Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 5. Nomor 2. September 2024 ISSN 2721 - 4311 DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan Influence of Social Environment to Behaviour Forming of Children at Puteri Daerah Aisyiyah Orphanage in Medan Mutiara Annisa Sinaga1*. Malida Putri2. Mia Aulina Lubis3 . , . , . Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sumatera Utara. Indonesia *E-mail: mutiaraannisasinaga60@gmail. Abstrak Pengasuhan anak merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh keluarga. Penelitian ini berfokus pada pengaruh lingkungan sosial terhadap pembentukan perilaku anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan, sehingga dilakukan di panti asuhan tersebut karena terdapat fenomena-fenomena sosial berupa perilaku prososial dan antisosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis korelasi dengan pengambilan sampel menggunakan metode total sampling, yaitu berjumlah 39 orang. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan uji secara parsial . ji T). Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa variabel independen, yaitu Lingkungan Sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan dengan nilai t-hitung > t-tabel . ,346 > 2,026. yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima dengan nilai signifikansi t < 0,05 . ,000 < 0,. Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa persamaan Y = 13,366 0,408X yang berarti a = 13,366 dan b = 408. Hasil dari perhitungan uji koefisien determinasi (R-Squar. adalah sebesar 0,436. Kata Kunci: Pengaruh. Anak. Lingkungan Sosial. Pembentukan Perilaku. Panti asuhan. Abstract Childcare is an obligation that must be carried out by the family. This research focuses on the influence of the social environment to behaviour forming of children at Puteri Daerah Aisyiyah Orphanage in Medan, so it was conducted at the orphanage because there are social phenomena in the form of prosocial and antisocial behaviour. This study used a quantitative approach and correlation analysis method by sampling using the total sampling method is all 39 Data collected using a questionnaire. Hypothesis testing in this study uses single linear regression analysis with a partial test (T tes. The results of simple linear regression analysis show that the independent variable is the Social Environment has a positive and significant influence to behaviour forming of children at Puteri Daerah Aisyiyah Orphanage in Medan with a t-count value > t-table . 346 > 2. which means H0 is rejected and Ha is accepted with a significance value of t < 0. 000 < 0. The results of simple linear regression analysis show that the equation Y = 13. 408X which means a = 13. 366 and b = 408. The result of the calculation of the coefficient of determination (R Squar. test is 0. Keywords: Influence. Children. Social Environment. Behaviour Forming. Orphanage. Cara citasi : Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina . Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 5 No 2 September 2024, 135-145. Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap PENDAHULUAN Keluarga adalah bagian penting dalam masyarakat karena keluarga adalah tempat individu dalam membentuk kelompok kecil yang akan mendukung kehidupannya. Keluarga merupakan sebuah konsepsi dengan pemahaman dan penerapan yang sangat beragam (Iyoega. Artisa, & Kirana, 2. Oleh karena itu, pengasuhan anak adalah sebuah cara atau sistem yang dilakukan oleh orang tua untuk membimbing, merawat, dan mendidik anak. Anak yang mendapatkan pola asuh yang kurang tepat, maka akan mengalami kesulitan dalam perkembangan sikap sosialnya (Haris, 2. Banyak sekali masalah terkait peran penting pola asuh orang tua untuk keberlangsungan perkembangan anak. Selain kesibukan dari orang tua, terdapat juga orang tua yang belum memahami betapa pentingnya keterlibatan orang tua dalam mengasuh anak hingga mengakibatkan beberapa masalah bagi perkembangan anak pada berbagai aspek (Ramadhani, et al. , 2. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Atik Latifah dengan judul penelitian AuOrang Tua. Anak dan Pola Asuh: Studi Kasus tentang Pola layanan dan Bimbingan Keluarga terhadap Pembentukan Karakter AnakAy yang menyatakan bahwa pada kondisi idealnya, peran dan fungsi keluarga sebagai orang pertama dan utama pendidikan bagi anak. Keluarga dalam hal ini orang tua mempunyai peran penting dalam pengembangan pribadi anak. Peran penting orang tua dalam pembentukan karakter anak butuh diperhatikan karena pola asuh yang diberikan orang tua mempunyai hubungan erat dengan keberhasilan perkembangan karakter anak (Latifah, 2. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susena. yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2020 menyatakan bahwa sebanyak 3,73% bayi di bawah lima tahun . pernah mendapatkan pola pengasuhan tidak layak dan sebanyak 15 provinsi berdasarkan survei melakukan pola asuh tidak tepat dan di bawah rata-rata nasional (Schoolmedia, 2. Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen pA). Rohika Kurniadi Sari mengatakan bahwa kini masih banyak anak Indonesia yang mendapatkan pola pengasuhan tidak layak. Padahal. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 sudah memberikan amanat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan yang layak dari orang tuanya. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 135-145 Data KPAI 2021 menyebutkan sebanyak 2. 971 kasus anak korban pengasuhan bermasalah merupakan kasus dengan aduan tertinggi. Kasus pelanggaran hak anak pada bidang keluarga dan pengasuhan dominan bersifat perdata. Advokasi adalah salah satu cara KPAI mendorong peningkatan kebijakan penyelenggaraan perlindungan anak di tingkat peraturan nasional (KPAI, 2. Tingginya angka perceraian yang mencapai 3% per tahun, perubahan struktur keluarga dan beragam kondisinya menjadikan kompleksitas pemenuhan hak anak dengan beragam kondisi keluarga. KPAI telah melakukan pengawasan tentang pemenuan hak anak, baik dengan kondisi orang tua tunggal, berkonflik, maupun yang sudah bercerai pada Juni 2022. Pengawasan dilakukan dengan menggunakan instrumen dan disebarkan kepada masyarakat. Penelitian ini berfokus pada pengaruh lingkungan sosial terhadap pembentukan perilaku anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan, sehingga dilakukan di panti asuhan tersebut karena terdapat fenomena-fenomena sosial berupa perilaku prososial dan antisosial. Perilaku prososial merupakan aktivitas atau kecenderungan untuk membantu orang lain (AsyAoari & Ariyanto, 2. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari buku catatan berupa daftar perilaku anak-anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan, perilaku prososial ditunjukkan oleh anak yang berperilaku bersaing berarti anak ingin terlihat lebih baik daripada orang lain dalam hal positif. Perilaku prososial berupa perilaku bersaing tersebut ditunjukkan dari anak berprestasi, baik pada bidang akademik maupun ekstrakurikuler. Anak panti asuhan tersebut berprestasi dalam mengahafal tahfidz berupa beberapa surah dari ayat-ayat Al-QurAoan dan memenangkan lomba-lomba MTQ pada bidang akademik. Lalu, anak panti asuhan tersebut juga berprestasi dalam lomba-lomba Kepramukaan dan mengikuti organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada tingkat pusat pada bidang ekstrakurikuler. Selain fenomena sosial berupa perilaku prososial di atas, terdapat juga fenomenal sosial berupa perilaku antisosial pada anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan. Perilaku antisosial adalah perilaku pelanggaran, penentangan, dan berlawanan yang dimiliki individu atau kelompok terhadap perilaku yang berlaku dalam masyarakat (Rambe & Nasriah, 2. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari buku catatan berupa daftar perilaku anak-anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan, perilaku antisosial ditunjukkan dari anak yang berperilaku negativisme menurut (Rambe & Nasriah, 2. berarti anak menolak atau melawan saran atau kekuasaan orang lain. Perilaku antisosial Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap berupa perilaku negativisme tersebut ditunjukkan oleh anak yang berperilaku sering terlambat beribadah melakukan solat, perilaku berbohong yang ditunjukkan dari anak mengatakan bahwa harus membayar uang kas sebesar Rp. 000, tetapi uang kas yang sebenarnya yang harus dibayar sebesar Rp. 000 per bulan dan terkadang uang kas tersebut tidak dibayarkannya, tetapi disalahgunakannya, anak juga berperilaku sering keluar tanpa permisi dengan pengurus panti atau orang tua asuh, dan anak berperilaku mencuri uang temannya di panti asuhan tersebut. Lingkungan sosial yang terdapat di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdapat lima sistem lingkungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem. Sistem lingkungan mikrosistem di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdiri dari keluarga yang meliputi orang tua asuh, sekolah yang meliputi guru, dan teman yang meliputi teman sebaya. Sistem lingkungan mesosistem di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdiri dari hubungan antara beberapa pengalaman yang meliputi hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, dan hubungan pengalaman keluarga dengan tetangga. Sistem lingkungan ekosistem di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdiri dari kenalan saudara yang meliputi saudara dan media yang meliputi televisi, film, video, dan buku. Sistem lingkungan ekosistem di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdiri dari pemerintah yang meliputi kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, adat istiadat yang meliputi kebiasaan, dan budaya yang meliputi pola perilaku. Sistem lingkungan kronosistem di Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan terdiri teknologi yang meliputi intenet dan gadget. Panti asuhan merupakan tempat untuk melakukan penelitian ini karena panti asuhan merupakan tempat pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan yang diberikan kepada anak-anak yang tidak memiliki orang tua atau orang tua yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Panti asuhan bertujuan untuk membantu anak-anak tersebut mengembangkan karakter, disiplin, tanggung jawab, dan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk menjadi anggota yang produktif dalam masyarakat (Septiani. Yasa, & Gunawijaya, 2. Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah adalah lembaga sosial yang menjadi salah satu wadah untuk mengasuh anak yatim piatu, yatim, piatu, anak telantar, mualaf, bahkan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 135-145 anak yang kurang mampu secara ekonomi, dan membawa kesadaran beragama (Hardini & Rubino, 2. Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan panti asuhan lain. Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan memiliki keunikan yang mana panti asuhan tersebut adalah khusus putri yang mana di dalamnya semua anak-anak perempuan. Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah juga memiliki keunggulan, yaitu memiliki bangunan yang lebih besar dan fasilitas yang lebih lengkap, mulai dari kantor pimpinan, aula pertemuan, perpustakaan. Kantor TB, musala, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan penelitian ilmiah dengan terstruktur terhadap fenomena serta hubungannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi. Korelasi adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antarvariabel (Hardani, et , 2. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anak Panti Asuhan yang berjumlah 39 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer melalui penyebaran kuesioner dan data sekunder melalui buku, jurnal, dokumentasi. Uji kelayakan instrumen dalam penelitian ini menggunakan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan membandingkan nilai r-hitung dengan r-tabel yang mana jika r-hitung > r-tabel . , maka butir pertanyaan dinyatakan valid dan reliabel. Uji reliabilitas dalam penelitian ini juga menggunakan metode Cronbach Alpha dengan cara membandingkan nilai alpha dengan r-tabel yang mana jika nilai CronbachAos Alpha > dari 0,6, maka butir pertanyaan dinyatakan reliabel (Rusiadi. Subiantoro, & Hidayat, 2. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik Teknik analisis dengan statistik inferensial merupakan teknik pengolahan data yang menjadikan peneliti untuk dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitiannya pada sejumlah sampel terhadap suatu populasi. Ukuran statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana . ingle regressio. menggunakan rumus Y = a bX yang berarti a adalah konstanta dan b adalah slop/koefisien regresi. Regresi linier adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antarvariabel. Uji kelayakan variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas untuk menguji apakah variabel bebas dan variabel terikat berdistribusi normal atau tidak (Sahir, 2. Uji normalitas dalam penelitian ini Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test yang mana Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05, maka hipotesis diterima karena data tersebut terdistribusi secara Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah diolah pada Aplikasi SPSS 26 diketahui bahwa nilai signifikansi 0,200 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal. Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji T secara parsial untuk mengetahui signifikansi secara parsial variabel bebas terhadap variabel terikat dengan syarat H0 ditolak Ha diterima, jika t-hitung > ttabel . yang berarti ada pengaruh antara variabel independen terhadap dependen (Rusiadi. Subiantoro, & Hidayat, 2. Uji koefisien determinasi (R. juga digunakan dalam penelitian ini untuk melihat besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel Jika angka koefisien determinasi dalam model regresi terus menjadi kecil atau makin dekat dengan nol berarti makin kecil pengaruh semua variabel bebas terhadap variabel terikat atau nilai makin mendekati 100% berarti makin besar pengaruh semua variabel bebas terhadap variabel terikat (Sahir, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji hipotesis