https://jurnal. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA PASIEN GOUT ARTHRITIS DENGAN MASALAH NYERI Sri Novita . Resmi Pangaribuan *. Ade Irma Khairani Diploma i Keperawatan. Akademi Keperawatan Kesdam I/Bukit Barisan Medan. Indonesia *Email Korespondensi: resmi. pangaribuan131417@gmail. Abstract Gout arthritis is a joint inflammation caused by the accumulation of uric acid crystals in the joints. Family involvement in patient care is crucial for reducing pain complaints and evaluating the effectiveness of warm compress therapy in reducing pain. This research method uses a descriptive case study method with a family nursing care approach including assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. The inclusion criteria for this study were willingness to be respondents, family members with a medical diagnosis of gout arthritis and a nursing diagnosis of pain, age >45 years, male or female. The study was conducted at the Pulo Brayan Community Health Center for 1 week with 3 meetings. The instruments used were a family nursing assessment sheet, an observation sheet, and a warm compress SOP. The results of this study in both responses stated a decrease in pain in the affected limb, the first patient said a scale of 5 to 2, and the second patient from a scale of 6 to 3. Analysis of the research results showed that warm compresses were effective in reducing pain and required a family role in the care of gout arthritis patients. In conclusion and recommendations, active family involvement and routine non-pharmacological interventions are effective in reducing patient pain levels and increasing comfort during home care. Suggestions for families are expected to encourage them to play an active role in caring for family members with gouty arthritis. Keywords: Family Nursing Care. Gout Arthritis. Warm Compress. Abstrak Gouit arthritis adalah peiradangan seindi yang diseibabkan peinuimpuikan kristal asam uirat dalam seindi. Keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien sangat penting untuk mengurangi keluhan nyeri, serta mengevaluasi efektifitas terapi kompres hangat dalam mengurangi nyeri. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Kriteria inklusi penelitian ini adalah bersedia menjadi responden, anggota keluarga dengan diagnosa medis gout arthritis dan diagnosa keperawatan nyeri, usia >45 tahun, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Penelitian dilaksanakan di UPT Puskesmas Pulo Brayan selama 1 minggu dengan 3x pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar pengkajian keperawatan keluarga, lembar observasi dan SOP kompres air hangat. Hasil Penelitian ini pada kedua respon tersebut mengatakan adanya penurunan nyeri pada anggota tubuhnya yang sakit, pasien pertama mengatakan skala 5 menjadi 2, dan pasien kedua dari skala 6 menjadi 3. Analisa hasil penelitian menunjukkan kompres hangat efektif mengurangi nyeri dan membutuhkan peran keluarga dalam perawatan pasien gout arthritis. Kesimpulan dan saran, peran aktif keluarga serta intervensi nonfarmakologis yang dilakukan secara rutin efektif membantu menurunkan tingkat nyeri pasien dan Vol 1. No 2. Juli, 2025 *Corresponding author email : pangaribuan131417@gmail Page 85 of 94 meningkatkan kenyamanan selama proses perawatan dirumah. Saran untuk keluarga diharapkan dapat berperan aktif merawat anggota keluarga yang mengalami gout arthritis. Kata Kunci: Asuhan Keperawatan Keluarga. Gout Arthritis. Kompres Hangat PENDAHULUAN Keluarga adalah suatu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama dengan hubungan darah atau ikatan Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling bergantung. Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan mempengaruhi sesama anggota keluarga (Lucia et al. Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antara keluargaAekeluarga keseluruhan. Salah satu masalah yang dapat mempengaruhi kesehatan keluarga adalah penyakit gout arthritis (Lucia et al. Berdasarkan World Health Organization (WHO) . , kejadian asam urat di dunia adalah 34,2%, di Amerika Serikat terjadi kasus per 1000 laki-laki yaitu sekitar 13,6 sedangkan pada kasus per 1000 perempuan sekitar 6,4. Prevalensi penyakit ini bervariasi di setiap negara, dengan angka berkisar antara 0,27% di Amerika Serikat hingga 10,3% di Selandia Baru (Aminah. Saputri, and Wowor 2. Jumlah penderita gout arthritis di Indonesia sekitar 12-34% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 18,3 juta jiwa. Jumlah ini meningkat seiring bertambahnya usia, bervariasi secara signifikan di seluruh wilayah. Ditemukan bahwa penduduk Indonesia yang berusia di atas 45 tahun sebagian besar menderita nyeri sendi atau gout arthritis (Putri et al. Berdasarkan Data Riseit Keiseihatan Dasar (Riskeisda. 2018, preivaleinsi peinyakit asam uirat di Indoneisia teiruis meinuinjuikkan peiningkatan, deingan 11,9% kasuis asam uirat yang teirdiagnosis oleih teinaga keiseihatan. dan beirdasarkan diagnosis ataui geijala 24,7% jika dilihat dari karateiristik uimuir, keijadian tinggi pada uimuir Ou 75 tahuin adalah 54,8%. Peindeirita wanita juiga leibih banyak 8,46% dibandingkan deingan pria 6,13% (Heilmi & Priyatin, 2. Pemberian kompres hangat adalah metode untuk memberikan rasa hangat pada tubuh klien dengan menggunakan cairan atau alat yang menghasilkan panas pada area tubuh yang membutuhkan. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri, merangsang peristaltik usus, memperlancar pengeluaran eksudat atau getah radang, serta memberikan rasa nyaman, hangat, dan menenangkan. Pemberian kompres hangat dilakukan pada klien dengan perut kembung, klien yang mengalami radang, kekejangan otot . , adanya abses . akibat suntikan, tubuh dengan abses atau hematom (Hasana. Asniati, and Noviyanti Berdasarkan hasil survey awal yang telah dilakukan oleh peneliti pada 29 Oktober 2024, diperoleh data dari unit rekam medik Puskesmas Pulo Brayan angka penyakit gout arthritis di tahun 2023 mencapai 498 jiwa. antaranya sebanyak 260 pasien berjenis kelamin laki laki dan sebanyak 238 pasien berjenis kelamin perempuan. Dan di dapatkan data pasien dari bulan Januari sampai bulan Oktober 2024 di UPT Puskesmas Pulo Brayan di dapatkan data pasien yang menderita penyakit gout arthritis sebanyak 537 jiwa terhitung sejak bulan Januari hingga September. sebanyak 282 pasien berjenis kelamin laki laki dan sebanyak 255 pasien berjenis kelamin Saat peneliti melakukan survey awal ditemukan bahwa usia >45 tahun lebih banyak Copyright: @ 2025 Authors menderita gout arthritis. Menurut informasi yang diperoleh melalui wawancara antara peneliti dengan beberapa pasien yang datang untuk mendapatkan perawatan ke Puskesmas Pulo Brayan dengan diagnosa gout arthritis dapat disimpulkan bahwa masih ada pasien yang belum pernah mengikuti program terapi kompres hangat dan ada juga yang sudah pernah mengikuti program kompres hangat. Penanganan kasus gout arthritis berdasarkan rekam medik di Puskesmas Pulo Brayan yaitu akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Mitra Medika dan beberapa rumah sakit umum lainnya di kota Medan. Berdasarkan data diatas peneliti tertarik untuk memberikan asuhan keperawatan keluarga pada pasien gout arthritis dengan masalah nyeri wilayah UPT Puskesmas Pulo Brayan. Kriteria Inklusi: Bersedia menjadi responden Pasien berjenis kelamin laki-laki dan perempuan Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan diagnosa medis gout arthritis Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan diagnosa keperawatan nyeri Usia >45 