Volume 2 No 1 Tahun 2020 Hlmn. Artikel Masuk: 18 Desember 2020 | Artikel Diterima: 31 Juli 2020 Rumah peneleh sebagai rumah pengaderan: sebuah tinjauan sejarah dan aplikasi terhadap pembangunan sumber daya manusia di indonesia Abdul Rachman Helmi STIE Malangkucecwara Malang. Jl. Terusan Candi Kalasan. Malang. Indonesia 65142 abdulrachmanhelmi@gmail. *surel korespondensi: abdulrachmanhelmi@gmail. Abstrak Tulisan ini bertujuan sebagai tinjauan atas keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia yang diterapkan oleh Guru Bangsa Indonesia, yaitu Bapak HOS Tjokroaminoto, selaku pimpinan Syarikat Islam, dalam menerapkan metode pengaderan di rumah beliau di Jl Peneleh VII. Surabaya. Sebagai bahan telaah serta kajian, penulis menggunakan metode studi pustaka, berbagai informasi juga penulis dapatkan dari berbagai sumber saat bergerak di sebuah lembaga pelatihan. Sebuah metode pembinaan yang lengkap, mencerahkan, menekankan kemandirian, berlandaskan ketauladanan serta keikhlasan adalah aspek penting dalam keberhasilan pengembangan SDM di Rumah Peneleh. Kata Kunci: Tjokroaminoto. Rumah Peneleh. Sumber Daya Manusia Abstract This paper aims to give an understanding as well as to reflect the success of human resource development that is applied by one of the nationAos great tutor. Mr. Tjokroaminoto, who also leads Syarikat Islam in the forming of cadre in his own house located in Peneleh Street number VII. Surabaya City. The author applied case study methodology as well as gaining various information through the authorAos experiences in the training institution. A coaching method that is complete, enlightening, overcoming, independence, and based on sincerity is an important aspect in supporting the development of human resources at Rumah Peneleh. Keywords: Tjokroaminoto. The House of Peneleh. Human Resource Di sebuah rumah yang bukan tergolong mewah, terletak tidak jauh dari tepian Kali Mas di Kota Surabaya, tepatnya di Jl Peneleh Gang VII, pintu rumah itu tidak pernah tertutup, selalu ada tamu yang datang berkunjung. Tidak jarang di sana berlangsung diskusi-diskusi pelik untuk membahas This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Rumah peneleh sebagai A. Helmi. kondisi serta tujuan bangsa di masa yang akan datang. membicarakan citacita serta aksi, demi lepas dari belenggu penjajahan yang begitu pahit dan Di rumah itu tinggal bersama keluarganya seorang tokoh karismatik, tokoh panutan, orang menyebutnya sebagai Jang Oetama. Seorang pemimpin organisasi Syarikat Islam, sebuah organisasi pergerakan terbesar saat itu yang anggotanya tersebar di seluruh penjuru negeri, beliau adalah Bapak Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Sebagian orang menganggap beliau sebagai Ratu Adil, seseorang yang diharapkan menjadi pemimpin serta pembebas dari penjajahan serta membawa pada sebuah kehidupan yang lebih Rumah Pak Tjokro demikian orang menyebutnya, jika rumah itu bukan sebagai rumah seorang tokoh besar di jaman itu, tentu akan biasabiasa saja. Yang membuat Rumah Peneleh menjadi istimewa adalah Demikian juga anak-anak muda yang tinggal indekos di rumah itu, mereka awalnya adalah anak-anak muda biasa yang berasal dari tempattempat jauh di berbagai daerah dan sedang belajar di Kota Surabaya. Salah satunya kita mengenal Soekarno, anak seorang guru di Mojokerto. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, beliau adalah kawan karib Pak Tjokro. Sebab Soekarno bersekolah di Surabaya, beliau menitipkan putranya kepada Pak Tjokro. Soekarno yang saat itu masih berumur 15 tahun tentu hanya mengikuti arahan orang tuanya untuk tinggal di rumah Pak Tjokro. Namun sejarah akhirnya menentukan jalan hidup Soekarno, antara lain sebab dia pernah tinggal di tempat yang tepat. Begitu juga kita mengenal SM Kartosuwirjo yang lahir di Cepu, seorang pimpinan DI/TII beliau yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia. Awalnya Kartosuwirjo bersekolah di Indische Artsen School atau sekolah kedokteran Hindia Belanda di Surabaya, namun kemudian dia mengikuti Pak Tjokro sebagai murid dan tinggal di Rumah Peneleh. Bahkan Pak Tjokro menjadikannya sebagai sekretaris pribadinya. Selanjutnya kita mengenal pimpinan Partai Komunis Indonesia, sebagai tokoh dalam pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948. Dia adalah Musso, seorang anak muda dari Kediri. Musso bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Regenstrat Surabaya, yang juga tinggal di Rumah Peneleh. Selain ketiga tokoh tersebut, kita juga mengenal beberapa tokoh yang banyak berdiskusi serta hadir di Rumah Peneleh, diantaranya adalah Tan Malaka. Semaoen. Alimin dan tokoh-tokoh pembaru Islam sekelas KH Ahmad Dahlan juga pernah hadir di Rumah Peneleh. AuDibantu Mas Mansyur. Tjokro membuat forum dakwah TaAomirul Ghofilin. Lewat forum ini. Tjokro beberapa kali mengundang Ahmad Dahlan di Peneleh VII. Ay 1 1Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa. Tempo, 2017. Hlm. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 2 No 1 Tahun 2020 Hlmn. Maka tak berlebihan jika sejarawan Anhar Gonggong dalam buku Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, menyebutkan: AuRumah Tjokroaminoto merupakan rumah ideologi-dialogis, tempat bertemunya tokoh-tokoh yang mempunyai ideologi yang berbeda. Ay2 Dalam hal ini, penulis tidak akan membahas jauh mengenai perbedaan ideologi yang terjadi di antara murid-murid Bapak Tjokroaminoto. Namun tak bisa dimungkiri bahwa murid-murid Pak Tjokro telah terasah menjadi figur-figur kuat dengan karakter yang tumbuh berkembang secara matang. Tak lebih sebab sebuah fase dalam kehidupan mereka, yaitu saat mereka tinggal di Rumah Peneleh. Sebuah fase kehidupan dimana mereka tinggal sangat dekat dengan seorang tokoh besar di jamannya. Sering penulis katakan dalam pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan pembangunan SDM. AuJadilah seperti pusat air, yang menghijaukan rumput-rumput serta tumbuhan di sekitarnya Au. Dalam hal ini, murid-murid Pak Tjokro ibarat tinggal di dekat pusat air. Aupusat airAy keilmuan. Aupusat airAy kepemimpinan. Aupusat airAy yang menyuburkan mental serta karakter intelektual mereka. AuPusat airAy tersebut adalah beliau Jang Oetama. Bapak Tjokroaminoto. Dari uraian latar belakang ini, penulis berpandangan tentang perlunya sebuah telaah atas metode pengaderan yang telah diterapkan di Rumah Pak Tjokro di Jl Peneleh Surabaya. Pengaderan di Rumah Peneleh bukan hanya berharga dari sisi sejarah, tetapi juga merupakan sumber kajian yang layak diterapkan, sebuah sumber belajar yang tak pernah kering serta tak akan surut untuk bisa diaplikasikan saat ini. METODE Penulis mempelajari berbagai macam sumber dari buku serta referensi yang ada termasuk pengalaman penulis saat bergerak dalam sebuah lembaga pelatihan yang bergerak dalam pengembangan SDM, hal inilah yang menjadi ide serta dasar uraian penulis dalam pembahasan ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Di Rumah Peneleh terjadi proses belajar, sebuah proses pengaderan baik secara langsung maupun tidak langsung. Proses langsung adalah ketika Pak Tjokro memberikan transfer pengetahuan kepada mereka, sedangkan proses tidak langsung adalah sebuah pengaderan yang terjadi