Paulina. Kintan. Yosilia. Pamela. Irfa. Ridho. , dan Malona. Pen. ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Pengaruh Struktur Kepemilikan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Dividen Sebagai Variabel Intervening : Studi Perusahaan Manufaktur Di Indonesia Paulina STIE Indonesia Banking School harun@ibs. Margaretha Yosilia STIE Indonesia Banking School yosilia@ibs. Muhammad Irfa STIE Indonesia Banking School irfa@ibs. Brigitta Kintan STIE Indonesia Banking School kintan@ibs. Michelle Pamela STIE Indonesia Banking School pamela@ibs. Muhammad Rasyid Ridho STIE Indonesia Banking School rasyid@ibs. Syifa Malona STIE Indonesia Banking School malona@ibs. Abstract The purpose of this study is to analyze the effect of ownership structure on firm value with dividend policy as moderate variable. The population of this study are all manufacture firms that are listed in Indonesian Stock Exchange from 2016 to 2018. This study is using purposive sampling method and as the result, 36 firms were chosen as the samples. Multiple analysis regression has been used to test all of the hypothesis by a software called Eviews 11. The result indicate that managerial ownership has a positive effect on firm intitutional ownership has a negative effect on firm value. dividend policy canAot moderate the relationship between managerial ownership and firm value. dividend policy can moderate the relationship between institutional ownership and firm value. Keywords: Manageirial Ownership. Institutional Ownership. Firm Value. Dividend Policy Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderat. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 36 perusahaan sebagai sampel. Analisis regresi berganda telah digunakan untuk menguji semua hipotesis dengan perangkat lunak yang disebut Eviews 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. kebijakan dividen tidak dapat memoderasi hubungan antara kepemilikan manajerial dan nilai perusahaan. kebijakan dividen dapat memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional dan nilai perusahaan. Kata Kunci: Manageirial Ownership. Institutional Ownership. Firm Value. Dividend Policy Pendahuluan Setiap perusahaan baik itu yang bersifat publik ataupun non publik memiliki tujuan yaitu salah satunya adalah untuk mengoptimalkan nilai perusahaan. Perusahaan yang memiliki nilai yang tinggi maka menggambarkan kesejahteraan dari para pemiliknya atau para pelaku investor (Wahyudi & Pawestri, 2. Apabila harga saham dari sebuah perusahaan meningkat maka secara tidak langsung itu akan memberikan kemakmuran kepada pemegang saham, hal ini menunjukkan bahwa nilai dari perusahaan tersebut maksimal (Ukuran et al. Berdasarkan jurnal (Kholis et al. , 2. menggunakan beberapa indikator antara lain. Price Earning Ratio (PER). TobinAos Q Ratio (Q Tobi. Price Book Value (PBV). Jurnal (Kholis et al. , 2. melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Faktor-faktor yang dianalisa yaitu leverage, firm size, profitability dan kualitas Berdasarkan hasil penelitian, yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah leverage, firm size dan kualitas laba. Faktor lain yang mampu mempengaruhi nilai perusahaan, salah satunya adalah kepemilikan manajerial (Kholis et al. Kepemilikan manajerial . anajerial ownershi. adalah pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan dan juga diberikan kesempatan untuk memiliki saham perusahaan (Suastini et al. , 2. Kepemilikan manajerial dinilai mampu mempengaruhi nilai dari suatu perusahaan karena pihak manajemen memiliki wewenang dalam mengambil sebuah kepu- Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 122-131 tusan serta bertanggung jawab atas perusahaan secara keseluruhan. Hasil penelitian (Kholis et al. , 2. menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, karena pihak manajer belum merasakan manfaat kepemilikan dan rasa tanggungjawab yang besar atas perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari nilai presentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajer terhadap perusahaan masih sangat kecil. Dengan ini maka menggambarkan bahwa pihak manajer tidak mengutamakan kepentingan dari pemegang saham melainkan lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dengan pendapatan perusahaan yang tinggi. Sedangkan hasil penelitian dari (Aprilia Anita, 2. menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai Berpengaruhnya nilai perusahaan disebabkan karena adanya pengendalian yang dimiliki oleh pihak manajerial sehingga tujuan dari manajer akan selaras dengan kepentingan para pemegang saham dimana hal ini erat kaitannya dengan meningkatnya nilai perusahaan. Faktor lain yang dinilai mampu mempengaruhi nilai suatu perusahaan adalah kepemilikan institusional. Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen dimana dengan adanya kepemilikan oleh institusional akan meningkatkan sistem pengawasan yang lebih ketat serta optimal (Permanasari, 2. Kepemilikan institusional diukur sesuai densgan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemilik institusi dan kepemilikan oleh blockholder (Wahyudi & Pawestri, 2. Hasil penelitian (Kholis et al. , 2. menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Semakin besar presentase saham oleh pihak institusi maka akan menyebabkan usaha pengawasan menjadi lebih efektif karena dinilai dapat mengendalikan perililaku oportunistik Kepemilikan institusional mampu mendorong monitoring yang lebih optimal terhadap kinerja suatu Sedangkan hasil penelitian (Dewi & Nugrahanti, 2. menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan melakukan perhitungan dengan menggunakan pengukutan TobinAos Q dimana hasilnya menggambarkan bahwa tinggi rendahnya kepemilikan institusional pada perusahaan belum mampu menjadi mekanisme dalam meningkatkan nilai perusahaan. Fenomena terkait dengan nilai perusahaan salah satu contohnya adalah penurunan saham yang dialami oleh perusahaan Telkom dimana saham perusahaan ini melemah sejak pertengahan bulan Februari 2020. Saham perusahaan tercatat di angka Rp3. 650/ lembar saham pada 21 Februari 2020 dan mengalami penurunan hingga Rp3. 470/ saham pada 27 Februari 2020. Saham dari Telkom mengalami pelemahan karena faktor dari tekanan ekonomi Selain karena adanya isu virus korona adanya isu krisis likuiditas. Isu krisis likuiditas ini dialami oleh Telkomsel karena ada dana dari investor asing yang dicabut senilai Rp1. 75 triliun. Penurunan harga saham dapat menggambarkan keadaan pelaku saham yang kurang maksimal sehingga keadaan ini dikhawatirkan dapat memberikan efek negatif terhadap nilai perusahaan tersebut dimana akan menyebabkan kerugian bagi para pelaku investor yang lainnya. Penelitian ini merupakan modifikasi penelitian dari (Kholis et al. , 2. Penelitian ini menggunakan struktur kepemilikan sebagai variabel independent dan nilai perusahaan sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi. Menurut Sutrisno . kebijakan dividen adalah keputusan apakah yang akan diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba yang ditahan dengn tujuan untuk pembiayaan investasi di masa Laba yang ditahan akan mengalami pengurangan apabila perusahaan memutuskan untuk membagikan laba sebagai dividen. Namun kemampuan pembentukan dana intern akan semakin besar apabila perusahaan memutuskan untuk menahan laba yang diperoleh. Literatur Review Teori Keagenan Teori keagenan secara umum mengatur interaksi kedua kepentingan yaitu pemegang saham sebagai pemberi tugas . dan manajemen sebagai penerima tugas . dalam melaksanakan pekerjaannya. Prinsipal memberikan fasilitas berupa pendanaan untuk menjalankan suatu perusahaan dan agen berkewajiban melaksanakan tugasnya dalam mengelola perusahaan dan memenuhi kesejahteraan pemegang saham. Dari kedua kepentingan tersebut, prinsipal akan memperoleh berupa dividen dan agen memperoleh bonus berupa honor dan semacam lainnya. Jensen dan Meckling . menyatakan bahwa keagenan dapat terjadi antara manajemen dengan pemegang saham yang merupakan masalah konflik kepentingan tersebut. Manajer mementingkan kepentingan pribadinya dengan menetapkan gaji yang besar dan berdampak sebagian beban perusahaan ditangguhkan oleh pemegang saham yang mengakibatkan adanya perseturuan kedua kepentingan tersebut. Perseturuan tersebut sanggup terjadi karena pemegang saham dengan pemegang hutang memiliki struktur penerimaan yang berbeda. Untuk mengurangi perseturuan dalam masalah agensi maka dapat membedakan antara kepemilikan manajerial (Haruman, 2. Paulina. Kintan. Yosilia. Pamela. Irfa. Ridho. , dan Malona. Pen. ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Nilai Perusahaan Nilai Perusahaan merupakan pandangan investor pada tingkat keberhasilan perusahaan yang biasanya dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi pada dasarnya menumbuhkan nilai yang tinggi juga bagi perusahaan, dimana kepercayaan pihak eksternal atau investor terhadap perusahaan semakin meningkat. Nilai perusahaan didefinisikan menjadi harga yang bersedia dibayar oleh investor jika suatu perusahaan hendak dijual (Sartono, 2. Kepemilikan Manajerial Kepemilikan manajerial adalah proporsi pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan. Kepemilikan manajerial yang besar di dalam perusahaan akan efektif untuk mengawasi aktivitas perusahaan (Diyah dan Erman, 2. NurAoaeni . menyatakan bahwa apabila perusahaan memiliki kepemilikan manajerial yang rendah maka insentif yang dikeluarkan untuk memonitor kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan mengalami peningkatan. Kepemilikan manajerial diasumsikan menjadi prosedur pengendalian internal yang berfungsi sebagai monitoring positif dalam mengurangi permasalahan keagenan. Tingkat konsentrasi kepemilikan manajerial memiliki akibat krusial bagi manajer untuk bertindak pada kepentingan terbaik demi maksimalisasi nilai mereka sendiri (Ahmed, 2. Beberapa studi empiris mengenai pengaruh kepemilikan manajerial terhadap biaya keagenan telah menemukan hasil yang berbeda Ae beda. Yuni . serta Bameri dan Jabari . menemukan hasil bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap biaya Kepemilikan Institusional Kepemilikan kepemilikan saham perusahaan milik institusi, seperti bank, perusahaan asuransi, perusahaan investasi dan institusi lainnya (Kusumaningrum dan Rahardjo, 2. Struktur kepemilikan . wnership structur. yaitu struktur kepemilikan saham, dimana terdapat perbandingan antara jumlah saham jumlah saham yang dipegang oleh internal dan jumlaj saham yang dipegang oleh investor. Struktur kepemilikan saham jugi biasa disebut porsi dari kepemilikan institusional dan manajemen pada kepemilikan saham perusahaan. Suatu perusahaan dikepalai oleh direksi . yang dipilih oleh pemegang saham . untuk menjalankan Menurut Bathala, et al dalam Endraswati . , kepemilikan saham oleh institusi merupakan salah satu monitoring agents yang penting dalam memainkan peranan aktif dan konsisten dalam melindungi investasi saham yang mereka pertaruh124 kan dalam perusahaan. Semakin tinggi kepemilikan institusional maka semakin kuat control eksternal terhadap perusahaan dan mengurangi biaya keagenan, sehingga perusahaan akan menggunakan dividen yang rendah (Wahyudi dan Pawestri, 2. Kebijakan Dividen Kebijakan dividen . ividend polic. ialah keputusan untuk persetujuan dari pembagian bentuk perolehan laba perusahaan kepada stakeholders dimana dapat diberikan sebagai laba atau modal investor di masa yang akan datang. Apabila perusahaan menentukan untuk membagikan laba sebagai dividen maka akan mengurangi keuntungan yang ditahan dan selanjutnya akan mengurangi total sumber dana intern (Sartono, 2001 dalam Setiawati. Pengembangan Hipotesis Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan Kepemilikan manajerial merupakan proporsi kepemilikan saham serta sebagai pemegang saham (Christiawan & Tarigan, 2. Nilai perusahaan merupakan cerminan nilai aset perusahaan yang berupa harga saham berdasarkan saham perusahaan. Hubungan antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan berkaitan teori agensi bahwa terjadi interaksi antara kedua kepentingan yaitu manajemen dengan pemilik dengan manajemen sebagai agen bertanggung jawab dalam mengoptimalkan laba para pemilik dan manajemen mendapatkan komisi sebagai imbalannya. Manajer sekaligus pemegang saham berupaya dalam meningkatkan perusahaan agar nilai kekayaan yang dimiliki meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh (Pratiwi, 2. menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dikarenakan dua kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham seharusnya sejajar terhadap kepemilikan manajerial. Apabila nilai perusahaan meningkat kinerjanya maka proporsi kepemilikan saham pun ikut meningkat. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Eka dkk. , 2. menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Menurut hasil analisisnya, presentase saham yang dimiliki manajer pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia relatif kecil yang mengakibatkan belum memiliki rasa tanggungjawab terhadap perusahaan tersebut dan mengutamakan kepentingan pribadinya. H1 : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 122-131 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan Kepemilikan institusional merupakan sejumlah proporsi saham yang dimiliki sebagian atau sepenuhnya milik perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki kemampuan dalam mengelola manajemen, semakin manajemen berfokus dalam mengoptimalkan perannya, maka manajemen mampu menekan tindakan oportunistik dan mendorong peningkatan kinerja manajemen serta pengambilan keputusan suatu perusahaan. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh (Eka dkk. , 2. menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dikarenakan pihak manajer mampu mengendalikan tindakan oportunistik dalam usahanya memonitoring presentase saham institusi. Usaha tersebut mampu memberikan dampak bagi para investor dalam kesejahteraannya agar dapat meningkatkan nilai perusahaan. Sedangkan menurut (Rahma, 2. menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dikarenakan semakin besarnya jumlah kepemilikan saham perusahaan akan mengakibatkan pada penurunan nilai perusahaan. Hal ini dibuktikan bahwa investor institusi cenderung memihak kepada manajemen yang mengutamakan kepentingan pribadinya. H2 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderating Dividen merupakan pembayaran yang dilakukan perusahaan setelah menghasilkan laba dalam bentuk sharing asset kepada para investor. (Abdullah , 2. menyatakan bahwa kebijakan dividen merupakan suatu alat informasi dibidang keuangan yang menarik untuk diteliti. (Sulong & Nor, 2. menyatakan bahwa perus- ahaan yang memiliki komisaris independen yang lebih besar diharapkan membayar dividen karena merupakan bagian terpenting dari laba perusahaan guna meningkatkan kesejahteraan para investor. Agar keberadaan dividen mampu mengurangi biaya keagenan dan meningkatkan nilai perusahaan, maka perusahaan harus meningkatkan komunikasi dan pengambilan keputusan yang tepat suatu masalah dalam perusahaan. Hasil penelitian Eka dkk . sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Budianto dan Payamta . yang menyatakan bahwa kebijakan dividen memoderasi hubungan antara kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen mempengaruhi nilai perusahaan dan pasar bereaksi negatif terhadap kepemilikan manajerial akan tetapi reaksi tersebut berbeda apabila perusahaan membayarkan dividen. Kebijakan dividen merupakan hal yang penting dalam memecahkan suatu masalah yang berdampak positif terhadap nilai perusahaan. Besarnya dividen yang dibayarkan maka meningkatnya nilai perusahaan. H3 : Kebijakan dividen memoderasi hubungan antara kepemilikan manajerial terhadap nilai Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderating Para investor menilai bahwa perubahan dividen menjadi sinyal ramalan keuntungan oleh manajemen. Terjadinya reaksi pasar dikarenakan adanya pengumuman pembayaran dividen yang mengandung sebuah informasi yang terdapat dalam teori (Gordon & Lintne. dalam teori sinyal kebijakan semakin meningkatnya dividen yang dibayarkan maka akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang mampu menaikkan kesejahteraan para investor. H4 : Kebijakan dividen memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional terhadap nilai Gambar 1. Model Penelitian Paulina. Kintan. Yosilia. Pamela. Irfa. Ridho. , dan Malona. Pen. ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Metode Penelitian Objek Penelitian Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan pengaruh antara kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai moderasi. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016 Ae 2018. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut : Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan tahunan dan laporan keuangan selama periode penelitian dengan mata uang rupiah. Perusahaan yang memilik informasi lengkap terkait dengan variabel penelitian. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari hasil pengamatan laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar pada tahun 2016 Ae 2018 melalui website Bursa Efek Indonesia ( w. id ) dan jurnal - jurnal yang berhubungan dengan tujuan Tehnik Penentuan Sampel Penentuan dalam pemilihan jumlah sampel pada penelitian ini dilakukan berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Untuk pemilihan sample dapat dilihat pada table 1. Operasionalisasi Variabel Variabel Dependen Variabel dependen penelitian ini adalah nilai Variabel menggunakan rasio PBV (Price to Book Valu. Price Book Value (PBV) merupakan rasio harga saham terhadap nilai buku dari perusahaan, dimana jumlah modal yang diinvestasikan ditunjukan dengan kemampuan perusahaan meciptakan nilai yang relatif. Tingginya PBV mencerminkan ting- ginya harga saham jika dibandingkan dengan nilai buku perlembar saham. Rumus perhitungan PBV adalah (Rai Prastuti & Merta Sudiartha, 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah struktur kepemilikkan dimana diukur dari presentase kepemilikkan manajerial dan kepemilikkan Kepemilikkan Manajerial Kepemilikkan manajerial adalah kepemilikkan saham perusahaan oleh pihak manajer. Rumus presentase dari kepemilikkan manajerial sebagai berikut (Pakpahan et al. , 2. Kepemilikkan Institusional Menurut (Alamsyah & Muchlas, 2. , kepemilikkan institusional merupakan jumlah saham yang dimiliki oleh institusi seperti perbankan, perusahaan manufaktur, perusahaan asuransi, dan institusi lainnya. Investor institusional diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor individual. Rumus presentase dari kepemilikkan institusional sebagai berikut (Pakpahan et al. , 2. Variabel Moderasi Perusahaan memiliki berbagai kebijakan dalam mengelola perusahannya, sebagai contoh ialah kebijakan dividen. Kebijakan dividen merupakan keputusan yang diambil oleh perusahaan dalam mengelola laba yang diperoleh. Perusahaan dapat membagikan laba tersebut kepada pemegang saham Table 1 : Pemilihan Sampel Kriteria Perusahaan Manufaktur Terdaftar di BEI Data tidak tersedia lengkap dan tidak memenuhi kriteria Data Outlier Data yang digunakan sebagai sampel akhir Sumber: Hasil olahan data dari Bursa Efek Indonesia Jumlah Sampel Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 122-131 dalam bentuk dividen ataupun ditahan dalam bentuk laba ditahan atau retained earnings. Kebijakan dividen diukur dengan Dividend Payout Ratio (DPR), rumus DPR sebagai berikut (Rai Prastuti & Merta Sudiartha, 2. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data Analisis yang digunakan dalam penelitian ini merupakan analisis regresi linier berganda dan MRA (Moderated Regression Analysi. Adapun model persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = 1X1 2X2 A a. Kemudian untuk model persamaan MRA dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = 1X1 2Z 3X1Z A a. A . Y = 1X2 2Z 3X2Z A a . Keterangan: = Konstanta = Koefisien regresi X1 = Kepemilikan manajerial deskripsi dapat dilihat pada table 2. Tabel penelitian pada 36 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2016-2018 sehingga data yang didapat sebanyak 88 data. Berikut hasil penjelasan statistik depkriptif sebagai berikut : Variabel dependen Nilai Perusahaan Variabel dependen nilai perusahaan memiliki nilai tertinggi 6. 14 pada perusahaan Mayora Indah Tbk dan nilai terendah 0. 04 pada perusahaan Langgeng Makmur Industry Tbk. Nilai mean 378182 dan median 0. Standar deviasi Variabel independen Kepemilikan Manajerial Variabel independen kepemilikan manajerial memiliki nilai tertinggi 25. 22 pada perusahaan Mayora Indah Tbk dan nilai terendah 0. Nilai 206023 dan median 0. Standar deviasi sebesar 4. Variabel independen Kepemilikan Institusional Variabel independen kepemilikan institusional memiliki nilai tertinggi 98. 20 pada perusahaan Indofood Sukses Makmur Tbk dan nilai terendah 0. Nilai mean 14. 01602 dan median Standar deviasi sebesar 30. Variabel Moderasi Kebijakan Dividen Variabel moderasi kebijakan dividen memiliki nilai tertinggi 0. 99 pada perusahaan Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul dan nilai terendah -0. 33 pada perusahaan Prashida Aneka Niaga Tbk. Nilai mean 0. 217273 dan median Standar deviasi sebesar 0. Uji Chow Uji Chow adalah pengujian yang dimana membandingkan hasil output common effect dengan fixed effect (Ghozali, 2. Dengan keputusan dalam uji Chow dapat dilihat pada table 3. X2 = Kepemilikan institusional Z = Kebijakan dividen A = Error Hasil Penelitian Dan Pembahasan Statistik Deskriptif Statistik Deskriptif digunakan sebagai informasi mengenai variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini seperti kepemilikan manajemen, kepemilikan institusional, kebijakan dividend dan nilai perusahaan. Hasil pengolahan data statistik Table 3 : Hasil Uji Chow Effects Test Cross-section F Cross-section Chi-square Statistic . Prob. Sumber : Data Olahan Eviews 9 Table 2 : Pemilihan Sampel Mean Median Minimum Maximum Std. Dev. PBV DPR Sumber : Data Olahan Eviews 9 Paulina. Kintan. Yosilia. Pamela. Irfa. Ridho. , dan Malona. Pen. ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Tabel 4. Hasil Uji Hausman Test Summary Cross-section Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob. Sumber : Data Olahan Eviews 9 Sumber : Data Olahan Eviews 9 Gambar 2. Uji Normalitas Berdasarkan hasil pengujian pada table 3 antara common effect dan fixed effect didapatkan nilai probabilitas cross-section chi-square sebesar 0,0000. Nilai probabilitasnya lebih kecil dari 5% . ,0000 < 0,. Secara statistik menolak H0 sehingga model yang tepat digunakan adalah model fixed effect. Uji Hausman Uji Hausman digunakan untuk mengetahui adanya perubahan struktur dalam jenis model regresi yang diteliti antara fixed effect atau random effect (Ghozali, 2. Dengan keputusan dalam uji Hausman sebagai berikut: Menggunakan model fixed effect jika nilai yang tertera pada cross section Chi Square lebih kecil dari alpha yang dipakai sebesar 5% Menggunakan model random apabila nilai cross section Chi Square lebih besar dari alpha. Nilai alpha yang dipakai yaitu sebesar 5%. Hasil uji Hausman pada penelitian ini dapat dilihat pada table 4. Berdasarkan tabel 4 untuk uji Hausman dapat diperoleh nilai distribusi chi-square dari perhitungan menggunakan Eviews 9 sebesar 11. dengan probabilitas 0. urang dari 5%), sehingga model yang tepat digunakan adalah model estimasi random effect. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas ditujukan untuk menguji model regresi variabel terikat dan variabel bebas terdistribusi secara normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan uji Jarque-Bera dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Data terdistribusi secara normal, apabila nilai probabilitas Jarque-Bera hitung > 0. 05 atau Data terdistribusi tidak normal, apabila nilai probabilitas Jarque-Bera hitung < 0. Hasil pengujian normalitas pada penelitian ini tampilannya dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan hasil pengujian uji normalitas, nilai probabilitas sebesar 0. 107466 > 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi secara Hasil pengujian asumsi klasik pada penelitian dengan jumlah observasi 108 menjadi 88 setelah dilakukan uji outlier setelah menghapus data beberapa perusahaan dengan nilai ekstrim sehingga menyebabkan data tidak terdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antara variabel independen yang satu dengan variabel independen lainnya. Kriteria uji multikolinieritas sebagai berikut : Data tidak menunjukkan masalah multikolinieritas, apabila nilai koefisien <0. 8 atau Data menunjukkan masalah multikolinieritas, apabila nilai koefisien >0. Hasil pengujian multikolinieritas pada table 5 terlihat bahwa nilai koefisien antara variabel kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional memiliki nilai <0. 8 sehingga variabel dalam model regresi tidak menunjukkan masalah Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas D(KM) D(KI) D(DPR) KM*DPR KI*DPR D(KM) D(KI) D(DPR) KM*DPR KI*DPR Sumber : Data Olahan Eviews 9 Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Perbankan. Vol 6. No. 3 Desember 2020: 122-131 Tabel 6 : Uji Heteroskesdatisitas Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. NLOGKM NLOGKI NLOGDPR KM*DPR KI*DPR Sumber : Data Olahan Eviews 9 Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskesdatisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian satu pengamatan ke pengamatan lain. Kriteria untuk melakukan uji heteroskesdatisitas sebagai Data tidak mengalami masalah heteroskesdatisitas, apabila nilai probabilitas > 0. 05, atau data mengalami masalah heteroskesdatisitas, apabila nilai probabilitas < 0. Berdasarkan tabel 6, hasil uji heteroskesdatisitas menunjukkan bahwa nilai probabilitas masingmasing variabel independen struktur kepemilikan manajerial dan struktur kepemilikan institusional memiliki nilai probabilitas > 0. 05 yaitu sebesar 7237 dan 0. 8310 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak mengalami masalah heteroskesdatisitas. Uji Autokorelasi Hasil uji asumsi klasik autokorelasi menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson sebesar 1. 86 terletak diantara 1. 69 Ae 2. Hal ini menunjukkan tidak ada autokorelasi. Analisis Regresi Berganda Data Panel Hubungan variabel independen KM. KI terhadap dependen dianalisis menggunakan analisis regresi data panel. Setelah melakukan uji hausman data yang digunakan Random Effect Model Berdasarkan table 7, dengan model persamaan menggunakan model random effect, maka dapat disusun model regresi sebagai berikut : PBV = 0. 197122KM 0. 149172DPR - 0. 084704(KM*DPR) 0. 025990(KI*DPR) Uji t (Uji Parsia. Uji t bertujuan untuk menunjukkan seberapa berpengaruh suatu variabel independen secara parsial terhadap variabel dependennya menggunakan tingkat signifikansi 0. %). Hipotesis diterima atau ditolak dengan kriteria sebagai berikut : Apabila nilai probabilitas O 0. 05 maka hipotesis diterima. Apabila nilai probabilitas Ou 0. 05 maka hipotesis ditolak. Berdasarkan hasil Uji Statistik t pada tabel 7, maka hipotesis pada penelitian ini sebagai berikut : Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa kepemilikan manajerial < 0. 05 yaitu sebesar 0001 < 0. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial secara parsial berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa kepemilikan institusional > 0. 05 yaitu sebesar 6647 > 0. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional secara parsial tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa kepemilikan manajerial yang dimoderasi ke- Tabel 7. Hasil Model Random Effect Variable DPR KM*DPR KI*DPR Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. Sumber : Data Olahan Eviews 9 Paulina. Kintan. Yosilia. Pamela. Irfa. Ridho. , dan Malona. Pen. ISSN: 2460-8114 . 2656-6168 . Tabel 9. Koefisien Determinasi (R. Tabel 8. Hasil Uji Uji Statistik F Root MSE R-squared R-squared Mean dependent var Adjusted R-squared Adjusted R-squared dependent var of regression Sum squared resid F-statistic Durbin-Watson stat Prob(F-statisti. Sumber : Data Olahan Eviews 9 Sumber : Data Olahan Eviews 9 bijakan dividen > 0. 05 yaitu sebesar 0. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan dividen secara parsial tidak memoderasi hubungan antara kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh bahwa kepemilikan institusional yang dimoderasi kebijakan dividen < 0. 05 yaitu sebesar 0. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan dividen secara parsial memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan. Uji F (Uji Simulta. Uji F bertujuan untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian merupakan model regresi yang tepat. Uji F juga bertujuan untuk menguji apakah variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependennya. Kriteria untuk uji F sebagai berikut : Nilai probabilitas < 0. 05, maka Ha diterima artinya variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Nilai probabilitas > 0. 05, maka Ho diterima artinya variabel independen secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Berdasarkan tabel 8 diatas, dapat dilihat bahwa nilai probabilitas F-statistik > 0. 05 yaitu sebesar 000000 < 0. 05 sehingga dapat diartikan bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Koefisien Determinasi (R. Koefisien determinasi bertujuan untuk melihat kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen yang dilihat dari nilai adjusted R2. Apabila nilai R2 kecil, artinya kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R. Nilai adjusted R2 sebesar 0. Variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan sebesar 8 persen dan sisanya sebesar 48. 2 persen di130 pengaruhi variabel lainnya. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian dari hipotesis pertama menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian dari hipotesis kedua menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian dari hipotesis ketiga menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak dapat memoderasi hubungan antara kepemilikan manjerial terhadap nilai perusahaan. Hasil pengujian dari hipotesis keempat menunjukkan bahwa kepemilikan institusional dapat memoderasi hubungan antara kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan. Hasil dari uji F menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil dari koefisien determinasi (R. menunjukkan bahwa cukup besar kemampuan dari variabel independen dalam menjelaskan variable dependen. Keterbatasan Dalam penelitian ini memiliki keterbatasan karena sampel yang digunakan tidak mengkonversi mata uang ke rupiah sehingga peneliti hanya menggunakan sampel dengan perusahaan yang menyajikan laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan dalam penelitian ini hanya struktur kepemilikan sedangkan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi nilai perusahaan. Penelitian ini hanya menggunakan tiga tahun periode Perusahaan pada sektor Manufaktur di Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia karena sebagian besar laporan keuangan perusahaan tidak lengkap dan belum dipublikasikan. Beberapa Perusahaan yang data annual reportnya tidak lengkap sehingga berpengaruh kepada hasil dari koefisien determinasi (R. Saran