Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA IMPLEMENTASI PEMBERIAN JUS MENTIMUN DALAM MENGATASI RESIKO PERFUSI SEREBRAL TIDAK EFEKTIF PADA HIPERTENSI Tri Rejeki1. Tri Suraning Wulandari2. Retno Lusmiati Anisah3 Akper Alkautsar Temanggung Email korespondensi: trirejeki540@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Hipertensisadalah tekananddarah sistolik diatas1140 mmHg dan tekananddarah diastolikk90 mmHg atau lebih, terjadi terus menerus. Faktor risiko utama terjadi gangguan perfusi serebral, yaitu berkurangnya suplai darah dan oksigen ke otak, menyebabkan tekanan darah meningkat. Gangguan perfusi serebral jika tidak diatasi menyebabkan komplikasi seperti stroke. Salah satu terapi nonfarmakologis berpotensi membantu menurunkan tekanan darah adalah pemberian jus mentimun. Mentimun memiliki sifat hipotensif atau sifat menurunkan tekanan darah tinggi. Timun mengandung air dan kalium yang akan mengambil natrium didalam pembuluh darah berfungsi membuka pembuluh darah yang berpotensi mengurangi tekanan darah tinggi. Tujuan: untuk mengevaluasi efektivitas pemberian jus mentimun dalam menurunkan risiko perfusi serebral tidak efektif pada pasien hipertensi. Metode: Metode pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Alat yang digunakan yaitu rancangan pertanyaan untuk mengumpulkan informasi responden, lembar pemeriksaan hipertensi, lembar evaluasi risiko perfusi serebral tidak efektif, lembar pemeriksaan kriteria inklusi, lembar penilaian perfusi serebral, dan lembar prosedur standar operasi. Hasil: Setelah intervensi, terjadi penurunan tekanan darah pada kedua responden (Ny. dari 173/96 mmHg menjadi 134/84 mmHg. Ny. M: dari 144/90 mmHg menjadi 129/91 mmH. Gejala klinis seperti sakit kepala, gelisah, dan kecemasan juga mengalami penurunan. Kesimpulan: Jus mentimun efektif sebagai terapi nonfarmakologis dalam menurunkan risiko perfusi serebral tidak efektif pada hipertensi. Kata kunci: Hipertensi. Jus Mentimun. Perfusi Serebral. Implementation of Cucumber Juice Therapy to Reduce the Risk of Ineffective Cerebral Perfusion in Patients with Hypertension. ABSTRACT Background: Hypertension is a persistent systolic blood pressure above 140 mmHg and a diastolic blood pressure of 90 mmHg or higher. Hypertension is a major risk factor for impaired cerebral perfusion, which reduces blood and oxygen supply to the brain, causing high blood pressure. If left untreated, impaired cerebral perfusion can have serious consequences, leading to complications such as stroke. One non-pharmacological therapy that has the potential to help lower blood pressure is cucumber juice. Cucumbers have hypotensive properties, meaning they can lower high blood pressure. They contain water and potassium, which absorb sodium from the blood vessels and open them, potentially reducing high blood Objective: This study aims to evaluate the effectiveness of cucumber juice administration in reducing the risk of ineffective cerebral perfusion in hypertensive Method: The method used was a qualitative approach with a case study The tools used consisted of questions designed to gather information from respondents, namely a hypertension screening sheet, an ineffective cerebral perfusion risk evaluation sheet, an inclusion criteria screening sheet, a cerebral perfusion assessment sheet, and a standard operating procedure sheet. Results: After the intervention, there was a decrease in blood pressure in both respondents (Mrs. N: from 173/96 mmHg to 134/84 mmHg. Mrs. M: from 144/90 mmHg to 129/91 mmH. Clinical symptoms such as headache, restlessness, and anxiety also Conclusion: Cucumber juice is effective as a non-pharmacological therapy in reducing the risk of ineffective cerebral perfusion in hypertension. Keywords: Hypertension. Cucumber Juice. Cerebral Perfusion. PENDAHULUAN Hipertensisadalah penyakit tidak menyebabkan kematian di dunia. (Putri et al. , 2. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Diperkirakan 22% penduduk dunia menderita hipertensi, dan menduduki posisi tertinggi ketiga di Asia Tenggara. Prevalensi hipertensi dari kementrian kesehatan RI, tahun 2019 terus meningkat, diperoleh lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan, wilayah perkotaan penderita hipertensi sebesar 34,3% sedangkan wilayah perdesaan sebesar 33,7% (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS,2. Prevalensi bertambahnya usia, mulai dari 13,2% pada usia 18Ae24 tahun hingga 69,5% pada usia di atas 75 tahun. Di Jawa Tengah, angka hipertensi tahun 2017 tercatat sebesar 34,11%, meningkat dari 57,87% . menjadi 64,83% . Di Kabupaten Temanggung, jumlah penderita hipertensi naik signifikan dari 43. menjadi 289 kasus pada 2022 (Dinkes Temanggung, 2. Di Dusun Gunungsari. Wonoboyo, dari 467 penduduk, sebanyak 98 orang menderita hipertensi, terdiri dari 39 lansia dan 59 dewasa (Wawancara. Hipertensi merupakan kondisi peningkatan tekanan darah yang fisiologis kompleks, termasuk sistem renin-angiotensin. Proses ini dimulai dengan hati yang menghasilkan angiotensinogen, yang selanjutnya diubah menjadi angiotensin I melalui Selanjutnya, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II dengan bantuan enzim ACE yang berada di paruparu. Angiotensini sebagai zat kuat yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan merupakan faktor utama yang meningkatkan tekanan darah dengan Selain melalui mekanisme hormon, pengaturan tekanan darah juga dipengaruhi oleh sistem saraf autonom, yang terdiri dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis, yang berfungsi mengatur detak jantung dan ketahanan pembuluh darah. Volume sedangkan tahanan perifer sangat tergantung pada ukuran arteriol. Vasokonstriksi arteriol meningkatkan tahanan dan memaksa jantung bekerja lebih keras, yang dalam jangka panjang menyebabkan penebalan dan kekakuan dinding pembuluh darah (Arif Munandar, 2. Regulasi tekanan darah jangka pendek juga melibatkan baroreseptor yang terletak di arkus aorta dan sinus Saat meningkat, baroreseptor teraktivasi dan merangsang penurunan aktivitas Sistem saraf simpatik mempengaruhi penurunan laju detak jantung dan sehingga tekanan darah kembali ke angka normal. Sebaliknya, saat tekanan darah menurun, baroreseptor kompensasi untuk meningkatkan tekanan darah kembali ke ambang fisiologis (Arif Munandar, 2. Kasus hipertensi kronis, terjadi perubahan signifikan pada struktur dan fungsi pembuluh darah perifer. Otot polos pada dinding pembuluh darah kehilangan kemampuan untuk berelaksasi, sehingga mengurangi elastisitas dan kemampuan distensi pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah menjadi terganggu karena arteri besar dan aorta tidak mampu menampung volume darah secara Kekakuan arteri menyebabkan aliran darah ke jaringan, termasuk otak, menjadi tidak stabil. Bahkan, pada kondisi autoregulasi dapat menyebabkan penurunan tekanan arteri sistemik secara mendadak, sehingga tubuh harus mengompensasi dengan dilatasi arteriol untuk menjaga perfusi (Panggabean, 2. Hipertensi disebabkan oleh dua jenis faktor. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi sejarah keluarga, umur, dan jenis kelamin. Sementara itu, faktor yang dapat diubah terdiri dari pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, minuman beralkohol, merokok, stres, kadar kolesterol, dan diabetes. (Ekasari et al. , 2. Penderita hipertensi umumnya mengalami gejala seperti sakit kepala, mudah marah, telinga berdengung, gangguan tidur, sesak napas, pegal pada tengkuk, kelelahan, penglihatan kabur, dan mimisan. Namun, tidak jarang hipertensi berlangsung tanpa gejala selama bertahun-tahun. Jika gejala muncul, hal tersebut seringkali menandakan telah terjadi kerusakan pada pembuluh darah dan organ target, seperti ginjal atau otak. Pada ginjal, tanda kerusakan dapat berupa nocturia . ering buang air kecil di . eningkatan kadar limbah dalam Sedangkan pada otak, serangan iskemik transien seperti hemiplegia . elumpuhan sebelah tubu. (Sudarmin et al. , 2. Ada dua pendekatan untuk mengatasi hipertensi, yaitu melalui metode obat- obatan dan non-obat. Dalam contohnya adalah menggunakan obat untuk menurunkan tekanan darah. Sementara itu, penanganan non-obat bisa dilakukan dengan bahan-bahan alami, salah satunya adalah dengan meminum jus mentimun. Mentimun adalah sayuran yang biasa digunakan sebagai pelengkap dalam makanan, mudah ditemukan dengan harga terjangkau dan memiliki rasa yang Mentimun dapat berperan (Ratnadewi et al. , 2. Mentimun memiliki karakteristik sebagai penurun tekanan darah tinggi. Sayuran ini mengandung banyak air dan kalium yang dapat mengeluarkan natrium dari dalam pembuluh darah serta berperan dalam melebarkan pembuluh darah, yang dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Setiap 100 gram timun terdapat kandungan kalium sebesar 147 mg. Kalium adalah elektrolit utama yang ada didalam sel, dan terdapat 98% kalium di dalam sel dan 2% untuk neuromuskular. Kalium dapat mempengaruhi kinerja otot skeletal ataupun otot jantung (Maharani & Maliya, 2. Semakin berkurangnya kalium di dalam tubuh, semakin tinggi tekanan darah pada Kalium tekanan darah dengan mengambil natrium sebesar 100 mmol/hari, mengkonsumsi kalium sebesar 70 mmol/hari dapat mengurangi tekanan darah sistolik sebesar 3,4 MmHg. Resistensi pembuluh darah perifer dipengaruhi oleh penyerapan kalium, melebarnya pembuluh darah arteri dan menambah pengeluaran air dan natrium dalam tubuh. Penelitian yang mendukung bahwa jus mentimun dapat mengatasi resiko perfusi serebral tidak efektif pada penderita hipertensi. Penelitian pertama (Rasyid et al. , 2. berjudul "Pengaruh Jus Timun Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Waoleona Kecamatan Lasalimu Tahun 2023" menemukan bahwa kelompok yang menerima mengalami peningkatan tekanan darah setelah diberikan jus mentimun di pagi hari dalam 3 hari mengalami penurunan tekanan darah setelah Penelitian yang Kedua dari (Ratnadewi et al. , 2. berjudul AuEfektifitas Konsumsi Jus Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Wanita Usia ProduktifAy hasil penelitian menunjukan pada pasien tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan sesudah pemberian jus mentimun setiap pagi, setidaknya setelah sarapan diberi waktu 30 menit sebelum pemberian selama 14 hari. Penelitian ketiga dari (Putri et al. berjudul AyEfektifitas Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Pasien HipertensiAy mendapatkan hasil dengan mengkonsumsi jus mentimun 2 kali dalam sehari . i pagi hari pada 00 dan sore pada jam 16. terdapat perbandingan tekanan darah sistolik dan diastolik menurun sesudah konsumsi selama 7 hari. Pemberian jus mentimun untukmengatasi hipertensi dengan resiko perfusi serebral tidak efektif. Sesudah pemberian jus mentimun menunjukan (Arifuddin. Tujuan mengonsumsi jus mentimun adalah untuk mengatasi tekanan darah sistolik dan diastolik, nyeri kepala. Jus mentimun memiliki kemampuan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Kandungan air dan kalium dalam mentimun membantu menarik natrium ke dalam sel dan berperan dalam pelebaran pembuluh darah, sehingga dapat mengurangi tekanan darah tinggi (Maharani dan Maliya, 2. Berdasarkan uraian sebelumnya, peneliti tertarik mengambil kasus ini karena penderita hipertesi terus meningkat dan kurangnya masyarakat dalam penangan yang mudah. Mentimun mudah ditemukan dan memiliki banyak manfaat di daerah Temanggung, manfaat dari timun Temanggung yang memanfaatkan secara maksimal. METODE PENELITIAN Penelitian metode kualitatif dengan pendekatan mendapatkan wawasan yang lebih dalam mengenai suatu kejadian atau proses yang melibatkan orang-orang. Berbagai metode digunakan untuk komprehensif, sehingga analisis sistematis dapat mengungkap faktorfaktor penyebab, dampak, dan pengaruh suatu kejadian (Pakpahan et , 2. Dalam penelitian ini, peneliti menguraikan tentang pendekatan studi kasus dengan fokus