KAMBOTI / Volume 5. Nomor 1, 2024 P-ISSN: 2746-4768 E-ISSN: 2746-475X KAMBOTI Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Komunikasi Antar Budaya pada Masyarakat Pendatang (Studi pada Etnis Jawa di Halong Mardika Kelurahan Rijali Kota Ambo. Marleen Muskita 1,*. Derek Bakarbessy 2. Putri Wairisal 3 1,2,3 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia Correspondence : aleenmuskita@gmail. Abstract. Indonesian society is known as a heterogeneous society in various aspects, such as diversity of ethnicity, religion, language and customs. Ambon City, as the capital of Maluku, has many places where migrant people can live, one of which is Jalan Mutiara Halong Mardika. The aim of the research is to find out and describe how the intercultural communication process occurs in the Javanese community in Ambon City. The method used is qualitative descriptive research, where data collection techniques use observation, interviews and documentation. The data analysis technique used uses an interactive model. The results of this research are the communication barriers that ethnic Javanese migrants usually face when interacting with local communities, namely, firstly, difficulties in the language used, meaning that when interacting with migrants, local communities mostly still use Ambonese Malay. Second, the difference in the way of communicating, in this case the rather rough accent and intonation, is in sharp contrast to the Javanese people whose way of speaking is smooth, causing them to be afraid to communicate with local people, as well as different cultural supporting factors which can be an obstacle for them when communicating with local people. However, they were able to overcome these obstacles well so that the communication process ran well without any problems between the Javanese ethnic community and the local Keywords. Cultural Communication. Javanese Ethnicity. Ambon City Pendahuluan Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika . erbeda-beda tetapi tetap sat. yang didalamnya terkandung makna yang mendalam, sekaligus menunjukkan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk (Cangara, 2. Hal ini dapat dilihat dari beragam etnik yang mendiami berbagai pulau yang ada di Indonesia, mereka tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Indonesia sebagai negara yang majemuk dengan derajat keberagaman yang tinggi mempunyai peluang besar dalam berlangsungnya komunikasi antar etnik atau antar budaya (Sambas, 2. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang heterogen dalam berbagai aspek, seperti keberagaman agama, suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan sebagainya. Perbedaan itu dapat dipahami jika setiap kelompok masyarakat saling berkomunikasi (Cangara, 2. Untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaannya, diperlukan pemahaman budaya (Ridwan, 2. Akibat adanya keberagaman maka manusia antar budaya selalu berinteraksi satu sama lainnya, tetapi sering merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan seperti bahasa, adat istiadat, dan sebagainya (Deddy. Komunikasi dapat didefinisikan secara etimologi, yaitu bahasa, dan terminologi, yakni istilah. Terlihat pada etimologi, dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar didefinisikan bahwa Aukomunikasi atau communication dalam bahasa Inggris merupakan berasal dari kata communis yang memiliki arti membuat sama. Ay Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa komunikasi merupakan penyampaian sebuah pesan yang memiliki tujuan untuk membuat sama persepsi atau makna antara komunikator dengan komunikan (Deddy, 2. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya (Suradi. Rasa ingin tahu ini menyebabkan manusia berkomunikasi, termasuk dengan orang yang berbeda budaya (Liliwery, 2. Komunikasi yang terjalin dilakukan oleh individu yang memiliki perbedaan kebudayaan disebut komunikasi antar budaya. Sang pengirim pesan, yakni komunikator, mempunyai perbedaan dengan individu yang menerima pesan, yakni komunikan. Perbedaan yang terjadi meliputi perbedaan suku, bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan kelas sosial (Deddy, 2. Komunikasi antar budaya merupakan suatu proses pertukaran sistem simbolik yang dapat membimbing dan membatasi perilaku manusia. Komunikasi antar budaya akan terjadi ketika pihakpihak yang terlibat memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. Seperti adanya perbedaan budaya yang membuat komunikasi antara masyarakat pendatang dan masyarakat setempat/lokal tidak begitu mudah. Komunikasi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal sudah tampak jelas memperlihatkan bahwa komunikasi yang terjadi melibatkan dua unsur budaya yang berbeda (Iyen Herlin Situmorang, 2. Masyarakat pendatang dengan latar belakang budaya dari daerah tempat asalnya dan masyarakat lokal dengan latar belakang budaya daerah setempat (Marshellena Devinta, 2. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada awal penelitian. Kota Ambon memiliki banyak tempat yang dapat ditinggali oleh masyarakat pendatang, salah satunya di Jalan Mutiara Halong Mardika. Hal ini tidak menutup kemungkinan selain masyarakat lokal yang tinggal di Kota Ambon, dijumpai juga banyak masyarakat pendatang yang berasal dari pulau Jawa dan lainnya. Saat melakukan komunikasi, masyarakat pendatang seperti masyarakat Jawa yang berasal dari luar daerah Maluku yang tentunya memiliki budaya yang berbeda ini sering diperhadapkan dengan kenyataan adanya perbedaan bahasa, aturan-aturan, dan norma-norma yang membedakan antara mereka dengan masyarakat lokal. Hal ini tidak mudah bagi masyarakat perantau luar daerah Maluku menghadapi lingkungan baru yang membuat mereka persoalan berhadapan dengan masalah sosial-psikologis yang mau tak mau harus mereka hadapi sebagai bentuk proses adaptasi pada lingkungan baru Pada masyarakat perantau dari luar daerah Maluku yang datang mencari hidup di Kota Ambon, biasanya mereka mengalami hambatan dalam melakukan proses komunikasi dengan masyarakat lokal, dalam hal ini gegar budaya atau culture shock yang terjadi pada awal-awal kedatangan mereka di Kota Ambon. Penelitian terdahulu dengan judul Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antar Budaya pada Mahasiswa Asal Papua di Universitas Negeri Medan didapati bahwa para mahasiswa asal Papua memiliki kecenderungan culture shock. Akan tetapi mereka sudah hampir bisa menyesuaikan diri dan merasa nyaman tinggal di lingkungan tersebut (Iyen Herlin Situmorang, 2. Hanya saja culture shock yang terjadi setiap orang berbeda-beda tergantung sejauh mana hal tersebut memengaruhi hidupnya (Marshellena Devinta, 2. Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat pendatang dari luar daerah Maluku yang mencari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka banyak berasal dari suku Jawa. Papua. Manado. Batak, dan lain-lain. Biasanya masyarakat perantau ini akan memilih hidup berkelompok dan hanya mau bergabung dengan masyarakat yang asal dari daerah yang sama. Seolaholah mereka tidak percaya diri untuk bergabung dan berinteraksi dengan kelompok masyarakat lokal Secara perspektif komunikasi, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana proses mereka beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, mengingat salah satu tujuan dari komunikasi adalah ditemukan persamaan pemahaman atau good understanding. Page Masyarakat Indonesia bagian timur, khususnya di Kota Ambon, memiliki budaya dalam bertutur kata yang terdengar kasar, sangat berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia bagian barat, khususnya Jawa, yang memiliki budaya bertutur kata halus. Sehingga penelitian ini perlu dilakukan untuk melihat hambatan yang dialami oleh masyarakat pendatang saat berada di Kota Ambon. Selain itu, dari hasil observasi yang peneliti lakukan, ada tiga bahasa yang dipakai oleh masyarakat lokal dan masyarakat pendatang dalam berkomunikasi yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu Ambon. Keberadaan masyarakat perantau dari luar daerah Maluku memiliki perbedaan budaya yang berarti perbedaan cara mereka berkomunikasi (Latuheru & Muskita, 2. Sebagai contoh, masyarakat beretnis Jawa yang datang merantau di Kota Ambon memiliki budaya bertutur lembut, berbeda dengan masyarakat lokal yang memiliki budaya berbicara keras, berani, dan suka ceplas-ceplos. Hal ini sering disalahartikan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk kemarahan, sehingga memunculkan persepsi yang keliru, kecemasan, bahkan menghindari interaksi. Penelitian ini berupaya memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang proses komunikasi antar budaya yang terjadi pada masyarakat perantau dari luar daerah Maluku di Kota Ambon. Selain itu, penelitian ini akan mengeksplorasi secara spesifik bagaimana masyarakat perantau menghadapi hambatan komunikasi lintas budaya, termasuk dinamika penggunaan tiga bahasa utama (Bahasa Indonesia. Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu Ambo. dalam interaksi sehari-hari. Kajian ini juga menawarkan perspektif baru terkait strategi adaptasi yang digunakan masyarakat perantau untuk mengatasi perbedaan budaya, serta upaya membangun pemahaman yang lebih baik dalam konteks keberagaman budaya lokal dan pendatang di Kota Ambon. Hasil Penelitian Motivasi Masyarakat Etnis Jawa Memilih Menetap Di Halong Mardika. Keputusan masyarakat etnis Jawa untuk menetap di Halong Mardika. Kota Ambon, dipengaruhi oleh berbagai motivasi. Hasil wawancara lapangan . menunjukkan bahwa sebagian besar pendatang, seperti informan SW. MG. AS. HS, dan EI, datang untuk mengikuti keluarga yang telah lebih dahulu tinggal dan bekerja di wilayah tersebut. Faktor keluarga menjadi alasan dominan yang mendorong mereka untuk pindah ke Halong Mardika. Selain itu, terdapat pula motivasi lain seperti mencari pekerjaan, sebagaimana diungkapkan oleh informan AB. NP, dan ZM. Sementara itu, informan JK dan AH memilih menetap di wilayah ini karena tuntutan pendidikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa migrasi masyarakat etnis Jawa ke Halong Mardika dipengaruhi oleh kebutuhan keluarga, ekonomi, dan pendidikan, yang mencerminkan keberagaman alasan di balik perpindahan mereka. Pemahaman Identitas Budaya Etnis Jawa dan Identitas Budaya Etnis Ambon Budaya merupakan identitas yang mencerminkan kepribadian suatu komunitas atau bangsa, yang terbentuk melalui kesepakatan sosial dalam kelompok masyarakat tertentu. Identitas budaya ini tidak hanya mencakup karakteristik fisik, tetapi juga pola pikir, perasaan, dan tindakan yang mencerminkan kebudayaan masyarakat. Identitas ini menjadi tolok ukur kemajuan peradaban dan pembeda dengan kebudayaan lain. Suku Jawa, sebagai salah satu etnis besar di Indonesia, terkenal dengan tradisi seperti slametan dan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Menurut informan NP . , masyarakat Jawa sebagian besar berasal dari wilayah kerajaan Mataram di Pulau Jawa. Namun, interaksi antarbudaya semakin terlihat dengan adanya masyarakat Jawa yang kini tinggal di Kota Ambon. Kota ini merupakan wilayah multikultural dengan berbagai etnis seperti Bugis. Makassar. Toraja. Lombok. Bima. Buton. Sumatera. Jawa, dan Tionghoa. Penduduk Ambon tersebar di lima kecamatan, dengan konsentrasi terbesar di Nusaniwe dan Sirimau, serta memiliki karakteristik sebagai masyarakat majemuk yang heterogen (Fitriyani, 2. Sementara itu, suku Ambon atau Maluku Selatan, yang merupakan perpaduan AstronesiaPapua, memiliki ciri khas berupa kulit gelap, rambut ikal, dan postur tubuh atletis, yang . Page dipengaruhi oleh aktivitas sebagai pelaut dan penyelam handal. Budaya suku Ambon, seperti suku Asmat, memiliki daya tarik tersendiri yang mendorong masyarakat luar untuk lebih Penelitian Try, . menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya di Desa Maritaing. Kabupaten Alor, antara suku Taruamang Alor Timur dan Jawa Gresik menciptakan kerukunan melalui keterbukaan sosial dan fungsi komunikasi antarbudaya. Dukungan fungsi sosial ini menjadikan interaksi lebih efektif, dengan adanya saling umpan balik di antara masyarakat pendatang dan lokal. Implementasi komunikasi yang terbuka tersebut menjadi contoh penting dalam membangun keharmonisan di tengah masyarakat multikultural seperti Kota Ambon. Persepsi Masyarakat Lokal Terhadap Masyarakat Pendatang Etnis Jawa Salah satu penyebab utama komunikasi yang tidak efektif adalah pemahaman terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator. Jika pesan tersebut tidak tersampaikan dengan baik, penerima pesan . dapat memiliki persepsi yang berbeda (Mahmudah, 2. Persepsi setiap individu cenderung bervariasi, tergantung pada apa yang dirasakan dan dialami oleh masing-masing orang. Hal