Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah Dasar dalam Menunjang Keberhasilan Pembelajaran di Kelas Yulifah*. Yunita Maulina. Yunita Novasari. Zakiyatun Nisa. Zalfa Ikrima. Maria Melani Ika Susanti Universitas Widya Dharma Klaten. Klaten. Indonesia *Coresponding Author: yulifah725@gmail. Dikirim: 11-05-2025. Direvisi: 21-07-2025. Diterima: 22-07-2025 Abstrak: Pendidikan merupakan upaya terencana untuk menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensinya secara aktif. Pembelajaran di tingkat sekolah dasar memiliki peranan penting dalam membentuk generasi yang Namun, berbagai permasalahan seperti keterbatasan sarana dan prasarana, strategi pengajaran, kondisi kelas, serta perbedaan latar belakang sosial ekonomi dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematika pembelajaran di sekolah dasar dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada guruguru di SD Negeri Pakahan dan SD Negeri Karangdukuh sejumlah 17 responden kepada guruguru yang aktif mengajar dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun guru telah menerapkan strategi pembelajaran inovatif, masih terdapat kendala dalam pemenuhan fasilitas, pengelolaan keberagaman sosial, serta akomodasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Oleh kareana itu, diperlukan peningkatan dalam penyediaan sarana prasarana, pengelolaan kelas yang lebih inklusif, serta penguatan strategi pengajaran agar tercipta lingkungan belajar yang lebih efektif bagi semua peserta didik. Pentingnya memahami tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar, semua pihak perlu berkolaborasi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif dan efektif melalui peningkatan fasilitas, strategi pengajaran yang adaptif, serta dukungan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik yang beragam. Kata Kunci: Problematika Pembelajaran. Pendidikan. Sekolah Dasar Abstract: Education is a planned effort to create learning conditions that enable students to actively develop their potential. Learning at the elementary school level plays a crucial role in shaping a competent generation. However, various problems such as limited facilities and infrastructure, teaching strategies, classroom conditions, and differences in socioeconomic backgrounds can affect learning effectiveness. This study aims to analyze learning problems in elementary schools and identify factors that influence their success. This study used a quantitative survey method with a descriptive approach. Data were collected through questionnaires distributed to 17 teachers at Pakahan Public Elementary School and Karangdukuh Public Elementary School. The respondents were teachers who actively teach and are directly involved in the learning process. The research results show that although teachers have implemented innovative learning strategies, there are still obstacles in providing facilities, managing social diversity, and accommodating students with special needs. Therefore, improvements in the provision of infrastructure, more inclusive classroom management, and strengthening teaching strategies are needed to create a more effective learning environment for all students. Understanding the challenges faced in the learning process in elementary schools is important, all parties need to collaborate in creating more inclusive and effective learning through improved facilities, adaptive teaching strategies, and policy support oriented to the needs of diverse students. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Keywords: Learning Problems. Education. Elementary School PENDAHULUAN Pendidikan adalah salah satu dasar utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas (Syarifuddin et al. , 2. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja dan terencana untuk menciptakan kondisi belajar serta proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi diri mereka secara aktif. Tujuannya adalah agar mereka memperoleh kemampuan mengendalikan diri, perkembangan kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan yang dibutuhkan untuk kepentingan diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 4 menyatakan bahwa peserta didik dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang berupaya mengembangkan potensi diri mereka melalui proses pembelajaran di jenjang dan jenis pendidikan. Dengan demikian, pendidikan dipahami sebagai upaya yang disengaja dan terencana untuk memungkinkan masyarakat mengoptimalkan potensi peserta didik agar mereka memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan melalui proses pembelajaran (Pradnyana & Amanda, 2. Pembelajaran adalah suatu proses yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa, dimana terjadi komunikasi yang saling mempengaruhi dalam konteks pendidikan, dengan tujuan untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan (Rustaman. Proses pembelajaran adalah suatu usaha untuk mengajarkan seseorang melalui berbagai strategi, pendekatan, dan metode dengan tujuan mencapai hasil yang telah ditetapkan oleh guru (Farouq, 2. Seorang guru memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan, karena guru adalah pihak yang menyampaikan ilmu pengetahuan. Selain itu, guru juga merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran (Jamaah, 2. Guru memiliki berbagai peran penting dalam proses pendidikan, di antaranya sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, pelatih, aktor, korektor, inspirator, pengelola kelas, supervisor, dan evaluator. Sebagai motivator, guru memberikan semangat kepada siswa agar lebih giat belajar, baik melalui nasihat, kata-kata yang memotivasi, maupun pujian (Nurzannah, 2. Dalam perannya sebagai fasilitator, guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta lingkungan kelas yang nyaman. Guru juga berperan dalam membimbing siswa selama proses belajar dan perkembangan pribadi Selain itu, guru bertindak sebagai korektor dengan menilai serta mengoreksi hasil belajar siswa Proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar (SD) memegang peranan yang sangat penting dalam mencetak generasi penerus yang memiliki potensi dan keterampilan yang baik. Tingkat pendidikan ini merupakan tahap awal yang sangat penting bagi anak-anak dalam perkembangan intelektual mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran di sekolah dasar (Nuraini et al. , 2. Namun, berbagai masalah seringkali menghambat kelancaran proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar baik dari segi pengajaran, kurikulum, faktor internal . ang berasal dari dalam diri sisw. dan faktor eksternal . ang berasal dari lingkunga. Problematika siswa dalam proses pembelajaran juga dapat mempengaruhi hasil belajar mereka (Ilham et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dan guru di SDN Pakahan, guru telah menggunakan berbagai @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA strategi pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Tetapi, masih ditemukan beberapa problematika pembelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Problematika tersebut mencakup keterbatasan sarana dan prasarana, strategi pengajaran yang diterapkan guru, kondisi kelas yang tidak kondusif, perbedaan latar belakang sosial ekonomi, kualitas guru yang bervariasi, serta kurangnya perhatian terhadap kebutuhan siswa yang beragam, dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan keberhasilan siswa di kelas. Keberhasilan proses pembelajaran di kelas sangat dipengaruhi oleh bagaimana proses pembelajaran dirancang dan dilaksanakan. Dalam konteks ini, guru dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu mengelola kelas dengan Oleh karena itu, analisis terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar sangat penting dilakukan guna menemukan solusi yang tepat untuk menunjang keberhasilan pembelajaran di kelas. Dengan memahami akar permasalahan yang ada, diharapkan dapat ditemukan pendekatan yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, baik dari sisi pengajaran, pengelolaan kelas, maupun keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran di tingkat sekolah dasar dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di kelas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif dengan pendekatan Teknik ini dipilih untuk memperoleh gambaran yang sistematis dan objektif mengenai problematika pembelajaran di sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada guru-guru di SD Negeri Pakahan dan SD Negeri Karang Dukuh di Kecamatan Jogonalan. Responden terdiri dari guru-guru dengan latar belakang pengalaman mengajar yang beragam. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dirancang untuk mengukur efektivitas metode pembelajaran, strategi pengajaran, kondisi kelas, ketersediaan fasilitas, serta keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara statistik deskriptif untuk menggambarkan pola-pola yang muncul dari respon yang diberikan (Sugiyono, 2. Penelitian ini menerapkan metode survei kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menganalisis data secara sistematis dan objektif. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada guru-guru di SD Negeri Pakahan dan SD Negeri Karangdukuh di kecamatan Jogonalan pada tanggal 6 Maret 2025 sampai 11 Maret 2025. Responden dalam penelitian ini terdiri dari berbagai generasi guru dengan latar belakang pengalaman mengajar yang beragam, sehingga memberikan perspektif yang lebih luas mengenai dinamika pembelajaran di sekolah Jumlah responden sebanyak 17 orang guru, terdiri atas 13 perempuan dan 4 lakilaki. Berdasarkan kategorisasi generasi, responden meliputi Generasi X . elahiran 1965Ae1. Generasi Y . 1Ae1. , dan Generasi Z . 7Ae2. , dengan rentang usia antara sekitar 25 tahun hingga 56 tahun. Instrumen penelitian mencakup serangkaian pertanyaan yang dirancang untuk mengukur efektivitas metode pembelajaran, strategi pengajaran yang diterapkan, kondisi kelas, ketersediaan fasilitas pendukung, serta keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan Google Form, yang berisi 30 pernyataan dengan skala Likert 1 sampai Instrumen ini disusun untuk mengukur persepsi guru terhadap problematika pembelajaran, keberagaman sosial peserta didik, serta strategi pengajaran yang Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, dengan menghitung nilai rata-rata . dan standar deviasi untuk setiap indikator. Hasil analisis digunakan untuk mengidentifikasi kecenderungan, pola, dan tantangan dalam proses pembelajaran di sekolah dasar (Sugiyono, 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di lingkungan sekolah dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada hasil penelitian yang menjadi objek penelitiannya adalah guru SD Negeri Pakahan berjumlah 9 orang dan SD Negeri Karang Dukuh 8 orang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif karena metode ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi pola dan kecenderungan dalam data yang dikumpulkan (Sugiyono, 2. Kuesioner disebar menggunakan google form ke grup guru masingmasing SD. Hasil penyebaran kuesioner dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Kuesioner Keterangan Kuesioner yang dihasilkan Kuesioner tidak lengkap Kuesioner yang dapat dianalisis Total Karakteristik responden dan jawaban responden merupakan analisis deskriptif dalam penelitian. Data primer yang telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti kemudian Analisis karakteristik responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan dan penghasilan. Deskripsi Jenis Kelamin Deskripsi jenis kelamin responden, terdiri atas dua karakteristik yaitu laki-laki dan perempuan. Tabel 2 menunjukkan deskripsi jenis kelamin responden. Tabel 2. Jenis Kelamin Responden Keterangan Perempuan Laki-laki Total Jumlah Jumlah Tabel 2 menunjukkan responden terdiri dari laki-laki dan perempuan sebanyak 13 orang atau 76% sedangkan laki-laki sebanyak 4 orang atau 24%. Tabel 3. Usia Responden Keterangan Generasi X . elahiran tahun 1965- 1. Generasi Y . elahiran tahun 1981- 1. Generasi Z . elahiran tahun 1997- 2. Total Jumlah Jumlah @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa responden dibedakan menjadi tiga kategori yaitu generasi X . elahiran tahun 1965-1. , generasi Y . elahiran tahun 1981-1. , dan generasi Z . elahiran tahun 1997-2. Dari hasil analisis deskriptif di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden adalah mereka generasi Y . elahiran tahun 1981-1. sebesar 9 responden atau 52%. Tabel 4. Asal Sekolah Responden Keterangan SD Negeri Pakahan SD Negeri Karangdukuh Total Jumlah Jumlah Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa asal sekolah responden dibedakan menjadi dua, yaitu SD Negeri Pakahan dan SD Negeri Karang Dukuh. Jumlah responden dari SD Negeri Pakahan yaitu 9 orang atau 52%, sedangkan jumlah responden dari SD Negeri Karang Dukuh yaitu 8 orang atau 48%. Deskripsi Variabel Penelitian Berdasarkan penyebaran kuesioner yang telah dilakukan kepada 17 responden untuk pengumpulan data penelitian, diperoleh berbagai macam jawaban atas semua pernyataan yang telah dicantumkan dalam kuesioner. Kuesioner yang disebarkan terdiri dari 30 pernyataan yang mencerminkan indikator-indikator dari problematika atau masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran, perbedaan latar belakang sosial yang terjadi di kelas, dan strategi atau pendekatan pembelajaran yang dilakukan seorang guru. Semua pernyataan tersebut diberikan pilihan jawaban dengan skala likert 1 sampai 4, yaitu: 1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = setuju, 4 = sangat Skala Likert dipilih karena fleksibilitas dan kemampuannya dalam mengukur persepsi dan sikap responden secara kuantitatif (Joshi et al. , 2. Statistik deskriptif ini dilakukan untuk melihat rata-rata jawaban yang dipilih oleh responden karena terdapat ragam jawaban yang diberikan responden atau pernyataan pada kuesioner. Statistik deskriptif yang dimaksud dalam penelitian ini terdiri dari nilai skor masing-masing, rata-rata . dan standar deviasi. Pada analisis problematika atau masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran, penulis akan membahas mengenai problematika atau masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran. Adapun hasil kuesioner pada tabel 5 berikut yang ditujukan kepada 17 responden. Tabel 5. Variabel Problematika yang Terjadi dalam Proses Pembelajaran Pernyataan Apakah metode pembelajaran yang Bapak/Ibu gunakan efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik? Apakah peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan? Apakah suasana kelas kondusif Apakah fasilitas dan media pembelajaran yang tersedia sudah STS Standar Deviasi Mean 0,49 3,59 0,89 2,29 0,46 3,29 0,71 2,82 @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Apakah mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bertanya dan berdiskusi dalam kelas? Apakah Bapak/Ibu terbantu dengan adanya teknologi Apakah beban administrasi yang Bapak/Ibu Apakah metode evaluasi yang Bapak/Ibu gunakan sudah mampu mengukur kemampuan peserta didik dengan baik? Apakah orang tua/wali murid turut pembelajaran peserta didik? Apakah tugas yang diberikan kepada peserta didik sesuai Jumlah 0,49 3,59 0,48 3,65 0,80 3,06 0,68 3,12 0,49 3,41 0,49 3,41 3,22 Pada hasil survei Tabel 5 mengenai problematika dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa sebagian besar guru merasa metode yang mereka gunakan cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dengan nilai mean 3,59 dan standar deviasi 0,49. Akan tetapi, terdapat tantangan dalam pemahaman materi oleh peserta didik, yang tercermin dari nilai mean 2,29 dan standar deviasi 0,89, menunjukkan bahwa masih ada kendala dalam penyampaian atau penerimaan materi. Sementara itu, suasana kelas dinilai cukup kondusif untuk pembelajaran dengan mean 3,29, dan sebagian besar peserta didik mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bertanya dan berdiskusi di kelas dengan nilai mean 3,59. Salah satu aspek yang masih menjadi perhatian adalah ketersediaan fasilitas dan media pembelajaran yang dinilai belum sepenuhnya memadai, dengan mean 2,82 dan standar deviasi 0,71. Menurut Suharto . , keterbatasan fasilitas pembelajaran, seperti kurangnya media pembelajaran interaktif dan minimnya alat peraga, berpengaruh besar pada motivasi belajar dan pemahaman siswa. Fasilitas yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pembelajaran aktif dan inovatif di kelas. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran mendapat respons positif dari guru dengan nilai mean 3,65, menunjukkan bahwa teknologi telah memberikan dampak signifikan dalam pembelajaran. Beban administratif guru juga menjadi tantangan, dengan nilai mean 3,06 dan standar deviasi 0,80, yang mengindikasikan adanya perbedaan persepsi mengenai pengaruh administrasi terhadap fokus mengajar. Dalam hal evaluasi pembelajaran, sebagian besar guru merasa metode yang digunakan sudah cukup mampu mengukur kemampuan peserta didik dengan mean 3,12, namun masih ada ruang untuk perbaikan. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA mendukung pembelajaran mendapatkan nilai mean 3,41, yang menunjukkan bahwa peran mereka cukup terlihat, meskipun bisa lebih ditingkatkan. Adapun tugas yang diberikan kepada peserta didik dinilai sudah sesuai dengan tingkat kemampuan mereka dengan nilai mean 3,41. Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran meliputi peningkatan fasilitas dan media pembelajaran agar lebih mendukung proses belajar, penerapan strategi pengajaran yang lebih adaptif terhadap kesulitan peserta didik, serta pengurangan beban administratif guru agar mereka lebih fokus dalam mengajar. Selain itu, pemanfaatan teknologi perlu dioptimalkan agar dapat semakin meningkatkan efektivitas metode Secara keseluruhan, meskipun sebagian besar guru telah menerapkan strategi pembelajaran yang cukup efektif, masih ada tantangan yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara menyeluruh. Tabel 6. Perbedaan Latar Belakang Sosial yang Terjadi di Kelas Pernyataan Apakah Bapak/Ibu mengamati adanya perbedaan latar belakang berinteraksi di kelas? Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa perbedaan latar belakang sosial terhadap motivasi belajar mereka? Apakah Bapak/Ibu menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai peserta didik? Apakah Bapak/Ibu menghadapi tantangan dalam mengelola kelas karena perbedaan latar belakang sosial peserta Apakah Bapak/Ibu melihat adanya kelompok-kelompok kecil di kesamaan latar belakang sosial? Apakah Bapak/Ibu berupaya menciptakan suasana kelas yang inklusif agar semua peserta didik memandang latar belakang sosial Apakah Bapak/Ibu memberikan perhatian khusus kepada peserta didik dari latar belakang sosial Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa perbedaan latar belakang sosial peserta didik dapat memperkaya pengalaman belajar di kelas? STS Standar Deviasi Mean 0,69 3,29 0,77 3,24 0,49 3,35 0,56 3,24 0,99 2,53 0,51 3,53 0,56 3,24 0,57 3,29 @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Apakah Bapak/Ibu menemui kesenjangan dalam akses peserta didik terhadap sumber belajar akibat faktor sosial-ekonomi Apakah Bapak/Ibu merasa perlu adanya kebijakan atau program membantu peserta didik dari latar belakang sosial yang beragam? Jumlah 0,75 3,06 0,51 3,47 3,22 Berdasarkan hasil survei Tabel 6 mengenai pengaruh latar belakang sosial peserta didik dalam pembelajaran, sebagian besar guru mengamati adanya perbedaan sosial yang mempengaruhi interaksi di kelas dengan nilai mean 3,29 dan standar deviasi 0,69. Selain itu, mereka juga merasa bahwa faktor sosial berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik . ean 3,24, standar deviasi 0,. Studi yang dilakukan oleh Sari dan Wijaya . menunjukkan bahwa keberagaman sosial dapat menjadi kekuatan dalam pembelajaran jika dikelola dengan baik, namun juga berpotensi menciptakan ketimpangan jika strategi pengajaran tidak disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Untuk mengatasi faktor sosial, sebagian besar guru telah menyesuaikan strategi pembelajaran dengan keberagaman sosial yang ada . ean 3,. , menunjukkan upaya adaptasi dalam mengelola kelas. Akan tetapi, beberapa guru menghadapi tantangan dalam pengelolaan kelas akibat perbedaan latar belakang sosial peserta didik . ean 3,. , dan mereka juga melihat adanya kecenderungan terbentuknya kelompok kecil berdasarkan kesamaan latar belakang sosial . ean 2,. , yang menunjukkan adanya potensi eksklusivitas dalam interaksi sosial. Meskipun demikian, upaya menciptakan suasana kelas yang inklusif sangat ditekankan oleh para guru dengan mean 3,53, yang mencerminkan kesadaran akan pentingnya lingkungan belajar yang adil dan merata. Terkait dengan perhatian terhadap peserta didik dari latar belakang yang kurang mendukung pembelajaran, para guru menunjukkan kepedulian dengan nilai mean 3,24. Selain itu, sebagian guru juga menyadari bahwa perbedaan latar belakang sosial dapat memperkaya pengalaman belajar di kelas . ean 3,. Namun, mereka juga menemui kesenjangan dalam akses peserta didik terhadap sumber belajar akibat faktor sosial-ekonomi . ean 3,. , yang menunjukkan adanya hambatan yang perlu diatasi. Sebagai solusi, para guru merasa pentingnya kebijakan atau program khusus di sekolah untuk membantu peserta didik dari latar belakang sosial yang beragam . ean 3,. , menandakan perlunya intervensi yang lebih sistematis. Secara keseluruhan, meskipun para guru telah melakukan berbagai upaya dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif, masih terdapat tantangan dalam pengelolaan kelas, akses sumber belajar, dan pembentukan kelompok sosial di dalam kelas. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih efektif, termasuk kebijakan sekolah yang mendukung keberagaman sosial guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih setara dan inklusif bagi seluruh peserta didik. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA Tabel 7. Strategi Pendekatan Pembelajaran yang Dilakukan Guru dalam Proses Pembelajaran Pernyataan Apakah Bapak/Ibu dengan karakteristik peserta didik sebelum mengajar? Apakah Bapak/Ibu menerapkan metode pembelajaran aktif eperti diskusi, eksperimen, atau problem-based learnin. Apakah Bapak/Ibu menggunakan variasi media pembelajaran . eperti video, gambar, atau alat perag. untuk peserta didik? Apakah Bapak/Ibu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara kolaboratif dalam kelompok kecil? Apakah Bapak/Ibu strategi pembelajaran yang diterapkan di kelas? Apakah Bapak/Ibu pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang memiliki gaya belajar berbeda? Apakah Bapak/Ibu menggunakan teknologi dalam pembelajaran untuk mendukung pemahaman peserta didik? Apakah Bapak/Ibu memberikan umpan balik secara langsung kepada peserta didik untuk Apakah Bapak/Ibu menerapkan pendekatan yang memotivasi peserta didik agar lebih aktif dalam proses pembelajaran? Apakah Bapak/Ibu mengakomodasi peserta didik dengan kebutuhan khusus dalam strategi pembelajaran yang Jumlah STS Standar Deviasi Mean 0,46 3,29 0,50 3,53 0,50 3,53 0,49 3,59 0,49 3,41 0,48 3,35 0,60 3,41 0,50 3,53 0,49 3,59 0,42 3,06 3,43 Berdasarkan hasil survei pada Tabel 7 mengenai strategi pembelajaran yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran, mayoritas responden telah merancang @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik sebelum mengajar dengan nilai mean 3,29 dan standar deviasi 0,46. Guru juga cenderung menerapkan metode pembelajaran aktif, seperti diskusi dan problem-based learning, dengan nilai mean 3,53. Selain itu, penggunaan variasi media pembelajaran seperti video, gambar, dan alat peraga juga cukup tinggi dengan mean yang sama, yaitu 3,53. Penelitian oleh Rahman . menegaskan bahwa penerapan metode pembelajaran aktif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, memperkuat pemahaman konsep, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Pemberian kesempatan bagi peserta didik untuk belajar secara kolaboratif dalam kelompok kecil juga menjadi salah satu strategi yang diterapkan oleh para guru, dengan nilai mean tertinggi sebesar 3,59. Evaluasi terhadap efektivitas strategi pembelajaran dilakukan secara rutin oleh guru dengan mean 3,41, yang menunjukkan adanya kesadaran untuk terus meningkatkan efektivitas pembelajaran. Selain itu, guru juga menyesuaikan pendekatan pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik yang memiliki gaya belajar berbeda . ean 3,. , serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung pemahaman peserta didik dengan mean 3,41. Salah satu aspek penting dalam pembelajaran adalah pemberian umpan balik kepada peserta didik, yang dalam survei ini mendapat nilai mean 3,53. Guru juga menerapkan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi peserta didik agar lebih aktif dalam proses pembelajaran dengan nilai mean 3,59, menegaskan pentingnya peran guru dalam membangun keterlibatan siswa. Namun, meskipun sebagian besar strategi pembelajaran sudah cukup efektif, akomodasi untuk peserta didik dengan kebutuhan khusus masih memiliki mean yang lebih rendah dibanding aspek lainnya, yaitu 3,06, dengan standar deviasi 0,42. Secara keseluruhan, hasil survei ini menunjukkan bahwa para guru telah menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang aktif, inovatif, dan berbasis evaluasi, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,43. Meskipun demikian, masih diperlukan peningkatan dalam hal pengakomodasian peserta didik dengan kebutuhan khusus agar seluruh siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang inklusif dan setara. Analisis Ketiga Sumber Data Berdasarkan hasil analisis dari tiga set data yang telah disajikan, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran di kelas sudah berjalan dengan baik dengan penerapan berbagai strategi yang mendukung pemahaman dan keterlibatan peserta Dari segi efektivitas metode pembelajaran, sebagian besar guru merasa bahwa strategi yang mereka gunakan sudah cukup efektif, dengan rata-rata nilai mean yang menunjukkan kecenderungan positif. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga dinilai membantu meningkatkan pemahaman siswa, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi peserta didik untuk bertanya dan berdiskusi. Akan tetapi, terdapat beberapa tantangan yang masih perlu diperhatikan. Kesulitan peserta didik dalam memahami materi masih menjadi kendala, meskipun guru telah menerapkan berbagai metode pembelajaran yang aktif. Selain itu, aspek ketersediaan fasilitas dan media pembelajaran masih dinilai belum sepenuhnya memadai, yang dapat berpengaruh terhadap efektivitas proses belajar-mengajar. Berdasarkan hasil jurnal yang disusun oleh Savira S. I, et al. faktor perbedaan latar belakang sosial peserta didik juga mempengaruhi interaksi dan motivasi belajar mereka Meskipun guru berupaya menciptakan suasana kelas yang inklusif, masih ditemukan adanya kelompok-kelompok kecil di dalam kelas berdasarkan kesamaan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Yulifah dkk. Analisis Problematika Proses Pembelajaran di Tingkat Sekolah DasarA latar belakang sosial, serta kesenjangan akses terhadap sumber belajar akibat faktor sosial-ekonomi. Dari segi evaluasi pembelajaran, guru telah melakukan berbagai langkah untuk menilai efektivitas metode yang digunakan, serta memberikan umpan balik kepada peserta didik untuk meningkatkan pemahaman mereka. Selain itu, strategi pembelajaran yang diterapkan juga sudah cukup variatif, termasuk penggunaan media pembelajaran yang beragam dan pendekatan kolaboratif. Akan tetapi, salah satu aspek yang masih perlu ditingkatkan adalah akomodasi bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus, karena masih menjadi tantangan dalam penerapannya di kelas (Savira et al. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa guru telah berupaya menerapkan strategi pembelajaran yang inovatif dan berbasis evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, beberapa aspek seperti pemenuhan fasilitas, pengelolaan keberagaman sosial di kelas, serta akomodasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus masih perlu mendapatkan perhatian lebih agar tercipta lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif bagi seluruh peserta didik. KESIMPULAN Proses pembelajaran di sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, variasi kualitas guru, serta perbedaan latar belakang sosial ekonomi siswa. Meskipun guru telah menerapkan strategi pembelajaran yang inovatif, masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal pengelolaan keberagaman sosial di kelas dan pemenuhan fasilitas Oleh karena itu, upaya perbaikan dalam manajemen kelas, peningkatan kualitas pengajaran, serta penyediaan lingkungan belajar yang lebih inklusif sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA