Cara Mengutip (Gaya APA): Liza Ayu Mareta. Amrina Izzatika. Niken Yuni Astiti dan Frida Destini. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Melalui Model CTL Berbantuan Pop Up Book pada Pembelajaran IPA SD. Didaktika Dwija Indria, 14 . , 764-771 : https://doi. org/10. 20961/ddi. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Melalui Model CTL Berbantuan Pop Up Book Pada Pembelajaran IPA SD Liza Ayu Mareta1. Amrina Izzatika 2. Niken Yuni Astiti3. Frida Destini4 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. FKIP. Universitas Lampung. Bandar Lampung. Indonesia Email penulis korespondensi: maretalizaayu@gmail. Dikirim: 1 Januari 2026 Direvisi: 1 Maret 2026 Diterima: 1 April 2026 DOI: https://doi. org/10. 20961/ddi. Kata Kunci: Abstrak Contextual The creative thinking skills of fifth-grade students at SD Negeri 5 Metro and Timur are still relatively low, as evidenced by their passive attitudes, reluctance to express ideas, and tendency to provide uniform, textbooklearning. oriented answers. This study aims to determine the effect of applying the Contextual Teaching and Learning (CTL) model assisted by Pop-Up Book Pop-up book. media on creative thinking skills and to identify differences in creative Creative thinking thinking skills between the experimental and control classes. This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method and a nonequivalent control group design. The study population and sample consisted of 41 fifth-grade students at SD Negeri 5 Metro Timur. Data collection techniques included tests and non-tests such as interviews and observation sheets. Data analysis used simple linear regression and t-tests. The results showed that the application of the CTL model assisted by Pop-Up Book media had a significant effect on improving studentsAo creative thinking skills. Additionally, there was a significant difference in creative thinking skills between the experimental and control classes. Thus, the CTL model assisted by PopUp Book media is effective in science education for enhancing the creative thinking skills of elementary school students. Jurnal Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. doi: : https://doi. org/10. 20961/ddi. A Penulis. Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons - Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang penting dimiliki peserta didik pada pembelajaran abad ke-21 adalah kemampuan berpikir kreatif. Menurut Riyanto dkk. berpikir kreatif merupakan proses mental untuk menghasilkan atau menemukan ide, gagasan, serta pandangan baru. Sejalan dengan itu. Yasiro dkk. menyatakan bahwa berpikir kreatif mencakup kemampuan memecahkan masalah, menemukan ide, dan menciptakan sesuatu yang baru dalam proses Kemampuan ini tercermin dari cara individu berpikir dan berinteraksi secara lancar, fleksibel, dan inovatif. Individu yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dapat dengan mudah beradaptasi, menemukan solusi, dan menciptakan hal-hal baru secara inovatif dalam kehidupan, salah satunya dalam bidang pendidikan. Permasalahan rendahnya kemampuan berpikir kreatif terlihat dari hasil observasi yang dilakukan penulis. Berdasarkan observasi tersebut, diperoleh data bahwa kemampuan berpikir kreatif IPA peserta didik kelas V SD Negeri 5 Metro Timur masih tergolong rendah. Hasil penelitian pendahuluan yang didapat sebagai Tabel 1. Skor Rata-rata Per Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Kelas VA dan VB SD Negeri 5 Metro Timur. Kelas / Indikator Persentase Jumlah Presentase Kemampuan Berpikir Rata-rata Rata-rata Kelas Peserta Kreatif Indikator Berpikir Lancar (Fluenc. Berpikir Luwes (Flexibilit. VA/ Berpikir Orisinil (Originalit. Berpikir Memerinci (Elaboratio. Berpikir Lancar (Fluenc. Berpikir Luwes (Flexibilit. VB/ Berpikir Orisinil (Originalit. Berpikir Memerinci (Elaboratio. Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas V A dan V B tergolong kurang. Hal ini ditunjukkan dari skor rata-rata per indikator, di mana kelas V A memperoleh rata-rata total 38% dan kelas V B 36%. Indikator yang dinilai, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration, semuanya Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi berada pada kategori kurang. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik penting dilakukan dengan memfokuskan pengembangan pada keempat indikator tersebut, agar kemampuan berpikir kreatif peserta didik dapat berkembang secara menyeluruh. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan melalui wawancara pada tanggal 19 Agustus 2025, kemampuan berpikir kreatif siswa kelas lima di SD Negeri 5 Metro Timur masih relatif rendah. Sebagian besar siswa tampak pasif, kurang berani untuk mengungkapkan ide, dan cenderung memberikan jawaban seragam hanya berdasarkan buku teks. Pembelajaran masih didominasi oleh hafalan, sehingga menghasilkan jawaban yang lebih reproduktif daripada orisinal. Dari perspektif pendidik, proses pembelajaran masih berpusat pada guru dengan penggunaan media yang terbatas, sementara beragam model pembelajaran tidak secara optimal mengakomodasi beragam gaya belajar siswa. Masalah-masalah ini dapat diatasi dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Hal ini didukung lebih lanjut oleh Hidayah & Rintayati . yang menyatakan bahwa pemilihan model pembelajaran yang dilakukan dengan tepat akan memunculkan semangat dan kreativitas peserta didik dalam belajar. Beberapa model pembelajaran dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif, seperti pembelajaran kontekstual, pembelajaran berbasis masalah (PBL), pembelajaran penemuan, dan lain-lain. Namun, model yang dianggap paling efektif untuk mengembangkan berpikir kreatif adalah pembelajaran kontekstual. Hal ini didukung lebih lanjut oleh Tanfidiyah . yang menyatakan bahwa model CTL dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, meningkatkan keterlibatan aktif siswa, dan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Menurut Taufik . , pengajaran dan pembelajaran kontekstual menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, sehingga membuat pembelajaran lebih bermakna. Hal ini sejalan dengan penelitian Rahmaniati . , yang menunjukkan bahwa penerapan model CTL memiliki efek positif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif Selain model pembelajaran yang tepat, media juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang menarik. Berbagai media dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, termasuk media visual, audiovisual, digital interaktif, dan media cetak. Salah satu bentuk media cetak yang menarik adalah buku pop up book. Hal ini diperkuat oleh Alviolita & Huda . , yang menjelaskan bahwa buku pop up book adalah buku dengan gambar tiga dimensi yang muncul ketika halaman dibuka. Karisma dkk. menambahkan bahwa media ini dapat menarik perhatian siswa dan menumbuhkan antusiasme mereka untuk belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nihayah dkk. yang menunjukkan bahwa penerapan model CTL sangat efektif apabila dipadukan dengan media pop up book. Dengan demikian, media pop up book dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Berdasarkan uraian di atas, penulis memutuskan untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Berbantuan Pop Up Book terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SDAy. Masalah Penelitian Kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas V SD Negeri 5 Metro Timur masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dan observasi pada penelitian pendahuluan yang menunjukkan bahwa peserta didik belum mampu mengembangkan ide secara maksimal. Selain itu, pendidik belum menerapkan model pembelajaran yang bervariasi, termasuk model Contextual Teaching and Learning (CTL), sehingga proses pembelajaran cenderung monoton. Pendidik juga belum memanfaatkan media pop up book dalam pembelajaran, padahal media tersebut dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan Keadaan Terkini Penelitian Penelitian tentang peningkatan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar terus berkembang. Berbagai studi menunjukkan bahwa model Contextual Teaching and Learning (CTL) efektif dalam mengaitkan materi dengan kehidupan nyata sehingga dapat mendorong keaktifan dan kreativitas peserta didik. Selain itu, penggunaan media pembelajaran inovatif seperti pop up book juga terbukti mampu meningkatkan minat belajar dan pemahaman konsep. Namun, sebagian besar penelitian masih berfokus pada peningkatan hasil belajar kognitif, sedangkan penelitian yang secara spesifik menekankan pada kemampuan berpikir kreatif masih terbatas, khususnya pada jenjang kelas V sekolah dasar. Kebaruan,Kesenjangan Penelitian & Tujuan Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media pop up book secara bersamaan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada pembelajaran IPA. Adapun kesenjangan penelitian terlihat dari masih terbatasnya penelitian yang menguji secara khusus pengaruh kombinasi model CTL berbantuan pop up book terhadap indikator kemampuan berpikir kreatif menurut Rivaldi Pratama dkk. , yaitu kelancaran . , keluwesan . , keaslian . , dan elaborasi . Selain itu, penelitian serupa juga belum pernah dilakukan di kelas V SD Negeri 5 Metro Timur, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui peningkatan penerapan model dan media tersebut METODE Jenis dan Desain Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian Metode penelitian menggunakan eksperimen semu (Quasi Experiment Desig. dengan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kontrol. Menurut Sugiyono . Quasi Experiment Design mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Data and Sumber Data Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pretest dan posttest kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas V SD Negeri 5 Metro Timur pada mata pelajaran IPA. Data ini digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbantuan media pop up book terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Selain itu, terdapat data pendukung berupa hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran dan aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas V A dan V B SD Negeri 5 Metro Timur Tahun Ajaran 2025/2026 yang berjumlah 41 peserta didik. Kelas VB sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan menggunakan model Contextual Teaching and Learning berbantuan pop up book, sedangkan kelas VA sebagai kelas kontrol yang menggunakan model Discovery Learning. Selain peserta didik, sumber data juga diperoleh dari pendidik melalui wawancara serta dokumen pendukung seperti daftar nilai dan lembar observasi. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik tes dan non tes. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh model Contextual Teaching and Learning (CTL) berbantuan pop up book terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Data yang dianalisis berupa hasil pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tahapan analisis data yang dilakukan yaitu Uji N-Gain. Uji Prasyarat Analisis. Uji Regresi Linear Sederhana, dan Uji Independent Sample t-Test. HASIL Bagian ini dapat dibagi menjadi subjudul. Bagian ini harus memberikan deskripsi yang ringkas dan tepat tentang hasil eksperimen, interpretasinya, serta kesimpulan eksperimental yang dapat ditarik. Penelitian ini melibatkan dua kelompok sampel, yaitu kelas V B sebagai kelas eksperimen dan kelas V A sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran contextual teaching and learning berbantuan pop up book, sedangkan kelas kontrol menggunakan model discovery learning. Proses pembelajaran berlangsung selama tiga pertemuan di masing-masing kelas. Data kemampuan berpikir kreatif diperoleh melalui pretest dan posttest pada kedua kelas. Rata-rata nilai pretest dan posttest disajikan pada tabel berikut. Tabel 2. Rata-Rata Nilai Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Kontrol Rata-rata Pretest Rata-rata Posttest 53,10 51,55 86,43 68,70 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai posttest pada mata pelajaran IPA di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini dibuktikan dengan perolehan rata-rata Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi nilai posttest kelas eksperimen yang mencapai 86,43, sedangkan kelas kontrol hanya memperoleh rata-rata 68,70. Jika dibandingkan dengan peningkatan nilai dari pretest ke posttest pada kedua kelas, terlihat bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih signifikan. Untuk mengetahui besarnya peningkatan kemampuan berpikir kreatif, dilakukan perhitungan N-Gain. Hasil perhitungan NGain disajikan pada tabel berikut. Tabel 3. Hasil Perhitungan N-Gain Kelas Eksperimen Kontrol Nilai N-Gain 0,70 0,34 Kategori Tinggi Sedang Berdasarkan uji N-Gain di atas dapat diketahui bahwa rata-rata skor NGain kelas eksperimen yaitu 0,70, sedangkan pada kelas kontrol memperoleh skor yaitu 0,34. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada pembelajaran IPA materi magnet kelas eksperimen dengan model contextual teaching and learning berbantuan pop up book lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model discovery learning. PEMBAHASAN Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh indikator kemampuan berpikir kreatif mengalami peningkatan pada nilai posttest, baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol, namun peningkatan pada kelas kontrol cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kelas eksperimen. Indikator fluency menunjukkan peningkatan yang paling dominan, terutama pada kelas eksperimen, yang menandakan bahwa kemampuan peserta didik dalam menghasilkan ide berkembang lebih mudah, sejalan dengan pendapat Kartika dkk. yang menyatakan bahwa fluency merupakan indikator yang paling berkembang. Sebaliknya, indikator elaboration menunjukkan peningkatan paling rendah, khususnya pada kelas kontrol, sementara pada kelas eksperimen peningkatannya lebih baik meskipun belum optimal. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan dan merinci gagasan secara mendalam, sebagaimana dijelaskan oleh Rahmawati dkk. yang menyatakan bahwa indikator elaboration cenderung memperoleh skor paling rendah karena peserta didik belum terbiasa memperluas dan memperinci ide secara sistematis dan Secara keseluruhan, peningkatan kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Selain menilai kemampuan berpikir kreatif, penelitian ini juga mengevaluasi aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran. Sintaks model contextual teaching and learning (CTL) menurut Wahid & Sadaruddin . meliputi konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Berdasarkan hasil observasi, sintaks yang paling dominan dan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik adalah penilaian sebenarnya, sedangkan sintaks yang menunjukkan pengaruh paling rendah adalah Hal ini disebabkan pada tahap penilaian sebenarnya peserta didik mampu menunjukkan hasil belajar secara langsung. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi model contextual teaching and learning (CTL) memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel kemampuan berpikir kreatif (Y), sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model CTL memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik, sedangkan peningkatan lainnya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik tidak hanya dipengaruhi oleh penerapan model CTL, tetapi juga didukung oleh penggunaan media pop up book. Media ini mampu meningkatkan keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Penelitian Dianita . menunjukkan bahwa penggunaan media pop up terbukti dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas peserta didik pada pembelajaran IPA. Temuan tersebut memperkuat hasil penelitian ini bahwa media pop up book efektif dalam menggali pengetahuan baru serta meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran contextual teaching and learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri 5 Metro Timur. Hasil uji independent sample t-test juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan kemampuan berpikir kreatif antara peserta didik yang belajar menggunakan model CTL berbantuan pop up book dan peserta didik yang menggunakan model discovery learning. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Dewi dkk. dan Rahmawati dkk. yang menyatakan bahwa penerapan model CTL memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan berpikir kreatif peserta didik. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif peserta didik kelas V SDN 5 Metro Timur. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif antara peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan Contextual Teaching and Learning berbantuan pop up book dan peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan Discovery Learning. DAFTAR PUSTAKA