ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS PADA IBU HAMIL DI POLI KEBIDANAN RS BUDI KEMULIAAN BATAM Sukma Sahreni1. Dino Gagah,P2. Fikri Septian3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, sukmasahreni@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, dinogagah@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, fikriseptian31@gmail. ABSTRACT Background: Abortion is still a big problem in Indonesia in terms of epidemiology, morbidity, mortality, and prognosis. The unclear pathogenesis due to the uncertainty of etiology and risk factors is reflected in research design with a case control approach. The sampling technique used is purposive sampling with a sample of 69 people. Sources of data used in this study is medical records. Data analysis using Chi Square statistical test. Method : This study uses an analytical observational research design with a case control approach. The sampling technique used is purposive sampling with a sample of 69 people. Sources of data used in this study is medical records. Data analysis using Chi Square statistical test. Results: From the results of the study, it was found that parity, maternal age, and iron deficiency anemia had a relationship with the incidence of abortion, while a history of abortion had no relationship with the incidence of abortion. The results of the Chi Square statistical test showed that the p-value for parity was 0,000, maternal age was 0,000, history of abortion was 0,779, and iron deficiency anemia was 0,007. Conclusion: Based on the results of data processing, it can be concluded that there is a significant relationship between parity, maternal age, and iron deficiency anemia with the incidence of abortion and there is no significant relationship between the history of abortion and the incidence of abortion at the obstetrics poly at Budi Kemuliaan Hospital Batam. Keywords: Abortion. Parity. Maternal age. History of abortion, and Iron deficiency anemia ABSTRAK Latar Belakang: Abortus saat ini masih merupakan masalah besar di indonesia dilihat dari epidemiologis, mordibitas, mortalitas, dan prognosisnya. Ketidakjelasan patogenesis akibat adanya ketidakpastian etiologi dan faktor risiko yang direfleksikan pada belum adanya perlakuan yang mampu mendeteksi sedini mungkin mencegah kejadian abortus. Abortus dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko seperti paritas, umur ibu, riwayat abortus, dan anemia defisiensi besi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan case Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel berjumlah 69 orang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medik. Analisis data dengan menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa paritas, umur ibu, dan anemia defisiensi besi memiliki hubungan dengan kejadian abortus, sedangkan riwayat abortus tidak memiliki hubungan dengan kejadian abortus. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan nilai p untuk paritas 0,000, umur ibu 0,000, riwayat abortus 0,779, dan anemia defisiensi besi 0,007 Kesimpulan: Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara paritas, umur ibu, dan anemia defisiensi besi dengan kejadian abortus dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat abortus Kata Kunci: Abortus. Paritas. Umur ibu. Riwayat abortus, dan Anemia defisiensi besi Universitas Batam Page 239 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 PENDAHULUAN Wanita berumur 45 tahun atau lebih risikonya Abortus merupakan fetus dengan berat meningkat 74,7%. Diduga makin tinggi usia kurang dari 500 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu pada saat keluar dari Hal uterus, yang tidak mempunyai kemungkinan peningkatan angka kelainan kromosom pada Kejadian abortus bisa baik secara usia yang lebih tinggi (Utami, 2. (Akbar. Pada faktor paritas, persalinan yang Tjokroprawiro, & Hendarto, 2. Pada awal pertama kali . biasanya mempunyai kehamilan, keguguran merupakan kejadian risiko relatif tinggi terhadap ibu dan anak, yang biasa terjadi. Sebagian besar keguguran kemudian risiko ini akan menurun pada paritas awal berasal dari kelainan genetik atau alasan kedua dan ketiga, dan akan meningkat lagi yang belum teridentifikasi. Dengan demikian, pada paritas keempat dan seterusnya (Mochtar, peluang untuk pencegahan saat ini masih kecil Frekuensi (Gant & Cunningham, 2. dengan angka graviditas, sekitar 6% abortus National Health Service (NHS) tahun . terjadi pada kehamilan pertama atau kedua dan memperkirakan 23 juta kejadian abortus meningkat menjadi 16% pada kehamilan spontan terjadi setiap tahun di seluruh dunia, yang berarti 44 kejadian abortus spontan setiap (Koekoeh Hardjito. Estuning Rahayu, & Fitri menitnya (Quenby et al. , 2. Di indonesia Meilia, n. ) dalam penelitian (Hardjito, sendiri, menurut Badan Litbang Kesehatan Budiarti, & Nurika, 2. bahwa pada wanita primigravida sekitar 5,6% mengungkapkan bahwa angka kejadian abortus kehamilan berakhir dengan abortus dan 2,2% Berdasarkan Riskesdas Sedangkan (Kemenkes, 2. Kalau dilihat per provinsi, selanjutnya pada wanita yang telah memiliki angka ini bervariasi mulai terendah 2,4% yang terdapat di Bengkulu sampai dengan yang Terdapat tertinggi 6,9% di Papua Barat (Pranata & mempengaruhi terjadinya kejadian abortus. Sadewo, 2. Namun beberapa faktor penting yang dapat Berbeda dengan data abortus induksi, mempengaruhinya antara lain umur ibu, paritas Diperkirakan 1,7 juta kejadian aborsi terjadi di dan riwayat abortus. Berdasarkan data yang pulau Jawa pada tahun 2018. Data tersebut diperoleh dari beberapa Iiteratur diatas, angka sesuai dengan angka 43 kejadian aborsi per kejadian abortus masih terbilang tinggi di 000 perempuan usia 15Ae49 tahun (Bass. Indonesia. pendahuluan yang telah dilakukan di Rumah meningkat seiring meningkatnya usia. Risiko Sakit Budi Kemuliaan Batam, dikumpulkan abortus wanita usia 20-24 tahun adalah 8,9%. Dari hasil 967 kunjungan ibu hamil di poli Wanita Universitas Batam Berdasarkan Page 240 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Budi Kemuliaan Batam, didapatkan 158 yang menderita ibu hamil yang menggunakan uji Chi Square yang dilakukan mengalami abortus selain umur ibu, paritas, secara komputerisasi. Batas atau tingkat dan riwayat abortus terdapat riwayat anemia kemaknaan yang digunakan dalam penelitian defisiensi besi yang juga berperan penting ini yaitu nilai 0,05. Odds Ratio (OR) dalam faktor risiko terhadap kejadian abortus. digunakan untuk membandingkan pajanan Berdasarkan diantara kelompok kasus terhadap pajanan dipaparkan diatas melihat masih tingginya pada kelompok kontrol. Untuk mendapatkan angka kejadian abortus yang terjadi di RS besarnya risiko terjadinya efek pada kasus. Budi Kemulian Batam. Maka peneliti tertarik maka digunakan odds ratio dengan bantuan untuk melakukan penelitian faktor-faktor apa table kontingensi 2x2. saja yang dapat berhubungan dengan kejadian HASIL DAN PEMBAHASAN abortus pada ibu hamil di Poli Kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Paritas METODE PENELITIAN Penelitian Januari 2022, bertempat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam. Jenis penelitian yang Observasional Analitik dengan pendekatan Case Control. Jumlah sampel dalam penelitian adalah 68 sampel menggunakan Purposive Sampling memakai rumus Finit pada populasi 967 pasien ibu hamil di poli kebidanan RS budi kemuliaan Batam. Metode menggunakan data sekunder berupa rekam Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Chi-Square. Terdapat 3 jenis analisis data pada penelitian ini. Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan digambarkan berdasarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel. Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga Universitas Batam Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Paritas Paritas Risiko Rendah Risiko Tinggi Total Frekuensi . Persentase (%) Pada Tabel 1. dapat dilihat bahwa dari 68 sampel yang menjadi sampel penelitian didapatkan 39 sampel . ,4%) yang berada dalam kategori paritas risiko rendah dan sebanyak 29 sampel . ,6%) yang berada dalam kategori paritas risiko tinggi. Paritas adalah jumlah kelahiran yang pemah dialami oleh wanita. Paritas merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya spontan, dimana jumlah kehamilan ataupun paritas mempengaruhi kerja alat-alat Semakin tinggi paritas maka akan semakin berisiko kehamilan dan persalinan, karena pada wanita yang sering penurunan elastisitas pada dinding rahim (Mahdiyah. Rahmawati, & Lestari, 2. Page 241 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Berdasarkan hasil penelitian ini dari 68 sampel penelitian didapatkan sebanyak 29 bertambah umur, semakin bertambah pula sampel . %) ibu hamil berada pada kategori risiko terjadinya masalah saat kehamilan. paritas risiko tinggi. Hal tersebut dapat Dalam penelitian ini menunjukan bahwa lebih dari setengah sampel . ,7%) ibu hamil terjadinya abortus saat masa kehamilan. berada pada kategori umur yang berisiko Tingginya paritas seorang ibu akan semakin tinggi, hal tersebut dapat mengakibatkan meningkatnya riwayat abortus yang terjadi, kondisi ibu hamil lebih berisiko terjadinya sehingga seiring bertambahnya paritas akan abortus pada saat masa kehamilan yang mengakibatkan risiko terjadinya abortus dan berbahaya bagi ibu. keguguran dapat terjadi pada usia muda Distribusi karena pada usia muda/remaja alat reproduksi belum matang dan belum siap untuk hamil. Kehamilan maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20- Frekuensi Berdasarkan Riwayat Abortus Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Abortus Riwayat Abortus Risiko Rendah Risiko Tinggi Total Frekuensi Persentase . (%) 29 tahun. Kematian maternal meningkat (Rochmawati. Sulastri. Zulaicha, & Kp. Frekuensi Berdasarkan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu Risiko Rendah Risiko Tinggi Total riwayat abortus dengan kategori risiko rendah dan sebanyak 17 sampel . %) memiliki Umur Ibu Umur Ibu sampel yang menjadi sampel penelitian didapatkan 51 sampel . %) tidak memiliki Distribusi Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa dari 68 Frekuensi Persentase . (%) riwayat abortus dengan kategori risiko tinggi. Kejadian abortus diperkirakan mempunyai efek y terhadap kehamilan berikutnya, baik pada timbulnya penyulit kehamilan maupun pada hasil kehamilan itu sendiri. Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 68 yang lebih tinggi untuk terjadinya persalinan sampel yang menjadi sampel penelitian prematur, abortus didapatkan 33 sampel . ,5%) berada dalam Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). kategori umur ibu risiko rendah dan sebanyak Distribusi 35 sampel . ,5%) berada dalam kategori umur ibu risiko tinggi. Umur adalah salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang baik Universitas Batam berulang, bayi dengan Frekuensi Berdasarkan Anemia Defisiensi Besi Tabel 4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Anemia Defisiensi Besi Anemia Defisiensi Frekuensi . Persentase (%) Page 242 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 Perubahan fisiologi yang alami terjadi selama Besi Tidak ADB ADB Total kehamilan akan mempengaruhi jumlah sel darah normal pada kehamilan. Peningkatan volume darah ibu terutama terjadi akibat Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa dari 68 sampel yang menjadi sampel penelitian didapatkan 31 sampel . ,6%) berada dalam kategori tidak anemia defisiensi dan 37 sampel . ,4%) berada dalam kategori anemia defisiensi . ekurangan kadar hemoglobi. Salah satu penyebab anemia defisiensi besi yaitu malnutrisi yang berat merupakan terjadinya kejadian abortus. Sebagian besar mikronutrien dilaporkan mempunyai nilai dalam mengurangi risiko terjadinya abortus Akan tetapi bukti yang kuat untuk menyokong pendapat tersebut masih sangat Namun mengandung zat besi (F. dapat menjadi salah menyebabkan anemia defisiensi besi (ADB) Ibu mengkonsumsi zat besi selama kehamilan, meningkat selama kehamilan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan sebanyak 37 sampel . ,4%) ibu hamil berada pada kategori anemia defisiensi besi. Masih tingginya anemia defisiensi besi pada ibu hamil hal ini dapat menyebabkan ibu hamil lebih berisiko terjadinya abortus saat masa kehamilan. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11 g/dL pada trimester 1 dan 3. Universitas Batam peningkatan jumlah sel darah merah di dalam sirkulasi, tetapi jumlahnya akan seimbang dengan peningkatan volume plasma darah. Ketidakseimbangan ini akan terlihat dalam bentuk penurunan kadar Hb. Dalam penelitian ini kejadian anemia diukur menggunakan pemeriksaan darah lengkap kadar jumlah ferritin dan kadar Hb. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Abortus Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Abortus Kejadian Abortus Tidak Abortus Abortus Frekuensi . Persentase (%) Total Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa dari 68 sampel yang menjadi sampel penelitian didapatkan 34 sampel . %) berada dalam kategori tidak abortus dan sebanyak 34 sampel . %) berada dalam kategori abortus. Abortus adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidup, sebelum kehamilan berumur 22 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus ditandai terjadinya pendarahan pada wanita yang sedang hamil, dengan peralatan USG. Abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis, pertama adalah abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG akan menunjukkan kantong kehamilan yang kosong, jenis yang kedua adalah abortus Page 243 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 karena kematian janin, dimana janin tidak banyak ialah jenis abortus inkomplete, karena menunjukkan tanda kehidupan seperti denyut ibu datang ke fasilitas kesehatan dengan jantung (Rukiyah & Yulianti, 2. perdarahan yang banyak di rumah dan Hasil menunjukkan jenis abortus paling didiagnosa abortus inkomplete saat di RS. Analisis Bivariat Analisis Hubungan Paritas dengan Kejadian Abortus Tabel 6. Analisis Hubungan Paritas dengan Kejadian Abortus Kejadian Abortus Tidak Abortus Abortus Paritas Risiko Rendah (Paritas 2 atau . Risiko Tinggi . Total Total % CI) P-Value 7,071 0,000 . ,380-21,. Pada Tabel 6 didapatkan bahwa dari 39 paritas 2/3 di Poli Kebidanan RS Budi sampel yang berada pada kategori paritas Kemuliaan Batam Menurut peneliti ibu hamil risiko rendah, terdapat 27 sampel . ,2%) dengan paritas resiko rendah dan tinggi yang tidak terjadi kejadian abortus dan 12 sampel tidak mengalami kejadian abortus karena . ,8%) terjadi kejadian abortus. Dari 29 sampel yang berada pada kategori paritas dikarenakan selain paritas, dimungkinkan risiko tinggi, terdapat 7 sampel . ,1%) tidak karena indikasi medis misalnya apabila terjadi kejadian abortus dan 22 sampel kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan . ,9%) terjadi kejadian abortus. Dari tabel 6 jiwa ibu atau pada abortus kriminalis abortus juga menunjukkan bahwa dari hasil uji sengaja dilakukan karena kehamilan tidak statistik dengan Chi Square antara variabel diinginkan sehingga dilakukan abortus yang paritas dengan kejadian abortus didapatkan