Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Indonesia (JIKMI) ISSN: Vol. No. Oktober 2022 Efektivitas Konseling Pasien Hipertensi Terhadap Perilaku Kepatuhan Berobat Di Puskesmas Gedung Aji Kabupaten Tulang Bawang Efa Septiana Akademi Kebidanan Wahana Husada Bandar Jaya e-mail: efasept@gmail. Abstract Hypertension is often called the silent killer because people who have hypertension are often Therefore, hypertension needs to be detected early by checking blood pressure Based on preliminary studies conducted in Puskesmas Gedung Aji, many patients with hypertension are not odherence medication. The purpose of this research to know the effectiveness of counseling the behavior of hypertensive patients before and after counseling. The research design was used Preeksperimental with approach Pretest-Postest One Group Design. The research population of hypertensive patients is 720 people, while the sample of research is 88 people. The analysis uses univariate analysis in the form of score pretest and postest and bivariate analysis used t dependent statistical test . aired t tes. to see the treatment change with the ratio of conditions before and after treatment. After being given counseling treatment, the results of obtained interviews of 88 respondents obtained the mean value pretes is 4,67, postest 7,23 . here is a difference of 2,. , median pretest 5,00 postest 7,00, minimum value pretest is 3,00 while postest is 6,00, maximum value of pretest is 7,00 while postest 9,00. After that the researcher continued t-test of dependent statistic . aired t-tes. obtained P value 0,00<0,05 which means there are difference of medication adherence hypertensive patient before and after counseling which means effective Research suggestions are expected to monitor every 2 . weeks on hypertensive patients at Puskesmas Gedung Aji. Keywords : Counseling. Medivation Adherence. Hypertension Abstrak Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena penderita hipertensi sering kali tidak Oleh karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini dengan cara memeriksakan tekanan darah secara rutin. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Gedung Aji, banyak penderita hipertensi yang tidak patuh minum obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas konseling perilaku penderita hipertensi sebelum dan sesudah konseling. Desain penelitian yang digunakan adalah Preeksperimental dengan pendekatan Pretest-Postest One Group Design. Populasi penelitian penderita hipertensi sebanyak 720 orang, sedangkan sampel penelitian sebanyak 88 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat berupa skor pretest dan postest serta analisis bivariat menggunakan uji statistik t dependen . aired t tes. untuk melihat perubahan perlakuan dengan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah Setelah diberikan tindakan konseling, hasil wawancara yang diperoleh dari 88 responden diperoleh nilai mean pretes 4,67, postest 7,23 . da selisih 2,. , median pretest 5,00 postest 7,00, nilai minimum pretest 3,00 sedangkan postest 6,00, nilai maksimum pretest 7,00 sedangkan postest 9,00. Setelah itu peneliti melanjutkan uji t statistik dependen . aired t-tes. diperoleh nilai P 0,00<0,05 yang berarti ada perbedaan kepatuhan minum obat pasien hipertensi sebelum dan sesudah konseling yang berarti konseling efektif. Saran penelitian diharapkan melakukan monitoring setiap 2 . minggu pada pasien hipertensi di Puskesmas Gedung Aji. Kata Kunci : Konseling. Kepatuhan Meditasi. Hipertensi Efektivitas Konseling Pasien Hipertensi Terhadap Perilaku Kepatuhan Berobat Di Puskesmas Gedung Aji Kabupaten Tulang Bawang Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Indonesia (JIKMI) ISSN: Vol. No. Oktober 2022 PENDAHULUAN Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg dalam 2 . kali pengukuran dengan selang waktu 5 . menit dalam keadaan istirahat/tenang total (Kemenkes RI. Hipertensi sering dianggap sebagai silent killer karena penderita hipertensi seringkali tidak menunjukkan gejala (Pedoman P2PTM, 2. Oleh karena itu, hipertensi harus dideteksi sejak dini termasuk pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Julita Nainggoalan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2015, sekitar 1,3 miliar orang di seluruh dunia menderita tekanan darah tinggi. Dengan kata lain, satu dari tiga orang di dunia menderita tekanan darah tinggi. Hipertensi bertanggung jawab atas hampir 9,4 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular setiap tahunnya. Penderita tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol akan menjadi penyebab utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal (Departemen Kesehatan RI, 2. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011, terdapat 1 miliar orang di seluruh dunia yang menderita hipertensi, dua pertiganya tinggal di negara berkembang dengan pendapatan rendah dan menengah. Angka hipertensi akan terus meningkat tajam. Diperkirakan pada tahun 2025, sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia akan menderita hipertensi. Hipertensi membunuh sekitar 8 juta orang setiap tahunnya, termasuk 1,5 juta orang di Asia Tenggara, dimana sepertiga penduduknya menderita hipertensi (Kemenkes RI, 2. Menurut hasil Studi Dasar-Dasar Kedokteran Indonesia (Riskesda. 