Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 6. No 2. Juli 2025 KETELADANAN GURU SEKOLAH MINGGU DALAM MEMBANGUN SPIRITUALITAS ANAK DI JEMAAT GKI BETANIA DOK IX JAYAPURA Henny Verra Fonataba STFT GKI I. S Kijne Jayapura verrafonataba@gmail. Paul Silas STFT GKI I. S Kijne Jayapura nandotahitoe6045@gmail. ABSTRAK Keteladanan guru sekolah minggu memiliki peranan penting dalam membentuk spiritualitas anak karena pada masa kanak-kanak, proses pembelajaran iman lebih banyak terjadi melalui pengamatan dan peneladanan perilaku. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena bahwa banyak guru sekolah minggu mampu mengajarkan firman Tuhan secara verbal, tetapi belum sepenuhnya konsisten dalam mempraktikkan nilai-nilai Kristiani yang diajarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana keteladanan guru sekolah minggu mempengaruhi pembentukan spiritualitas anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dekriptif dengan metode studi pustaka dan wawancara mendalam. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di kelas sekolah minggu, wawancara semi-terstruktur dengan guru, serta analisis literatur terkait pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang konsisten antara ajaran dan perilakunya, menunjukkan kasih, kesabaran, dan komitmen rohani, mampu membentuk iman anak secara lebih mendalam. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan spiritualitas anak memerlukan keteladanan nyata yang ditunjukkan guru dalam kehidupan sehari-hari. Disarankan agar gereja memberikan pelatihan karakter, pengembangan rohani, dan pendampingan pastoral secara berkelanjutan kepada guru sekolah minggu demi memperkuat peran mereka sebagai teladan iman. Kata Kunci: Keteladanan. Guru Sekolah Minggu. Spiritualitas Anak. Pendidikan Iman. Pembinaan Rohani ABSTRACT Exemplary Sunday School teachers play a crucial role in shaping children's spirituality because, during childhood, the process of learning faith occurs primarily through observation and behavioral modeling. This research is motivated by the phenomenon that many Sunday School teachers are able to teach God's Word verbally, but are not yet fully consistent in instilling the Christian values they teach. The purpose of this study is to describe how the exemplary Sunday School teachers influence the formation of children's The study used a qualitative descriptive approach using literature review and in-depth Data were collected through participatory observation in Sunday School classes, semistructured interviews with teachers, and analysis of literature related to Christian education. The results indicate that teachers who are consistent between their teachings and behavior, demonstrating compassion, patience, and spiritual commitment, are able to shape children's faith more deeply. The study's conclusion confirms that the formation of children's spirituality requires concrete examples demonstrated by teachers in their daily lives. It is recommended that churches provide character training, spiritual development, and ongoing pastoral care to Sunday School teachers to strengthen their role as role models of faith. Keywords: Role Model. Sunday School Teachers. Children's Spirituality. Faith Education. Spiritual Training PENDAHULUAN Pembentukan spiritualitas anak sejak dini merupakan fondasi penting dalam pendidikan agama Kristen. Anak-anak, sebagai generasi penerus gereja, membutuhkan pembinaan spiritual yang menyeluruh agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana. Spiritualitas anak tidak hanya meliputi pengetahuan tentang ajaran agama, tetapi juga mencakup pengalaman, sikap, dan praktik hidup yang mencerminkan hubungan yang erat dengan Tuhan. Masa kanak-kanak merupakan periode emas dalam perkembangan iman, di mana fondasi nilai dan kepercayaan dibentuk melalui proses pembelajaran, pengamatan, dan peneladanan. Dalam konteks ini, sekolah minggu memiliki peran strategis sebagai sarana penanaman nilai-nilai spiritual dengan metode yang sesuai perkembangan anak, sehingga mereka dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan firman Tuhan sejak dini. Keteladanan guru sekolah minggu merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pembentukan spiritualitas anak. Secara psikologis, anak-anak belajar banyak melalui observasi dan peniruan perilaku orang dewasa yang mereka hormati dan percayai. Guru sekolah minggu, yang berinteraksi langsung dengan anak setiap minggu, menjadi figur signifikan yang mempengaruhi cara anak berpikir, bersikap, dan bertindak. 1 Keteladanan tersebut mencakup integritas pribadi, kesesuaian antara ucapan dan tindakan, kesabaran, kerendahan hati, kesetiaan dalam pelayanan, serta kasih yang tulus. Apabila nilai-nilai ini tercermin dalam perilaku guru, maka anak akan lebih mudah menyerap ajaran iman dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara pengajaran dan perilaku dapat menimbulkan kebingungan, bahkan mengurangi otoritas guru di mata anak. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keteladanan guru sekolah minggu tidak selalu terjaga secara konsisten. Dalam banyak kasus, pengajaran lebih menekankan aspek kognitif, seperti menghafal ayat Alkitab atau memahami cerita-cerita Alkitab, sementara aspek afektif . embentukan karakte. dan psikomotorik . enerapan dalam tindakan nyat. kurang diperhatikan. Misalnya, guru sekolah minggu dapat mengajarkan pentingnya disiplin beribadah, tetapi dirinya sendiri jarang hadir tepat waktu atau kurang terlibat dalam ibadah jemaat. Ketidaksesuaian ini dapat memicu dissonansi kognitif pada anak, yaitu ketegangan antara apa yang diajarkan dan apa yang dilihat secara nyata. Hasil observasi awal, pada pelayanan di sekolah minggu, menunjukkan adanya permasalahan mendasar yang dapat menghambat pembentukan spiritualitas anak. Pertama, sebagian guru kurang menyadari peran mereka sebagai teladan iman, sehingga keterlibatan mereka dalam pelayanan belum Kedua, keterbatasan pemahaman teologi membuat guru kesulitan mengaitkan bahan ajar dengan kehidupan sehari-hari anak. Ketiga, terdapat guru yang telah hidup bersama sebagai suami istri namun belum menikah gereja. Situasi ini berisiko menimbulkan peniruan perilaku yang keliru, karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dari orang yang dianggap berotoritas. Secara konseptual, keteladanan dalam pendidikan Kristen dapat didefinisikan sebagai perilaku yang pantas diikuti karena selaras dengan prinsip-prinsip iman. Dalam ajaran Alkitab. Rasul Paulus menegaskan pentingnya menjadi teladan bagi orang percaya dalam perkataan, tingkah laku, kasih, iman, dan kesucian . Timotius 4:. Keteladanan bukan sekadar tuntutan moral, melainkan bagian integral dari proses pembentukan murid Kristus. Dalam konteks sekolah minggu, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan Alkitab, tetapi juga memperagakan kehidupan yang sesuai dengan firman Tuhan. Spiritualitas anak dapat dipahami sebagai kesadaran, pengalaman, dan komitmen anak kepada Tuhan, yang diwujudkan dalam kasih kepada sesama, ketaatan kepada firman, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan iman. Pembentukan spiritualitas pada anak memerlukan pendekatan yang holistik, mencakup ranah kognitif . engetahuan ima. , afektif . enghayatan nila. , dan psikomotorik . indakan nyat. Oleh karena itu, keteladanan guru menjadi jembatan yang menghubungkan ajaran dengan praktik hidup. Penelitian-penelitian terdahulu telah menegaskan pentingnya peran guru sekolah minggu dalam pembentukan iman anak. Hasil penelitian dari Babawat menunjukkan bahwa guru sekolah minggu memegang peran krusial dalam membangun dasar spiritual anak melalui kombinasi keteladanan hidup, pengajaran Alkitab, dan pendampingan nilai-nilai Kristen. 3 Vera dan Christiani menemukan bahwa Ulfiani Rahman. Memahami Psikologi Dalam Pendidikan (Makassar: Alauddin University Pres, 2. , 72 Bandura. Albert,Social Learning Theory,New Jersey. PRENTICE-HALL. INC. Englewood Cliffs,hlm 33 Heles Babawat. Peran Guru Sekolah Minggu Dalam Membangun Fondasi Spritual Anak Sekolah Minggu . Jurnal Excelsior Pendidikan. Vol. 5 No. 1 April 2024 ( di akses pada tanggal 1 April 2025, 14. 15 WIT) hlm 13 keteladanan guru berpengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan kualitas iman anak. 4 Meskipun demikian, sebagian besar kajian lebih menyoroti peran guru secara umum atau metode pengajaran, dan belum banyak yang secara khusus mengkaji aspek keteladanan sebagai variabel utama yang mempengaruhi spiritualitas anak. Celah inilah yang ingin dijawab dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam bagaimana keteladanan guru sekolah minggu berkontribusi terhadap pembentukan spiritualitas anak. Penelitian berfokus pada nilai-nilai keteladanan yang ditunjukkan guru, seperti integritas, kasih, kesetiaan, dan disiplin, serta dampaknya terhadap pertumbuhan iman anak. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya menggali pengalaman nyata guru dan persepsi anak terhadap perilaku guru mereka. Urgensi penelitian ini terletak pada tantangan besar yang dihadapi anak-anak di era modern. Arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan penetrasi nilai-nilai sekuler dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku anak, bahkan sejak usia dini. Sekolah minggu sebagai bagian dari gereja memiliki tanggung jawab ganda: memberikan pendidikan iman yang kokoh sekaligus melindungi anak dari pengaruh yang bertentangan dengan firman Tuhan. Dalam hal ini, guru sekolah minggu berperan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai role model yang membentuk karakter dan spiritualitas anak melalui contoh nyata kehidupan sehari-hari. Jika guru sekolah minggu gagal menjadi teladan, proses pendidikan iman berisiko menjadi sekadar transfer pengetahuan tanpa transformasi hidup. Anak mungkin mampu menjawab pertanyaan Alkitab atau menghafal ayat-ayat tertentu, tetapi tidak menunjukkan perubahan perilaku yang mencerminkan nilai Kristiani. Sebaliknya, guru yang konsisten antara ajaran dan tindakannya akan menanamkan nilai-nilai iman yang kuat dalam hati anak, sehingga mereka mampu menghidupi ajaran Kristus dalam setiap aspek Diharapakan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan Kristen, khususnya Pendidikan informal yaitu sekolah minggu. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi gereja dalam merancang program pembinaan guru sekolah minggu yang menekankan pembentukan karakter, integritas, dan kesesuaian hidup dengan firman Tuhan. Dengan demikian, anak-anak yang dilayani akan memiliki fondasi iman yang kokoh, karakter yang mulia, dan kesiapan untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang terus berubah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami secara mendalam keteladanan guru sekolah minggu dalam membangun spiritualitas anak. Menurut Sugiyono, penelitian kualitatif deskriptif menekankan pemahaman terhadap fenomena secara alamiah, dengan peneliti sebagai instrumen utama . uman instrumen. ,5 sedangkan Moleong menegaskan bahwa fokus penelitian kualitatif terletak pada makna yang terkandung dalam interaksi sosial. 6 Data dikumpulkan melalui observasi kegiatan mengajar guru Sekolah Minggu, wawancara mendalam dengan guru, majelis gereja, orang tua, serta dokumentasi berupa foto, catatan kegiatan, dan bahan ajar. Untuk keabsahan data, digunakan triangulasi sumber dan metode. Analisis data dilakukan secara interaktif mengikuti langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sebagaimana diuraikan oleh Miles. Huberman, dan Saldaya 7, sehingga diperoleh gambaran yang utuh dan akurat mengenai peran keteladanan guru Sekolah Minggu. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman keteladanan dan Spiritualitas Kristen Pemahaman keteladanan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjadi contoh nyata melalui sikap, perkataan, dan perbuatan yang konsisten dengan nilai-nilai iman Kristen. Dalam Vera dan Christiani. Dampak Keteladanan Guru Sekolah Minggu Dalam Pembentukan Karakter Anak Di Gereja Kristen Indonesia Menining. Journal of Religious and Socio-Cultural Vol. No. 1 2021, . i akses pada tanggal 1 April 2025, 19. 30 WIT) hlm 1 Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Miles. Huberman. , & Saldaya. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook . rd ed. Thousand Oaks. CA: Sage. konteks guru sekolah minggu, keteladanan bukan hanya terletak pada penyampaian materi Alkitab secara teoritis, tetapi juga bagaimana guru mempraktikkan kebenaran tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Rasul Paulus menasihati Timotius. AuJadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmuAy . Timotius 4:. Ayat ini menegaskan bahwa keteladanan adalah bagian integral dari pelayanan pendidikan iman, terutama bagi anak-anak yang belajar dengan meniru perilaku orang dewasa di Spiritualitas dalam pelayanan guru sekolah minggu mengacu pada hubungan pribadi yang mendalam dengan Allah, yang memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku guru tersebut. Spiritualitas yang sehat tampak dalam kesungguhan doa, konsistensi membaca dan merenungkan Firman Tuhan, serta kesediaan melayani dengan rendah hati. Yesus sendiri menegaskan pentingnya kedekatan dengan Allah ketika berkata. AuAkulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnyaA barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyakAy (Yohanes 15:. Seorang guru yang hidup dalam spiritualitas yang benar akan memancarkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-. yang menjadi kesaksian hidup bagi murid-muridnya. Keteladanan dan spiritualitas memiliki hubungan yang erat, sebab keteladanan yang sejati lahir dari spiritualitas yang otentik. Guru yang memiliki kehidupan rohani yang intim dengan Tuhan akan lebih mudah menampilkan teladan yang konsisten, tidak dibuat-buat, dan berdampak bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan Titus 2:7Ae8. AuJadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela. Ay Ayat ini menegaskan bahwa pengajaran yang efektif tidak hanya memerlukan kompetensi kognitif, tetapi juga integritas rohani dan moral. Sudut pandang pendidikan Kristen modern seperti teori Holistic Education menekankan bahwa pembentukan iman anak harus melibatkan aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara utuh. Anak-anak tidak hanya diajar untuk mengetahui isi Alkitab, tetapi juga diajak untuk mengalami dan melihat teladan hidup yang sesuai dengan pengajaran tersebut. sinilah peran guru sekolah minggu menjadi strategis: menghubungkan ajaran dengan praktik hidup sehingga anak-anak tidak hanya menghafal ayat, tetapi juga meniru perilaku yang sesuai dengan Firman Tuhan. Pemahaman keteladanan dan spiritualitas bagi guru Sekolah Minggu bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Spiritualitas menjadi sumber kekuatan batin yang melahirkan keteladanan, sementara keteladanan menjadi wujud nyata dari spiritualitas yang Guru sekolah minggu yang menghidupi keduanya akan menjadi alat Tuhan untuk menanamkan iman yang kuat pada anak-anak, sesuai amanat dalam Ulangan 6:6Ae7 untuk mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak Auberulang-ulangA dan membicarakannya di rumah, dalam perjalanan, waktu berbaring, dan bangun. Ay. Penjelasan ayat tersebut bahwa orang tua dalam mendidik anak-anak, sepanjang hidupnya, tanpa ada batasan usia. Pemahaman Guru Sekolah Minggu tentang keteladanan dan spiritualitas anak Guru sekolah minggu memahami konsep teladan sebagai sikap, perilaku, kebiasaan baik, atau karakter yang layak ditiru oleh anak-anak. Keteladanan ini tidak hanya tercermin dalam ucapan, tetapi terutama dalam tindakan nyata sehari-hari sebagai panutan yang konsisten. Sebaliknya, spiritualitas dipahami sebagai hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan yang ditunjukkan melalui kebiasaan rohani seperti doa, membaca Alkitab, melayani, dan mengajarkan Firman Tuhan. Beberapa guru sekolah minggu, menggambarkan spiritualitas sebagai pencarian makna hidup yang lebih dalam dan dorongan tak henti untuk mendekatkan diri pada hal-hal yang rohani. Namun, beberapa guru sekolah minggu dengan tegas menyampaikan bahwa tidak mudah mempertahankan konsistensi spiritualitas, seperti