mengatasi perfusi serebral tidak efektif dalam hipertensi dengan pemberian jus HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Data umum Tabel 1. karakteristik subjek studi Tabel 2. Identifikasi Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif Kriteria Ny. Ny. Tingkat kesadaran . engalami Sakit kepala Tidak Tidak Gelisah Cemas Tekanan Tekanan Tabel 2 menunjukkan bahwa pengkajian risiko perfusi serebral tidak efektif dari kedua responden menunjukan faktor risiko atau kondisi klinis terkait hipertensi. Tabel 3. Pengkajian hipertensi Kriteria Ny. Ny. Pernyataan Ny. Ny. Penderita berjenis laki-laki Penderita berusia 45-74 tahun Tekanan >140/90 MmHg Penderita mempunyai tanda gejala resiko perfusi Bersedia menjadi studi kasus ini 173/96 144/90 Apakah darah diatas 140/90 MmHg Apakah mengalami nyeri bagian kepala sampai tengkuk? Apakah merasa cemas? Apakah merasa lelah? Apakah Apakah penglihatan pasien kabur Apakah pasien suit Tidak Tidak Tabel 1 menunjukkan bahwa kedua responden 100% bisa dijadikan sebagai subjek studi kasus. Tabel 3 menunjukkan bahwa kedua responden 85% dinyatakan hipertensi berdasarkan pernyataan saat pengkajian Data khusus Tabel 4. Pengukuran tekanan darah hari ke-1 dan hari ke-7 Subjek Tekanan darah hari ke1 Ny. 173/96 134/84 Ny. 144/90 129/91 Tabel 4 menunjukkan bahwa setelah dilakukan pemberian jus mengalami penurunan tekanan darah sistole dan diastole. Tabel 5. Pencapaian Data Hasil Ny. Ny. Hari Hari Nyeri kepala Gelisah Cemas Keterangan :1=meningkat 2=cukup meningkat 3=sedang 4=cukup menurun 5=menurun Tekanan darah Tekanan darah Keterangan :1=memburuk 2=cukup memburuk 3=sedang 4=cukup membaik 5=membaik Pada tabel 5 menunjukkan bahwa penurunan nyeri kepala, gelisah, cemas , serta mengalami penurunan tekanan darah setelah diberikan tindakan pemberian jus mentimun. PEMBAHASAN Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui perkembangan dari masalah keperawatan resiko perfusi serebral tidak efektif merujuk luaran perfusi serebral yaitu keadekuatan menunjang fungsi otak (PPNI, 2. Adapun kriteria hasil evaluasi sebagai berikut : keluhan nyeri kepala, gelisah, cemas . , tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik . Pemberian jus timun adalah tindakan pemberian timun dengan cara di blender sebanyak 100 gram mentimun dan dicampur 100 ml air matang dan di minum sebanyak 2 kali perhari pagi dan sore selama 7 hari berturut-turut. Mentimun memiliki menurunkan tekanan darah. Hal ini disebabkan karena kandungan air dan kalium yang ada di dalamnya, yang berfungsi menurunkan tekanan darah dengan memasukkan kalium ke dalam sel dan membuka pembuluh darah, sering dikenal sebagai Dalam setiap 100 gram mentimun, terdapat 147 mg kalium. Kalium adalah elektrolit utama di dalam sel, dengan sekitar 98% dari total kalium tubuh berada di dalam sel, sementara 2% sisanya berperan dalam fungsi neuromuskuler. Kalium memengaruhi kinerja otot rangka dan otot jantung. (Rasyid et al. , 2. Mentimun merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak mengandung Zat kalium yang terdapat dalam mentimun berperan penting untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Penelitian yang mengungkapkan bahwa individu yang rendah asupan kalium memiliki kemungkinan terkena hipertensi 089 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan cukup kalium. Selain kalium, mentimun juga memiliki sejumlah nutrisi lainnya, seperti kalori, lemak, karbohidrat, kalsium, zat mineral, besi, serta vitaminnya. Selain itu, timun bisa membantu menurunkan tekanan darah dan mengatur denyut jantung dengan (Maharani & Maliya, 2. Mentimun adalah sayuran yang terjangkau, dan rasanya lezat. Sayuran ini sering digunakan sebagai pelengkap hidangan dan bisa menjadi mengatasi hipertensi. Kandungan yang dimiliki mentimun adalah Kalium karena pembuluh darah dapat diaktifkan, yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Selain itu magnesium karena dapat menjaga Mengkonsumsi kalium