ini juga berlaku pada persepsi masyarakat lokal Halong Mardika terhadap masyarakat pendatang etnis Jawa. Masyarakat pendatang etnis Jawa yang menetap di Halong Mardika umumnya bekerja sebagai wiraswasta dan pelajar. Kehadiran mereka menarik perhatian masyarakat lokal, baik dari segi kepribadian, kebutuhan, maupun kesiapan mental masyarakat lokal untuk berbaur. Perhatian yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat lokal memandang dan menilai keberadaan pendatang tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh AR. Ketua RT 002/RW 002 Halong Mardika, masyarakat pendatang etnis Jawa dikenal sebagai orang yang sopan, baik, dan pekerja keras . asil penelitian, 2. Pandangan positif juga diungkapkan oleh informan lainnya, seperti FL. JP, dan MN, yang merupakan masyarakat etnis Ambon. Mereka menyebutkan bahwa masyarakat Jawa dikenal ramah dan suka membantu. Informan lain, seperti BM. PM, dan FH, mengungkapkan bahwa etnis Jawa di Halong Mardika menunjukkan sifat pekerja keras, baik hati, dan sopan. Penilaian positif ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal memperhatikan aktivitas dan perilaku pendatang. Dengan dukungan komunikasi antarbudaya yang berfungsi sebagai jembatan sosial, terciptalah kerukunan antara kedua kelompok masyarakat. Menurut Syaukani . , fungsi sosial komunikasi adalah menjembatani hubungan antarmanusia dalam konteks budaya yang berbeda. Sistem nilai merupakan elemen yang selalu berlaku di setiap masyarakat dan berperan dalam membentuk persepsi, baik atau buruk. Sistem nilai masyarakat lokal Halong Mardika berbeda dengan masyarakat pendatang etnis Jawa. Namun, perbedaan ini tidak menjadi hambatan besar. Pendatang etnis Jawa mampu menyesuaikan diri, misalnya dalam penggunaan bahasa. Pendatang etnis Jawa awalnya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, sedangkan masyarakat lokal menggunakan bahasa Melayu Ambon dalam keseharian. Informan FL . asil penelitian, 2. menjelaskan bahwa masyarakat Jawa berusaha belajar bahasa Melayu Ambon untuk berbaur dengan masyarakat lokal. Pada awalnya, komunikasi berjalan kurang efektif karena perbedaan bahasa, sebagaimana diungkapkan oleh informan JP. BM, dan PM. Namun, seiring waktu, pendatang etnis Jawa mulai menguasai bahasa lokal, sehingga interaksi menjadi lebih lancar. Bagi masyarakat lokal Halong Mardika, kehadiran pendatang etnis Jawa tidak memerlukan kesiapan khusus. Mereka menerima pendatang dengan senang hati, karena kehadiran mereka menambah keramaian dan dinamika sosial. Informan BM dan PM menyatakan bahwa masyarakat lokal merasa senang dengan kedatangan pendatang etnis Jawa karena mereka tidak pernah menimbulkan masalah, justru memberikan kontribusi positif. Hal serupa disampaikan oleh informan FL, yang menekankan bahwa pendatang etnis Jawa bersikap baik, ramah, dan tidak mengganggu ketenangan masyarakat lokal. Peneliti juga . Page mengamati bahwa komunikasi antara kedua kelompok berjalan dengan baik. Pendatang kini semakin menguasai bahasa Melayu Ambon, yang mempermudah interaksi sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat lokal Halong Mardika memiliki persepsi positif terhadap pendatang etnis Jawa. Mereka tidak mempermasalahkan keberadaan pendatang selama sikap dan perilaku pendatang sesuai dengan norma yang berlaku. Sikap baik, seperti kesopanan dan keramahtamahan, menjadi kunci utama untuk diterima oleh masyarakat lokal. Persepsi, sebagaimana dijelaskan oleh Deddy, . , adalah pengalaman yang diperoleh melalui penafsiran informasi dan pesan. Dalam konteks ini, masyarakat lokal Halong Mardika menunjukkan sikap terbuka, sehingga tercipta harmoni dalam keberagaman budaya dan Hambatan-Hambatan Komunikasi Antarpribadi Antar Masyarakat Etnis Jawa dan Masyarakat Lokal Etnis Ambon di Halong Mardika. Hambatan komunikasi bisa diartikan sebagai suatu kesulitan yang dihadapi seseorang dalam melakukan komunikasi baik dalam diri komunikator sebagai penyampai pesan, hambatan dalam penyampaian pesan dari lingkungan, ataupun dalam diri komunikan sebagai penerima pesan tersebut karena banyak faktor yang mempengaruhi hambatan dalam komunikasi yang dapat menjadikan kesalahpahaman dalam komunikasi yang dilakukan sehingga, pesan yang diterima tidak sesuai harapan yang disampaikan. Ada beberapa hambatan yang peneliti temui dalam penelitian yaitu : A Penghambat Semantik. Hambatan semantik dalam komunikasi antarbudaya sering kali disebabkan oleh perbedaan penggunaan bahasa antara komunikan dengan komunikan lainnya, atau antara komunikan dengan komunikator. Perbedaan bahasa yang digunakan dalam pergaulan seharihari dapat menimbulkan kesalahpahaman atas informasi yang disampaikan. Hambatan ini mencakup beberapa aspek, seperti perbedaan dialek. Dialek asli yang terdengar, hingga katakata sapaan tertentu, dapat menyebabkan pesan yang disampaikan tidak dipahami dengan baik (Tri Yana, 2. Keberagaman hambatan komunikasi yang dihadapi oleh perantau sebagai informan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan dominan adalah perbedaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat lokal. Bahasa daerah yang masih kuat melekat pada masyarakat lokal menjadi tantangan utama. Informan AH, seorang pendatang dari etnis Jawa, mengungkapkan bahwa kesulitan terbesar dalam berkomunikasi dengan masyarakat lokal adalah penggunaan bahasa Melayu Ambon, yang tidak dimengerti oleh masyarakat Hambatan ini semakin terasa ketika masyarakat lokal sebagian besar tetap menggunakan bahasa Melayu Ambon dalam interaksi sehari-hari. Informan lainnya. AS dan ZM, menyatakan bahwa mereka juga menghadapi kesulitan dari cara penyampaian pesan oleh masyarakat lokal. Dialek, kecepatan berbicara, serta intonasi yang terdengar kasar membuat mereka sulit memahami maksud dari pesan yang Perbedaan logat dan gaya komunikasi ini sangat bertolak belakang dengan pendatang dari etnis Jawa, yang terbiasa berbicara dengan intonasi lembut. Akibatnya, beberapa pendatang merasa takut untuk berkomunikasi dengan masyarakat lokal. Selain itu, perbedaan budaya juga menjadi faktor penghambat dalam interaksi tersebut. Komunikasi yang terjadi antara pendatang dan masyarakat lokal tentu berbeda dengan komunikasi antarpenduduk lokal. Perbedaan kebudayaan dan cara berkomunikasi memerlukan penyesuaian dari kedua belah pihak. Proses memahami bahasa dan budaya ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Namun, dengan berjalannya waktu, kedua belah pihak dapat saling memahami dan menerima maksud serta tujuan dari pembicaraan mereka. Hal ini memungkinkan terciptanya hubungan timbal balik yang positif. Page A A Sebagai masyarakat yang majemuk. Indonesia memiliki keberagaman etnis, budaya, dan agama yang saling berinteraksi. Interaksi ini hanya dapat terwujud melalui proses komunikasi, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain. Dalam suatu daerah, kehadiran penduduk lokal dan pendatang pasti menciptakan perbedaan, baik dalam budaya, ras, maupun cara berkomunikasi. Tanpa komunikasi, proses interaksi antara kedua kelompok tersebut tidak akan terjadi. Proses sosialisasi individu berlangsung sejak kecil, dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu Selanjutnya, individu belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya, tetangga, saudara kerabat, hingga masyarakat luas (Sitompul, 2. Komunikasi menjadi jembatan penting dalam membangun hubungan antarkelompok, sehingga keberagaman dapat diterima dan dipahami oleh semua pihak. Toleransi Toleransi dapat dimaknai sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau masyarakat untuk menjalankan keyakinan, mengatur hidup, dan menentukan nasib masingmasing, selama tindakan tersebut tidak bertentangan dengan syarat-syarat terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam hidup bermasyarakat (Hasyim, 2. Sikap toleransi mencakup saling tolong-menolong, hidup harmonis, dan dinamika yang positif antarumat manusia tanpa memandang agama, bahasa, atau ras di setiap golongan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa masyarakat lokal dan pendatang di Halong Mardika menunjukkan sikap toleransi yang tinggi. Mereka hidup berdampingan meski memiliki perbedaan agama, bahasa, dan budaya. Hal ini terlihat dari cara mereka saling menghormati dan menjaga hubungan baik. Sebagai contoh, meskipun tinggal di wilayah yang berbeda keyakinan, mereka tetap menjalin interaksi yang harmonis. Namun, toleransi agama memegang peran penting dalam mendukung proses komunikasi. Jika toleransi tidak terjaga dengan baik, komunikasi yang buruk dapat memicu konflik antarindividu atau kelompok. Proses komunikasi antarbudaya memerlukan penyesuaian terhadap unsur-unsur budaya yang berbeda sehingga tercipta keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat. Komunikasi antarbudaya membutuhkan toleransi, empati, dan berpikir positif . ositive thinkin. untuk mencegah potensi konflik yang mungkin timbul akibat perbedaan budaya atau etnis (Tri Yana. Masyarakat lokal di Halong Mardika menunjukkan sikap terbuka terhadap keberadaan masyarakat pendatang dari etnis Jawa. Mereka saling memahami budaya masing-masing. Masyarakat pendatang berupaya menggunakan bahasa Melayu Ambon sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-hari, sementara masyarakat lokal juga berusaha menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pendatang. Interaksi yang baik ini memungkinkan pendatang, khususnya etnis Jawa, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka dan tetap hidup dengan harmonis meski terdapat perbedaan bahasa, budaya, dan Selain itu, persepsi masyarakat lokal terhadap pendatang di Halong Mardika juga positif. Pendatang dari etnis Jawa dianggap sopan, baik, ramah, suka bergaul, dan senang membantu orang lain. Persepsi positif ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal menerima keberadaan pendatang dengan baik, menciptakan lingkungan sosial yang harmonis di tengah keberagaman budaya. Empati Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, serta membayangkan diri sendiri berada di posisi Empati memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga hubungan antarmanusia, termasuk dalam konteks interaksi antarbudaya. Interaksi antara masyarakat pendatang dan masyarakat lokal, seperti di Halong Mardika, dapat terlihat melalui kerja sama yang nyata, misalnya gotong royong membersihkan Sikap terbuka masyarakat lokal terhadap budaya pendatang membantu . Page memperlancar komunikasi dan menciptakan keakraban, meski terdapat perbedaan budaya dan agama di antara keduanya. Secara kultural, karakteristik komunikasi antara masyarakat Jawa dan Ambon memiliki perbedaan mendasar. Orang Jawa cenderung berkomunikasi dengan gaya yang halus, berbelit, banyak basa-basi, serta menggunakan kiasan untuk menjaga perasaan lawan bicara. Intonasi yang digunakan pun pelan, dan pesan disampaikan dengan hati-hati agar tidak menyinggung. Sebaliknya, orang Ambon cenderung berbicara langsung, cepat, dan tanpa basa-basi. Gaya komunikasi mereka lebih lugas dan terkadang terdengar kasar, tanpa terlalu menyaring katakata yang diucapkan. Perbedaan ini menuntut adanya penyesuaian dalam perilaku komunikasi dari kedua belah pihak. Pendatang dari etnis Jawa perlu mengenal, memahami, dan menyesuaikan diri dengan budaya komunikasi masyarakat lokal. Demikian pula, masyarakat lokal perlu memahami gaya komunikasi pendatang untuk menciptakan interaksi yang lebih harmonis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi antara masyarakat lokal (Ambo. dan pendatang (Jaw. merupakan hasil dari proses belajar, mengenal, dan menyesuaikan perilaku. Proses ini melibatkan perubahan sikap dan tindakan komunikasi, yang memungkinkan kedua belah pihak memahami bahasa, budaya, dan cara berkomunikasi masing-masing. Dengan demikian, empati dan penyesuaian perilaku menjadi kunci utama terciptanya hubungan yang baik dalam wilayah yang memiliki keberagaman budaya. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa interaksi antara pendatang etnis Jawa yang menetap di kota Ambon dengan masyarakat lokal di daerah Halong Mardika berlangsung dengan baik. Meskipun pada awalnya terdapat hambatan dalam berkomunikasi, seperti penggunaan bahasa Melayu Ambon oleh masyarakat lokal dan gaya bicara yang cepat, hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi seiring berjalannya Sikap terbuka yang ditunjukkan oleh masyarakat lokal terhadap masyarakat etnis Jawa membuat mereka merasa diterima dengan baik. Perbedaan budaya dan bahasa tidak menjadi penghalang dalam interaksi mereka. Toleransi, empati, dan pikiran positif merupakan tiga aspek penting yang selalu dijaga oleh kedua belah pihak dalam berkomunikasi, baik antara masyarakat etnis Jawa maupun masyarakat lokal di Halong Mardika. Referensi