Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia: Sebuah Bandingan Ahmad Bahtiar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia bahtiar@uinjkt. Rosida Erowati Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia erowati@uinjkt. Novi Diah Haryanti Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia diah@uinjkt. Abstrak Penelitian ini beranjak dari permasalahan bagaimana gambaran masa revolusi fisik serta pengaruhnya terhadap masyarakat yang diungkapkan melalui tokoh-tokohnya dalam dua novel Indonesia yaitu Jalan tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis . dan Pulang karya Toha Mohtar . Untuk itu, tujuan penelitian ini mengetahui gambaran masa revolusi serta pengaruhnya terhadap tokoh dalam kedua novel tersebut. Sebagai strategi pembacaan digunakan pendekatan Sosiologi Sastra serta metode naturalistik. Dari latar waktu, tempat, sosial, dan budaya yang tampil pada kedua novel tersebut, diperoleh sejumlah informasi gambaran masa itu yang ditampilkan Temuan dalam penelitian adalah kedua novel tersebut mengungkapkan gambaran revolusi yang berbeda. Novel Jalan Tak Ada Ujung menggambarkan masa penting dalam revolusi yang menampilkan kondisi sosial yang tidak jelas. Kondisi tersebut melahirkan tokoh yang semakin degradatif secara moral dan spiritual. Sedangkan Pulang menampilkan gambaran masa-masa tenang setelah tidak lagi terjadi konflik-konflik fisik. Namun, ketenangan tersebut menyimpan memori konflik yang mengganggu hubungan sosial dalam mengisi kemerdekaan. Kata kunci: kondisi sosial. Mochtar Lubis. sosiologi sastra. Toha Mohtar ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Abstract This article discusses about the problem of how the physical revolution and its influence on society were portrayed through its characters in Indonesian novels. The novel full of information at that time is the Way of No Edge by Mochtar Lubis and Pulang by Toha Mohtar. Two approaches, the Sociology of Literature approach and naturalistic methods are used to reveal new meanings and produce different interpretations. From the setting of time, place, social, and cultural background that appears in the two novels, there are a number of information and descriptions of the period that the author The results of the analysis reveal a different picture of the revolution between the two novels. Novel Jalan Tak Ada Ujung describes an important period in maintaining independence so that it displays social conditions that are not clear. This condition gives birth to figures who are increasingly morally and spiritually degradative. Whereas Pulang shows a picture of calm times after no physical conflicts occur. However, this calm saves a memory of conflicts that disrupt social relations in filling Keywords: literary sociology. Mochtar Lubis. social conditions. Toha Mohtar Ahmad Bahtiar, dkk. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia . Pendahuluan Masa revolusi fisik di Republik Indonesia terjadi selama enam tahun . Masa tersebut merupakan saat bagi rakyat Indonesia yang baru untuk membangun basis kesepakatan bersama tentang masa depan suatu negara. Namun, republik yang baru tersebut tak henti-hentinya menghadapi berbagai baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Agresi Militer Belanda pemberontakan PKI Madiun terjadi bersamaan pada masa tersebut. Seluruh energi bangsa dan rakyat yang baru mempertahankan kemerdekaan. Sebagai bagian dari sejarah bangsa, dipermasalahkan oleh banyak pengarang di Indonesia yang hidup pada masa itu. Dengan berbagai perspektif, para pengarang dari berbagai generasi. Fenomena tersebut bukannya tanpa dasar. Masa revolusi menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi para pelaku sejarah, termasuk para sastrawan tersebut. Para sastrawan yang terlibat dalam ketentaraan maupun tidak, pada masa itu membicarakan revolusi sebagai topik yang didukung, digugat, maupun dihujat. Suasana revolusi muncul dalam karyakarya sastra Indonesia tahun 1950-an. Mereka yang hidup pada masa tersebut, sebagai anak-anak maupun orang dewasa, menghirup udara revolusi Indonesia dengan penuh semangat dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut dari berbagai perspektif termasuk Mochtar Lubis yang menulis novel Jalan Tak Ada Ujung . dan Toha Mohtar dalam Pulang . Kedua novel tersebut menarik untuk dibicarakan karena tidak hanya berisi gambaran pada masa-masa penuh konflik dalam mempertahankan kemerdekaan tetapi bagaimana akhir masa revolusi tersebut yang masih menyisakan persoalan-persoalan karena revolusi. Selain itu, keterlibatan pengarangnya dalam revolusi Indonesia menambah nilai kedua novel tersebut. Penelitian tentang cerminan Revolusi Indonesia dalam karya sastra ditemukan dalam beberapa tulisan. Pembahasan tentang revolusi Indonesia dalam sejarah sastra Indonesia dikaitkan dengan tumbuhnya Angkatan 45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar serta gambaran situasi sastra masa itu diangkat oleh Erowati dan Bahtiar dalam buku Sejarah Sastra Indonesia1 yang memperlihatkan adanya Indonesia pascarevolusi Indonesia. Setelah masamasa mempertahankan kedaulatan Republik muda ini selesai, setelah tahun 1950, muncul pergesekan yang keras secara politik, dan hal ini merembes sampai ke dunia sastra Indonesia. Selepas Indonesia merdeka, banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang termasuk budaya. Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba setelah proklamasi. Selama masa pendudukan Jepang sudah terjadi tandatanda perubahan yang diperlihatkan beberapa sastrawan tetapi tidak segera muncul ke permukaan karena tertekan oleh kekuasaan Jepang sehingga karyakarya tampil tidak menggambarkan kondisi sosial sebenarnya. Gambaran masa pendudukan Jepang secara utuh justru didapatkan ketika novel ditulis jauh pada masa itu. Namun, ternyata mengisi kemerdekaan Berbagai penyeleweng an menyebabkan timbulnya berbagai krisis, krisis ahlak, krisis ekonomi dan berbagai krisis yang lainya. Situasi sastra Indonesia menunjukkan indikasi yang menarik Erowati and Bahtiar. Sejarah Sastra Indonesia. Bahtiar. AuSikap Pengarang Dalam Novel Palawidja Karya Karim Halim Dan Kembang Jepung Karya Remi Silado : Sebuah Bandingan. Ay Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. tentang adanya degradasi secara moral dan spiritual terhadap situasi masyarakat pada saat Revolusi. Latar revolusi dalam Indonesia mengilhami para sastrawan yang lahir sebelum tahun 1940-an untuk menuliskan pengalaman mereka sebagai generasi yang merasakan perang kemerdekaan sekaligus hidup pada masa setelah nya. Mahayana menggunakan latar revolusi sebagai inspirasi dalam bukunya Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Banyaknya novel yang dijadikan korpus serta masa yang dirujuknya sangat panjang membuat pengamatan nya serba Ia cenderung membicarakan revolusi sebagai peristiwa, bukan apa makna revolusi bagi tokoh-tokohnya. Pendekatan teoretis utama dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra. Pernyataan H. B Jassin yang mengatakan Ausastra adalah dunia imajinasiAy mengawali sosiologis antara sastrawan dan realitas Sosiologi memperjuangkan masalah yang sama. Keduanya berurusan dengan masalah sosial, ekonomi, dan politik. Perbedaan antara keduanya adalah sosiologi melakukan analisis ilmiah yang objektif, menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat melalui perasaan tokoh-tokohnya. Dengan keduanya dapat saling melengkapi dalam kaitan cabang ilmu sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia Sebab, manusia sering mengungkap perjuangan umat manusia dalam menentukan masa perasaan, dan intuisi. 5 Teks sastra diwarnai oleh perjuangan hidup manusia yang mempunyai daya atau kemampuan memahami sesuatu atas dasar naluri yang Hal itulah yang menjadikan sastra menjadi bagian dari masyarakat sosial. Salah satu persoalan manusia yang menjadi fase penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah revolusi. Meminjam S. Eisenstadt . alam Firdaus dan Sa. , revolusi adalah kejadian luar biasa yang mengubah tatanan sosial ekonomi suatu negara. Selain disertai ideologi, revolusi juga dilakukan masyarakat dengan melibatkan organisasi dan emosi yang ada dalam jiwa Revolusi bukan suatu perubahan atau gerakan yang bersifat Revolusi terjadi karena berkelindan di tengah-tengah masyarakat, kemudian menjadi konflik, dilanjutkan dengan mobilisasi masyarakat serta organisasi politik lewat suatu pergerakan untuk menuju perubahan sosial. Hal-hal semacam itu menjadi tumpuan penelitian sosiologi sastra. Hubungan timbal balik di antara unsur-unsur sosial di atas akan besar pengaruhnya terhadap kondisi sastra. Beberapa aspek tersebut, sesungguhnya masih dapat diperluas lagi menjadi berbagai refleksi sosial sastra, antara lain: . dunia sosial manusia dan seluk beluknya, . penyesuaian individu pada dunia lain, . bagaimana cita-cita untuk mengubah dunia sosialnya, . hubungan sastra dan politik, dan . konflik-konflik dan ketegangan dalam Dengan demikian, hubungan sosiologi dan sastra bukanlah hal yang dicari-cari. Keduanya akan saling melengkapi hidup manusia. Mahayana. Ringkasan Dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jassin. Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia Dan Karangan-Karangan Lain. Suwardi Endraswara. Metode Penelitian Sastra: Epistemologi. Model. Teori. Dan Aplikasi. Faisal dan Firdaus Syam. AuTan Malaka. Revolusi Indonesia Terkini. Ay Suwardi Endraswara. Metode Penelitian Sastra: Epistemologi. Model. Teori. Dan Aplikasi. Ahmad Bahtiar, dkk. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia . Berdasarkan hal itu, penelitian ini mencoba melihat kondisi masa revolusi setelah kemerdekaan untuk melihat pengaruhnya terhadap rakyat yang muncul melalui tokohnya, di mana rakyat tidak berdaya dan putus asa menghadapi keadaan sosial di Indonesia yang semakin degradatif secara moral dan spiritual. Kemunculan tokoh-tokoh protagonis yang mengalami masa-masa revolusi baik sebagai tentara maupun rakyat biasa menjadi memori kolektif tentang masa mempertahankan kemerdekaan dari agresi bangsa asing. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah naturalistik,8 dengan posisi peneliti sebagai pengamat dan penafsir data. Dengan demikian, peneliti Untuk dengan melakukan pembacaan secara heuristik . embacaan teliti dan membuat klasifikas. dan secara intertekstual . embacaan untuk melihat keterkaitan antara teks-kontek. , serta grounded method, untuk melihat hubunganhubungan konseptual antara hasil penelitian ini dengan asumsi-asumsi dalam arus utama sejarah sastra Indonesia. Untuk memudahkan tahapan ini, penulis menggunakan teknik koding,9 yaitu memberikan kode berupa label pada genre yang digunakan sebagai korpus. Kemudian, teknik catat, yaitu mencatat setiap satuan wacana yang terkait dengan kategori identitas, peristiwa yang melandasi, sudut pandang pencerita/tokoh terkait revolusi, serta latar tempat, waktu, dan sosiokultural yang menjadi tumpuan. Data-data dilakukan menggunakan analisis naratif dengan membaca dan memahami kembali data yang sudah Analisis dengan tinjauan sosiologi sastra dan konsep tentang Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. revolusi dilakukan dengan membaca dan memahami kembali data yang diperoleh. Selanjutnya, mengelom- pokkan teks-teks yang mengandung revolusi Indonesia kemudian membandingkan tema-tema mayor dan minor dalam karya-karya tersebut dan menghubungkannya dengan asumsi-asumsi utama yang terdapat dalam sejarah sastra Indonesia. Temuan dan Pembahasan Pembahasan difokuskan pada kondisi masyarakat masa revolusi yang menjadi latar dalam novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan Pulang karya Toha Mohtar. Selain itu juga dijelaskan pengaruh revolusi terhadap masyarakat yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dalam kedua novel itu sehingga diketahui bagaimana aktivitas dan keterlibatannya dalam revolusi. Kondisi Masa Revolusi Cerita dalam novel Jalan Tak Ada Ujung ini terjadi antara 1946Ai 1947, masa yang penuh konflik dalam mempertahankan kemerdekaan. Cerita dalam novel itu terjadi di daerah-daerah Jakarta seperti Gang Sirih Wetan. Gang Jaksa Kebon Sirih. Tanah Tinggi. Sekalikali disebut Karawang dan Bekasi, kota pinggiran Jakarta yang merupakan batas antara daerah Belanda dan Republik. Karawang juga menjadi penghidup Kota Jakarta karena kiriman berasnya. Oleh karena itu, sampai sekarang daerah itu menjadi lumbung padi tidak hanya untuk Jawa Barat tetapi nasional. Perlawanan terhadap NICA dilakukan dalam berbagai bentuk. Pada setiap trem, kendaraan umum pada waktu itu. Dindingnya di luar penuh dengan cat dan semboyan yang bersorak sorai dalam bahasa Inggris : AuFREEDOM IS THE BIRTHRIGHT OF EVERY NATION! AuNICAAiNO INDONE SIAN CARE Chariri. AuLandasan Filsafat Dan Metode Penelitian Kualitatif. Ay Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. ABOUT. Ay10 Tulisan-tulisan itu selain menggelorakan semangat kemerdekaan, juga untuk tidak mempedulikan NICA yang akronim dari Nederlands Indies Civil Administration yaitu pemerintahan yang pemerintahan kolonial Belanda setelah berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia. Pertempuan yang tiada henti di dalam kota menyebabkan banyak kesusahan. Tidak hanya dialami masyarakat biasa juga para pegawai seperti Guru Isa. Saat itu, ia hanya menerima sekadar bantuan bukan lagi gaji yang teratur. Oleh karena itu, masyarakat mengeluhkan tentang kebutuhan hidup yang susah didapat. AuKasih saya beras dua liter. Ay katanya pada ada Baba Tan yang menjaga Anak itu membungkus beras dua liter dan diletakannya di atas meja di depan perempuan itu. AuEnam rupiah!Ay AuAh, naek lagi. Kemarin dulu juga seringgit,Ay bantah perempuan itu. AuSaya ngutang saja,Ay sahut perempuan itu, dan tangannya menjangkau bungkusan beras. AuTidak boleh bon lagi sekarang, kata Baba Tan dari pintu warung. Dia telah lama berdiri di sana mendengar. AuTapi saya langganan lama. Ay AuYa, tapi sekarang semua susah, saya juga banyak yang susah,Ay kata Baba Tan. AuTak bisa kasih hutang. Tidak Ay11 persembunyian dan para pemuda itu. Mereka menggeledah setiap orang untuk mencari senjata yang digunakan dipakai untuk melawannya. Setiap teriakan. AuSiap. Siap! berarti akan lewat truk-truk NICA yang berisi serdadu-serdadu itu memakai topi baja berpatroli, mencari para pemuda atau tujuan lainnya. Orang-orang yang sedang di tempat itu harus segera bersembunyi atau menghindarinya karena di atas truk serdadu-serdadu itu dengan senapan dan sten sambil memaki-memaki melakukan tembakan-tembakan ke kanan-ke kiri tidak tentu arah. Akibatnya, selalu ada korban kena tembak baik luka berat maupun meninggal di kalangan masyarakat biasa. Serdaduserdadu itu tidak memandang anak atau orang tua, bahkan mereka tidak peduli terhadap orang-orang Palang Merah. Pada masa itu, kekerasan dan kekejaman banyak dilakukan termasuk juga dilakukan para pemuda terutama kepada mata-mata musuh. AuBukan bangkai ayam atau anjing Pak!Ay katanya. AuBangkai mata-mata Dua orang perempuan Tionghoa. Kita potong tiga hari yang Ketangkap lagi lewat kampung. Diperiksa tidak mau ngaku, katanya mau menagih hutang. Hutang apaAi AuDia menggerakkan tangannya seakan orang yang hendak mencabut kemudian dengan jari telunjuknya digoreskan lehernya. Kemudian dia meludah ke tanah, berat seperti Kiran dan Iman ikut tertawa. AuOntong ini benar algojo. Kita semua tidak ada yang berani potong. Dia yang potong,Ay kata Kiran. Keamanan pun sudah tidak ada, setiap saat orang berada dalam bahaya. Pertempuran antara serdadu-serdadu NICA yang umumnya berasal dari Suku Gurkha. India dengan para pemuda yang menggunakan senapan, pistol, dan bambu runcing sering terjadi. Setelah tembakmenembak berhenti itu, serdadu-serdadu itu masuk ke rumah-rumah mencari Di antara para pejuang, termasuk para banyak yang untuk kedok mencari Moctar Lubis. Jalan Tak Ada Ujung. Moctar Lubis. Moctar Lubis. Ahmad Bahtiar, dkk. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia . keuntungan bagi dirinya sendiri. Hal itu dijelaskan Hazil dalam suratnya kepada Guru Isa menceritakan kondisi perjuangan saat itu. Beberapa AuwarlordAy kecil-kecilan telah Kepala bermacam-macam pasukan bersenjata yang tidak mempedulikan sesuatu apa. Banyak pula yang telah mulai memeras rakyat, minta beras, sapi, uang. kekejaman-kekejaman yang berlaku. terkadang aku merasa malu, mengingat kita mengutuk dan menyumpah teror yang dijalankan Nica di Jakarta. Tetapi kita sendiri juga telah mulai menjalankan teror pada rakyat kita Kesusahan dan kekacauan di Jakarta membuat beberapa orang mengungsi meninggal kota itu. Seperti Tuan Hamidy yang selama ini membantu perjuangan dengan meminjamkan truknya. mengungsi ke Yogya, meninggalkan warung dan usahanya, juga Pak Damrah yang memiliki warung yang menjual makanan kecil: nasi, tempe, gulai ikan, sambal, pisang goreng, dan kopi panas. Selain Guru Saleh, temannya Guru Isa mengajar, juga mengungsi ke Purwakarta. Mereka menganggap revolusi saat itu lebih buruk daripada pemerintah Belanda. Pada masa itu, orang masih bisa bekerja dan hidup begitu pun zaman Jepang masih lebih baik. Masih bisa mengerjakan yang bisa dikerjakan. Berbeda dengan novel sebelumnya, novel Pulang berlatar masa ketika konflik-konflik fisik tidak lagi terjadi. Cerita di sebuah perdesaan di Kaki Gunung Wilis. Tempat yang hijau yang dikelilingi kekayaan alam dengan bidangbidang sawah menurun rapi seperti Meski memiliki tetapi setiap malam desa itu seperti desa- Moctar Lubis. desa yang lain. Kutipan berikut menjelaskan hal itu. Setelah beberapa tahun menjadi medan pertempuran, mengalami pemerintah Jepang, dilanjutkan kedatangan Belanda, desa itu akhirnya merasakan kedamaian, mengalami kehidupan baru. Setelah tujuh tahun ditinggal Tamin, desa itu secara lahiriah tidak mengalami perubahan. AuJalanan yang pernah dikenalnya jalanan itu pula, pendapa kelurahan tetap yang dahulu, perumahan tak banyak berubah, mesjidnya, semua adalah yang dahulu pernah dikenalnya di masa kecil. Ay Namun, dalam jiwa-jiwa orang desa itu terdapat perubahan besar setelah usai Desa itu memiliki anak-anak muda yang berani membela tanah airnya dengan taruhan nyawa. Mereka adalah kawan-kawan karib Tamin seperti Pardan. Gamik. Mawardi Perjuangannya selalu menjadi cerita menarik meski diulang-diulang di berbagai tempat. Orang-orang desa memiliki kebanggaan dan pemahaman yang besar tentang pengorbanan jiwa membela tanah air. Termasuk ibunya Tamin, yang rambutnya putih separuh dan badannya yang ringkih. AuTuhan Maha Adil. Tamin! Dalam kekerdilannya, ia memiliki jiwa yang Ketika musim hujan seperti ini, serdadu Belanda datang mencari pemuda dan tentara di kampung kita. bersama keenam temannya melakukan perlawanan di sepanjang kali, keenam temannya melakukan perlawanan di sepanjang kali, di samping sawah Pak Banji. Belanda itu terlalu banyak, semua temannya bisa lolos, tinggal Gamik seorang diri. Ia diketemukan esok harinya di pinggir pematang, tubuhnya robek-robek oleh peluru Tak seorang pun akan melupakan peristiwa ini. Gamik Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Tamin. Sebab waktu itu orang serdadu-serdadu Belanda mengangkut dua temannya ke dalam prahoto mereka sebagai korban. Ay14 Desa itu tidak hanya memiliki para pemuda pemberani. Saat perang gerilya, desa di kaki Gunung Wilis itu banyak berkorban untuk perjuangan. Desa itu bergerak dengan segala cara melawan Belanda. Orang-orang desanya di zaman peperangan bergerak dengan jalan melawan Belanda. Tak heran, desanya memiliki orang-orang berani berkorban dengan jiwa raga untuk tanah air. Cerita pengorbanan mereka tak pernah ada habis-habis dan selalu diulang-ulang dengan penuh kebanggaan. Peresmian perbaikan makam Gamik dirayakan dengan ramai dan seluruh pendudukan menganggap sebagai hari perayaan resmi. Sambutan menguatkan hal itu. Orang itu menyebut bawa desanya adalah desa pertama yang paling tebal pemerintah tak hendak melupakan itu, dan yang akan datang waktunya bantuan untuk desa yang tengah dalam Ia menutup pidato itu dengan pekik merdeka yang disambut hadirin dengan gegap gembira. adalah pejuang yang dulu sering berkeliaran di lereng-lereng gunung Wilis dan sering mendatangi desanya Tamin. Dampak Revolusi Tokoh utama dalam novel karya Moctar Lubis adalah Guru Isa, seorang guru sekolah di daerah