Early Child Research and Practice - ECRP, 2024: 4. , 81-84 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Studi Deskriptif Kuantitatif Tingkat Kemandirian Anak Usia Dini Kelompok B Di Paud Annisa Desa Padang Betuah Siti Maria Opa. Rika Partika Sari. Lydia Margaretha Affiliation: PAUD ANNISA Desa Padang Betuah Kec. Pondok Kelapa Kab. Bengkulu Tengah Corresponding Author: Sitimariaopa@gmail. Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemandirian anak Paud Annisa Desa Padang Betuah Kecamatan Pondok Kelapa. Adapun indicator kemandirian pada penelitian ini meliputi: Percaya diri, mengendalikan emosi, bertanggung jawab dan disiplin. Penelitian ini dilaksanakan di Paud Annisa Desa Padang Betuah Kecamatan Pondok Kelapa Kab. Bengkulu Tengah pada semester Genap tahun ajaran 2022/2023. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B yang berjumlah 10 orang anak yang terdiri dari 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Teknik pengumpulan data penelitian ini dengan melakukan observasi kemandirian anak selama berada disekolh. Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi berbentuk Checklist. Teknik analisis data pada penelitian data pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 6 Orang . %) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) sebanyak 4 Orang . %). Tidak ada anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) dan Mulai Berkembang (MB). Keyword: Studi. Deskriptif. Kemandirian. Anak Pendahuluan Pendidikan memberikan pengaruh besar bagi seseorang agar mampu bertahan hidup dengan membangun interaksi yang baik dengan sesama sehingga kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan mudah. Pendidikan dalam arti khusus adalah suatu proses untuk mendewasakan hakekatnya adalah untuk memanusiakan manusia artinya adalah dengan pendidikan diharapkan manusia mampu menemukan dirinya dari mana dia berasal, untuk apa ia ada, dan akan kemana tujuan hidupnya, sehinggaia lebih manusiawi baik dalam berfikir, bersikap dan berperilaku. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang semakin pesat memberikan konsekuensi bagi manusia untuk terus selalu meningkatkan kualitasnya. Salah satu cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui pendidikan. Pengertian pendidikan yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Bab I Pasal 1 ayat 1 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling fundamental sangat ditentukan oleh berbagai stimulasi bermakna yang diberikan sejak usia dini. Awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam memberikan dorongan atau upaya pengembangan agar anak dapat berkembang secara optimal. (Kemendikbud, 2. Pendidikan anak usia dini menjadi modal dan bekal dalam membaca dan mengembangkan potensi, kecerdasan, serta gaya belajar anak usia dini. Selain itu, dalam praktiknya, semua komponen dan perangkat yang bisa memaksimalkan potensi anak harus Anak usia dini merupakan usia emas yang oleh karenanya harus mendapatkan perhatian dan perlakuan yang istimewa. ( Fakhruddin, 2. Early Child Research and Practice - ECRP, 2024: 4. , 81-84 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Guru PAUD membentuk karakter anak usia dini seperti kemandirian. Pribadi yang mandiri adalah kemampuan hidup yang utama dan salah satu kebutuhan setiap manusia di awal usia nya. Anak meskipun usianya masih sangat muda namum diharuskan memiliki pribadi yang mandiri. Alasan mengapa hal ini diperlukan karena ketika anak terjun ke lingkungan diluar rumah sudah tidak tergantung kepada orang tua. Mengajarkan anak menjadi pribadi yang mandiri memerlukan proses, tidak memanjakan mereka secara berlebihan dan membiarkan mereka bertanggung jawab atas perbuatannya merupakan hal yang perlu dilakukan jika kita ingin anak menjadi mandiri (Yamin, 2. Pada faktanya semua usaha untuk membuat anak menjadi mandiri sangatlah penting agar anak dapat mencapai tahapan kedewasaan sesuai dengan usianya. Orang tua dan pendidik diharapkan dapat saling bekerja sama untuk membantu anak dalam mengembangkan kepribadian mereka. Berdasarkan uraian kemandirian tersebut anak kelompok B usia 5-6 tahun diharapkan memiliki kemandirian yang dalam artian dapat melakukan segala aktifitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa, dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang orang disekitarnya, dapat bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua, dapat mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain ( Suyadi, 2. Metode Penelitian Metode penelitian ini digunakan metode deskriptif kuantitatif, jenis instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi (Arikunto, 1997,2006, 2010: Calista, kurniah dan Ardina, 2019: Purnamasari, 2. Penelitian menggunakan observasi nonpartisipasi, artinya peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Observasi dilakukan selama lima hari