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia diukur pada usia 18 tahun sebesar 34,1%, namun kasusnya didiagnosis oleh tenaga medis atau riwayat penggunaan narkoba hanya 8,8%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat tidak terdiagnosis dan layanan kesehatan dapat diakses terutama di daerah pedesaan. Menurut data Indonesia Model Registration System (SRS), pada tahun 2014, hipertensi kompleks . ,3%) merupakan penyebab kematian kelima . pada semua kelompok umur (Kemenkes RI, 2. Diperkirakan 15 juta orang menderita hipertensi di Indonesia, namun hanya 4% diantaranya yang hipertensinya terkendali. Hipertensi yang terkontrol adalah seseorang yang memiliki tekanan darah tinggi dan mengetahui dirinya sedang dirawat. Sebaliknya, 50% pasien tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sehingga cenderung mengalami hipertensi yang lebih berat (Alvita Labiibah Machsus dkk, 2. Catatan kesehatan Provinsi Lampung pada tahun 2020 menunjukkan angka kejadian tertinggi dari 5 penyakit teratas adalah hipertensi primer dengan angka kejadian 19,6%/174 penyakit, 891 kasus. Sedangkan jika dilihat dari angka kematian di provinsi lampung pada tahun 2020, penyebab kematian ibu adalah perdarahan 44 kasus, hipertensi 24 kasus, infeksi 2 kasus, gangguan sistem peredaran darah 9 kasus, gangguan metabolik 1 kasus dan gangguan lainnya penyakit. 35 kasus lainnya. Kabupaten Tulang Bawang, perkiraan jumlah penderita hipertensi usia 15 tahun ke atas adalah 52 orang. 962 orang, 15 orang di antaranya diperiksa dan dirawat. orangBerdasarkan rekam medis Puskesmas Gedung Aji Kabupaten Tulang Bawang Lampung, jumlah kunjungan pasien hipertensi pada tahun 2021 sebanyak 734 . %) dan pada tahun 2022 sebanyak 720 . %). Menurunnya jumlah pasien hipertensi yang berobat ke klinik disebabkan karena pasien lebih sensitif dalam memeriksakan status kesehatannya secara berkala. Sedangkan dalam dua bulan terakhir, jumlah penderita hipertensi pada Januari 2023 sebanyak 24 orang dan Februari 2023 sebanyak 24 orang (Laporan Puskesmas Aji Tulang Bawang. Lampun. Penderita hipertensi sebaiknya diberikan konseling agar disiplin dalam berobat (Etha, 2. Efektivitas Konseling Pasien Hipertensi Terhadap Perilaku Kepatuhan Berobat Di Puskesmas Gedung Aji Kabupaten Tulang Bawang Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Indonesia (JIKMI) ISSN: Vol. No. Oktober 2022 Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, gagal jantung kongestif, stroke, kehilangan penglihatan, dan penyakit ginjal. Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi dini hipertensi dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin (Bianti, 2. Kepatuhan minum obat penting dalam Ketidakpatuhan terhadap pengobatan sering terjadi pada pengobatan jangka panjang (Gede Wahyu Pratama & Ni Luh Putu Ariastuti, 2. Kepatuhan pasien sangat penting untuk keberhasilan pengobatan, terutama dalam pengobatan penyakit tidak menular (Risa, 2. Hasil pengobatan tidak akan maksimal jika pasien tidak sadarkan diri3. METODE PENELITIAN Tipe Penlitian ini merupakan jnis penelitian kuantitatif. Penlitian kuantitatif merupakan suatu metde yangmenggunakan rumus-rumus matematika khususnya dalam bidang statistika sebagai metode utama untuk menarik kesimpulan. Metode penelitian kuantitatif adalah suatumetode penelitian yang berlndaskan pada filsafatpositivisme, dignakan untuk meneliti sejumlah poplasi atau smpel pengumplan data dengan menggnakan alat penlitian, analisis datadilakukan secara sistematis untuk menguji hipotesis yang telah diajukan (Susilo, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penlitian ini merpakan penlitian kuntitatif dngan menggnakan desain penelitian praeksperimntal dengn desain kelompok pra-uji coba yang unik untuk mengetahui efektivits konsling terhdap perilaku kepathan pengobatan pada pasien hipertensi, tekanan sebelum dan sesudah menerima obat. buku kecil. Sampel penelitian berjumlah 88 pasien hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi dan Penelitian dilakukan pada tanggal 17 Juni hngga 1 Juli 2023. Penlitian inimerupakan penlitian kuntitatif dengan menggnakan desain penelitian praeksperimental dngan desain kelompok pra-uji cobayang unik untuk mengtahui efktivitas konsling terhadap perilaku kepatuhan pengobatan padapasien hiprtensi, tekanan sebelum dan sesudah menerima obat. buku kecil. Sampel penelitian berjumlah 88 pasien hipertensi yangmemenuhi krtria inklsi Penlitian dilakukn padtanggal 17 Juni hingga 1 Juli 2023 KESIMPULAN Tingkt pendidikan tertinggi adalah SD sebanyak 32 orang . ,4%) dan penderita hipertensi terbanyak pada usia 46-65 tahun sebanyak 52 orang . ,1%). Distribusi frekuensi kepatuhan berobat sebelum mendapat penyuluhan hipertensi sebanyak 3 orang . ,4%). Distribusi frekuensi kepatuhan setelah dilakukan penyuluhan hipertensi sebanyak 66 orang . %). Rerata . skor kepatuhan pasien hipertensi sebelum konseling adalah 4,67 sedangkan rerata . sko keatuhan pasie hipertensi setlah konsling adalah 7,23. Selisih skor kpatuhan pasien hiprtensi sebelum dan ssudah knsling sebesar 2,56. Terdpat perbedan signifikan kepatuhanpasien hipertensi sebelumdan sesudah konseling dari hasiuji t berpsangan,p =0,000. < 0,. Darihasil penlitian inidiharpkan penlitian selanjutnyadapat mengkaji perbedaan efektivitas Puskesmas dan home konsling dengan penderita hipertensi dalam kepatuhan berobat dan pemberian konseling yang relevan. DAFTAR PUSTAKA