Tanah Abang, alumni sekolah guru HIK di Bandung. Guru yang berusia 35 tahun ini hatinya lembut dan sederhana. Guru Isa sungguhsungguh manusia penyuka dan penerima kedamaian, penyayang semua orang. Selain itu ia pun mudah terkesan dan bangga pada orang lain. Ia tidak percaya pada kekerasan karena itu tidak pernah memakai kekerasan untuk orang lain atau mengalami kekerasan badan oleh orang lain. Kekerasan yang dipertunjukkan orang-orang Jepang, kemudian dilanjutkan serdadu NICA maupun para pejuang di masa revolusi melukai perasaannya sehingga ia tidak pernah bisa mengerti mengapa orangorang harus melakukannya. Bagi Guru Isa, kekerasan itu sangat menyakitkan dan menakuti hatinya karena sering muncul dalam mimpi-mimpi buruk atau kejadiankejadian yang mengingatkan pada peristiwa itu. Kekerasan juga sering menghadirkan ketakutan-ketakutan lain yang menyebabkan pikirannya kacau Guru Isa menutup mukanya dengan kedua belah tangannya, dan mengerang perlahan-lahan. Dia tidak tahu. Tapi apa yang dirasakan sekarang timbul dari perasaan ketakutannya yang tertekan tadi. Sekarang keluar semuanya dalam bentuk-bentuk yang Banyak yang ditakutinya timbul. Hari-hari depan yang kabur dan Keselamatan istri dan Penghidupan yang semakin Dan gaji yang tidak cukup. Hutang pada warung yang sudah bulan tidak dibayar. Sewa rumah yang Oleh karena itu, gubernur menjanjikan membangun dam yang akan mengatur pengairan sawah dengan baik apabila perang usai. Air dirasakan penting terutama pada masa tanam. Aubagi setiap petani di musim semacam itu tak ada gelap, tak ada kantuk, tak ada dingin dalam seluruh kepalanya cuma terisi dua harapan: tanah dan air. Jika ada di antara yang berkelahi di pinggir pematang atau mayat kedapatan di tengah rumpun padi, maka cuma satu sebab: Ay16 Gubernur yang menjanjikan itu Toha Mohtar. Pulang. Toha Mohtar. Toha Mohtar. Ahmad Bahtiar, dkk. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia . dihutang tiga bulan. Perhiasan istrinya dipajak gadai. Ketakutan-ketakutan itu Guru Isa impoten dan dokter mengatakan bahwa itu adalah psychischenya sendiri sehingga hanya dapat diobati oleh dirinya sendiri atau sesuatu yang dapat melepaskan tekanan jiwanya yang merasa tidak kuasa. Karena itu, setelah enam bulan perkawinannya ia tidak kuasa meladeni Fatimah, istrinya. Anak pamannya itu karena masih muda dan penuh api hidup, pada waktu-waktu tertentu keluar hasrat yang ditahan-tahan Tetapi guru Isa tidak bisa Fatimah menderita bertahun-tahun dan dingin Karena itu. Guru Isa selalu beranggapan bahwa Fatimah pun akan menolaknya setiap saat keinginankeinginan Guru Isa yang penuh dengan hasrat cintanya. Meski perkawinannya, tetapi tidak ada cinta di antara mereka. Guru Isa tidak lagi melihat sinar mata istrinya yang mengandung kasih dan cinta setelah percobaan-percobaan mereka atau Guru Isa yang tidak kunjung-kunjung berhasil. Mereka memutuskan untuk tidak mencoba-coba lagi meski Guru Isa hatinya selalu mengharap. Kemudian. Guru Isa menerima usulan istrinya memungut Salim sebagai pengganti anak yang diharapkan istrinya meski akan menambah uang belanja serta tanda tidak berdayanya sebagai suami. Dalam menghadapi istrinya, guru Isa banyak ketakutan yang menghampirinya. Ia takut Fatimah tidak mencintainya sehingga Tidak hanya kepada istrinya, setiap orang yang ditemuinya selalu dihadapi dengan ketakutan. Saat bermain dengan Salim, yang berusia empat tahun terkadang ia pun takut apabila Salim Moctar Lubis. Jalan Tak Ada Ujung sampai marah. Di sekolah. Guru Isa takut meminta persekot kepada guru Kepala meskipun di rumahnya tidak uang untuk membeli beras dan lauk pauk dan Fatimah banyak meninggalkan utang di warung. Dengan Hazil pun, ia takut berdebat dalam segala hal. Ketakutan karena ketidak-berdayaan membuat jiwanya menderita sampai tertekan ke bawah, ke dalam jiwa tidak sadarnya sehingga mendasari pandangan hidupnya, pikirannya, dan sikapnya kepada hidup disekelilingnya. Guru Isa ikut jadi anggota jaga kampung. Malahan karena kedudukannya sebagai guru, maka dia jadi wakil ketua panitia keamanan rakyat dikampungnya dan menjadi penasehat Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kemudian, karena sebagai guru sekolah yang tidak akan dicurigai, ditunjuk sebagai kurir, pengantar, senjata dalam kota Jakarta saat pertemuan para pemuda di Kebon Sirih. Kesediaan terlibat dalam BKR bukan karena sikap heroiknya seperti lagu AuPolonaise HeroicAy ciptaan Chopin yang Aumembakar cinta pada tanah airnyaAy yang sering dinyanyikannya. Ia sebenarnya kecut dalam hatinya untuk keluar malam dalam gelap untuk menjaga kampung terlebih ikut bertempur melawan NICA. Alasannya, karena kalau menolak ia takut dituduh mata-mata musuh dan akan dimusuhi orang sekampung. Meskipun setiap pekerjaannya itu menyebabkan perasaan cemas, takut, ngeri yang bercampur-campur menggodanya. Selain pandai memainkan biola. Guru Isa dapat mengarang lagu untuk kanakkanak di sekolahnya. Setiap membawakan lagu, terutama lagu-lagu Chopin yang jiwa dan perasaanperasaannya tergetar menyesuaikan tema dan iramanya. Digoncangkan menghilangkan