Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 602-611 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Pola Asuh Orang Tua dalam Keluarga Pernikahan Dini dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini di Desa Mulyorejo Aryanti1. Amilda2. Nyimas Atika3 Info Artikel Abstract Keywords: Parenting Styles. Early Marriage. Children's Social Development. Early Childhood Education. This study aims to describe parenting patterns in families with early marriages and analyze their influence on the social development of early childhood in Mulyorejo Village. The focus of the study is on how parenting practices are applied by parents who married at a young age, and how these patterns shape children's social behavior, interaction skills, and selfadjustment in their peer environment. This study uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion The results show that early marriage families apply three main parenting styles, namely authoritarian, permissive, and democratic, each of which has a different impact on social development. Democratic parenting tends to produce children who are independent, communicative, and able to interact positively. authoritarian parenting is associated with closed-mindedness, low self-esteem, and passivity in socializing. permissive parenting influences a lack of self-control and understanding of social boundaries. This study recommends improving parenting education for parents of early marriages, especially regarding democratic parenting, which better supports the optimal social development of young children. Kata Kunci: Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam keluarga pernikahan dini serta menganalisis pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak usia dini di Desa Mulyorejo. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana praktik pengasuhan diterapkan oleh orang tua yang menikah pada usia muda, serta bagaimana pola tersebut membentuk perilaku sosial, kemampuan interaksi, dan penyesuaian diri anak dalam lingkungan sebayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga pernikahan dini menerapkan tiga pola asuh utama, yaitu otoriter, permisif, dan demokratis, yang masingmasing menghasilkan dampak perkembangan sosial yang berbeda. Pola asuh demokratis cenderung menghasilkan anak yang mandiri, komunikatif, dan mampu berinteraksi secara positif. pola asuh otoriter berkaitan Pola Asuh Orang Tua. Pernikahan Dini. Perkembangan Sosial Anak. Pendidikan Anak Usia Dini. 1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Kota Palembang. Indonesia Email: aryantirdst0@gmail. 2 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Kota Palembang. Indonesia Email: amilda_uin@radenfatah. 3 Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Kota Palembang. Indonesia Email: nyimasatika_uin@radenfatah. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dengan sikap tertutup, rendah diri, dan pasif dalam bersosialisasi. sedangkan pola asuh permisif berpengaruh pada kurangnya kontrol diri dan pemahaman batas sosial. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi parenting bagi orang tua pernikahan dini, terutama terkait pengasuhan demokratis yang lebih mendukung perkembangan sosial anak usia dini secara optimal. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 03 Desember 2025 24 Desember 2025 25 Desember 2025 27 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Aryanti. Amilda, & Atika. Pola Asuh Orang Tua Dalam Keluarga Pernikahan Dini Dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Di Desa Mulyorejo. Jurnal Ar-Raihanah, . , 603-612, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Aryanti, aryantirdst0@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Pernikahan dini hingga kini masih menjadi isu sosial yang memerlukan perhatian serius, terutama di masyarakat pedesaan seperti Desa Mulyorejo. Pernikahan pada usia muda umumnya dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks (Dwairy & Menshar, 2. Dampak dari pernikahan dini tidak hanya dialami oleh pasangan suami istri, tetapi juga oleh anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga tersebut (Liu & Merritt, 2. Ketidaksiapan emosional dan psikologis pasangan muda dalam menjalankan peran sebagai orang tua berpotensi menimbulkan masalah dalam pengasuhan, terutama pada anak usia dini yang sedang berada pada fase penting perkembangan sosial (Rispoli et al. , 2. Ketika pola asuh tidak berjalan secara konsisten dan tepat, perkembangan kemampuan interaksi, komunikasi, dan penyesuaian diri anak dapat terganggu (Xie & Li, 2. Dalam kajian literatur, pola asuh merupakan faktor krusial dalam mendukung perkembangan sosial anak. Tiga pola asuh yang dikemukakan Baumrind otoriter, permisif, dan demokratis masingmasing memberikan dampak yang signifikan dalam membentuk karakter sosial anak (Coolahan et al. Pola asuh demokratis diketahui mampu mendukung tumbuhnya kemandirian dan keterampilan sosial, sedangkan pola asuh otoriter maupun permisif cenderung menghasilkan hambatan dalam perkembangan perilaku sosial anak (Vollmer & Mobley, 2. Namun, dalam konteks pernikahan dini, penerapan pola asuh ideal sering kali terhambat oleh keterbatasan pengalaman, tingkat kedewasaan, kondisi ekonomi, dan tekanan lingkungan. Hal ini menjadikan keluarga pernikahan dini sebagai kelompok yang rentan menghadapi kesulitan dalam memberikan pengasuhan yang berkualitas (Cano. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas kaitan antara pernikahan dini dan berbagai aspek tumbuh kembang anak, research gap masih ditemukan dalam kajian yang secara spesifik mengaitkan pola asuh orang tua pernikahan dini dengan perkembangan sosial anak usia dini pada konteks lokal Penelitian sebelumnya cenderung menekankan sisi psikologis pasangan muda atau masalah kesehatan reproduksi, sementara kajian mengenai bagaimana pola pengasuhan tersebut berdampak langsung terhadap perkembangan sosial anak masih terbatas (Lianos, 2. Selain itu, sebagian penelitian yang ada bersifat kuantitatif sehingga kurang menggambarkan dinamika pengasuhan secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari (Harralson & Lawler, 2. Keterbatasan ini memperlihatkan perlunya penelitian kualitatif yang mengkaji praktik pengasuhan secara kontekstual pada keluarga pernikahan dini. Penelitian ini menawarkan novelty berupa pendekatan kualitatif studi kasus yang menggali secara komprehensif pengalaman pengasuhan dalam keluarga pernikahan dini dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak usia dini di Desa Mulyorejo. Kebaruan penelitian terlihat pada Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 fokus lokasi yang jarang dijadikan objek kajian serta penelaahan mendalam terhadap variasi pola asuh yang muncul dalam keluarga pernikahan dini, lengkap dengan analisis faktor pendukung dan Dengan menggambarkan realitas pengasuhan secara lebih detail, penelitian ini tidak hanya memperluas pemahaman teoretis mengenai pola asuh, tetapi juga menyediakan data empiris yang relevan untuk memperbaiki praktik pendidikan anak usia dini di tingkat masyarakat. Tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan pola asuh orang tua dalam keluarga pernikahan dini serta menganalisis pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak usia dini. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memperkaya kajian tentang dinamika pengasuhan pada keluarga yang menikah muda, sementara secara praktis penelitian ini memberikan rekomendasi untuk penguatan program edukasi parenting yang lebih adaptif. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi lembaga pendidikan, pemerintah desa, dan lembaga keagamaan dalam merancang intervensi yang dapat meningkatkan kualitas pengasuhan, sehingga perkembangan sosial anak usia dini dapat tercapai secara optimal. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus untuk memahami secara mendalam dinamika pola asuh orang tua dalam keluarga pernikahan dini dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak usia dini di Desa Mulyorejo. Kecamatan Sungai Lilin. Kabupaten Musi Banyuasin (Moleong, 2. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan realitas pengasuhan secara alami, kontekstual, dan komprehensif sesuai situasi yang dialami keluarga pernikahan dini. Kehadiran peneliti sebagai instrumen utama memungkinkan peneliti berinteraksi langsung dengan subjek penelitian melalui observasi dan wawancara untuk memperoleh data yang autentik dan mendalam (M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almansur, 2. Subjek penelitian meliputi keluarga yang menikah pada usia muda dan memiliki anak usia dini yang berdomisili di Desa Mulyorejo. Kecamatan Sungai Lilin. Kabupaten Musi Banyuasin. Informan penelitian terdiri dari orang tua, anak usia dini, guru PAUD, tokoh masyarakat, dan anggota keluarga besar yang memahami kondisi pengasuhan di keluarga tersebut. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive berdasarkan kesesuaian karakteristik dengan fokus penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Mulyorejo sebagai lokasi tunggal, dan kegiatan pengumpulan data berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dengan mempertimbangkan kebutuhan observasi berulang dan wawancara mendalam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Sugiyono, 2. Observasi digunakan untuk mengamati pola interaksi orang tua dan anak dalam situasi sehari-hari, termasuk perilaku sosial anak di lingkungan keluarga dan masyarakat. Wawancara mendalam digunakan untuk menggali persepsi, pengalaman, dan praktik pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua pernikahan dini. Dokumentasi meliputi arsip keluarga, foto kegiatan, dan catatan lain yang mendukung keabsahan temuan. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, dan format dokumentasi disusun berdasarkan indikator perkembangan sosial anak dan teori pola asuh. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Radlinski & Craswell, 2. Pada tahap reduksi, data diseleksi berdasarkan relevansi dengan fokus penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi tematik yang memudahkan pemaknaan temuan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antar-temuan yang muncul dari proses pengumpulan data. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan Selain itu, peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan di lapangan untuk meningkatkan kredibilitas dan keandalan data yang diperoleh. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Pola Asuh dalam Keluarga Pernikahan Dini Fenomena pernikahan dini di Desa Mulyorejo membawa dampak yang cukup besar terhadap pola pengasuhan anak usia dini. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam, diketahui bahwa sebagian besar pasangan yang menikah pada usia dini berada pada rentang usia 17Ae22 tahun. Pada rentang usia tersebut, individu masih berada dalam fase transisi dari remaja menuju dewasa awal, di mana aspek kematangan emosional, pengendalian diri, dan kemampuan mengambil keputusan belum sepenuhnya berkembang optimal. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap cara mereka mengasuh anak, terutama dalam aspek disiplin, responsivitas, dan pemberian stimulasi perkembangan Temuan lapangan menunjukkan bahwa pasangan muda seringkali menunjukkan pola pengasuhan yang tidak stabil karena kondisi emosional yang masih labil. Beberapa informan mengungkapkan bahwa perubahan suasana hati . ood swin. , tekanan ekonomi, serta konflik rumah tangga menjadi faktor utama yang memengaruhi inkonsistensi pola asuh. Hal ini sejalan dengan pendapat (Pellerin, 2. yang menjelaskan bahwa individu yang menikah pada usia terlalu muda cenderung belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang, sehingga rentan menerapkan pola pengasuhan yang fluktuatif. Demikian pula, (McWayne et al. , 2. menyebutkan bahwa kematangan emosional merupakan salah satu fondasi penting dalam praktik pengasuhan yang efektif. Ringkasan karakteristik kematangan emosional orang tua pernikahan dini disajikan dalam tabel berikut. Tabel 1. Kesiapan Emosional dan Pengaruhnya terhadap Pengasuhan Kategori Kesiapan Jumlah Dampak terhadap Pola Asuh Emosional Orang Tua Stabil Cenderung konsisten, komunikatif, lebih dekat dengan pola demokratis Cukup Stabil Kadang responsif, tetapi mudah terbawa tekanan Kurang Stabil Pengasuhan berubah-ubah, kecenderungan permisif atau otoriter Tidak Stabil Marah menggunakan hukuman Sumber: Data Lapangan, 2025 Dari tabel tersebut terlihat bahwa lebih dari separuh orang tua . ekitar 55%) berada pada kategori Aukurang stabilAy atau Autidak stabilAy, yang berarti bahwa pola pengasuhan yang diberikan kemungkinan besar tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini. Sebagian keluarga pernikahan dini di Desa Mulyorejo hidup bersama orang tua atau mertua. Hal ini menyebabkan pola asuh yang diterapkan tidak semata-mata berasal dari orang tua kandung, melainkan merupakan bentuk warisan budaya yang dibawa oleh generasi sebelumnya. Dengan demikian, pola asuh yang muncul sering kali merupakan kombinasi antara nilai-nilai tradisional, pengalaman masa kecil orang tua, serta pengaruh lingkungan sekitar. Teori Ekologi Bronfenbrenner menyatakan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi individu dengan lingkungan terdekatnya . , termasuk keluarga besar, teman sebaya, dan masyarakat (Nabila & Kesehatan, 2. Pada konteks pernikahan dini, lingkungan keluarga besar memainkan peran sangat dominan karena peran pengasuhan sebagian diambil alih oleh nenek atau kakek. Berdasarkan data lapangan, keterlibatan keluarga besar dalam pengasuhan dapat dilihat pada tabel berikut. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tabel 2. Keterlibatan Keluarga Besar dalam Pengasuhan Bentuk Keterlibatan Jumlah Kasus Dampak terhadap Pola Asuh Mengambil alih pengasuhan Pola asuh lebih otoriter karena mengikuti gaya generasi sebelumnya Ikut menentukan keputusan Pengasuhan campuran. aturan tidak konsisten terkait anak Memberikan Pola lebih terarah. orang tua muda belajar edukasi pengasuhan Minim keterlibatan Orang tua muda mengasuh mandiri, cenderung permisif karena kurang pengalaman Sumber: Data Lapangan, 2025 Data menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga besar cukup tinggi, dengan 32% keluarga menyerahkan sebagian tanggung jawab pengasuhan kepada generasi sebelumnya. Kondisi ini memperkuat temuan bahwa pola asuh pada pernikahan dini bukan entitas individual, melainkan hasil konstruksi sosial budaya. Secara umum, terdapat tiga pola asuh yang muncul dari hasil penelitian, yaitu: demokratis, otoriter, dan permisif. Namun demikian, terdapat pula beberapa keluarga yang menerapkan kombinasi dari ketiga pola tersebut . ola asuh campura. Tabel 3. Distribusi Umum Pola Asuh dalam Keluarga Pernikahan Dini Pola Asuh Jumlah Keluarga Persentase (%) Demokratis Otoriter Permisif Campuran Sumber: Data Lapangan, 2025 Pola asuh demokratis pada keluarga pernikahan dini di Desa Mulyorejo umumnya ditemukan pada orang tua yang memiliki tingkat pendidikan lebih baik, akses informasi yang lebih memadai, serta terlibat aktif dalam kegiatan posyandu. PAUD, atau kelompok ibu muda. Orang tua dalam kategori ini cenderung mampu membangun komunikasi terbuka dengan anak, memberikan pilihan yang tetap berada dalam koridor pengarahan, serta menerapkan aturan secara konsisten. Praktik tersebut menunjukkan bahwa meskipun menikah pada usia muda, sebagian orang tua mampu mengembangkan pola pengasuhan yang responsif dan terstruktur karena adanya dukungan sosial dan akses pengetahuan yang lebih luas. Temuan ini selaras dengan (Maimun, 2. yang menegaskan bahwa pola asuh demokratis mendorong perkembangan sosial yang lebih optimal, terutama dalam hal kemandirian, kemampuan berkomunikasi, dan keterampilan sosial anak. Sebaliknya, pola asuh otoriter banyak ditemukan pada keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi atau berada dalam lingkungan keluarga dengan tingkat konflik yang tinggi. Pada pola ini, orang tua cenderung menggunakan hukuman fisik maupun verbal sebagai bentuk kedisiplinan, menetapkan aturan yang kaku tanpa memberikan ruang dialog, serta memiliki ekspektasi tinggi terhadap perilaku anak tanpa mempertimbangkan kebutuhan perkembangan anak usia dini. Ketegangan psikologis yang dialami orang tua muda akibat stres ekonomi dan kurangnya kesiapan emosional menjadikan pola asuh otoriter lebih mudah muncul dalam interaksi sehari-hari. Hasil temuan ini memperkuat penemuan (Dini et al. , 2. yang menjelaskan bahwa tekanan ekonomi berkontribusi signifikan terhadap kecenderungan orang tua untuk menerapkan kontrol ketat, termasuk memaksakan kepatuhan anak melalui pendekatan yang keras. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Adapun pola asuh permisif dominan dijumpai pada keluarga yang orang tuanya masih berada pada rentang usia sangat muda, yaitu 17 hingga 19 tahun. Pada usia tersebut, orang tua masih berada dalam tahap perkembangan psikososial yang sama dengan remaja, sehingga batasan pengasuhan belum terbentuk secara matang. Kondisi ini terlihat dari kecenderungan memberikan kebebasan berlebihan kepada anak, minimnya aturan yang jelas, dan adanya sikap menghindari konflik sehingga orang tua lebih memilih mengiyakan hampir semua keinginan anak. Pola ini sering muncul bukan karena orang tua ingin memberikan keleluasaan, tetapi karena keterbatasan pengalaman, ketidaksiapan emosional, dan ketidaktahuan mengenai kebutuhan dasar perkembangan anak usia dini. Sesuai dengan pandangan Baumrind, pola permisif dapat berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak, terutama dalam pembentukan disiplin, kemampuan mengendalikan diri, serta rasa tanggung jawab sosial (Zulhakim et al. , 2. Jika dianalisis secara mendalam, pola pengasuhan di Desa Mulyorejo sangat dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya seperti nilai-nilai lokal, tradisi, serta relasi dengan keluarga besar. Pola asuh demokratis muncul ketika orang tua memiliki akses informasi dan dukungan sosial. Sebaliknya, pola asuh otoriter banyak ditemukan pada keluarga yang masih memegang kuat budaya Auanak harus patuh tanpa banyak bicaraAy. Sementara pola permisif dipengaruhi oleh faktor usia biologis dan psikologis orang tua muda yang masih berada dalam fase pencarian jati diri. Tabel 4. Faktor Sosial-Budaya yang Mempengaruhi Pola Asuh Faktor Sosial Budaya Pengaruh terhadap Pola Asuh Nilai keluarga besar Memperkuat pola otoriter atau campuran Tradisi pengasuhan turun-temurun Membentuk pola asuh yang imitasi, bukan reflektif Peran tokoh masyarakat/posyandu Memperkuat pola demokratis Norma desa tentang kepatuhan Mendorong pola otoriter pada anak Pendidikan ibu Berpengaruh besar terhadap pola demokratis Sumber: Data Lapangan, 2025 Dampak Pola Asuh terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Jenis pola pengasuhan yang diterapkan keluarga pernikahan dini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan sosial anak usia dini. Skor perkembangan sosial anak berbeda secara mencolok antara pola demokratis, otoriter, dan permisif. Anak dengan pola asuh demokratis menunjukkan perkembangan sosial yang lebih optimal. Mereka mampu menjalin hubungan baik dengan teman sebaya, bersikap kooperatif, dan berani mengungkapkan pendapat. Hal ini konsisten dengan (Putri & Nurwati, 2. yang menegaskan bahwa pola asuh demokratis menghasilkan anak yang mandiri, percaya diri, dan kompeten secara sosial. Sebaliknya, anak dari keluarga otoriter cenderung pasif, kurang percaya diri, dan mengalami hambatan dalam komunikasi. Sementara anak yang dibesarkan dengan pola permisif terlihat aktif dan ekspresif namun kurang mampu mengendalikan diri dalam situasi sosial. Tabel 5. Dampak Pola Asuh terhadap Skor Perkembangan Sosial Anak Pola Asuh Jumlah Anak Rata-rata Skor Sosial . Ae. Kategori Demokratis Tinggi Otoriter Rendah Permisif Sedang Sumber: Hasil Observasi dan Instrumen Perkembangan Sosial, 2025 Data pada tabel tersebut memperlihatkan bahwa pola asuh demokratis memiliki korelasi positif dengan perkembangan sosial, sedangkan pola otoriter dan permisif menunjukkan hasil yang lebih Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Temuan ini memperkuat hasil penelitian (Ulfah et al. , 2. yang menegaskan bahwa pola pengasuhan menentukan kualitas interaksi sosial anak. Analisis hubungan antara pola asuh dengan perkembangan sosial menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat. Secara umum, semakin baik kualitas pengasuhan, semakin tinggi pula skor perkembangan sosial yang dicapai anak. Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis cenderung memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar berpendapat dan berinteraksi, sehingga aspek sosial anak berkembang secara alami. Sementara pola asuh otoriter yang menekankan kepatuhan cenderung menghambat eksplorasi sosial. Untuk memperjelas hubungan ini, berikut data lapangan yang menunjukkan distribusi skor perkembangan sosial berdasarkan pola asuh. Tabel 6. Keterkaitan Pola Asuh dan Kategori Perkembangan Sosial Pola Asuh Skor Sosial Rendah . Ae. Skor Sedang . Ae. Skor Tinggi . Ae. Demokratis Otoriter Permisif Sumber: Data Lapangan, 2025 Tabel di atas menunjukkan bahwa: A 77% anak dari pengasuhan demokratis berada pada kategori sosial tinggi. A 67% anak dari pengasuhan otoriter berada pada kategori sosial rendah. A 58% anak dari pengasuhan permisif berada pada kategori sedang. Data ini sangat konsisten dengan teori perkembangan yang menyatakan bahwa pola asuh yang hangat dan komunikatif berperan penting dalam perkembangan keterampilan sosial anak usia dini. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pola Asuh Pemilihan pola asuh dalam keluarga pernikahan dini dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Di Desa Mulyorejo, ditemukan empat faktor utama, yaitu usia orang tua, kondisi ekonomi, intervensi keluarga besar, serta pemahaman tentang pengasuhan. Faktor usia orang tua memengaruhi kematangan emosional. Orang tua yang menikah pada usia <19 tahun lebih banyak menunjukkan pola permisif. Sementara faktor ekonomi mendorong munculnya pola otoriter, karena tekanan ekonomi meningkatkan stres dan emosi negatif yang berdampak pada sikap orang tua terhadap anak. Selain itu, intervensi keluarga besar seperti mertua atau orang tua kandung berpengaruh pada penentuan pola asuh. Keluarga besar di pedesaan biasanya berperan aktif dalam menentukan aturan dan kebiasaan anak. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah akses informasi pengasuhan, yang memengaruhi tingkat kesadaran orang tua terhadap pentingnya stimulasi sosial anak. Tabel 7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pola Asuh Pola Asuh Faktor Pengaruh terhadap Pola Asuh Dominan Usia Orang Tua (<19 Kurang pemahaman batasan, menghindari Permisif Ekonomi Rendah Tingkat stres tinggi, aturan ketat Otoriter Tinggal dengan Keluarga Pengasuhan turun-temurun, kontrol orang tua Otoriter/Campuran Besar lebih kuat Akses Informasi Pengetahuan komunikasi positif meningkat Demokratis Pengasuhan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pendidikan Ibu Mempengaruhi E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Demokratis/Permisif Sumber: Hasil Wawancara Terstruktur, 2025 Faktor-faktor tersebut konsisten dengan teori Bandura . yang menegaskan bahwa perilaku orang tua dipelajari melalui pengamatan terhadap lingkungan sosial (Abdullah, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian mengenai pola asuh orang tua dalam keluarga pernikahan dini dan pengaruhnya terhadap perkembangan sosial anak usia dini di Desa Mulyorejo menunjukkan bahwa kondisi pernikahan di usia muda berkontribusi kuat terhadap ketidakstabilan pola pengasuhan. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa terdapat tiga pola asuh utama yang diterapkan, yaitu demokratis, otoriter, dan permisif, masing-masing dengan karakteristik dan konsekuensi perkembangan yang Pola asuh demokratis ditemukan pada keluarga dengan dukungan sosial lebih baik, menghasilkan perkembangan sosial anak yang lebih optimal. Sebaliknya, pola otoriter dominan pada keluarga dengan tekanan ekonomi dan tingkat stres tinggi, berdampak pada rendahnya kemampuan sosial anak. Pola permisif banyak diterapkan oleh orang tua yang sangat muda sehingga belum memiliki kematangan emosional, dan pola ini menghasilkan perkembangan sosial anak yang masih berada pada kategori sedang. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh merupakan faktor penting dalam membentuk kemampuan sosial anak usia dini, terutama dalam konteks keluarga pernikahan dini. Ketidakstabilan emosional, minimnya pengalaman, serta intervensi keluarga besar memengaruhi kualitas pengasuhan sehingga perkembangan sosial anak tidak berkembang secara optimal. Temuan ini memperkuat teori Bronfenbrenner mengenai pengaruh lingkungan terdekat terhadap tumbuh kembang anak, sekaligus menegaskan urgensi pemberdayaan orang tua muda pada konteks masyarakat pedesaan. Rekomendasi penelitian menekankan pentingnya penyelenggaraan program pelatihan parenting yang terstruktur bagi pasangan muda, khususnya terkait pengasuhan demokratis yang terbukti paling mendukung perkembangan sosial anak. Pemerintah desa, lembaga PAUD, serta tenaga pendidik dianjurkan memperbanyak kelas edukasi, kunjungan rumah, serta pendampingan keluarga berisiko tinggi. Kader posyandu dan kelompok ibu muda juga dapat diberdayakan untuk menyediakan ruang berbagi pengalaman dalam pengasuhan. Selain itu, diperlukan kolaborasi antara sekolah, lembaga kesehatan, dan pemerintah setempat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengasuhan positif di keluarga pernikahan dini. Keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah sampel yang terbatas pada satu desa sehingga generalisasi temuan untuk wilayah lain harus dilakukan dengan hati-hati. Selain itu, data pola asuh sebagian besar diperoleh melalui observasi dan wawancara, sehingga masih terdapat kemungkinan bias subjektivitas dalam pengakuan orang tua. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan pengukuran perkembangan sosial yang lebih komprehensif serta melibatkan pernikahan dini di beberapa wilayah berbeda untuk memperkuat temuan dan meningkatkan validitas eksternal penelitian. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abdullah. Social Cognitive Theory : A Bandura Thought Review published in 1982-2012. Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi, 18. , 85Ae100. https://doi. org/10. 24167/PSIDIM. V18I1. Cano. Social class, parenting, and child development: A multidimensional approach. Research in Social Stratification and Mobility, 77, 100648. https://doi. org/10. 1016/J. RSSM. Coolahan. McWayne. Fantuzzo. , & Grim. Validation of a multidimensional assessment of parenting styles for low-income African-American families with preschool children. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Early Childhood Research Quarterly. E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 356Ae373. https://doi. org/10. 1016/S0885- Dini. Pengasuhan. Status. Anak. Suku. , & Cindrya. Pernikahan Dini: Analisis Pengasuhan Dan Status Kesehatan Anak Pada Suku X. Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 7. , 15Ae28. https://doi. org/10. 19109/RA. V7I1. Dwairy. , & Menshar. Parenting style, individuation, and mental health of Egyptian Journal Adolescence, 29. , 103Ae117. https://doi. org/10. 1016/J. ADOLESCENCE. Harralson. , & Lawler. The relationship of parenting styles and social competency to type a behavior in children. Journal of Psychosomatic Research, 36. , 625Ae634. https://doi. org/10. 1016/0022-3999. Lianos. Parenting and social competence in school: The role of preadolescentsAo personality Journal Adolescence, 109Ae120. https://doi. org/10. 1016/J. ADOLESCENCE. Liu. , & Merritt. Examining the association between parenting and childhood depression among Chinese children and adolescents: A systematic literature review. Children and Youth Services Review, 88, 316Ae332. https://doi. org/10. 1016/J. CHILDYOUTH. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almansur. Metodologi Penelitian Kulaitatif, 1st ed. Ar-Ruzz Media. Maimun. Dampak Pola Asuh Orang Tua yang Menikah di Usia Dini Terhadap Perilaku Anak Perspektif Hukum Islam. Jurnal Al-Mizan, 10. , 215Ae223. https://doi. org/10. 54621/JIAM. V10I2. McWayne. Owsianik. Green. , & Fantuzzo. Parenting behaviors and preschool childrenAos social and emotional skills: A question of the consequential validity of traditional parenting constructs for low-income African Americans. Early Childhood Research Quarterly, 23. , 173Ae192. https://doi. org/10. 1016/J. ECRESQ. Moleong. Metodelogi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Nabila. , & Kesehatan. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Menikah Dini Dengan Perkembangan Anak Usia 1-5 Tahun. IJMT : Indonesian Journal of Midwifery Today, 3. , 40Ae46. https://doi. org/10. 30587/IJMT. V3I1. Pellerin. Applying BaumrindAos parenting typology to high schools: toward a middle-range theory of authoritative socialization. Social Science Research, 34. , 283Ae303. https://doi. org/10. 1016/J. SSRESEARCH. Putri. , & Nurwati. fenomena pernikahan dini serta dampaknya terhadap pola ANAK. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial HUMANITAS, https://doi. org/10. 23969/HUMANITAS. V6I1. Radlinski. , & Craswell. A theoretical framework for conversational search. CHIIR 2017 Proceedings of the 2017 Conference Human Information Interaction and Retrieval , 117Ae126. https://doi. org/10. 1145/3020165. Rispoli. McGoey. Koziol. , & Schreiber. The relation of parenting, child temperament, and attachment security in early childhood to social competence at school entry. Journal of School Psychology, 51. , 643Ae658. https://doi. org/10. 1016/J. JSP. Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen, 5th ed. Alfabeta. Ulfah. Yanti. Adriani. Harapan Bangsa. Raden Patah No. Kembaran. Banyumas. & Tengah. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Pernikahan Dini. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan Aisyiyah, 16. , 177Ae185. https://doi. org/10. 31101/JKK. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Vollmer. , & Mobley. Parenting styles, feeding styles, and their influence on child obesogenic behaviors and body weight. A review. Appetite, 71, 232Ae241. https://doi. org/10. 1016/J. APPET. Xie. , & Li. Self-regulation mediates the relations between family factors and preschool Early Childhood Research Quarterly, 32Ae43. https://doi. org/10. 1016/J. ECRESQ. Zulhakim. Ediyono. , & Kusumawati. Hubungan Pernikahan Usia Dini Dan Pola Asuh Baduta . - 23 Bula. Terhadap Kejadian Stunting. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 84Ae92. https://doi. org/10. 34035/JK. V13I1.