Volume 5 No. Tahun 2025 Halaman 106 Ae 116 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Peran Bumdes Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Sekapuk Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik Dewi Wulan Maulidyah . Wiwik Sri Utami . Muhammad Ilyas Marzuqi . Dian Ayu Larasati . Program Studi S1 Pendidikan IPS. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Pemberdayaan masyarakat desa merupakan aspek krusial dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan Dalam upaya tersebut. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. memainkan peran strategis sebagai wadah pengelolaan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujan untuk mengkaji peran BUMDes Gema Mandiri di Desa Sekapuk. Kabupaten Gresik. Jawa Timur, sebagai contoh praktik pemberdayaan yang berhasil di tingkat desa. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola BUMDes, aparat desa, dan masyarakat, serta observasi langsung dan studi dokumentasi terhadap aktivitas dan laporan keuangan BUMDes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BUMDes Gema Mandiri berkontribusi signifikan dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menumbuhkan kemandirian ekonomi desa. Pengelolaan unit-unit usaha yang efektif, partisipasi aktif masyarakat, dan dukungan pemerintah desa menjadi faktor kunci dalam keberhasilan tersebut. Data perkembangan finansial BUMDes dari tahun 2020 hingga 2023 menunjukkan tren pertumbuhan positif, dengan peningkatan pendapatan dari Rp800 juta hingga mencapai Rp3,7 miliar. Peningkatan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan secara ekonomi, tetapi juga menunjukkan bahwa BUMDes mampu menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi peran BUMDes dapat menjadi model dalam mendorong pembangunan desa yang mandiri dan berbasis potensi lokal. Kata Kunci: BUMDes. Pemberdayaan Masyarakat. Ekonomi Desa. Wisata Setigi Abstract Community empowerment in rural areas is a crucial pillar in achieving sustainable and inclusive development. In this context. VillageOwned Enterprises (BUMDe. serve as strategic instruments for managing local resources and potentials to improve community welfare. This study explores the role of BUMDes Gema Mandiri in Sekapuk Village. Gresik Regency. East Java, as a successful example of community empowerment at the village level. Employing a qualitative approach with a case study method, data were collected through indepth interviews with BUMDes managers, village officials, and local residents, along with direct observation and documentation of BUMDes activities and financial reports. The findings reveal that BUMDes Gema Mandiri has made a significant contribution to job creation, increased household income, and the promotion of economic self-reliance among the villagers. Effective management of business units, active community involvement, and strong support from the village government are key factors driving this success. Financial data from 2020 to 2023 indicate a consistent growth trend, with revenue increasing from IDR 800 million to IDR 3. 7 billion. This financial progress not only reflects economic success but also underscores the strategic role of BUMDes in fostering sustainable community empowerment. These findings highlight the potential of BUMDes as a model for driving inclusive rural development and optimizing local resources for the benefit of the Keywords: BUMDes, community empowerment, rural economy. Setigi tourism. This is an open access article under the CCAeBY-SA Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 How to Cite: Maulidyah. Utami. Marzuqi. I, & larasati. Peran Bumdes Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Sekapuk Kecamatan UjungmPangkah Kabupaten Gresik. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 5 . : halaman 106 - 116 PENDAHULUAN Pembangunan desa yang berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari peran strategis Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. sebagai penggerak utama ekonomi lokal. BUMDes dibentuk oleh pemerintah desa dengan tujuan mengelola potensi dan aset desa secara mandiri guna meningkatkan kesejahteraan Sebagai lembaga ekonomi berbasis komunitas. BUMDes diharapkan mampu menciptakan usaha baru yang bersumber dari kekayaan lokal serta mengoptimalkan aktivitas ekonomi yang telah ada. Namun, implementasi BUMDes tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Berbagai kendala seperti rendahnya kapasitas manajerial, minimnya partisipasi masyarakat, serta kurangnya kemitraan dengan pihak ketiga menjadi tantangan yang signifikan dalam optimalisasi fungsi BUMDes. Desa Sekapuk, yang terletak di Kecamatan Ujungpangkah. Kabupaten Gresik, merupakan contoh konkret bagaimana BUMDes dapat menjadi instrumen transformasi sosial-ekonomi desa. Sebelumnya dikategorikan sebagai desa tertinggal. Sekapuk berhasil bangkit melalui pemanfaatan potensi lokal, salah satunya dengan mengubah bekas tambang kapur menjadi destinasi wisata Setigi (Selo Tirto Gir. Upaya ini dipelopori oleh pemerintah desa bersama masyarakat melalui BUMDes, yang kemudian mengelola berbagai unit usaha secara profesional dan berkelanjutan. Transformasi Desa Sekapuk menjadi desa mandiri menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui BUMDes dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan taraf hidup dan pendapatan warga. Keberhasilan ini tidak hanya tercermin dari meningkatnya Pendapatan Asli Desa (PAD), tetapi juga melalui pencapaian berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional. Dukungan masyarakat, kepemimpinan desa yang visioner, serta manajemen yang akuntabel menjadi faktor kunci dalam keberhasilan tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BUMDes dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Sekapuk. Fokus utama terletak pada bagaimana BUMDes mengelola potensi lokal, mengatasi tantangan manajerial, serta meningkatkan partisipasi dan kesejahteraan masyarakat secara kolektif dan berkelanjutan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. adalah lembaga ekonomi yang dibentuk oleh pemerintah desa untuk mengelola aset dan potensi desa secara mandiri. Tujuannya adalah meningkatkan perekonomian desa dan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya lokal yang BUMDes berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian desa, dengan harapan dapat membentuk usaha baru yang berakar dari sumber daya yang ada serta mengoptimalkan kegiatan ekonomi masyarakat desa yang telah ada. Keberadaan BUMDes memiliki kontribusi signifikan dalam peningkatan pendapatan desa dan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Dengan mengelola aset dan sumber daya ekonomi desa. BUMDes berperan dalam pemberdayaan masyarakat desa. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan BUMDes sering menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten dan kurangnya kerja sama dengan pihak ketiga. Kendalakendala ini dapat menghambat optimalisasi peran BUMDes dalam meningkatkan perekonomian Oleh karena itu, penting bagi BUMDes untuk meningkatkan kapasitas manajerial dan membangun kemitraan strategis guna mengoptimalkan perannya dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan aset desa. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 Implementasi dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. di berbagai desa di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang signifikan. Salah satunya adalah kurangnya kapasitas manajerial di kalangan pengelola BUMDes. Hal ini mencakup keterbatasan dalam perencanaan strategis, pengambilan keputusan, serta pengelolaan operasional dan keuangan yang efektif. Keterbatasan ini dapat menghambat perkembangan usaha dan mengurangi daya saing BUMDes dalam pasar yang lebih luas. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan BUMDes sering kali masih rendah. Minimnya keterlibatan masyarakat dapat disebabkan oleh kurangnya sosialisasi mengenai peran dan manfaat BUMDes, serta rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan usaha desa. Padahal, partisipasi aktif dari masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa program dan usaha yang dijalankan oleh BUMDes sesuai dengan kebutuhan dan potensi Masyarakat di Desa Sekapuk sangat berperan dalam pembangunan desa wisata, selain itu Bapak Abdul Halim selaku kepala desa yang sekaligus pencetus pertama wisata alam setigi memberikan bimbingan dan dorongan untuk pengembangan desa wisata. Tujuan dari di bentuknya usaha desa wisata Setigi untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat dan memperbaiki pertumbuhan ekonomi desa setempat. Mayoritas mata pencaharian masyarakat desa sekapuk adalah petani dan nelayan. Dengan adanya program pemberdayaan masyarakat BUMdes dan tempat Wisata Alam Setigi apakah masyarakat dapat memperbaiki perekonomian dan apakah masyarakat sudah Maka dari itu sesuai dengan latar belakang yang sudah dijabarkan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Au Peran BUMdes dalam Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sekapuk Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik Ay. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mendalami peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Sekapuk. Kecamatan Ujungpangkah. Kabupaten Gresik. Pendekatan ini dipilih karena dapat menggambarkan realitas sosial secara mendalam dan alami melalui data naratif yang bermakna. Lokasi penelitian ditetapkan di Desa Sekapuk yang dinilai berhasil mentransformasi perekonomian desa melalui pengelolaan potensi lokal oleh BUMDes. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pengelola BUMDes, perangkat desa, dan masyarakat, dilengkapi observasi dan dokumentasi. Validitas data dijaga dengan triangulasi antar teknik dan konfirmasi kepada narasumber. Analisis dilakukan mengikuti tahapan Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi secara berkelanjutan untuk memastikan akurasi interpretasi hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Profil BUMDes Desa Sekapuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. di Desa Sekapuk didirikan pada tahun 2015 dengan tujuan utama untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pengelolaan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa. Sebagai sebuah lembaga ekonomi yang berbadan hukum dan dimiliki sepenuhnya oleh desa. BUMDes memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan manusia yang ada di desa untuk kepentingan bersama. BUMDes Sekapuk, sebagai salah satu lembaga ekonomi desa, berperan dalam mengelola berbagai potensi lokal yang dimiliki oleh desa. Desa Sekapuk memiliki potensi alam yang melimpah, seperti bukit kapur dan potensi pariwisata yang belum dimanfaatkan secara optimal sebelumnya. Dengan hadirnya BUMDes, masyarakat diberdayakan untuk mengelola dan mengoptimalkan potensi-potensi yang dimiliki melalui program wisata Setigi, yang fokus pada pengelolaan kawasan wisata berbasis komunitas. Menurut Soekanto . , pemberdayaan masyarakat dalam konteks ekonomi fokus pada pengelolaan sumber daya lokal dengan tujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Desa Sekapuk. BUMDes berfungsi sebagai penghubung antara potensi alam dan pengembangan ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Struktur Organisasi BUMDes Desa Sekapuk Struktur organisasi yang terstruktur dan terorganisir dengan baik memberikan banyak keuntungan dalam kelangsungan dan keberhasilan pengelolaan BUMDes Desa Sekapuk. Keuntungankeuntungan tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti efisiensi pengelolaan, transparansi dan akuntabilitas, serta pemberdayaan masyarakat. Salah satu keuntungan utama dari struktur organisasi BUMDes Desa Sekapuk adalah terciptanya efisiensi dalam pengelolaan. Dalam sebuah organisasi yang memiliki struktur jelas, masing-masing bagian atau posisi memiliki tugas dan tanggung jawab yang spesifik, sehingga segala kegiatan dapat dijalankan dengan lebih fokus dan terorganisir. BUMDes dibentuk sebagai lembaga ekonomi desa yang bertujuan untuk mengelola potensi lokal secara kolektif demi kesejahteraan masyarakat. Dalam praktiknya, peran BUMDes tidak terbatas pada aktivitas ekonomi semata, tetapi juga menyentuh aspek sosial, budaya, bahkan lingkungan. Studi kasus BUMDes Desa Sekapuk. Kecamatan Ujungpangkah. Kabupaten Gresik, memberikan gambaran nyata bagaimana lembaga ini mampu memainkan peran penting dalam transformasi desa menjadi lebih mandiri, inovatif, dan sejahtera. Pemberdayaan Ekonomi Desa Salah satu peran utama BUMDes adalah memberdayakan ekonomi masyarakat desa. Pemberdayaan ekonomi mencakup upaya peningkatan kapasitas warga desa dalam mengakses peluang usaha, lapangan kerja, dan distribusi sumber daya ekonomi secara adil. Di Desa Sekapuk. BUMDes memainkan peran ini melalui pembentukan berbagai unit usaha, salah satunya adalah pengelolaan destinasi wisata edukatif Setigi (Selo. Tirta. Gir. Objek wisata ini membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, pedagang, petugas kebersihan, dan pelaku UMKM. Dengan demikian. BUMDes berkontribusi langsung dalam meningkatkan pendapatan dan produktivitas warga desa. Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan masyarakat merupakan indikator utama keberhasilan pembangunan desa. Peran BUMDes dalam meningkatkan kesejahteraan terlihat dari kemampuannya menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan sosial dan pembangunan. Desa Sekapuk, sebagian keuntungan dari usaha BUMDes dialokasikan untuk mendukung program sosial seperti bantuan sembako, renovasi rumah warga kurang mampu, hingga pembangunan fasilitas pendidikan dan ibadah. Selain itu, keterlibatan masyarakat secara langsung dalam kegiatan BUMDes meningkatkan rasa memiliki dan partisipasi aktif dalam Pengembangan Infrastruktur dan Fasilitas Umum Pembangunan infrastruktur yang memadai sangat penting dalam mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. BUMDes dapat turut serta dalam pengembangan infrastruktur desa melalui dana hasil usaha. Di Desa Sekapuk. BUMDes membantu pembangunan jalan akses menuju wisata Setigi, menyediakan fasilitas toilet umum, lahan parkir, dan area publik lainnya. Infrastruktur ini tidak hanya menunjang sektor pariwisata, tetapi juga meningkatkan mobilitas dan kenyamanan warga sehari-hari. Pengembangan Potensi Lokal Setiap desa memiliki kekayaan sumber daya yang khas dan unik. Peran BUMDes adalah mengidentifikasi, mengelola, dan mengembangkan potensi tersebut menjadi produk atau layanan bernilai ekonomi. Desa Sekapuk berhasil mengubah bekas area tambang batu kapur yang semula tidak produktif menjadi kawasan wisata yang edukatif dan estetis. Transformasi ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menunjukkan bagaimana kearifan lokal dan potensi alam dapat diolah secara kreatif untuk kemajuan desa. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 Mengurangi Ketergantungan Ekonomi Desa pada Pihak Luar Ketergantungan ekonomi terhadap pihak eksternal seperti pemerintah pusat atau investor swasta dapat melemahkan kemandirian desa. BUMDes hadir untuk mendorong kemandirian finansial dan pengelolaan sumber daya lokal secara berkelanjutan. Di Sekapuk, keberhasilan BUMDes dalam menghasilkan pendapatan mandiri telah mengurangi ketergantungan terhadap dana desa maupun bantuan dari luar. Desa ini bahkan dikenal sebagai salah satu desa yang mampu membiayai sendiri berbagai program pembangunan tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah kabupaten. Mendorong Kreativitas dan Inovasi BUMDes dapat menjadi ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan inovasi masyarakat desa. Inovasi dibutuhkan untuk menciptakan produk unggulan desa, memperluas jaringan pasar, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha. Di Sekapuk. BUMDes menginisiasi penggunaan teknologi informasi untuk promosi wisata melalui media sosial, meningkatkan branding desa, serta menciptakan pengalaman wisata berbasis edukasi dan konservasi Inovasi ini menjadikan BUMDes sebagai motor penggerak perubahan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. Desa Sekapuk merupakan salah satu contoh BUMDes yang berhasil dalam mengelola berbagai unit usaha untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan pendapatan asli desa. BUMDes ini dikelola secara profesional dengan memperhatikan potensi lokal, kebutuhan masyarakat, serta prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Berikut adalah beberapa bidang usaha utama yang dikelola oleh BUMDes Desa Sekapuk: Unit Multijasa Unit usaha Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Multijasa memberikan berbagai layanan keuangan kepada masyarakat, yang mencakup pembayaran pajak kendaraan bermotor, cicilan kredit, tagihan listrik . aik prabayar maupun pascabaya. , tagihan air dari Perusahaan Air Minum (PAM), serta layanan telekomunikasi seperti tagihan IndiHome. Unit PAM Pengelolaan Air Untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, pada tahun 2004 didirikan sebuah unit usaha dengan nama Himpunan Pengelola Air Minum Masyarakat (HIPAM) Tirta Agung. Pada tahap awal operasional. HIPAM Tirta Agung melayani sekitar 150 sambungan rumah tangga, dengan dukungan lima orang tenaga kerja dan menghasilkan pendapatan tahunan sebesar Rp 72 juta. Unit Tambang Desa Sekapuk dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi sumber daya alam berupa gunung kapur yang sebelumnya dikelola oleh PT Polowijo Gosari. Namun seiring dengan perkembangan BUMDes, pemerintah desa mengusulkan agar sebagian kawasan gunung kapur tersebut dikelola oleh BUMDes melalui sistem bagi hasil. Unit Kebersihan Unit kebersihan desa, bekerja sama dengan masyarakat, melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Unit Wisata Pada tahun 2017, masyarakat Desa Sekapuk menyediakan dana awal untuk mendirikan unit usaha ini dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal. Nama destinasi wisata ini. Setigi, berasal dari tiga unsur utama, yaitu Selo . Tirta . , dan Giri . Wisata Setigi dibangun di atas bekas area penambangan batu kapur dan saat ini berada di bawah pengelolaan BUMDes. Unit Sarana dan Prasarana Unit usaha ini merupakan bagian terbaru dari BUMDes, yang resmi diluncurkan pada Maret Pembentukannya bertujuan untuk melestarikan aset desa melalui pembangunan lapangan olahraga yang memenuhi standar nasional. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 Dari semua unit BUMdes yang ada, unit wisata menjadi yang paling berpengaruh dalam pendapatan BUMdes. Wisata Setigi telah berkembang menjadi unit usaha unggulan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan BUMDes Desa Sekapuk, sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya. Setigi menarik ribuan pengunjung setiap bulan, menjadikannya sumber pendapatan terbesar bagi BUMDes melalui penjualan tiket masuk, sewa fasilitas, serta berbagai aktivitas wisata lainnya. Wisata Setigi Kawasan Wisata Setigi pada awalnya merupakan bekas lokasi penambangan batu kapur yang, dalam rentang waktu antara tahun 2003 hingga 2017, beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. Transformasi kawasan ini dimulai seiring dengan pergantian kepemimpinan di tingkat desa. Kepala desa yang baru mengusung visi dan misi pembangunan yang progresif, salah satunya dengan merancang dan merealisasikan pengembangan kawasan eks tambang kapur tersebut menjadi objek wisata yang bermanfaat bagi masyarakat dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Pada awal tahun 2018, dilakukan pembersihan wilayah dengan melibatkan swadaya masyarakat dan pemerintah desa (PEMDES). Proses ini berlangsung selama satu tahun, hingga area tersebut siap untuk dikembangkan lebih lanjut. Pembangunan infrastruktur wisata dimulai pada tahun 2019 dan pada tahun 2020. Wisata Setigi resmi dibuka untuk umum oleh Kepala Desa Abdul Halim. Nama Wisata Setigi berasal dari singkatan Selo. Tirto, dan Giri, yang masing-masing memiliki makna Selo berarti batu. Tirto berarti udara, dan Giri berarti bukit, mencerminkan karakteristik kawasan wisata ini yang terdiri dari deretan bukit kapur putih yang masif dan panjang. Beberapa pengunjung bahkan menyamakan keindahan lanskapnya dengan kastil-kastil di Yunani. Awal mula didirikannya wisata Setigi karena ide dari bapak Abdul Halim selaku kepala desa yang baru menjabat saat itu. Wisata Setigi memiliki batas wilayah yang strategis, dengan pemukiman warga dan tambang kapur di sebelah utara, jalan utama Desa Sekapuk di sebelah timur, tambang kapur aktif di sebelah barat, serta pemukiman warga di bagian selatan. Popularitas wisata ini terus meningkat, dengan rata-rata 1. 000 pengunjung setiap minggu dan sekitar 4. 000 pengunjung setiap Wisata ini dikelola langsung oleh BUMDes Sekapuk, yang berada di bawah kepemilikan pemerintah desa dan masyarakat setempat. Pengelolaan oleh warga desa bertujuan untuk menjaga keindahan, transparansi dana, serta mencegah potensi konflik yang dapat terjadi jika dikelola pihak luar. Daya Tarik Wisata Setigi Wisata Setigi menawarkan beragam atraksi yang menggabungkan keunikan alam bukit kapur dengan elemen budaya dan wahana rekreasi buatan. Salah satu ikon utama adalah Tangga Drajat yang terdiri dari 99 anak tangga, di mana dari puncaknya pengunjung dapat menikmati panorama keseluruhan kawasan Wisata Setigi serta keindahan pahatan bekas penambangan kapur. Selain itu, terdapat berbagai atraksi lainnya, seperti Lorong Kuliner. Watu Jodoh. Kolam Banyu Gentong. Monumen Setigi. Candi Topeng Nusantara. Topeng Suku Asmat. Kampung Bambu. Gerbong Gaib. Patung Semar. Goa Pancawarna. Jembatan Peradaban. Area Outbound. Rumah Adat Honai. Rumah Apung, serta Pahatan Nogo Puspo. Wisata ini juga menghadirkan Gua JBK, yang menyajikan rangkaian cerita tentang sejarah penambangan batu kapur. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang dirancang untuk memberikan kekuatan kepada individu atau kelompok dalam masyarakat untuk mengelola dan mengubah kondisi kehidupan mereka melalui peningkatan kapasitas, pengetahuan, keterampilan, serta akses terhadap sumber daya yang diperlukan. Menurut Sudarsono . dalam jurnalnya yang berjudul "Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Ekonomi Lokal", pemberdayaan masyarakat adalah sebuah proses yang mengembangkan kemampuan masyarakat untuk mengakses sumber daya yang ada, memperoleh pengetahuan, serta mempengaruhi keputusan-keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka. Proses Pemberdayaan Masyarakat Melalui BUMdes Dalam upaya pemberdayaan masyarakat, keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahap pembangunan menjadi aspek yang krusial. Partisipasi yang bersifat substantif mencakup keikutsertaan masyarakat dalam seluruh proses pengembangan , mulai dari tahap perencanaan, pengambilan keputusan, hingga pengawasan setiap program BUMdes. Berdasarkan hasil penelitian yang mengacu pada teori pemberdayaan, proses pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi sosial serta potensi yang dimiliki oleh masyarakat Tahapan pemberdayaan yang diterapkan meliputi: Tahap Penguatan Kesadaran Selain peran penting Kepala Desa, partisipasi masyarakat juga memainkan peran krusial dalam kesuksesan yang telah dicapai dalam perubahan yang terjadi di Desa Sekapuk. Kecamatan Ujung Pangkah. Kabupaten Gresik. Masyarakat secara antusias berpartisipasi dalam pengelolaan tempat wisata melalui BUMDes, yang akan dijelaskan lebih lanjut berdasarkan indikator keberhasilan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata tersebut. Tahap Pemikiran Partisipasi pikiran dari masyarakat sekapuk dituangkan melalui rapat rutin bulanan yang biasanya dilakukan pada awal bulan yaitu setiap tanggal 1. Adanya rapat rutin bulanan ini maka partisipasi warga sekapuk dapat diakomodir dengan baik. Partisipasi pikiran dari warga sekapuk berawal dari Kepala Desa sekapuk melakukan musyawarah dengan warga sekapuk terkait potensi bukit kapur bekas tambang yang ada di desa sekapuk yang bisa dikelola atau dikembangkan menjadi wisata alam yang menarik. Tahap Keterlibatan Aktif Tahap ini merujuk pada keterlibatan langsung dalam kegiatan yang dilakukan bersama secara tatap muka dan fisik. Bentuk partisipasi tenaga ini dapat dilihat dari keaktifan masyarakat dalam mengelola alam Setigi, di mana bekas tambang kapur diubah dan dikembangkan menjadi destinasi wisata yang menarik. Dalam hal ini, warga Sekapuk juga berpartisipasi dalam upaya promosi dengan memanfaatkan platform media sosial untuk menarik perhatian pengunjung. Tahap Kontribusi Finasial Kontribusi Finansial merupakan bentuk partisipasi dari masyarakat berupa uang maupun peralatan dan benda lainnya yang bersifat pribadi dalam hal ini milik warga secara pribadi. Partisipasi berupa dana yang merupakan patungan antar warga sekapuk dengan pemerintah desa Sekapuk untuk pengelolaan wisata. Per hari warga ditarik sebesar Rp 8. Berarti satu bulan terkumpul senilai Rp 200 ribu. Uang itu dikoordinir Rukun Tetangga (RT)kemudian dikumpulkan ke BUMDes,Saya sendiri mulai menabung sejak awal 2019 lalu. Tabel 4. Data Jumlah tabungan Warga Sekapuk Mulai 1 januari 2019-31 Desember 2019 Warga yang menabung berdasarkan jumlah surat 000 saham Jumlah Total tabungan/orang tabungan/hari . alam 1 tahu. Rp. Rp. Total tabungan dari warga sekapuk Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 Sumber : Data dari Kepala Desa Sekapuk Jumlah penduduk desa Sekapuk dalam tahun 2019 menurut data kepala desa Sekapuk kurang lebih 5000 jiwa dengan jumlah KK. epala Keluarg. kurang lebih 1. 614,yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana sebanyak 420 KK dengan total surat saham sebanyak 1000 surat saham. Dengan jumlah tabungan perhari adalah Rp8. 000 yang dimana dalam hitungannya 1 bulan 25 hari menabung. Akhirnya total tabungan perorang dalam satu tahun . mencapai Rp2. Jadi total dana yang terkumpul dari 1000 surat saham adalah Rp. 2,4 Milliar (Rp2. Dampak Terhadap Ekonomi Desa Keberadaan destinasi wisata di Desa Sekapuk telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian lokal, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat di berbagai Desa Sekapuk memiliki kelembagaan desa yang aktif, salah satunya adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. , yang dikenal sebagai entitas dengan pendapatan tahunan mencapai miliaran rupiah. BUMDes mengelola enam unit usaha yang mencakup sektor pertambangan. Perusahaan Air Masyarakat (PAM), pengolahan sampah, usaha olahraga (U-Spor. , pariwisata, serta layanan multijasa. Selain itu. BUMDes berperan sebagai holding yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga ekosistem desa. Selain BUMDes, organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. turut berperan aktif dalam pengembangan sektor pariwisata. Sementara itu, keterlibatan ibu-ibu PKK dalam sektor ekonomi kreatif diwujudkan melalui Dapur Mbok Inggih, yang memproduksi dan memasarkan jajanan khas desa. Produk-produk ini dijual bersamaan dengan tiket wisata, sehingga memungkinkan PKK untuk membiayai kegiatannya secara mandiri. Lebih jauh lagi, organisasi ini juga memiliki operasional mobil sendiri serta menjalankan program sosial, seperti Peduli Lansia , yang rutin diadakan setiap hari Jumat. Masyarakat lokal memiliki peran yang krusial dalam pengembangan desa wisata, karena sumber daya, tradisi, dan budaya yang khas menjadi faktor utama dalam mendorong pengembangan tersebut. Dengan adanya Wisata Setigi, masyarakat memperoleh peluang kerja yang lebih luas, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi, khususnya dalam sektor Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Berdasarkan data yang telah disajikan, keberadaan Wisata Setigi berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian desa serta pendapatan asli desa, sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel Tabel 2. Data Jumlah Tabungan Warga Sekapuk PADes Desa Sekapuk 2020 Ae 2023 No PADes Tahun 380,014,655 202,614,766,56 831,247,000,00 590,701,000,00 Sumber: Data dari Kepala Desa Sekapuk Berdasarkan data yang disajikan, keberadaan Wisata Setigi memiliki peran signifikan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa serta Pendapatan Asli Desa (PAD). PAD Desa Sekapuk mengalami peningkatan lebih dari 100% dalam kurun waktu 2020 hingga 2023, yakni dari Rp2. 655 pada tahun 2023 menjadi Rp9. Data tabel di atas menunjukkan kinerja yang signifikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDe. berkat keberadaan Wisata Setigi, yang diinisiasi oleh pemerintah desa dan dikelola oleh BUMDes dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan seluruh lapisan masyarakat untuk berkontribusi dari hulu ke hilir dalam menggerakkan perekonomian desa secara optimal. Dampak Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 positif dari keberadaan Wisata Setigi juga terlihat dalam perkembangan UMKM desa, yang sebagian besar dikelola oleh ibu-ibu melalui mekanisme kupon yang mendukung kesejahteraan warga. Tantangan dan Hambatan Beberapa tantangan utama dalam proses pemberdayaan masyarakat melalui BUMDes di Desa Sekapuk antara lain yang pertama adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan BUMDes adalah keterbatasan SDM yang terlatih. Banyak anggota masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan BUMDes memiliki keterampilan yang terbatas, baik dalam manajemen usaha, akuntansi, atau pemasaran. Kedua, keterbatasan modal dan akses pembiasaan. Banyak BUMDes, terutama yang baru dibentuk, menghadapi masalah keterbatasan modal untuk memulai atau mengembangkan usaha. Akses terhadap sumber pembiayaan seperti pinjaman perbankan atau lembaga keuangan lain sering kali terbatas bagi BUMDes, terutama karena dianggap memiliki risiko tinggi dan belum memiliki track record yang kuat. Ketiga, kendala infrastruktur dan teknologi. Infrastruktur yang terbatas, baik dalam hal akses jalan, sarana transportasi, maupun fasilitas lain yang mendukung operasional BUMDes, menjadi tantangan Selain itu, kurangnya akses terhadap teknologi dan informasi juga membatasi kemampuan BUMDes dalam mengembangkan usaha berbasis teknologi atau memperluas jangkauan pasar melalui platform digital. Keempat, perubahan pola pikir dan budaya kerja masyarakat. Di beberapa desa, masyarakat masih memiliki pola pikir tradisional yang cenderung kurang mendukung perubahan atau inovasi dalam menjalankan usaha. Budaya kerja kolektif yang ada di desa sering kali tidak sesuai dengan tuntutan manajemen usaha modern yang membutuhkan pengelolaan profesional dan efisien. Hal ini bisa menghambat perkembangan BUMDes. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. merupakan instrumen penting dalam upaya pembangunan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat desa. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian desa melalui pemanfaatan potensi lokal secara optimal. Salah satu contoh implementasi yang cukup berhasil adalah BUMDes Desa Sekapuk. Kecamatan Ujungpangkah. Kabupaten Gresik. BUMDes ini telah berhasil mengembangkan unit usaha wisata Setigi yang mampu meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat. Namun demikian, dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat. BUMDes Sekapuk tetap menghadapi berbagai kendala yang mempengaruhi efektivitas dan keberlanjutan program yang dijalankan Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang Kompeten Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan BUMDes adalah ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas manajerial, kewirausahaan, dan kemampuan teknis yang Pengelolaan unit usaha desa membutuhkan keterampilan dalam perencanaan bisnis, pengelolaan keuangan, pemasaran, serta pemanfaatan teknologi digital. Keterbatasan Akses Modal dan Permodalan Pengembangan unit usaha desa membutuhkan modal awal yang cukup serta akses terhadap pendanaan lanjutan. Pada tahap awal pendiriannya. BUMDes Sekapuk menghadapi keterbatasan modal usaha yang memengaruhi skala dan kecepatan pengembangan unit-unit Meskipun saat ini telah mengalami pertumbuhan, akses terhadap sumber pendanaan eksternal seperti lembaga keuangan atau investor swasta masih menjadi tantangan tersendiri. Ketidakpastian Regulasi dan Birokrasi yang Rumit Secara hukum. BUMDes masih menghadapi tantangan terkait kejelasan status badan hukumnya, terutama dalam kaitannya dengan aspek perpajakan, akuntabilitas, dan legalitas Dialektika Pendidikan IPS. Volume 5 . : 106-116 kerja sama dengan pihak ketiga. Di Desa Sekapuk, perubahan regulasi yang terjadi di tingkat nasional maupun daerah seringkali menimbulkan kebingungan dalam pengelolaan administratif dan pelaporan keuangan BUMDes. Kurangnya Partisipasi Masyarakat dalam Program Non-Pariwisata Partisipasi aktif masyarakat menjadi prasyarat utama dalam pemberdayaan yang berkelanjutan. Di Desa Sekapuk, keberhasilan wisata Setigi banyak ditopang oleh keterlibatan warga. Namun, pada program-program pemberdayaan lain, seperti pelatihan kewirausahaan, pengembangan produk lokal, atau kegiatan koperasi, tingkat partisipasi masyarakat belum merata. Masih terdapat sebagian warga yang belum memahami pentingnya keterlibatan aktif dalam program BUMDes atau merasa ragu terhadap manfaat jangka panjang yang ditawarkan. Persaingan Usaha dari Pihak Eksternal BUMDes Sekapuk, khususnya melalui unit usaha wisata Setigi, harus menghadapi persaingan dari objek wisata lain di wilayah Gresik maupun luar daerah. Persaingan ini mencakup inovasi layanan, tarif masuk, aksesibilitas, serta promosi digital. Jika tidak diantisipasi dengan strategi bisnis yang adaptif. BUMDes dapat kehilangan daya saing dan mengalami penurunan pengunjung, yang secara langsung berdampak pada pendapatan desa dan program pemberdayaan yang dibiayai dari sektor tersebut. Ketergantungan terhadap Satu Sumber Pendapatan Salah satu risiko struktural dalam pengelolaan BUMDes adalah ketergantungan terhadap satu jenis usaha. Di Desa Sekapuk, sebagian besar pendapatan BUMDes masih bertumpu pada sektor wisata Setigi. Ketergantungan ini berpotensi menjadi ancaman ketika terjadi gangguan eksternal, seperti pandemi atau bencana alam, yang dapat menurunkan minat kunjungan. Diversifikasi unit usaha menjadi suatu keharusan, namun hal ini memerlukan strategi, perencanaan matang, serta modal tambahan yang tidak selalu mudah diakses. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan mengenai peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Sekapuk, dapat disimpulkan bahwa BUMDes Gema Mandiri memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Peran tersebut tercermin dalam pelaksanaan berbagai unit usaha seperti sektor pariwisata (Setig. , tambang, penyediaan air bersih (PAM), serta layanan multijasa yang secara langsung maupun tidak langsung membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan warga, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan lokal. Keberhasilan BUMDes Sekapuk dalam memberdayakan masyarakat tidak terlepas dari pengelolaan yang profesional, dukungan aktif pemerintah desa, serta keterlibatan masyarakat dalam mendukung dan memanfaatkan layanan BUMDes. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga turut berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan usaha BUMDes, sehingga tercipta kemandirian desa yang berkelanjutan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya BUMDes juga menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten, belum meratanya partisipasi masyarakat, serta pengembangan unit usaha yang belum optimal di beberapa sektor. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penguatan kapasitas, peningkatan tata kelola usaha, serta kolaborasi antara pemerintah desa, perguruan tinggi, dan mitra swasta guna memaksimalkan peran BUMDes sebagai pilar utama dalam pembangunan ekonomi dan sosial masyarakat desa. Dengan demikian. BUMDes Gema Mandiri di Desa Sekapuk terbukti memiliki peran penting dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan, serta menjadi model inspiratif bagi pengembangan BUMDes di wilayah DAFTAR PUSTAKA