Jurnal Semnasdik Vol. No. Desember 2024, hlm. Peningkatan Keterampilan Peserta Didik Melakukan Praktikum Dan Membuat Poster Melalui Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning Berbantuan Media Video Animasi Di SMP Negeri 1 Waingapu Yeremias Tawar Dukangawu1. Vidriana Oktoviana Bano2. Riwa Rambu Hada Enda3 123Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Kristen Wira Wacana Sumba Email Penulis: yeremiastawardukangawu@gmail. com 1 , vidri. bano@unkriswina. id 2, riwa@unkriswina. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbantuan media Video Animasi. Jenis penelitian adalah PTK, model Kemmis dan Mc Tangert dengan pendekatan deksriptif kuantitatif. Penelitian terdiri dari kegiatan pra siklus, siklus I dan siklus II. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IX SMP Negeri 1 Waingapu TA 2024/2025, berjumlah 34 Teknik dan instrumen pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes, dokumentasi, dan rubrik penilaian psikomotorik. Pengukuran hasil belajar difokuskan pada ranah kognitif dan Hasil penelitian menunjukan penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi dapat meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster. Pra siklus, peserta didik yang tuntas 5 orang dengan persentase 15%, yang tidak tuntas 29 orang dengan persentase Siklus I peserta didik yang tuntas 18 orang dengan persentase 53%, peserta didik yang tidak tuntas 16 orang dengan persentase 47%. Siklus II peserta didik yang tuntas 28 orang dengan persentase 82%, peserta didik yang tidak tuntas 6 orang dengan persentase 18%. Hasil penelitian ranah psikomotorik pada siklus I, peserta didik yang tuntas 12 orang peserta didik dengan persetase 35%, yang tidak tuntas 22 orang peserta didik dengan persentase Siklus II peserta didik yang tuntas 30 orang peserta didik dengan persentase 88% sedangkan yang tidak tuntas 4 orang peserta didik dengan persentase 12%. Penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi dapat meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster pada materi sistem perkembangbiakan tumbuhan. Kata kunci: Project Based Learning. Pratikum. Poster. Video Animasi ABSTRACT This study aims to improve student learning outcomes through the application of the Project Based Learning (PjBL) learning model assisted by Animation Video media. The type of research is PTK, the Kemmis and Mc Tangert models with a quantitative descriptive approach. The study consists of pre-cycle activities, cycle I and cycle II. The subjects of the study were 34 students of class IX SMP Negeri 1 Waingapu in the academic year 2024/2025. The data collection techniques and instruments used in this study were test methods, documentation, and psychomotor assessment rubrics. Measurement of learning outcomes focused on the cognitive and psychomotor domains. The results of the study showed that the application of the Project Based Learning learning model assisted by Animation Video media can improve students' skills in conducting practicums and making Pre-cycle, 5 students completed the learning with a percentage of 15%, 29 students did not complete the learning with a percentage of 85%. Cycle I, 18 students completed the learning with a percentage of 53%, and 16 students did not complete the learning with a percentage of 47%. Cycle II, 28 students completed the course with a percentage of 82%, 6 students did not complete it with a percentage of 18%. The results of the psychomotor domain research in cycle I, 12 students completed the course with a percentage of 35%, 22 students did not complete it with a percentage of 65%. Cycle II, 30 students completed the course with a percentage of 88%, while 4 students did not complete it with a percentage of 12%. The application of the Project Based Learning model assisted by Animation Video media can improve students' skills in conducting practicums and making posters on the material of plant reproduction systems. Key words: Project Based Learning. Practicum. Posters. Animation Videos PENDAHULUAN Belajar adalah suatu kata yang tidak asing lagi bagi semua orang terutama bagi para pelajar. Kegiatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Belajar merupakan proses dimana proses tersebut terdiri dari serangkaian-serangkaian kegiatan seperti membaca, mendengarkan, meniru, dan belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi merupakan sebuah pengalaman belajar didapat peserta didik (Fauhah & Brillian, 2021:. Belajar dan hasil belajar saling berkaitan erat. Tanpa belajar tidak akan ada hasil belajar dan tanpa hasil belajar, tidak dapat dipastikan apakah proses belajar telah berhasil. Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik setelah ia mengalami proses belajarnya. Hasil belajar merupakan suatu kompetensi atau kecakapan yang dapat dicapai oleh peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru di suatu sekolah dan kelas tertentu (Nurrita, 2. Hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik yang ditentukan dalam bentuk angka setelah menjalani proses pembelajaran. Penggunaan angka pada hasil tes tertentu dimaksudkan untuk mengetahui daya serap peserta didik setelah menerima materi pelajaran (Muflihah, 2. Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik sebelum turun penelitian peneliti harus melakukan wawancara kepada guru disekolah tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA (BKA) di SMP Negeri 1 Waingapu kelas Vi (Rabu, 17 April 2. ditemukan beberapa informasi berikut. Rendahnya hasil belajar IPA kelas Vi di SMP Negeri 1 Waingapu. Data nilai akhir semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024, rata-rata nilai IPA peserta didik berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Nilai KKM yang ditetapkan di SMP Negeri 1 Waingapu pada mata pelajaran IPA Kelas Vi yaitu 76. Dari 34 peserta didik hanya 29% yang tuntas dan 71% tidak tuntas. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik belum mencapai kompetensi yang diharapkan dalam mata pelajaran IPA. Kondisi ini tentu saja menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak, terutama guru dan sekolah. Model pembelajaran masih berpusat pada guru yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning, pembelajaran kooperatif, konvensional, kontekstual dan ceramah, sehingga peserta didik menjadi pasif dan tidak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Kurangnya motivasi belajar, peserta didik seringkali merasa bosan dan tidak termotivasi untuk belajar IPA karena materi pelajaran yang abstrak dan sulit dipahami. kurangnya kesempatan bagi peserta didik untuk berkreasi: model pembelajaran konvensional seringkali terlalu terstruktur dan membatasi ruang gerak peserta didik untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif. Media pembelajaran yang kurang menarik. Media pembelajaran yang digunakan di sekolah media buku, media gambar, seringkali kurang menarik dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga peserta didik kurang tertarik untuk belajar dengan menggunakan media tersebut. Upaya mengatasi permasalahan tersebut perlu menggunakan model pembelajaran yang inovatif dan menarik diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik, mempermudah peserta didik dalam memahami konsep-konsep IPA, serta meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas peserta didik, salah satunya dengan menggunakan pembelajaran berbasis proyek. Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning Mode. peserta didik merancang sebuah masalah dan mencari penyelesaiannya sendiri. Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning Mode. memiliki keunggulan dari karakteristiknya yaitu membantu siswa merancang proses untuk menentukan sebuah hasil, melatih peserta didik bertanggung jawab dalam mengelola informasi yang dilakukan pada sebuah proyek yang dan yang terakhir peserta didik yang menghasilkan sebuah produk nyata hasil peserta didik itu sendiri yang kemudian dipresentasikan dalam kelas (Amirudin, 2. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) merupakan pembelajaran dengan mengedepankan pemodelan sebuah proyek yang memiliki output berupa sebuah produk. Pembelajaran yang diberikan berupa sharing pengalaman proyek yang telah dilakukan sehingga hasil akhir dari proyek ini berupa sebuah produk yang berasal dari aktivitas pendidik (Ardianti, 2. Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek diantaranya, . membuat keputusan tentang permasalahan yang diberikan, . mendesain solusi atas permasalahan yang diajukan, . secara kolaboratif bertanggung jawab mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan, . secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan, . produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif, . situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan (Meha & Bano, 2. Langkah-langkah pembelajaran Project Based Learning (PjBL) . menentukan pertanyaan dasar . tart with the essential questio. mendesain proyek yang sudah direncanakan . esign a plan for the projec. menentukan jadwal kegiatan selama proyek . reate a schedul. memeriksa dan mengontrol perkembangan para siswa dan kemajuan proyek . onitor the students and the progress of the projec. melakukan pengujian terhadap hasil . ssess the outcom. evaluasi setiap pengalaman yang didapatkan . valuate the experienc. (Wahyu, 2. Model pembelajaran PjBL adalah rancangan atau pola yang digunakan dalam proses belajar lebih menarik dengan bantuan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan komponen terpenting dalam penyampaian informasi atau pesan pembelajaran pada peserta didik. Media pada proses belajar mengajar diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan hasil belajar pada peserta didik Media pembelajaran yang sangat dekat dengan dunia anak saat ini yaitu media video animasi. Media video animasi adalah video dari pengolahan gambar yang diam menjadi gambar bergerak (Kondameha, et al. , 2. Media Video merupakan salah satu media pembelajaran yang inovatif dan Video dapat membantu peserta didik memvisualisasikan konsep IPA yang abstrak dan kompleks. Penggunaan media Video dalam pembelajaran IPA memiliki beberapa manfaat, yaitu: . Meningkatkan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran. Membantu peserta didik memahami konsep IPA dengan lebih mudah dan jelas. Memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Media video animasi adalah media pembelajaran dalam rangka mendukung keberhasilan peserta didik. Setelah menonton video, peserta didik Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning diarahkan untuk berpasangan lalu peserta didik mendiskusikan dengan pasangan mereka masing-masing (Agustiningsih, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persentase peningkatan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster setelah penerapan model pembelajaran Project Based Learning kelas IX SMP Negeri 1 Waingapu. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat praktis bagi peserta didik kelas IX disekolah ini yaitu dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan mereka. Selain itu bagi guru mata pelajaran, kiranya dapat mendorong kreativitas guru untuk menerapkan model pembelajaran Project Based Learning pada materi pelajaran IPA. Fokus hasil belajar pada penelitian adalah pada aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Adapun yang menjadi ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu: Meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster melalui penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi https://youtu. be/V7ACNdX6sF8?feature=shared, & https://youtu. be/qScisIZYgzg?feature=shared. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IX di SMP Negeri 1 Waingapu yang berjumlah 34 orang Tahun Ajaran 2024/2025 semester ganjil. Penelitian yang relevan relevan penerapan model pembelajaran berbasis proyek untuk melatihkan Hasil penelitian menunjukan bahwa . keterlaksanaan pembelajaran berbasis proyek pembuatan alat peraga sederhana memperoleh skor sebesar 3,33 pembelajaran berbasis proyek pembuatan alat peraga sederhana memperoleh skor sebesar 3,53 dengan predikat sangat baik, . Aktivitas peserta didik yang teramati selama proses pembelajaran meliputi memperhatikan penjelasan guru, menyusun jadwal pembuatan proyek, mendesain perencanaan proyek, membuat alat peraga sederhana, dan mempresentasikan produk/alat peraga sederhana yang telah di buat, . Keterampilan komunikasi lisan mengalami peningkatan yang tinggi dengan perolehan skor N-Gain sebesar 0,85. Keterampilan komunikasi lisan mengalami peningkatan antara presentasi pertama dan kedua dengan memperoleh rata-rata skor sebesar 3,19 dengan kategori baik dan . peserta didik memberikan respon positif pembelajaran, yaitu dengan skor rata-rata 96,94% (Astuti, 2. Penerapan model pembelajaran Project Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar IPA dan keterampilan proses sains peserta didik kelas Vi SMP Negeri 5 Tebing Tinggi. Hasil penelitian: . Penerapan model Project Based Learning pada materi pokok usaha dan energi dapat meningkatkan hasil belajar IPA dan keterampilan proses sains peserta didik kelas Vi SMP Negeri 5 Tebing Tinggi. Besar peningkatan hasil belajar IPA rata-rata sebesar 54,3. Siklus I nilai gain-test yang didapatkan sebesar 0,33 dengan kategori sedang pada siklus II nilai gain-test yang didapatkan sebesar 0,65 dengan kategori sedang. Hal tersebut menunjukan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari Siklus I ke Siklus II. Siklus I nilai rata-rata keterampilan proses sains sebesar 85,6 dengan kategori baik dan Siklus II nilai rata-rata keterampilan proses sains sebesar 88,7 dengan kategori sangat baik (Sucipto. Kebaruan penelitian peneliti dari penelitian di atas terletak pada keterampilan peserta didik membuat poster dan melakukan praktikum, serta menggunakan media Video Animasi yang dapat memvisualisasikan konsep IPA yang abstrak dan kompleks pada materi sistem perkembengbiakan tumbuhan yang dilakukan secara berkelompok dan akan melakukan praktikum kemudian akan diberikan post-test untuk melihat hasil belajar peserta didik. Hipotesis penelitian berdasarkan permasalahan dan deskripsi teoritis di atas sebagai berikut: Melalui model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster pada materi Sistem Perkembangbiakan Tumbuhan kelas IX SMP Negeri 1 Waingapu. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), model Kemmis dan Mc Tangert. Pendekatan penelitian menggunakan deksriptif kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Siklus I dan siklus II terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penerapannya diperlukan lebih dari satu siklus tahapan untuk mengatasi masalah dalam penelitian. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, metode tes, dokumentasi, dan psikomotorik. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah tes hasil belajar berupa soal pilihan ganda yang diberikan pada saat kegiatan pra siklus, siklus I, dan siklus II. Lembar Psikomotorik adalah bentuk instrumen berupa lembar kerja yang digunakan untuk mengamati aktivitas peserta didik selama proses belajar berlangsung. Untuk mengukur hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif adalah sebagai berikut: Ketuntasan klasikal= ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco ycycaycuyci ycycycuycycayc ycycycoycoycaEa ycyyceycyceyceycyca yccycnyccycnyco ycu100 Tabel 1. Pencapaian pembelajaran ranah kognitif Pencapaian 91-100% 76-90% 55-75% 0-54% Tujuan tingkat keberhasilan pembelajaran Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning Untuk mengukur psikomotorik peserta didik menggunakan rumus sebagai berikut: Persentase Nilai = ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco ycu100 Tabel 2. Pencapaian pembelajaran ranah psikomotorik Pencapaian Klasifikasi Tingkat keberhasilan Sangat baik Tuntas Baik Tuntas Cukup Tidak tuntas Rendah Tidak tuntas HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pencapaian belajar peserta didik dalam tahap pra siklus menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan metode ceramah. Hasil belajar peserta didik diperoleh dari hasil post-test berupa pilihan ganda dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 3. Hasil belajar peserta didik pra siklus Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas Jumlah peserta didik yang tidak tuntas Pesrsentase peserta didik yang tuntas Persentase peserta didik yang tidak tuntas Hasil belajar peserta didik ditahap pra siklus pada tabel 3 menunjukan nilai rata-rata secara keseluruhan yaitu 61 kemudian peserta didik yang tuntas sebanyak 5 orang sengan persentase 15% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 29 orang dengan persentase 85%. Dari perolehan nilai tersebut, peserta didik yang mencapai KKM masih sangat rendah. Selanjutnya tahap siklus I dilakukan dalam empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dari tahapan siklus I peneliti memperoleh hasil dari aktivitas dan belajar peserta didik. Untuk aktivitas peserta didik, peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk menilai aspek psikomotorik peserta Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, peneliti memberikan tes akhir atau post-test di akhir pembelajaran. Tabel 4 di bawah ini mendeskripsikan daftar penilaian psikomotorik peserta didik di siklus I. Tabel 4. Hasil belajar psikomotorik peserta didik siklus I Aspek Yang Dinilai Jumlah Skor Nilai Jumlah Nilai Membuat Skor Poster Nama Peserta Didik RUK Baik MDWD Cukup RGSD Baik VCR Cukup RKN Baik AAS Cukup CKN Cukup MWT Cukup SHW Cukup FNM Cukup Baik AGP Cukup MSK Cukup SGPP Baik VRN Cukup Jumlah Skor Nilai Praktikum Keterangan Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning IAP Cukup Baik GMN Baik IGAN Cukup JJN Cukup SAL Baik IND Baik Cukup HABA Cukup WHS Baik GSRL Baik FLC Cukup AFA Cukup BNRJ Cukup ARC Baik Cukup WTN Cukup GYU Cukup Baik Nilai Rata-Rata Jumlah peserta didik yang memenuhi KKM jumlah peserta didik yang tidak memenuhi KKM Jumlah peserta didik Persentase peserta yang mencapai KKM Persentase siswa yang tidak mencapai KKM Jumlah peserta didik dengan predikat baik= 12 orang Jumlah peserta didik dengan predikat cukup = 22 orang Tabel 5. Hasil belajar peserta didik siklus I Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas Jumlah peserta didik yang tidak tuntas Pesrsentase peserta didik yang tuntas Persentase peserta didik yang tidak tuntas Berdasarkan tabel 4. Nilai hasil belajar peserta didik melakukan praktikum dan keterampilan membuat poster, dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi yang peneliti terapkan di sekolah pada sub materi sistem perkembangbiakkan pada tumbuhan secara vegetatif, jumlah peserta didik denga predikat baik 12 orang peserta didik dengan persentase 35%, sedangkan peserta didik dengan predikat cukup 22 orang peserta didik dengan presentase 65%. Sedangkan pada tabel 5 siklus I memperoleh nilai rata-rata post-test yaitu 70, dari nilai post-test ini terdapat 16 orang peserta didik yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) 76, sedangkan yang memenuhi KKM terdapat 18 orang peserta didik dari 34 orang peserta didik. Untuk melihat persentase peserta didik yang mencapai KKM yaitu 53% sedangkan persentase peserta didik yang tidak mencapai KKM 47%, pada siklus I terdapat peningkatan hasil belajar kognitif. Hal ini terjadi peningkatan hasil belajar kognitif dari pra siklus. Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning Tabel 6. Hasil belajar psikomotorik peserta didik siklus II Aspek Yang Dinilai Jumlah Skor Jumlah Nilai Membuat Skor Poster Nama Peserta Didik RUK MDWD RGSD VCR Jumlah Skor Nilai Praktikum Nilai Keterangan Sangat Baik Baik Baik Baik RKN Baik AAS Baik CKN Baik MWT Baik SHW Baik FNM Sangat Baik Baik AGP Baik MSK Baik SGPP Baik VRN Cukup IAP Sangat Baik Baik GMN Baik IGAN Baik JJN Sangat Baik SAL Sangat Baik IND Baik Baik HABA Cukup WHS Baik GSRL Baik FLC Baik AFA Baik BNRJ Cukup ARC Baik Baik WTN Baik GYU Baik Cukup Nilai Rata-Rata Jumlah peserta didik yang memenuhi KKM jumlah peserta didik yang tidak memenuhi KKM Jumlah peserta didik Persentase peserta yang tidak mencapai KKM Persentase siswa yang tidak mencapai KKM Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning Jumlah peserta didik dengan predikat baik/sangat baik = 30 orang Jumlah peserta didik dengan predikat cukup = 4 orang Tabel 7. Hasil belajar peserta didik siklus II Nilai rata-rata Jumlah peserta didik yang tuntas Jumlah peserta didik yang tidak tuntas Pesrsentase peserta didik yang tuntas Persentase peserta didik yang tidak tuntas Berdasarkan tabel 6. Hasil belajar peserta didik melakukan praktikum dan keterampilan membuat poster, jumlah peserta didik dengan predikat baik/sangat baik 30 orang peserta didik dengan persentase 82%, jumlah peserta didik dengan predikat cukup 4 orang peserta didik dengan persentase 18%. Sedangkan tabel 7 siklus II memperoleh nilai rata-rata post-test yaitu 81, terdapat 6 orang peserta didik yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) 76, sedangkan yang memenuhi KKM terdapat 28 orang peserta didik, dari 34 orang peserta didik. Untuk melihat persentase peserta didik yang mencapai KKM yaitu 82% sedangkan persentase peserta didik yang tidak mencapai KKM 18%, pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar kognitif. Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik Pra Siklus Siklus I Tuntas Siklus II Tidak Tuntas Gambar 1. Persentase ranah kognitif Berdasarkan gambar 1. Perbandingan hasil belajar peserta didik terlihat bahwa nilai post-test pada pra siklus dengan persentase peserta didik yang tuntas yaitu: 15% sedangkan persentase peserta didik yang tidak tuntas yaitu:85%. Hal ini menunjukan bahwa pra siklus belum memenuhi standar KKM yang ditetapkan di sekolah yaitu: 76. Kemudian hasil belajar peserta didik pada siklus I mengalami peningkatan dengan persentase peserta didik yang tuntas yaitu: 53% sedangkan persentase peserta didik yang tidak tuntas yaitu: 47%. Kemudian hasil belajar peserta didik pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase peserta didik yang tuntas yaitu: 82% sedangkan persentase peserta didik yang tidak tuntas yaitu: 18%. Dalam penelitian ini terbukti bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif. Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning Hasil Belajar Psikomotorik Peserta Didik Siklus 1 Siklus 2 Tuntas Tidak tuntas Gambar 2. Persentase Ranah Psikomotorik Berdasarkan Gambar 2. Terdapat perbandingan siklus I memperoleh nilai 35% kategori tuntas , dan 65% dikategorikan tidak tuntas, sedangkan pada siklus II ada peningkatan atau memperoleh nilai 88% dengan kategori tuntas dan 12% dikategorikan cukup. PEMBAHASAN Pra Siklus. Kegiatan pembelajaran pra siklus dilaksanakan pada tanggal 14 November 2024 dan dihadiri oleh 34 orang peserta didik, dengan durasi waktu 2x40 menit. Perangkat pembelajaran sebagai penunjang proses belajarmengajar berupa RPP. LKPD, buku IPA. Pada pertemuan ini peneliti membawakan materi yang sudah ditetapkan yaitu perkembangbiakkan tumbuhan dengan sub materi yaitu perkembangbiakkan tumbuhan secara vegetatif. Tahap pra siklus ini belum menerapkan model pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran peneliti menjelaskan materi menggunakan buku paket kepada peserta didik. Kemudian diakhir pembelajaran diberikan post-test kepada peserta didik untuk mengetahui hasil belajar. Tujuan dari prasiklus dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta didik tanpa menggunakan model pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran pra siklus saat penjelasan materi ada beberapa peserta didik yang kurang fokus mendengarkan dan terlihat beberapa peserta didik tidak begitu siap dalam mengikuti pembelajaran. Selanjutnya peneliti membimbing dan mngarahkan peserta didik dalam bentuk kelompok untuk mengerjakan dan mempersentasikan tugas yang diberikan. Pada saat diskusi kelompok berlangsung terlihat beberapa peserta didik kurang memahami soal yang diberikan dan pada saat diberikan kesempatan setiap kelompok untuk persentasi, peserta didik belum begitu berani menjelaskan hasil diskusi mereka. Diberikan kesempatan untuk bertanya hanya 1 orang peserta didik saja yang berani bertanya. Selanjutnya peneliti memberikan soal post-test untuk dikerjakan, tetapi masih banyak peserta didik yang ribut dan saling bertanya terkait soal-soal yang mereka kerjakan. Setelah melakukan post-test, peneliti membimbing peserta didik untuk menyimpulkan materi dan menyampaikan materi selanjutnya pada pertemuan berikut. Kemudian bersama peserta didik mengakhiri pembelajaran dengan doa. Terlihat pada . terkait hasil belajar peserta didik pada pembelajaran pra siklus dari jumlah 34 orang terdapat 5 orang peserta didik yang tuntas dengan persentase 15%, sedangkan yang tidak tuntas berjumlah 29 orang peserta didik dengan persentase 85%. Kemudian nilai rata-rata peserta didik secara keseluruhan diperoleh yaitu 61. Dari hasil pencapaian belajar nilai rata-rata peserta didik masih sangat rendah, begitu juga dengan hasil persentase ketuntasan belajar peserta didik masih sangat rendah karena ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal ini, yaitu kurangnya minat belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPA, dan tidak ada motivasi belajar sehingga masih banyak peserta didik memperoleh nilai dibawah KKM yaitu 76. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rihi Eti & Bano . terkait hasil belajar peserta didik pada pembelajaran pra siklus dari jumlah 17 orang terdapat 5 orang peserta didik yang tuntas dengan persentase 29,4%, sedangkan yang tidak tuntas berjulah 12 orang peserta didik dengan persentase 70,6%. Kemudian nilai rata-rata peserta didik secara keseluruhan diperoleh yaitu 55,4. Dari hasil pencapaian belajar rata-rata peserta didik masih sangat rendah, begitu juga dengan hasil persentase ketuntasan belajar peserta didik masih sangat rendah karena masih banyak peserta didik memperoleh nilai dibawah KKM yaitu 65. Menurut Anggrawan A, . Faktor utama yang paling penting dalam pembelajaran adalah pemilihan model pembelajaran yang digunakan, pemilihan Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning model pembelajaran yang baik dan cocok dalam setiap mata pelajaran maka akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik sehingga dapat meningkatkan aspek kognitif peserta didik dan dapat mencapai hasil yang baik. Dengan demikian, peneliti menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada peserta didik kelas IX dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan peserta didik yang lebih maksimal . Siklus I. Kegiatan siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 18 November 2024 dengan durasi waktu 2x40 menit dan dihadiri 34 orang peserta didik. Siklus 1 dilakukan empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti sudah mempersiapkan rancangan pembelajaran seperti menyusun RPP, mempersiapkan materi ajar dalam bentuk viseo animasi, soal tes dan membuat instrumen observasi untuk menilai aspek psikomotorik peserta didik. Kemudian pada tahap pelaksanaan dilanjutkan dengan materi perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif. Sebelum proses pembelajaran diawali dengan salam dan doa pembuka kemudian mengecek kehadiran peserta didik. Selanjutnya memberikan apersepsi kepada peserta didik untuk mengarahkan pada materi yang akan diajarkan. Masuk pada kegiatan inti, peneliti mulai menjelaskan materi menggunakan media Video Animasi https://youtu. be/V7ACNdX6sF8?feature=shared yang telah dibuat dari aplikasi canva oleh peneliti. Video animasi telah merevolusi dunia pendidikan dengan menawarkan cara yang lebih menarik dan efektif untuk menyampaikan materi pelajaran. Animasi mampu mengubah konsep abstrak menjadi visualisasi yang konkret, sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi yang kompleks. Selain itu, animasi juga dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan, sehingga meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik. Kemudian membagi peserta didik dalam bentuk kelompok dan melakukan praktikum serta mengerjakan LKPD. Selama praktikum berlangsung kondisi kelas terlihat tenang dan adanya saling interaksi antara teman kelompok. Sebelum presentasi kelompok dilakukan, peneliti memberikan motivasi dan semangat agar peserta didik berani untuk berbicara. Pada kesempatan ini terlihat bahwa peserta didik belum berani dan pengucapan bahasa masih gugup dan suara sangat pelan saat menjelaskan hasil diskusi kelompok Sehingga peneliti beberapa kali mengarahkan mereka agar presentasinya lebih baik. Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk menilai aspek psikomotorik peserta didik. Aspek yang dinilai yaitu terkait keterampilan dan kerja sama peserta didik selama praktikum Setelah melakukan presentasi kelompok, peneliti memberikan soal post-test dengan waktu 15 menit pengerjaan untuk mengukur pemahaman peserta didik terkait materi yang sudah diberikan. Selama mengerjakan soal, kondisi kelas terlihat tenang. Selesai mengerjakan soal, peneliti memberikan tugas rumah yaitu membuat poster sederhana dari materi yang sudah diajarkan, selanjutnya peneliti mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang sudah dipelajari, kemudian menutup kegiatan pembelajaran dengan doa. Menurut Surayya dkk . agar proses pembelajaran dapat efektif, seorang guru harus berperan penting dalam penggunaan model pembelajaran, dimana seorang guru dapat berperan sebagai motivator dan fasilitator sehingga peserta didik dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu peneliti menemukan beberapa kelemahan pada kegiatan pembelajaran siklus 1 yaitu : . Saat proses pembelajaran berlangsung ada beberapa peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan baik, namun ada juga peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan guru, ribut dan asik berbicara dengan teman sebangku. Ketika diberikan kesempatan untuk bertanya terkait materi yang diajarkan, peserta didik tidak bertanya. Saat mempresentasikan hasil diskusi peserta didik masih malu dan tidak percaya diri ketika berbicara di depan, ketika berbicara kata-kata mereka masih terbatabata. Waktu pengerjaan post-test diakhir pembelajaran masih ada peserta didik yang sibuk berdiskusi dengan teman sebangkunya. Dari hasil penilaian psikomotorik yang memenuhi kiteria ketuntasan minimal (KKM) 76, terdapat 12 orang peserta didik dengan persentase 35%, sedangkan yang tidak memuhi KKM terdapat 22 orang peserta didik dengan persentase 65%. Berdasarkan dari nilai tersebut, pencapaian hasil belajar psikomotorik pada siklus I masih rendah, maka perlu dilanjutkan kegiatan siklus II. Untuk melanjutkan tahap siklus II, perlu menyusun perbaikan dari siklus I. Oleh karena itu peneliti perlu memberikan motivasi dan memberikan semangat kepada peserta didik agar dapat memicu pemahaman dan percaya diri mereka. Siklus II. Siklus II merupakan lanjutan dari tahapan siklus 1 dengan tujuan untuk memperbaiki kekuranagan dan kelemahan pada siklus 1. Kegiatan siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 21 November 2024 dengan durasi waktu 2x40 menit dan dihadiri 34 orang peserta didik. Sama halnya dengan siklus 1, pada siklus 2 juga terdapat empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti sudah mempersiapkan rancangan pembelajaran seperti menyusun RPP, mempersiapkan materi ajar, soal tes dan membuat instrumen observasi untuk menilai aspek psikomotorik peserta didik. Kemudian pada tahap pelaksanaan dilanjutkan dengan materi perkembangbiakan tumbuhan secara generatif. Sebelum proses pembelajaran diawali dengan salam dan doa pembuka kemudian mengecek kehadiran peserta didik. Selanjutnya memberikan apersepsi kepada peserta didik untuk mengarahkan pada materi yang akan diajarkan. Masuk pada kegiatan inti, peneliti mulai menjelaskan materi menggunakan media Video Animasi https://youtu. be/qScisIZYgzg?feature=shared yang telah di buat oleh peneliti menggunakan aplikasi canva terkait dengan materi sistem perkembangbiakan secara generatif. Kemudian membagi peserta didik dalam bentuk kelompok dan melakukan praktikum serta mengerjakan LKPD. Selama praktikum berlangsung kondisi kelas terlihat tenang dan adanya saling interaksi Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning antara teman kelompok. Sebelum presentasi kelompok dilakukan, peneliti memberikan motivasi dan semangat agar peserta didik berani untuk berbicara. Pada kesempatan ini terlihat bahwa peserta didik sudah berani dan pengucapan bahasa sangat bagus saat menjelaskan hasil diskusi kelompok mereka. Seperti pada siklus 1, dalam siklus 2 peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk menilai aspek psikomotorik peserta didik. Aspek yang dinilai yaitu terkait keterampilan dan kerja sama peserta didik selama praktikum berlangsung. Setelah melakukan presentasi kelompok, peneliti memberikan soal post-test dengan waktu 15 menit pengerjaan untuk mengukur pemahaman peserta didik terkait materi yang sudah diberikan. Selama mengerjakan soal, kondisi kelas terlihat tenang. Selesai mengerjakan soal, peneliti memberikan tugas rumah membuat poster sederhana dari materi yang sudah diajarkan. Kemudian peneliti mengajak peserta didik untuk menyimpulkan materi yang sudah dipelajari, kemudian menutup kegiatan pembelajaran dengan doa. Berdasarkan hasil pengamatan terkait penilaian psikomotorik pada . terdapat 30 orang peserta didik yang mendapat predikat baik/sangat dan 4 orang peserta didik yang mendapat predikat cukup. Dari hasil penilaian praktikum dan membuat poster sedrhana pada siklus 2 ini terdapat perkembangan yang baik dari siklus sebelumnya karena pada siklus 1 banyak peserta didik yang mendapat predikat cukup. Selanjutnya untuk hasil belajar peserta didik dari pemberian soal post-test yang terdapat pada . terdapat 28 orang peserta didik yang tuntas dengan persentase 82% dan peserta didik yang tidak tuntas berjumlah 6 orang dengan persentase nilai 18%, kemudian perolehan nilai rata- rata secara keseluruhan adalah 81. Berdasarkan dari nilai tersebut, maka pencapaian hasil belajar pada siklus 2 sangat memuaskan dan sudah maksimal karena banyak peserta didik yang mendapatkan nilai di atas KKM yaitu 76. Perkembangan belajar peserta didik pada siklus 2 memiliki peningkatan yang sangat baik dan sudah optimal dari kegiatan belajar pra siklus dan siklus 1. Oleh karena itu tahap pembelajaran berhenti di siklus 2 dan tidak dilanjutkan lagi pada tahap siklus berikutnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Asriaty . mengatakan bahwa memudahkan peserta didik bertanggung jawab dalam kelompoknya sehingga peserta didik yang kurang aktif dapat mengaktifkan diri dan hasil belajar peserta didik dapat meningkat. Berdasarkan data dari setiap proses pembelajaran diperoleh bahwa terjadi peningkatan yang baik terhadap persentase hasil belajar peserta didik. Tahap pra siklus hasil belajar peserta didik dengan persentase 15% mengalami peningkatan pada siklus 1 yaitu 53% dan pada siklus 2 hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan yang sangat maksimal yaitu dengan persentase 82%. Dari data hasil balajar tersebut diketahui bahwa model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berhasil dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya pada materi perkembangbiakkan tumbuhan yang dilakukan pada kelas IX di SMP Negeri 1 Waingapu. Hal ini serupa dengan penelitian yang di lakukan oleh Meha & Bano . Berdasarkan data yang diperoleh peneliti menemukan bahwa terjadi peningkatan yang baik terhadap persentase hasil belajar peserta didik di setiap kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan pra siklus persentase hasil belajar siswa 32%, meningkat pada siklus 1 yaitu 48,2% dan meningkat dengan sangat maksimal pada siklus 2 yaitu 67,9%. Pada aspek psikomotor terdapat 7 peserta didik dengan predikat sangat baik, 10 peserta didik dengan predikat baik dan 4 peserta didik dengan predikat cukup dan 10 peserta didik dengan predikat kurang. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa model pembelajaran Project Based Learning berhasil untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya pada materi struktur dan fungsi tumbuhan yang dilakukan di SMP Negeri 4 Mauliru. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi untuk meningkatkan keterampilan peserta didik melakkan praktikum dan membuat poster pada materi sistem perkembangbiakkan pada tumbuhan kelas IX di SMP Negeri 1 Waingapu dapat disimpulkan sebagai berikut: . Sebelum penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi untuk meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster . Pada pra siklus memperoleh nilai rata-rata post-test yaitu 61, dari nilai tes ini terdapat 29 orang peserta didik yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) 76, sedangkan yang memenuhi KKM terdapat 5 orang peserta didik, dari 34 orang peserta didik. Untuk melihat persentase peserta didik yang mencapai KKM yaitu 15% sedangkan persentase peserta didik yang tidak mencapai KKM 85%, dikategorikan rendah. Hasil belajar pada penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi untuk meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster. Pada siklus I memperoleh nilai rata-rata post-test yaitu 70 dari nilai post-test ini terdapat 16 orang peserta didik yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) 76, yang memenuhi KKM terdapat 18 orang peserta didik. Sedangkan hasil belajar psikomotorik memperoleh nilai rata-rata 76, terdapat 12 orang peserta didik yang mencapai KKM, yang tidak mencapai KKM terdapat 22 orang peserta didik dari 34 orang peserta didik. Untuk melihat persentase peserta didik yang mencapai KKM yaitu 53%, persentase peserta didik yang tidak mencapai Terbit online pada laman web: https://ojs. id/index. php/SEMNASDIK-FKIP/ Dukangawu, dkk. Peningkatan Keterampilan dengan Project Based Learning KKM 47%. Sedangkan persentase hasil belajar psikomotorik peserta didik yang mencapai KKM 35%, persentase peserta didik yang tidak mencapai KKM 65%, pada siklus I terdapat peningkatan hasil belajar namun belum tercapai secara optimal. Setelah penerapan model pembelajaran Project Based Learning berbantuan media Video Animasi untuk meningkatkan keterampilan peserta didik melakukan praktikum dan membuat poster. Pada siklus II memperoleh nilai rata-rata post-test yaitu: 81, terdapat 6 orang peserta didik yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) 76, peserta didik yang memenuhi KKM terdapat 28 orang peserta didik. Sedangkan hasil belajar psikomotorik memperoleh nilai rata-rata 85, terdapat 30 pseserta didik yang memenuhi KKM, dan 4 orang peserta didik yang tidak memenuhi KKM dari 34 orang peserta didik. Untuk melihat persentase peserta didik yang memenuhi KKM yaitu 82%, persentase peserta didik yang tidak memenuhi KKM 18%. Sedangkan persentase hasil belajar psikomotorik 88% peserta didik yang memenuhi KKM, dan 12% peserta didik yang tidak memenuhi KKM, pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar kategori sangat baik. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada SMP Negeri 1 Waingapu yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian, serta semua pihak yang telah membantu dan selalu mendukung dalam proses menyelesaikan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA