JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia https://journals. iai-alzaytun. id/index. php/jis E-ISSN: 2988-0947 Vol. 2 No. : 563-572 DOI: https://doi. org/10. 61341/jis/v2i5. EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM PEMBINAAN TAHFIDZ AL-QURAoAN DI ASRAMA PERSAHABATAN KELAS VI MAAoHAD AL-ZAYTUN Hilmy Afif1A. Wiena Safitri2. Muhammad N. Abdurrazaq3 Komunikasi dan Penyiaran Islam. IAI AL-AZIS E-mail: afifhilmy4@gmail. com1, wiena. s@gmail. com2, kholish@iai-alzaytun. 1,2,3 Abstrak Artikel ini mengkaji efektivitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad Al-Zaytun Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas komunikasi antara pembina dan santri serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif. Kesimpulan menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal memiliki peran penting dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan, melibatkan elemen seperti keteladanan, empati, komunikasi terbuka, umpan balik, kreativitas pengajaran, motivasi, penanganan konflik, konsistensi, dan kelanjutan. Faktor pendukung meliputi koordinasi antara manajemen asrama dan santri, komunikasi tanpa tekanan berlebihan, serta pemahaman terhadap kepribadian santri. Sebaliknya, faktor penghambat termasuk waktu yang terbatas yang mengurangi komunikasi efektif dan intensitas komunikasi yang kurang mendalam. Faktor eksternal seperti fasilitas yang memadai juga berkontribusi pada efektivitas komunikasi. Kata Kunci: Efektivitas. Komunikasi. Interpersonal Abstract This article examines the effectiveness of interpersonal communication in developing Tahfidz Al-QurAoan at the Class VI Friendship Dormitory of MaAohad Al-Zaytun Islamic Boarding School. Indramayu. The focus is on how interpersonal communication between supervisors and students impacts the tahfidz guidance process. The research aims to evaluate this effectiveness and identify both supporting and inhibiting factors. Using a qualitative approach and descriptive research methodology, the study finds that effective interpersonal communication is crucial in tahfidz development. Key elements include role modeling, empathy, open communication, feedback, creative teaching methods, motivation, conflict resolution, consistency, and continuity. Supporting factors involve good coordination between dormitory management and students, non-pressure communication, and an understanding of students' Inhibiting factors include limited time, which hampers effective communication, and insufficiently in-depth interactions between supervisors and students. Additionally, external factors such as adequate facilities are important for supporting effective communication. Keywords: Effectiveness. Communication. Interpersonal 563 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 PENDAHULUAN Efektivitas merupakan indikator penting dalam menilai sejauh mana tujuan suatu organisasi atau kegiatan telah tercapai. Robbins . alam Ambarawati, 2. menyatakan bahwa efektivitas adalah tingkat pencapaian suatu organisasi dalam mencapai tujuannya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian, semakin dekat suatu kegiatan dengan tujuannya, maka semakin tinggi tingkat efektivitasnya. Dalam konteks komunikasi, efektivitas komunikasi interpersonal sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu proses pembinaan. Komunikasi interpersonal yang efektif ditandai oleh lima unsur utama, yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan (Devito, 2. Devito . alam Rohim, 2. mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai proses pertukaran pesan antara dua orang atau kelompok kecil, yang menghasilkan efek dan umpan balik secara langsung. Sementara itu. Mulyana . alam Rohim, 2. mengartikan komunikasi antarpribadi sebagai interaksi tatap muka antara individu yang mencakup respons verbal maupun nonverbal. Dalam pembinaan, komunikasi interpersonal terjadi secara langsung antara pembina dan peserta binaan. Pembinaan sendiri berasal dari kata bina, yang dalam bahasa Arab berarti "membangun", dan dalam konteks pendidikan diartikan sebagai proses