berdoa, membaca Alkitab, dan aktif dalam mengajar. Menjadi teladan dan memiliki iman yang teguh merupakan dasar bagi seorang guru sekolah minggu. Untuk itu perlu ada pendampingan dan pembinaan berkelanjutan agar keteladanan dan spiritualitas dapat diaktualisasikan sepenuhnya baik dalam pelayanan maupun dalam kehidupan pribadi mereka. Kesadaran para guru bahwa mereka bertindak sebagai teladan hidup tak hanya dalam penyampaian materi, tetapi juga dalam gaya hidup yang mencerminkan nilai Kristiani, sangat Anak-anak belajar tidak hanya dari kata-kata, tapi dari apa yang mereka lihat dan amati yaitu perilaku guru yang dihormati. Ini sejalan dengan pendidikan Kristen yang mengombinasikan pengajaran dan keteladanan hidup, di mana pendidik dipanggil menjadi contoh nyata dari ajaran iman yang disampaikan. Dalam kajian pendidikan modern, hal ini diperkuat oleh Spiritual Leadership Theory, yang menyatakan bahwa teladan spiritual guru berakar dari inner life yang autentik seperti visi, iman, dan kasih altruistik menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan spiritual dan pertumbuhan anak. Kehadiran guru sebagai role model sangat efektif menurut Social Cognitive Theory, teori pembelajaran yang menyatakan bahwa anak belajar melalui observasi perilaku dan konsekuensinya. Pada saat guru menunjukkan kesabaran, kasih, kerendahan hati, integritas, dan disiplin, nilai-nilai yang diterima dan dihargai oleh anak-anak cenderung meniru nilai tersebut dan menginternalisasikannya dalam perilaku mereka sendiri. 9 Selain itu, dalam kerangka Holistic Education, guru yang paham keteladanan dan spiritualitas secara menyeluruh akan mendorong pengalaman belajar yang menyatupikiran, hati, dan iman anak menjadi satu kesatuan. Anak diajak tidak hanya untuk mengerti materi, tetapi juga merasakan makna rohaninya, melalui refleksi dan relasi yang membangun. Dengan demikian, keteladanan guru sebagai integrasi spiritualitas pribadi (Spiritual Leadershi. , observasi (Social Cognitiv. , dan pendekatan menyeluruh (Holistic Educatio. bukan hanya menjadi konsep tetapi menjadi strategi nyata dalam membentuk iman dan karakter anak sekolah minggu secara holistik dan autentik. Strategi Guru Sekolah Minggu dalam Menunjukkan Keteladanan Strategi yang digunakan guru sekolah minggu dalam menunjukkan keteladanan berfokus pada keselarasan antara perkataan dan perbuatan, sehingga anak-anak dapat melihat secara nyata nilainilai yang diajarkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru berupaya hadir tepat waktu, mempersiapkan materi dengan sungguh-sungguh, dan menyapa anak-anak dengan ramah. Tindakantindakan ini menjadi bentuk teladan sederhana yang memberi pesan moral kepada anak bahwa pelayanan kepada Tuhan memerlukan keseriusan dan kasih. Menurut Tice, pembentukan karakter anak dalam pendidikan iman sangat dipengaruhi oleh konsistensi perilaku guru yang menjadi role model, bukan hanya oleh kualitas pengajaran verbal11. Selain itu, guru sekolah minggu menerapkan metode pengajaran yang interaktif dan partisipatif untuk menumbuhkan keterlibatan anak. Dalam wawancara, beberapa guru menjelaskan bahwa mereka menggunakan cerita Alkitab yang dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, kemudian mencontohkan sikap yang relevan, seperti memaafkan atau menolong teman. Strategi ini sejalan dengan pandangan Bandura tentang observational learning, yang menegaskan bahwa anak-anak cenderung meniru perilaku yang mereka amati dari figur yang mereka kagumi12. Guru juga berusaha memelihara hubungan yang positif dan penuh kasih dengan anak-anak. Hubungan ini dibangun melalui komunikasi yang hangat, penggunaan bahasa yang membangun, dan perhatian pada kebutuhan emosional anak. Menurut Anthony, hubungan yang akrab antara guru dan anak menciptakan lingkungan belajar yang aman secara emosional, yang pada gilirannya memudahkan internalisasi nilai rohani13. Oleh karena itu, strategi keteladanan guru sekolah minggu mencakup konsistensi perilaku, penerapan metode pembelajaran yang aplikatif, dan pembentukan hubungan