Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah Volume . Nomor . Bulan 2021, 51-59 ISSN. DOI : https://doi. org/10. 53869/jpdm. journal homepage: https://mahardhika. id/jurnal/index. php/jpdm Model Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Merdeka Belajar di Kota Semarang Soedjono*. Manajemen Pendidikan. Universitas PGRI Semarang E-mail: soedjono@upgris. __________________________________________________________________________________ ARTICLE INFO ___________________________ Article history: Received : 05-7-2021 Revised : 20-7-2021 Accepted : 30-7-2021 ___________________________ Keywords: Policy. Merdeka Belajar. Implementation of Education ABSTRACT The purpose of this study is to analyze how the school's readiness for the implementation of Merdeka Learning in the city of Semarang, especially in six aspects of readiness . eadiness of students, teacher readiness, infrastructure readiness, management support, school culture, and assistance to government policy holders. in this study is focused on education units from various levels of education in Central Java. This research uses a qualitative descriptive method that explains the facts in the field in depth and naturally. The results of this study are in the form of ideas and policies related to the analysis of education implementation based on the concept of Merdeka Studying in Central Java The output of this research is the publication of research articles. Abstrak Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kesiapan sekolah terhadap Implementasi Merdeka Belajar di Kota Semarang khususnya pada enam aspek kesiapan . esiapan peserta didik, kesiapan guru, kesiapan infrastruktur, dukungan managemen, budaya sekolah, dan pendampingan pemerintah pemegang Implementasi Merdeka Belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah difokuskan pada satuan pendidikan dari berbagai jenjang Pendidikan di Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menjelaskan kejadian fakta di lapangan secara mendalam dan alamiah. Hasil dari penelitian ini adalah berupa gagasan dan kebijakan terkait dengan analisis penyelenggaraan pendidikan berdasarkan konsep Merdeka Belajar di Jawa tengah. Adapun luaran penelitian ini adalah publikasi artikel hasil penelitian. Kata kunci: Kebijakan. Merdeka Belajar. Penyelenggaraan Pendidikan PENDAHULUAN Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju. Nadiem Anwar Makarim. Esensi merdeka belajar adalah kemerdekaan Hal ini harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi, analisis terhadap tujuan, kompetensi yang akan diajarkan, dan strategi secara otonom mutlak Kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi. Konsep Merdeka Belajar terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu. Berdasarkan hal tersebut, maka banyak aspek yang harus disiapkan mulai dari kesiapan peserta didik, kesiapan guru, kesiapan infrastruktur, dukungan managemen, budaya sekolah, dan pendampingan serta dukungan dari pemerintah pemegang kebijakan. Kemendikbud dalam hal ini Nadiem, membuat kebijakan merdeka belajar bukan tanpa alasan. Pasalnya, penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2019 menunjukkan hasil penilaian pada siswa Indonesia hanya menduduki posisi keenam dari bawah. untuk bidang matematika dan literasi. Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 Negara. Menyikapi hal itu. Nadiem pun membuat kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan ini terdiri dari penyerahan asesmen ke sekolah sebagai pengganti ujian sekolah berstandar. nasional (USBN). kompetensi minimum (AKM) sebagai pengganti ujian nasional (UN), penyederhanaan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hanya komponen inti . ujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, & Asesme. , yang dikenal dengan RPP 1 lembar. dan penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan zonasi. Fokus penelitian ini adalah asesmen kompetensi minimum (AKM) sebagai bagian dari kebijakanMerdeka Belajar. AKM mengukur kemamapuan literasi, yang bukan hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada AKM juga mengukur kemampuan numerasi, yang dinilai bukan kemampuan matematika berkognisi rendah, tetapi mengukur kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. Aspek lain yang diukur dalam AKM, yakni Survei Karakter, survei ini bukanlah sebuah tes, melainkan mengukur hasil belajar emosional yang mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, dimana pelajar Indonesia memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Satu aspek sisanya adalah survei lingkungan belajar, survei ini juga bukan sebuah tes, melainkan menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Model Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Merdeka Belajar di Kota Semarang Soedjono Kota Semarang merupakan salah satu kota yang gayung bersambut pada kebijakan Merdeka Belajar ini. Mulai dari TK/ PAUD. SD. SMP, dan SMA bahkan Perguruan tinggi. Jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas memulai persiapan untuk pelaksanaan Merdeka Belajar. Pada tahun-tahun mendatang, proses pembelajaran diproyeksikan menuju student wellbeing, yaitu proses pembelajaran yang lebih menyenangkan. Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru melalui multi-communication, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat . iakses melalui laman https://id. org/wiki/Merdeka_Belajar tanggal 12 April 2. Pentingnya memiliki SDM unggul merupakan solusi dalam menyelesaikan permasalah bangsa. Apapun kompleksitas masa depan, kalau SDM yang ada bisa menangani kompleksitas, maka itu tidak akan menjadi masalah (FORWAS Edisi ke-3/2. Tentu SDM yang dikehendaki merupakan kapital intelektual yang memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif, serta siap menghadapi era globalisasi. Apalagi saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan eksternal berupa hadirnya Revolusi 0 yang bertumpu pada cyber-physical system, dengan didukung oleh kemajuan teknologi, basis informasi, pengetahuan, inovasi, dan jejaring, yang menandai era penegasan munculnya abad Tantangan lainnya yang bersifat internal, berupa gejala melemahnya mentalitas anak-anak bangsa sebagai dampak maraknya simpul informasi dari media sosial. Menghadapi tantangan itu semua tentu harus diimbangi dengan pendidikan yang bermutu supaya dapat menjamin tumbuh kembangnya SDM yang berkualitas, yang bisa bertindak cepat, tepat, dan mampu beradaptasi dengan baik dalam mengantisipasi sekaligus mengatasi dampak negative dari gelombang perubahan besar tersebut. Namun sayangnya kondisi pendidikan kita belum menunjukkan hasil yang memuaskan, salah satu indikatornya berdasarkan data skor PISA (Programme for International Students Assessmen. tahun 2015 pada tingkat literasi yang meliputi tiga aspek. membaca, kemampuan matematika, dan kemampuan sain, masih berada pada peringkat 10 besar terbawah yaitu peringkat ke-62 dari 72 negara anggota OECD (Orgnization for Economic Cooperation and Developmen. , kita masih kalah dari negara Vietnam (Kompasiana, 16/12/ 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka judul penelitian ini akan membahas tentang analisis penyelenggaraan pendidikan berdasarkan konsep Merdeka Belajar di Jawa Tengah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni peneliti langsung terjun ke lapangan dengan melaksanakan wawancara dengan para guru /narasumber. Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia . eperti: angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan sebagainy. dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen kunci (Wahidmurni, 2. Heading ini hanya merupakan guidelines dan bukan bagian dari judul manuscript. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 5 Bulan yakni dari Mei-September 2021 dan bertempat di Kota Semarang. Subjek Penelitian Subjek dari penelitian ini adalah Guru di Sekolah yang tersebar di seluruh Provinsi Jawa Tengah. Prosedur Penelitian Sebanyak 100 guru yang telah mengisi angket melalui google form terkait dengan pelaksanaan AKM di sekolah tempat mengajar dan mengembangkan ilmunya. Teknik Analisis Data Data penelitian ini diperoleh dari wawancara dengan guru-guru yang telah mengisi google form. Berdasarkan penelitian di atas, peneliti menggunakan model interaktif dari Miles dan Haberman dalam Basrowi & Suwandi . , untuk menganalisa datanya. Model interaktif yang dimaksud adalah dengan cara mengolah komponen-komponennya yaitu. reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dalam tahap reduksi data, peneliti melakukan reduksi data dengan cara memilih, mengategorikan dan membuat abstraksi dari catatan wawancara. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yakni peneliti membuat kesimpulan didukung dengan bukti data yang kuat yang didapat pada tahap pengumpulan Data tersebut akan diolah menjadi bentuk narasi. Peneliti kualitatif mengumpulkan dalam rangka untuk mendapatkan wawasan yang diperlukan Sebagian besar, meskipun tidak selalu, diperoleh dengan cara narasi di mana orang sedang mengkomunikasikan cara mereka memahami dunia (Cropley, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada hakikatnya, pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena pendidikan sendiri adalah media dalam membina kepribadian dan mengembangkan potensi yang dimiliki manusia. Kualitas manusia sebagai makhluk multi dimensional sangat ditentukan oleh proses Hal ini berarti bahwa proses yang baik dan benar akan berimplikasi secara signifikan terhadap kualitas outputnya. Secara alami pendidikan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi Asesmen Ketuntasan Minimum (AKM) merupakan program pemerintah untuk menilai kualitas . setiap lembaga pendidikan formal setara SD. SMP dan SMA. Dalam hal ini yang dibahas khusus dalam jenjang sekolah dasar. Kualitas dinilai dari hasil belajar peserta didik yang paling Untuk klasifikasi tersebut digunakan instrument yaitu asesmen kompetensi minimum, survei Model Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Merdeka Belajar di Kota Semarang Soedjono karakter dan survei lingkungan belajar. AKM dirancang untuk memperbaiki kualitas dalam hal pembelajaran dengan tujuan meningkatkan hasil belajar peserta didik dan menghasilkan informasi yang Deskripsi pengetahuan calon guru terhadap aspek yang dinilai dalam asesmen nasional sebagai pengganti ujian nasional. Pertanyaan pertama. Assesment Ketuntasan Minimum (AKM) merupakan sistem evaluasi ketercapaian standar pendidikan secara nasional. Pada akhir tahun 2019. Ujian Nasional (UN) resmi dihapuskan dan pada tahun 2021 UN diganti dengan AKM. Menurut pengetahuan Anda, apa saja yang diukur dalam asesmen nasional? Persentase jawaban calon guru ditunjukkan pada gambar 1. Gambar 1. Diagram Presentase Jawaban Guru Berdasarkan gambar tersebut, maka hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut: Pengetahuan Guru Terhadap AKM . ssessment Ketuntasan Minimu. Sebanyak 100 responden yang merupakan guru di Provinsi Jawa Tengah, di peroleh data 62,4% diantaranya menyatakan paham tentang asesmen ketuntasan minimum dan 37,6% menyatakan kurang atau tidak paham tetang Asesment ketuntasan Minimum . Nampaknya perbedaan pemahaman tersebut juga disebabkan oleh semangat guru dalam mempelajari suatu hal yang baru terkait asesmen ketuntasan minimum. Namun ketika digali informasi tentang pemahaman AKM secara lebih mendalam, hasil yang diperoleh tidak sejalan dengan pemahaman secara umum. Terdapat 99,1 % bahwa AKM menyiapkan kemampuan penalaran peserta didik, sedangkan 0,9% yang menjawab bukan penalaran Selain itu, terdapat 64,2% menyatakan bahwa AKM adalah pengganti Ujian Nasional dan hanya 35,8% saja yang menyatakan bukan pengganti Ujian Nasional. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka masih terdapat ketimpangan pemahaman pengetahuan guru terhadap AKM Pada tahun 1990. Wiggins . alam Sani: 2. memperkenalkan istilah asesmen ketuntasan Saat itu ia mulai menentang penilaian bersifat umum yang dilakukan di sekolah, seperti tes pilihan ganda, tes uraian singkat, dan lainnya. Sebab, di lapangan atau saat peserta didik memasuki kehidupan masyarakat, mereka diuji keahlian yang dimiliki bukan teori saja. Marhaeni, dkk . , menjelaskan bahwa asesmen atau penilaian diartikan sama dengan evaluasi, dan daripadanya dapat dilihat beberapa unsur pokok yang ada dalam pengertian asesmen . asesmen bersifat formal, berarti terdapat suatu upaya sengaja untuk menentukan status peserta didik dalam variabel-variabel yang menjadikan fokus. asesmen variabel-variabel tertentu, berarti adanya variasi pada pembelajar dalam halkemampuan, keterampilan, dan sikap. terdapat keputusan mengenai status pembelajar, berarti terdapat petunjuk perkembangan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kemudian dalam Marhaeni . Stiggins mengatakan bahwa asesmen ketuntasan minimum merupakan masalah atau pertanyaan yang bermakna dan melibatkan siswa menggunakan pengetahuannya untuk melakukan unjuk kerja secara efektif fan kreatif. Selanjutnya Sani . menjelaskan bahwa penilaian ketuntasan minimum merupakan jenis penilaian yang mengarahkan peserta didik untuk mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan dan situasi yang dijumpai dalam dunia nyata. Selain itu Mueller . , memaparkan bahwa penilaian ketuntasan minimum merupakan penilaian langsung . irect assessmen. karena peserrta didik langsung menunjukkan bukti penguasaan kompetensi ketika dilakukan penilaian. Wikipedia menjelaskan asesmen ketuntasan minimum adalah pengukuran pencapaian intelektual yang bermakna, signifikan, dan berharga. Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa asesmen ketuntasan minimum merupakan evaluasi atau pengukuran pencapaian intelektual peserta didik yang mengarahkan pada pemunculan ide, pengeintegrasian pengetahuan, dan penyempurnaan tugas yang berkaitan dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia nyata. Kesiapan Guru dalam Penerapan AKM di Sekolah Kesiapan guru sangat luas pengertiannya serta syarat yang harus dipenuhi untuk mengatakan bahwa guru siap melaksanakan suatu program. Kesiapan guru merupakan kondisi Model Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Merdeka Belajar di Kota Semarang Soedjono seorang guru yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban dengan menggunakan suatu teknik dalam melaksanakan jabatan profesinya. Kesiapan seseorang menjadi guru yang profesional ditentukan oleh kemampuan dalam menguasai bidangnya, minat, bakat, keselarasan dengan tujuan yang ingin dicapai dan sikap terhadap bidang Tekad, semangat dan lingkungan keluarga juga tidak terlepas dari faktor pendukung kesiapan menjadi guru yang profesional. George dalam Wahyudi . menyebutkan, contributing factors to readiness for employment are . Physiological functions. An attitude is likely to appear when the sensory organs,nervous system and other phsysiological organs functions properly. Physiological To perform well one must posses a good motivation and be free from emotional conflicts and physiological constrains. Experience. The level of readiness for employment can be identified from oneAos knowledge in the form of information about his history of work and Penjelasan George tersebut menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja, antara lain: . Faktor fisiologis, yaitu suatu tingkah laku dapat terjadi apabila organ-organ pancaindra, sistem syaraf dan organ fisiologi yang lain telah berfungsi dengan . Faktor psikologis, yaitu untuk melakukan pekerjaan dengan baik seseorang harus memiliki motivasi yang baik pula serta bebas dari konflik-konflik emosional, serta halangan . Faktor pengalaman, yaitu proses kesiapa seseorang dapat diketahui dari pengetahuan yang berupa informasi-informasi tentang pekerjaan, serata pengalaman yang dimiliki seseorang. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa kesiapan menjadi guru profesional khususnya dalam menerapkan asesmen ketuntasan minimum dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam dan luar individu. Guru harus menyadari bahwa proses penilaian sifatnya sangat kompleks karena melibatkan aspek psikologis. Betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasikan sebuah asesmen, karena tidak hanya nilai yang hendak didapat oleh guru tetapi juga untuk mengukur kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Kebutuhan Guru dalam Pelaksanaan AKM Merdeka Belajar. Sebagai pendidik menghadapi sebuah tan tangan baru di tahun 2021, untuk menjadi fasilitator yang baik bagi peserta didik dalam mempersiapkan diri dalam AKM, di tengah adaptasi pendidikan. masa pandemic covid 19. Bagaimana guru dapat menghadapi tantangan ini, adalah dengan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mendesain pembelajaran yang dapat meningkatkan capaian literasi dan numerasi pada peserta Secara umum guru dalam mendesain pembelajaran dan penilaian masih mengacu kepada pencapaian kompetensi dasar yang tertera di buku paket ataupun yang telah tertuang dalam syllabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara umum. Dalam proses belajar, peserta didik masih belajar secara parsial untuk setiap mata pelajaran, belum terintegrasi sesuai dengan kompetensi bernalar yang diharapkan dalam literasi dan numerasi. Keterampilan untuk membaca makna teks dan data juga menjadi kendala, karena rendahnya minat membaca peserta Penilaian harian dan ujian akhir semester masih diuji dengan soal pilihan ganda dan beberapa soal uraian yang belum mencerminkan penilaian yang komprehensif mengenai ketuntasan belajar peserta didik, bahkan tidak jarang hanya sebatas menguji ingatan. Tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisa pentingnya pelatihan AKM bagi guru dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi AKM, agar dapat mengembangkan kerangka pembelajaran yang memenuhi tuntutan kompetensi literasi dan numerasi sesuai dengan standar AKM yang akan dilaksanakan sebagai pemetaan mutu pendidikan sekolah. Manfaat dan tujuan dilaksanakan AKM adalah menghasilkan informasi mengenai tingkat kompetensi yang mengarah ke perbaikan kualitas pembelajaran serta hasil belajar peserta didik. Tingkat kompetensi dapat dimanfaatkan oleh guru dalam menyusun kerangka pembelajaran yang efektif dan berkualitas dalam meraih capaian mutu pendidikan yang diharapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat capaian murid akan memudahkan peserta didik dalam menguasai konten atau kompetensi yang diharapkan pada suatu mata Desain dari pembelajaran memperhatikan konten pembelajaran, proses kognitif yang diharapkan, dan konteks dari wawasan personal, sosial, budaya, dan saintifik. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, diketahui bahwa pemahaman guru tentang asesmen ketuntasan minimum pada kelompok kerja guru kecamatan gondang menyatakan 62,4% paham, 37,6% kurang paham atau tidak paham. Pemahaman tersebut memberikan dampak pada kesiapan guru dalam mengimplementasi Kurukulum Merdeka Belajar khususnya terkait penerapan asesmen ketuntasan minimum. Akibatnya 52% diantaranya tergolong kurang siap, karena menyatakan diri dengan terpaksa menyiapkan diri karena telah menjadi tuntutan dan kewajiban. Namun 48% diantaranya telah siap menerapkan asesmen ketuntasan minimum dengan bekal pemahaman yang telah dimiliki serta workshop dan sosialisasi yang pernah diikuti. DAFTAR PUSTAKA