p- tidak legal . idak berdasarkan indikasi medi. value sebesar 0,000 (<0,. , maka dapat Ibu yang mengalami abortus spontan di ruang ditarik kesimpulan bahwa H01 ditolak, dimana bersalin bukan disebabkan karena faktor risiko terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian abortus pada ibu hamil di poli penyebab lain yang tidak diteliti seperti faktor kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam. janin, jarak kehamilan, penyakit infeksi. Hasil uji juga diperoleh nilai odds ratio (OR) 7,071 dengan CI . ,380- 21,. artinya bahwa ibu hamil dengan faktor-faktor hipertensi, kelainan traktus genetalia dan kelainan pertumbuhan konsepsi. Bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan paritas 1 dan >3 memiliki risiko 7 kali lebih besar untuk mengalami kejadian abortus terjadinya abortus dikarenakan kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki yang berulang-ulang menyebabkan rahim Universitas Batam Page 244 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 tidak sehat. Dalam hal ini kehamilan yang akan berkurang dibanding pada kehamilan sebelumnya, keadaan ini dapat menyebabkan pembuluh darah pada dinding uterus yang kematian pada janin ibu. Apabila kehamilan akan mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu. Analisis Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Abortus Tabel 7. Analisis Hubungan Umur Ibu dengan Kejadian Abortus Umur Ibu Risiko Rendah . Ae35 tahu. Risiko Tinggi (<20 atau >35 Total Kejadian Abortus Tidak Abortus Abortus Total P-Value 18,000 0,000 . % CI) . ,358-60,. Pada Tabel 7 didapatkan bahwa dari 33 dengan ibu hamil yang memiliki umur dengan sampel yang berada pada kategori umur ibu risiko rendah di Poli Kebidanan RS Budi risiko rendah, terdapat 27 sampel . ,8%) Kemuliaan Batam. Adapun menurut data yang tidak terjadi kejadian abortus dan 6 sampel di dapatkan Peneliti berpendapat masih . ,2%) terjadi kejadian abortus. Dari 35 banyaknya kejadian abortus berdasarkan umur sampel yang berada pada kategori umur ibu ibu hamil yang berisiko rendah dan tinggi risiko tinggi, terdapat 7 sampel . %) tidak pada ibu hamil khususnya di Kota Batam terjadi kejadian abortus dan 27 sampel . %) disebabkan masih tingginya pernikahan dini di terjadi kejadian abortus. Kota. Data laporan badan pusat statistik kota Dari tabel 4. 7 menunjukkan bahwa dari batam ditahun 2019-2020 diketahui bahwa hasil uji statistik dengan Chi Square antara tercatat 409 kasus pernikahan dini. Umur ibu variabel umur ibu dengan kejadian abortus didapatkan p-value sebesar 0,000 (<0,. , kejadian abortus. Ibu hamil yang mengalami maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H02 abortus dengan frekuensi terbanyak adalah ibu ditolak, dimana terdapat hubungan antara hamil dengan umur <20 tahun dan umur umur ibu dengan kejadian abortus pada ibu merupakan salah satu faktor penentu tinggi hamil di poli kebidanan RS Budi Kemuliaan rendahnya pengetahuan ibu tentang umur Batam. reproduksi sehat dan aman untuk kehamilan Hasil uji diperoleh nilai odds ratio (OR) dan saat persalinan, kenyataanya umur sangat sebesar 18,000 dengan CI . ,358-60,. artinya bahwa ibu hamil dengan umur risiko dibandingkan antara umur ibu yang tidak tinggi memiliki risiko 18 kali lebih besar bersiko . -35 tahu. dan yang beresiko (>35 mengalami kejadian abortus dibandingkan tahu. mengalami abortus, didapatkan lebih Universitas Batam Page 245 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 banyak mengalami abortus pada umur <20 terjadinya abortus pada ibu hamil akan faktor tahun, umur ibu >35 tahun angka kejadiannya lain yang beriringan dengan umur. Terdapat lebih sedikit dari umur ibu 20-35 tahun. Ini hubungan antara umur ibu dengan kejadian menunjukkan umur tidak menjadi penentu abortus pada ibu hamil di Poli Kebidanan. Analisis Hubungan Riwayat Abortus dengan Kejadian Abortus Tabel 8. Analisis Riwayat Abortus dengan Kejadian Abortus Kejadian Abortus Riwayat Abortus Tidak Abortus Abortus Risiko Rendah (Tidak Ad. Risiko Tinggi (Ad. Total Total P-Value . % CI) 1,170 0,779 . ,390-3,. Pada tabel 8 didapatkan bahwa dari 51 dari beberapa studi juga menyatakan bahwa sampel yang berada pada kategori riwayat ibu yang pernah mengalami abortus spontan 1 abortus risiko rendah, terdapat 26 sampel kali memiliki risiko abortus rekuren sebanyak . %) tidak terjadi kejadian abortus dan 25 15%, meningkat menjadi 25% apabila pernah sampel . %) terjadi kejadian abortus. Dari mengalami abortus sebanyak 2 kali, dan 17 sampel yang berada pada kategori riwayat meningkat lagi menjadi 30Ae45% setelah abortus risiko tinggi, terdapat 8 sampel mengalami abortus spontan 3 kali berturut- . ,1%) tidak terjadi kejadian abortus dan 9 sampel . ,9%) terjadi kejadian abortus. Dari tabel 4. 8 menunjukkan bahwa dari diketahui bahwa kejadian abortus tidak Peneliti hasil uji statistik dengan Chi Square antara berpendapat bahwa hubungan riwayat abortus variabel riwayat abortus dengan kejadian dengan kejadian abortus tidak bermakna abortus didapatkan p-value sebesar 0,738 (>0,. , maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kehamilan maternal pada ibu dan melahirkan H03 diterima, dimana tidak terdapat hubungan pada usia di bawah 20 tahun dimana ibu abortus pada ibu hamil di poli kebidanan RS kehamilan sebelumnya sehingga belum pernah Budi Kemuliaan Batam. memiliki riwayat abortus sebelumnya. Faktor Hasil uji juga diperoleh nilai OR sebesar penyebab dapat disebabkan tidak hanya satu 1,170 dengan CI . ,390-3,. Nilai odds faktor tapi lebih banyak faktor risiko, karena ratio (OR) 1, artinya artinya tidak terdapat pada hakekatnya antara satu faktor dengan asosiasi/hubungan antara faktor risiko dengan faktor yang lain saling berkaitan. Bisa karena kejadian abortus. adanya faktor-faktor lain misal aktivitas fisik Berdasarkan hasil penelitian ini dapat Data Universitas Batam ibu yang terjaga sehingga akan berpengaruh Page 246 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 terhadap kesehatan janin dan ibu itu sendiri. disebabkan oleh riwayat abortus. Ataupun kehamilan maternal pada ibu dan melahirkan pada usia di bawah umur 20 tahun dimana ibu Kejadian Abortus tidak belum merencanakan program KB. Analisis Hubungan Anemia Defisiensi Besi dengan Kejadian Abortus Tabel Tabel 9. Analisis Hubungan Anemia Defisiensi Besi dengan Kejadian Abortus Kejadian Abortus Anemia Defisiensi Tidak Abortus Abortus Besi Tidak ADB (> nilai norma. ADB (< nilai norma. Total Total P value 3,877 0,007 . % CI) . ,410-10,. Pada tabel 9 didapatkan bahwa dari 31 defisiensi besi di Poli Kebidanan RS Budi sampel yang berada pada kategori tidak Kemuliaan Batam. Anemia defisiensi besi anemia defisiensi besi, terdapat 21 sampel merupakan faktor maternal pada kejadian . ,7%) tidak terjadi kejadian abortus dan 10 Ibu hamil yang mengalami anemia sampel . ,3%) terjadi kejadian abortus. Dari defisiensi besi sangat rentan atau beresiko 37 sampel yang berada pada kategori anemia untuk terjadi abortus. Hal ini disebabkan defisiensi besi, terdapat 13 sampel . ,1%) karena dalam kehamilan zat besi berperan tidak terjadi kejadian abortus dan 24 sampel sebagai hematopoiesis . embentukan dara. ,9%) terjadi kejadian abortus. (H. Dari tabel 4. 9 menunjukkan bahwa dari Seorang ibu yang dalam masa kehamilannya hasil uji statistik dengan Chi Square antara telah menderita kekurangan zat besi tidak dapat memberi cadangan zat besi kepada p-value 0,007 bayinya dalam jumlah yang cukup untuk (<0,. , maka dapat ditarik kesimpulan bahwa beberapa bulan pertama kehamilan. Hal inilah H04 ditolak, dimana terdapat hubungan antara yang menyebabkan bahwa seorang ibu hamil yang mengalami anemia pada umur kehamilan abortus pada ibu hamil di poli kebidanan RS <20 minggu dapat menyebakan abortus Budi Kemuliaan Batam. (Wibowo & Regina Purba, 2. Hasil uji juga diperoleh nilai OR sebesar Peneliti berpendapat masih banyaknya 3,877 dengan CI . ,410-10,. artinya kejadian anemia pada ibu hamil khususnya di bahwa ibu hamil dengan anemia defisiensi Kota Batam disebabkan karena kurangnya besi memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk daya konsumsi ibu hamil terhadap makanan mengalami kejadian abortus dibandingkan yang dapat meningkatkan kadar Hb dan dengan ibu hamil yang tidak memiliki anemia kepatuhan untuk mengkonsumsi tablet Fe Universitas Batam Page 247 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 yang masih sangat kurang. Hal ini menjadi poli kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam faktor penyebab tingginya kasus anemia dan dengan nilai p=0,000. kejadian abortus di wilayah Kota Batam. Tidak terdapat hubungan bermakna antara Masih banyaknya ibu hamil anemia defisiensi riwayat abortus dengan kejadian abortus besi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh efek pada ibu hamil poli kebidanan RS Budi samping yang kurang nyaman dirasakan oleh Kemuliaan Batam dengan nilai p=0,779. ibu ketika mengkonsumsi zat besi, seperti Terdapat mual muntah, dan nyeri ulu hati. Hal tersebut anemia defisiensi besi dengan kejadian abortus pada ibu hamil poli kebidanan RS kurang/tidak patuh dalam mengkonsumsi Budi Kemuliaan Batam dengan nilai tablet Fe sehingga menyebabkan anemia. p=0,007. Alasan lain yaitu mereka lupa, malas, dan SARAN bosan jika setiap hari harus mengkonsumsi zat Bagi Sampel besi tersebut. Dari hasil penelitian ini diharapkan sampel KESIMPULAN untuk mengetahui faktor-faktor resiko yang Dari 68 sampel diketahui sebanyak 42,6% dapat menyebabkan kejadian abortus agar memiliki paritas kategori resiko tinggi dapat mengurangi resiko yang terjadi. Bagi pada ibu hamil poli kebidanan RS Budi ibu hamil terutama yang mempunyai paritas 1 Kemuliaan Batam. dan >3 agar dapat melakukan asuhan obstetri Lebih dari setengah sampel sebanyak yang adekuat, wajib mengikuti kelas ibu hamil 51,5% memiliki umur ibu kategori resiko selama proses kehamilannya untuk mencegah tinggi pada ibu hamil poli kebidanan RS terjadinya komplikasi pada saat kehamilan. Budi Kemuliaan Batam. Melakukan pemeriksaan ANC secara teratur Lebih dari setengah sampel sebanyak 75% pada tenaga kesehatan yang berwenang/ tidak memiliki riwayat abortus kategori bidan/dokter spesialis kandungan. Bagi Rumah Sakit kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam. Dari hasil penelitian ini diharapkan bisa Lebih dari setengah sampel sebanyak menjadi bacaan di rumah sakit untuk ibu 54,4% memiliki kategori anemia defisiensi hamil mengenai paritas, resiko umur ibu, besi pada ibu hamil poli kebidanan RS riwayat abortus, anemia defisiensi besi dan Budi Kemuliaan Batam. faktor-faktor Terdapat hubungan bermakna antara paritas kemungkinan gangguan dalam kehamilan dengan kejadian abortus pada ibu hamil khususnya mengenai kejadian abortus. poli kebidanan RS Budi Kemuliaan Batam Bagi Peneliti Selanjutnya dengan nilai p=0,000. Perlu Terdapat hubungan bermakna antara umur dengan jenis desain penelitian dan variabel ibu dengan kejadian abortus pada ibu hamil yang berbeda untuk lebih mengetahui faktor Universitas Batam Page 248 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 NO. 3 SEPTEMBER 2022 lain yang berhubungan dengan kejadian Ayu. Hubungan Paritas Dengan Kejadian Abortus Di Ruang Bersalin Rsud. UCAPAN TERIMA KASIH Dr. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Isramilda, yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA