Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 PROTOTYPE SISTEM PENGAMBILAN PESANAN BERBASIS WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) TERINTEGRASI DENGAN APLIKASI CAFE Carudin1. Ishak Husin2. Ratna Rahmawati Rahayu3. Haryono4. Widiyawati5 Universitas Bani Saleh12345 Jl. Mayor Madmuin Hasibuan No. RT. 004/RW. 004 Margahayu. Kec. Bekasi Timur. Kota Bekasi E-mail: carudin@ubs. id1, ishak@ubs. id2, ratna@ubs. id3, haryono. siradku@gmail. widiyawati@ubs. ABSTRAK Kemajuan pesat teknologi informasi telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang industri kuliner, khususnya pada usaha kafe. Kafe merupakan jenis usaha yang menyediakan makanan dan minuman ringan dengan konsep suasana santai dan nyaman bagi para pengunjung. Salah satu contohnya adalah Lentera Coffee, yang berlokasi di pusat Kota Bekasi, dan menjadi tempat favorit masyarakat untuk bersantai maupun bekerja sambil menikmati sajian kopi. Lentera Coffee Margahayu memiliki desain semi-outdoor dan menghadirkan pertunjukan musik langsung setiap hari, sehingga menarik banyak pengunjung yang datang untuk menikmati kopi sambil mendengarkan hiburan musik secara langsung. Meskipun populer, beberapa permasalahan telah teridentifikasi terkait kepuasan pelanggan terhadap kualitas layanan kafe. Permasalahan tersebut meliputi lambatnya respons pelayanan, kesulitan pelayan dalam mengidentifikasi posisi tempat duduk pelanggan, hambatan dalam memanggil pelanggan akibat kebisingan musik yang tinggi, serta masih adanya pelanggan yang harus mengantre di depan kasir. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakefisienan dalam proses operasional kafe. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan sebuah prototipe alat pengambilan pesanan berbasis metode jaringan sensor nirkabel . ireless sensor networ. Alat ini memungkinkan komunikasi antara perangkat keras dengan aplikasi kafe. Cara kerjanya sederhana: alat diberikan kepada pelanggan sebagai pengganti nomor meja dan dikendalikan oleh kasir melalui sistem aplikasi kafe saat melakukan pemanggilan pelanggan. Hasil pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan operasi sebesar 98%, dengan 2% mengalami keterlambatan akibat ketidakstabilan jaringan internet. Sistem yang diusulkan ini terbukti mampu meningkatkan responsivitas pelayanan serta meningkatkan kepuasan pelanggan secara keseluruhan. Kata kunci : Jaringan Sensor Nirkabel. Prototipe Alat Pemesanan. Kepuasan Pelanggan. Inovasi Layanan Kafe. Internet of Things (IoT) ABSTRACTS The rapid advancement of information technology has brought a significant impact on various aspects of human life, including the culinary industry, particularly cafys. A cafy is a food and beverage business that offers light meals and drinks in a casual and comfortable atmosphere. One example is Lentera Coffee, located in the center of Bekasi City. Lentera Coffee Margahayu features a semi-outdoor design and provides daily live music performances, attracting a large number of visitors who come to enjoy coffee while listening to live entertainment. Despite its popularity, several issues have been identified concerning customer satisfaction with the cafyAos service quality. These include slow service response, difficulty for waiters in identifying customer seating positions, challenges in calling customers due to high noise levels from the live music, and customers still queuing in front of the cashier. Such conditions indicate inefficiencies in the cafyAos operational process. To overcome these problems, a prototype of an order retrieval device was developed based on the wireless sensor network method. This device enables communication between the hardware and the cafyAos application. Its operation is simple: the device is handed to customers as a table number replacement and controlled by the cashier through the cafy system when calling customers. Experimental testing showed a 98% successful operation rate, with only 164 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 2% experiencing delays due to unstable internet connectivity. The proposed system effectively improves service responsiveness and enhances overall customer satisfaction. Keywords: Wireless Sensor Network. Order Retrieval System. Customer Satisfaction. Prototype Development. Service Efficiency PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi yang pesat saat ini telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang industri kuliner, khususnya pada usaha kafe. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ketatnya persaingan dalam dunia usaha kafe. Lentera Coffee yang berlokasi di pusat Kota Bekasi menjadi salah satu contoh kafe yang mampu menarik perhatian masyarakat. Lentera Coffee Margahayu memiliki desain semi-outdoor menghadirkan pertunjukan musik langsung setiap hari, sehingga selalu ramai dikunjungi oleh konsumen yang ingin menikmati kopi sambil mendengarkan hiburan musik. Pada penelitian untuk membuat sebuah sistem antrian pada Bank PT. BPR SARIBUMI Cabang Godong dengan penggunaan teks dan suara berbasis jaringan internet untuk memudahkan petugas loket antrian, kasir atau teller untuk memanggil orang pertama yang akan dilayani dalam antrian ini menggukan display antrian menggunakan perangkat electronic yang akan mengcounter dan display dibangun dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6. 0 dan Database MySQL. Dalam penelitian lain, dikembangkan sebuah sistem pemanggil pelayan pada lingkungan rumah makan dengan menerapkan teknologi komunikasi ESP-NOW. Protokol komunikasi ini dinilai cocok digunakan sebagai alternatif berbiaya rendah dan hemat energi untuk sistem informasi di rumah makan. Hal ini karena ESPNOW memiliki latensi yang rendah, sehingga mampu mengirimkan data dengan cepat dan efisien antara perangkat tanpa memerlukan koneksi Wi-Fi atau infrastruktur jaringan tambahan . Pada penelitian selanjutnya, dikembangkan sebuah prototype alat Smart Nurse Call yang berfungsi untuk membantu pasien dalam memanggil perawat atau dokter ketika membutuhkan bantuan. Melalui sistem ini, petugas medis dapat memantau kondisi pasien secara real-time menggunakan perangkat Android, sementara notifikasi panggilan ditampilkan melalui speaker dan lampu LED yang terpasang di ruang pasien. Dengan adanya prototype ini, proses komunikasi antara pasien dan tenaga medis menjadi lebih cepat dan efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah: Menganalisis permasalahan pelayanan yang memengaruhi kepuasan pelanggan di kecepatan dan efektivitas dalam proses pemesanan serta pemanggilan pelanggan. Merancang dan membangun sistem prototipe alat pengambilan pesanan yang mampu berkomunikasi dengan aplikasi kafe secara nirkabel untuk meningkatkan efisiensi Mengimplementasikan dan menguji kinerja sistem, meliputi tingkat keberhasilan operasi, komunikasi jaringan. Mengevaluasi efektivitas sistem dalam meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan pelanggan berdasarkan hasil uji coba yang METODE PENELITIAN Penelitian pengembangan sistem dengan pendekatan Metode dipilih karena memungkinkan peneliti untuk membangun model awal sistem yang dapat dievaluasi secara langsung oleh pengguna sebelum dikembangkan menjadi sistem akhir. Adapun pengertian dan tahapan dari metode prototype dijelaskan sebagai berikut: Pengertian Prototype Prototyping merupakan salah satu teknik pengembangan sistem yang sering digunakan 165 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 pengembang dan pengguna untuk berinteraksi secara langsung selama proses perancangan. Melalui metode ini, pengembang dapat dengan mudah membuat model awal perangkat lunak maupun perangkat keras sesuai dengan penyempurnaan berdasarkan umpan balik yang diberikan. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 Gambar 1. Tahapan Prototype Tahapan Prototype Analisis Kebutuhan Tahap awal dalam model prototype dimulai dengan proses analisis kebutuhan. Pada tahap ini, seluruh kebutuhan sistem Tim pengembang bersama klien melakukan pertemuan untuk membahas fungsi-fungsi yang diharapkan dari sistem, serta menentukan batasan dan tujuan utama yang harus dicapai. Hasil dari tahap ini menjadi dasar dalam merancang sistem sesuai kebutuhan pengguna. Desin Tahap berikutnya adalah pembuatan desain awal atau rancangan sederhana yang memberikan gambaran umum tentang sistem yang akan dibangun. Desain ini dibuat berdasarkan hasil diskusi pada tahap analisis kebutuhan. Tujuannya adalah agar klien dapat memahami alur kerja sistem sebelum proses pengembangan dimulai. Pembuatan Prototype Setelah desain awal disetujui, tim pengembang mulai membangun prototype atau model awal dari sistem. Prototype ini berfungsi sebagai bentuk representasi nyata dari sistem yang akan dikembangkan. Hasilnya digunakan sebagai acuan bagi tim pemrogram untuk membangun aplikasi secara lebih detail dan fungsional. Evaluasi Penggunaan Awal Pada tahap ini, prototype yang telah dibuat disajikan kepada klien untuk dilakukan pengujian dan evaluasi. Klien akan mencoba sistem tersebut dan memberikan umpan balik, baik berupa kritik, saran, maupun permintaan perubahan, agar hasil akhir sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pengguna. Penyempurnaan Prototype Jika terdapat catatan atau masukan dari klien, maka tim pengembang akan melakukan revisi terhadap prototype. Proses evaluasi dan perbaikan ini dapat dilakukan secara berulang hingga klien merasa puas dan menyetujui bentuk akhir dari sistem yang akan dikembangkan. Tahapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa sistem benar-benar sesuai dengan keinginan pengguna. Implementasi dan Pemeliharaan Tahap terakhir adalah implementasi sistem berdasarkan prototype akhir yang telah Setelah sistem selesai dibangun, dilakukan pengujian secara menyeluruh untuk memastikan semua fungsi berjalan Selanjutnya, diserahkan kepada klien untuk digunakan, dan tim pengembang tetap melakukan pemeliharaan agar sistem dapat beroperasi secara optimal tanpa kendala di kemudian Wireless Sensor Network (WSN) Wireless Sensor Network (WSN) merupakan jaringan yang terdiri dari sejumlah node sensor yang saling terhubung secara nirkabel untuk melakukan pertukaran data antarperangkat. Setiap node dalam WSN memiliki keterbatasan sumber daya, seperti kapasitas energi, kemampuan pemrosesan, dan media komunikasi yang terbatas. Kondisi tersebut menuntut penggunaan metode komunikasi data yang efisien, dengan konsumsi daya yang rendah agar sistem dapat beroperasi secara optimal. Dalam arsitektur WSN, modul transceiver berperan sebagai komponen utama untuk transmisi dan penerimaan data secara Oleh karena itu, dalam proses perancangan WSN, pengembang harus 166 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 mempertimbangkan jumlah data yang akan dikirim serta waktu transmisi yang dibutuhkan, agar sistem dapat bekerja secara efektif dan hemat energi. yang memudahkan proses pemrograman pengembang seperti Arduino IDE. Sumber daya untuk board dapat diperoleh melalui konektor micro USB . Gambar 2. Wireless Sensore Network Gambar 3. Board Esp32 Tabel 1. Spesifikasi Esp32 4 ESP32 Board Mikrokontroler ESP32 mikrokontroler System on Chip terpadu dilengkapi WiFi 802. Bluetooth versi 2, serta berbagai ESP32 merupakan chip yang lengkap, terdapat prosesor, menyimpanan dan akses pada GPIO (General Purpose Input Outpu. pada ESP32 berfungsi sebagai antarmuka yang Mikrokontroler ESP32 dapat digunakan sebagai alternatif pengganti Arduino, karena memiliki kemampuan untuk terhubung langsung ke jaringan WiFi . Modul ESP32 tersedia dalam dua versi, yaitu versi 30 GPIO dan 36 GPIO. Kedua versi tersebut memiliki fungsi yang serupa, namun pada penelitian ini digunakan versi 30 GPIO karena memiliki dua pin GND, yang memberikan kemudahan dalam perancangan rangkaian. Setiap pin pada board telah dilengkapi dengan label identifikasi di bagian atas, sehingga memudahkan pengguna dalam proses instalasi dan pengkabelan. Board ini memiliki antarmuka USB ke UART Spesifikasi Modul Jumlah Inti Prosesor 2 inti (Dual Cor. Koneksi Wi-Fi 4 GHz, kecepatan hingga 150 Mbit/s Koneksi Bluetooth Mendukung BLE (Bluetooth Low Energ. dan Bluetooth klasik Arsitektur Prosesor 32-bits Frekuensi Clock Hingga 240 MHz Kapasitas RAM 512 KB Jumlah Pin I/O 30, 36, atau 38 pin . ergantung pada model modu. Periferal yang Didukung Sensor sentuh kapasitif. ADC (Analog to Digital Converte. DAC (Digital to Analog Converte. IAC (InterIntegrated Circui. UART (Universal Asynchronous Receiver/Transmitte. CAN 2. 0 (Controller Area Networ. SPI (Serial Peripheral Interfac. IAS (Integrated Inter-IC Soun. RMII (Reduced Media Independent Interfac. , dan PWM (Pulse Width Modulatio. Tombol Bawaan Tombol RESET dan BOOT LED Bawaan LED biru terhubung ke GPIO2 dan LED merah indikator daya USB to UART Bridge CP2102 HASIL DAN PEMBAHASAN 167 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 1 Analisis Kebutuhan 2 Membuat Prototype Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses perancangan prototype. Analisis tersebut mencakup dua komponen utama, yaitu perangkat keras . dan perangkat lunak . yang digunakan sebagai dasar dalam pengembangan dan implementasi rancangan Berdasarkan membangun prototipe dengan melakukan perancangan input dan output melalui flowchart program yang berfokus pada penyajian sistem kepada pengguna, seperti ditunjukkan pada Gambar 4 berikut. Perangkat Keras (Hardwar. Adapun perangkat keras yang digunakan dalam perancangan sebagai berikut: Tabel 2. Kebutuhan Perangkat Keras Perangkat Spesifikasi Laptop Prosecor Intel Core i3 Rsm 4 Giga. Hdd 250GB Modul Esp32 30 pin Bateray lolin Kabel Jumper Led Indikator Kabel data Step down 12v to 5v Papan PCB Box Casing Saklar On/off Merah, biru, hijau Gambar 4. Alur Kerja Prototype Dimana alur kerja prototype ini meliputi 1 layer Perangkat Lunak (Softwar. Adapun kebutuhan perangkat lunak meliputi: Kasir menekan tombol "Panggil Pembeli" di aplikasi kafe. Aplikasi mengirim data ke server . isal melalui API POST /call_custome. Server meneruskan ke modul Calling System (ESP. via WiFi atau MQTT. Calling System menampilkan nomor meja / pesanan atau bunyi. Pelanggan melihat / mendengar panggilan dan datang ke kasir. Tabel 3. Spesifikasi Perangkat Lunak Perangkat Spesifikasi Sistem Operasi Windows 10 Domain Hosting Arduino IDE Kapasitas penyimpana minimal 2 GB 168 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 menilai tingkat keefektifan sistem dalam membantu kasir atau pelayan memanggil pelanggan melalui modul prototype ini. 4 Mengkodekan Sistem Tahapan menggunakan Bahasa pemograman C untuk esp32, sedangkan integrasi ESP denga aplikasi menggunakan pempgrama php. Pada gambar adalah pemograman pada Gambar 5. Wiring Prototype Pada gambar 5 adalah perancangan wiring antar komponen dimana battery 12 v sebagai sumber tegangan, kemudian stepdown sebagai penurun tegangan 12v ke 5v, outpun stepdown Ae ke gound eps32, output ke pi vin esp32, komponen led terhubung ke pin 2 dan buzzer terhubung ke 3 Evaluasi Prototype Gambar 7. Perintah untuk eps32 Pada tahap ini dilakukan pengamatan, uji coba, dan analisis terhadap performa sistem prototype yang terintegrasi dengan aplikasi Gambar 8. Perintah integrasi esp32 dengan aplikasi 5 Pengujian Prototype Gambar 6. Perakitan perangkat keras Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan, menemukan ketidaksesuaian antara rancangan dan hasil implementasi, serta Pengujian . lackbox merupakan metode pengujian perangkat lunak yang berfokus pada pengujian fungsionalitas sistem, dengan tujuan memastikan bahwa setiap fungsi berjalan sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi yang telah ditetapkan. Pengujian ini menitikberatkan pada pemeriksaan kesesuaian antara input dan output aplikasi, untuk memastikan apakah sistem telah berperilaku sesuai dengan yang diharapkan. Tahap pengujian ini menjadi bagian penting dalam siklus pengembangan perangkat lunak, karena berfungsi untuk memverifikasi bahwa setiap fitur berjalan dengan benar sebelum sistem diterapkan secara 169 | I T B A D i a n C i p t a C e n d i k i a Jurnal informasi dan Komputer Vol: 13 No:2 2025 Tabel 4. Hasil Pengujian Proses Test Case Harapan Hasil Rangkaian Dapat Dapat sesuai dengan Sesuai Melakukan calling yang ada di Prototype delay 5 detik Sesuai Pengecekan Pengecekan Hasil Avometer Sesuai Pengecekan Fungsi Buzzer dan Led Buzer dapat dan led Ketika dari peintah dari aplikasi Buzzer dan led menyala Sesuai Ujicoba Tegangan P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 aspek teknis yang perlu disempurnakan untuk meningkatkan keandalan dan kemudahan 2 Saran Peningkatan Fitur Notifikasi Tambahkan variasi notifikasi seperti tampilan nomor meja di layar digital, suara buzzer, atau pesan pada aplikasi pelanggan untuk memperjelas pemanggilan. Optimasi Jaringan dan Koneksi Gunakan jaringan Wi-Fi atau protokol komunikasi yang lebih stabil . isalnya MQTT atau WebSocke. untuk menjamin komunikasi data yang cepat dan konsisten antara server dan modul calling. Pengujian Lapangan yang Lebih Luas Lakukan uji coba sistem dalam kondisi operasional nyata di berbagai situasi kafe untuk mengukur keandalan sistem dalam menghadapi beban penggunaan yang tinggi. Pengembangan Antarmuka Pengguna KESIMPULAN DAN SARAN Perbaiki tampilan dan kemudahan penggunaan pada sisi aplikasi kasir agar lebih intuitif dan mudah digunakan oleh staf dengan berbagai tingkat kemampuan teknologi. 1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA