Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi HUBUNGAN ANTARA SELF-CONCEPT DENGAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA Riki Musriandi Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas KIP, Universitas Abulyatama Jl. Blang Bintang Lama Km 8,5 Lampoh Keude Aceh Besar, email: rikiunaya@gmail.com Abstract: This study examined the relationship between self-concept and students' mathematical problem solving abilities. This was conducted in Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Banda Aceh. The method in this research was survey method with correlation technique that is looking for the relationship between self-concept with students’ mathematical mass solving ability. The population of the study was all the students class VIII. The sample in this research was the students of class VIII-10 and VIII-11 which consisted to 54 students based on the results of considerations submitted principals and teachers of mathematics study at the school. The hypothesis in this research is “There is a relationship between selfconcept and mathematical problem-solving abilities”. The instruments used are self-concept scales and students' mathematical problem-solving tests. The results showed that there is a positive and significant relationship between self-concept with students' mathematical problem solving abilities. The contribution given by the self-concep variable to the mathematical problem solving ability is 24.6% and the rest is influenced by other factors or variables. Keywords : Self-Concept, Mathematical Problem Solving Abilities Abstrak: Penelitian ini menelaah tentang hubungan antara self-concept dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pelitian ini dilakukan di salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik korelasi yaitu mencari hubungan antara self-concept dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Populasi dari penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-10 dan VIII-11 yang berjumlah 54 siswa berdasarkan hasil pertimbangan yang disampaikan kepala sekolah dan guru bidang studi matematika di sekolah tersebut. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah “terdapat hubungan antara self-concept dan kemampuan pemecahan masalah matematis”. Istrumen yang digunakan adalah skala self-concept dan tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara self-concept dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Kontribusi yang diberikan oleh variabel self-concep terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis adalah 24.6% dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor atau variabel lainnya. Kata kunci : self-concept, kemampuan pemecahan masalah matematis Pandangan dan penilaian individu terhadap Self-concept memiliki sifat multi-dimensi yang dirinya disebut dengan konsep diri (Self-concept), beberapa di antaranya lebih terkait dengan aspek yang dalam kepribadian tertentu (fisik, sosial, emosional), bertingkah laku di tengah masyarakat. Self-concept sementara yang lain lebih terkait dengan prestasi atau konsep diri adalah semua ide-ide, pikiran, akademik. akan mempengaruhi individu kepercayaan, dan pendirian yang diketahui Menurut Atwater (Desmita, 2010: 163) self- individu tentang dirinya dan mempengaruhi concept merupakan keseluruhan gambaran diri, individu dalam berhubungan dengan orang lain. yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, Volume 1, No. 2, Juli 2017 150 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang diharapkan dalam pembelajaran matematika oleh berhubungan dengan dirinya. Sedangkan Menurut National Council of Teachers of Mathematics Hurlock (1980), self-concept merupakan gambaran (NCTM). NCTM (2000) menetapkan lima standar seseorang mengenai dirinya sendiri yang meliputi kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah prestasi yang telah dicapainya. Segi fisik meliputi (problem penampilan fisik, daya tarik dan kelayakan. (communication), Sedang segi psikologis meliputi pikiran, perasaan, (connection), kemampuan penalaran (reasoning), penyesuaian keberanian, kejujuran, kemandirian, dan kemampuan representasi (representation). solving), kemampuan komunikasi kemampuan koneksi kepercayaan serta aspirasi. Manusia mempunyai Sikap siswa terhadap hasil belajar adalah banyak self, yaitu “real self”, “ideal self” dan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. “social self”. Real self adalah sesuatu yang diyakini Saat berlangsungnya proses pembelajaran baik seseorang sebagai dirinya. “Social self” merupakan secara individu maupun bersama guru dan siswa di apa yang dianggap orang ada pada dirinya, kelas sikap sangatlah berperan terhadap hasil sedangkan “ideal self” adalah harapan seseorang belajar terhadap dirinya. kemampuan Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa self-concept sebagai inti kepribadian yang siswa yang salah pemecahan satunya adalah masalah dalam pembelajaran matematika. Salah satu sikap yang ada pada siswa adalah self-concept. merupakan aspek paling penting terhadap mudah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di tidaknya individu mengembangkan kepribadian. atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam Selain itu, self-concept merupakan perasaan penelitian ini adalah: seseorang yang berkaitan dengan keadaan diri sendiri. Self-concept ini menjadi fokus pembentukan kepribadian dan sekaligus menjadi inti kepribadian yang selanjutnya 1. Bagaimana gambaran tentang self-concept siswa dalam proses pembelajaran mattematika. akan 2. Bagaimana gambaran tentang menentukan pengembangan kepribadiannya dalam kemampuan pemecahan masalah proses pembelajaran di kelas sehingga dapat matematis. berpengaruh terhadap hasil belajar. Salah satu pelajaran yang dipelajari oleh 3. Apakah signifikan terdappat hubungan yang antara self-concept dan siswa adalah pelajaran matematika dari tingkat kemapuan pemecahan masalah matematis Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah siswa. Atas (SMA) bahkan perguruan tinggi. Salah satu Untuk menjaga agar penelitian ini fokus pada kemampuan yang harus dimiliki siswa dalah masalah yang akan diteliti, maka peneliti belajar matematika adalah kemampuan pemecahan membatasi hal-hal berikut: masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan yang 151 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi 1. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas concept itu selalu terdapat elemen persamaan yang VIII-10 salah satu MTsN di Kota Banda menunjukkan bahwa pada self-concept itu ada Aceh. pandangan individu terhadap dirinya sendiri. 2. Kemampuan pemecahan masalah matematis yang diukur adalah hasil belajar matematika pada materi Kubus, Balok, Limas dan menggunakan Prisma soal Calhoun dan Acocella (Role, 2016) membagi dimensi self-concept menjadi tiga, yaitu: 1. Pengetahuan, mencakup segala sesuatu dengan yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai berbentuk pribadi, seperti: “saya pintar”, “saya cantik”, “saya anak baik”, dan seterusnya. pemecahana masalah. Adapun yang menjadi hipotesis dalam Gambaran yang kita berikan tentang diri penelitian ini adalah “terdapat hubungan antara kita tidak bersifat permanen, terutama self-concept dan kemampuan pemecahan masalah gambaran yang menyangkut kualitas diri matematis”. kita dan membandingkannya dengan kualitas diri orang lain. KAJIAN PUSTAKA 2. Harapan, dimensi kedua dari self-concept adalah dimensi harapan diri yang dicita- Self-Concept Siswa Pandangan dan penilaian individu terhadap citakan di masa depan. Ketika kita dirinya disebut dengan konsep diri (Self-concept), mempunyai sejumlah pandangan tentang yang dalam siapa kita sebenarnya, pada saat yang bertingkah laku di tengah masyarakat. Self-concept sama kita juga mempunyai sejumlah atau konsep diri adalah semua ide-ide, pikiran, pandangan lain tentang kemungkinan kepercayaan, dan pendirian yang diketahui menjadi apa diri kita di masa mendatang. individu tentang dirinya dan mempengaruhi Pandangan kita mempunyai pengharapan individu dalam berhubungan dengan orang lain. bagi diri kita sendiri. Pengharapan ini Self-concept memiliki sifat multi-dimensi yang merupakan diri-ideal (self-ideal) atau diri beberapa di antaranya lebih terkait dengan aspek yang kita cita-citakan. akan mempengaruhi individu kepribadian tertentu (fisik, sosial, emosional), 3. Penilaian, dimensi ketiga self-concept sementara yang lain lebih terkait dengan prestasi adalah penilaian kita terhadap diri kita akademik. sendiri. Penilaian self-concept merupakan Batasan-batasan tentang self-concept telah pandangan kita tentang harga atau banyak diberikan oleh para ahli, meskipun isi kewajaran pengertiannya hampir sama atau memiliki berbagai Pandangan itu seperti: 1) pengharapan kesamaan. Namun, dengan adanya berbagai bagi diri kita sendiri (saya dapat menjadi macam batasan itu justru dapat saling melengkapi. apa); 2) standar yang kita tetapkan bagi Pada setiap batasan mengenai pengertian self- diri kita sendiri (saya seharusnya menjadi Volume 1, No. 2, Juli 2017 kita sebagai pribadi. 152 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi apa). Hasil dari penilaian tersebut menemukan pemecahan terhadap situasi tersebut. membentuk apa yang disebut dengan rasa Menurut Suryadi, dkk (Suherman, dkk, 2003) harga diri, yaitu seberapa besar kita dalam surveynya tentang “Current situation on menyukai self-concept kita. mathematics and science education in Bandung” Selanjutnya, Calhoun dan Acocella (Rola, yang disponsori oleh JICA, antara lain menemukan 2006), dalam perkembangannya self-concept bahwa pemecahan masalah matematis merupakan terbagi dua, yaitu self-concept positif dan self- salah satu kegiatan matematika yang dianggap concept negatif. Individu yang memiliki self- penting baik oleh para guru maupun siswa di concept positif adalah individu yang tahu betul semua tingkatan mulai dari Sekolah Dasar (SD) siapa dirinya sehingga dirinya menerima segala sampai Sekolah Menengah Umum (SMU). Akan kelebihan dan kekurangan, evaluasi terhadap tetapi, hal tersebut masih dianggap sebagai bagian dirinya menjadi lebih positif serta mampu yang paling sulit dalam matematika baik bagi merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru realitas. Sedangkan individu yang memiliki self- dalam mengajarkannya. concept yang negatif terdiri dari dua tipe, tipe Pemecahan masalah matematis mempunyai pertama yaitu individu yang tidak tahu siapa dua makna, sebagaimana dikemukakan oleh dirinya dan tidak mengetahui kekurangan dan Sumarmo (2010) yaitu: kelebihannya, sedangkan tipe kedua adalah 1. Sebagai suatu pendekatan pembelajaran, individu yang memandang dirinya dengan sangat artinya pemecahan masalah merupakan teratur dan stabil. pendekatan yang menyajikan masalah kontekstual Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa tentu tidak terlepas dari pengertian masalah itu sendiri. Suatu situasi tertentu dapat merupakan masalah bagi orang tertentu, tetapi belum tentu merupakan masalah bagi orang lain. Dengan kata lain, suatu situasi mungkin merupakan masalah bagi seseorang pada waktu tertentu, akan tetapi belum tentu merupakan masalah seseorang pada saat yang berbeda. Suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari akan situasi yang mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan tidak segera dapat 153 awal dan kemudian secara bertahap menemukan kembali (reinvention) dan memahami Pembahasan mengenai pemecahan masalah dihadapi, sebagai titik materi, konsep, dan prinsip matematika. 2. Sebagai tujuan belajar atau kemampuan yang harus dicapai setelah pembelajaran, dalam arti pemecahan masalah merupakan aktivitas di mana solusi dari suatu masalah belum diketahui atau tidak segera ditemukan. Pemecahan masalah sebagai tujuan pembelajaran memuat semua aktivitas penyelesaian masalah yang kompleks memahami yang masalah meliputi; a) termasuk di dalamnya mengindentifikasi kecukupan Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi data dan membuat model matematik atau untuk merumuskan masalah memilih menggunakan yang relevan, sebelumnya, seperti penggunaan langkah-langkah, melaksanakan strategi desertai dengan aturan atau prosedur, dan konsep agar masalah motivasi yang kuat, dan c) menjelaskan yang dihadapi bisa terselesaikan sesuai dengan atau menginterpretasikan hasil, serta harapan. strategi kombinasi dengan b) alternatif masalah, menyelesaikan pengetahuan memeriksa kebenaran hasil atau jawaban. Menurut Polya (Suherman, E., dkk. 2003), 3. Pemecahan masalah merupakan suatu solusi soal pemecahan masalah memuat empat proses menerima masalah dan kemudian langkah fase penyelesaian, yaitu; Fase pertama berusaha menyelesaikannya. Penyelesaian memahami masalah, tanpa adanya pemahaman masalah sebagai usaha dan sebagai terhadap masalah yang diberikan, siswa tidak proses, lebih mengutamakan prosedur, mungkin mampu menyelesaikan masalah tersebut strategi, dengan dan langkah-langkah yang benar. Fase kedua merencanakan ditempuh siswa dalam menyelesaikannya penyelesaian, kemapuan melakukan fase kedua ini sehingga menemukan jawab. Mayer sangat tergantung pada pengalaman siswa dalam (Kirkley, menyelesaikan 2003) mendefinisikan masalah. Fase ketiga pemecahan masalah sebagai suatu proses menyelesaikan masalah sesuai rencana. Fase yang terdiri dari banyak langkah dalam keempat melakukan pengecekan kembali terhadap menemukan hubungan antara pengalaman semua langkah yang telah dikerjakan. masa lalu dengan masalah yang dihadapi Tahapan-tahapan dalam penyelesaian sekarang, kemudian bertindak untuk masalah yang dikemukakan Polya di atas, menyelesaikannya. Setiabudhi (Sutawidjaja dan Afgani, Selanjutnya, 2011) Kusumah (2008) menjelaskan bahwa menjelaskan sebagai berikut: belajar 1. Memahami masalah, mengandung makna: pemecahan masalah pada hakekatnya adalah belajar untuk berfikir a. Apakah kita mengetahui arti semua kata (learning to think) atau belajar bernalar yang digunakan? Kalau tidak, carilah di (learning to reason), yaitu belajar berfikir indeks, kamus, definisi. dan bernalar mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh untuk menyelesaikan masalah baru yang sebelumnya tidak pernah dijumpai. Berdasarkan uraian yang tersebut di atas, hal terpenting dalam memecahkan masalah yaitu b. Apakah kita mengetahui yang dicari dan ditanyakan? c. Apakah kita mampu menyajikan soal dengan menggunakan kata-kata sendiri? d. Apakah soal dapat disajikan dengan cara lain? proses mencari solusi dari masalah. Maksudnya e. Apakah kita dapat menggambarkan adalah suatu usaha yang harus dilakukan seseorang sesuatu yang dapat digunakan sebagai Volume 1, No. 2, Juli 2017 154 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi f. bantuan? Dalam menyelesaikan masalah, hal yang utama Apakah informasi cukup untuk dapat yang harus diperlukan adalah memahami masalah. menyelesaikan soal? Tanpa pemahaman yang baik terhadap suatu g. Apakah informasi berlebiihan? permasalahan, maka akan mengalami kesulitan h. Apakah ada yang perlu dicari sebelum untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. mencari jawaban dari soal? 2. Menyusun suatu strategi, Selain pemahaman terhadap permasalahan, hal mengandung terpenting lainnya yang harus diperhatikan adalah makna: memilih strategi yang tepat dan sesuai dengan a. Kita membahas strategi yang ada, tetapi permasalahan yang dihadapi. jangan ragu-ragu untuk mencoba salah satu strategi untuk digunakan menyelesaikan soal yang kita hadapi. b. Pada umumnya, strategi yang berhasil ditemukan setelah indikator kemampuan pemecahan masalah, yaitu: a) mengidentifikasi kecukupan data untuk menyelesaikan masalah, b) membuat model kali matematika dari suatu situasi atau masalah sehari- mencoba strategi yang gagal. Kegagalan hari dan menyelesaikannya, c) memilih dan adalah menerapkan satu beberapa Sumarmo (2010) mengemukakan beberapa langkah kecil untuk mencapai tujuan yang diinginkan. strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah matematika atau di luar 3. Melakukan strategi yang telah dipilih, matematika, d) menjelaskan atau langkah ini lebih mudah dibandingkan menginterpretasikan hasil sesuai permasalah, serta menyusun strategi. Di sini hanya diperlukan memeriksa kebenaran hasil atau jawaban, dan e) kesabaran menerapkan matematika secara bermakna. dan kehati-hatian untuk menjalankannya. Dijelaskan juga pada dokumen Peraturan 4. Melihat kembali pekerjaan yang telah Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 dilakukan, langkah ini merupakan langkah (Depdiknas, 2006), bahwa pemecahan masalah terakhir yang merupakan kompetensi strategik yang ditunjukkan diperoleh. Namun, kita juga perlu menyusun siswa dalam memahami, memilih pendekatan dan strategi baru yang lebih baik atau menuliskan strategi pemecahan masalah, dan menyelesaikan jawaban dengan lebih baik. model untuk menyelesaikan masalah. Indikator Beberapa pendapat yang tersebut di atas pada yang menunjukkan pemecahan masalah antara lain untuk mengecek hasil prinsipnya tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama menginginkan bahwa pemecahan masalah dilakukan secara teratur, logis dan sistematis. adalah: a. Menunjukkan pemahaman masalah. b. Mengorganisasi data dan memilih Selain itu, dibutuhkan pemanfaatan pengetahuan informasi yang relevan dalam pemecahan yang dimiliki sebelumnya, sehingga diperoleh masalah. hasil pemecahan masalah seperti yang diharapkan. 155 c. Menyajikan masalah secara matematika Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi dalam berbagai bentuk. d. Memilih pendekatan dan metode strategi pemecahan masalah. f. Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah g. Menyelesaikan masalah yang tidak rutin. Adapun indikator pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a) menerapkan dan menggunakan berbagai strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah b) menyelesaikan masalah matematika, Memaha mi Masalah Sk or pemecahan masalah secara tepat. e. Mengembangkan Tabel 1. Pedoman Penskoran Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis matematika maupun dalam konteks lain yang Salah menginter pretasikan 0 atau salah sama sekali Salah menginter pretasi sebagian 1 soal, mengabai kan kondisi soal Memaha mi masalah 2 dalam soal dengan lengkap berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dan c) menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai 3 permasalah, serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban. 4 Langkah-langkah pemecahan masalah matematis dalam penelitian ini mengacu pada langkah-langkah pemecahan dikemukakan Polya. oleh masalah Siswa yang Skor maksimal 2 Membuat Rencana Pemecahan Masalah Tidak ada rencana, membuat rencana yang tidak relevan Membuat perencanaan yang tidak dapat dilaksanakan Membuat rencana yang benar, tetapi tidak ada hasilnya Melakukan Perhitungan Memeriks a Kembali Tidak melakukan perhitungan Tidak ada pemeriksaa n atau tidak ada keterangan lainn Ada pemeriksaa n, tetapi tidak tuntas. Melakukan prosedur yang benar dan mungkin menghasilkan jawaban benar, tetapi salah perhitungan Melakukan proses yang benar dan mendapatkan hasil yang benar Pemeriksaa n dilakukan untuk melihat kebenaran proses Skor maksimal 2 Skor maksimal 2 Membuat rencana yang benar, tetapi belum lengkap Membuat rencana sesuai dengan prosedur dan mengarah pada solusi yang benar Skor maksimal 4 dikatakan mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematis jika ia mampu: (1) Memahami masalah; (2) Merencanakan penyelesaian; (3) menyelesaikan masalah sesuai rencana; dan (4) melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan. Untuk memberikan skor terhadap soal tes kemampuan pemecahan masalah mmatematis, pedoman penskoran penulis METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik korelasi yaitu mencari hubungan anatara self-concept dengan kemampuan pemecahan massalah matematis siswa. Berikut adalah desain penelitian yang digunakan. menggunakan pemecahan rxy masalah x matematis oleh Schoen dan Ochmke (Supratman, 2009) sebagai berikut: y x : Variabel selft-concept y : Variabel kemampuan pemecahan masalah matematis Volume 1, No. 2, Juli 2017 156 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi rxy : Koefisien korelasi antara x dan y Penelitian ini dilakukan di salah satu MTsN yang ada di Banda Aceh. Sebagai populasi dari penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII. Sampel Tabel 2 Interpretasi pengukuran tentang selfconcept dan kemampuan pemecahan masalah matematis Persentase Keterangan 0% - 30% Kurang 31% - 69% Sedang 70% - 100% Baik dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII-10 dan VIII-11 yang berjumlah 54 siswa berdasarkan hasil pertimbangan yang disampaikan kepala sekolah HASIL DAN PEMBAHASAN dan guru bidang studi matematika di sekolah Hasil Penelitian tersebut. Berikut ini adalah gambaran hasil penelitian Instrument yang digunnakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang berbentuk soal uraian dan skala self-concept siswa tentang matematika. Variabel yang akan diukur dengan skala likert dijabarkan menjadi indikator tentang self-concept dan kemampuan pemecahan masalah matematis. Tabel 3 Gambaran Umum Self-Concept dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai pernyataan atau pertanyaan. Jawaban atau respon dari setiap pernyataan yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata (Suherman, 2003: 189) antara lain: Sangat Setuju (ST), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak   Variabel N Maks Min SelfConcept Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis 54 150 102 54 54 26 41.8 1 Std. Dev 10.0 5 Perse ntase 77.4 % 7.37 69.7 % Skor Ideal Self-Concept = 168 Skor Ideal Kemampuan Pemecahan Masalahh matematis = 60 Berdasarkan Setuju (STS). Rer ata 130 tabel di atas dapat melalui diinformasikan bahwa rerata self-concept siswa beberapa tahap, yaitu: tahap pembuatan instrumen, adalah 130 dengan persentase 77.4% termasuk tahap penyaringan dan tahap uji coba instrumen dalam kkategori yang baik dengan skor ideal 168 (tes kemampuan pemecahan masalah matematis). dan standar deviasinya adalah 10.05. Sedangkan Uji coba instrumen dilakukan untuk melihat rerata skore atau nilai tentang kemampuan validitas butir tes, reliabilitas tes, daya pembeda pemecahan masalah matematisnya adalah 41.81 butir tes, dan tingkat kesukaran butir tes. dari skore idealnya 60. Sedangkan persentasenya Sedangkan penulis adalah 69.7%, artinya mendekati 70% dengan menggunakan banntuan program SPSS dan kategori bahwa kemampuan pemecahan masalah Microsoft Excell. Untuk pengukuran tentang self- matematis siswa sudah mendekati baik dengan concept dan kemampuan pemecahan masalah standar deviasinya adalah 7.37. Sedangkan hasil matematis memuat interval frekuensi sebagai analisis data untuk mengukur hubungan antara berikut. self-concept dan kemampuan pemecahan masalah 157 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Instrumen ini untuk dikembangkan analisis data Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi matematis adalah seperti terlihat pada tabel di Tabel 6. Analisis Korelasi bawah ini. Mode l R R Square Adjusted R Square 1 0.496 0.246 0.231 Tabel 4. Uji Signifikansi Regresi Model Regression Residual Total Sum of Squares 1315.542 4032.378 5347.920 Df Mean Square 1315.542 77.546 - 1 52 53 F Sig. 16.965 - 0.000 - Berdasarkan table di atas, Std. Error of the Estimate 8.806 koefisien determinasinya adalah = 0.246 x 100% = 24.6%. Hal ini memberikan gambaran bahwa kontribusi self-concept terhadap kemampuan pemecahan Berdasarkan hasil uji signifikansi di atas, diperoleh nilai F hitung sebesar 16.965 dan Sig masalah matematis sebesar 26.6%. Selebihnya sebesar 75.4% dipengaruhi oleh variable lain. yaitu 0,000 kurang dari 0,05. Berarti terdapat hubungan yang signifikan antara self-concept dan Pembahasan kemampuan pemecahan masalah matematis. Hasil penelitian terhadap siswa kelas VIII Dengan demikian hipotesis yang menyatakan salah satu MTsN di Kota Banda Aceh diperoleh “apakah terdapat hubungan antara bahwa self-concept mempunyai hubungan yang self-concept dan kemampuan pemecahan masalah matematis” positif diterima. pemecahan masalah matematis. Hal ini berarti Setelah data diketahui positif dan signifikan, bahwa dan signifikan tinggi dengan rendahnya kemampuan self-concept selanjutnya dilihat apakah terdapat hubungan atau mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah tidak antar kedua variable tersebut. Berikut adalah matematis siswa walaupun kontribusinya tidak hasil uji korelasi antar variable. begitu besar. Berdasarkan hasil penelitian di atas, didapat Tabel 5. Analisis Korelasi Variabel Koefisien Korelasi Self-Concept dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis 0.496 Keterangan Positif, Cukup bahwa rata-rata self-concept sudah tergolong baik, artinya siswa sudah menunjukkan rasa percaya diri dan keyakinan yang penuh atas kemampuannya dirinya. Sedangkan tingkat kemampuan Berdasarkan table di atas, dapat dilihat bahwa pemecahan masalah matematis siswa masih hubungan antara self-concept dan kemampuan tergolong cukup. Artinya bahwa ada siswa yang pemecahan masalah matematis sebesar 0.496. kemampuan pemecahan masalah matematisnya Artinya hubungan kedua varibael positif dan masih rendah dan ini harus menjadi perhatian oleh tergolong kategori cukup. Untuk melihat seberapa guru di sekolah tersebut. besar pengaruh self-concept dengan kemampuan Sedangkan dari hasil analisis data didapatkan pemecahan masalah matematis, maka harus bahwa kontribusi self-concept masih sangat rendah dilakukan perhitungan koefisien determinasi. untuk Berikut kemampuan adalah table perhitungan determinasi. Volume 1, No. 2, Juli 2017 koefisien membantu siswa dalam pemecahan mengasah masalah matematisnya.yaitu hanya 24.6%. Selebihnya 158 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi dipengaruhi oleh faktor atau variabel lainnya. DAFTAR PUSTAKA Seperti kemampuan awal siswa, motivasi baik itu Ashcraft, M.H. (2002). Math Anxiety: dari dirinya sendiri, keluarga dan lingkungan. Personal, Educational, and Cognitive Dengan self-concept yang mulai berkembang, Consequences siswa lebih mampu menilai hal-hal apa sajakah Psychological Science. Sage Journals. yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan Published October 1, 2002. Depdiknas. mereka dalam belajar. Directions (2006). Panduan in Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KESIMPULAN DAN SARAN Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah Hurlock, E.B. (1980). Developmental dilakukan pada siswa kelas VIII salah satu MTsN Phychology : A Life Span Approach, 5th di Kota Banda Aceh, maka dapat diambil ed. Boston: Mc Graw-Hill. kesimpulan bahwa ada hubungan yang positif dan Kirkley, J. (2003). Principles for Teaching signifikan antara self-concept dengan kemampuan Problem pemecahan masalah matematis. Artinya, Learning, Inc. self - concept dapat digunakan untuk memprediksikan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Kusumah, Solving. Y.S. Copyright (2008). Plato Konsep, Pengembangan, dan Implementasi Computer-Based Learning dalam Peningkatan Kemampuan High-Order Saran Mathematical Thinking. Disampaikan Adapun saran penulis adalah guru harus mampu meningkatkan self-concept siswa sehingga dapat membantu siswa dalam pada Pidato Pengukuhan Guru Besar. Bandung: UPI. meningkat National Council of Teachers of Mathematics. kemampuan hasil belajar baik itu dalam itu dalam (2000). Principles and Standards for pelajaran matematika maupun pelajaran lainnya. School Sedangkan untuk penelitian lanjutan peneliti NCTM. berharap adanya kajian tentang self-concept Mathematics. Reston, VA: Rola, F. (2006). Hubungan Konsep Diri dengan kemampuan matematis lainnya dan adanya dengan kajian tentang variabel sikap lainnya terhadap Remaja. Makalah Fakultas Kedokteran kemampuan pemecahan masalah matematis. USU. Tidak diterbitkan. Motivasi Berprestasi pada Suherman, E., Turmudi, Suryadi, D., Herman, T., Suhendra, Prabawanto, S., Nurjannah, dan Rohayati, A. (2003). Common Text Book dalam Strategi 159 Volume 1, No. 2, Juli 2017 Jurnal DEDIKASI www.jurnal.abulyatama.ac.id/dedikasi Pembelajaran Matematika Sutawidjaja, A. dan Afgani, J. (2011). Matematika. Jakarta: Kontemporer. Bandung: JICA FPMIPA Pembelajaran UPI. Universitas Terbuka. Suherman, E. (2003). Evaluasi Pembelajaran Supratman. (2009). Matematika. Bandung: JICA FPMIPA Kemampuan UPI. Matematis Sumarmo, U. (2010). Berpikir dan Disposisi Matematika: Apa, Mengapa, Bagaiamana Dikembangkan dan Meningkatkan Pemecahan Melalui Masalah Pembelajaran dengan Peta Konsep. Tesis SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan. pada Peserta Didik. Bandung: FPMIPA UPI. Volume 1, No. 2, Juli 2017 160