yang penuh kasih. Strategi-strategi ini tidak hanya memperkuat materi pembelajaran, tetapi juga membantu anak menginternalisasi nilai-nilai Kristiani secara alami dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dampak Keteladanan terhadap Pertumbuhan Spiritualitas Anak Keteladanan guru sekolah minggu memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan spiritualitas anak. Penelitian Christia dan Hutabarat, menemukan bahwa teladan hidup guru yang konsisten dengan ajaran Alkitab berperan penting dalam pembentukan karakter dan spiritualitas anak di Gereja Kristen Indonesia Menining. Anak-anak yang terlibat aktif di kelas menunjukkan perilaku Louis W. Fry. Spiritual Leadership: Theory. Research, and Practice. Cham: MDPI, 2021, hlm. Albert Bandura. Social Cognitive Theory: An Agentic Perspective. Cham: SpringerOpen, 2020, hlm. Jack Miller. Holistic Education: Learning from Nature and Community. New York: Routledge, 2022, hlm. Tice. Christian Education: Foundations for the Twenty-First Century. Grand Rapids. MI: Baker Academic, 2008, hlm. Bandura. Social Learning Theory. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall. Anthony. Foundations for Ministry. Grand Rapids. MI: Baker Academic Hal 53. seperti saling menghargai, mengucap syukur, rajin berdoa, dan peduli kepada teman. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang dicontohkan guru mampu diinternalisasi dan diwujudkan anak dalam kehidupan sehari-hari. 14 Keteladanan guru juga menjadi sumber motivasi bagi anak untuk Menurut Sitinjak bahwa anak-anak yang melihat komitmen dan kesetiaan guru dalam pelayanan cenderung memiliki keinginan kuat untuk mengikuti jejak tersebut, dan orientasi pelayanan ini terbentuk sejak usia dini. Dengan demikian, keteladanan guru sekolah minggu tidak hanya membentuk perilaku moral anak, tetapi juga memperkuat fondasi iman mereka. Dampak ini tercermin dari kehidupan rohani anak yang semakin bertumbuh, serta komitmen mereka untuk mempraktikkan nilai-nilai Kristiani baik di lingkungan gereja maupun di luar gereja. Faktor pendukung dan penghambat dalam membangun spiritualitas Anak Guru sekolah minggu memiliki pemahaman yang baik mengenai faktor-faktor yang mendukung pembangunan spiritualitas anak. Faktor pendukung yang paling dominan adalah keteladanan dalam perilaku sehari-hari, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, kerajinan dalam beribadah, karakter hidup yang konsisten, kedisiplinan, kasih terhadap anak-anak, kemampuan pedagogik, serta dukungan keluarga. Para sumber data sepakat bahwa keteladanan seorang guru sangat memengaruhi perkembangan spiritualitas anak-anak yang mereka layani. Temuan ini sejalan dengan penelitian Siburian. Siregar, dan Yolenta yang menegaskan bahwa kreativitas dan keteladanan guru berperan penting dalam membangun spiritualitas anak di sekolah minggu. 16 Penelitian Rumbiak juga menunjukkan bahwa teladan guru dalam doa, ibadah, dan kehidupan sehari-hari menjadi model yang ditiru oleh anak dalam pertumbuhan imannya. 17 Lebih lanjut. Handayani menekankan bahwa spiritualitas anak dapat berkembang apabila guru menghadirkan integritas hidup yang konsisten dengan nilai-nilai buah Roh (Galatia 5:22Ae. 18 Dari sudut pandang teori belajar. Sembiring menyatakan bahwa anak akan lebih mudah menginternalisasi nilai iman ketika mereka melihat perilaku nyata yang diteladani oleh guru. 19 Oleh sebab itu, teladan hidup yang autentik, penuh kasih, dan konsisten dari guru sekolah minggu merupakan faktor kunci dalam mendukung pembentukan spiritualitas anak. Selain faktor pendukung, penelitian juga menemukan adanya faktor-faktor penghambat dalam membangun spiritualitas anak. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan waktu interaksi antara guru sekolah minggu dan anak, kurangnya kesiapan materi pembelajaran, serta minimnya pelatihan khusus bagi guru dalam memahami psikologi perkembangan anak. Hambatan lain yang muncul adalah rendahnya dukungan dari sebagian orang tua yang kurang terlibat dalam pendampingan iman anak di rumah. Kondisi ini mengakibatkan pesan-pesan rohani yang ditanamkan guru di sekolah minggu tidak mendapat penguatan di lingkungan keluarga. Sejalan dengan itu. Situmorang menekankan bahwa kesenjangan antara pembelajaran di gereja dan praktik iman di rumah dapat menghambat proses internalisasi nilai-nilai rohani dalam kehidupan anak. Dengan demikian, keterlibatan aktif keluarga dan kompetensi guru yang memadai sangat menentukan keberhasilan pembinaan spiritual anak. Selain faktor internal, terdapat pula hambatan eksternal yang tidak kalah signifikan. Era digital dengan derasnya arus informasi membawa tantangan serius dalam pembentukan spiritualitas anak. Anak-anak lebih mudah terpapar pada hiburan media sosial dan tayangan yang tidak mendidik dibandingkan pada bahan-bahan yang mendukung pertumbuhan iman. Hal ini sering kali menurunkan minat anak untuk terlibat dalam kegiatan rohani di gereja. Menurut Manullang dan Louis W. Fry. Spiritual Leadership: Theory. Research, and Practice. Cham: MDPI, 2021, hlm. Tice. Christian Education: Foundations for the Twenty-First Century. Grand Rapids. MI: Baker Academic, 2008, hlm. Siburian. Siregar. , & Yolenta. Kreativitas guru Sekolah Minggu dalam meningkatkan spiritual anak melalui metode PAIKEM. Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, 1. , 165Ae176 Rumbiak. Peran guru Sekolah Minggu untuk pengenalan dan pertumbuhan spiritualitas anak. Jurnal Reformed Ministry, 7. , 20. Handayani. Spiritual formation and character education: A module development for Christian Sunday School children (Galatians 5:22Ae. Pharos Journal of Theology. https://doi. org/10. 46222/pharosjot. Pengaruh keteladanan guru PAK terhadap sikap belajar siswa kelas Vi. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan, 6. , xxAexx. Mega Fitri Situmorang, dkk. PENDIDIKAN SPIRITUAL ANAK DI TENGAH TANTANGAN DEKADENSI MORAL. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. No. 2 Juni 2022 e-ISSN: 2962-4037. p-ISSN: 2962-4452, 117-121 Naibaho, tantangan teknologi ini menuntut kreativitas guru sekolah minggu dalam menghadirkan metode pengajaran yang relevan dan menarik, agar anak tidak merasa bosan dan dapat lebih terfokus pada nilai-nilai iman. 21 Oleh karena itu, guru sekolah minggu perlu memiliki inovasi dalam mengajar, misalnya dengan memanfaatkan media kreatif, permainan rohani, maupun cerita Alkitab interaktif, sehingga nilai-nilai spiritual tetap dapat ditanamkan meskipun anak hidup di tengah tantangan zaman yang terus berubah. KESIMPULAN Keteladanan guru sekolah minggu memiliki peran yang sangat signifikan dalam membangun spiritualitas anak. Pemahaman guru mengenai peran mereka sebagai teladan menunjukkan kesadaran bahwa perilaku, tutur kata, dan sikap sehari-hari menjadi cerminan nilai-nilai Kristiani yang harus diteladani anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Moleong bahwa dalam pendekatan kualitatif, pemahaman makna yang mendalam merupakan inti dari proses penelitian, di mana perilaku guru dipahami tidak hanya sebagai rutinitas mengajar, tetapi juga sebagai pembentukan karakter rohani anak. Selain pemahaman, implementasi keteladanan terlihat melalui konsistensi guru dalam menghidupi iman, baik di kelas maupun di luar lingkungan ibadah. Guru yang mengajar dengan kasih, sabar, dan rendah hati menjadi model konkret bagi anak untuk menginternalisasi nilai-nilai spiritual. Teori pendidikan karakter Kristen menegaskan bahwa teladan hidup merupakan media pembelajaran yang efektif, karena anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Dukungan lingkungan gereja dan komunitas turut memperkuat pembentukan spiritualitas anak. Kerjasama antara guru, orang tua, dan jemaat menciptakan ekosistem pendidikan iman yang holistik, sesuai dengan prinsip pendidikan Kristen yang menempatkan keluarga, gereja, dan sekolah sebagai tiga pilar utama pembinaan iman. Dengan demikian, peran guru Sekolah Minggu sebagai teladan tidak hanya membentuk spiritualitas anak secara individual, tetapi juga memperkuat identitas iman komunitas gereja secara DAFTAR PUSTAKA