Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen IMPLEMENTASI KUALIFIKASI ALKITABIAH PENGAJAR SEKOLAH MINGGU DI GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA SEKTOR PAHAUMAN KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT Crianata Chewy Clorida. Ari Upu Telo Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta chewycrianata@gmail. Abstract This research is titled AoImplementation of Biblical Qualifications for Sunday School Teachers at Setia Indonesia Christian Church in Pahauman Sector. Sengah Temila District. Landak Regency. West KalimantanAo. The background of this research is the absence of a clear implementation of biblical qualifications for Sunday School teachers. This research uses an ethnographic approach, a methodology in the descriptive study of culture and society. Ethnography is a form of qualitative research that focuses on describing the culture of a group of people, analysing key results, and drawing key conclusions. The key findings of this study include a taxonomy analysis that classifies empirical data into intellectual, moral, emotional, spiritual, practical, existential and vocational The results showed the existence of a taxonomy of Teaching Proficiency Qualification principles. The conclusion of this thesis is that the principle of vocational qualification is a gift or grace of God given for those who believe in Him for the glory of His The principle of teaching qualification is the ability possessed by a person to preach the truth of God's Word. The teaching integrity qualification refers to the concepts of integrity, honesty, and consistency. Keywords: biblical qualifications. Sunday School teachers, ethnography, taxonomy Pendahuluan Pada bagian ini akan dibahas pokok-pokok mengenai Latar Belakang. Identifikasi Masalah. Rumusan Masalah. Tujuan dan Manfaat Penelitian. Definisi Istilah. Ruang Lingkup Peneliltian dan Sistematika Penulisan. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sektor Pahauman Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Kalimantan Barat menghadapi tantangan signifikan dalam mengimplementasikan kualifikasi alkitabiah bagi pengajar Sekolah Minggu. Sekolah Minggu merupakan salah satu lembaga pendidikan informal yang sangat penting dalam gereja karena berperan dalam menanamkan nilai-nilai Kristen kepada anak-anak sejak usia dini dalam komunitas gereja. Namun, meskipun memiliki peran yang vital, banyak gereja yang belum memiliki standar kualifikasi yang jelas dan terpadu bagi Penelitian ini memiliki latar belakang masalah sebagai berikut: Pertama, kurangnya implementasi kualifikasi alkitabiah pada pengajar Sekolah Minggu di GKSI Sektor Pahauman menimbulkan beberapa permasalahan, seperti kurangnya kompetensi pengajar dalam menyampaikan materi ajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, serta kurangnya integritas dan konsistensi dalam pengajaran. Hal ini berdampak pada kualitas FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen pendidikan yang diterima oleh anak-anak, yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan spiritual dan moral mereka. Kedua, pengajar Sekolah Minggu sering kali tidak memiliki latar belakang pendidikan formal dalam bidang teologi atau pendidikan agama, sehingga mereka kurang dibekali dengan kemampuan intelektual dan praktikal yang memadai. Kondisi ini menuntut adanya suatu pendekatan yang dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kualifikasi yang harus dimiliki oleh pengajar Sekolah Minggu agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk: Pertama, mengidentifikasi kualifikasi Alkitabiah pengajar Sekolah Minggu yang diperlukan oleh pengajar Sekolah Minggu di Gereja Kristen Setia Indonesia Sektor Pahauman. Kecamatan Sengah Temila. Kabupaten Landak. Kalimantan Barat. Kedua, mengembangkan taksonomi kualifikasi pengajar yang mengklasifikasikan kualifikasi pengajar ke dalam kategori intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasional, guna memberikan panduan yang jelas dalam merekrut dan melatih pengajar Sekolah Minggu. Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk berbagai pihak secara teoritis dan praktis antara lain: Pertama, menghasilkan model kualifikasi pengajar Sekolah Minggu yang dapat dijadikan referensi dalam penelitian lebih lanjut. Model ini mencakup berbagai aspek kualifikasi seperti intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasional yang dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks pendidikan agama Kristen. Kedua, peeningkatan kualitas pengajar Sekolah Minggu yang dapat digunakan oleh gereja dan lembaga pendidikan Kristen untuk meningkatkan kualitas pengajar Sekolah Minggu. Dengan menerapkan kualifikasi alkitabiah yang telah diidentifikasi, gereja dapat memastikan bahwa pengajarnya memiliki integritas, kejujuran, dan konsistensi dalam mengajarkan Firman Tuhann Metode yang Dipergunakan Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan ethnografi. Parameter ethnografi dalam penelitian ini berupaya mengidentifikasikan budaya maupun kualifikasi Alkitabiah dalam masyarakat tersebut, khususnya implementasi kualifikasi Alkitabiah bagi pengajar Sekolah Minggu yaitu di suatu wilayah atau kelompok di daerah Kalimantan Barat. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen Metode penelitian kualitatif ini sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. kemudian disebut juga sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. pada akhirnya disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. 1 Alur metode kualitatif etnografi untuk mengolah data menjadi model taksonomi kualifikasi alkitabiah pengajar Sekolah Minggu digambarkan sebagai berikut: Pertama, pemilihan lokasi dan partisipan penelitian. Kedua, pengumpulan data . bservasi partisipatif dengan cara melakukan observasi langsung pada kegiatan pengajaran Sekolah Minggu, mencatat interaksi, metode pengajaran, dan respons anak-anak. wawancara mendalam kepada pengajar Sekolah Minggu, pimpinan guru Sekolah Minggu dan para guru Sekolah Minggu untuk memahami pandangan mereka tentang kualifikasi alkitabiah yang ideal. Diskusi Kelompok Terfokus atau Focus Group Discussion untuk membahas kualifikasi pengajaran yang diharapkan dan tantangan yang dihadapi. dokumentasi dokumen gereja, seperti jadwal pelayanan, panduan pengajara. Ketiga, analisis data . ranskripsi data, mengklasifikasikan data empiris ke dalam kategori intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasiona. Keempat, penyusunan model . enggabungan temuan, validasi dan revis. Kelima, pelaporan hasil penelitian . enyusunan, rekomendasi dan publikas. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini mengidentifikasi dan mengklasifikasikan berbagai kualifikasi alkitabiah yang harus dimiliki oleh pengajar Sekolah Minggu di GKSI Sektor Pahauman. Temuan ini konsisten dengan literatur yang ada dan memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Model taksonomi yang dikembangkan dapat digunakan oleh gereja dan lembaga pendidikan Kristen untuk merekrut, melatih, dan mengembangkan pengajar Sekolah Minggu, memastikan bahwa mereka tidak hanya memiliki pengetahuan teologis yang kuat, tetapi juga integritas moral, kemampuan emosional, kedalaman spiritual, keterampilan praktis, panggilan eksistensial, dan profesionalisme yang tinggi. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sektor Pahauman di Kecamatan Sengah Temila. Kabupaten Landak. Kalimantan Barat menghadapi tantangan dalam mengimplementasikan kualifikasi alkitabiah bagi pengajar Sekolah Minggu. Sekolah Minggu merupakan institusi pendidikan non-formal yang vital dalam gereja karena berperan dalam menanamkan nilai-nilai Kristen Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D, cet. , 1 (Bandung: ALFABETA, 2. FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen sejak usia dini. Namun, belum ada standar kualifikasi yang jelas bagi pengajar, sehingga berdampak pada kualitas pendidikan dan perkembangan spiritual anak-anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi untuk memahami budaya dan praktik pengajaran di GKSI. Etnografi adalah metodologi kualitatif yang fokus pada penggambaran budaya sekelompok orang melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang konteks lokal dan dinamika komunitas yang mempengaruhi pengajaran di Sekolah Minggu. Beberapa syarat menjadi seorang pengajar di GKSI yaitu: telah lahir baru, mengikuti teladan Kristus dalam iman, kasih, kebijaksanaan, keberanian dan integritas. dikaruniai oleh Roh Kudus dalam memberitakan Injil dan mengajar jemaat di gereja. memperdalam pemahaman teologi sesuai dengan ajaran Alkitab. 2 Melalui penelitian ini peneliti ingin memberikan temuan baru yaitu bahwa pengajar Sekolah Minggu perlu memiliki berbagai kualifikasi yang mencakup aspek intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasional. Kualifikasi intelektual meliputi pengetahuan teologis dan keterampilan mengajar yang baik. Kualifikasi moral mencakup integritas dan kejujuran dalam pengajaran. Kualifikasi emosional melibatkan kemampuan berempati dan kesabaran. Kualifikasi spiritual berhubungan dengan kedalaman iman dan komitmen rohani pengajar. Kualifikasi praktikal mencakup keterampilan teknis dalam mengajar dan penggunaan alat bantu pengajaran. Kualifikasi eksistensial mengacu pada panggilan hidup sebagai pengajar dan pemahaman makna pengajaran. Kualifikasi vokasional melibatkan profesionalisme dan komitmen terhadap pengajaran serta pengembangan diri. Model taksonomi yang dikembangkan dari penelitian ini mengklasifikasikan kualifikasi pengajar ke dalam kategori-kategori tersebut untuk memberikan panduan yang jelas dalam rekrutmen dan pelatihan pengajar Sekolah Minggu . Hasil penelitian ini konsisten dengan literatur yang ada. Misalnya. Smith menekankan pentingnya pengetahuan teologis dalam pendidikan Kristen3, sementara Brown menunjukkan bahwa integritas adalah kualitas yang sangat dihargai dalam pengajaran 4 Selain itu. Davis menggaris bawahi pentingnya kecerdasan emosional dalam pendidikan, dan Johnson Badan Pengurus Sinode GKSI. Pedoman Iman dan Persekutuan GKSI, pny oleh Ramles M Silalahi. (Jakarta: t. , 2. , 165. Smith. "The Role of Theological Knowledge in Christian Education. " Journal of Christian Education, 64. , 45-58. Brown. "Evaluating Biblical Literacy in Sunday School Programs. " Religious Education Journal, 95. , . , 234-250. FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen menyoroti pentingnya formasi spiritual pengajar. 5 Implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa gereja dan lembaga pendidikan Kristen dapat menggunakan model taksonomi ini untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan memiliki standar kualifikasi yang jelas, gereja dapat merekrut dan melatih pengajar Sekolah Minggu yang tidak hanya memiliki pengetahuan teologis yang kuat, tetapi juga integritas moral, kemampuan emosional, kedalaman spiritual, keterampilan praktis, panggilan eksistensial, dan profesionalisme yang tinggi . Kualifikasi Intelektual Pentingnya kualifikasi intelektual bagi pengajar Sekolah Minggu di GKSI Sektor Pahauman sangatlah krusial. Pengajar harus memiliki pengetahuan teologis yang mendalam dan pemahaman Alkitab yang baik. Dengan pengetahuan yang luas, pengajar dapat menjelaskan konsep-konsep teologis dengan jelas dan menarik bagi anak-anak. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pengajar yang berpengetahuan mampu menjawab pertanyaan anak-anak dengan lebih baik dan menanamkan pemahaman yang kuat tentang iman Kristen. Hal ini sejalan dengan penelitian Smith yang menekankan pentingnya pengetahuan teologis dalam pendidikan Kristen . Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah 2 Timotius 2:15, "Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran. Kualifikasi Moral Kualifikasi moral mencakup integritas, kejujuran, dan etika dalam pengajaran. Pengajar yang memiliki integritas akan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pengajar yang konsisten dalam sikap dan tindakan mereka memberikan dampak positif pada perkembangan moral anak-anak. Brown menunjukkan bahwa integritas adalah kualitas yang sangat dihargai dalam pengajaran. Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah Yakobus 1:21 Ausebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamuAy. Kualifikasi Emosional Kualifikasi emosional melibatkan kemampuan berempati, kesabaran, dan pengendalian diri. Penelitian ini menemukan bahwa pengajar yang mampu memahami dan Davis. "Emotional Intelligence in Faith-Based Education. " International Journal of Emotional Education, 13. , 61-75. Bnd. Johnson. "Spiritual Formation of Sunday School Teachers. " Journal of Spiritual Formation and Soul Care, 13. , . , 112-130. FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen merespons kebutuhan emosional anak-anak menciptakan lingkungan belajar yang positif dan Davis menggarisbawahi pentingnya kecerdasan emosional dalam pendidikan. Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah Kolose 3:12, "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Kualifikasi Spiritual Kedalaman iman dan komitmen rohani adalah kualifikasi utama bagi pengajar Sekolah Minggu. Pengajar yang memiliki pengalaman spiritual yang mendalam dapat memberikan pengajaran yang lebih autentik dan inspiratif. Penelitian ini mendukung literatur yang menunjukkan bahwa pengalaman spiritual pengajar mempengaruhi efektivitas pengajaran mereka Johnson. Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah 1 Timotius 4:12, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam Kualifikasi Praktikal Kualifikasi praktikal mencakup keterampilan teknis dalam mengajar dan penggunaan alat bantu pengajaran. Penelitian ini menemukan bahwa pengajar yang terampil dalam menggunakan teknologi dan media pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman anak-anak. Walker menekankan pentingnya keterampilan teknis dalam pendidikan 6 Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah Amsal 22:29, "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. Kualifikasi Eksistensial Kualifikasi eksistensial mengacu pada panggilan hidup sebagai pengajar dan pemahaman makna pengajaran. Pengajar yang memahami tujuan dan makna dalam pekerjaan mereka lebih termotivasi dan berkomitmen. Temuan ini sesuai dengan literatur yang menekankan pentingnya panggilan hidup dan makna dalam profesi pengajaran (Evans, 2. Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah Kolose 3:23, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kualifikasi Vokasional Walker. "Technological Integration in Religious Education. " TechTrends in Education, 66. , 145-160. FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen Kualifikasi vokasional meliputi profesionalisme, komitmen terhadap pengajaran, dan Pengajar mengembangkan diri menunjukkan kualitas pengajaran yang lebih tinggi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengajar yang terus-menerus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka memberikan kontribusi besar terhadap kualitas pendidikan. Clark . mendukung temuan ini dengan menekankan pentingnya profesionalisme dalam pendidikan . Ayat yang mendukung kualifikasi ini adalah Ibrani 6:10, "Sebab Allah tidaklah tidak adil, sehingga Ia melupakan usaha dan kerja kasihmu, yang kamu tunjukkan dalam nama-Nya, yaitu dengan melayani orang-orang kudus dan masih melayani mereka. Secara pengembangan pendidikan Kristen di GKSI Sektor Pahauman. Dengan meningkatkan kualitas pengajaran, gereja dapat memperkuat komunitasnya dan memastikan bahwa anak-anak menerima pendidikan yang mendukung perkembangan spiritual dan moral mereka. Temuan ini juga relevan bagi gereja dan lembaga pendidikan Kristen lainnya yang menghadapi tantangan serupa dalam mengimplementasikan kualifikasi pengajaran yang alkitabiah . Penutup Penelitian ini menyoroti pentingnya implementasi kualifikasi alkitabiah bagi pengajar Sekolah Minggu di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Sektor Pahauman. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, penelitian ini menggali secara mendalam berbagai kualifikasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan mendukung perkembangan spiritual anak-anak di Sekolah Minggu. Kualifikasi tersebut meliputi aspek intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kualifikasi memiliki peran yang sangat penting dalam memastikan pengajaran yang efektif dan bermakna. Kualifikasi intelektual mengharuskan pengajar memiliki pengetahuan teologis yang kuat untuk menyampaikan ajaran Kristen dengan akurat. Kualifikasi moral menekankan pentingnya integritas dan kejujuran dalam membentuk teladan yang baik bagi anak-anak. Kualifikasi emosional, yang meliputi kemampuan berempati dan bersabar, berkontribusi pada pembentukan hubungan yang positif antara pengajar dan anak-anak. Kualifikasi spiritual berfokus pada kedalaman iman pengajar, yang memungkinkan mereka untuk menginspirasi dan membimbing anak-anak dalam kehidupan rohani mereka. Kualifikasi praktikal, termasuk keterampilan teknis dalam mengajar, meningkatkan efektivitas pengajaran dan penggunaan alat bantu. Kualifikasi eksistensial melibatkan pemahaman FAK UKRIM. Jl. Solo KM. PO BOX 04/YKAP. Yogyakarta 55282 Telp. Fax: . 496423 Jurnal Penabiblos. Vol. No: 3. E-ISSN : 2086-6097. November 2024 Pendidikan Agama Kristen. Musik Gerejawi. Teologi-Konseling Kristen tentang panggilan hidup sebagai pengajar, memberikan makna dan motivasi tambahan dalam pekerjaan mereka. Terakhir, kualifikasi vokasional mencakup profesionalisme dan komitmen terhadap pengajaran serta pengembangan diri berkelanjutan. Model taksonomi kualifikasi alkitabiah yang dikembangkan dari penelitian ini memberikan panduan yang komprehensif untuk meningkatkan standar pengajaran di Sekolah Minggu. Dengan mengadopsi model ini, gereja-gereja dan lembaga pendidikan Kristen dapat merekrut dan melatih pengajar yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, tetapi juga karakter dan komitmen yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen. Secara keseluruhan, penelitian ini menawarkan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan pendidikan Kristen di GKSI Sektor Pahauman dan memberikan dasar yang kuat untuk upaya peningkatan kualitas pengajaran di Sekolah Minggu secara lebih luas. Temuan ini juga relevan untuk gereja dan lembaga pendidikan Kristen lainnya yang berupaya menghadapi tantangan serupa dalam mengimplementasikan kualifikasi pengajaran yang Beberapa saran penulis antara lain: Pertama, berdasarkan temuan penelitianl. penting bagi GKSI Sektor Pahauman dan gereja-gereja lain untuk mengembangkan kurikulum yang jelas dan standar kualifikasi yang terperinci untuk pengajar Sekolah Minggu. Kurikulum ini harus mencakup semua aspek kualifikasi yang telah diidentifikasi, termasuk intelektual, moral, emosional, spiritual, praktikal, eksistensial, dan vokasional. Standar ini harus dijadikan pedoman dalam proses rekrutmen dan pelatihan pengajar. Kedua, gereja dan lembaga pendidikan Kristen perlu menyelenggarakan program pelatihan berkelanjutan untuk pengajar Sekolah Minggu. Pelatihan ini harus mencakup aspek-aspek kualifikasi yang telah disebutkan dalam penelitian, dengan fokus pada pengembangan pengetahuan teologis, keterampilan emosional, dan profesionalisme. Pelatihan berkala dapat membantu pengajar memperbarui keterampilan mereka dan meningkatkan kualitas pengajaran. DAFTAR PUSTAKA