disetiap sekolahnya oleh peneliti sendiri dan dibantu oleh dua observer lain yang sudah diberi pelatihan . tentang tata cara pengumpulan data atau pengamatan kemandirian anak sehingga observer bisa melakukan observasi sesuai SOP . tandar operational prosedu. yang telah dirancang oleh peneliti. Penelitian dilakukan di Paud Annisa Desa Padang Betuah Kec. Pondok Kelapa. Penelitian dilakukan pada Bulan Jauari 2023. Subjek penelitian ini adalah 10 orang anak yang merupakan murid Paud Annisa Kelas B. Hasil Penelitian Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 6 anak . %) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) sebanyak 4 anak . %). Tidak ada anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) dan Mulai Berkembang (MB). Pembahasan Tingkat Rasa Percaya Diri Menurut Novan Ardy Wiyani . 3: . , anak yang memiliki rasa percaya diri memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu atau menentukan sesuatu sesuai pilihannya. Berdasarkan hasil penelitian tingkat rasa percaya diri anak Paud Annisa kelompok B diketahui 4 anak . %) Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan sebanyak 2 anak . %) Berkembang Sangat Baik (BSB). Anak yang berada pada tingkatan BSH dan BSB sudah dapat dikatakan memiliki rasa percaya diri. Sub-indikator dari tingkat percaya diri pada penelitian ini adalah memimpin baris, berani maju ke muka kelas dan berani bertanya atau menjawab pertanyaan guru. Early Child Research and Practice - ECRP, 2024: 4. , 81-84 JalanMeranti Raya Nomor 32 SawahLebar. Kota Bengkulu e-ISSN 2723-5718 Dilihat dari masih hampir setaranya antara anak yang sudah percaya diri dan belum percaya diri, dimungkinkan karena pendidik kurang menyemangati anak yang masih pasif untuk berani memimpin baris, berani maju ke depan kelas dan berani bertanya atau menjawab pertanyaan. Pendidik lebih fokus pada anak-anak yang sudah berani sehingga menjadi kurang menyemangati anak-anak yang masih pasif. Tingkat Mengendalikan Emosi Tingkat Mengendalikan Emosi Martinis Yamin dan Jamilah Sabri Sanan . , ciri anak kemandirian adalah anak mampu mengedalikan atau mengontrol emosinya Berdasarkan hasil penelitian mengendalikan emosi anak Paud Annisa diketahui sebanyak 6 anak . %) Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan sebanyak 1 anak . %) Berkembang Sangat Baik (BSB). Anak yang berada pada tingkatan BSH dan BSB sudah dapat dikatakan mampu mengendalikan emosi. Semua anak telah dapat mengendalikan emosi dengan baik dikarenakan anak telah terbiasa dengan lingkungan dan pembiasaan selama di sekolah. Faktor lain juga karena pendidik mampu membuat suasana pembelajaran tidak membosankan seperti banyak melakukan pembelajaran di luar kelas serta penugasan-penugasan yang menarik bagi anak. Tingkat Disiplin Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat kedisiplinan anak diketahui sebanyak 7 anak . %) Berkembang Sangat Baik (BSB) dan terdapat 3 anak . %) yang memiliki tingkat kedisiplinan Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Anak yang berada pada tingkatan BSH dan BSB sudah dapat dikatakan memiliki kedisiplinan. Sub-indikator kedisiplinan meliputi: berhenti bermain saat bel berbunyi, menyelesaikan penugasan, dan duduk saat makan. Menurut tahapan pencapaian perkembangan yang ada dalam Standar Nasional PAUD Nomor 137 Tahun 2014, salah satu pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun adalah menaati aturan kelas dan mengatur diri sendiri. Hal tersebut menunjukan bahwa kedisiplinan anak sudah berkembang baik dan juga peran pendidik yang telaten memberikan stimulasi pada perkembangan anak. Tingkat Tanggung Jawab Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat tanggung jawab anak diketahui sebagian besar anak berada pada kriteria Berkembang sesuai Harapan (BSH) sebanyak 6 anak . %) dan Berkembang sangan Baik (BSB) sebanyak 3 anak . %). telah memiliki Anak yang berada pada tingkatan BSH dan BSB sudah dapat dikatakan memiliki tanggung jawab. Subindikator kedisiplinan meliputi: membereskan mainan setelah selesai bermain, merapikan alat pembelajaran, menghabiskan snak atau membawa pulang sisanya, mengembalikan piring ke tempatnya setelah selesi makan. Menurut tahapan pencapaian perkembangan yang ada dalam Standar Nasional PAUD Nomor 137 Tahun 2014, salah satu pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun adalah bertanggung jawab atas perilakunya untuk kebaikan diri sendiri. Hal tersebut menunjukan tanggung jawab anak telah berkembang baik. Faktor lain karena pembiasaan yang sudah baik yang diterapkan di Paud Annisa. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada pada kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 6 anak . %) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) sebanyak 4 anak . %). Tidak ada anak yang berada pada kriteria Belum Berkembang (BB) dan Mulai Berkembang (MB). Daftar Pustaka