tahun Berjenis kelamin laki laki atau Perempuan Kriteiria Eiksklusi Tidak bersedia menjadi responden Anggota keiluiarga tanpa asam uirat/ gouit Usia <45 tahun METODE Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Studi kasus pada penelitian ini merupakan proses asuhan keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian dengan pengumpulan data yang bersumber dari responden atau keluarga maupun lembar status. Diagnosa keperawatan berdasarkan analisis terhadap data yang dikumpulkan dari hasil pengkajian yang dilakukan, maka diperoleh diagnosa keperawatan yang dialnjutkan dengan prioritas diagnosa keperawatan. Intervensi Menyusun keperawatan prioritas masalah yang diperoleh untuk mengatasi masalah keperawatan yang dialami pasien. Implementasi yaitu melakukan tindakan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan serta melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Subjek pada studi kasus ini adalah pasien dewasa dengan masalah keperawatan yang sama yaitu pasien dengan Gout Arthritis di Puskesmas Pulo Brayan Metode Pengumpulan Data Untuk terpenuhinya data dalam studi kasus ini penelitian menggunakan dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan Wawancara Hasil anamnesis berisi tentang identitas responden, keluhan utama. Riwayat penyakit sekarang-dahulu-keluarga. Sumber data dari responden dan keluargadan perawat lainnya. Observasi dan pemeriksaan fisik Observasi dan pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi untuk mengamati pasien perilaku kekekerasan. Metode Analisa Data Metode analisa data meliputi data subjektif dan data objektif dalam bentuk tabel dan bentuk narasi untuk menjelaskan hasil studi kasus agar mudah dipahami oleh Copyright: @ 2025 Authors Etika penelitian Penelitin ini dilakukan setelah melakukan persetujuan dari Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan. Selanjutnya mengirim surat survey awal dan izin penelitian ke Puskesmas Pulo Brayan. Setelah mendapat izin untuk meneliti, kemudian peneliti mencari responden yang kriterianya sesuai dengan peneliti harapkan. Lalu setelah terbina saling percaya antara peneliti dengan partisipan, kuisioner data demografi diberikan kepada responden dengan menekan masalah etik yang meliputi: Informed consent (Persetujuan Menjadi Responde. Anonimity (Tanpa Nam. Confidentiality (Kerahasiaa. HASIL Pasien 1 keluarga Tn. M, umur 47 tahun. Pekerjaan Wiraswasta. Memiliki istri dengan umur 47 tahun, dan tingkat pendidikan SMA, dan 3 orang anak yaitu An. M umur 18 tahun. An. O umur 17 tahun, dan An. N umur 13 tahun dengan tingkat pendidikan pelajar, keluarga Tn. M tinggal bersama, sedangkan Pasien 2 keluarga Tn. A umur 52 tahun. Pekerjaan wiraswasta. Memiliki istri dengan umur 50 tahun, dan tingkat pendidikan SLTA, dan 2 orang anak yaitu An. S umur 23 tahun. An. D umur 21 tahun dengan tingkat pendidikan pelajar, keluarga Tn. A tinggal bersama sesuai tabel 1. Data Umum Kasus 1 (Ana. Umur: 18. JK: P. Pendidikan: SMA An. (Ana. Umur: 17. JK: L. Pendidikan: Pelajar An. (Ana. Umur: 13. JK: P. Pendidikan: Pelajaran Kasus 2 An. (Ana. Umur: 23. JK: P. Pendidikan: Pelajar An. (Ana. Umur: 21. JK: P. Pendidikan: Pelajar PEMBAHASAN Peneliti melakukan penelitian terhadap dua pasien yang sama-sama memiliki penyakit yang sama yaitu gout arthritis di Wilayah UPT Puskesmas Pulo Brayan dengan lima tahap sesuai dengan proses keperawatan yang dikembangkan dengan SDKI . SLKI . SIKI . perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Tujuan khusus tersebut meliputi pengkajian keperawatan, merumuskan diagnosa keperawatan, menyusun perencanaan asuhan keperawatan, implementasi yang komprehensif, serta melakukan evaluasi keperawatan. Berikut adalah pembahasan yang disesuaikan dengan tujuan khusus dari penelitian ini. Tahap Pengkajian Pengkajian dilakukan pada kasus I dan kasus II pada tanggal 25 sampai 27 Februari 2025. Adapun kesenjangan antara teori dengan kasus yang diteliti Tabel 1. Data Anggota Keluarga Kasus I dan Kasus pada pengkajian adalah: Data yang didapatkan pada teori tetapi tidak ada dikasus antara lain Data Umum Kasus 1 Kasus 2 ditemukan dari kedua kasus tidak memiliki Kepala keluarga Tn. Tn. masalah pada sistem nutrisi dan metabolisme. Umur Selanjutnya data yang ditemukan pada kasus 1 Jenis kelamin Laki Laki Laki Laki dan kasus 2 menunjukan kesamaan, yaitu adanya Pekerjaan Wiraswasta Wiraswasta kelemahan pada area sendi sesuai dengan teori Pendidikan SMA SMA pada pengkajian sistem musculoskeletal. Pasien 1 Alamat Jl. P hijau G Jl. Putri Hijau mengatakan mengalami kelemahan pada jari jari Tanggal mantri Lk. LK IV No 41 tangan sebelah kanan, adanya pembengkakan dan No. Selasa, 25 Selasa, 25 Februari 2025 kemerahan pada ibu jari. Kemudian pada pasien 2 mengatakan mengalami kelemahan pada area lutut Februari 2025 Anggota keluarga 1. Ny. Ny. S (Istr. , hingga pergelangan kaki, adanya pembengkakan dan kemerahan pada mata kaki. Kondisi ini tidak (Istr. Umur: 47. Umur: 50. JK: P. Pendidikan: JK: P, hanya berdampak pada pasien yang mengalami SMA Pendidikan: nyeri, tetapi juga memengaruhi dinamika keluarga. An. SLTA Kelemahan sendi yang dialami membatasi Copyright: @ 2025 Authors aktivitas sehari hari, sehingga anggota keluarga perlu terlibat lebih aktif dalam membantu pasien dalam menjalani aktivitas, memberikan dukungan emosional, serta menjaga keharmonisan dalam Hal ini sejalan dengan teori menurut (Rohmah and Hanum 2. yang menyatakan bahwa pada pengkajian sistem muskuloskeletal akan ditemukan keluhan pasien kesulitan dalam melakukan aktivitas karena naiknya nilai asam urat yang menyebabkan skala nyeri. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fungsi fisik pasien, tetapi juga memengaruhi hubungan dan peran dalam keluarga. Pasien menjadi lebih bergantung pada anggota keluarga lain dalam melakukan aktivitas sehari hari, sehingga diperlukan dukungan emosional dan fisik dari keluarga untuk membantu proses penyembuhan pasien. oleh karena itu, peran keluarga sangat penting dalam memberikan motivasi serta membantu pasien mempertahankan kualitas hidup meskipu mengalami keterbatasan Diagnosa Keperawatan Menurut SDKI . diagnosa keperawatan keluarga yang dapat ditegakkan pada pasien, antara lain: Kesiapan Peningkatan Koping keluarga (D. Ketidakmampuan Koping Keluarga (D. Penurunan Koping Keluarga ( D. Manajemen Kesehatan keluarga Tidak efektif (D. Gangguan proses Keluarga (D. Kesiapan peningkatan menjadi orang tua (D. Kesiapan Peningkatan Proses Keluarga (D. Ketegangan Peran Pemberi Asuhan (D. Pencapaian Peran Menjadi Orang Tua (D. Resiko Gangguan perlekatan (D. Resiko Proses Pengasuhan Tidak Efektif (D. Berdasarkan hasil pengkajian, dan skoring Asuhan Keperawatan dapat disimpulkan bahwa diagnosa keperawatan utama dan menjadi fokus penelitian pada kasus 1 dan kasus 2 adalah manajemen kesehatan keluarga tidak efektif b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan (D. SDKI . Intervensi Keperawatan Dalam tahap perencanaan tindakan pada pasien, penulis tidak menemukan kesulitan karena keluarga mau bekerja sama dengan baik dalam menemukan rencana keperawatan dan mau menerima tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan terhadap pasien, agar tercapainya tujuan keperawatan klien. Dalam hal ini penulis membuat rencana keperawatan sekaligus menentukan pendekatan yang digunakan untuk mencegah masalah yang mengakibatkan pasien serta keluarga dengan berpedoman pada tinjauan teoritis saat melakukan asuhan keperawatan . Intervensi keperawatan yang direncanakan pada pasien 1 dan 2 yaitu: . Identifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang Kesehatan, . Identifikasi konsekunsi tidak melakukan tindakan bersama keluarga, . Identifikasi tindakan yang Motivasi pengembangan sikap dan emosi yang mendukung upaya kesehatan, . Ciptakan perubahan lingkungan rumah secara optimal, . Informasikan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga, . Anjurkan keluarga untuk memberikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien seperti kompres hangat. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Pada tahap pelaksanaan tindakan pada kasus penelitian melaksanakan tindakan yang mengacu pada rencana perawatan yang telah dibuat sebelumnya serta menyesuaikan dengan kondisi pasien pada saat diberikan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan, penulis bekerjasama dengan keluarga dan berpartisipasi aktif dengan keluarga Adapun tindakan keperawatan yang dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang direncanakan antara Pada pasien 1 (Ny. N) dalam diagnosa pertama . anajemen kesehatan keluarga tidak mengenal masalah kesehata. Mengidentifikasi harapan keluarga tentang kesehatan, terlihat adanya perubahan positif dalam persepsi keluarag terhadap kondisi pasien maupun peran mereka dalam Keluarga Copyright: @ 2025 Authors mengidentifikasi kebutuhan kesehatan yang lebih spesifik, seperti pentingnya pengaturan pola makan rendah purin, serta pemantauan rutin kadar asam Selain menyampaikan harapan agar nyeri yang dirasakan pasien dapat berkurang secara signifikan dan pasien dapat kembali melakukan aktivitas ringan secara mandiri. Mengidentifikasi konsekunsi tidak melakukan tindakan bersama keluarga, setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, terlihat bahwa keterlibatan keluarga dalam tindakan keperawatan memberikan dampak positif terhadap kondisi pasien dan suasana dalam Dari hasil observasi dan diidentifikasi bahwa jika tindakan tidak dilakukan bersama keluarga, maka terdapat beberapa konsekuensi yang mungkin timbul. Salah satunya adalah pasien menjadi kurang termotivasi untuk menjalani perawatan, yang ketidakteraturan dalam minum obat dan tidak menjalankan diet sesuai Mengidentifikasi tindakan yang dapat dilakukan keluarga. Setelah dilakukan implementasi selama tiga hari, pemahaman dan keterlibatan yang lebih baik dalam perawatan pasien. Memotivasi pengembangan sikap dan yang mendukung upaya kesehatan didapatkan terlihat adanya perkembangan posotif dalam sikap dan emosi keluarga yang mendukung upaya kesehatan pasien Menciptakan perubahan lingkungan Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, terlihat adanya perubahan positif dalam lingkungan tempat tinggal pasien yang mendukung proses penyembuhan. Keluarga optimal, seperti menata ulang ruang istirahat pasien agar lebih nyaman, bersih, dan memiliki pencahayaan serta ventilasi yang baik. Selain itu, keluarga juga mulai membatasi aktivitas yang menciptakan suasana rumah yang tenang dan kondusif. Menginformasikan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga mulai mengetahui dan memahami berbagai layanan kesehatan yang dapat pemeliharaan dan pemulihan kondisi Menganjurkan memberikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien seperti kompres hangat, setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, pemahaman dan kemampuan dalam memberikan tindakan keperawatan sederhana, termasuk teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien. Salah satu intervensi diterapkan adalah pemberian kompres hangat pada area sendi yang nyeri, yang awalnya skala nyeri pada hari pertama adalah skala nyeri 5 sekarang menurun dihari ketiga menjadi skala Numerical Rating Scale (NRS). Pada pasien 2 ( Ny. S) dalam diagnosa pertama . anajemen kesehatan keluarga tidak mengenal masalah kesehatan ) Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang Kesehatan. Keluarga pasien mulai menyadari pentingnya peran pemulihan pasien secara menyeluruh. Copyright: @ 2025 Authors Keluarga menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan kebutuhan mereka Mengidentifikasi melakukan tindakan bersama keluarga, hasil selama tiga hari membuktikan bahwa menyebabkan hambatan dalam proses penyembuhan, menurunkan semangat pasien, serta membuat keluarga kurang siap dan kurang responsif terhadap kebutuhan pasien. Mengidentifikasi tindakan yang dapat dilakukan keluarga. Selama tiga hari peningkatan keterlibatan dalam upaya pemulihan pasien. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan keluarga dan mulai diterapkan selama implementasi antara lain: melakukan terapi kompres hangat, mengurangi makan makanan yang tinggi lingkungan rumah secara optimal Memotivasi pengembangan sikap dan emosi yang mendukung upaya kesehatan. Setelah dilakukan intervensi selama 3 hari, keluarga menunjukkan perkembangan positif dalam sikap dan emosi terhadap kondisi pasien. Keluarga mulai lebih terbuka, aktif memberikan dukungan verbal, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penyembuhan pasien. Menciptakan perubahan lingkungan rumah Keluarga menciptakan lingkungan rumah yang lebih mendukung proses penyembuhan pasien. Menginformasikan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga mulai mengetahui dan memahami berbagai layanan kesehatan yang dapat diakses untuk mendukung pemeliharaan dan pemulihan kondisi pasien Menganjurkan keluarga untuk memberikan non-farmakologis mengurangi rasa nyeri pada pasien seperti kompres hangat, setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, keluarga mulai menunjukkan kepedulian dan kemampuan dalam memberikan tindakan keperawatan sederhana, termasuk teknik non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien. Salah satu intervensi yang dianjurkan dan berhasil diterapkan adalah pemberian kompres hangat pada area sendi yang nyeri, yang awalnya skala nyeri pada hari pertama adalah skala nyeri 6 sekarang menurun dihari ketiga menjadi skala nyeri 3 diukur menggunakan Numerical Rating Scale (NRS). Evaluasi keperawatan Setelah pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien I dan pasien ke II, maka tahap evaluasi semua masalah teratasi di hari ke tiga masing masing pasien. Tiga hari dilakukan perawatan terhadap pasien I dan pasien II mulai dari tanggal 25 Februari 2025 sampai dengan tanggal 27 Febuari 2025, maka didapatkan evaluasi bahwa: Evaluasi keluarga I teratasi setelah hari ke-3 kunjungan, dikatakan tertasi karena keluarga sudah mulai berpartisipasi dalam perawatan dan non-farmakologis. Dan penurunan skala nyeri pasien juga dari observas perawat yaitu: Subjektif: Keluarga menyatakan bahwa mereka kini telah memahami dengan baik mengenai gout arthritis, termasuk penyebab, gejala, serta cara pencegahan Mereka merasa lebih percaya diri dalam merawat pasien di rumah, termasuk dalam menjalankan diet, pemberian obat, dan tindakan saat pasien mengalami nyeri sendi. Pasien sendiri juga melaporkan merasa lebih nyaman dan tenang karena dukungan keluarga yang semakin baik. Keluarga juga menyampaikan bahwa mereka tidak lagi panik saat terjadi kekambuhan ringan karena sudah mengetahui langkah pertolongan awal. Objektif: Keluarga Ny. N secara mandiri melakukan kompres hangat tanpa arahan langsung dari perawat dan juga Keluarga Ny. N mampu melakukan tindakan mandiri seperti mengatur jadwal perawatan harian yang meliputi pola makan, waktu istirahat, dan pemberian obat terlihat dijalankan secara konsisten. seperti kompres hangat saat pasien mengalami nyeri, serta menggunakan alat pengukur kadar asam urat dengan tepat. Lingkungan rumah tampak telah