Jurnal Teknologi dan Rekayasa Manufaktur JTRM | Vol. 7 | No. 1 | Tahun 2025 ISSN (P): 2715-3908 | ISSN (E): 2715-016X DOI: https://doi. org/10. 48182/jtrm. Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Polman Bandung Hanif Azis Budiarto1. Nia Nuryanti Permata 2*. Narwikant Indroasyoko3. Achmad Muhammad4 1 Teknik Perancangan Manufaktur. Politeknik Manufaktur Bandung Bandung 3 Teknik Otomasi Manufaktur dan Mekatronika. Politeknik Manufaktur Bandung 2, 4 Teknik Manufaktur. Politeknik Manufaktur Email: nia@polman-bandung. Informasi Artikel: ABSTRAK Received: Mahasiswa merokok sepertinya sudah lazim dilihat di sekitar kampus kampus di Indonesia. Namun, banyak penelitian menyatakan adanya dampak negatif merokok bagi kemampuan kognitif, fisik, kesehatan, dan Hal ini dapat berimbas pada kemampuan mahasiswa untuk belajar dengan optimal dan mendapatkan prestasi belajar yang terbaik. Kajian kondisi mengenai mahasiswa perokok dan bukan perokok di kampus Polman Bandung belum ada, apalagi yang juga menelaah prestasi Penelitian ini mengulas mengenai mahasiswa perokok dan bukan perokok serta gambarannya dengan prestasi belajar mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa pada bulan Mei 2023 dengan menggunakan link google form. Didapatkan 207 orang responden yang mengisi kuesioner, diantaranya ada 71 orang perokok dan 136 yang bukan Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang bukan perokok memiliki prestasi belajar atau IPK yang lebih baik daripada mahasiswa Disarankan bahwa kampus dapat meminimalisasi peningkatan jumlah perokok untuk meningkatkan optimalisasi kemampuan mahasiswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. 31 Juli 2024 Accepted: 14 Maret 2025 Available: 1 Mei 2025 Kata Kunci: ABSTRACT Perokok Mahasiswa Prestasi Belajar Student smoking seems to be commonly seen around campuses in Indonesia. However, many studies state that there are negative impacts of smoking on cognitive abilities, physical abilities, health, and so on. This can impact students' ability to study optimally and get the best learning No study explores the conditions regarding smoking and non-smoking students of Polman Bandung, let alone examining their learning achievements. This research reviews student smokers and nonsmokers and their learning achievement. The research method is descriptive qualitative, and questionnaires were distributed to students in May 2023 using a Google Form. There were 207 respondents who filled out the questionnaire, of which 71 were smokers and 136 were nonsmokers. The results show that non-smoking students have better academic achievement or GPA than smoking students. It is recommended that campuses minimize the increase in the number of smokers to develop the optimization of students' abilities so that they can improve their learning achievements. polman-bandung. 1 | JTRM Hanif Azis Budiarto. Nia Nuryanti Permata. Narwikant Indroasyoko. Achmad Muhammad PENDAHULUAN Prestasi belajar mahasiswa merupakan salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pendidikan tinggi . , . Kualitas prestasi belajar dapat mempengaruhi karier masa depan mahasiswa serta mencerminkan kualitas pendidikan yang diberikan oleh institusi pendidikan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, isu merokok menjadi perhatian penting di dunia khususnya di kalangan Meskipun perilaku merokok secara global terjadi penurunan hampir seperempat . ,30%) pada tahun 2020. Namun tren sebaliknya terjadi di Indonesia, hasil survei kesehatan nasional mengungkapkan bahwa 62,9% pria dan 4,8% wanita usia 15 tahun ke atas merokok. Data survei Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 pada anggota rumah tangga umur Ou 10 tahun, diperoleh hasil proporsi merokok setiap hari sebesar 24,3%. Proporsi tertinggi merokok pada umur 15-19 tahun dengan kriteria umur pertama kali merokok 52,1% dan umur pertama kali merokok setiap hari 48,2% . Padahal, salah satu indikator keberhasilan pembangunan SDM di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ialah penurunan persentase merokok usia 0-18 tahun dari 9,1 menjadi 8,7 pada 2024 . Fenomena merokok di sekitar lingkungan kampus adalah hal yang lumrah bagi mahasiswa Politeknik Manufaktur (Polma. Bandung. Mahasiswa merokok di jam istirahat ataupun setelah selesai Padahal, merokok merupakan kebiasaan yang merugikan kesehata n secara umum. Rokok mengandung berbagai bahan kimia berbahaya seperti nik otin, tar, dan karbon monoksida yang diketahui berkontribusi terhadap berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung, kanker, dan penyakit pernapasan . Ae. Selain itu, merokok juga dapat memiliki dampak negatif terhadap prestasi belajar mahasiswa . Ae. Sebelumnya kampus belum melakukan riset atau kajian yang berkaitan dengan kebiasaan merokok para mahasiswanya. Salah satu dampak negatif merokok terhadap prestasi belajar adalah pengaruhnya terhadap fungsi Nikotin, zat adiktif utama dalam rokok, dapat mengganggu kemampuan kognitif seperti perhatian, konsentrasi, dan ingatan. Mahasiswa yang merokok mungkin mengalami kesulitan dalam memfokuskan perhatian mereka saat belajar, mengingat informasi yang penting, dan mengerjakan tugas akademik dengan efektif. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan memahami materi pelajaran . Ae. Selain itu, merokok juga dapat berdampak pada kesejahteraan fisik dan psikologis mahasiswa . Efek buruk dari merokok, seperti penurunan kondisi fisik, kelelahan, dan kecemasan, dapat mengganggu kemampuan mahasiswa untuk belajar secara optimal . , . Dalam konteks ini, penelitian tentang perilaku merokok terhadap prestasi belajar mahasiswa menjadi Dengan memahami dampak merokok terhadap prestasi belajar, institusi pendidikan dan mahasiswa dapat mengambil langkah-langkah yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan mahasiswa. Studi ini juga dapat memberikan dasar untuk mengembangkan program intervensi dan kampanye pencegahan merokok yang lebih efektif di kalangan mahasiswa, khususnya di Polman Bandung, dengan harapan dapat mengurangi prevalensi merokok dan meningkatkan prestasi belajar secara keseluruhan. Dalam penelitian ini, dilakukan survei terhadap populasi mahasiswa Polman Bandung untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan merokok, prestasi belajar, dan faktor -faktor yang mungkin mempengaruhi hubungan antara keduanya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih baik tentang dampak merokok terhadap prestasi belajar mahasiswa, serta memberikan rekomendasi kebijakan dan intervensi yang relevan untuk mengatasi masalah ini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode survei. Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan faktual . Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah simple random Rumus Slovin digunakan untuk menetapkan sampel mahasiswa, sebagai berikut: 2 | JTRM Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Polman Bandung ycu= ycA 1 . cA ycu yce 2 ) Di mana: n = Ukuran sampel yang dibutuhkan N = Jumlah populasi e = margin of error . %) Survei berupa kuesioner dibagikan ke seluruh perwakilan mahasiswa untuk disebar ke semua tingkatan di empat jurusan yakni Jurusan Teknik Manufaktur. Jurusan Teknik Perancangan Manufaktur. Jurusan Pengecoran Logam, dan Jurusan Otomasi Manufaktur dan Mekatronika. Peneliti mengirimkan link google form kepada Perwakilan mahasiswa, di antaranya adalah para ketua kelas dan mahasiswa lainnya yang sudah dikenal peneliti . ihat Gambar 1. Mahasiswa mengisi kuesioner pada bulan April hingga Mei 2023 dengan menggunakan Google form. Kuesioner mencakup pertanyaan tentang kebiasaan merokok, faktor psikososial . isal, pengaruh teman, mengurangi stre. , dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang dilaporkan sendiri . elf-reported GPA). Untuk memastikan keakuratan, responden diminta untuk mengisi IPK berdasarkan semester terakhir yang tercantum di sistem akademik kampus . ihat Gambar 1. Prosedur anonimi tas dilakukan dengan identitas responden tidak dicantumkan dalam kuesioner. Hal ini dilakukan untuk menjamin kerahasiaan mahasiswa sehingga nyaman dalam mengisi data dengan jujur. Dari 217 responden, 10 data dihapus karena pengisian tidak lengkap atau tidak valid . isalnya IPK dilaporkan di luar skala 0Ae. Responden berasal dari empat jurusan yang terdiri dari empat angkatan. Responden terdiri dari 71 mahasiswa berstatus merokok dan 136 mahasiswa berstatus tidak merokok. Untuk melihat adanya korelasi antara kebiasaan merokok dan IPK dianalisis menggunakan Uji T -Test Independen. Gambar 1 . Penyebaran Link Google Form melalui Perwakilan Mahasiswa . Tampilan Awal Survei/Kuesioner 3 | JTRM Hanif Azis Budiarto. Nia Nuryanti Permata. Narwikant Indroasyoko. Achmad Muhammad Penyebaran kuesioner mulai dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2023 dengan menggunakan link google form. Mahasiswa tidak menyertakan nama dan tidak menyimpan alamat e-mail sehingga lebih leluasa untuk menyatakan informasi sesuai keadaannya. Hal ini tertera di laman awal isian . ihat G ambar Data diperoleh dari seluruh tingkatan mahasiswa baik itu yang merokok dan tidak. Jumlah yang mengisi survei sebanyak 217 namun mahasiswa yang lengkap mengisi dengan valid sebanyak 207 responden. Responden berasal dari empat jurusan yang terdiri dari empat angkatan. Responden terdiri dari 71 mahasiswa berstatus merokok dan 136 mahasiswa berstatus tidak merokok. HASIL Terdapat beberapa hal yang dapat didiskusikan berdasarkan hasil pengumpulan data. Mengenai distribusi responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Semester. Jurusan, dan Jenis Kelamin . Variabel 40,58 28,02 19,81 11,59 26,09 34,78 9,18 29,95 Laki-laki 83,57 Perempuan 16,43 Semester Jurusan Jenis Kelamin Hasil data terkumpul menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah mahasiswa semester 2 yakni sebanyak 40,58%. Selain itu, sebagian besar yang mengisi responden adalah mahasiswa dari Jurusan Perancangan Manufaktur/Design Engineering (DE) yaitu sebesar 34,78%. Sedangkan karakteristik jenis kelamin mahasiswa terbanyak adalah laki-laki 83,57%. Hal ini dianggap sesuai dengan keadaan sebenarnya disebabkan jenis kelamin mahasiswa Polman Bandung didominasi laki-laki. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Merokok . Perilaku Merokok Perokok 34,30 Tidak Perokok 65,70 Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas partisipan, yakni sebanyak 65,7%, tidak memiliki kebiasaan merokok. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa tergolong dalam kate gori bukan perokok atau mungkin mantan perokok. Lebih jauh, terlihat pada Tabel 3 sebanyak 33,8% dari mahasiswa yang merokok, pertama kali merokok pada usia di atas 18 tahun. Berarti mereka menjadi perokok ketika menjadi mahasiswa. Lalu, sebanyak 39,4% dari mahasiswa yang merokok, pertama kali melakukannya pada rentang usia 16-18 tahun atau 4 | JTRM Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Polman Bandung saat berada di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), ini adalah kondisi yang paling besar presentasinya di antara semua. Secara rata-rata, frekuensi merokok berkisar antara 1 hingga 10 batang rokok perhari, dengan proporsi sebesar 88,73%. Jenis rokok yang umumnya dikonsumsi oleh partisipan adalah rokok dengan filter. Selain itu, ditemukan satu partisipan perokok aktif yang ternyata adalah seorang perempuan. Tabel 3 Distribusi Frekuensi Perokok . Sub Variabel 9,86 16,90 39,44 33,80 88,73 9,86 1,41 11,27 88,73 98,59 1,41 Usia pertama kali merokok 10-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun Diatas 18 tahun Jumlah rokok per hari . > 20 Jenis rokok Kretek Filter Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Temuan ini memberikan gambaran yang menarik terkait kebiasaan merokok di kalangan mahasiswa Polman Bandung, menggambarkan distribusi umur mulai merokok, jumlah batang rokok yang dikonsumsi, dan bahkan mencatat adanya perempuan yang aktif dalam kebiasaan merokok di da lam sampel penelitian ini. Selanjutnya, perlu juga melihat bagaimana gambaran kondisi prestasi akademik yang ditandai dengan IPK yang mahasiswa peroleh, baik itu perokok dan bukan perokok. Data perokok dan bukan perokok beserta kategori IPK mereka ditunjukkan pada Tabel 4 berikut. Tabel 4 Sebaran responden perokok dan bukan perokok dalam Prestasi Belajar Mahasiswa . Memuaskan (IPK 2-2,. Perokok Bukan Perokok Jumlah 4,35% IPK Sangat Memuaskan (IPK 2,75-3,. 28,02% Dengan Pujian (IPK3,50-4,. 1,93% 3,86% 48,79% 13,04% 76,81% 14,98% 8,21% Total Berdasarkan data pada Tabel 4, yakni sebaran responden perokok dan bukan perokok dalam prestasi belajar mahasiswa, didominasi oleh para responden yang ada di kategori Sangat Memuaskan (IPK 2,753,. yaitu sejumlah 159 mahasiswa dari 207 . ,81%). Lalu urutan terbanyak berikutnya di kategori Dengan Pujian (IPK 3,5-4,. adalah 31 mahasiswa . ,98%). Lalu pada kategori Memuaskan ada 17 mahasiswa . ,21%). 5 | JTRM Hanif Azis Budiarto. Nia Nuryanti Permata. Narwikant Indroasyoko. Achmad Muhammad Tabel 5 Perbandingan Kelompok Perokok dan Bukan Perokok dalam Prestasi Belajar Mahasiswa IPK Memuaskan (IPK 2-2,. Perokok 12,68% Bukan Perokok 5,88% Sangat Memuaskan (IPK 2,75-3,. 81,69% Dengan Pujian (IPK3,50-4,. 74,27% 5,63% 19,85% Total Pada Tabel 5 bisa dilihat persentase data dari masing-masing kelompok perokok dan bukan perokok. Hampir 20% . ,85%) dari mahasiswa bukan perokok ada pada kategori di atas IPK 3,5 atau Dengan Pujian. Sementara, mahasiswa perokok yang memiliki IPK di atas 3,5 hanya 5,63%. Dengan kata lain hal ini menunjukkan bahwa persentase mahasiswa yang bukan perokok dengan IPK 3,5 ke atas jauh lebih besar dari pada persentase yang dimiliki mahasiswa perokok. Lalu, pada kategori IPK 2-2,74 atau kategori Memuaskan, yakni kategori terendah dalam prestasi belajar mahasiswa yang didapatkan, terdapat 12,68% dari kelompok perokok. Sedangkan, pada kelompok bukan perokok hanya 5,88%. Dengan kata lain persentase mahasiswa perokok dengan IPK 2 -2,74 jauh lebih besar dari pada yang dimiliki mahasiswa bukan perokok. Dengan demikian, dapat disampaikan bahwa secara umum prestasi belajar mahasiswa bukan perokok lebih baik daripada mahasiswa perokok. Hal ini sepertinya sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa merokok memiliki dampak terhadap fungsi kognitif dikarenakan nikotin dapat mengganggu perhatian, konsentrasi dan ingatan. Hal ini menghambat mereka untuk memperoleh pengetahuan dan memahami pelajaran . , . , . Mahasiswa yang merokok kemungkinan mengalami masalah untuk memusatkan perhatian saat belajar, mengingat informasi penting, dan mengerjakan tugas dengan efektif. Selanjutnya, menarik untuk dilihat mengenai alasan perokok untuk merokok. Berdasarkan hasil isian kuesioner, hasilnya sebagai berikut. Tabel 6 Alasan Merokok bagi Mahasiswa Alasan merokok Meredakan stress/tekanan Ikut teman, lingkungan, pergaulan Enak, suka, kebutuhan Mencoba-coba, penasaran . an berlanju. Tidak ada alasan, sulit dijelaskan Jumlah 36,6% 23,9% 14,1% 12,7% 12,7% Berdasarkan data pada Tabel 6, alasan terbesar mahasiswa merokok adalah untuk meredakan stres atau tekanan yang mereka hadapi yakni pada angka 36,6%. Padahal, menurut penelitian, efek buruk dari merokok di antaranya adanya penurunan kondisi fisik, kelelahan, dan kecemasan yang mengganggu kemampuan mahasiswa untuk belajar secara optimal . , . Bisa jadi untuk jangka waktu yang singkat tersebut tekanan stres yang dimiliki mahasiswa dapat dilampiaskan pada aktivitas merokok, namun kondisi fisik menjadi menurun sehingga hasil yang dikerjakan kurang optimal. Dengan demikian, mahasiswa perlu memiliki kesadaran bahwa dengan kebiasaan merokok kondisi kognitif mereka cenderung akan lebih rendah dibandingkan jika tidak merokok, selain adanya dampak buruk Lalu, alasan terbesar kedua adalah karena mahasiswa perokok ikut pergaulan atau lingkungan yang ada di sekitar . ,9%). Lingkungan sekitar kampus Polman Bandung bisa jadi berpengaruh terhadap hal ini. Bisa lihat kembali pada Tabel 3 bahwa 24 mahasiswa, dari 71 perokok, merokok pertama kali di 6 | JTRM Perilaku Merokok Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Polman Bandung usia 18 tahun ke atas. Persentasenya sebanyak 33,8% dari perokok. Usia 18 tahun adalah usia rata rata mahasiswa memasuki tahap perkuliahan di kampus dari sebelumnya di sekolah. Jadi, sebagian mahasiswa baru akan mulai mencoba merokok dan bisa berlanjut menjadi sepertiga dari p opulasi mahasiswa perokok. Lebih jauh lagi, kampus perlu untuk mendorong agar meminimalisasi kondisinya sebagai lingkungan yang bisa memberikan mahasiswa kemudahan untuk merokok. Sebenarnya kondisi kampus yang sudah mendukung untuk mengurangi kebiasaan merokok, misalnya dengan slogan ataupun sign system yang sering dibaca di sekitar kampus di antaranya kawasan bebas puntung rokok, dilarang merokok, dan Namun hal ini perlu untuk ditingkatkan lagi dalam pelaksanaannya di lapangan. Harapannya, hal ini berdampak pada rendahnya peningkatan jumlah perokok, sehingga kemampuan kognitif mahasiswa lebih optimal dan dapat berimbas pada peningkatan prestasi akademik mahasiswa. KESIMPULAN Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa non-perokok di Polman Bandung memiliki prestasi belajar yang lebih baik secara signifikan dibandingkan mahasiswa perokok, dengan 19,85% non-perokok mencapai IPK Ou3,5, sementara hanya 5,63% perokok yang berada di kategori tersebu t. Selain itu, persentase mahasiswa perokok pada kategori IPK rendah . -2,. lebih tinggi . ,68%) dibandingkan non-perokok . ,88%). Berdasarkan temuan ini, kampus perlu merancang intervensi berbasis bukti untuk mengurangi prevalensi merokok dan mendukung peningkatan prestasi akademik. Contoh rekomendasi kebijakan dan kegiatan spesifik antara lain, membuat program pengganti aktivitas me rokok seperti kelas manajemen stres gratis untuk mahasiswa, menyediakan program berhenti merokok . erapi pengganti nikotin gratis atau konseling ruti. sebagai alternatif sehat untuk mengurangi alasan utama merokok, memperluas zona larangan merokok hingga radius 50 meter dari gerbang kampus, melibatkan mahasiswa dan duta kampus untuk mengampanyekan program berhenti merokok, atau memberlakukan sanksi progresif bagi pelanggar, seperti tugas sosial . embersihkan area kampu. , dan surat REFERENSI