dalam jumlah cukup dapat melindungi dari hipertensi (Rasyid et al. , 2. Pada akhir dari intervensi pemberian jus mentimun ditemukan tekanan darah kedua responden cukup membaik, nyeri kepala menurun, gelisah menurun, cemas menurun, tekanan darah sistolik cukup membaik, tekanan darah diastolik cukup membaik. sehingga dapat disimpulkan bahwa masalah perfusi serebral pada kedua responden dari sedang menjadi menurun, maka pada perbaikan secara perlahan. Perfusi serebral pada kedua responden mengalami penurunan tekanan darah dari 173/96 MmHg menjadi 134/84 MmHg dan responden kedua dari 144/90 menajdi 129/91. Artinya dapat disimpulkan hasil bahwa pemberian jus mentimun dapat menurunkan tekanan darah. Pada penderita hipertensi, akan mengalami kerusakan pada pembuluh menyebabkan penyumbatan, yang mengganggu aliran darah dan mengurangi suplai oksigen ke otak yang berakibat resiko perfusi serebral tidak efektif (Sari, 2. Terbukti Pada kedua responden penurunan tekanan darah. Hasil dari studi yang menggunakan jus mentimun untuk menangani masalah hipertensi yang berhubungan dengan menunjukkan hasil yang berarti, dilaksanakan selama 5 hari, tekanan darah mengalami penurunan yang Sesuai dengan jurnal pendukung menurut (Rasyid et al. , bahwa dengan melakukan pemberian jus mentimun dapat membantu mengurangi tekanan Penelitian yang mendukung kedua yaitu Efektifitas Konsumsi Jus Mentimun Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Wanita Usia Produktif (Ratnadewi et al. , 2. yaitu, tindakan pemberian jus mentimun yang di lakukan selama 14 hari dengan pemberian pada pagi hari, terbukti terjadi penurunan tekanan darah kelompok eksperimen dan . <0,. Berdasarkan penelitian dari (Putri et , 2. tindakan pemberian jus mentimun yang di lakukan selama 7 hari dengan pemberian 2x sehari pagi dan sore dapat penurunan tekanan darah p value tekanan darah sistolik sebesar 0,003 dan p value tekanan darah diastolik sebesar 0,009. KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penulis dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Hipertensi adalah keadaan di mana seseorang mengalami kenaikan Dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmhg dan diastolik lebih dari 90 mmhg dengan tanda gejalanya yaitu sakit kepala sampai tengkuk, cemas, gelisah, padangan kabur, mudah lelah, telinga sering berdengung dan sulit tidur . Risiko perfusi otak yang tidak memadai berpotensi menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan otak, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan dan berpotensi memicu terjadinya Tindakan pemberian jus mentimun selama 7 hari 2x pemberian pagi dan sore, dengan 100 gram mentimun, 100 ml air dan Tindakan mentimun ini bisa mengurangi terjadinya resiko perfusi serebral tidak efektif dengan menurunkan tekanan darah pada individu yang mengalami hipertensi, terbukti seperti sakit kepala, rasa gelisah, dan kecemasan, serta adanya peningkatan yang signifikan pada tekanan darah sistolik dan Dapat menurunkan tekanan darah, nyeri kepala, gelisah, kecemasan karena dalam mentimun memiliki sifat kandungan kalium dan air yang tekanan darah, karena kalimun mampu memperlebar pembuluh . Kalium berpotensi mengurangi tekanan darah tinggi sehingga menjaga kesehatan pembuluh darah dan Rasyid. Ali. , & Dawu. Pengaruh Jus Timun Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Waoleona Kecamatan Lasalimu. Jurnal Penelitian Sains Dan Kesehatan Avicenna, 3. , 12Ae Ratnadewi. Aulya. , & Widowati. Efektivitas Konsumsi Jus Mentimun terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Wanita Hipertensi Usia Produktif. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi, 12. , https://doi. org/10. 36565/jab. SARI. , & SARI. Pengaruh Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif Terhadap Pemberian Relaksasi Otot Progresif Pada Pasien Hipertensi Di Rshd Kota Bengkulu. Journal of Nursing and Public Health, 10. , 31Ae39. https://doi. org/10. 37676/jnph. DAFTAR PUSTAKA