AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli Ae Desember Tahun 2025 E-ISSN 2723-4452 C-ISSN 2528-2697 Analysis of Fil MusAriAo with Past Meaning in Surah alBaqarah According to Tafsr al-Baur al-Muu Dina Nurjannah STAI Sepakat Segenep. Kutacane. Indonesia Email. dinapagan2099@gmail. ABSTRACT Fi'il mudAri' is one of three sentences found in Arabic, namely isim, fi'il and letters Fi'il mudAri' is a Lafae which allows the content of two ages, namely hAl and istiqbAl. However, in the Qur'an, the content of mudAri's era is not always in line with the rules of the Arabic language. Sometimes mudAri' has other eras besides the two eras he has, such as the zaman mAsi. Of the many tafsir books that study the rules of the Arabic language, al-Baur al-Muui's tafsir is deemed appropriate to be used as a reference in the discussion of this research, because the content of the discussion is considered complete both from the language study aspect and the meaning study aspect. This research uses library research using the maudu'i method. In identifying the grammar of the language found in the fi'il mudAri' era that was used by the mufasir in his interpretation of al-Baur al-Muui, the author will use the nauwu and balAgah science approaches in researching it. This aims to analyze the rules for using the MAsi era in fi'il mudAri' used by Abu Hayyan in his interpretation of Al-Baur al-Muui. The author will also briefly review whether there are any possible reasons behind Abu Hayyan's interpretation. Apart from that, the author also analyzes the meaning contained in the use of zaman mAsi in fi'il mudAri'. From the results of this research, the author found a fairly fair interpretation. Mufassir, who was an expert in the science of nauwu, showed tendencies towards certain ideologies, but without winning over either side. The interpretation is carried out by discussing the verses one by one, analyzing them with the nauwu arguments, providing rebuttals to certain arguments, and also not forgetting to include other verses and hadiths of the Prophet as interpretation. Keywords : fil musAriAo. semantic shift. Surah al-Baqarah. al-Baur al-Muu. QurAoanic Pengungkapan Lafae FiAoil MusAriAo yang Bermakna MAsi dalam Srah al-Baqarah Menurut Tafsir al-Baur al-Muui ABSTRAK Dalam kaidah Bahasa Arab dapat diketahui adanya istilah isim, fiAoil dan huruf. FiAoil adalah kata yang menunjukkan arti pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada suatu masa atau waktu tertentu . ampau, sekarang dan yang akan datan. FiAoil musAriAo merupakan lafae yang memungkinkan memiliki kandungan dua zaman, yakni hAl dan istiqbAl. Namun di Dina Nurjannah Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA dalam al-QurAoan tidak selamanya kandungan zaman yang dimiliki musAriAo sejalan dengan kaidah Bahasa Arab. Adakalanya musAriAomemiliki zaman lain selain dua zaman yang dimilikinya, seperti zaman mAsi. Dari banyaknya kitAb tafsir yang mengkaji tentang kaidah Bahasa Arab, tafsir al-Baur al-Muui tepat untuk dijadikan rujukan dalam pembahasan penelitian ini, dikarenakan isi dari pembahasannya yang dinilai lengkap, baik dari aspek kajian bahasa maupun aspek kajian makna dan kitab ini bercorak Bahasa. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan menggunakan metode mausAoi. Dalam mengidentifikasi gramatika bahasa yang terdapat dalam zaman fiAoil musAriAo yang digunakan mufasir dalam tafsir al-Baur al-Muui, penulis mengambil kitab ini sebagai rujukan penelitian karena kitab tafsir ini bercorak Bahasa, karena penulis akan menggunakan pendekatan ilmu nauwu dan balAgah dalam Hal ini bertujuan untuk menganalisis kaidah penggunaan zaman mAsi pada fiAoil musAriAo yang digunakan Abu Hayyan dalam tafsir al-Baur al-Muui. Penulis juga akan sedikit mengulas adakah kemungkinan hal yang melatarbelakangi penafsiran dari Abu Hayyan. Selain itu penulis juga menganalisis makna yang terkandung dalam penggunaan zaman mAsi terhadap fiAoil musAriAo. Dari hasil penelitian ini, penulis menemukan sebuah penafsiran yang cukup adil. Mufassir yang menjadi pakar dalam ilmu nauwu, menunjukan kecenderungan terhadap ideologi tertentu, namun tanpa memenangkan salah satu pihak. Penafsiran yang dilakukan dengan cara membahas ayat satu persatu, menganilisisnya dengan dalil-dalil nauwu, memberikan bantahan pada argumen tertentu, juga tak lupa menyertakan ayat lain dan hadis Nabi sebagai Kata Kunci: fiAoil musAriAo. perubahan makna. Srah al-Baqarah. al-Baur al-Muui. linguistik QurAoani PENDAHULUAN FiAoil musAriAo yang bermakna mAsi dalam khazanah tafsir dan linguistik Arab. Fenomena ini penting dikaji karena menunjukkan fleksibilitas sistem kata kerja Arab dan bagaimana konteks serta gaya bahasa Al-QurAoan mempengaruhi penafsiran makna verba. Tafsir al-Baur al-Muu karya Abu ayyAn menjadi rujukan utama karena kedalaman analisis linguistiknya. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan contoh penggunaan fiAoil musAriAo bermakna mAsi dalam Srah al-Baqarah serta menjabarkan alasan retoris dan konteks yang melatarinya. Kemudian dalam penelitian ini penulis akan mengutip ayat-ayat al-QurAoan dalam surat al-Baqarah dengan terjemehannya untuk kebutuhan penelitian. Oleh karena itu penulis menggunakan kitAb al-QurAoan dan kitAb tafsir al-Baur al-Muui karya Abu Hayyan. Sedangkan ayat-ayat yang akan penulis teliti Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA adalah ayat-ayat yang menggunakan fiAoil musAriAo dengan makna mAsi dalam kitab al-Baur al-Muui dan penulis hanya menemukan 15 ayat pada surah al-Baqarah, di antaranya. QS. Al-Baqarah 6, 9, 15, 24, 28, 30, 57, 59, 67, 87, 91, 102, 127, 144, 185. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah kualitatif dalam bentuk penelitian kepustakaan . ibrary researc. Yaitu penelitian yang dilakukan hanya berdasarkan atas karya tertulis, termasuk hasil penelitian baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan. Menurut Nasution S, penelitian kepustakaan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan mengumpulkan data yang berasal dari berbagai jenis literatur dari kepustakaan. Penelitian berbentuk deskriptif-analisis yakni menuturkan, menjelaskan dan mengklasifikasi secara objektif data yang dikaji sekaligus menginterpretasikan dan menganalisa. Sejauh kajian perpustakaan yang dilakukan, penelitan data yang diperlukan dalam pelnel itian ini diambil dari sumbelr pelrtama dan keldua. Sumbelr data primelr atau pelrtama dalam pelnel itian ini kelmudian dibagi melnjadi dua yaitu: kitAb Tafsir al-Baur al-Muui karya Abu Hayyan. Kemudian yang keldua, bersumber dari karya tulis lainnya seperti buku-buku, jurnal ataupun kitAb yang telrkait delngan objelk kajian ini. Adapun data selkunder yang pelnulis gunakan adalah artike -artikel serta berbagai pelnel itian terdahulu yang rel evan delngan kajian ini, seperti Tesis dan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA PEMBAHASAN Dalam mengkaji penafsiran Abu Hayyan terhadap fiAoil musAriAo yang bermakna mAsi dalam Srah al-Baqarah, peneliti akan mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan tema, di antaranya: QS. Al-Baqarah . : 6 )6: AuaIac EaOIac EA aOac Oeac E O aN acI I aN Iac Iac E Iac aI aN aIac Eac O aIa IaOIac (ECA AuSesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan berimanAy. Lam Merupakan huruf nAfi yang memiliki makna menAfikan lafadz Huruf ini merupakan salah satu huruf yang khusus masuk pada fiAoil MusAriAo. AEIA ca membawa faedah mAsi bagi fiAoil musAriAo yang Ketika A EIAmenyertai fiAoil musAriAo seketika itu amaliyah yang dimiliki A EIAberamal pada fiAoil tersebut. secara iAorab AEIA, memiliki pengamalan merubah harakat akhir pada fiAoil musAriAo menjadi harakat jazm. Hukum tentang huruf ini telah dituturkan lebih rinci dalam pembahasan ilmu nauwu. Pada penafsiran ayat pertama Abu Hayyan dalam al-Baur al-Muui nya mengkategorikan kaidah perpindahan eaman yang dimiliki fiAoil musAriAo pada eaman mAsi dengan mengutarakan bahwa lafae caAEIac aIaNaIA memiliki perpindahan eaman disebabkan adanya huruf caA EIAhal ini sesuai seperti yang telah dijabarkan dalam ilmu nauwu. Hal ini juga pernah dibahas dalam sebuah Tesis berjudul AuDilalah Fi Al-QurAoan al-KarimAy, huruf caA EIAmemang merupakan salah satu dari sekian banyak perantara yang dapat menggiring eaman yang dimiliki fiAoil musAriAo terhadap eaman mAsi. Selain menjazmkan fiAoil musAriAo secara kaidah IAorab, huruf ini juga menunjukkan Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA makna lampau atas kehadirannya yang beriringan dengan musAriAo. Terdapat salah satu contoh dalam al-QurAoan surat al-Ikhlas ayat 3 yang AEIac OE aca OEIac OaOE acA AuDia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,Ay Dalam contoh ayat di atas, dapat kita lihat bahwa Allah swt tidaklah melahirkan keturunan juga tidak dilahirkan. Pada sisi lain, seperti yang dapat diketahui bahwa Allah swt memiliki sifat qidam yang berarti Allah merupakan zat yang terhadulu, ketika dikatakan demikian maka tidak ada satupun makhluk yang mendahului keberadaanNya, juga Allah qiyAmu binafsih yang berarti bahwa Allah swt merupakan eat yang adanya tanpa memerlukan bantuan siapapun atau apapun. Dapat melihat unsur kaidah pemaknaan eaman mAsi . dengan membuktikan bahwa tidak mungkin Allah bersifat sebaliknya. Kajian ini telah banyak dibahas secara gamblang dalam kajian ilmu Tauhid. Contoh ayat ini berbunyi senada jika kita korelasikan dengan ayat yang sedang dibahas, pada ayat ini AEIac aIaN acaIA adalah sebuah peringatan dari Allah terhadap Nabi Muhammad bahwa orang-orang kafir baik engkau beri peringatan ataupun tidak mereka sama saja, tidak akan pernah beriman. Kejadian dalam kisah ini merupakan peristiwa yang telah Nabi Muhammad lakukan sebelum turunnya ayat dan dengan menggunakan ighat musAriAo menandakan bahwa sampai kapanpun Nabi Muhammad tidak bisa mengubah keimanan mereka. Karena sesungguhnya hanya Allah lah Sang Pemilik Hidayah. Maka dari itu ighat musAriAo dalam ayat ini memang pantas dimaknai dengan makna mAsi, . l-Bajuri, t. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA Asbab Nuzul ayat. Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari jalur Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari lkrimah atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas dalam firman Allah, "sesungguhnya orang-orang kafir" ayat ini turun pada orang Yahudi Madinah. Diriwayatkan dari Ar-Rabi' bin Anas berkata, "Dua ayat turun pada Perang Al-Ahzab, "sesungguhnya orang-orang kafir ," hingga firman Allah "dan bagi mereka siksa yang amat berat" (Imam al-Suyuthi, 2. QS. Al-Baqarah . : 28 )28: AcEE O aEI a Iac I aO A aO aE Iac aIac OaIa O a aE Iac aIac Oa aOO aE Iac aIac auE O aNac a aOIac (ECA caa AE OAac EAa aOIac aA AuMengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? Lafae caA EOAAmerupakan isim istifham yang digunakan untuk konteks pertanyaan, juga bertujuan menanyakan situasi perilaku suatu peristiwa. caA EOAAdalam ayat di atas berfungsi dengan menggunakan faedah makna A( ECOApenetapa. dan A( EOOAejeka. Dalam ayat ini, lafae caA EAa aOIAdidatangkan tidak menggunakan ighat mAsi melainkan ighat musAriAo, meskipun kekufuran itu sudah terjadi dikalangan mereka pada masa lampau. Alasan penggunaan ighat musAriAo dalam ayat ini, karena jika menggunakan fiAoil mAsi maka kekufuran yang telah Allah nisbatkan pada orang-orang terdahulu akan melekat Dikarenakan faedah yang dibawa oleh fiAoil mAsi akan terhenti ketika eaman tersebut sudah terlewati. Sehingga bagi mereka yang pernah kufur kemudian beriman kepada Allah, tidak memiliki kesempatan untuk terhindar dari penisbatan kufur yang Allah lekatkan dengan fiAoil mAsinya. Sedangkan dengan penggunakan ighat musAriAo seperti yang tertera dalam ayat di atas, memberikan kesempatan untuk orang-orang yang pernah kufur kemudian beriman terhadap Allah untuk terhindar dari penisbatan Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA tersebut setelah ia menyatakan keimanannya. Hal ini berlaku disebabkan kaidah eaman yang dimiliki oleh fiAoil musAriAo bermakna A( EOIAkelestaria. Seperti halnya kebanyakan dari sahabat Nabi pernah berada dalam kekufuran sebelum kemudian beriman kepada Allah. Pada ayat ini Abu Hayan menitikberatkan penafsiran tidak hanya dari ighat musAriAo saja namun juga membahas tentang bagaimana perpindahan faedah yang terjadi dalam huruf istifhAm. Sebagaimana yang diketahui bahwa makna huruf caA E OAAsebagai huruf istifhAm adalah ingkar dan taAoajub. Namun mufasir menggunakan penafsiran yang berbeda sehingga lebih cenderung menggunakan makna lain. Dalam konteks ini a ca AE OA bermakna taubikh . jika dilakukan analisis dari runtutan makna ketika caA E OAAdi sandarkan kepada ighat musAriAo dengan arti: bagimana engkau akan mengkufuri Allah, ditambah dengan pemaparan oleh mufasir bahwa sejatinya Allah sudah terlebih dahulu mendekteksi kekufuran yang mucul dari mereka sebelum Allah mempertanyakan itu maka memang benar ketika dikatakan caA E Oadalah menggunakan makna tuabikh bahwa Allah benar-benar bermaksud menghina mereka. Penempatan istifhAm pada ayat di atas adalah bentuk pengingkaran terhadap pada hal apa orang-orang kafir melakukan tindakan kufur, dengan demikian penulis menganalisis penafsiran kali ini dengan tinjauan balAgah. (Izzan, 2. Dalam ilmu balAgah terdapat istilah maje mursal, dalam pembagian majaz ini terdapat komponen yang dinamakan alaqoh haliyah. AlAqoh haliyah adalah maje mursal muncul karena menggunakan Ausesuatu yang menempatiAy sebagai bahasa ungkapan, padahal makna yang dimaksud adalah tempatnya. Seperti firman Allah dalam srah al-Infithar ayat 13: AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA AuSesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan,Ay Fiman Allah diatas menggunakan kata naAom . dalam makna majazy-nya yaitu Jannah . Kenikmatan adalah sesuatu yang berada di dalam surga dan surga merupakan bagi Kenikmatan tersebut. Dengan demikan maksud firman Allah di atas adalah Auorang yang baik itu akan berada di surga yang menjadi bagi segala kenikmatan. majae sepeti ini disebut majae mursal dengan alaqoh haliyahAy. QS. Al-Baqarah . : 24 )24: Aac O Ea ac a aa ac E aE aEA aaOIac (ECA a AAuaI E Iac AEaOac OEI AEaOac ACaOac EIac EaO OCaOaN EIA "Maka jika kamu tidak dapat membuat. - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat. , peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir" Imam Syibawih rahimahulloh berkata: AEIAmerupakan huruf nAfi yang menAfi kan eaman mustakbal yang terdapat dalam fiAoil musAriAo. Kemudian Imam Syibawih berpendapat huruf A EAjuga sebagai huruf nAfi yang berfaedah menggiring eaman hal yang di miliki fiAoil musAriAo pada eaman mustaqbal. Abu Hayan memberikan kesimpulan dari ungkapan yang di utarakan Imam Syibawih bahwa baik huruf AEIAmaupun huruf AEAsama sama berlaku sebagi huruf yang menAfikan fiAoil musAriAo tetapi huruf AEIAmenAfikan fiAoil musAriAo dengan lebih khusus pada penAfian eaman mustakbal dan huruf ini merupakan salah satu huruf yang dapat mengarahkan eaman yang dimiliki fiAoil musAriAo pada eaman mustakbal secara khusus. Sedangkan huruf AEAmenAfi kan fiAoil musAriAo yang belum tentu dapat mengarahkan eaman yang dimilikinya pada eaman mustakbal dengan ini dapat dimengerti bahwa huruf AEIAmenjadi huruf lebih khusus fiAoil musAriAo pada eaman Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA Namun demikian terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama nauwu mengenai kaidah huruf AEA: apakah huruf ini dapat menAfikan eaman mustakbal secara terkusus ataukah menAfikan pada eaman hal? kejelasan dari Imam Syibawih di atas bahwa huruf A EAtidak dapat menAfi kan eaman hal yang dimiliki fiAoil MusAriAo, terkecuali ada penuturan kalimat yang menunjukan bahwa AEAberfaidah sebagai nAfi juga berkedudukan sebagai istisnaAo dalam waktu bersamaan jika hal ini terjadi maka huruf AEA jelas hanya menAfi kan eaman istiqbal namun apabila ini terjadi dalam kalam AoinsyaAo maka huruf AEAdapat mengiring fiAoil musAriAo kepada eaman hal yang dimiliki. Maka dapat ditarik pendapat Imam Syibawih bahwa huruf AEAmerupakan huruf nAfi yang dapat berkedudukan sebagai istisnaAo. (Hayyan, 1. Imam Zamakhsyari mengomentari perihal penggunan huruf AEIA menurut beliau dalil yang paling benar bahwa huruf A EIAdigunakan sebagi huruf yang berfaedah mengukuhkan karena huruf ini merupakan huruf nAfi yang dapat mengirirng fiAoil musAriAo keapada eaman mustakbal. Berbeda huruf AEA, yang menAfi akn fiAoil musAriAo namaun tidak menajdikan fiAoil musAriAo tersebut menjadi terkusus dengan hanya menunjukan eaman istiqbal saja karena huruf AEAterkadang juga menAfikan eaman hal yang dimiliki oleh fiAoil musAriAo. Jadi dengan teori ini lafae A EIac AEOAayat di atas sudah sangat tepat dengan memiliki pada maksud makna penyampaian ayat ini dibanding dengan lafae A E AEOIAdengan mengunakan huruf AEAsebagai nAfi nya. Pada ayat ini, penafsiran Abu Hayyan lebih menitikberatkan kepada kegunaan dua huruf nAfi, yakni A EAdan AEIA. Menurut beliau kedua huruf ini sama-sama mengarahkan zaman yang dimiliki fiAoil musAriAo menjadi terarah kepada satu eaman yaitu istiqbAl. Sebagaimana yang telah AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA diriwayatkan oleh Imam Syibawih bahwa huruf A EAmerupakan huruf nAfi yang mengarah pada eaman istiqbAl. Beliau juga berpendapat huruf AEIA sebagai huruf nAfi yang lebih khusus dibanding dengan A EAdalam pengalihan zaman antara hAl ke istiqbAl. Namun, dari analisis yang ditemukan oleh penulis dalam kitAb Alfiyah karyanya Ibnu Malik bahwa fiAoil musAriAo sejatinya merupakan ighat yang memiliki dua eaman hAl dan istiqbAl, dan fiAoil ini sebetulnya tidak memerlukan perantara apapun yang bersandar padanya untuk mengarah kepada salah satu dari kedua zamannya . l-Uqayli, 2. Selain itu, dalam kitAb Lugoh Al-QurAoan al-Karim Fi Srah Al-Nur karya Dr. Ibrahim dikatakan bahwa setiap ada Jumlah fiAoliyah yang didahului oleh adat-adat nAfi dengan tujuan menAfikan hubungan fiAoil dan nAfi pada waktu tertentu biasanya ketika berupa fiAoil musAriAo maka kaidahnya menunjukan pada eaman mAsi (Ibrahim, 1. Kaidah ini merupakan kaidah yang dimiliki oleh kebanyakan huruf nAfi. Maka walaupun Abu Hayyan dalam penafsuran ayat ini hanya menitikberatkan pada kajian faedah yang dimiliki dua huruf nAfi dengan eaman istiqbAl-nya, menurut analisi penulis lafae lan tatlu dengan menggunakan ighat musAriAo yang didahului oleh huruf nAfi dapat diarahkan pada eaman MAsi yang artinya pada saat ayat ini turun dengan Allah orang-orang menciptakan sebuah karya yang menyurupai al-QurAoan memberikan pemahaman bahwa mereka orang-orang kafir semenjak dahulu sebelum al-QurAoan turun hingga dunia ini berakhir tidak akan pernah mampu menciptakan walaupun hanya satu surat yang menyerupai al-QurAoan. QS. Al-Baqarah . : 9 AOIa au a A )9: AcEa IAa aN Ia OI O a aOIa (ECA a AcEEa OEaaOIa IIaOa OI O A a AO aa aA a aAOIA Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA AuMereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Lafae (A )OOI NEEAmenggunakan ighat fiAoil musAriAo yang bermakna mAsi. Hal lafae (A)OOIA menggunakan ighat mAsi A Amenunjukkan bahwa makna lafae tersebut terputus seiring bergantinya eaman, berbeda dengan penggunakan fiAoil musAriAo yang dapat mengisyaratkan makna lafae tersebut berkelanjutkan walaupun dengan adanya pergantian eaman. Pada penafsiran ayat ini Abu Hayyan memulai penafsiran dengan sedikit menjelaskan perubahan bentuk sebuah lafae berdasarkan ilmu araf. Dapat dimengerti bahwa ayat ini menerangkan perbuatan yang telah dilakukan orang-orang munafik pada masa dakwah Nabi Muhammad saw Pada ayat ini Allah swt memperlihatkan kepada nabiNya tentang perbuatan buruk kaum munafik yang telah berupaya untuk menipu Allah dan kaum mukmin dengan menampakkan sifat seakan-akan mereka beriman, namun sejatinya mereka hanyalah berpura-pura dengan Dalam ayat di atas terdapat lafae A OOIAyang menurut Abu Hayyan lafae ini mengalami perubahan dari lafae sebelumnya, beliau memaparkan bahwa ighat musAriAo ini berawal dari waen AoiftaAoala yang kemudian mengalami pengidoman sehingga terjadi adanya pembuangan huruf dan perubahan harakat dalam badan lafae ini. Dalam ilmu araf, kajian ini dinamakan IAolal . lasan perubahan bentuk lafae dengan berbagai alasa. Waean ini menurut Abu Hayyan memiliki 12 faedah makna namun hanya satu dari sekian banyaknya makna yang digunakan untuk lafae ini. Dari analisis penulis, faedah yang mungkin tepat dengan maksud Abu Hayyan adalah faedah muowaAoah ('Al. MuowaAoah adalah salah satu faedah yang AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA dimiliki waean ini yang bertujuan menghasilkan makna Audampak suatu perbuatanAy. Dampak merupakan buah hasil yang muncul dari sebuah perbuatan (Katsir, 2. Jika kita relasikan dengan ayat di atas, dapat dilihat bahwa Allah menyebutkan lafae caAO aa aaOIA, hal ini menjelaskan tentang perbuatan orang munafik yang berupaya menipu Allah dan kaum mukmin, kemudian Allah menjawab bahwa dampak dari perbuatan mereka ini sejatinya kembali kepada diri mereka sendiri. Maka jika dihubungkan dalam kedua lafae antara caA O aa aaOIAdan caAOaOIAdapat ditarik kesimpulan bahwa lafae caAOaOIA merupakan hasil yang muncul atas perbuatan yang telah dilakukan oleh kaum munafik yakni perbuatan menipu dan kembalinya tipu daya tersebut terhadap diri mereka sendiri. Dari segi pemaknaan eamannya. Abu Hayyan memaparkan penafsirannya tentang lafae caA O aa aaOIAyang menggunakan ighat musAriAo dengan makna mAsi. Penulis akan membandingkan pendapat Abu Hayyan ini dengan kaidah nauwu bahwa dalam ilmu nauwu yang dinamakan fiAoil musAriAo adalah fiAoil yang memiliki kemungkinan dua zaman, yakni zaman hAl dan istiqbAl. Jika saja lafae ini ditulis dengan menggunakan ighat mAsi, maka dapat diketahui sebelumnya dalam kajian nauwu terkait kaidah yang dimiliki oleh fiAoil mAsi, yakni ketika suatu perbuatan dilakukan di masa lampau maka perbuatan itu terhenti sejak waktu bergulir melewati masa kejadian, itulah inti dari pemahaman zaman mAsi dalam ilmu nauwu. Jadi jika lafae caA O aa aaOIAditafsirkan sebagai ighat fiAoil musAriAo yang menggunakan makna mAsi, maksudnya adalah secara arti bahwa orangorang munafik telah melakukan tipu daya dan perbuatan ini sudah terjadi sebelum ayat ini turun, kemudian Allah memberitahukannya keapda Nabi Muhammad saw orang munafik adalah seseorang yang melakukan Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA perbuatan tidak sesuai dengan kenyataannya. Kemudian makna dari pemakaian ighat musAriAo dalam lafae ini bertujuan agar menghasilkan pemahaman bahwa tipu daya manusia yang dikategorikan sebagai orang munafik akan terus berlanjut sampai akhir zaman nanti selama masih ada segolongan orang yang digolongkan sebagai orang munafik. QS. Al-Baqarah . : 59 AOA ca aEac EaOIac E aIOac C O UEac Oac EaO CaOEac E aN Iac AI EI EO EaOIac E aIOac a aIIac EI e aac aI EIA )59: A (ECA. caACaOIA a AO AA AuLalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan . yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasikAy Lafae AOACOIA ca pada ayat di atas memiliki makna A OEIOIAkaidah kandungan makna ini jawaban untuk kaidah makna ini dengan adanya penggunaan makna A OEIOIAsebagai sebuah ke dzaliman dari kepasikan yang dilakukan oleh mereka kaum Bani Isroil karena adanya dalil ayat alQurAoan lain yang mendunkung penafsiran ini yakni penuturan lafae AEEIA dalam surat al-arraf telah menyimpang dari apa yang Allah perintahkan baik dalam ucapan maupun perbuatan. Allah swt memberikan balasan terhadap penyimpangan yang telah mereka lakukan baik perkataan maupun tindakan, dalam kondisi ketika mereka memutar balikan kalimat Allah yang menjadi suatu hal yang tidak diwajibkan untuk mereka melakukan ini dengan tujuan agar mereka terhindar dari bersujud kepada Allah, sebuah tindakan memang tidak akan pernah menjadi sebuah kewajiban tanpa ada perintah. Sedangkan kata perintah yang terdapat dalam kata sebelumnya menghasilkan kewajiban dalam sebuah tindakan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA menghasilakn kewajiban sebuah tidakan dalam suatu runtutan kalimat. Kesimpulan dari penafsiran ini yakni ketika lafae A OACOIAditujukan atas kepasikan yang telah di lakukan Bani Israil pada konteks ayat ini saja, maka makna dalam ighat musAriAo lafae ini bermakna eaman hal dan ketika lafae A OACOIAdinisbatkan bukan hanya pada konteks ayat ini saja tetapi juga pada aya-tayat sebelumnya atas setiap kepasikan oleh kaum Bani Israil, maka ighat musAriAo dalam lafae ini bermkana mAsi. Kaidah yang kedua ini adalah kaidah yang paling sering digunakan di dalam al-QurAoan dan merupakan sebuah kalam yang baik. Pada penafsiran ayat ini sejatinya berhubungan dengan ayat sebelumnya maka dari itu Abu Hayyan melakukan penafsiran dengan tidak meninggalkan kisah dari ayat sebelumnya. Lafae caACaOIA a AOAAmemiliki keterkaitan tentang perbuatan kaum Bani Israil yang telah melewati batas mereka telah mengkhiayati Allah baik dari ucapan maupun perbuatan. Menurutu Ibnu Katsir, pada ayat sebelumnya terdapat kalimat yang berbunyi: (QS. Al-Baqarah: . )58: AO a ac I ac E aE Iac a aO aE Iac (ECA ca aA OCaOEA a caAO aEaOac EA Audan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: AuBebaskanlah kami dari dosa. Au Mereka kaum Bani Israil kemudian mengganti kalimat ca Amenjadi AIAyang bermakna satu biji gandum (Katsir, 2. Keterangan tentang peristiwa ini juga telah disebutkan dalam bagian periwayatan hadis. Sehingga dapat diketahui bahwa mereka kaum Bani Israil dengan kecerdasan yang dimilikinya sengaja mengganti ayat Allah agar mereka tidak diharuskan untuk bersujud kepada Allah. Pada ayat ini lafae AOIA ca aACA a AOAAmenggunakan ighat musAriAo dangan kecenderungan memiliki dua kemungkinan pengarahan kaidah makna Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA dari segi konteks bisa dilihat pada runtutan ayat ini saja maka zaman yang dikandung pada ighat ini mengandung eaman hAl. Namun. Abu Hayyan berpandangan, karena banyaknya prilaku menyimpang yang dilalukan kaum Bani Isroil pada ayat-ayat sebelumnya maka tidak penyimpangan yang telah dilalukan oleh mereka. Maka jika demikian, ighat musAriAo pada ayat ini menempati tempatnya mAsi. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan makna mAsi pada lafae ini bertujuan menjelaskan seluruh penyimpangan yang telah dilakukan kaum bani Israil. Pergeseran makna ini adalah yang sering berlaku di dalam alQurAoan juga memang sebuah ucapan yang indah. Pemaknaan ini sesuai dengan kaidah balAgah. Hal ini dikenal dengan istilah Maje Lughawi. Dalam majae ini ada kaidah runtutan kalam yakni, yang disebut masa kerja sekarang, dan yang dimaksud kata kerja masa lalu seperti dalam surat al-Baqarah . : 44. )44: A aI aOIac EIac a E a aac OI OIac IAa aE Iac OI a Iac EaOIac EE ac AEac aCEaOIac (ECA AuMengapa kamu suruh orang lain . kebaktian, sedang kamu melupakan diri . mu sendiri, padahal kamu membaca Al KitAb (Taura. ? Maka tidaklah kamu berpikir? Yang disebut . aA aI aOIA: mengapa kamu akan suru. , sedang yang dimaksud (AIIA: mengapa kamu telah suru. Karena ayat ini bercerita tentang salah satu perbuatan untuk bangsa Yahudi pada masa lalu. Tujuan penggunaan kata kerja masa sekarang di ayat ini ialah penegasan bahwa perbuatan buruk seperti itu sudah terjadi dan terus berlangsung dan berulang sampai saat ini dan masa akan datang (Syuaib. , 2. AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA QS. Al-Baqarah . : 144 a AE AaO EIeaac AEIaOEaOIEac C aE ac aONac AO aEac O NEac ac EI a aac E aIac O OA Aac IacA ca A O aNA ca caAC ac I aOac CEA AcEEa a aEac IacA ca AaEI a Iac AOEacOac aO aON aE Iac uacNa OuaIac EaOIac aOaOac EE ac EO E aIOIac INaca E acCac Ia I a aN Iac OIA caAO IEaOIA )144: A( ECA AuSungguh Kami . melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orangorang (Yahudi dan Nasran. yang diberi Al KitAb (Taurat dan Inji. memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakanAy (A O aNEac AaO EIA ca caA )C ac IO CEALafae A IOApada ayat ini merupakan fiAoil musAriAo dengan makna mAsi. Ulama nauwu telah menuturkan bagaimana proses pemindahan eaman yang dimiliki fiAoil MusAriAo terhadap eaman mAsi dengan menggunakan huruf A C acAdalam beberapa peristiwa. Seperti pada ayat caA C ac OE aIac I I a acI EO aNAjuga ayat caAO aCac A aEA a A OEC ac IE aIac IEac OAdan lafae caAC ac OE aIac cEEaca E aIOCaOIA caAIa I aEIA. Semua contoh ayat di atas ighat fiAoil musAriAo yang bermakna mAsi, dikarenakan adanya penyandaran pada ACA ca yang bermakna al-taktsir. Imam Zamakhsyari berpendapat bahwa lafae AC IOA ca sama halnya seperti lafae A I IOAyang mana fiAoil MusAriAo bermakna MAsi dan berfaedah taksir, dalam konteks ayat ini artinya . anyaknya penglihata. Seperti contoh AC E ECI Iac U IIENA ca (Ausaya mungkin membiarkan tanduknya berwarna kuning diujung jarinyaA. dalam contoh ini lafae mengandung makna seperti rubbaAo yang berarti AumungkinAy, sedangkan arti AumungkinAy adalah AujarangAy. Ulama nauwu mengkritik pendapat Imam Zamakhsyari ini, dikarenakan dianggap berlawanan dalam segi makna karena mereka Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA menganggap lafae ACA ca dan A IAmerupakan dua lafae dengan makna yang Lafae A Amenurut para ulama yang menjadi pakar dalam bidang nauwu adalah bermakna taqlil . emberikan makna sedikit atau jaran. atas setiap lafae yang disandarinya. Kemudian mereka juga menanggapi pendapat Imam Zamakhsyari yang mengatakan bahwa contoh lafae AIA A IOAbermakna AE EOA ca , menurut mereka pendapat ini juga merupakan dalil yang bertentangan karena berbedanya makna A Aseperti yang utarakan Imam Zamakhsyari dengan pendapat jumhur ulama. Kemudian pemaknaan yang kembali pada AE EOA ca , ini sama sekali tidak sesuai dengan makna AA ca itu sendiri. Karena A Asejatinya bermakna taqlil dan tidak digunakan untuk makna katsroh. Menurut Abu Hayyan dengan adanya huruf ACA ca dalam rangkaian kalimat ini mengalihkan eaman yang dimiliki FiAoil musAriAo pada eaman mAsi, dapat dipahami, bahwa pemaknaan kasrah dengan adanya ACA ca selaras dengan maksud dari lafae AECEA, menengadahkan wajahnya ke langit satu kali saja tidak bisa dikatakan berkali-kali dia melakukannya. Sedangkan makna lafae A CEAdengan Auberulang-ulangAy. Jadi kesimpulannya pemakanaan taksir pada lafae A ECEAmerupakan bagian dari faedah mutowaAoah yang telah dijelaskan dalam ilmu araf. Sebab Turunnya Ayat. Ibnu Ishaq berkata. Isma'il bin Khalid bercerita kepadaku, dari Abi Ishaq dari Al-Bara' berkata, "Adalah Rasulullah melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, clan ia sering menengadahkan pandangannya ke langit menunggu perintah Allah, maka Allah menurunkan ayat-Nya, "Sesungguhnya Kami . melihat mukamu menengadah ke langit. " Maka, seorang pria dari kaum Muslim "keinginan adalah jika saja kami dapat AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA mengetahui siapa saja akan meninggal dari kami sebelum kami menghadap ke kiblat . a'ba. , clan bagaimana dengan shalat kami ketika menghadap ke arah Baitul Maqdis," maka Allah menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Orang-orang bodoh berkata, "apa yang membuat mereka membelot dari kiblat mereka yang sebelumnya mereka berkiblat kepadanya?" maka Allah menurunkan ayat-Nya, "Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka ( umat Isla. dari kiblatnya ( Baitul M aqdi. yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" hingga akhir ayat Riwayat ini mempunyai beberapa jalan lainnya. Di dalam kitAb Ash-Shahihain dari al-Bara', "Beberapa orang meninggal dan terbunuh ketika kiblat belum berpindah, maka apa yang hams kami katakan tentang mereka?" maka Allah menurunkan firman-Nya, "DanAllah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Abu Hayyan menyatakan beberapa alasan tentang penggunaan zaman mAsi dalam fiAoil musAriAo pada ayat ini. Yang pertama adalah dengan melihat runtutan kalimat, beliau beralasan bahwa dalam ayat ini Allah berfirman, yakni Allah telah berkali-kali menyaksikan bahwa Nabi Muhammad saw berulangkali menengadahkan wajahnya kelangit seraya Perbuatan ini tentunya dilakukan Nabi pada masa yang telah Menurut Abu Hayyan seseorang tidak akan dikatakan berkali-kali melakukan tindakan jika hanya melakukan satu kali saja, maka tentunya hal ini telah dilakukan lebih dari satu kali di masa yang telah terlewat. Yang kedua Abu Hayyan memandang bahwa Lafae caA CApada ayat ini bermakna taktsir dan menunjukan zaman mAsi. Pendapat beliau merujuk kepada sebagaian pendapat dari ulama-ulama ahli nauwu yang berpendapat demikian. Namun penulis, menemukan dalil lain perihal hukum yang dimiliki AC acA. l-Shaidawi, t. Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA A C acAselain bermakna taktsir juga dapat memiliki makna lain, yaitu taqlil dan tahqiq. Makna taqlil adalah makna yang berkaitan dengan perdebatan yang terjadi dalam al-Bahr al-Muhit. Hal ini seperti yang disangkakan oleh ulama nauwu bahwa apa yang menjadi pendapat Imam Zamakhsyari mengenai huruf A C acAdianggap mengarahkan pada makna taqlil, karena beliau menyamakan A C acAdengan rubbama. Sedangkan untuk makna tahqiq yang dimiliki A C acAseperti yang penulis temukan dalam kitAb lain ada Contoh. QS. An-Nuur: 63. caO aN IA ca caAC ac O E aIA a AAO aN Iac aA Iac Oac OA a a AcEEa EaOIac OEEaOIac Ia I aE Iac EaO ac A EO aac EaOIac Oa aEAaOIac Iac I a aeacN I A )63:A(EIOA. cac EaOIA AuSesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsurangsur pergi di antara kamu dengan berlindung . epada kawanny. , maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedihAy . Sejatinya makna tahqiq yang dimiliki A C acAitu merupakan kekhususan bagi A C acAyang masuk pada fiAoil mAsi. Namun di dalam ayat ini A C acAmasuk pada fiAoil musAriAo, dan ternyata dari keseluruhan makna yang dimiliki AC acA ketika masuk pada fiAoil musAriAo dapat mengiring maknanya pada zaman mAsi. PENUTUP Pertama, dalam sebuah penafsiran tentunya tidak akan terlepas dari latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh seorang mufasir. Hal inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah corak dan ideologi dalam kaidah penafsiran. Dalam tafsir al Bahr al-Muhith, jika ditinjau dari latar Abu Hayyan kehidupannya saat berproses menuntut ilmu, juga keadaan lingkungan AL ILMU : Jurnal Keagamaan dan Ilmu Sosial Volume 11 Nomor 2 Bulan Juli - Desember Tahun 2025 Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA sekitarnya semasa beliau hidup, penulis menyimpulkan bahwa dalam penafsirannya beliau Abu Hayyan, dengan bekal keilmuan yang dapat dikatakan ahli dalam bidang nauwu, meskipun beliau menjadikan Imam Syibawih sebagai panutan dan dalil-dalilnya menjadi tolak ukur, namun beliau tidak meninggalkan pendapat ulama lain seperti ulama kuffah sebagai bahan perbandingan. Juga dalam segi fiqh, beliau tidak memunculkan kecenderungan pada madzhab tertentu. Hal ini membuat penulis kagum dengan sikap bijak yang dilakukan Abu hayyan dalam karyanya, sehingga membuat tafsir al-Bahr Al-Muhit terkesan netral, dan menafsirkan semata-mata untuk kepentingan umat manusia agar dapat lebih memahami kitAb suci sebagai tuntunan hidup. Kedua, penafsiran yang dilakukan mufasir dalam beberapa ayat yang menggunakan Lafae mudariAo dengan makna madi, terkadang sesuai dengan kaidah sastra yang telah diungkapkan oleh para ulama ahli nauwu. Dalam poin ini tidak hanya fan nauwu saja yang ditunjukan alQurAoan dengan kedalaman maknanya, namun ilmu balagah pun turut ambil bagian dalam mengurai ayat untuk menghasilkan makna yang Namun terkadang penafsiran yang ilakukan tidak sejalan dengan kaidah bahasa. Dengan tidak ikut sertanya kaidah bahasa dalam beberapa penafsiran juga menunjukan bahwa kaidah bahasa tidak selamanya menjadi tolak ukur untuk dapat memahami kalam ilahi. Artinya, al-QurAoan yang Allah turunkan kepada baginda Nabi merupakan lantunan ayat-ayat yang tidak selalu dapat diukur dengan teori-teori linguistik arab. Ini menyimpulkan akan kedalam sastra yang dimiliki alQurAoan, dan membuktikan bahwa al-QurAoan benar-benar merupakan sebuah untaian kata yang berasal dari Sang Maha Pencipta. Dalam pemaknaan madi pada Lafae mudariAo memiliki tujuan penyampaian kata dan keistimewaan tersendiri. Dengan penafsiran seperti ini, dapat Dina Nurjannah. Pengungkapan Lafaz FiAoilA memberikan pemahaman akan makna-makna yang tersimpan dalam sebuah ayat secara lebih mendalam. Pada sisi lain, juga dapat lebih mengenalkan bahwa dalam segi makna, ayat-ayat al-QurAoan tidaklah terhenti pada konteks ayat yang terlihat saja, bahkan terdapat banyak makna yang tersirat dalam pemahaman sebuah ayat. DAFTAR PUSTAKA