pengembangan diri individu secara sistematis untuk mencapai hasil yang optimal (Nulhaqim, 2. Oleh karena itu, komunikasi interpersonal dalam proses pembinaan memiliki peranan penting dalam membangun hubungan yang konstruktif antara pembina dan santri, terutama dalam konteks pendidikan tahfidz Al-QurAoan. Proses menghafal Al-QurAoan tidak hanya memerlukan kemampuan teknis membaca dan melafalkan ayat-ayat Al-QurAoan, tetapi juga membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mendukung. Warsah . menegaskan bahwa proses belajar mengajar, dengan guru sebagai aktor sentral, merupakan elemen penting dalam pendidikan tahfidz. Bahkan, proses ini dimulai sejak anak berada dalam kandungan, ketika ia mulai diperdengarkan lantunan ayat suci (Ismail, 2. Di lingkungan keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mengenalkan Al-QurAoan sejak dini. Jika tanggung jawab ini diabaikan, maka kemungkinan besar anak akan mengalami hambatan dalam membaca maupun menghafal AlQurAoan (Apriani, 2. Namun demikian, proses pembelajaran tahfidz juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan motivasi internal anak. Oleh karena itu, pembinaan yang efektif diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas kognitif, tetapi juga untuk membentuk karakter dan motivasi santri agar mampu menghafal dan mengamalkan Al-QurAoan dengan penuh Menurut Heriwibowo . , menghafal Al-QurAoan bukanlah kewajiban yang terbatas pada ulama, ustaz, atau kiai saja, tetapi merupakan tanggung jawab setiap Muslim sebagai bentuk kecintaan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Aktivitas ini bukan sekadar untuk menjaga eksistensi Al-QurAoan, melainkan memberikan manfaat besar bagi individu dalam meniti kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pembinaan tahfidz tidak hanya 564 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 bertujuan membentuk hafalan semata, tetapi juga mendorong individu menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya (Wirayanti et al. , 2. Melalui observasi awal yang dilakukan di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad AlZaytun Indramayu, peneliti menemukan bahwa komunikasi interpersonal antara pembina dan santri memainkan peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pembinaan tahfidz Al-QurAoan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas komunikasi interpersonal berperan dalam proses tersebut, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhinya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam mengenai efektivitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad Al-Zaytun Indramayu. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti mengeksplorasi makna, pengalaman, dan dinamika yang terjadi dalam interaksi sehari-hari antara pembina dan pelajar. Lokasi penelitian berada di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad Al-Zaytun Indramayu, dengan populasi penelitian yang terdiri dari 63 pembina dan 137 santri kelas VI (Margono, 2. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu pemilihan subjek penelitian berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan fokus dan tujuan penelitian (Creswell, 2. Sampel dalam penelitian ini adalah santri kelas VI yang diasramakan, karena mereka memiliki keterlibatan langsung dan intensif dalam proses pembinaan tahfidz serta menjadi bagian dari dinamika komunikasi interpersonal dengan para pembina. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen (Man, 2. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali pemahaman, pengalaman, dan persepsi para santri dan pembina terhadap proses komunikasi dalam kegiatan pembinaan tahfidz. Observasi partisipan dilakukan untuk menangkap interaksi langsung dan non-verbal dalam kehidupan asrama, sedangkan analisis dokumen bertujuan menelaah berbagai dokumen pendukung seperti jadwal kegiatan, panduan tahfidz, dan laporan pembinaan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik sesuai dengan tahapan dari Miles dan Huberman . , yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan cara memilah dan menyederhanakan informasi yang relevan dari hasil wawancara dan Penyajian data disusun dalam bentuk narasi yang terstruktur, sementara penarikan kesimpulan dilakukan dengan mencari makna dari data yang terkumpul serta memverifikasinya melalui triangulasi data untuk menjamin validitas temuan. 