yang diperoleh secara parsial . ji T) menunjukkan bahwa nilai thitung pada variabel independen, yaitu Lingkungan Sosial sebesar 5,346 dan nilai t-tabel sebesar 2,026192 yang mana 5,346 > 2,026192 dan berarti H0 ditolak Ha diterima. Artinya, terdapat pengaruh antara variabel independen, yaitu Lingkungan Sosial terhadap variabel dependen, yaitu Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan. Lalu, penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini merasakan pengaruh dari Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Perilaku Anak. Berdasarkan hasil uji hipotesis secara parsial . ji T) pada variabel Lingkungan Sosial diperoleh sebesar 5,346 yang mana lebih besar dari 2,026192 menunjukkan bahwa hasil tersebut sesuai dengan teori ekologi yang menerangkan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh situasi lingkungan yang tedapat hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan yang akan membentuk tingkah laku individu tersebut. Teori ekologi berfokus pada konteks sosial yang mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Sistem lingkungan teori ekologi terdiri dari lima sistem lingkungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 135-145 pengaruh kultur yang lebih luas. Mikrosistem terdiri dari keluarga termasuk orang tua, sekolah termasuk guru, dan teman termasuk teman sebaya. Mesosistem terdiri dari hubungan antara beberapa pengalaman, yaitu hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, dan hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman tetangga. Ekosistem terdiri dari kenalan saudara termasuk saudara, media termasuk televisi, film, video. Makrosistem terdiri dari pemerintah termasuk kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, adat istiadat termasuk kebiasaan, budaya termasuk pola perilaku. Kronosistem terdiri dari teknologi termasuk internet dan gadget. Teori ekologi berusaha melihat interaksi manusia dalam sistem atau subsistem. Hasil regresi linier sederhana diketahui bahwa nilai constant . sebesar 13,366, sedangkan nilai Lingkungan Sosial . /koefisien regres. sebesar 0,408, sehingga persamaan regresinya dapat ditulis: Y = a bX Y = 13,366 0,408X Persamaan tersebut dapat diartikan sebagai berikut: Konstanta sebesar 13,366 berarti bahwa nilai konsisten variabel Pembentukan Perilaku adalah sebesar 13,366 dan menunjukkan bahwa hasil dari konstanta pada variabel Pembentukan Perilaku tersebut sesuai dengan teori belajar sosial yang menerangkan individu belajar dari yang lain, melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial sering disebut jembatan antara perilaku dan teori pembelajaran kognitif karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi. Teori belajar sosial menerangkan bahwa perilaku manusia dalam hal interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Orang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari perilaku tersebut. Biasanya perilaku manusia dipelajari observasional melalui pemodelan, yaitu dari mengamati orang lain. Lalu, hasilnya berfungsi sebagai panduan untuk bertindak (Hamruni. Syaddad. Zakiah, & Putri, 2. Teori belajar sosial menjelaskan perolehan perilaku prososial dan antisosial dengan prinsip yang sama yang digunakan untuk menganalisis perilaku. Albert Bandura mengasumsikan bahwa perilaku prososial dan antisosial dipahami dengan cara yang sama dengan perilaku lainnya. Para psikolog yang menggunakan teori belajar sosial mencoba menerangkan pemahaman perilaku prososial dan antisosial melalui pemodelan Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap atensi . , retensi . , reproduksi . enghasilkan ulan. , dan motivasi . Koefisien regresi X sebesar 0,408 menyatakan bahwa setiap penambahan 1% nilai Lingkungan Sosial, maka nilai Pembentukan Perilaku bertambah sebesar 0,408. Koefisien regresi tersebut bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel X terhadap Y adalah positif. Koefisien regresi X sebesar 0,408 pada variabel Lingkungan Sosial menunjukkan bahwa hasil tersebut sesuai dengan teori ekologi yang yang menerangkan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh situasi lingkungan yang tedapat hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan yang akan membentuk tingkah laku individu tersebut. Teori ekologi berfokus pada konteks sosial yang mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Sistem lingkungan teori ekologi terdiri dari lima sistem lingkungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Mikrosistem terdiri dari keluarga termasuk orang tua, sekolah termasuk guru, dan teman termasuk teman Mesosistem terdiri dari hubungan antara beberapa pengalaman, yaitu hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, dan hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman tetangga. Ekosistem terdiri dari kenalan saudara termasuk saudara, media termasuk televisi, film, video, buku. Makrosistem terdiri dari pemerintah termasuk kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, adat istiadat termasuk kebiasaan, budaya termasuk pola perilaku. Kronosistem terdiri dari teknologi termasuk internet dan gadget. Teori ekologi berusaha melihat interaksi manusia dalam sistem atau Berdasarkan nilai signifikansi dari tabel Coefficients a . egresi linier sederhan. diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Lingkungan Sosial (X) berpengaruh terhadap variabel Pembentukan Perilaku (Y). Hasil koefisien regresi Lingkungan Sosial diperoleh sebesar 0,408 yang berarti bahwa setiap penambahan 1% nilai Lingkungan Sosial, maka nilai Pembentukan Perilaku bertambah sebesar 0,408. Koefisien regresi tersebut bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa Lingkungan Sosial berpengaruh positif terhadap Pembentukan Perilaku, maka dari hasil tersebut diperoleh bahwa terdapat hubungan dari pengaruh Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 2. September 2024: 135-145 Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan. Besarnya nilai kolerasi/hubungan (R) adalah 0,660 menunjukkan bahwa adanya hubungan yang kuat antara variabel Lingkungan Sosial (X) dengan variabel Pembentukan Perilaku (Y) dan diperoleh koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,436 yang berarti bahwa pengaruh variabel independen, yaitu Lingkungan Sosial terhadap variabel dependen, yaitu Pembentukan Perilaku adalah sebesar 43,6%, sedangkan 56,4% variabel Pembentukan Perilaku dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel Lingkungan Sosial yang tidak masuk dalam model atau tidak diteliti. Lalu, nilai Adjusted R Square sebesar 0,421 menunjukkan besar kecilnya sumbangan atau kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen. Jika angka koefisien determinasi dalam model regresi terus menjadi kecil atau makin dekat dengan 0 berarti makin kecil pengaruh semua variabel bebas terhadap variabel terikat atau nilai makin mendekati 100% berarti makin besar pengaruh semua variabel bebas terhadap variabel terikat. Adapun nilai uji koefisien determinasi (R. dalam penelitian ini sebesar 0,436 yang berarti terdapat pengaruh variabel bebas . , yaitu Lingkungan Sosial terhadap variabel terikat . , yaitu Pembentukan Perilaku karena nilai tersebut makin mendekati 100%. Nilai uji koefisien determinasi (R. dalam penelitian ini sebesar 0,436 menunjukkan bahwa hasil tersebut sesuai dengan teori ekologi yang yang menerangkan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh situasi lingkungan yang tedapat hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan yang akan membentuk tingkah laku individu tersebut Teori ekologi berfokus pada konteks sosial yang mana anak tinggal dan orang-orang yang memengaruhi perkembangan anak. Sistem lingkungan teori ekologi terdiri dari lima sistem lingkungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Mikrosistem terdiri dari keluarga termasuk orang tua, sekolah termasuk guru, dan teman termasuk teman Mesosistem terdiri dari hubungan antara beberapa pengalaman, yaitu hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, dan hubungan antara pengalaman keluarga dengan pengalaman tetangga. Ekosistem terdiri dari kenalan saudara termasuk saudara, media termasuk televisi, film, video, buku. Makrosistem terdiri dari pemerintah termasuk Sinaga. Mutiara Annisa. Putri. Malida & Lubis. Mia Aulina. Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, adat istiadat termasuk kebiasaan, budaya termasuk pola perilaku. Kronosistem terdiri dari teknologi termasuk internet dan gadget. Teori ekologi berusaha melihat interaksi manusia dalam sistem atau SIMPULAN Hasil uji regresi linier sederhana menunjukkan persamaan Y = 13,366 0,408X yang mana nilai constant . sebesar 13,366, sedangkan nilai Lingkungan Sosial . /koefisien regres. sebesar 0,408. Berdasarkan nilai signifikansi dari tabel Coefficientsa . egresi linier sederhan. diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Lingkungan Sosial (X) berpengaruh terhadap variabel Pembentukan Perilaku (Y). Koefisien regresi Lingkungan Sosial sebesar 0,408 yang berarti bahwa setiap penambahan 1% nilai Lingkungan Sosial, maka nilai Pembentukan Perilaku bertambah sebesar 0,408. Koefisien regresi tersebut bernilai positif, sehingga dapat dikatakan bahwa Lingkungan Sosial berpengaruh positif terhadap Pembentukan Perilaku, maka dari hasil tersebut diperoleh bahwa terdapat hubungan dari pengaruh Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Perilaku Anak Panti Asuhan Puteri Daerah Aisyiyah Kota Medan. DAFTAR PUSTAKA