Kurikulum Tersembunyi dalam Pendidikan Musik sebagai Strategi Pembentukan Karakter dan Pelestarian Budaya Menuju Indonesia Emas Krisna Raharja raharja@ui. krisnaraharja@gmail. Abstract : Tulisan ini membahas peran kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik sebagai strategi pembentukan karakter dan pelestarian budaya menuju Indonesia Emas. Berdasarkan penelitian kualitatif dengan studi kasus di SMKN 2 Cibinong Jawa Barat jurusan musik, ditemukan bahwa aktivitas musikal seperti latihan ansambel, prakonser, dan konser rutin berkontribusi pada pembentukan nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerjasama, dan integritas secara implisit. Kajian ini memadukan teori kurikulum tersembunyi . ren & Deal & Peterso. , sosiologi musik (Becke. , serta pendidikan karakter berbasis budaya lokal (Raden Machja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan musik yang berakar pada nilai budaya lokal dapat menjadi instrumen strategis pembentukan karakter sekaligus pelestarian budaya nasional. Kata Kunci : kurikulum tersembunyi. pendidikan karakter. pelestarian budaya PENDAHULUAN Globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah Arus informasi yang cepat dan meluas, ditambah penetrasi budaya popular global, telah menempatkan budaya lokal pada posisi yang kian terpinggirkan. Generasi muda Indonesia, khususnya siswa sekolah menengah kerap terpapar budaya luar yang dianggap lebih modern dan menarik, sementara warisan seni tradisional dianggap usang, tidak relevan, dan kurang prestisius. Dalam konteks ini muncul tantangan besar, bagaimana menjaga eksistensi dan kelangsungan budaya lokal di tengah arus global yang begitu kuat. Pelestarian budaya tidak dapat lagi hanya bertumpu pada upaya simbolik atau festival tahunan, melainkan harus diintegrasikan ke dalam proses Pendidikan secara sistemik dan berkelanjutan. Pendidikan seni, khususnya Pendidikan musik memiliki potensi besar sebagai medium pelestarian budaya sekaligus sarana pembentukan karakter bangsa. Musiki sebagai ekspresi kolektif tidak hanya menyentuh ranah estetika, tetapi juga menyimpan nilai-nilai moral, sosial dan spiritual yang dapa diinternalisasikan melalui proses Pendidikan musik yang berbasis budaya lokal memberi peluang penting untuk menanamkan nilainilai karakter bangsa melalui pengalaman estetis dan sosial yang bermakna. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pendidikan musik hanya membentuk keterampilan teknis, tetapi juga mengandung dimensi etis dan moral yang melekat secara implisit dalam prosesnya. Penelitian Irwin . di sekolah-sekolah Jawa menunjukkan bagaimana pendidikan musik tradisional Indonesia memuat nilai-nilai nasionalisme dan integritas yang tidak selalu diajarkan secara langsung, melainkan melalui interaksi musikal dan simbolisme budaya . Hal ini sejalan dengan temuan Sours . yang menekankan bahwa ansambel musik di sekolah menengah atas di Amerika dapat menjadi wahana internalisasi nilai karakter dirancang dengan pendekatan yang sadar akan kurikulum tersembunyi. Dalam konteks internasional lainnya. Lee. Baker, dan Haywood . menguraikan bahwa Pendidikan musik tinggi memiliki peran laten dalam pelestarian budaya melalui apa yang mereka sebut sebagai sebagai cultural perpetuation embedded in the hidden curriculum. Raharja . dalam tesisnya menyebutkan AuKurikulum tersembunyi adalah pembelajaran yang mengacu pada norma, perilaku dan nilai yang diajarkan guru dan siswa di sekolah, baik secara langsung atau tidak langsung ditransfer oleh budaya atau etos sekolahAy. Teori ini berpijak pada gagasan Wren . tentang hidden curriculum sebagai norma yang tersembunyi dalam organisasi sekolah melalui aturan sekolah, ritual, upacara, rutinitas termasuk dokumen yang membentuk budaya organisasi pendidikan. Serta Deal & Peterson . yang menggambarkan hidden curriculum sebagai bagian dari iklim sekolah dan interaksi simbolik di dalamnya yang menekankan suasana organisasi . chool cultur. sebagai ruang sosialisasi nilai dalam pendidikan. Kemudian menggunakan konsep pendidikan musik l Becker . yang melihat pendidikan musik sebagai aktifitas kooperatif sehingga nilai sosial dan moral muncul dalam proses tersebut. melalui musicking Small . untuk menegaskan bahwa bermusik adalah tindakan sosial. Relevansi ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan pemikiran klasik dan lokal. Di Indonesia, tokoh musikolog Sunda Raden Machjar Angga Koesoemadinata telah jauh sebelumnya merumuskan bahwa Pendidikan musik harus bersandar pada rasa, nilai, dan karakter. Melalui penciptaan notasi Daminatila dan sistem laras 17 nada sunda, ia tidak hanya menyederhanakan pembelajaran musik tradisional, tetapi juga menciptakan sistem Pendidikan yang menyatu dengan nilai budaya dan spiritual lokal. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan moral pendidikan musik yang diangkat oleh wasiak . , yang menyoroti bahwa pendidikan musik selalu memuat nilai tersembunyi yang dapat berperan dalam pembentukan identitas moral siswa. 74 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Secara lokal, riset Madina et. menemukan bahwa pembelajaran seni musik di sekolah dasar berperan siginifikan dalam pembentukan nilai seperti tanggung jawab, disiplin, dan gotong royong. Yenney-Henderson . bahkan menempatkan Pendidikan musik komunitas sebagai ruang transformasi social melalui kerangka modal budaya Bourdieu, yang beroperasi secara tidak langsung dan berjangka panjang. Sementara itu penelitian oleh Rachmawanti . tentang SaAounine String Orchestra menekankan pentingnya Pendidikan musik orkestra berbasis nasionalisme sebagai instrumen konservasi budaya modern . , dan Sejati et al. juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai konservasi lingkungan dapat ditanamkan melalui praktik orkestra mahasiswa secara implisit dan kolektif. Meski demikian, studi-studi akademik secara lokal tersebut tidak secara khusus mengkaji hubungan antara pendidikan musik, pelestarian budaya lokal, dan pembentukan karakter melalui perspektif kurikulum tersembunyi. Disisi lain banyak penelitian pendidikan seni yang lain menitikberatkan pada aspek teknis atau pencapaian prestasi, tanpa menggali secara menyeluruh bagaimana nilai-nilai budaya dan karakter ditransmisikan secara implisit dalam praktik pembelajaran. Kegiatan musikal siswa di kelas, dalam ansambel, interaksi dengan guru-guru, dan dinamika sosial selama pertunjukan adalah tempat-tempat di mana proses-proses ini terjadi. Dalam konteks ini, makalah ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik berperan dalam pembentukan karakter siswa serta bagaimana praktik musikal berkontribusi pada pelestarian seni budaya lokal. Dengan mengambil studi kasus di satu SMK Negeri jurusan musik di Cibinong propinsi Jawa Barat, tulisan ini hendak menjawab dua pertanyaan utama: pertama, bagaimana kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik berperan dalam pembentukan karakter siswa. kedua, bagaimana kontribusi praktik musikal terhadap pelestarian seni budaya lokal sebagai strategi pendidikan karakter menuju Indonesia Emas 2045. PEMBAHASAN Kurikulum Tersembunyi dalam Praktik Pendidikan Musik Praktik pendidikan musik di SMKN 2 Cibinong tidak hanya menghadirkan proses penguasaan keterampilan musikal, tetapi juga membentuk ruang sosial di mana nilai-nilai karakter diinternalisasi melalui pengalaman kolektif siswa. Rutinitas latihan ansambel, kegiatan prakonser, serta konser tahunan bukan sekadar agenda teknis kurikuler, melainkan menjadi wadah terjadinya pembelajaran tak langsung yang berpengaruh terhadap pembentukan sikap, watak, dan etos kerja peserta didik. Dalam konteks inilah kurikulum tersembunyi hadir: tidak melalui instruksi verbal atau tertulis, tetapi melalui kebiasaan, tuntutan sosial, dan norma institusional yang mengakar dalam kegiatan musikal sehari-hari. Latihan ansambel yang dilakukan secara rutin melibatkan berbagai aspek yang membentuk karakter siswa. Proses persiapan pertunjukan memerlukan keterlibatan aktif, ketepatan waktu, perhatian terhadap detail, serta kemampuan bekerja dalam kelompok. Seorang siswa tidak hanya dituntut menguasai partitur instrumen tertentu, tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan tempo, dinamika, dan interpretasi bersama. Dalam latihanlatihan tersebut, guru tidak secara eksplisit mengajarkan Aukerja samaAy atau AudisiplinAy, namun nilai-nilai tersebut tumbuh secara alamiah dari kebutuhan kolektif agar musik yang dihasilkan memiliki kualitas. Seorang siswa gamelan yang datang terlambat, misalnya, tidak ditegur dengan narasi moral, melainkan merasa tidak nyaman karena mengganggu alur kelompok, dan pada akhirnya membentuk kesadaran etis secara mandiri. Hal ini merupakan bentuk internalisasi nilai melalui mekanisme sosial yang bersifat implisit. Kegiatan prakonser memperkuat dimensi tanggung jawab dan integritas siswa. Dalam konteks SMKN 2 Cibinong, prakonser bukan sekadar gladi bersih atau latihan teknis, melainkan juga mencakup pengelolaan waktu, kesiapan mental, manajemen alat, hingga komunikasi tim. Guru- guru memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengatur perlengkapan, mengkoordinasi kehadiran anggota, serta memastikan setiap bagian pertunjukan Proses ini menjadi momen penting di mana nilai-nilai seperti kepemimpinan, inisiatif, dan tanggung jawab tidak hanya dibicarakan, tetapi dijalani. Kurikulum tersembunyi dalam konteks ini bekerja melalui struktur kepercayaan, ekspektasi sosial, dan dorongan untuk saling mengandalkan antaranggota ansambel. Konser musik, terutama yang terbuka untuk publik atau dilaksanakan dalam konteks perayaan sekolah, menjadi titik kulminasi dari internalisasi nilai. Ketika siswa tampil di hadapan penonton, mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan musikal, tetapi juga representasi dari etos kolektif yang dibentuk selama proses panjang. Siswa yang awalnya canggung belajar menyesuaikan diri, saling mendengarkan, menerima koreksi, dan menjaga tempo secara Semua ini adalah manifestasi nilai kerja sama dan integritas yang tidak diajarkan secara verbal, melainkan dibentuk oleh praktik. Dalam wawancara dengan salah satu guru gamelan, terungkap bahwa Auanak-anak justru belajar lebih jujur dan bertanggung jawab bukan saat pelajaran teori, tetapi saat mereka harus siap tampil Ai karena musik itu langsung terasa dampaknya kalau ada yang tidak serius. Ay Temuan ini sesuai dengan pemikiran Deal dan Peterson . bahwa kurikulum tersembunyi muncul dalam bentuk norma dan ekspektasi kolektif dalam organisasi sekolah. Pendidikan musik menjadi wahana aktualisasi dari nilai-nilai karakter bangsa karena menciptakan pengalaman bersama yang mengharuskan siswa hidup dalam 75 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l struktur sosial tertentu. Selain itu. Small . dalam gagasannya tentang musicking menekankan bahwa makna pendidikan musik tidak hanya terletak pada produk akhir . , tetapi pada proses interaksi sosial yang terjadi selama praktik bermusik. Musik menjadi bentuk praksis budaya yang memuat nilai, norma, dan struktur relasi yang mendidik tanpa harus dinarasikan. Dalam perspektif pendidikan karakter berbasis budaya lokal, praktik pendidikan musik di SMKN 2 Cibinong juga merefleksikan gagasan Raden Machjar bahwa musik adalah pendidikan rasa. Ketika siswa gamelan memainkan komposisi berbasis laras pelog atau salendro dengan sistem notasi daminatila, mereka tidak hanya berhadapan dengan suara, tetapi dengan simbol budaya yang merepresentasikan keseimbangan, ketertiban, dan Dalam konteks itu, proses musikal menjadi sarana penanaman nilai-nilai seperti harmoni sosial, toleransi dalam perbedaan tempo dan dinamika, serta kepekaan terhadap peran diri dalam sebuah komunitas. Guru tidak perlu menjelaskan bahwa Augotong royong itu pentingAy. karena dalam gamelan, gotong royong adalah satusatunya cara agar musik dapat terjadi. Dengan demikian, kurikulum tersembunyi dalam praktik pendidikan musik di sekolah seperti SMKN 2 Cibinong membentuk karakter siswa melalui pengalaman kolektif, rutinitas, dan relasi sosial yang terbangun dalam konteks musikal. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan integritas tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi tumbuh dalam praktik yang mengakar pada budaya lokal dan kerja artistik kolektif. Kurikulum tersembunyi di sini bukan sekadar gejala implisit, melainkan strategi kultural yang efektif dalam membentuk manusia berkarakter sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan sebagai Praktik Budaya Pendidikan musik di sekolah tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan kultural tempat ia berlangsung. Musik bukan semata-mata pengetahuan teknis atau estetika, melainkan merupakan praktik sosial yang sarat makna dan nilai. Christopher Small . memperkenalkan istilah musicking untuk menegaskan bahwa bermusik adalah tindakan sosial: ketika seseorang bermain, mendengarkan, mengorganisasi, atau bahkan sekadar hadir dalam kegiatan musikal, ia sedang berpartisipasi dalam praktik yang membentuk dan merefleksikan hubungan sosial. Dalam konsep ini, musik tidak dipahami sebagai benda atau hasil akhir . eperti partitur atau konse. , melainkan sebagai peristiwa sosial di mana individu berproses secara bersama-sama dalam relasi tertentu. Di SMKN 2 Cibinong, proses musicking tidak hanya terjadi di ruang latihan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan kultural sekolah. Latihan gamelan, misalnya, menjadi ruang perjumpaan antar siswa lintas kelas yang bekerja sama membangun harmoni, menyesuaikan tempo, dan mengelola dinamika secara kolektif. Aktivitas musikal tersebut menciptakan struktur relasi yang mendidik siswa secara sosial dan emosional. Mereka belajar mendengarkan satu sama lain, menunda keinginan pribadi demi keselarasan kelompok, dan menyadari pentingnya peran diri dalam keseluruhan karya. Semua ini membentuk apa yang disebut Small sebagai Auritual sosialAyAiyaitu bentuk interaksi yang memperkuat nilai-nilai budaya melalui tindakan bersama. Yang menarik dalam konteks ini adalah bahwa praktik musicking di SMKN 2 Cibinong tidak bersifat netral atau kosong dari makna budaya. Justru sebaliknya, ia dibingkai dalam tradisi karawitan Sunda yang kaya dengan nilai, struktur, dan simbol lokal. Siswa tidak hanya memainkan alat musik, tetapi juga menyerap sistem laras, pola tabuhan, dan bentuk musikal yang mewakili cara pandang dunia masyarakat Sunda. Dalam pembelajaran gamelan, digunakan sistem notasi daminatila, yaitu sistem yang diciptakan oleh Raden Machjar sebagai upaya modernisasi dan pelestarian karawitan melalui pendekatan ilmiah dan pedagogis. Sistem ini mempermudah siswa dalam membaca notasi dan memahami struktur musikal, namun lebih dari itu, ia juga membawa pesan budaya yang menyatu dalam struktur laras pelog dan salendro. Sistem daminatila bukan sekadar metode pencatatan, tetapi merupakan bentuk pelestarian dan pemaknaan kembali terhadap musik tradisional agar dapat dipelajari oleh generasi muda dalam konteks pendidikan formal. Melalui notasi ini, siswa diperkenalkan pada logika musikal lokal yang berbeda dari sistem Barat, sekaligus menginternalisasi nilai-nilai estetika Nusantara seperti keseimbangan, kelenturan, dan harmoni kolektif. Ketika seorang siswa memainkan AuLadrangAy atau AuGendingAy dengan pola daminatila, ia sesungguhnya sedang belajar memahami filosofi keseimbangan dan struktur sosial dalam budaya Sunda. Musik menjadi sarana pendidikan karakter, bukan melalui narasi verbal, tetapi melalui pengalaman tubuh dan rasa yang terlibat langsung dalam praktik musikal. Sebagai praktik kultural, pendidikan musik berbasis gamelan juga menjadi medium penting dalam melestarikan identitas lokal di tengah tekanan homogenisasi budaya global. Ketika siswa mempelajari karya-karya tradisional Sunda melalui sistem daminatila, mereka sedang mengalami bentuk perlawanan kultural yang halus namun signifikan: mereka menghayati bunyi dan struktur yang tidak ditawarkan oleh budaya populer, sekaligus memahami warisan nilai yang tidak mereka temukan dalam pelajaran formal. Di sinilah musicking tidak hanya menjadi aktivitas sosial, tetapi juga menjadi tindakan budaya yang membawa dimensi ideologis dan historis. Proses ini semakin diperkuat oleh peran guru sebagai penghubung budaya atau cultural broker. Dalam banyak kasus, guru seni di SMKN 2 Cibinong tidak hanya mengajarkan teknik musik, tetapi juga menyampaikan cerita, 76 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l filosofi, dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam repertoar tradisional. Proses seperti ini menciptakan ruang pendidikan yang tidak hanya instruksional, tetapi juga naratif dan simbolikAidi mana siswa berpartisipasi dalam proses pewarisan budaya melalui musikalitas. Dengan demikian, pendidikan musik di sekolah, khususnya melalui karawitan Sunda dan sistem daminatila, dapat dilihat sebagai bentuk cultural praxis: tindakan pembelajaran yang menyatukan ekspresi musikal, pengalaman sosial, dan internalisasi nilai budaya dalam satu kesatuan. Pendidikan musik menjadi lebih dari sekadar mata pelajaran. ia menjadi ruang hidup tempat budaya diwariskan, karakter dibentuk, dan identitas Dalam praktik musicking yang terintegrasi dengan konteks lokal, kurikulum tersembunyi bekerja secara aktifAi menjadikan musik sebagai wahana pendidikan karakter yang berdimensi sosial, kultural, dan etis. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan musik berbasis budaya lokal tidak hanya penting untuk pelestarian seni, tetapi juga untuk membentuk generasi yang berkarakter dan memiliki kepekaan budaya. Dalam kerangka pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan seperti ini memiliki nilai strategis. menyatukan antara etika dan estetika, antara warisan dan masa depan, antara pendidikan formal dan praktik sosial yang hidup. Peran Strategis Menuju Indonesia Emas 2045 Pendidikan musik berbasis budaya lokal tidak hanya relevan dalam konteks pelestarian seni, tetapi juga strategis sebagai instrumen pembentukan karakter generasi muda yang sejalan dengan arah pembangunan nasional jangka panjang. Dalam kerangka visi Indonesia Emas 2045, negara menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai pilar utama untuk menciptakan masyarakat yang berdaya saing, berbudaya, dan berkarakter. sinilah pendidikan musik, khususnya melalui kurikulum tersembunyi, memainkan peran penting sebagai ruang sosialisasi nilai-nilai kebangsaan secara implisit namun efektif. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pendidikan musik di SMKN 2 Cibinong telah membentuk nilai-nilai karakter melalui rutinitas musikal seperti latihan ansambel, prakonser, hingga konser publik. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, integritas, dan kepedulian muncul tidak melalui penugasan tertulis atau ceramah moral, melainkan melalui partisipasi aktif siswa dalam struktur sosial musikal. Proses ini sangat selaras dengan kerangka Profil Pelajar Pancasila, yang mencakup enam dimensi utama: beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Dalam praktik ansambel gamelan, dimensi gotong royong dan mandiri terwujud secara nyata. Siswa belajar untuk saling mendengarkan, berbagi ruang bunyi, dan menyelaraskan kontribusi masing-masing demi kualitas musikal kolektif. Mereka juga dituntut untuk mengatur waktu latihan, membawa peralatan, dan menyiapkan diri tanpa ketergantungan pada guru. Dimensi kreatif dan bernalar kritis muncul dalam interpretasi musikal, improvisasi dalam dinamika, serta diskusi tentang bentuk penyajian karya. Ketika siswa diberi kepercayaan untuk menata ulang format pertunjukan atau memilih bentuk repertoar, mereka tidak hanya belajar musik, tetapi juga mengembangkan kepemimpinan dan pemecahan masalah dalam konteks kultural. Proses ini menggambarkan pendidikan karakter berbasis praktik, bukan berbasis slogan. Secara lebih luas, relevansi pendidikan musik dengan visi pendidikan nasional terlihat dari integrasinya dengan misi Merdeka Belajar, yang menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, dan berakar pada budaya lokal. Kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik menjadi pelengkap alami dari visi ini, karena ia bekerja melalui mekanisme pengalaman, kebiasaan, dan nilai yang hidup dalam praktik keseharian siswa. Pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai transmisi informasi, tetapi sebagai proses membentuk manusia seutuhnyaAimelalui kesadaran sosial, estetika, dan moral yang tumbuh dari dalam. Hal ini menegaskan bahwa musik bukan hanya keterampilan, tetapi juga wahana internalisasi nilai bangsa. Peran ini menjadi semakin signifikan ketika dikaitkan dengan kekaryaan dan pemikiran Raden Machjar Angga Koesoemadinata, tokoh penting dalam sejarah pendidikan musik tradisional Indonesia. Machjar tidak hanya dikenal sebagai penemu sistem notasi daminatila dan gamelan 17 nada, tetapi juga sebagai pendidik yang menempatkan musik sebagai sarana pembentukan rasa dan watak. Bagi Machjar, pendidikan musik harus mendidik rasa, bukan hanya teknis, karena dari rasa itulah muncul kehalusan budi, empati, dan tanggung jawab Konsep ini sejalan dengan dimensi beriman dan bertakwa, bergotong royong, dan mandiri dalam Profil Pelajar Pancasila. Dalam bukunya Ilmu Seni Raras . Machjar menjelaskan bahwa musik Sunda mengandung nilai keseimbangan dan keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Saat siswa memainkan laras pelog atau salendro, mereka bukan hanya mendengar suara, tetapi mengalami resonansi filosofis dari nilai hidup yang Ketika notasi daminatila digunakan dalam pendidikan formal, nilai lokal menjadi bagian dari sistem pedagogi yang terstruktur. Proses ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak harus datang dari luar sistem ia bisa muncul dari bentuk-bentuk lokal yang diciptakan untuk kontekstualisasi budaya dan pendidikan. 77 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Karya Machjar juga dapat dipandang sebagai fondasi awal dari konsep pendidikan karakter berbasis budaya lokal, yang kini banyak digaungkan dalam berbagai kebijakan pendidikan. Ia telah membangun paradigma bahwa budaya bukan sekadar objek pelestarian, tetapi juga perangkat pedagogis. Musik dalam pemikiran Machjar adalah wahana pembentukan bangsa yang berakar pada jatidiri, bukan sekadar hiburan. Ketika pendekatan ini diterapkan dalam pendidikan formal seperti di SMKN 2 Cibinong, maka sekolah menjadi ruang rekontekstualisasi budaya yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan generasi muda. Pendidikan karakter yang tumbuh dari kurikulum tersembunyi musik juga memiliki peran strategis dalam membentuk warga negara yang memiliki identitas kebangsaan yang kuat. Dalam era digital dan globalisasi, tantangan terbesar bukan hanya pada penguasaan teknologi, tetapi pada kemampuan untuk tetap berakar pada nilai dan budaya sendiri. Musik tradisional yang diajarkan secara kontekstual melalui praktik kolektif dapat menjadi alat navigasi identitas yang kuat bagi siswa, sekaligus benteng terhadap disorientasi nilai akibat dominasi budaya Dengan demikian, pendidikan musik berbasis budaya lokal melalui kurikulum tersembunyi memiliki nilai strategis yang besar dalam upaya membentuk generasi Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan identitas budayanya. Ini adalah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045: membangun manusia Indonesia yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar secara kultural dan berprinsip secara moral. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik berbasis budaya lokal memainkan peran strategis dalam pembentukan karakter siswa dan pelestarian budaya. Studi kasus di SMKN 2 Cibinong memperlihatkan bahwa kegiatan musikal seperti latihan ansambel, prakonser, dan konser bukan hanya sarana pembelajaran teknis, melainkan juga ruang internalisasi nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan integritas. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan secara eksplisit melalui modul atau instruksi tertulis, tetapi terbangun melalui pengalaman sosial musikal yang berulang, interaksi kelompok, serta struktur budaya yang hidup dalam praktik musikal. Praktik pendidikan musik di sekolah ini mencerminkan proses musicking (Small, 1. yang tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga membentuk relasi sosial dan makna kultural. Dalam konteks lokal Sunda, penggunaan sistem notasi Daminatila yang dikembangkan oleh Raden Machjar Angga Koesoemadinata menegaskan bahwa pendidikan musik dapat menjadi sarana pelestarian nilai-nilai budaya melalui pendekatan pedagogis yang Musik menjadi medium yang menghubungkan pengetahuan lokal dengan proses pendidikan formal, serta membentuk kesadaran identitas dan karakter kebangsaan secara implisit. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat argumen para pemikir kurikulum tersembunyi (Wren. Deal & Peterso. bahwa pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di level kurikulum formal, tetapi juga dalam interaksi sosial, kebiasaan, dan struktur simbolik di lingkungan sekolah. Temuan ini juga memperluas konsep musicking dari Small dalam konteks pendidikan Indonesia, menunjukkan bahwa praktik musikal berbasis budaya lokal dapat memuat fungsi-fungsi sosiologis dan pedagogis yang signifikan. Selain itu, kontribusi Raden Machjar dalam membangun sistem musik berbasis nilai lokal menjadi rujukan penting dalam membangun model pendidikan karakter yang tidak terlepas dari akar budaya. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan pendidikan karakter di Indonesia. Pertama, sekolah perlu lebih sadar akan potensi kurikulum tersembunyi sebagai instrumen pendidikan nilai, khususnya dalam mata pelajaran seni dan budaya. Kedua, guru seni musik sebaiknya diberi ruang untuk mengembangkan model pembelajaran yang berbasis budaya lokal dan pengalaman kolektif, bukan sekadar mengejar output keterampilan teknis. Ketiga, kebijakan pendidikan nasional seperti Merdeka Belajar perlu mendukung pendekatan etnopedagogik yang menghargai kekayaan lokal sebagai sarana pembangunan karakter dan identitas nasional. Dalam kerangka menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan musik yang terintegrasi dengan kurikulum tersembunyi dan nilai budaya lokal dapat menjadi salah satu jalan efektif untuk membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan berbudaya. Rekomendasi Berdasarkan temuan dan kesimpulan yang diperoleh, terdapat dua rekomendasi utama yang dapat diajukan untuk penguatan praktik pendidikan karakter berbasis budaya melalui kurikulum tersembunyi di bidang seni. Pertama, penting bagi institusi pendidikan dan pemangku kebijakan untuk secara sadar mengintegrasikan dan menguatkan peran kurikulum tersembunyi dalam pendidikan musik formal. Hal ini dapat dilakukan melalui desain pembelajaran yang memberi ruang pada pengalaman kolektif, pengelolaan kegiatan musikal siswa secara otonom, serta pendekatan etnopedagogik yang memanfaatkan sistem musik lokal seperti daminatila sebagai media pembelajaran nilai. Guru musik perlu dilibatkan dalam pelatihan atau diskusi pedagogis yang membahas strategi pembentukan karakter melalui praktik, bukan sekadar penilaian kognitif atau teknikal. 78 | P r o s i d i n g S e m i n a r N a s i o n a l Kedua, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi potensi kurikulum tersembunyi dalam cabang seni lainnya, seperti seni tari, teater, dan seni rupa. Masing-masing bidang seni memiliki dinamika sosial, ekspresi budaya, dan struktur interaksi yang unik, yang memungkinkan terbentuknya pola pendidikan karakter yang berbeda Studi-studi kualitatif berbasis etnografi atau studi kasus pada komunitas sekolah seni dapat memperkaya pemahaman kita mengenai bagaimana nilai-nilai seperti empati, kolektivitas, keberanian, dan ekspresi diri dibentuk melalui jalur nonformal dalam pendidikan seni. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada panitia Seminar Nasional ISBI 2025 yang telah mengangkat tema strategis dan visioner tentang pelestarian budaya melalui inovasi pemikiran dan kekaryaan, khususnya dalam menyoroti warisan keilmuan dan dedikasi Raden Machjar Angga Koesoemadinata sebagai Bapak Etnomusikologi Indonesia. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada keluarga besar almarhum Raden Machjar, para guru besar, seniman, dan peneliti yang telah melanjutkan semangat beliau dalam memadukan seni, pendidikan, dan karakter bangsa. Terima kasih pula kepada para guru dan siswa SMKN 2 Cibinong, yang telah membuka ruang refleksi atas praktik pendidikan musik berbasis budaya lokal sebagai medium kurikulum tersembunyi dan pelestarian nilai. Akhirnya, penulis berterima kasih kepada seluruh sivitas akademika ISBI Bandung dan komunitas pendidikan seni yang terus mendukung upaya pelestarian budaya sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045. Semoga naskah ini dapat menjadi sumbangsih kecil dalam memperkuat jembatan antara kekaryaan masa lalu, praktik pendidikan masa kini, dan arah masa depan kebudayaan nasional. DAFTAR PUSTAKA