukur, proklamasi, pengakuan, kebersamaan, pengagungan, ketulusan, keaktifan, rasa hormat. Di dalam beribadah, remaja juga perlu mengerti arti ibadah dan liturgi yang ada, walaupun di dalam penataannya perlu ada penyesuaian dengan keunikan dari remaja yang berbeda dengan orang dewasa, baik dalam hal liturgi maupun penyampaian firman. Selanjutnya, bagi seorang remaja retret adalah bentuk kegiatan yang efektif untuk menolong mereka menyalurkan perasaan dan pertanyaan yang timbul di masa transisi yang sedang mereka hadapi . Sebuah retret yang baik di dalamnya terdiri dari ice breaker, bincang-bincang, aktivitas kreatif, diskusi, acara bebas, saat teduh, dan waktu doa . Pembina harus membuat peraturan yang jelas dan konsisten supaya acara retret dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan semua pihak . dan di dalam persiapannya pembina membutuhkan tim panitia yang dapat menolong persiapan dengan baik. Herris Sen Alumni STT Amanat Agung