565 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan beberapa pembina tahfidz untuk menggali pemahaman tentang efektivitas komunikasi interpersonal antara pembina dan santri, serta bagaimana penerapannya dalam pelaksanaan program tahfidz Al-QurAoan di asrama (Azis et al. , 2. Hasil wawancara menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antara pembina dan santri telah berjalan cukup efektif, terutama dalam hal pembina memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi kepada santri dalam proses menghafal. Namun demikian, temuan menarik muncul dari pernyataan salah satu pembina tahfidz. Ustadz Zamzani Nusantara, yang menyampaikan bahwa: AuSaya melihat secara umum anakanak ingin mengungkapkan apa yang ingin mereka capai, tapi untuk keterbukaan terhadap kesulitan yang ada secara umum tidak ada sejauh ini. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dualitas dalam efektivitas komunikasi Di satu sisi, terdapat indikasi bahwa santri memiliki keinginan untuk terbuka dan berkomunikasi mengenai tujuan pribadi mereka dalam menghafal Al-QurAoan. Hal ini menunjukkan adanya motivasi intrinsik dan relasi yang cukup terbuka antara pembina dan Namun di sisi lain, terdapat hambatan dalam hal keterbukaan terhadap kesulitan atau masalah pribadi yang dihadapi selama proses pembelajaran. Selain itu. Ustadz Khairul Amri Pratama. Pd. selaku Kepala Asrama juga memberikan pandangan terkait perkembangan komunikasi interpersonal antara pembina dan santri. Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan bahwa: AuSudah mulai terbentuk, namun untuk menyatakan jadinya itu seperti apa tentu saja belum bisa menjelaskan, tapi melihat ada mungkin ada dan mulai terbuka, itu terkait dengan banyak variabel. Ay Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa proses pembentukan komunikasi interpersonal yang terbuka antara pembina dan santri sedang berlangsung, namun belum sepenuhnya mencapai bentuk yang ideal atau mapan. Ustadz Khairul menyoroti bahwa keterbukaan mulai terlihat, tetapi tingkat kedalaman dan kualitas komunikasi interpersonal tersebut belum dapat dijelaskan secara konkret. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif masih dalam tahap perkembangan awal. Sikap interpersonal, khususnya keterbukaan dan kejujuran, memiliki peran penting dalam mendukung efektivitas pembinaan tahfidz Al-QurAoan pada santri kelas VI MIS MaAohad Al-Zaytun. Salah satu pembina. Ustadz Zamzani Nusantara, menyampaikan bahwa: AuSaya melihat secara umum anak-anak ingin mengungkapkan apa yang ingin mereka capai tapi untuk keterbukaan terhadap kesulitan yang ada secara umum tidak ada sejauh ini. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun para santri memiliki motivasi dan kemauan untuk menyampaikan tujuan atau capaian pribadi mereka dalam tahfidz, namun mereka masih cenderung menutup diri dalam mengungkapkan kesulitan yang dihadapi. Hal ini menandakan bahwa aspek keterbukaan emosional dan kognitif, yang merupakan bagian dari komunikasi interpersonal yang efektif (Devito, 2. , belum sepenuhnya berkembang. Kurangnya keterbukaan ini bisa menjadi hambatan dalam pembinaan, karena pembina tidak 566 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 mendapatkan informasi utuh mengenai tantangan yang dialami santri sehingga proses bimbingan menjadi kurang tepat sasaran. Lebih lanjut. Ustadz Zamzani juga menekankan pentingnya kejujuran dalam proses tahfidz: AuTentu, sejauh ini kami mengontrol kegiatan tersebut terlaksana dengan baik dan tentunya unsur-unsur kejujuran di antaranya, misal dalam tahfidz ada target untuk menghafal di tes dan di catat secara tertulis di format penyetoran. Ay Kejujuran tidak hanya menjadi nilai moral dalam pendidikan tahfidz, tetapi juga merupakan indikator penting dari keterbukaan dalam komunikasi interpersonal. Kejujuran dalam pelaporan capaian hafalan, baik secara lisan maupun tertulis, mencerminkan adanya kepercayaan antara santri dan pembina. Hal ini selaras dengan konsep efektivitas komunikasi interpersonal yang menekankan pada aspek keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan (Devito, 2. Dari sisi santri, salah satu responden. Briliano Ibrahim, menyatakan bahwa: AuSudah baik, pembina membimbing saya dan memberitahu saya apa yang saya kurang dipahami dalam tahfidz Al-QurAoan, pembina juga mau mendengarkan keluhan saya saat saya kesulitan menghafal Al-QurAoan. Ay Sebagian santri kelas VI di MaAohad Al-Zaytun mulai menunjukkan sikap terbuka dalam menyampaikan kendala yang dihadapi selama proses tahfidz, sekaligus bersedia menerima umpan balik dari pembina. Hal ini mencerminkan terbentuknya komunikasi interpersonal yang efektif, ditandai dengan interaksi dua arah, saling mendengarkan, serta respons yang sesuai dengan kebutuhan santri. Keterbukaan tersebut menjadi indikator penting dalam keberhasilan komunikasi, sebagaimana dikemukakan oleh Devito . , bahwa keterbukaan memungkinkan terciptanya proses saling memahami antara komunikator dan komunikan, yang pada akhirnya mendukung pencapaian tujuan pembelajaran tahfidz Al-QurAoan secara Dalam proses pembelajaran tahfidz, empati dari pembina memiliki peranan penting dalam membangun hubungan yang positif dengan santri. Ustadz Khairul Amri Pratama. Pd. menyampaikan: AuIya, ada rasa empati dari pembina kepada santri yang dibinanya karena pembina sendiri dulunya juga santri, jadi dia tahu dan pernah merasakan menerima setoran seperti itu. Empati muncul karena pembina sendiri pernah merasakan hal itu. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu pembina sebagai santri memberikan kontribusi terhadap munculnya rasa empati, yang selanjutnya berdampak pada pendekatan yang lebih humanis dalam proses membina hafalan Al-QurAoan. Dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan, belum seluruh pembina menunjukkan kemampuan empatik yang optimal terhadap santri. Menurut Ustadz Azhar Nabil, hal ini disebabkan oleh banyaknya pembina yang masih baru dan kurang berpengalaman, sehingga mereka masih dalam tahap adaptasi terhadap karakter dan kebutuhan santri kelas VI. Kondisi ini menyebabkan sebagian pembina belum mampu secara tepat membaca ekspresi maupun gerak-gerik santri yang mengindikasikan kesulitan dalam proses menghafal. Namun, empati juga tidak hanya datang dari pembina, tetapi mulai terlihat pula dari sisi santri. Fabian Amran, salah satu santri kelas VI, menyampaikan bahwa dirinya berusaha 567 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 mengurangi perilaku bercanda dan menunjukkan konsistensi dalam mengikuti kegiatan Hal ini mengindikasikan adanya kesadaran dan kepedulian santri terhadap proses pembelajaran serta peran pembina dalam membimbing mereka. Dalam pembelajaran tahfidz Al-QurAoan, penciptaan suasana positif menjadi faktor penting yang mendukung terciptanya komunikasi interpersonal yang efektif antara pembina dan santri. Suasana tersebut tercermin dari adanya dorongan positif yang diberikan oleh pembina, seperti motivasi dan evaluasi secara berkala. Ustadz Khairul Amri Pratama. Pd. mengungkapkan bahwa dalam proses tahfidz, pembina berperan aktif memberikan semangat kepada santri sekaligus melakukan evaluasi sebagai bagian dari proses pembinaan yang Hal ini menunjukkan adanya upaya sadar dari pembina untuk menciptakan ruang belajar yang suportif dan responsif terhadap perkembangan santri. Selanjutnya, dukungan dalam komunikasi tidak hanya bersifat vertikal antara pembina dan santri, tetapi juga horizontal di antara sesama santri. Ustadz Azhar Nabil menegaskan pentingnya terciptanya komunikasi yang baik antar-santri, termasuk sikap saling mendukung dalam proses pembelajaran. Dukungan sosial antar-santri ini dapat memperkuat kohesi kelompok dan meningkatkan motivasi internal dalam menghafal Al-QurAoan. Sikap pembina yang bersedia mendengarkan keluhan santri juga menjadi indikator penting dalam membangun komunikasi dua arah yang sehat. Salah satu santri kelas