sebab mereka tinggal di lingkungan yang mendukung kepada arah pematangan intelektual. Seperti seringnya kunjungan tokoh-tokoh pergerakan ke Rumah Peneleh, 2Tempo . Hlm. Rumah peneleh sebagai A. Helmi. adanya diskusi-diskusi dan juga rapat-rapat Syarikat Islam yang tentu juga kerap diikuti oleh para pemuda yang tinggal di Rumah pak Tjokro. Hal ini lambat-laun membuat daya kritis mereka tumbuh berkembang. Termasuk juga munculnya AupencerahanAy, kesadaran pada keadaan yang sesungguhnya terjadi di Tanah Air. Spirit perlawanan untuk lepas dari belenggu penjajahan juga turut andil dalam membentuk karakter mereka. Benar, kesadaran ini juga penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia, sebuah kesadaran akan masa depan dan kesadaran akan sebuah cita-cita serta harapan. Ini merupakan awal mula dari sebuah metode yang kemudian dapat dikembangkan dalam aplikasi yang kongkret. Selama ada AukesadaranAy terhadap situasi dan harapan tentang masa depan, maka segala upaya akan mudah dicapai, sebab ada kekuatan besar yang mendobrak segenap kejumudan, kemampetan dan kebingungan akan arah tujuan. Dengan adanya AupencerahanAy juga tercipta pemahaman akan perlunya bergerak atau perlunya sebuah aksi nyata. Sisi ini yang berhasil AudisentuhAy oleh pak Tjokro, beliau telah melakukan penyadaran terhadap situasi yang terjadi. Betapa beliau dengan lantang mengucapkan dalam pidato-pidatonya tentang kehendak yang kuat untuk bebas merdeka dari belenggu penjajahan. Bahkan yang terpenting adalah upaya mewujudkan kemandirian, ide untuk memiliki pemerintahan sendiri, dalam istilah zelfbestuur. Hal ini diungkapkan oleh beliau saat Kongres Syarikat Islam di Bandung pada tanggal 17 Juni 1916. Sebuah semangat yang dipekikkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tentu ini adalah kejadian monumental yang wajib kita ingat. AuTjokroaminoto atau Pak Tjokro merupakan representasi tokoh yang pertama kali mendengungkan secara terbuka ide pemerintahan sendiri (Zelfbestuu. , sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional. Ay3 Zelfbestuur sebagai motivasi untuk mandiri. Dalam aplikasi pembangunan Sumber Daya Manusia selain kemandirian merupakan langkah pertama yang harus dijalani jika seseorang ingin mencapai sebuah kemajuan. Pada awalnya kemandirian memang berat dijalani, namun jika sudah tercapai maka langkah selanjutnya akan lebih mudah. Memang. Pak Tjokro mencetuskan semangat zelfbestuur saat kongres Syarikat Islam di Bandung tanggal 17 Juni 1916 dalam konteks sebuah negara, sebuah bangsa yang mandiri dalam menjalankan pemerintahan. Namun, semangat zelfbestuur tentu bukanlah muncul tiba-tiba saat itu. Beliau tentu menyadari bahwa zelfbestuur adalah sebuah langkah pertama dalam proses perjalanan panjang untuk meniti tangga kemajuan selanjutnya. Penulis berusaha menarik benang merah antara zelfbestuur pada koridor sebuah bangsa dengan metode pembangunan SDM yang digalang 3 Jang Oetama: Jejak Perjuangan H. Tjokroaminoto. Aji Dedi Mulawarman. Galang Pustaka. hal: 4 Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 2 No 1 Tahun 2020 Hlmn. oleh Pak Tjokro. Soekarno misalnya, sejak umur 15 tahun telah tinggal di Rumah Peneleh. Awalnya dia adalah seorang anak biasa yang merasa takuttakut ketika meninggalkan rumah dan keluarganya saat pertama kali dari Mojokerto. Saat tinggal di Rumah Peneleh. Soekarno bukan justru mendapat perlakuan istimewa walaupun dia anak teman dekat Pak Tjokro. Kamar Soekarno justru ada paling belakang. Dikisahkan jika Soekarno harus menyalakan pelita walaupun siang hari sebab kamarnya yang gelap. Dari sinilah Pak Tjokro melakukan langkah pertama dalam pengaderannya, dalam membangun karakter mandiri, yaitu dengan memberi tantangan serta peluang problem solving bagi muridnya. Seperti digambarkan pada buku Jang Oetama yang ditulis oleh Aji Dedi Mulawarman. AuPak Tjokro melakukan proses pengaderan mulai dari memberi kamar yang penuh tantangan sebagaimana Soekarno merefleksikan diri di awal ketika dia sampai di Rumah Peneleh. Ay 4 Artinya mental untuk mandiri, telah ditekankan sejak permulaan oleh Pak Tjokro di Rumah Peneleh. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pak Tjokro sangat memahami tradisi serta kebiasaan yang ada di Tanah Jawa. Orang Jawa sangat menjunjung tinggi tradisi tirakat atau dalam bahasa lain sebuah upaya Aubersusah-susah dahulu untuk mencapai kebahagiaan di kemudian hariAy. Hal ini sangat dipahami oleh beliau sebagai landasan dalam mendidik murid-muridnya. Dari situasi semacam ini kemudian tumbuh semangat kemandirian, tumbuh seiring dengan kemampuan problem solving dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Saat ini, pembangunan Sumber Daya Manusia banyak terbentur pada lemahnya mental kemandirian. Tak bisa dimungkiri, tersedianya berbagai kemudahan serta fasilitas yang menunjang aktifitas sehari-hari, membuat terlena dalam situasi yang AunyamanAy membuat terbentuknya segalanya telah Ausiap sajiAy. Keadaan ini jika tidak disikapi secara arif justru berpotensi memunculkan kekurangan, yaitu lemahnya mental kemandirian pada karakter Sumber Daya Manusia. Dengan beralasan jika tak tersedia fasilitas yang diperlukan maka tidak bisa melakukan apapun, lalu mandeg dalam aksi, berhenti dalam karya dan aktifitas. Keadaan ini juga diperparah dengan munculnya sikap hedonis-materialistis yang akhirnya menjadi tolok ukur dalam standar hidup seseorang. Semakin tercukupi fasilitas adalah tanda seseorang itu hidup dalam kemakmuran dan kebahagiaan. Ini adalah fenomena yang kerap terjadi di masa sekarang. Dari gambaran situasi diatas, setidaknya kita dapat melakukan komparasi untuk menemukan cara terbaik, menjembatani situasi yang ada, namun tetap memberi komitmen ideal terhadap pembangunan SDM, dengan 4 Mulawarman . 6, hal: . Rumah peneleh sebagai A. Helmi. menjadikan Rumah Peneleh sebagai model terhadap pola pengaderan SDM di Indonesia. Tidak ada yang lebih tepat pada awalnya, kecuali adanya semangat zelfbestuur dengan berbagai bentuk dan metode aplikasinya sebagai anak tangga pertama dalam upaya membangun karakter SDM yang kuat. Jangan pernah berhenti berkarya jika belum ada fasilitas, jangan pernah mandeg dalam aksi ketika minim alat dan perkakas, jangan pernah berhenti untuk berusaha dalam upaya mencapai sebuah target dan tujuan. Jadi jangan pernah ada ketergantungan terhadap apapun kecuali ketergantungan kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa. Zelfbestuur adalah step awal bagi terbangunnya mental piawai dan bermartabat. Pak Tjokro Bukan Hanya memberi Contoh. Namun Juga Menjadi Contoh. Dalam berbagai kegiatan. Pak Tjokro tidak jarang mengajak murid-muridnya untuk bersama-sama menyertai beliau, baik itu aktivitas di Rumah Peneleh maupun di luar saat Pak Tjokro harus mengunjungi cabang-cabang Syarikat Islam. Dalam hal ini Pak Tjokro bukan hanya sekadar Aumemberi contohAy bagi anak didiknya, namun beliau Aumenjadi contohAy bagi murid-muridnya. Inilah yang membuat sebuah materi pengaderan akan bertahan dan melekat kuat, sebab seorang mentor telah mampu menjadi teladan bagi anak didiknya. Seseorang bisa memberi contoh tentang apa saja dan siapa saja untuk jadi sebuah model atas aktivitas yang diharapkan, namun tidak semua orang bisa menjadi pribadi yang melakukan sendiri atas aktivitas dan perilaku yang menjadi harapan. Artinya tidak semua orang bisa menjadikan dirinya sebagai teladan, inilah yang menjadi perberbedaan antara sekadar Aumemberi contohAy dan Aumenjadi contohAy. Saat ini, kita mengalami krisis keteladanan, banyak dari tokoh-tokoh saat ini hanya sampai pada taraf Aumemberi contohAy bagaimana melakukan sesuatu yang baik seperti yang dilakukan oleh orang selain dirinya, namun untuk menjadikan dirinya sebagai model dan teladan masih Aujauh panggang dari apiAy. Sedangkan dalam upaya pembangunan Sumber Daya Manusia akan lebih baik jika ada contoh nyata sebagai acuan tindakan atau perilaku untuk bisa diikuti. Bukan kesalahan jika seseorang yang baru mampu Aumemberi contohAy kemudian memberikan sebuah pengajaran, namun jika ditinjau dari kuat dan melekatnya materi yang diajarkan tentu akan berbeda jika seorang mentor bisa Aumenjadi contohAy. Hal inilah yang dimiliki Pak Tjokro, dirinya sendiri sebagai panutan serta idola bagi murid-muridnya. Ada sebuah kebanggaan saat muridnya disebut dan diakui sebagai murid Bapak Tjokroaminoto. Soekarno salah satunya, tidak bisa melupakan jika dirinya pernah menjadi murid beliau, yang membentuk pribadinya sehingga memiliki pribadi kuat dan berkarakter. Pelajaran yang didapatkan di Rumah Peneleh sangat melekat dan dia ingat sampai kapanpun. Kesan yang kuat ketika masa-masa tinggal bersama di Rumah Peneleh memberikan sebuah spirit dalam perannya sebagai Pemimpin Bangsa. Dalam jurnal Oetoesan Hindia: Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 2 No 1 Tahun 2020 Hlmn. Telaah Pemikiran Kebangsaan terbitan Yayasan Rumah Peneleh. Aji Dedi Mulawarman menuliskan dalam judul artikel AyJang Oetama yang HidupAy: AuSoekarno merupakan murid yang sangat mencintai HOS Tjokroaminoto sebagai guru, ditandai dengan ucapannya AuCerminku adalah TjokroaminotoAy. Ini sama artinya dengan Tjokroaminoto adalah guru para pemimpin negeri, yang merupakan pejuang yang paling tangguh, penggerak Sarekat Islam yang semula bernama Sarekat Dagang Islam. Ay5 Ini merupakan bukti jika betapa murid-murid Pak Tjokro sudah sampai pada taraf menjadikan Pak Tjokro bukan hanya sebagai guru saja, namun spirit H. Tjokroaminoto telah merasuk kuat dalam jiwa murid-murid AuMenjadi cerminAy, artinya menjadi teladan serta gambaran ideal akan semangat yang tinggi dalam perjuangan. Inilah yang penulis maksud bahwa Pak Tjokro telah Aumenjadi contohAy dan bukan hanya Aumemberi contohAy. Sebuah keberhasilan yang nyata dalam membangun Karakter Sumber Daya Manusia. Pak Tjokro sebagai guru dan sahabat. Dalam membangun karakter SDM yang baik haruslah dilakukan secara melekat, artinya senantiasa berkelanjutan dalam waktu tidak sekejap. Seorang guru atau mentor dituntut memiliki peranan bukan hanya sebagai pengajar namun juga seorang sahabat bagi muridnya. Hal ini perlu dilakukan, sebab permasalahan yang hadir dalam situasi nyata kerap bukan seperti contoh pada problem yang dibahas dalam kelas-kelas pelatihan yang terkesan formal dan baku, namun diperlukan improvisasi serta kepiawaian dalam menentukan strategi jitu dalam upaya pemecahan. Seorang mentor yang memahami hal ini, akan senantiasa memberi bimbingan serta arahan yang diperlukan tanpa terkesan menggurui atau selalu memosisikan diri sebagai orang yang paling mengerti. Seorang mentor, sering harus menjalankan peran sebagai pendengar yang Akan lebih terjalin hubungan yang kuat, jika mentor juga berperan sebagai sahabat bagi murid-murid yang dibinanya. Proses semacam ini telah berjalan di Rumah peneleh sebagai