pikiran-pikiran yang Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. menyanyikan dan meragukan hatinya. Dipaksanya untuk menggesek biola Dia memainkan polonaise Heroic Chopin. Lagu bagai topan membadai, perasaan Kantor sekolah yang suram itu hilang berputar-putar Kemudian Guru Isa menukar lagu dengan sebuah Nocturne. Chopin. WFlat Mayor, lagu yang penuh ketenangan abadi dan Keindahan. dan bukan juga berasal dari keluarga feodal atau kaum menak sehingga tidak dikenal dan tidak berpengaruh di Berbeda dengan ayahnya. Hazil yang kurus tetapi penuh semangat yang menyala-nyala. Ia merasa yakin dengan berjuang untuk AuDalam perjuangan kemerdekaan ini, tidak ada tempat pikiran kacau dan ragu-ragu,Ay kata Hazil. AuSaya tidak pernah ragu, dari mulai. Saya sudah tahuAisemenjak mula---bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai pada ujungnya. mana ada ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? dalam hidup manusia setia setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian Sekali memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan Melalui biola, tumbuh persahabatan antara Guru Isa dengan Hazil, putra Mr. Kamaruddin, pensiunan Kepala Landrad. Sebelum perang, ia hidup senang sebagai pegawai tinggi di pemerintahan. Di usia tua yang sudah enam puluh tahun, ia amat cerewet dan suka menunjukkan kuasa termasuk kepada anaknya. Di balik kecerewetannya. Mr. Kamaruddin ketakutan yang dipendam jauh-jauh di dalam hatinya. Setelah istrinya meninggal, ia tinggal berdua dengan Hazil. Ia takut kehilangan anaknya, juga takut terhadap perubahan anaknya serta nasibnya karena masa yang berubah. Karena revolusi, ia tidak mendapatkan pensiun serta kesenangan dan kehormatan seperti dahulu. Sebelum pensiun, ia adalah hakim di Kalimantan yang selain bekerja juga memiliki pengalaman-pengalaman rahasia dengan perempuan-perempuan Ia tidak mengerti mengapa masyarakat menolak Belanda. Setelah Belanda akan banyak pekerjaan dalam pemerintahan sehingga ia dapat kembali bekerja. Namun, harapan itu sirna meski pada masanya ia sebagai pegawai negeri yang baik. Belanda tidak Belanda membutuhkan orang-orang yang dianggap pemimpin rakyat dan dipercaya untuk melakukan maksud-maksud mereka. Mr. Kamaruddin tidak pernah bermain politik Kuku-kuku jari Hazil panjang-panjang hitam kena nikotine karena tidak pernah berhenti merokok. Habis sebatang disambung dengan sebatang lagi. Meski demikian, ia seorang komponis dan beberapa ciptaannya yang dianggap mengandung tenaga besar sering dimainkan Guru Isa. Beberapa kejadian yang dialami bersama menimbulkan kekaguman- nya terhadap Hazil. Bahkan untuk urusan bermusik. Guru Isa menganggap Hazil seorang yang jenius. Sehingga Guru Isa berpikir bahwa Hazil dapat mencapai segala hasrat hatinya yang Moctar Lubis. Moctar Lubis. Ahmad Erowati. Novi Dua Dia hNovel Haryanti AhmadBahtiar. Bahtiar,Rosida . Revolusi Indonesia Revolusi Dalam Dua Novel Indonesia : Sebuah Bandingan Tidak hanya dalam bermusik, tetapi dalam segala hal. Meski Guru Isa sering menyebut. Astagfirullah! terkejut dan ketakutan, soal agama tidak pernah menjadi faktor dalam pikirannya. Meskipun beragama Islam, mereka tidak Saat uang habis tidak bisa membeli beras sedangkan bantuan tidak bisa lagi diterima. Guru Isa sempat tergoda untuk mencuri buku tulis baru di sekolahnya yang sangat mahal harganya di luar. Perasan malu menjalar ke dalam hatinya, ketika pikiran melintas ke Ia merasa begitu rendah, mencuri dari sekolah sendiri. Namun, saat sekolah sepi dan tidak ada orang lagi, perkelahian terjadi di dalam hatinya. Dengan perasaan yang susah ia memutuskan mengambil buku itu karena merasa orang tidak akan tahu. Kemudian, buku-buku itu dijual kepada Tionghoa meski dengan harga yang murah. Guru Isa membawa pulang lima puluh rupiah meskipun sakunya terasa berat dan panas ke badannya. Kepada istrinya ia berdusta, bahwa uang terebut adalah persekot dari sekolahnya. Pencurian itu terus diulangi berkali-kali. Selain makin tipis rasa malunya. Guru Isa pun membenarkan pendapat Hazil bahwa akhirnya manusia akan terbiasa pada apa saja termasuk pencurian, kekerasan, dan Kegiatan Guru Isa dalam revolusi pemegang dana perjuangan bukan karena cinta tanah air yang dilandasi agama, tetapi karena ketakutannya. Karena takut pada Hazil dan Rahmat, ia pun menerima melemparkan granat tangan ke tengahtengah serdadu-serdadu Belanda yang berdesak-desakan keluar dari bioskop Rex di daerah Senen. Tujuan pelemparan granat itu untuk memberi bukti kepada rakyat bawah perjuangan kemerdekaan masih berlangsung. Usaha mereka berhasil dengan menimbulkan kekacauan yang hebat. AuOrang menjerit-jerit dan melolong, berlahir kemana-mana. Beberapa serdadu Serdadu-serdadu Bunyi tembakan senapan dan stegun berdentam-dentam, disela oleh pekik dan jerit orang. Ay21 Kekacauan besar itu menjadi berita terlebih ketika salah satu di antara mereka ada yang tertangkap. Meski tidak menyebutkan pelaku, berita itu semakin menakutkan Guru Isa sehingga ia sempat pingsan di sebuah warung. Kemudian, ia pun demam dengan khayal bercampur dengan ketakutan-ketakutannya. Selama demam. Guru Isa menunggu Akhirnya, hari ketiga datanglah polisi militer ditemani dua orang berbaju preman. Ketakutan Guru Isa dibayangkannya, sehingga penang-kapan itu tidak menjadikannya panik. Setelah berpamitan dengan Fatimah ia bersiap ke tangsi polisi dengan mengendarai jip militer. Penerimaan yang baik selama di tangsi polisi tidak mengurangi ketakutannya malah semakin Hatinya berdebar-debar darahnya melonjak-lonjak mendesak ubunubunnya. nafasnya bertambah cepat. Keringatnya dingin tumbuh di punggungnya, dipelipisnya dan kedua belah tangannya basah. Mulutnya rasanya kering. Dan dengan tangannya yang gemetar Guru Isa membuka bungkusan buku-buku tulis baru itu, diambilnya sepuluh, dan kemudian sembari ditutup kembali. Buku tulis yang baru itu cepat-cepat dan tergesa-gesa dimasukkannya ke dalam tasnya. Baru setelah tas dikuncikannya, dia merasa lega sedikit. Napasnya mulai teratur kembali. Moctar Lubis Moctar Lubis. Jalan Tak Ada Ujung. Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Menghadapi ketakutan itu, ia teringat masa-masa yang lampau saat di HIK serta saat-saat kecil. Selama pemeriksaan dengan seorang kapten yang masih muda dan kukuh, ia bertahan untuk tidak menghianati temantemannya menghadapi siksaan para pemeriksanya. Akhirnya, dia mengetahui bahwa yang berhianat di antara mereka adalah Hazil karena tidak kuat menghadapi siksaan. Saat dipertemukan dengannya. Guru Isa Berkat siksaan-siksaan diterimanya. Guru Isa telah mengusai dirinya sendiri. Jiwa guru Isa telah bebas dan merasa damai dengan segala Ia lagi menderita karena ketakutan-ketakutannya. Dalam novel ini, tidak hanya Guru Isa. Fatimah pun menderita bertahun-tahun karena menahan hasratnya. Namun, ia tidak pernah tidak setia pada suaminya. menganggap jijik perbuatan bersetubuh atau meskipun sekadar dipegang laki-laki yang tidak dikawininya. Dia memandang bersekolah, dan berpikiran sehat. Meskipun dalam mimpi-mimpinya ada juga kadang-kadang timbul bayangan laki-laki. Namun, mimpi-mimpinya itu muncul pada sosok Hazil. Meski pada awalnya. Fatimah melakukan perlawanan dan Hazil mengatakan. AuKita berdosa-dosa, tetapi perkataannya hilang ditelan cium Hazil, dan akhirnya dia mengalah, mengalah, dan mengalahAy23 Dalam pikiran Fatimah, tidak ada lagi Guru Isa dalam perhubungan mereka saat Hari-hari dalam bulan Mei. Jika Babu Inah tidak ada di rumah, hari-hari bahagia buat Fatimah dan Hazil. Guru Isa sebenarnya mengetahui perselingkuhan istrinya saat mene-mukan pipa Hazil di bawah bantal di kamarnya. Kemarahan yang menyala melihat pipa tersebut akhirnya redup karena rasa Ia merasa takut akan sesungguhnya yang terjadi. Untuk itu, ia tidak berani menanyakan pipa itu kepada istrinya meskipun masalah pipa itu menambah teror mimpi-mimpi di setiap Cerita dalam novel Pulang dimulai kepulangan Tamin ke desanya di kaki Gunung Wilis setelah tujuh tahun berperang bersama heiho. Kedatangan Tamin dirasakan dengan kegembiraan tidak hanya keluarganya tetapi orangorang di desanya. Mereka merasa sejuk di waktu malam jika udara tergetar oleh suara tembang merdu dan halus indah sekali yang Tamin nyanyikan usai seharian bekerja di sawah. Di malam hari. Tamin menembang dengan suara yang merdu dan halus. Tembang itu dirasakan benar oleh orang-orang desa. Tembang yang diciptakannya itu membuat desanya kembali damai setelah bertahun-tahun mengalami peperangan di zaman Jepang Belanda. Tembang menceritakan sepasang kekasih yang berlainan latar belakang. AuDan esoknya dan hari-hari sesudahnya, kisah itu menjadi acara pembicaraan orang Mereka kagum akan isinya. Aku tiada marah dan benci padamu,Ay katanya. AuApa yang engkau lakukan aku hendak lakukan, dan telah lama aku lakukan dalam hatiku. Hanya setiap aku hendak mengaku, maka pukulan dan tendangan mereka datang yang mengkakukan seluruh urat Seluruh jiwaku menjerit minta mengaku, tetapi lidahku kelu karena kesakitan dan ketakutan. Tetapi tidak boleh mengalah pada ini. Orang harus belajar hidup dengan ketakutanketakutan. Moctar Lubis. Moctar Lubis. Ahmad Bahtiar, dkk. Revolusi dalam Dua Novel Indonesia . dan sebentar saja ia merata menjadi milik seluruh desa. Tamin pulang membaca cerita tembang untuk kita. Ay24 Setelah dengan diawasi ayahnya. Tamin dengan gembira mengerjakan sawahnya seorang diri. Untuk itu, seorang diri Tamin dengan tubuh yang kuat dan Semenjak kecil. Tamin sudah diajar bagaimana mencintai dan mencurahkan semua keringat untuk tanahnya. Setelah mendapatkan kembali sawahnya yang digadaikan, ia setiap hari mengerjakan sawahnya yang merupakan terbaik di Sawah itu adalah medan peperangan yang baru setelah bertahuntahun mengembara berperang dengan banyak orang dan banyak alat-alat perang. Kerjanya menjadi lambang semangat orang-orang desa dalam mengolah sawah sebagai bentuk- bentuk kecintaan kepada tanahnya, kepada desanya. Semenjak Ayah Tamin kesehatannya mulai membaik dan mata ayahnya semakin bercahaya. Kekuatannya berangsur kembali sedikit demi sedikit. Dada ibunya tak lagi setipis dahulu. Wajahnya yang tua itu kini tampak lebih bercahaya, matanya tidak lagi sedalam dahulu dan keriput dahinya berkurang. Sumi pun kulit hitamnya mulai berkurang. Sejak kakaknya datang, dunia baru terbentang di hadapannya, hidup baru dengan terbentang di hadapannya. Hidup mereka mulai terisi oleh warna. Pada setiap pojok rumah, setiap penjuru kebun, semua yang termasuk bagian rumah itu seperti ikut meneriakkan kegembiraan. Permasalahan muncul saat Tamin diundang untuk membicarakan gotong untuk memperbaiki makam Gamik. Di pendapa desa, kisah perjuangan Gamik terus diulang-ulang selain cerita orang-orang melawan Belanda. Saat itu, karena di desak Tamin harus mengarang cerita. Toha Mohtar. Pulang. tidak ingin disebut penghianat. Karena ia berperang di samping melawan Belanda melawan laskar rakyat di daerah Pasundan. Setelah tidak menjadi heiho, dalam pengembaraan Tamin bertempur di samping Belanda. Hal itu karena ketidaktahuannya bahwa yang dihadapinya adalah rakyat Indonesia. Seandainya menyadari kekeliruannya dari awal. Tamin tentunya bergabung dengan laskar rakyat melawan Belanda seperti yang dilakukan teman karibnya seperti Pardan. Gamik. Dulmanan dan lainnya. perampok, pengacau, dan sisa-sisa pelarian Jepang sehingga harus dihadapi. Tamin berharap dengan hancurnya mereka, desanya akan mendapatkan kedamaian sehingga dapat sehingga dapat mengolah kembali sawah. Sementara dikarangnya sudah menyebar ke manamana termasuk sampai ke Sumi. Tamin menjadi gelisah karena kebohongan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Akhirnya. Tamin sakit selama beberapa hari yang menyebabkannya tidak bisa bergotong-royong dengan orang-orang desa memperbaiki kuburan Gamik. Meski ia hadir pada peresmian yang dihadiri orang-orang pemerintah wajahnya tampak pucat dan matanya yang masih mendalam jauh masih membekas. Puncak dari peristiwa itu adalah Tamin tidak bisa lagi menguasai dirinya saat adiknya tidak bisa memahami kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya. Sumi tetap tertawa, saat dalam dadanya menggelora seperti Gunung Kelud memuntahkan laharnya. Tiba-tiba saja Tamin yang besar dan kukuh itu terayun sekerasnya, wajah gadis itu terputar dan tawanya lenyap mendadak, lalu jatuh tersungkur di samping perigi. Tak ada suara sesudah Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Sesaat Tamin tidak bergerak, ia baru mengetahui apa yang telah dilakukan terhadap adiknya sesudah itu Dengan gugup ia berjongkok di samping adiknya yang telentang itu, meraba nadinya, lalu mengusap wajahnya dengan air dingin. Mata yang jernih itu terbuka perlahan dan Tamin menciumnya dengan air mata yang Kemudian. Tamin meninggalkan rumahnya, meninggalkan desanya dengan perasaan bahwa desanya tidak lagi menghendaki ia pulang dan membuatnya Dengan menaiki getek yang melewati Sungai Brantas, ia sampai ke kota untuk mencari kedamaian. Selama empat bulan di kota bermodalkan tubuhnya yang besar dan tinggi itu menjadi kuli. Meskipun mendapatkan penghasilan lebih daripada dari temannya. Selama di kota, ia berharap tidak bertemu orang-orang desanya karena berarti semakin bertambah rasa salah dan semakin jauh dari apa yang ia cari. Tetapi pertemuan dengan Pak Banji justru mengabarkan kecintaan dan kekaguman orang-orang desa terhadapnya. Mereka kehilangan Tamin yang telah memberi semangat dalam mengolah sawah dan kedamaian di malam hari Oleh karena itu, orangorang desa mengharapkan Tamin kembali pulang ke desanya. Tamin sangat dicintai orang-orang di Kerinduan dan kecintaan terhadap Tamin melupakan ceritaceritanya tentang pertempuran melawan Belanda di daerah-daerah Jawa Barat. Mereka menghendaki Tamin pulang setelah berbulan-bulan tinggal di kota. Tamin menganggap orang-orang desa marah karena dusta-dustanya itu. Toha Mohtar. Akhirnya. Tamin memutuskan kembali pulang ke desanya. AuAku telah pulang. Ayah! Untuk menyambung pengharapanmu di atas bumi ini. Aku hendak memelihara sawah itu dan seperti engkau Jika datang waktunya Tuhan memberi aku seorang anak, akan aku ajari ia untuk mencintainya, seperti juga engkau pernah mengajari aku!Ay26 Kesimpulan Berdasarkan kajian kedua teks yang berlatar revolusi tersebut menjelaskan kondisi sosial yang berbeda. Novel Jalan Tak Ada Ujung menjelaskan masa yang penuh revolusi fisik sedangkan situasi yang ditampilkan dalam Pulang lebih damai karena revolusi fisik sudah mulai Revolusi perubahan pada banyak hal. Semua orang merasakan dampak dari revolusi termasuk tokoh-tokoh dalam novel yang dikaji ini. Tokoh-tokoh dalam novel Jalan Tak Ada Ujung mengalami ketakutan karena kondisi sosial yang tidak jelas karena Kekerasan-kekerasan yang dilihatnya menyebabkan Guru Isa mengalami gangguan psikis sehingga ia Keterlibatannya perjuangan pun disebabkan karena ketakutan menghadapi banyak hal meskipun akhirnya ketakutannya hilang setelah ia mendapat siksaan-siksaan dari Belanda. Sedangkan novel Pulang menjelaskan perubahan besar setelah revolusi masyarakat yang menjadi latar dalam novel itu. Namun, aktivitas Tamin, selama revolusi menyebabkan ketakutan menghadapi orang-orang di desanya karena kebohongan yang dibuatnya. Daftar Pustaka