disesuaikan, bersih, aman, dan nyaman bagi Pasien tampak tenang dan keluhan nyeri berkurang, dengan skala nyeri menurun dari sebelumnya menjadi skala nyeri 3/10. Makanan Copyright: @ 2025 Authors yang disajikan pun sesuai dengan prinsip diet rendah purin, dan keluarga telah mencatat serta menghindari makanan pemicu. Assesment: Masalah teratasi, keluarga Ny. N telah mengalami peningkatan kemampuan secara menyeluruh dalam merawat pasien gout arthritis. Keluarga tidak hanya memahami aspek pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan tindakan perawatan dengan sikap yang positif dan Masalah sebelumnya, seperti kurangnya pengetahuan dan keterlibatan dalam perawatan, sudah teratasi dengan baik Planning: Keluarga akan melanjutkan perawatan mandiri di rumah dengan menjalankan jadwal yang telah Keluarga telah diberi informasi mengenai fasilitas kesehatan rujukan jika kondisi pasien memburuk dan akan segera menghubungi tenaga kesehatan bila diperlukan. Evaluasi keluarga II teratasi setelah hari ke-3 kunjungan, dikatakan tertasi karena keluarga sudah mulai berpartisipasi dalam perawatan dan melakukan teknik nonfarmakologis. Dan penurunan skala nyeri pasien juga dari observas perawat yaitu: Subjektif: Keluarga mengatakan bahwa mereka semakin memahami kondisi gout arthritis, termasuk pemicu kekambuhan dan penanganan awal nyeri sendi. Keluarga menyatakan lebih percaya diri merawat pasien di rumah, dan sudah terbiasa menjalankan rutinitas harian seperti pemberian obat, pengaturan pola makan, serta membantu aktivitas pasien. Pasien juga menyampaikan bahwa dukungan dari keluarga membuatnya merasa lebih tenang dan tidak terlalu khawatir bila nyeri kambuh kembali. Objektif: Keluarga tampak pasif saat sesi pengkajian. Sudah ada perubahan lingkungan rumah untuk mendukung perawatan pasien. Keluarga sudah mengetahui fasilitas kesehatan di puskesmas. Telah dilakukan edukasi awal mengenai perawatan, sehingga keluarga sudah percaya diri untuk melakukkannya, dan pasien sudah tampak tidak meringis lagi akibat nyeri yang dirasakan. Keluarga juga tampak aktif memantau kondisi pasien dan telah menggunakan alat pengukur kadar asam urat dengan benar. Lingkungan rumah mendukung proses pemulihan, dengan ruang istirahat yang telah disesuaikan dan suasana yang Assesment: Masalah teratasi, keluarga Ny. S telah mencapai tingkat kemampuan yang baik dalam merawat pasien gout arthritis. Keterlibatan aktif mereka terbukti menurunkan intensitas gejala dan memberikan kenyamanan bagi pasien. Penurunan skala nyeri menjadi salah satu indikator keberhasilan intervensi edukatif dan terapeutik yang telah dilakukan sebelumnya. Planning: Anjurkan mempertahankan rutinitas perawatan mandiri yang telah berjalan, melakukan pemantauan gejala secara rutin, serta melanjutkan edukasi berkelanjutan. Keluarga juga sudah siap untuk mengakses fasilitas kesehatan jika terjadi perburukan gejala, dan telah memiliki kontak layanan kesehatan rujukan. Pendekatan kolaboratif seperti ini akan terus diperkuat agar pasien dapat mempertahankan kualitas hidup yang optimal di Setelah diberikan penerapan kompres hangat , keluarga pasien 1 dan pasien 2 menerapkannya dalam kehidupan sehari hari sehingga nilai skala nyeri tiap pasien dapat terkontrol dan stabil. Penelitian (Agustin et al. yang membahas tentang pengaruh kompres hangat terhadap penurunan skala nyeri pada penderita gout arthritis signifikan terhadap manajemen kesehatan keluarga tidak efektif b/d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan disimpulkan bahwa pemberian edukasi kesehatan keluarga dan penerapan teknik nonfarmakologis seperti kompres hangat secara efektif mampu meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola gout arthritis serta menurunkan intensitas nyeri pasien. DAFTAR PUSTAKA