Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index PENGUATAN PEMAHAMAN KARYA SASTRA DENGAN SETTING BUDAYA SASAKLOMBOK PADA MGMP BAHASA INDONESIA TINGKAT SMA DI LOMBOK TIMUR Saharudin*. Aswandikari. Syaiful Musaddat. Muh. Syahrul Qodri. Wika Wahyuni Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Mataram Jalan Majapahit No. 62 Mataram *korespondensi: din_linguistik@unram. Artikel history Received Revised Published : 26 Agustus 2023 : 15 Oktober 2023 : 30 Oktober 2023 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Pengabdian ini dilatari oleh kurangnya pemanfaatan karya sastra ber-setting budaya lokal . aerah tertent. yang memiliki kedekatan emosional dengan siswa di tingkat sekolah menengah atas (SMA) yang dijadikan sumber belajar atau bahan ajar. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan sosioliasi hasil riset terkait fenomena tersebut mengenai penguatan pemahaman karya sastra dengan setting budaya Materi sosialisasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini dimodifikasi dari hasil penelitian tahun 2022, dengan harapan hasil penelitian tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Materi PkM ini berbicara tentang cara penggunaan pendekatan etnografi dalam mengkaji karya sastra ber-setting budaya lokal. Kemudian, menjelaskan amanat kebudayaan SasakLombok dalam novel Sanggarguri sebagai hasil penelitian dengan pendekatan etnografi. Pembicaraan tentang pendekatan etnografi untuk karya sastra difokuskan pada analisis taksonomi . stilah tercakup, relasi semantik, dan istilah pencaku. yang dilanjutkan pada analisis pemahaman budaya berdasarkan pada istilah-istilah pencakup yang telah dikelompokkan. Hasil sosialisasi ini relatif telah mampu menambah kualitas pemahaman dan kesadaran para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas (SMA) tentang urgensi karya sastra ber-setting budaya lokal sebagai sumber belajar atau bahan ajar. Ini dikarenakan mereka diberikan pelatihan langsung cara menganalisis karya sastra ber-setting budaya lokal dengan pendekatan yang dipilih. Penambahan kualitas dan kesadaran ini tentu merupakan usaha yang berkelanjutan dan membutuhkan dukungan pihak-pihak terkait. Akhirnya, kualitas dan kesadaran tersebut beririsan dengan ketersediaan karya-karya sastra yang bersetting budaya lokal yang bisa dijadikan bahan ajar di jenjang SMA. Kata kunci: Penguatan Pemahaman. Karya Sastra Lokal. Budaya Sasak. Bahan Ajar. PENDAHULUAN Salah satu penopang kegiatan pembelajaran di sekolah . ang sangat pentin. adalah sumber belajar dan bahan ajar. Buku adalah salah satu sumber belajar sekaligus bahan ajar yang masih terus digunakan dalam kegiatan pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang sekolah menengah atas (SMA. MA, dan SMK). Salah satu bahan ajar untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas adalah karya sastra berupa novel. Novel sebagai bahan ajar bahasa Indonesia di SMA/sederajat . alah satuny. digunakan untuk menggali nilai-nilai yang ada dalam karya sastra tersebut, seperti nilai religius, nilai patriotisme, nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai pendidikan. Dalam konteks sekarang, hasil wawancara dengan ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia tingkat SMA kabupaten Lombok Timur . -12-2. , novel-novel yang Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index dijadikan bahan kajian di SMA biasanya novel-novel yang sudah dialihwahanakan atau diadaptasi ke Ini dikarenakan untuk mendorong semangat siswa . ang malas membaca nove. agar mau membaca novel setelah menonton filmnya. Misalnya, novel Laskar Pelangi. Sang Pencerah. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Perahu Kertas. Dilan. Ketika Cinta Bertasbih, dan sebagainya. Meskipun novel-novel nasional tersebut adalah novel-novel terkenal, best-seller, dan sangat bagus/bermutu untuk dijadikan bahan ajar, tetapi masih memunculkan kegelisahan akademis. Misalnya, mengapa novel-novel yang popular secara nasional saja yang dijadikan sumber belajar? Mengapa masih banyak siswa yang malas membaca novel? Apakah tidak ada novel-novel yang bersetting budaya lokal, dekat atau familier dengan kehidupan dan budaya siswa, seperti novel dengan latar sosial dan budaya Sasak-Lombok? Bukankan di antara aspek yang harus diperhatikan saat memilih atau menentukan bahan ajar sastra yang efektif adalah pertimbangan latar belakang kebudayaan siswa? Bisa jadi siswa malas membaca novel-novel tertentu karena tidak ada kedekatan emosional . aca: hubungan keagamaan, sosial, kesukuan, dsb. ) dengan diri siswa/pembaca. Ataukah karena belum sesuainya pendekatan dalam mengkaji novel tersebut sehingga siswa tidak merasa Bahkan, menurut hasil kajian-kajian sebelumnya, banyak sekali sekolah menengah atas yang melakukan pembelajaran sastra tidak kontekstual, terutama terkait bahan ajar. Artinya, dalam pemilihan bahan ajar tidak sesuai dengan latar tempat atau kondisi sosio-kultural siswa (Meikayanti. Nisya & Rahmawati, 2021. Hendrawanto, 2. Dalam konteks inilah menarik untuk menawarkan salah satu novel dengan latar belakang kebudayaan Sasak-Lombok sebagai setting-nya untuk dijadikan alternatif bahan ajar sastra di SMA. Selain itu, memperkayanya dengan mengkoparasikannya dengan hasil-hasil kajian terdahulu yang menjadikan novel Sanggarguri (Fathurrahman, 2. sebagai objek materialnya . Aman dkk. , 2022. Satrya HD, 2022. Asyari. Kegelisahan-kegelisahan akademis tersebut menarik untuk dijawab dengan suatu kegiatan pengabdian masyarakat kepada guru-guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam MGMP Bahasa Indonesia jenjang SMA di kabupaten Lombok Timur. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini melakukan kemitraan dengan MGMP Bahasa Indonesia tingkat SMA di kabupaten Lombok Timur dalam bentuk penyuluhan dengan topik AuPenguatan Pemahaman Karya Sastra dengan Setting Budaya Sasak-Lombok pada MGMP Bahasa Indonesia SMA di Kabupaten Lombok TimurAy. METODE KEGIATAN Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dalam format diskusi terpimpin bersama para guru Bahasa Indonesia tingkat SMA (Lombok Timu. dengan mengacu pada poin-poin yang telah disampaikan pada bagian solusi. Penyuluhan dilaksanakan dengan penyampaian konsep dan teori sekaligus hasil riset yang dipenuhi dengan contoh-contoh . ari novel Sanggargur. agar peserta benar-benar paham. Peserta juga sekaligus diajak mengevaluasi pemahamannya selama ini tentang karya sastra dan cara membelajarkannya secara berkelompok berdasarkan fokus pembahasan. Jika dispesifikkan, metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini terdiri atas metode ceramah, tanya-jawab, studi kasus, dan demonstrasi. Metode ceramah diwujudkan dengan memberikan materi sesuai poin-poin solusi. Metode studi kasus diwujudkan dengan memberikan berbagai contoh berdasarkan novel Sanggarguri. Metode penugasan diwujudkan dengan menganalisis istilah tercakup dan istilah pencakup dalam novel Sanggarguri secara berkelompok. Selanjutnya, metode demonstrasi dilaksanakan dengan memberikan kesempatan kepada peserta . erwakilan kelompo. menyampaikan hasil penelaahannya sendiri tentang istilah tercakup dan istilah pencakup pada novel Sanggarguri dalam setiap babnya. Pada bagian akhir, para peserta dievaluasi . ost tes. dengan beberapa soal yang persis sama dengan evaluasi awal untuk mengetahui Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index tingkat pertambahan pemahaman peserta. Pada segmen akhir, para pemateri dan para peserta melakukan refleksi, merangkum hasil sosialisasi, dan membuat simpulan. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan sosialiasi dirangkum dalam tabel dan urutan sebagai berikut. No. Tahapan Prapengabdian Pelaksanaan Pengabdian Pascapengabdian Kegiatan Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pengurus MGMP Bahasa Indonesia tingkat SMA di Lombok Timur. Melaksanakan rapat koordinasi untuk menyusun rencana pelaksanaan sosialisasi. Menyusun proposal pengabdian kepada masyarakat. Mengusulkan proposal pengabdian kepada masyarakat kepada LPPM Unram melalui simlitabmas. Pemateri memberikan tes awal dengan memberikan tiga bagian judul yang ada dalam novel Sanggarguri. Pemateri menyampaikan materi dan konsep serta melakukan diskusi terpumpun sesuai metode yang Pemateri meminta para peserta mengevaluasi secara berkelompok hasil penelaahannya novel Sanggarguri. Pemateri memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mendemonstrasikan hasil penelaahannya. Pemateri meminta para peserta mengikuti tes akhir . ost Pemateri bersama peserta melakukan refleksi, membuat simpulan, dan menyusun rekomendasi kebijakan. Pemateri membuat laporan hasil pengabdian untuk diserahkan ke LPPM Unram. Pemateri membuat artikel untuk dipublikasikan dalam jurnal pengabdian ber-ISBN. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan penguatan pemahaman karya sastra dengan setting budaya Sasak-Lombok pada MGMP Bahasa Indonesia tingkat SMA di Lombok Timur dalam rangka pengabdian kepada masyarakat ini terlaksana dengan baik. Ini terkonfirmasi dengan terpenuhinya beberapa indikator, seperti jumlah peserta, keaktifan peserta, tersampaikannya seluruh materi sesuai dengan rencana, hingga peserta . ara guru bahasa Indonesia tingkat SMA) dapat memahami posisi strategis pembelajaran sastra dengan setting budaya lokal. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 9 September 2023 di aula Madrasah Aliyah MuAoallimin NWDI Pancor Lombok Timur. Jalan TGKHM. Zainuddin Abdul Madjid No. 39 Pancor. Kecamatan Selong. Kabupaten Lombok Timur. Acara Pengabdian tersebut berlangsung mulai pukul 10. 00 sampai dengan pukul 16. 00 Wita . JP). Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index Gambar 1. Peserta yang Mengikuti Kegiatan PkM (Sabtu, 9-9-2. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan cara tatap muka . Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 28 guru Bahasa Indonesia tingkat SMA di kabupaten Lombok Timur. Dua puluh delapan guru tersebut berasal dari 14 sekolah menengah atas di kabupaten Lombok Timur. Tahapan pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi oleh tiga orang narasumber . ua orang narasumber berhalangan hadi. Pemateri pertama menyampaikan beberapa konsep tentang karya sastra dan budaya serta gambaran budaya Sasak-Lombok. Misalnya, karya sastra menurut teori formalis, teori fenomenologis, dan teori humanis. Teori formalis melihat bahwa karya sastra sebagai sistem komunikasi yang mengacu pada dirinya dengan melakukan distorsi terhadap sistem tanda kebahasaan yang dipakainya. Teori humanis memandang bahwa karya sastra adalah endapan dari dunia pengalaman yang disampaikan melalui fakta-fakta estetik. Sementara teori fenomenologis melihat karya sastra sebagai karya yang berbicara melalui imaji-imaji dengan fungsi estetik yang dominan (Faruk, 2. Selanjutnya, budaya Sasak-Lombok adalah sistem gagasan, perilaku, dan material yang berasas pada struktur nilai Masyarakat Sasak. Sistem nilai Sasak yang dimaksud adalah nilai dasar . indih/tende. , nilai penyangga . aliq dan meran. , dan nilai instrumental . ilai yang merupakan ekspresi nilai tindih, maliq dan merang dalam semua lini kehidupa. (Fathurrahman, 2. Gambar 2 dan 3. Suasana Penyampaian Materi tentang AuKarya Sastra Ber-setting Budaya LokalAy Pameteri kedua kemudian mengeksplorasi karya sastra dengan setting budaya Sasak-Lombok dengan mengambil studi kasus pada novel Sanggarguri. Di tengah-tengah presentasi pamateri kedua, dilakukan apersepsi tentang karya-karya sastra dengan setting budaya lokal. Lalu ditampilkan pula bagaimana cara melakukan pembelajaran sastra dengan setting budaya lokal dengan pendekatan etnografi, khususnya terkait analisis taksonomi . ang telah dimodifikasi untuk keperluan pembelajaran di level SMA). Ini dimaksudkan agar para guru Bahasa Indonesia memahami bagaimana karya Sastra seperti novel dibelajarkan untuk anak SMA dengan membongkar pengetahuan lokal yang ada dalam sebuah karya sastra. Misalnya, dalam novel Sanggarguri perihal Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index bagaimana orang Sasak memerlukan beberapa macam kesadaran untuk mengenal jati dirinya. Mulai kesadaran genealogis, kesadaran historis, kesadaran kultural, dan kesadaran spiritual. Dengan kata lain, ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai seorang Sasak maka pada dirinya harus memahami dimensi kesadaran yang harus inheren dalam dirinya. Pemahaman semacam ini . alah satuny. bisa dilakukan melalui pembedahan karya sastra melalui pendekatan etnografi . Pamateri ketiga mempresentasikan cara menganalisis karya sastra ber-setting budaya lokal. Pemateri memulai sajiannya mengenai sistematika teori makna linguistik. Menurut teori ini, gejala sosial budaya akan dapat dipahami dengan baik dan dijelaskan dengan tuntas ketika makna . ersurat dan tersira. bahasa yang digunakan pada ranah tertentu dapat dianalisis dengan mengungkap maknanya secara berjenjang (Spradley, 2. Dalam konteks ini, penyaji menyampaikan kertas kerja yang bisa membantu peserta untuk mempraktikkan teori yang sudah dipaparkan. Selanjutnya, para peserta diajak berdiskusi dan bertanya-jawab mengenai materi maupun permasalahan yang dihadapi selama menjalankan pembalajaran Bahasa Indonesia di SMA tanpa menggunakan karya sastra ber-setting lokal sebagai salah satu sumber belajar. Pada akhirnya, kegiatan ditutup dengan melakukan refleksi, penyimpulan, dan perumusan rekomendasi kegiatan secara bersama. Sebagai penutup kegiatan, para narasumber dan peserta merumuskan rekomendasi untuk Rekomendasi yang dimaksud adalah sebagai berikut. Pertama, narasumber dan peserta bersepakat menjadikan kegiatan penyuluhan semacam ini menjadi kegiatan yang Kedua, narasumber dan peserta merekomendasikan materi-materi yang terkait hasilhasil kajian tentang karya sastra yang berlatar budaya lokal Sasak-Lombok, terutama yang sudah terpublikasi di jurnal-jurnal agar dikumpulkan menjadi satu kumpulan materi sebagai sumber belajar di tingkat SMA. Ketiga, rekomendasi kepada pihak sekolah agar menyusun regulasi terkait adanya keharusan memanfaatkan karya sastra berlatar budaya lokal sebagai bahan ajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA. KESIMPULAN DAN SARAN Secara keseluruhan, kegiatan penyuluhan dalam rangka pengabdian kepada masyarakat ini berjalan dengan lancar dan sukses berdasarkan indikator yang ada. Antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan secara tatap muka patut diapresiasi. Berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para guru Bahasa Indonesia SMA dalam penyiapan bahan ajar karya sastra ber-setting budaya lokal. Pada akhirnya, penyuluhan ini relatif telah mampu menambah kualitas pemahaman dan kesadaran para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMA tentang bagaimana menariknya karya sastra berlatar budaya lokal dijadikan sumber belajar. Penambahan kualitas dan kesadaran ini Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. Oktober 2023 https://journal. id/index. php/pepadu/index tentunya merupakan usaha yang berkelanjutan dan membutuhkan kontrol yang baik. Pada akhirnya, kualitas dan kesadaran tersebut selaras dengan banyaknya penyediaan dan pemilihan karya-karya sastra berlatar budaya lokal yang dijadikan sumber belajar di jenjang SMA. Untuk waktu mendatang, penyuluhan semacam ini harus terus dilakukan sebagai pembaharuan informasi sumber belajar kepada para guru Bahasa Indonesia SMA. Perlu dibuat perencanaan kegiatan yang tersistem dengan baik berdasarkan persoalan-persoalan yang muncul selama ini di sekolah menengah atas terkait sumber karya sastra ber-setting budaya lokal sebagai sumber belajar. Kerja sama antara pihak MGMP Bahasa Indonesia tingkat SMA dan perguruan tinggi harus terus ditingkatkan dalam rangka mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semuanya harus direncanakan dan diimplementasikan secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Program pengabdian kepada masyarakat ini bisa terlaksana karena adanya dukungan dari pihak LPPM dan FKIP Universitas Mataram yang telah meyetujui dan mendanai kegiatan ini. Selain itu, adanya kesediaan bermitra pihak MGPM Bahasa Indonesia tingkat SMA Lombok Timur, terutama ketua dan sekretaris MGMP. Kepada pihak-pihak terkait tersebut disampaikan ucapan terima kasih. DAFTAR PUSTAKA