MADIUN Vol. Tahun ke-7. April 2015 ISSN. FILOSOFI PENDIDIKAN YANG INTEGRAL DAN HUMANIS DALAM PERSPEKTIF MANGUNWIJAYA Agustinus Wisnu Dewantara PERAN KAUM DEWASA DALAM MENINGKATKAN KERASULAN DI BIDANG POLITIK BAGI KAUM MUDA DALAM TERANG DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM 12 Ola Rongan Wilhelmus dan Yuvinus Sujiman PEMBINAAN ROHANI KATOLIK TERHADAP NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MADIUN Agustinus Supriyadi dan Vinansius Fentius Lase DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA BERDASARKAN DOKUMEN MARIALIS CULTUS DAN PELAKSANAANNYA DI PAROKI MATER DEI MADIUN Don Bosco Karnan Ardijanto dan Ignatius Damar Putra KOMUNITAS BASIS GEREJANI SEBAGAI BASIS PEMBERDAYAAN IMAN UMAT DI PAROKI MATER DEI MADIUN Aloysius Suhardi dan Elisabet Sababak PERSEPSI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA MADIUN TENTANG HUBUNGAN ANTARA PEMBINAAN SPIRITUALITAS DAN PEMBINAAN KARYA PASTORAL Yuventius Fusi Nusantoro dan Antonia Bamban Puspitasari ISSN Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan AyWidya YuwanaAy MADIUN 7 72 08 5 07435 1 JPAK JURNAL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) adalah media komunikasi ilmiah yang dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian, hasil studi, atau kajian ilmiah yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Katolik sebagai salah satu bentuk sumbangan STKIP Widya Yuwana Madiun bagi pengembangan Pendidikan Agama Katolik pada umumnya. Penasihat Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun Pelindung Ketua STKIP Widya Yuwana Madiun Penyelenggara Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana Madiun Ketua Penyunting Agustinus Wisnu Dewantara Penyunting Pelaksana DB. Karnan Ardijanto Agustinus Supriyadi Penyunting Ahli John Tondowidjojo Ola Rongan Wilhemus Armada Riyanto Sekretaris Aloysius Suhardi Alamat Redaksi STKIP Widya Yuwana Jln. Mayjend Panjaitan. Tromolpos: 13. Telp. Fax. Madiun 63137 Ae Jawa Timur Ae Indonesia Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) diterbitkan oleh Lembaga Penelitian. STKIP Widya Yuwana Madiun. Terbit 2 kali setahun (April dan Oktobe. PERSYARATAN PENULISAN ILMIAH DI JURNAL JPAK WIDYA YUWANA MADIUN Jurnal Ilmiah JPAK Widya Yuwana memuat hasil-hasil Penelitian. Hasil Refleksi, atau Hasil Kajian Kritis tentang Pendidikan Agama Katolik yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di Majalah/Jurnal Ilmiah lainnya. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris sepanjang 7500-10. kata dilengkapi dengan Abstrak sepanjang 50-70 kata dan 3-5 kata kunci. Artikel Hasil Refleksi atau Kajian Kritis memuat: Judul Tulisan. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Pendahuluan . anpa anak judu. Isi . ubjudul-subjudul sesuai kebutuha. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka. Artikel Hasil Penelitian memuat: Judul Penelitian. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Latar Belakang Penelitian. Tinjauan Pustaka. Metode Penelitian. Hasil Penelitian. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka Catatan-catatan berupa referensi disajikan dalam model catatan lambung. Contoh: Menurut Caputo, makna religius kehidupan harus berpangkal pada pergulatan diri yang terus menerus dengan ketidakpastian yang radikal yang disuguhkan oleh masa depan absolut (Caputo, 2001: . Kutipan lebih dari empat baris diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Contoh: Religions claim that they know man an the world as these really are, yet they they differ in their views of reality. Question therefore arises as to how the claims to truth by various religions are related. Are they complementary? Do they contradict or overlap one another? What Aeaccording to the religious traditions themselvesAiis the nature of religious knowledge? (Vroom, 1989: . Kutipan kurang dari empat baris ditulis sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks dengan memakai tanda petik. Contoh: Dalam kedalaman mistiknya. Agustinus pernah mengatakan Ausaya tidak tahu apakah yang saya percayai itu adalah Tuhan atau bukan. Ay (Agustinus, 1997: . Daftar Pustaka diurutkan secara alfabetis dan hanya memuat literature yang dirujuk dalam artikel. Contoh. Tylor. , 1903. Primitive Culture: Researches Into the Development of Mythology. Philosophy. Religion. Language. Ert, and Custom. John Murray: London Aswinarno. Hardi, 2008. AuTheology of Liberation As a Constitute of Consciousness,Ay dalam Jurnal RELIGIO No. April 2008, hal. Borgelt. , 2003. Finding Association Rules with the Apriori Algorthm, http://w. uni-magdeburg. de/-borgelt/apriori/. Juni 20, 2007 Derivaties Research Unicorporated. http//fbox. 10021/business/finance/ dmc/RU/content. Accesed May 13, 2003 JPAK Vol. Tahun ke-7. April 2015 ISSN. DAFTAR ISI 3 Filosofi Pendidikan yang Integral dan Humanis dalam Perspektif Mangunwijaya Oleh: Agustinus Wisnu Dewantara 10 Peran Kaum Dewasa dalam Meningkatkan Kerasulan di Bidang Politik Bagi Kaum Muda dalam Terang Dekrit Apostolicam Actuositatem 12 Oleh: Ola Rongan Wilhelmus dan Yuvinus Sujiman 32 Pembinaan Rohani Katolik terhadap Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Madiun Oleh: Agustinus Supriyadi dan Vinansius Fentius Lase 43 Devosi Kepada Bunda Maria Berdasarkan Dokumen Marialis Cultus Dan Pelaksanaannya di Paroki Mater Dei Madiun Oleh: Don Bosco Karnan Ardijanto dan Ignatius Damar Putra 55 Komunitas Basis Gerejani Sebagai Basis Pemberdayaan Iman Umat di Paroki Mater Dei Madiun Oleh : Aloysius Suhardi dan Elisabet Sababak 67 Persepsi Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun Tentang Hubungan Antara Pembinaan Spiritualitas Dan Pembinaan Karya Pastoral Oleh : Yuventius Fusi Nusantoro dan Antonia Bamban Puspitasari FILOSOFI PENDIDIKAN YANG INTEGRAL DAN HUMANIS DALAM PERSPEKTIF MANGUNWIJAYA Agustinus Wisnu Dewantara STKIP Widya Yuwana Madiun Abstract Mangunwijaya introduced humanist educational philosophy and integrality. Education, according to Mangunwijaya, must create a climate that allows the child to divide themselves into an independent person. Education should aim to deliver learners in recognizing and developing human potential itself into a whole . ot just the brain, but all aspects of humanity: skilled, intelligent, piety, solidarity, capable, and responsibl. An education system should be humane. That is, a system of compulsory education to respect human dignity, particularly in the person of the child. Schools should thus be understood as a division of talent and togetherness with others. Consequently, the teaching system should not be alienated from the life of the That is, not merely biased cognitive, intellectualist or mere romantic extreme, but really develop talent, art, language, manners, morals, taste, religiosity, and social life. Keywords: philosophy, integral, humanistic Pendahuluan Tugas mendidik di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Ada banyak persoalan di sini: Pertama. Tuntutan kurikulum yang hendak mengukur kemampuan siswa hanya dari angka belaka merupakan sesuatu yang problematis bagi dunia pendidikan. Mengapa? Karena pendidikan tentu tidak bisa disempitkan begitu saja dalam angka. Kedua, mendidik amat berkait dengan soal metodologi, yakni bagaimana cara mentransfer ilmu dengan baik kepada anak didik. Jika mendidik adalah soal bagaimana mentransfer pengetahuan, transfer pengetahuan macam apa yang paling memadai? Kedua pertanyaan tersebut tentu tidak mudah dijawab. Di satu sisi, dunia pendidikan Indonesia harus diakui sangat berorientasi kepada pencapaian hasil. Di sisi lain, seorang guru harus mengedepankan pengajaran akan nilai-nilai yang benar. Guru kerap terjebak kepada patokan kurikulum. Ia harus menghabiskan . bahan-bahan yang sudah digariskan. Lucunya, kadang-kadang bahan itu sendiri pun terlampau sulit untuk Lalu bagaimana hal ini harus disikapi? Tulisan berikut ini mengulas alternatif jawaban dari kegelisahan di atas dalam filosofi berpikir Mangunwijaya. Selain sebagai budayawan, berbagai tulisan dan argumentasi Mangunwijaya kerap menyoal dunia pendidikan Indonesia dengan mengetengahkan pandangan yang lebih humanis dan integral. II. Filosofi Mangunwijaya Mengenai Pendidikan Bagi Yosef Bilyarta Mangunwijaya, yang lebih akrab dipanggil Romo Mangun, suatu sistem pendidikan tidak pernah netral. Pendidikan ditentukan oleh bagaimana citra manusia itu dianut. Sistem pendidikan di Indonesia menurut Romo Mangun sudah dikuasai oleh filsafat pragmatisme yang lebih berisi indoktrinasi dan brainwashing secara besar-besaran demi kepentingan politik tertentu, dan bukan mengabdi kepada kemanusiaan (Supratiknya dan Atmadi, 2003: 157-. Dari kegelisahan ini. Romo Mangun memunculkan sistem pendidikan alternatif yang secara nyata beliau ejawantahkan dalam Sekolah Dasar Eksperimental Kanisius di Mangunan. Berbah. Sleman. Yogyakarta. Pandangan Romo Mangun banyak dipengaruhi oleh Ivan Illich . engan learning-webs-nya sehingga masyarakat benar-benar bebas dari ikatan pendidikan formal atau sekola. Paulo Freire . ang mengkritik sekolah sebagai tempat penindasan anak-anak miski. , dan Evertt Reimer . ang menyatakan kematian sekola. Pendidikan menurut Romo Mangun ditentukan oleh bagaimana ia memandang manusia. Suatu sistem pendidikan haruslah humanis. Artinya, suatu sistem pendidikan wajib menghormati harkat dan martabat manusia, terutama pada diri si anak. Sekolah dengan demikian harus dimengerti sebagai tempat pemekaran bakat dan kebersamaan dengan sesamanya. Konsekuensinya, sistem pengajaran tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan Seiring dengan hal tersebut, prinsip pendidikan anak menjadi total atau integral. Artinya, tidak berat sebelah kognitif intelektualistis melulu ataupun ekstrem romantis belaka, tetapi sungguh mengembangkan bakat, seni, bahasa, budi pekerti, moral, citarasa, religiositas, hidup sosial, dst. Itu berarti, anak harus didik menjadi seorang realis, yakni mengakui kehidupan yang multidimensional, dan tidak seragam. Konsekuensinya, pola pendidikan seharusnya mengakui banyak jalan alternatif dan jawaban beragam atas satu soal, serta menghirmati pola pikir lain . ahkan yang lain dari Murid sebaiknya diajak untuk menghayati kebhinnekaan yang saling melengkapi demi persaudaraan yang sehat. Penghargaan atas diri manusia menjadi sentral dalam filosofi pendidikan Romo Mangun. Mangunwijaya . 3: . berpendapat bahwa dalam diri anak sudah ada AumahaguruAy sejak dia lahir. AuSebetulnya, yang jadi guru bukanlah kita, mnelainkan si anak sendiri. Kita . apak, ibu, kakak, dan gur. hanyalah Tidak ada anak yang bodoh dan tidak ada anak yang malas. Kalau ada anak yang bodoh dan malas, itu karena guru yang membuat yang membuat dia menjadi malas dan bodoh. Ay Dalam hati, diri, dan kodratnya, anak itu selalu punya rasa ingin tahu, ingin pandai, dan ingin rajin. Hal demikian juga dikatakan Aristoteles dalam bukunya AuMetaphisics . Ay dengan mengatakan: AuAll men by nature desire to know. Ay Romo Mangun berpendapat bahwa anak mulai mempelajari sesuatu pada saat dia memperhatikan dan pada saat hatinya ada di Jadi, jangan dikatakan bahwa si anak bodoh saat dia tidak mau belajar matematika. Pada saat itu si anak hanya belum paham akan manfaatnya, dan hatinya belum tertuju pada berhitung. Memang ada anak yang lambat dan harus mendapat pelayanan khusus. Tetapi anak yang normal tidak ada yang bodoh dan malas. Yang penting, menurut beliau, adalah bagaimana sikap guru, orang tua, dan suasana Sekolah harus bernuansa keluarga, dan bukannya tempat untuk berlomba mencari ranking. Romo Mangun terpaksa berkompromi dengan ranking dan ujian nasional . eperti yang dilakukannya pada Sekolah Manguna. karena pemerintah masih mengukurnya dalam rapor dan peringkat. Tetapi menurut beliau ini jangan dibesarbesarkan karena sekolah bukan tempat untuk berlomba. Yang diabdi dalam pendidikan bukanlah orang tua melainkan anak-anak. Orang tua kerap terpengaruh oleh sikap masyarakat yang kadang kurang bijaksana. Mereka sering memacu anak menjadi Ayserdadu-serdadu kecil,Ay sehingga hanya mementingkan ranking dan Harus ada dua hal yang komplementer dan dialogis dalam Dalam bahasa Jawa ada istilah yang bagus sekali AuasihajrihAy . inta kasih dan rasa taku. Jadi, ada dua hal yang mendasar dalam mendidik, yaitu: anak itu harus dicintai dan kadang-kadang juga harus tunduk. Nah jikalau enforcement dan cinta kasih ini bersatu, itulah pendidikan yang ideal. Pendidikan lama yang berpusat pada AusosialisasiAy dengan demikian juga harus dikoreksi. Sosialisasi hanyalah sebagian kecil dari proses pendidikan, dan tidak identik dengannya. Pendidikan sebagai sosialisasi melulu hanya bermanfaat bagi regim yang berkuasa, para elit, kaum kaya. Mengapa? Karena dengan model pendidikan seperti itulah aneka kepentingan penguasa dapat Lalu bagaimana dengan si miskin, lemah, dan terpinggirkan? Arah baru pendidikan dengan demikian haruslah memihak kepada si miskin dan kaum lemah dan terabaikan agar mereka layak diberi label manusiawi. Tanggapan Atas Argumentasi Mangunwijaya Di kalangan para pemikir dan pemerhati pendidikan, cita-cita dan idealisme Romo Mangun banyak mencuri simpati. St Kartono dalam Kompas 13 Maret 1998 sependapat bahwa sistem pendidikan di Indonesia telah menyapu bersih kreativitas dan daya kritis anak. Kartono dalam Kompas 25 April 1998 secara eksplisit membenarkan pendapat Romo Mangun dengan mengatakan bahwa anak-anak Indonesia telah mengalami penyiksan secara kejam akibat sistem pendidikan formal. Lebih mengerikan lagi, anak-anak Indonesia sedang mengalami Aupemerkosaan batinAy saat diharuskan menerima bahwa sang guru adalah sumber kebenaran satu-satunya dan si anak tidak boleh berpikir lain. Hal senada juga dikemukkan oleh Acep Iwan Saidi dalam Kompas 23 Maret 1998 yang mengatakan bahwa sistem pendidikan formal di negeri ini telah membuat anak-anak menjadi semakin bodoh. Imajinasi anak terkekang oleh aturan-aturan yang menjadi simbol kekuasaan. Supratiknya dan Atmadi . 3:172-. mengatakan bahwa gagasan Romo Mangun ini memang amat ideal dan bagus, akan tetapi konsep pendidikan semacam ini akan menemui kendala dalam Mengapa? Karena Pemerintah Indonesia masih menerapkan kebijakan yang bersifat sentralistik dan kurikulum yang Hal ini diperparah dengan kewajiban untuk mengikuti Ujian Akhir Nasional sebagai standar kelulusan siswa. IV. Relevansi Filosofi Pendidikan Mangunwijaya Dewasa Ini Harus diakui bahwa Pendidikan Indonesia sedang disorot oleh berbagai kalangan. Menyadari hal itu, berbagai kurikulum pun dicoba demi menghasilkan sistem pendidikan yang bermutu, baik dari CBSA. KBK. KTSP, dan sekarang Kurikulum 2013. Pemerintah berpendapat bahwa sistem pendidikan yang dilangsungkan saat ini merupakan program terbaik demi menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi. Undang-Undang SISDIKNAS yang menyerahkan kelulusan siswa kepada tangan pendidik pun dengan mudah dilanggar dengan menyelenggarakan UAN sebagai syarat kelulusan. Hal di atas jelas memprihatinkan. Mengapa? Karena selama enam puluh empat tahun merdeka, bangsa ini belum menemukan formula ideal dalam mengelola pendidikan nasional. Tidak mengherankan jika timbul komentar bahwa Aypergantian menteri pasti diikuti dengan pergantian kurikulum. Ay Hal demikian tentu menempatkan para peserta didik sebagai obyek yang bisa dipermainkan sebagai kelinci percobaan penguasa dan demi kepentingan politik tertentu yang pasti sesaat. Yang dilakukan pemerintah hanyalah AymengcopyAy sistem pendidikan dari negara lain yang dianggap maju dan berhasil. Jadi, tidak ada filsafat atau pondasi berpikir yang jelas dalam menerapkan suatu kebijakan di sektor Situasi pendidikan Indonesia yang penuh bopeng ini diteropong oleh Mangunwijaya dengan amat kritis. Romo Mangun mengintrodusir falsafah pendidikan yang humanis dan integralistik. Pendidikan, menurut Romo Mangun, haruslah menciptakan iklim yang meleluasakan anak untuk memekarkan diri menjadi pribadi yang mandiri. Pendidikan harus bertujuan untuk menghantar peserta didik dalam mengenal dan mengembangkan potensi dirinya menjadi manusia yang utuh . idak hanya otaknya, melainkan seluruh aspek kemanusiaannya: terampil, cerdas, takwa, solider, cakap, dan Jadi pendidikan bukan ditentukan oleh bagaimana ia menjawab soal ujian dengan baik. Yang jauh lebih penting dari itu adalah, bagaimana proses jawaban itu didapat . engan mencontek atau dengan mengekplorasi seluruh daya berpikirnya secara jujur, atau bahkan dengan menggunakan cara dan rumus yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh sang gur. Jawaban pun bisa didapat bukan dari hafalan yang diberikan si guru, melainkan bisa melalui eksperimen kreatif yang dilakukan si anak, yang bisa saja ditemukannya lewat pergaulannya sehari-hari dengan teman, orang tua, dan bahkan dari alam sekitar. Di titik inilah anak menjadi pribadi yang integral karena ia menjadi sungguh-sungguh belajar dan bukan hanya menghafal. Penutup Filosofi pendidikan yang humanis-integral khas Mangunwijaya rupanya perlu dirujuk kembali untuk menjembatani persoalan pendidikan dewasa ini. Mengapa? Karena di titik inilah pendidikan menjadi sesuatu yang memerdekakan anak didik. Daya pikirnya si anak diasah bersamaan dengan segala aspek yang menyertainya. Pendidikan Indonesia dengan demikian bukanlah hendak mencontoh sekolah-sekolah Amerika. Jepang, atau negara maju lainnya dengan menciptakan tenaga yang handal dan siap pakai. Mengapa? Karena pendidikan siap pakai muaranya hanyalah pada eksploitasi manusia oleh manusia lain, padahal sebenanya tujuan pendidikan adalah memekarkan seluruh eksistensi kemanusiaan si anak didik. Filosofi pendidikan integralistik humanis yang digagas oleh Romo Mangun tidak hanya tinggal sebagai ide, melainkan konkrit dijalankan dalam Sekolah Mangunan yang terus berdiri sampai Tampak bahwa idealisme yang diusungnya sebenarnya bisa diwujudnyatakan dalam sistem pendidikan yang lebih berbasis pada penghargaan akan kemanusiaan. DAFTAR PUSTAKA