rumah Mentor utama di Rumah Peneleh. Bapak Tjokroaminoto bukan hanya sebagai guru bagi para pemuda yang beliau bina. Pak Tjokro telah berperan sebagai Guru dan sahabat bagi anak-anak muda yang tinggal di Rumah Peneleh. Apalagi saat mereka sedang berjauhan dengan keluarganya, tentu akan tercipta sebuah hubungan emosional yang lebih kuat, bahkan bukan hanya dengan Pak Tjokro, namun juga dengan teman-teman di Rumah Peneleh. Ini merupakan salah satu sebab keberhasilan pengaderan bisa tercapai optimal. Sebuah pengaderan yang melekat dan berkelanjutan, 5 Mulawarman. Jang Oetama yang hidup. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan. Volume 1 No 1. Yayasan Rumah Peneleh. Rumah peneleh sebagai A. Helmi. berlangsung setiap saat dalam hari-hari yang dijalani oleh para pelajar yang tinggal di rumah beliau. Sering juga Pak Tjokro justru berperan sebagai pendengar atas pendapat-pendapat yang diutarakan murid-muridnya, sembari meluruskan jika ada hal yang perlu dibenahi pada alur pemikiran dan diskusi anak Perdebatan diantara anak didik Pak Tjokro juga sering terjadi, namun Pak Tjokro tidak serta-merta menyalahkan terhadap perbedaan pendapat yang diutarakan oleh mereka. Kedekatan hubungan ini yang akhirnya merekatkan interaksi antara mentor dan murid. Di samping kisah diatas, ada juga kisah yang menggambarkan kedekatan pak Tjokro pada murid-murid beliau, menggambarkan begitu dalamnya interaksi Pak Tjokro sebagai seorang guru dan sahabat. Tampak pada saat Soekarno pulang ke rumah orang tuanya di Blitar, saat itu terjadi letusan dahsyat Gunung Kelud yang meluluhlantakkan Kota Blitar dan Pak Tjokro dengan sigap berangkat ke Blitar untuk mengetahui secara langsung kondisi murid dan keluarganya itu. Ini mencerminkan kedekatan emosional yang kuat antara guru dan murid. Keadaan inilah yang menjadikan proses pengaderan berlangsung efektif, yaitu kedekatan emosional antara mentor dan murid. Mentor bukan hanya berperan sebagai guru namun juga berperan sebagai sahabat yang memiliki perhatian tulus terhadap anak didiknya. Ketulusan inilah yang memberi arti sangat mendalam dan menjiwai pola pendidikan yang berorientasi pada pembangunan Sumber Daya Manusia. Dalam hal ini pola-pola pendidikan modern sesungguhnya sudah diterapkan oleh Pak Tjokro jauh sebelum dicetuskan program Pendidikan Berkarakter akhir-akhir ini, program yang mengedepankan guru sebagai mitra belajar siswa, telah dijalankan oleh Di jaman sekarang, tentu lebih mudah untuk membina sebuah kedekatan antara mentor dan murid, dengan majunya teknologi sosial media seorang mentor dan murid akan bisa terus berinteraksi dan berkomunikasi kapan saja walaupun di tempat yang berjauhan. Namun harus diakui, bahwa kualitas pertemuan dan tatap muka akan jauh berbeda dengan sekadar interaksi melalui Dunia Maya. Pada intinya kuatnya hubungan antara mentor dan murid akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan Sumber Daya Manusia. Membaca Sejak Belia. Di Rumah Peneleh Bapak Tjokroaminoto juga menekankan terhadap murid-murid beliau untuk selalu membaca. Membaca buku-buku maupun AumembacaAy dari diskusi-diskusi antara tokoh-tokoh yang sering hadir di Rumah Peneleh. Murid-murid Pak Tjokro adalah anak-anak muda, artinya Pak Tjokro menekankan untuk membaca sejak mereka masih Bukankah dengan membaca artinya akan terbuka jendela dunia dan membaca sejak belia layaknya membuka jendela saat pagi hari? tentu Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 2 No 1 Tahun 2020 Hlmn. keindahan terbit sang surya akan tampak begitu indah. Dalam hal membaca ini Soekarno memiliki kesan tersendiri pada gurunya: AuDi mata Sukarno. Tjokro seorang yang kaku. Ia bukan tipe lelaki yang hangat kepada anak-anak. Tapi diam-diam Sukarno memujanya karena dari Tjokro ia belajar tentang AoAku duduk dekat kakinya dan ia memberiku bukubuku,Ao katanya. Sejak itu Sukarno tenggelam dalam apa yang disebut Aodunia pemikiranAo. Ay AuMinimnya Uang saku membuatnya tak leluasa bermain. satu-satunya anak kos yang tak bersepeda ke sekolah-satu kilometer dari Peneleh. Maka, dalam kamarnya yang sempit dan sumpek itu, si Bung melahap buku-buku karangan Karl Marx. Friedrich Engles. Jacques Rousseau. Voltaire, majalah Vogue dan Nugget terbitan Amerika. Tak mengherankan bila pada usia semuda itu ia sudah paham Revolusi Prancis, gerakan buruh Inggris, kemerdekaan Amerika, mitologi Yunani. Ay 6 Mental rajin membaca ini merupakan hal penting dalam upaya pembangunan Sumber Daya Manusia. Mustahil akan tercapai Pembangunan SDM yang baik jika individu yang dibina kurang wawasan atau miskin Bahkan bukan hanya membaca. Pak Tjokro juga menekankan untuk menulis. Seperti pesan Pak Tjokro yang sering kita dengar. AuJika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator. Ay Tentu, aktivitas menulis adalah harus berimbang dengan semangat membaca, dari sinilah kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa membaca adalah salah satu tiang utama intelektual. Terutama membaca yang dilakukan sejak belia, tentu akan semakin menajamkan kemampuan dalam AumembacaAy sebuah situasi agar bisa mengambil sikap yang tepat pada setiap keadaan. SIMPULAN Penulis menyimpulkan bahwa Bapak H. Tjokroaminoto dalam membangun Sumber Daya Manusia di rumah beliau Jalan Peneleh VII Surabaya, merupakan sebuah keberhasilan. Beliau memberikan banyak curahan ilmu serta pembinaan yang lengkap pada anak didiknya. Bukan hanya dalam bentuk teoritis dan formal saja, namun lebih dari itu beliau sendiri berperan sebagai tauladan yang mengiringi keberhasilan muridmuridnya. Keberhasilan ini tampak pada profil anak didik pak Tjokro yang memiliki kekuatan karakter, hal ini terlepas dari ideologi-ideologi yang akhirnya menjadi pilihan mereka di kemudian hari. Kesabaran, ketekunan 6 Tempo . Hlm. Rumah peneleh sebagai A. Helmi. dan yang paling utama adalah ketulusan merupakan inti dasar pembinaan yang diterapkan. Memberikan AupencerahanAy serta penyadaran terhadap situasi yang terjadi dan dialami oleh masyarakat dan bangsa, turut memberi andil yang kuat dalam pembentukan karakter yang peka pada situasi Menekankan pada kemandirian (Zelfbestuu. sebagai landasan metode, berbalut ketauladanan serta senantiasa mendorong murid untuk mencari hal-hal baru yang berguna, adalah pilar-pilar yang dibangun kokoh oleh beliau berkaitan dengan pembangunan SDM. Keberhasilan Pak Tjokro di Rumah Peneleh akan membuka wawasan serta pandangan bagi kita yang hidup di jaman ini, bahwa tolok ukur pembangunan SDM adalah bagaimana terwujudnya sebuah transfer ilmu bukan sekadar interaksi pada pemikiran, namun lebih dalam lagi yaitu interaksi dari hati ke hati. Hubungan antara mentor dan murid harus didasari atas keikhlasan, memberi dan menerima dengan ketulusan. Inilah yang merupakan poin penting dari apa yang selama ini masih harus kita perbaiki dalam upaya pembangunan Sumber Daya Manusia di Indonesia. DAFTAR RUJUKAN Tempo, . Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa. Jakarta: Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedi. Mulawarman. Jang Oetama: Jejak Perjuangan H. Tjokroaminoto. Yogyakarta: Penerbit Galang Pustaka. Mulawarman. Jang Oetama yang hidup. Jurnal Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan, 1.