VI. Briliano Ibrahim, menyampaikan bahwa pembinanya bersedia mendengarkan kesulitannya dalam menghafal. Ini menunjukkan bahwa pembina tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga sebagai pendengar yang empatik, yang mampu menangkap kebutuhan dan hambatan yang dihadapi oleh santri. Hasil observasi peneliti menguatkan bahwa sikap mendukung dalam komunikasi interpersonal tampak tidak hanya dari pembina kepada santri, tetapi juga antar-santri itu Pola komunikasi yang mendukung ini menjadi elemen penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan saling memotivasi. Lebih lanjut, menurut Ustadz Zamzani Nusantara, respon positif dari santri terhadap arahan pembina merupakan indikasi keberhasilan pendekatan pembinaan yang digunakan. Ia menyatakan bahwa tanggapan positif tersebut muncul karena apa yang disampaikan oleh pembina memiliki relevansi langsung terhadap peningkatan kemampuan santri dalam kegiatan tahfidz. Hal ini menandakan bahwa proses komunikasi dalam pembinaan bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi melibatkan hubungan timbal balik yang memperkuat efektivitas pembelajaran. Suasana positif dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Salah satu wujud suasana positif tersebut adalah dorongan dari pembina untuk menciptakan komunikasi yang interaktif dan suportif kepada santri. Ustadz Khairul Amri Pratama. Pd. , menyatakan bahwa: AuIya, adanya dorongan positif seperti diberi evaluasi dalam pengertian positif seperti diberitahu bahwa kalau misal santri itu masih kurang dalam hafalannya. Ay Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembina berusaha menyampaikan evaluasi secara bijak dan membangun, sehingga santri tidak hanya mengetahui kekurangannya, tetapi juga 568 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 terdorong untuk meningkatkan kualitas hafalannya tanpa merasa tertekan. Evaluasi yang dilakukan dengan pendekatan positif ini mencerminkan komunikasi interpersonal yang efektif dan suportif dalam lingkungan pembinaan tahfidz. Pembina memiliki peran penting dalam menciptakan komunikasi yang suportif, khususnya dalam memberikan solusi kepada santri yang mengalami kesulitan dalam menghafal Al-QurAoan. Hal ini tercermin dalam pernyataan Fabian Amran, santri kelas VI MaAohad Al-Zaytun, yang menyampaikan bahwa: AuPembina memberikan solusi dan respon positif saat saya mengeluh karena saya susah untuk menghafal. Ay Pernyataan ini menunjukkan adanya respons empatik dan konstruktif dari pembina yang mampu menciptakan suasana belajar yang lebih terbuka dan menenangkan. Berdasarkan hasil observasi peneliti, sikap positif dalam komunikasi antara pembina dan santri maupun sebaliknya tampak mulai terbangun, sehingga menciptakan lingkungan pembinaan tahfidz yang kondusif dan mendukung keberhasilan program. Kesetaraan dalam komunikasi merupakan prinsip mendasar dalam menciptakan relasi yang sehat antara pembina dan santri dalam kegiatan pembinaan tahfidz Al-QurAoan. Prinsip ini mencerminkan pengakuan atas nilai dan kebutuhan yang setara dari kedua belah pihak, serta menuntut tidak adanya diskriminasi atau perlakuan berbeda berdasarkan capaian Dalam wawancara, salah satu pembina. Ustadz Azhar Nabil, menyampaikan bahwa dalam praktiknya, seluruh santri diperlakukan setara tanpa ada perbedaan dalam pola komunikasi antara pembina dan santri. Namun demikian, perspektif berbeda disampaikan oleh Ustadz Zamzani Nusantara, yang menuturkan bahwa terdapat penyesuaian pendekatan komunikasi kepada santri yang belum mencapai target hafalan. Menurutnya, santri dalam kategori tersebut diberikan bimbingan khusus agar proses komunikasi menjadi lebih efektif dan target hafalan dapat dicapai secara optimal. Dari pihak santri. Briliano Ibrahim, santri kelas VI, juga menyampaikan bahwa ia tidak merasakan adanya perbedaan perlakuan dari para pembina, menunjukkan bahwa sebagian santri tetap menilai komunikasi yang diterima berlangsung secara adil dan setara. Analisis terhadap perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa kesetaraan dalam komunikasi tidak selalu berarti pendekatan yang seragam untuk setiap individu, melainkan lebih kepada keadilan dalam pemenuhan kebutuhan komunikasi berdasarkan kondisi masing-masing santri. Pendekatan diferensiatif yang dilakukan oleh pembina kepada santri yang mengalami kesulitan justru mencerminkan bentuk empati dan perhatian personal yang Dengan demikian, kesetaraan dalam konteks pembinaan tahfidz dapat dipahami sebagai fleksibilitas pembina dalam menyesuaikan metode komunikasi tanpa mengurangi rasa hormat dan nilai dari setiap santri. Terkait prinsip kesetaraan dalam komunikasi antara pembina dan santri. Ustadz Khairul Amri Pratama. Pd. mengungkapkan bahwa secara data belum dapat dipastikan adanya penerapan kesetaraan tersebut. Ia berpendapat bahwa dalam praktik di berbagai bidang, termasuk pembinaan tahfidz, kemungkinan besar tetap terdapat perbedaan perlakuan terhadap individu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesetaraan komunikasi 569 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 masih bersifat relatif dan bergantung pada konteks interaksi serta penilaian subyektif masingmasing pembina. Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad Al-Zaytun Indramayu, dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal antara pembina dan santri telah berlangsung secara efektif. Hal ini ditunjukkan melalui adanya keterbukaan dalam berkomunikasi, empati, sikap mendukung, respons positif, serta upaya mewujudkan kesetaraan dalam perlakuan terhadap seluruh santri. Faktor-faktor yang mendukung efektivitas komunikasi tersebut meliputi keterbukaan antara pembina dan santri, penerapan teknik pembinaan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, serta empati dari pembina yang memudahkan santri dalam memahami Selain itu, evaluasi rutin dan pemberian motivasi juga turut meningkatkan antusiasme dan komitmen santri dalam menghafal Al-QurAoan. Sementara itu, faktor penghambat yang ditemukan dalam proses komunikasi interpersonal ini adalah terbatasnya waktu interaksi dan kurangnya intensitas komunikasi dari sebagian pembina, yang berdampak pada kesulitan santri dalam memahami arahan serta pencapaian target hafalan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang lebih terstruktur dan intensif agar pembinaan tahfidz dapat berjalan lebih maksimal. Untuk meningkatkan efektivitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan di Asrama Persahabatan MaAohad Al-Zaytun, diperlukan sejumlah strategi yang konkret dan terukur. Pertama, pembina perlu mendapatkan pelatihan khusus dalam komunikasi interpersonal, terutama dalam aspek empati, keterbukaan, dan responsif terhadap kebutuhan santri. Pelatihan ini penting untuk meningkatkan sensitivitas pembina dalam memahami dinamika emosi dan bahasa tubuh santri yang sering kali menjadi indikator kesulitan dalam menghafal (Rahman, 2. Kedua, penyusunan jadwal bimbingan yang lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan individual dapat membantu pembina menjangkau santri yang memerlukan perhatian khusus. Hal ini sejalan dengan pendekatan student-centered yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran (Hasanah, 2. Ketiga, dibutuhkan forum evaluatif berkala yang melibatkan pembina dan santri untuk meninjau efektivitas interaksi yang terjalin. Forum semacam ini dapat memperkuat komunikasi dua arah serta membangun rasa memiliki dalam proses tahfidz (Fitriani, 2. Keempat, pembina diharapkan mampu mengintegrasikan pendekatan afektif dan motivasional, misalnya dengan memberikan penguatan positif dan penghargaan atas progres yang dicapai oleh santri. Studi menunjukkan bahwa motivasi dan sikap positif pembina berdampak langsung pada peningkatan keterlibatan santri dalam kegiatan belajarmengajar (Yusniar & Fitri, 2. Kelima, memperluas ruang interaksi informal antara pembina dan santri, seperti melalui diskusi ringan atau kegiatan non-akademik yang tetap bernilai edukatif, dapat membentuk iklim komunikasi yang lebih hangat dan egaliter. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, diharapkan kualitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz dapat lebih efektif dan berdampak positif terhadap capaian santri. 570 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas komunikasi interpersonal dalam pembinaan tahfidz Al-QurAoan di Asrama Persahabatan Kelas VI MaAohad Al-Zaytun Indramayu, dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal antara pembina dan santri secara umum telah berjalan secara efektif. Hal ini ditandai dengan adanya keterbukaan komunikasi, rasa empati yang ditunjukkan oleh pembina, sikap mendukung dalam proses pembelajaran, suasana positif yang tercipta, serta prinsip kesetaraan yang diupayakan dalam perlakuan terhadap seluruh santri. Selain itu, teknik pembinaan khusus seperti bimbingan personal, evaluasi berkala, dan pemberian motivasi turut menjadi faktor penting dalam memperkuat efektivitas komunikasi tersebut. Faktor-faktor ini mendorong santri untuk lebih memahami materi, meningkatkan konsistensi dalam menghafal, serta menciptakan relasi yang harmonis antara pembina dan santri. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya faktor penghambat yang masih perlu diperhatikan, yaitu keterbatasan waktu yang tersedia untuk pembinaan secara intensif, serta kurangnya frekuensi interaksi personal antara pembina dan santri. Kondisi ini berpotensi mengurangi kelancaran komunikasi dan pemahaman santri terhadap arahan yang Oleh karena itu, dibutuhkan upaya strategis dan berkelanjutan untuk memperkuat kualitas komunikasi interpersonal, agar pembinaan tahfidz tidak hanya berjalan efektif, tetapi juga lebih adaptif terhadap kebutuhan dan karakteristik santri. DAFTAR RUJUKAN Ambarwati. Perilaku dan teori organisasi. Media Nusa Creative (MNC Publishin. Apriani. Menurunnya minat membaca Al-QurAoan dan solusinya bagi anak usia sekolah di Desa Sidaresmi Kecamatan Pabedilan Kabupaten Cirebon (Studi kasus anak usia 13Ae18 tahun di Blok Mani. (Skripsi tidak diterbitka. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon. Azis. Satria. Sulistyani. Manajemen pembinaan karakter santri kelas IX di asrama Al-Madani Pondok Pesantren MaAohad Al-Zaytun Indramayu. Journal of Islamic Studies, 2. , 167-177. https://doi. org/10. 61341/jis/v2i2. Creswell. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches . th ed. Sage Publications. Devito. Komunikasi antarmanusia (Cet. Karisma Publishing Group. Fitriani. Membangun komunikasi efektif antara guru dan siswa dalam kegiatan Jurnal Komunikasi Pendidikan, 14. , 22Ae35. https://doi. org/10. 59188/jurnalsosains. Hasanah. Strategi pembelajaran berbasis student centered learning dalam pendidikan tahfidz. Jurnal Al-QurAoan dan Pendidikan, 9. , 133Ae147. Heriwibowo. Menghafal Al-QurAoan semudah tersenyum. CV. Farishma Indonesia. Ismail. Analisis perkembangan penelitian Living Al-QurAoan dan Hadis. Jurnal Perspektif, 3. , 134Ae144. 571 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Hilmy Afif. Wiena Safitri. Muhammad N. Abdurrazaq Vol. No. : 563-572 Man. Penggunaan kata sarkasme dalam berkomunikasi di kalangan mahasiswa. Acta Diurna Komunikasi, 3. Margono. Metodologi penelitian pendidikan. PT Rineka Cipta. Nulhaqim. -S. Pengaruh pelatihan dan pembinaan dalam menumbuhkan jiwa wirausaha mitra binaan PT (Perser. Pelabuhan Indonesia I Cabang Dumay. Jurnal Kependudukan Padjadjaran, 10. , 152Ae168. Rahman. Pentingnya komunikasi interpersonal dalam pendidikan keagamaan. Jurnal Pendidikan Islam, 12. , 45Ae60. Rohim. Teori komunikasi: Perspektif, ragam dan aplikasi. PT Rineka Cipta. Yusniar. , & Fitri. Pengaruh Reward. Punishment. Dan Gaya Komunikasi Guru Terhadap Prestasi Akademik Siswa Di Sma Negeri 1 Lembah Gumanti. Sisfo: Jurnal Ilmiah Sistem Informasi, 5. https://doi. org/10. 29103/sisfo. Warsah. Kepribadian pendidik: Telaah psikologi Islami. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 5. , 62Ae73. https://doi. org/10. 19109/Psikis. Wirayanti. Erna. Cherawati. , & Khaerani. Metode pendidikan tradisional pesantren dalam membina akhlak santri (Studi Pesantren Nahdlatul Ulum Kabupaten Maro. Socius: Jurnal Penelitian https://doi. org/10. 5281/zenodo. 572 | J O U R N A L O F I S L A M I C S T U D I E S Ilmu-Ilmu Sosial, 1. , 424Ae437.