Ad-Daqqoq: Indonesian Journal of Religion and Social Movement Vol. 1 Issue 1, 2025 DOI: XX. x/x E-ISSN: x-x The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf Mahsun Jayadi 1. Mahmud Muhsinin2 Universitas Muhammadiyah Surabaya1,2 mahsun@um-surabaya. id, muhsininmahmud87@gmail. Article History Received: 20-03-2025 Reviced: 26-04-2025 Accepted: 28-05-2025 Keywords: Bani Israil. Character education. The story of the Qur'an Abstract: The stories in the Qur'an carry significant meanings and The stories in the Qur'an are intended to provide advice and guidance, as the Qur'an was revealed by Allah to serve as a warning, a source of guidance, and a lesson. Understanding the stories of the Qur'an for the purpose of character education is essential, given that character education is a key aspect of national education policy. Therefore, this study aims to explore the character education values found in the story of Prophet Musa and the Israelites in the Qur'an. The research problem is: What are the character values in the story of Prophet Musa and the Israelites? This research adopts an interpretive paradigm and employs a qualitative approach. The research method is content analysis, with the primary data source being verses from Surah Al-A'raf: 103Ae171. Data analysis is conducted using Heidegger's hermeneutic The findings reveal that the story of the Israelites in Surah Al-A'raf, verses 103 to 170, contains several character values, including patience, obedience, steadfastness, knowledge, and humility. This is an open access article under CC BY-SA 4. 0 license. Copyright A 2024 by Author. Pu blished by CV. Zamron Pressindo Available online at: https://journal. id/index. php/addaqqo/issue/archive Abstrak: Kisah Al-QurAoan memiliki makna dan pelajaran yang banyak. Kisah Al-QurAoan merupakan kisah yang bertujuan memberi nasehat dan pelajaran. sebab tujuan AlQurAoan diturunkan oleh Allah agar menjadi pemberi peringatan, petunjuk dan Memahami kisah Al-QurAoan untuk kepentingan pendidikan karekter The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf merupakan hal yang penting, dikarenakan pendidikan karekter menjadi kebijakan pendidikan nasional. Oleh karena itu penelitian ini akan mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam kisah Nabi Musa dan Bani Israil di Alquran. Rumusan masalah penelitian ini Apa nilai-nilai karakter dalam Kisah Nabi Musa dan Bani Israil? Paradigma penelitian ini menggunakan pardigma Interpretif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah analisis konten. Sumber data ayat Al-AAoraf: 103 Ae 171. Teknik Analisa data menggunakan teori hermeneutika Heiddeger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Bani Israil di surat AlAoAraf ayat 103 sampai 170 memiliki nilai karakter antara lain: nilai karakter sabar, tunduk patuh, berpegang teguh, berilmu, tidak sombong. Kata kunci: Bani Israil. Pendidikan karakter. Kisah Al-qurAoan PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan pedoman dan petunjuk bagi umat manusia. Al-QurAoan adalah kalam Allah yang menjadi inspirasi dan sumber ilmu pengetahuan umat Sebagaimana alam semesta ini yang menjadi inspirasi dan sumber ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Berbagai cabang ilmu bermunculan dikarenakan penelitian yang dilakukan terhadap alam ini. Observasi dan penelitian yang dilakukan terhadap fenomena atau gejala alam menghasilkan beragam ilmu, seperti ilmu astronomi, ilmu fisika, ilmu biologi dan lainnya. Demikian juga halnya dengan Al-QurAoan, sebagai ayat-ayat qouliyah Allah, menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi Al-QurAoan sangat dibutuhkan manusia sebab ia merupakan ayat-ayat qouliyah Allah. Al-QurAoan menjelaskan banyak hal yang menjadi petunjuk dan inspirasi bagi manusia, diantaranya: aqidah, hukum, ibadah, adab, ilmu pengetahuan dan lainnya yang semua itu dibutuhkan manusia. Al-QurAoan juga berisi kisah atau cerita. Ada cerita kejadian masa depan dan juga kisah kaum-kaum terdahulu. Kisah Al-QurAoan merupakan kisah yang bertujuan memberi nasehat dan sebab tujuan Al-QurAoan diturunkan oleh Allah agar menjadi pemberi peringatan, petunjuk dan pelajaran. Para ulama membagi kisah-kisah Al-QurAoan menjadi 3 macam Kisah-kisah para nabi dan rosul bersama kaumnya baik yang beriman maupun yang kafir Kisah-kisah beberapa orang yang s. >lih dan yang durhaka, seperti kisah Luqman. As. >bul kahfi. Qo>run, dan peristiwa-peristiwa lainnya seperti kisah As. >bul Ukhdu>d, kisah Maryam, kisah tentara Thalut yang melawan tentara Jalud, dan peristiwa-peristiwa lainnya. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. Kisah-kisah berupa peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Muhammad seperti kisah perang Badar, perang Uhud, perang Al-Ahzab, suku Bani Quraiz. h, dan Kisah-kisah Al-QurAoan sangat beragam dalam berbagai hal. Dari segi pemaparan, kisah-kisah Al-QurAoan dapat dibagi menjadi 4 model Mengawali kisah dengan ringkasannya setelah itu menceritakan secara rinci dari awal hingga akhir. Seperti kisah As. >bul kahfi Kisah diawali dengan kejadian akhir kisah, kemudian menceritakan secara rinci dari awal hingga akhir kisah. Seperti kisah Nabi Musa dalam surat AlQos. s{ Langsung bercerita tanpa didahului pendahuluan. Al-QurAoan langsung bercerita sebuah peristiwa atau kejadian. Seperti Kisah Maryam ketika melahirkan anaknya Nabi Isa, kisah Nabi Sulaiman bersama burung Hud-hud. Langsung menyajikan gambaran perbuatan, seperti kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail saat membangun kabah dalam surat Al-Baqorah (Qothub. Kisah-kisah Al-QurAoan memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang dipetik dari berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Di bidang pendidikan misalnya, banyak dibahas nilai-nilai pendidikan karakter dengan kisah-kisah nabi atau kisah-kisah lainnya dalam Al-QurAoan. Pendidikan karakter dengan menggunakan metode bercerita kisah-kisah para nabi yang ada dalam Al-QurAoan memiliki hasil pengaruh positif terutama kepada anak-anak usia dini. Metode ini menjadikan anak dapat merekam materi akhlak lebih lama sehingga materi bisa tertanam dalam jiwanya. Penanaman akhlak dengan metode bercerita sangat efektif dan menghasilkan perilaku anak yang baik. Kisah-kisah Al-QurAoan bukan hanya menceritakan para nabi dan rosul namun kaum-kaum atau bangsa-bangsa terdahulu juga dikisahkan dalam Al-QurAoan. Seperti kaum AoAad, kaum Samud, kaum Madyan dan lainnya. Yahudi merupakan salah satu bangsa yang dikisahkan Al-QurAoan. Ada yang istimewa dengan bangsa Yahudi yaitu dia adalah bangsa yang tetap eksis hingga saat ini. Bangsa Yahudi adalah anak keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishak anaknya. Dalam Al-QurAoan banyak kita temukan ayat-ayat yang menceritakan Bangsa Yahudi. Bahkan lebih banyak dari bangsa yang lain. Yunahar Ilayas. Kuliah Ulumul QurAoan (Yogyakarta: ITQAN Publishing, 2. Hadis Purba. Raisah Armayanti Nasution, and Rosita Rosita. AuMetode Bercerita Kisah Nabi Dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Akhlak Anak Di RA Hamdaniyah,Ay Jurnal Raudhah 9, no. : 40Ae50, https://doi. org/10. 30829/raudhah. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf Al-QurAoan menggunakan istilah Bani Israil dibanyak tempat yang menceritakan leluhur Bangsa Yahudi. Kisah tentang Bani Israil dengan Nabi Musa merupakan kisah yang banyak ditemukan dalam Al-QurAoan. Hikmah dibalik banyaknya kisah Nabi Musa dan Bani Israil diantaranya : posisi Nabi Musa yang penting dalam membentuk bangsa Yahudi. Peran Nabi Musa yang menyelamatkan Bani Israil dari tirani Firaun. Kemudian Nabi Musa juga berhasil mewujudkan aturanaturan Taurat di tengah-tengah kehidupan Bani Israil. Nabi Musa juga menghadapi orang-orang munafik dari Bani Israil yang selalu merongrong kebijakan dan aturanaturan Taurat. Kisah perjalanan Nabi Musa dan Bani Israil ini sesuai dengan kondisi Nabi Muhammad SAW yang menghadapi tekanan penguasa kafir Quraisy di Mekkah, kemudian hijrah ke Madinah dan menghadapi orang-orang munafik yang selalu merusak kebijakan-kebijakan Islam. Bani Israil merupakan leluhur bangsa Yahudi. Mereka hidup sezaman dengan bangsa mesir FirAoaun. Mereka tinggal bersama di Mesir. Pada waktu itu Bani Israil merupakan bangsa budak yang tertindas oleh Bangsa penguasa FirAoaun. Sebelum kedatangan Nabi Musa, bangsa Yahudi atau Bani Israil hidup tertindas sebagai budak oleh Firaun. Allah berfirman dalam Al-QurAoan surat Al-Qashash ayat 4-5 yang artinya: Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesi. itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi . Allah menceritakan sifat-sifat pemerintahan Fir'aun. Dia menjadi sombong, merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa meruntuhkan kekuasaan dia. Dialah raja yang paling besar, paling agung dan paling tinggi. Kekuasanya sangat kuat tanpa ada tandingan, secara politik FirAoaun menguasai kekuasaan secara penuh. Taktik pemerintahan yang dia pakai ialah membuat berpecah-belah rakyat. Karena dengan berpecah-belah itu, rakyat menjadi mudah diperintah, sebab antar golongan saling membenci dan masing-masing mengambil muka kepada FirAoaun. Kemudian ada pula golongan yang diperlemah selemah-lemahnya. Golongan ini dilemahkan dalam segala segi. tidak ditingkatkan pendidikannya, dibiarkan dalam kebodohan, tidak dimajukan perekonomiannya, dibiarkan diperbudak. Setinggi-tinggi jabatannya hanyalah menjadi kuli (Amrullah, 1. Bahkan Fir'aun membuat aturan, sebagaimana dalam firman Allah yang artinya: "dia . irAoau. menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. "Hal ini disebabkan dari mimpi Raja FirAoaun, dimana dalam mimpinya dia melihat api dari Muhammad Baqir Hakim. Ulumul Quran (Jakarta: Al-Huda, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. Baitul Maqdis bergerak ke arahnya di mesir dan membakar istana dan lambang kerajaan mesir serta komunitas al Qibthi . angsa mesi. , namun tidak membahayakan kaum Bani Israil. Ketika terbangun FirAoaun kemudian mengumpulkan para ahli dukun dan paranormalnya untuk menafsirkan mimpinya itu. Berdasarkan kitab warisan Ibrahim yang mereka pelajari, dijelaskan bahwa akan lahir seorang anak dari keturunan Ibrahim yang akan menghancurkan kekuasaan Raja Mesir. Kemudian Raja FirAoaun memerintahkan agar membunuh anak laki-laki kaum Bani Israil disebabkan ketakutannya terhadap mimpi tersebut. Kemudian dalam ayat selanjutnya . yat kelim. Allah menjelaskan bahwa kaum yang lemah dan tertindas ini akan bangkit dan menjadi kaum yang kuat menglahkan Raja FirAoaun. Kaum Bani Israil sebagai kaum budak yang tertindas akan dirubah oleh Allah menjadi kaum yang kuat dan berkuasa. Allah mengutus Rasul Nya Musa untuk melepaskan Bani Israil dari penindasan FirAoaun. Selama dalam didikan Nabi Musa, karakter Bangsa Yahudi menjadi berubah, sebelumnya mereka sebagai bangsa budak menjadi berubah, menjadi bangsa yang bermartabat bahkan memiliki kerajaan yang besar di masa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman. Perubahan dari karakter bangsa budak menjadi bangsa yang besar dan merdeka merupakan perubahan positif yang bisa diambil pelajaran. Dakwah Nabi Musa terhadap Bani Israil, merupakan sebuah pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Nabi Musa. Pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk. Kisah-kisah Al-QurAoan banyak mendapat perhatian dikarenakan metode bercerita sangat bisa diterima oleh orang-orang. Ketika kita menyimak sebuah cerita maka kita akan melakukan visualisasi cerita, membanyangkan karakter dan situasi dalam cerita tersebut. Cerita dan kisah akan memberi kesan dan membekas dalam hati kita, terutama anak-anak. Kisah dan cerita tentang Nabi dan Rosul merupakan kisah-kisah inspiratif yang bisa menanamkan karakter-karakter baik pada diri anak didik (Rosita, 2. Kisah-kisah dalam Al-QurAoan bisa menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk menanamkan akhlak dan karakter kepada anak didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai Pendidikan Etika dalam Kisah Nabi Musa dan Bani Israil dalam Al-QurAoan, yang mencakup berbagai nilai karakter penting. Di antara nilai-nilai tersebut adalah kejujuran yang Ibnu Katsir. Qishashul AnbiyaAo (Kisah Para Nab. (Surabaya: Amelia, 2. H Samani. , & M. Konsep Dan Model Pendidikan Karakter (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf ditunjukkan oleh Nabi Musa dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah, serta keteguhan hati dan keberanian dalam menghadapi tantangan, seperti saat berhadapan dengan Firaun. Selain itu, kisah ini juga mengajarkan tentang pentingnya keadilan dan kesetaraan, terlihat dari perlakuan Allah terhadap Bani Israil yang Selain itu, nilai-nilai seperti kesabaran dan ketekunan juga ditekankan, terutama dalam perjalanan panjang mereka menuju Tanah Promised. Dengan demikian, kisah Nabi Musa dan Bani Israil memberikan pelajaran moral yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari, membangun karakter yang kuat, dan mengedepankan nilai-nilai etika dalam masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah Hermeneutika. Hermeneutika merupakan kajian teks yang menganalisa isi teks tersebut, apa pesan di balik teks? penelitian ini bertujuan menganalisa isi pesan kisah Nabi Musa bersama kaumnya Bani Israil. Dari kisah Nabi Musa dan Bani Israil ini diharapkan bisa memunculkan nilai-nilai pendidikan karakter. Tujuan penelitian ini adalah menemukan nilai-nilai pendidikan karakter, permasalahan ini merupakan hal yang abstrak dan penuh makna. Permasalahan penelitian kualitatif cenderung bersifat deskriptif dan mengeksplorasi konteks yang lebih dalam. Fokusnya adalah pada pemahaman mendalam tentang suatu fenomena atau kejadian, serta interpretasi makna yang terkandung di dalamnya. Data-data penelitian ini diambil dari Al-QurAoan dan kitab-kitab tafsir. Selain itu buku-buku yang menceritakan nabi-nabi juga menjadi data yang menguatkan dan menafsirkan kisah Nabi Musa dan Bani Israil di Al-QurAoan. Data primer penelitian ini kisah Bani Israil dalam surat Al-AAoraf : 103 Ae 171. Kisah Bani Israil dalam surat tersebut dikisahkan secara global tentang perjalanan Bani Israil. Inilah alasan peneliti memilih surat Al-AAoraf sebagai bahan penelitian. Data sekunder penelitian ini adalah Kitab tafsir Ibnu Ka. ir dan Kitab Tafsir T}abari. HASIL DAN PEMBAHASAN Teori-teori Pendidikan etika dimaknai juga dengan Pendidikan moral. Pemikiran tentang moral tentunya kita mulai dari falsafah moral Yunani. Namun jauh sebelum Yunani Sarah Busyra. AuDiskursus Hermeneutika Dan Kritik Terhadap Studi QurAoan Kontemporer,Ay Transformatif 5, no. : 1Ae12, https://doi. org/10. 23971/tf. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. permikiran moral telah ada dalam pemikiran Budha. Tokoh Budha dikisahkan bahwa ia mendapatkan pencerahan tentang hakikat diri dan menjadi manusia yang tercerahkan dibawah pohon Bodhi. Konsep Budha terkait manusia yang baik mulia adalah mereka yang telah menemukan pencerahan. Jalan menuju pencerahan adalah dengan menghilangkan ego diri kita. Apa yang kita sebut sebagai diri atau pribadi hakikatnya bukan diri kita sebagai manusia. Sebab pribadi dan diri itu dipenuhi dengan ego, keinginan. Sehingga untuk bisa mencapai pencerahan dan menemukan jati diri yang hakiki kita harus mengosongkan diri. Ia akan menjadi manusia yang mulia saat mencapai pencerahan dengan cara menghilangkan ego dan mengosongkan Konsep Yunani sangat berbeda dengan konsep Budha ini. Konsep Yunani tentang manusia yang baik mulia digambarkan dengan istilah bijak. Orang Yunani memahami pencerahan dengan kebijaksanaan, yang dikenal dengan istilah Sophia. Jalan atau cara mencapai kebijaksanaan dengan mengenali diri. Maka di pintu masuk kuil Apollo . ewa kebijaksana. ada tulisan: gnothi seautan yang artinya kenalilah Sehingga bagi Yunani mengenali diri dan ego dapat mengantarkan seseorang menjadi manusia bijak dalam artian yang baik mulia bermoral. Sedangkan bagi Budha menjadi orang yang baik bermoral mulia ditempuh dengan cara mengosongkan diri atau menghilangkan ego. Filsafat Yunani memiliki 2 cara untuk bisa mencapai kebijaksanaan. Konsep mengenali diri ada 2 cara, yaitu konsep pertama adalah pendapat Socrates dan Plato bahwa seseorang harus memahami pengetahuan tentang bentuk ideal dan pengetahuan tentang kebaikan untuk bisa mencapai manusia bijak. Kemudian konsep kedua adalah pendapat Aristoteles bahwa untuk mencapai kebijaksanaan dengan jalan pengetahuan tentang diri dan dunia nyata. Perbedaan pandangan antara Plato dan Aristoteles ini digambarkan dalam lukisan Raphael The School of Athens, dimana Plato digambarkan menunjuk ke atas sebagai wujud bentuk ideal. Sedangkan Aristoteles digambarkan menunjuk ke bawah sebagai wujud lambang dunia nyata. Konsep pengembangan manusia menurut Plato digambarkan seperti sekelompok orang yang hidup dalam gua sejak lahir. Mereka dipenjara dalam gua. Mereka hanya bisa melihat bayangan aktivitas orang di luar gua. Sehingga mereka hanya melihat bayangan yang bersifat hitam putih dan dua dimensi. Kemudian salah seorang diperbolehkan keluar dari gua. Maka ia menyaksikan secara real dunia yang sebenarnya yang selama ini hanya ia saksikan lewat bayangan-bayangan tanpa Ia kemudian menyaksikan hakikat itu semua, sehingga ia memiliki bentuk pemahaman ideal. Kemudian ia kembali ke dalam gua dan berusaha menjelaskan bentuk ideal tersebut kepada orang-orang gua tersebut. Kehidupan orang-orang gua LP Nucci and D Narvaez. Handbook Pendidikan Moral Dan Karakter (Bandung: Nusa Media, n. Nucci and Narvaez. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf ini kemudian mengacu pada bentuk ideal yang dijelaskan oleh orang yang telah menyaksikan dunia luar. Inilah ilustrasi bentuk ideal yang dijelaskan oleh Plato. Konsep pengembangan manusia menurut Aristoteles secara rinci terdiri dari 2 Bagian pertama konsep tentang telos, bahwa hidup manusia harus sesuai dengan rasio artinya hidup manusia harus sesuai dengan pemikiran yang benar atau akal sehat. Bagian kedua adalah Habituation yang artinya pembiasaan. Jadi manusia harus memikirkan dengan akal sehat dan pemikiran yang sehat tentang tujuan yang baik dari hidupnya kemudian langkah selanjutnya melakukan pembiasaan terhadap arah tujuan hidup yang baik itu. Falsafah Pendidikan moral atau Pendidikan karakter berlandaskan pada konsep pengembangan manusia Plato dan Aristoteles. Menurut Plato pengembangan manusia dilakukan dengan penerapan prinsip-prinsip abadi atau bentuk ideal atau pengetahuan tentang kebaikan abadi. Sedangkan Aristoteles berpandangan bahwa pengembangan manusia dilakukan dengan penalaran moral sebagai interpretasi atas situasi disini dan sekarang. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep Pendidikan karakter yang dikembangkan dari teori-teori moral, teori social dan teori psikologi diantaranya : Teori Deontologi Berakar dari kata deon yang bermakna kewajiban atau sesuatu yang perbuatan baik dikatakan baik karena sebuah kewajiban bagi manusia dan perbuatan buruk dikatakan buruk karena terlarang. Teori Deontologi berasal dari 2 kata yaitu deon dan logos. Kata deon secara bahasa berarti keharusan, kewajiban, sesuatu yang diwajibkan dan logos berarti ilmu. Dengan begitu secara harfiah deontologi adalah teori tentang kewajiban. Pengertian ringkasnya adalah suatu ilmu yang membahas kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan Adapun secara terminologi, deontologi adalah aliran filsafat etika yang memandang bahwa kewajiban moral dapat diketahui dengan rasio tanpa memerhatikan konsekuensinya. Deontologi adalah suatu pendekatan etika yang menilai moralitas tindakan berdasarkan kewajiban intrinsik atau aturan moral. Artinya, suatu tindakan dianggap baik atau buruk berdasarkan kepatuhan pada prinsip atau norma tertentu, tanpa memandang akibat-akibatnya. Teori ini disebut Etika Kewajiban atau Etika Deontologis Immanuel Kant. Prinsip utama teori moral ini adalah tindakan yang dianggap baik merupakan tindakan yang sesuai dengan kewajiban moral yang Nucci and Narvaez. R Effendi. AuKewajiban Dalam Pemikiran Immanuel Kant Dan Relevansinya Dengan Akhlak Islam,Ay Jurnal Al-Aqidah 12, no. , https://doi. org/doi. org/10. 15548/ja. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. bersifat universal. Kant menekankan pentingnya mengikuti kategori imperatif, yaitu prinsip moral yang dapat dianggap sebagai suatu aturan universal. Keputusan moral didasarkan pada kewajiban intrinsik dan nilai-nilai moral yang bersifat mutlak. Sebuah tindakan dianggap etis jika itu sesuai dengan norma moral yang universal, tanpa memandang konsekuensinya. Kant menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk bertindak sesuai dengan aturan moral, terlepas dari hasil atau akibat yang mungkin terjadi. Teori deontologi, menekankan pentingnya kewajiban moral yang bersifat Dalam konteks pendidikan karakter, ini dapat diartikan sebagai upaya untuk mengajarkan siswa tentang kewajiban-kewajiban moral yang mendasar, seperti jujur, adil, dan menghormati hak-hak orang lain. Nilai universalisme vang dimaksud Immanuel Kant, yaitu ide bahwa aturan moral harus bersifat universal dan berlaku untuk semua orang. Seperti moral universal hak asasi manusia atau yang disebut HAM. Dalam konteks pendidikan karakter, konsep ini dapat diterjemahkan sebagai upaya untuk mengajarkan nilai-nilai yang berlaku untuk semua individu, tanpa memandang latar belakang budaya atau kepercayaan. Deontologi mendorong manusia untuk bertindak sesuai dengan kewajiban moral mereka tanpa memandang hasil atau konsekuensi. Seseorang berbuat dikarenakan keharusan perbuatan itu bukan lainnya, tidak memikirkan akibat perbuatan tersebut atau tujuan arah perbuatan tersebut. Teori deontologi menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia. Pendidikan karakter dapat mengajarkan siswa tentang nilai-nilai hak asasi manusia dan pentingnya menghormati dan melindungi hak-hak orang lain. Teori Konsekuensialisme Konsekuensialisme adalah salah satu pendekatan etika yang menilai moralitas tindakan berdasarkan konsekuensi atau hasil yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap baik atau buruk berdasarkan akibat atau hasil yang dihasilkannya. Teori ini berfokus pada akibat-akibat tindakan, bukan pada motif atau niat di balik tindakan tersebut. Akibat yang dipandang baik adalah yang menghasilkan kebahagiaan banyak Begitu juga sebaliknya keburukan adalah tindakan yang menghasilkan penderitaan atau kekecewaan banyak orang. Sehingga individu harus mempertimbangkan dan mengukur konsekuensi dari tindakan mereka. Ini mencakup memperhitungkan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul dari suatu Vira Firma Erisya. AuAsal Mula Teori Etika Dan Perkembangan Teori Etika Dari Tahun Ke Tahun,Ay Pusdansi. Org 2, no. : 1Ae8. 12 David Copp. Handbook Teori Etika Oxford (Bandung: Nusa Media, 2. 13 Copp. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf Pertimbangannya diukur pertimbangan banyak orang. Konsekuensialisme cenderung mengutamakan kepentingan banyak orang. Hal ini berarti bahwa, dalam mengevaluasi suatu tindakan, konsekuensialisme akan memperhitungkan dampaknya pada sebanyak mungkin orang. Social Learning Theory Social Learning Theory (Pembelajaran Sosia. adalah teori yang mengatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan observasi. Dalam konteks pendidikan karakter, teori ini memandang bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan lingkungan sosialnya. Karakter individu sangat terkait dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu, karakter seseorang terbentuk melalui pengalaman belajar dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Teori ini menekankan tentang pembelajaran dan pembentukan kepribadian secara Ia menekankan pentingnya lingkungan sosial. Teori Social Learning atau Teori Pembelajaran Sosial merupakan sebuah teori yang dikemukakan oleh Albert Bandura pada tahun 1977. Teori ini berfokus pada bagaimana seseorang belajar dari pengalaman-pengalaman sosial di sekitarnya, termasuk melalui pengamatan, imitasi, dan interaksi dengan orang lain. Albert Bandura menjelaskan ada 4 komponen penting dalam teori belajar sosial ini Memperhatikan . : memperhatikan suatu perilaku/objek. Menyimpan . : proses menyimpan apa yang telah diamati untuk Memproduksi gerakan motorik . otor reproductio. : menerjemahkan hasil pengamatan menjadi tingkah laku sesuai dengan model yang telah diamati. Penguatan dan motivasi . icarious-reinforcement and motivationa. : dorongan motivasi untuk mengulang-ulang perbuatan yang ada supaya tidak hilang. Dalam konteks pendidikan karakter, teori Social Learning dapat diterapkan dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang positif kepada siswa, baik melalui guru maupun melalui orang-orang di sekitar mereka. Siswa akan belajar dan meniru Arief Rahman. Juanda, and Ella Dwi Latifah. AuAnalisis Teori Etika Tentang Sosok Warga Negara Yang Baik,Ay Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial Dan Budaya 5, no. : 72Ae79. 15 Qurrotul Ainiyah. AuSocial Learning Theory Dan Perilaku Agresif Anak Dalam Keluarga,Ay Al-Ahkam Jurnal Ilmu SyariAoah Dan Hukum 2, no. , https://doi. org/10. 22515/alahkam. 16 Nurul Wahyuni and Wahidah Fitriani. AuRelevansi Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dan Metode Pendidikan Keluarga Dalam Islam,Ay Qalam: Jurnal Ilmu Kependidikan 11, no. : 60Ae66, https://doi. org/10. 33506/jq. Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. perilaku tersebut, dan secara bertahap akan menginternalisasi nilai-nilai dan karakter yang diinginkan. Selain itu, teori Social Learning juga menekankan pentingnya reinforcement atau penguatan dalam pembentukan karakter. Guru dapat memberikan reinforcement positif seperti pujian, hadiah, atau pengakuan atas perilaku yang diinginkan, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk menunjukkan perilaku tersebut lagi di masa depan. Lingkungan sosial yang negatif bisa berdampak dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, penting bagi guru dan orang tua harus bisa bekerja sama membentuk lingkungan yang baik, memberikan pengarahan yang tepat dan mendidik siswa tentang nilai-nilai positif yang harus dijunjung tinggi, serta memberikan pengawasan terhadap perilaku siswa di lingkungan sekitarnya. Menurut Bandura, perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi antara faktor lingkungan, perilaku, dan faktor personal seperti keyakinan, nilai, dan karakter. Kisah Bani Israil di surat Al AoAraf diawali dengan penjelasan tentang bagaimana akibat orang-orang yang menentang ayat-ayat Allah. Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan tentang kisah-kisah para nabi dan kaum mereka. Kisah Nabi Musa masih lanjutan dari kisah para nabi dan kaumnya. kisah tentang Nabi Nuh dan kaumnya yang sebagian besar membangkang. Nabi Hud dan kaumnya. Nabi sholeh dan kaumnya. Nabi Luth dan kaumnya, nabi syuaib dan kaumnya. Semuanya membantah dan mengingkari ayat-ayat Allah. Setelah menceritakan kisah nabi-nabi tersebut, maka dilanjutkan dengan kisah nabi musa yang diawali dengan Nabi Musa dan FirAoaun. FirAoaun bersama para pemuka kaumnya termasuk kelompok yang mengingkari ayat-ayat Allah, perhatikan akhir hidup orang yang mengingkari ayat Allah. Dalam rangka menyadarkan FirAoaun dan kaumnya. Allah menurunkan berbagai bukti dan hukuman kepada mereka. Peristiwa berbagai jenis musibah yang menimpa kaum FirAoaun Mesir merupakan sebuah peringatan dari Allah akibat mereka menolak utusan Allah. Dalam teori moral diterangkan bahwa sikap perbuatan baik dan buruk dinilai dari akibat yang dihasilkan perbuatan tersebut. Jika akibatnya baik maka perbuatan itu baik jika akibatnya buruk merugikan maka perbuatan itu buruk teori ini disebut dengan Konsekuensialisme. Kisah tertimpanya kaum FirAoaun Mesir dengan berbagai musibah sebagai akibat sikap mereka yang menolak nabi Allah merupakan sikap yang salah dan buruk sebab mengakibatkan berbagai musibah yang menimpa mereka. Sebagaimana analisa dari teori Konsekuensialisme. Allah menurunkan berbagai bukti dan hukuman kepada mereka dalam rangka menyadarkan FirAoaun dan kaumnya. Kisah berbagai bukti dan hukuman kepada kaum FirAoaun merupakan sebuah teori moral konsekuensialisme. Sikap dan Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf perbuatan menentang dakwah Nabi Musa, dan sikap mengingkari janji mempunyai akibat musibah bencana alam yang menimpa mereka kaum FirAoaun. Teori Konsekuensialisme juga terlihat dari kisah diselamatkannya Bani Israil dari kekejaman Raja FirAoaun dan dimusnahkannya FirAoaun dan pengikutnya. Sebagaimana dijelaskan di awal kisah tentang akhir hidup orang-orang yang menentang ayat-ayat Allah, menentang para nabi Allah. Akhir hidup mereka semuanya dimusnahkan. Demikian juga dengan Raja FirAoaun, ia dan bala tentanya ditenggelamkan oleh Allah di laut. Mereka tenggelam saat mengejar Bani Israil yang keluar Mesir hingga Bani Israil menyebrangi lautan dengan cara lautan yang terbelah. FirAoaun dan bala tentaranya mengejar Bani Israil dengan mengikuti Bani Israil menyeberangi lautan yang terbelah tersebut. Ketika semua kaum Bani Israil berhasil sampai di daratan, maka lautan yang terbelah itu tiba-tiba tertutup Kembali menjadi lautan, sehingga FirAoaun dan bala tentaranya digulung oleh lautan tersebut dan mati tenggelam di lautan. Ini merupakan akibat perbuatan mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. FirAoaun dan kaumnya tidak mau beriman kepada nabi Allah. Berbeda dengan kaum Bani Israil, mereka diselamatkan Allah karena beriman kepada nabi Allah Musa. Kesombongan menjadi sebab kaum FirAoaun tidak mau beriman kepada Nabi Musa. Sifat sombong yaitu merendahkan orang lain atau merendahkan kaum lain. Mereka merasa sebagai kaum yang mulia mengapa harus tundak mengikuti keyakinan kaum yang hina Bani Israil. Walaupun berbagai bukti telah jelas dihadapan Kisah kaum Bani Israil setelah terlepas dari kekejaman kaum FirAoaun, mereka melanjutkan perjalanan bersama Nabi Musa. Bani Israil mendapatkan nikmat hidayah dari Allah dengan keistimewaan bahwa Nabi mereka yang dipilih menjadi manusia terpilih berupa diberinya risalah dan berbicara secara langsung dengan Allah. Untuk bisa berbicara langsung dengan Allah merupakan sebuah kehormatan yang tidak didapat oleh setiap manusia. Kenikmatan ini harus disesuaikan dengan rasa syukur dan berpegang teguh kepada risalah Allah yang telah diturunkan. Allah telah memberi risalah Nya sebagai pedoman hidup bahagia dunia akhirat, tugas selanjutnya kaum Bani Israil harus bisa bersungguh-sungguh dalam berpegang teguh ke risalah yang telah diberikan Allah. Demikianlah setelah menerima nikmat yang besar dari Allah merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan yang tinggi. Namun harus ada timbal balik dari nikmat tersebut yaitu berpegang teguh pada risalah Allah sebagai wujud rasa bersyukur. Rasa syukur merupakan sikap moral baik yang sudah menjadi keharusan bagi manusia kepada Allah. Sebagaimana teori moral deontology atau teori kewajiban. Moral bersyukur merupakan moral kewajiban yang sudah dipahami oleh setiap Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. Rasa syukur dan terima kasih adalah kewajiban yang disadari oleh setiap Bani Israil telah menerima nikmat yang banyak dari Allah. Hal tersebut terjadi ketika Bani Israil dan Nabi Musa tersesat di padang pasir. Mereka dihukum oleh Allah karena mereka menolak perintah Allah untuk berjihad perang melawan orang-orang kafir kaum Amalik yang tinggal di Baitul Maqdis. Ketika di padang pasir terjadi beberapa peristiwa sebagai mukjizat Nabi Musa, agar Bani Israil dapat tunduk dan patuh kepada Nabi Musa. Mereka diberi air yang keluar dari batu secara ajaib setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu, maka terpancarlah 12 mata air dari batu Sehingga masing-masing suku Bani Israil dapat minum dengan baik. Bani Israil juga menerima makanan dari langit berupa manna dan salwa, sehingga mereka dapat makan dan minum dengan tanpa bersusah payah untuk mencarinya, semua tersedia bagi Bani Israil. Mereka hanya diminta untuk fokus beribadah kepada Allah sebagai rasa syukur atau terima kasih kepada Allah. Mereka juga mendapatkan naungan awan selama mereka melakukan perjalanan di siang hari sehingga mereka tidak merasa kepanasan. Nikmat lainnya juga mereka dapatkan dengan kemenangan dalam perang dengan kaum Amalik untuk bisa memasuki kota Baitul Maqdis. Allah membukakan Anegeri itu bagi mereka pada sore hari Jum'at. Pada hari itu perjalanan matahari ditahan sebentar . leh Alla. hingga akhirnya mereka mendapatkan kemenangan. Kemudian Allah memerintahkan mereka memasuki pintu negeri itu (Baitul Maqdi. sambil bersujud dan memohon ampun . emohon dibersihkan dari kesalaha. , sebagai pernyataan syukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka, berupa kemenangan, pertolongan dan kembalinya negeri mereka, serta selamatnya mereka setelah tersesat di padang Sahara. Berbagai kenikmatan dan kebaikan mereka terima agar mereka bersikap baik juga, hal ini sebagaimana teori Positive Psychology. Teori ini menekankan pada pentingnya membentuk karakter yang positif dan berkembang secara optimal. Pendidikan karakter dengan pendekatan positif-psikologi mencakup pembelajaran tentang kebahagiaan, kepuasan hidup, rasa syukur, dan pengembangan keterampilan Mengembangkan karakter dari hal-hal yang baik. Bani Israil menerima berbagai kebaikan dan kebahagiaan dari Allah, agar bisa tumbuh sifat dan perilaku baik seperti rasa syukur, mentaati aturan Allah dan lainnya. teori Positive Psychology menekankan pentingnya pengembangan kekuatan dan nilai-nilai positif pada diri Kebaikan-kebaikan yang diberikan sebagai stimulus untuk melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Lingkungan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang, sehingga kaum yang buruk melanggar aturan-aturan Allah dipisah dengan kaum yang baik sebagaimana kisah Bani Israil yang tinggal di pantai dan sebagian dari mereka Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 The Values of Character Education in the Story of Prophet Moses and the Israelites in the Quran. Surah Al-A'raf melakukan pelanggaran kemuliaan hari sabtu. Hal ini sesuai dengan Social Learning Theory (Teori Pembelajaran Sosia. adalah teori yang mengatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh pengalaman belajar dan observasi di lingkungan sosial. Seseorang bisa belajar moral dari lingkungan sosialnya, ia melakukan pengamatan, kemudian berinteraksi dan akhirnya melakukan peniruan. Secara rinci proses tersebut dilalui pada 4 tahap: tahap pertama ia memperhatikan perilaku dalam hal ini seseorang melihat tetangganya melakukan penangkapan ikan di hari sabtu dengan cara mengikat tali yang berisi ikan di pinggir laut dan membiarkan ikan tersebut dilaut artinya ikan tidak diambil dari laut. Pada malam hari baru diangkat ikan tersebut dari laut. Orang tersebut setelah melakukan hal tersebut tidak mendapatkan azab dari Allah. Tahap kedua ia mengingat tentang cara penangkapan ikan tersebut, sehingga tidak mendapatkan azab Allah. Tahap ketiga ia meniru perbuatan tersebut. Tahap keempat ia kembali mengulang perbuatan tersebut dengan keyakinan yang pasti bahwa perbuatan tersebut tidak mendapatkan azab dari Allah walaupun sudah diperingatkan oleh orang lainnya. Disebabkan kedurhakaan dan pertentangan Bani Israil terhadap perintahperintah Allah, seperti melakukan tipu muslihat terhadap aturan-aturan Allah, merubah-rubah aturan Allah, membangkang perintah Allah dan lainnya. Azab Allah yang menimpa Bani Israil terus berlanjut. Mereka mendapatkan siksaan dari berbagai kaum yang silih berganti menindas mereka. Sehingga mereka tidak dapat hidup secara tentram dan nyaman. Hal ini dikarenakan mereka selalu melanggar aturan Allah, berbuat kekafiran, kemaksiatan. Sehingga mereka pantas mendapatkan siksaan Kisah ini menunjukkan teori konsekuensialisme, bahwa akibat tidak bisa berpengang teguh dengan pedoman risalah Taurat, tidak bisa mentaati aturan-aturan Allah dalam Taurat, kaum Bani Israil selalu hidup dalam penderitaan, mereka tidak bisa hidup tenang dan tentram. Keharusan atau kewajiban untuk memenuhi janji merupakan sebuah teori Bani Israil telah membuat janji dengan Allah bahwa mereka akan berpegang teguh pada kitab Taurat. Janiji tersebut harus dilaksanakan sebagaimana teori deontology yang menerangkan bahwa memenuhi janji merupakan sebuah kewajiban bagi setiap manusia. KESIMPULAN Bani Israil banyak dikisahkan dalam Al-QurAoan, hal ini dimaksudkan sebagai contoh diambil hikmah dan pelajaran. Kisah-kisah dalam Al-QurAoan dimaksudkan sebagai pelajaran bagi umat manusia di akhir zaman. Ibnu Kasir dan Imam Tobari menjelaskan bahwa Bani Israil merupakan kaum keturunan Nabi Yakub. Nabi Yakub Ad-Daqqoq: Vol. 1 Issue 1, 2025 Mahsun Jayadi et al. mendapat panggilan Israil karena ketekunannya dalam beribadah kepada Allah. Makna Israil adalah hamba Allah yang dalam Bahasa arab disebut Abdullah. Bani Israil merupakan salah satu kaum yang dikisahkan dalam Al-QurAoan sebagai pelajaran bagi suku-suku lain. Allah menjelaskan dalam kisah Bani Israil di surat Al-AoAraf ayat 168 bahwa diantara kaum Bani Israil ada orang-orang yang baik dan ada orang-orang yang jahat. Hal ini sama dengan suku dan kaum lainnya dimana aka nada orang-orang yang baik dan ada orang-orang yang jahat. Diantara orangorang yang baik ada orang-orang yang berdakwah memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan, memberi nasehat. Sebagaimana kisah Bani Israil yang tinggal di tepi pantai, ketika ada orang-orang yang berbuat dosa, maka ada orang-orang yang memberi nasehat. Budaya seperti ini harus ada di setiap suku bangsa sebagaimana Allah contohkan di suku Bani Israil. Teori dominan dalam kisah Bani Israil ini adalah teori konsekuensialisme. Penanaman moral karakter dengan cara memberi berbagai musibah sebagai hukuman dan menjelaskan akibat buruk jika perbuatan buruk dilakukan. Hukuman musibah merupakan penjelas akan akibat sikap, dan perbuatan yang buruk dan harus Nikmat yang diterima sebagai stimulus untuk perbuatan baik seperti rasa syukur, balas Budi dan lainnya. Teori deontologi juga banyak ditemukan dalam kisah ini. Kewajiban yang harus dilakukan sebagai sebuah aturan hidup. Dalam kisah ini tertuang dalam pedoman taurat. Aturan-aturan yang diwajibkan kepada Bani Israil terdapat dalam kitab Taurat. Dalam kisah Bani Israil di surat AlAoAraf ayat 103 sampai 170 memiliki pelajaran dan hikmah. Kisah Bani Israil di surat AlAoAraf ayat 103 sampai 170 memiliki nilai karakter antara lain: nilai karakter sabar, tunduk patuh, berpegang teguh, berilmu, tidak sombong. Nilai karakter sabar terlihat pada sikap Bani Israil yang sabar menerima penderitaan dibawah penindasan FirAoaun. Kemudian nilai karakter tundk patuh terlihat pada sikap para ahli sihir yang mau tunduk patuh kepada Allah. Nilai karakter berpegang teguh terlihat pada perintah kepada Bani Israil untuk berpegang teguh pada kitab Taurat. Nilai karakter berilmu terlihat pada peristiwa memintanya Bani Israil patung untuk disembah, kemudian Nabi Musa menyatakan bahwa kalian kaum yang tidak berilmu atau kaum yang bodoh. Maka Nabi Musa menjelaskan keagungan Allah sebagai tuhan yang benar untuk disembah. Nilai karakter tidak sombong terlihat pada kisah kaum FirAoaun yang sombong tidak mau menerima kebenaran karena memandang rendah kaum Bani Israil. DAFTAR PUSTAKA