JOURNAL OF NONCOMMUNICABLE DISEASES Volume 1 . , 61-68 http://dx. org/ 10. 52365/jond. http://jurnal. Research Article Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Ekslusif dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-60 Bulan di Kabupaten Pasaman Tahun 2020 Sri Andar Puji Astuti1*. Sukmawati1. Embun Nadya1. Frenstika Feriyani1 1Universitas Dharmas Indonesia *Corresponding Author : Sri Andar Puji Astuti Universitas Dharmas Indonesia sriandarpuji@gmail. Abstract: Stuntingi merupakani salahi satui masalahi yangi dapati imenghambat perkembangani manusiai secarai nasional ataupun global. Stuntingi imerupakan imanifestasi ijangka panjangi faktori konsumsi diet berkualitas rendah, penyakit infeksi berulang, dan lingkungan. Penelitian ini untuk membuktikan teori tentang hubungan riwayat KEK dan pemberian asi ekslusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di Kabupaten Pasaman Tahun 2020. Jenisi ipenelitian inii adalah istudi ianalitik observasional idengan desain cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita usia 20-60 bulan di Wilayah kerja Puskesmas Langsek Kadok Pasangan sejumlah 168 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan systematic random samplin dengan jumlah sampel adalah 63 orang. Instrumen penelitian ini adalah kiesioner untuk pengumpulan data riwayat pemberian ASI ekslusfif, paritas, riwayat KEK, dan infeksi pada Ibu. Uji statistik menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa riwayat pemberian ASI eksklusif pada penelitian ini mencapai 52,38, riwayat KEK selama masa kehamilan mencapai 73,01%, dan mayoritas anak pada penelitian ini cendrung tidak mengalami stunting yaitu 61,90%. Anak yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung tidak mengalami stunting sejumlah 24 anak dan anak yang memiliki Ibu dengan riwayat KEK pada masa kehamilan cendrung mengalami stunting sejumlah 12 Hasil uji chi square didapatkan nilai p = 0,000 pada variabel pemberian ASI ekslusif maupun riwayat KEK. Adai ihubungan pemberiani iASI ieksklusif dan riwayat KEK selama kehamilan dengani ikejadian istunting ipada ibalita usia 24-60 bulani dii Kabupateni Pasaman Tahun 2020. Keywords: Asi Ekslufif. Balita. KEK. Stunting Pendahuluan Stuntingi merupakani salahi satui masalahi yangi dapati menghambati perkembangani manusiai secarai nasionali ataupuni global. Padai saati inii terdapati diperkirakani 162 jutai anaki iberusia dibawahi ilima itahun imengalami stunting. Diperkirakan bahwai ipada itahun 2025 iterdapat 127 jutai anak iberusia idibawah ilima itahun akan mengalami stunting (WHO, 2. Stunting merupakani imasalah ikurang igizi ikronis iyang idapat imenyebabkan igangguan di masa yangi iakan idatang iyakni imengalami ikesulitan idalam imencapai iperkembangan ifisik dan kognitifi iatau ikecerdasan, motoriki idan iverbal iberkembang isecara tidak ioptimal, peningkatan risikoiiobesitasidanipenyakit idegeneratif ilainnya, eISSN 2776-3161 A 2021 Penulis. Dibawah lisensi CC BY-SA 4. Ini adalah artikel Akses Terbuka yang didistribusikan di bawah ketentuan Creative Commons Attribution (CC BY), yang mengizinkan penggunaan, distribusi, dan reproduksi tanpa batas dalam media apa pun, selama penulis dan sumber aslinya disebutkan. Tidak diperlukan izin dari penulis atau penerbit. Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. peningkatani biayai ikesehatan, serta peningkatan kejadiani ikesakitan idan kematian(Kemenkes RI, 2. Balita yang mengalamii stunting isejak idini dapat mengalami gangguan akibat malnutrisi berkepanjangan seperti gangguan mental, psikomotor, dani kecerdasan (WHO, 2. Stunting disebabkani faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang di alami ioleh ibu hamil (KEK) maupuni anak balita. Faktor penyebab stunting antara lain, pengasuhan yang kurang baik, riwayat ASI ekslusif , penyakit infeksi, paritas, dan kurangnya pengetahuani iibu mengenai ikesehatan dan igizi isebelum idan ipada imasa ikehamilan, serta setelahi melahirkan (TNP2K, 2. Menuruti iWHO tahun i2018 iprevalensi stunting ipada ibalita idi duniai isebesar 22% (RISKESDAS,2. Padai itahun i2017 isekitar i22,2% iatau isekitar 150,8 ijuta ibalita di idunia mengalamii istunting (Indonesia KKR, 2. Sementarai idi Sumaterai iBarat tercatat iprevalensi stuntingi ipada itahun i2018 i. ,8%) idari iseluruh ibalita (Riskesdas. Salah satu wilayah dengan kejadian stunting terbesar ialah daerah Pasaman. Selama 3 tahun berturut turut daerah Pasaman menjadi daerah tertinggi kejadian kasus Stunting. Kejadian Stunting di daerah Pasaman pada tahun 2020 sebanyak 19,25% (Dinkes Pasaman, 2. Jumlah angka kejadian Stunting pada tahun 2020 di beberapa daerah di Pasaman termasuk tinggi. Pada daerah Langsek Kadok tercatat sebanyak 739 kasus dengan presentasi total 36,97 %. (DINKES Pasaman, 2. Berdasari ilatar ibelakang idiatas maka ipeneliti itertarik iuntuk meneliti tentang Auhubungani iriwayat iKEK idan ipemberian iASI iekslusif idengan kejadian stunting ipada ibalita usia 24-60 di Kabupaten Pasaman Tahun 2020Ay. Datainiidiharapkan bermanfaat ibagi peneliti dani jugai iinstansi iterkait iyang iakan mengambil ikebijakan iterhadap penanggulangan masalah gizi idi daerah ipenelitian. Materials dan Metode 1 Material Stuntingi . iatau ikurang igizi ikronik iadalah isuatu ibentuk ilain idari ikegagalan pertumbuhani anaki iyang mengalamii istunting isering iterlihat mempunyai kondisi ibadan normal yangi iproporsional, namuni sebenarnyai tinggii badannyai lebihi ipendek darii itinggi badani inormal yangi idimiliki anaki seusianyai (Akombi, 2. Anaki yangi mengalamii istunting mempunyai Intelligence Quotient (IQ) lebihi irendah idibandingkan irata-rata iIQ anaki inormal. Hali itersebut menyebabkani adanyai igangguan di imasa yangi iakan idatang iyakni imengalami kesulitan idalam mencapaii iperkembangan ifisik dani ikognitif yangi optimali (Kemenkes RI , 2. Stuntingi ijuga ididefinisikan isebagai isuatu kondisi iketika ikeadaan itubuh ipendek iatau sangati ipendek yangi ididasarkan ipada iindeks iPanjang iBadan imenurut iUmur (PB/U) ataui Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) dengan ambang batas . antara -3 SD sampai dengan < -2 SD (Olsa, 2. Faktor-Faktori ipenyebab istunting iterdiri iatas ifaktor ilangsung dani ifaktor tidak langsung. Faktori ilangsung antarai laini ibui yangi mengalamii kekurangani inutrisi, kehamilan preterm, pemberiani makani yangi tidaki ioptimal, tidaki ASIi ieksklusif dani iinfeksi. Sedangkan faktori tidaki ilangsung iantara ilain pelayanani kesehatan, iPendidikan, isosial budaya idan isanitasi lingkungani (WHO, 2. Menuruti iUnicef iFramework, faktori utamai penyebab istunting iyaitu asupani imakanan yangi tidaki iadekuat. BBLRi . erat badan lahir renda. dani riwayati ipenyakit. Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. Penilaian kecukupan gizi harus dilihat dari perkembangannya. Penilaian tumbuh kembang anak dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan estimasi Batasan estimasi antropometri yang digunakan dalam evaluasi perkembangan aktual adalah tinggi badan, berat badan, kontur kepala, lipatan kulit, lingkar lengan atas, proporsi tubuh, lingkar tubuh, lingkar kepala dan panjang kaki (IDAI, 2. Metodei yangi ipaling menentukani iuntuk idapat imengurangi iangka ikejadian istunting adalah tindakani Harii iPertama iKehidupan (HPK) idari anaki ibalita. Pencegahani istunting dapati dilakukan antarai ilain idengan icara ipemenuhan kebutuhani izat igizi ibagi iibu ihamil. ASIi eksklusif isampai umur 6 bulan dani setelahi iumur i6 ibulan idiberi imakanan ipendamping iASI (MPASI) yangi icukup jumlahi idan ikualitasnya, imemantau ipertumbuhan ibalita idi iposyandu, meningkatkani iakses terhadapi iair ibersih idan ifasilitas isanitasi, sertai imenjaga ikebersihan lingkungan (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2. 2 Metode Jenisi ipenelitian iini iadalah penelitian analitik dengan desaini icase icontrol. iPopulasi penelitian ini adalahi iibu iyang imempunyai balitai iusia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Langsek Kadok Kabupaten Pasaman sejumlah 168 orang. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan dengan menggunakan acak sistematis . ystematic random samplin. dengan perhitungan besar sampel menurut Lameshow dan didapatkan sejumlah 63 orang. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner untuk mengkaji data terkait riwayat pemberian ASI ekslusif, paritas, dan riwayat KEK. Analisisi idata iyang dilakukani iadalah ianalisa iunivariat idan analisai idata bivariat, ianalisis bivariati iini imenggunakan iuji ichi square iapabila imemenuhi isyarat, namuni iapabila itidak memenuhii isyarat imaka idigunakan iuji iFisher isebagai iuji alternatifnya (Dahlan, 2. Hasil 1 Data Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Ekslusif. KEK dan Kejadian Stunting Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Pemberian ASI Ekslusif Tidak asi Ekslusif 52,38 Asi Ekslusif 47,61 Riwayat KEK KEK 26,98 Normal 73,01 Kejadian Stunting Stunting 38,09 Normal 61,90 Total Berdasarkan Tabel 1 menunjukan, di Wilayah Kerja Puskesmas Kadok. Kabupaten Pasaman sebagian besar memberikan ASI ekslusif sejumlah 33 orang . ,38%). Sebagian besar memiliki lila normal selama kehamilan sejumlah 46 orang . ,01%), dan responden yang mengalami stunting sejumlah 24 orang . ,09%) dari total responden sejumlah 63 Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. 2 Data Bivariat Tabel 2. Distribusi riwayat KEK dengan Kejadian Stinting KEK <23. 5 cm >23. 5 cm Total Riwayat Kejadian Stunting Total Stunting 7,93 50,79 58,73 26,98 73,01 19,04 22,22 41,26 Tidak Nilai r p-value 0,710 0,000 Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar dalam kategori normal atau memiliki ukuran LILA >23,5 cm yaitu sejumah 46 responden . ,01%) dan dari 46 orang yang mengalami stunting lebih banyak terjadi pada responden dengan ibu yang memiliki riwayat KEK sejumlah 12 orang . ,04%) dibandingan dengan yang memiliki lila normal sejumlah 5 orang . ,93%). Hasil uji chi square didapatkan p value sebesar 0,000 . ig<0,. yang bermakna Ha diterima atau ada hubungan riwayat KEK dengan kejadian stunting. Tabel 3. Distribusi Kejadian ASI Ekslusif,dengan kejaidan stunting Riwayat Kejadian Stunting Total Riwayat ASI Ekslusif Stunting Asi Ekslusif Tidak Total 38,09 33,33 47,61 52,38 47,61 14,28 14,28 52,38 Nilai r Tidak ,609 p-value 0,000 Tabel diatas menunjukkan bahwa lebih dari separoh responden memberikasn ASI ekslusif sejumlah 33 orang . ,38%) dan dari 33 responden tersebut lebuh banyak yang tidak mengalami stunting sejumlah 24 orang . ,09%) dibandingkan dengan yang stunting sejumlah 9 orang . ,28%). Hasil uji chi square didapatkan p value sebesar 0,000 . ig<0,. yang bermakna Ha diterima atau ada hubungan riwayat pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting. Pembahasan 1Hubungan antara Riwayat KEK dengan Kejadian Stunting Berdasarkan data karakteristik pemberian ASI ekslusif pada tabel 1 dan 2 terlihat bahwa sebagian besar dalam kategori normal atau memiliki ukuran LILA >23,5 cm yaitu sejumah 46 responden . ,01%) dan dari 46 orang yang mengalami stunting lebih banyak terjadi pada responden dengan ibu yang memiliki riwayat KEK sejumlah 12 orang. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,000 dengan nilai r =0,710 maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat KEK selama kehamilan dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Langsek Kadok Kabupaten Pasaman. Nilai koefisien kontingensi . berada pada interval koefisien 0,600-0,799 dengan kategori AukuatAy dan bernilaihubungan positif sehingga berarti semakin baik Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. status gizi ibu selama kehamilan pada anak usia 24-60 bulan, maka semakin baik pula pertumbuhan anak berdasarkan tinggi badan. Kondisi kesehatan dan status KEK ibu saat hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin selama dikandungan, ibu dengan asupan energi yang rendah saat hamil, dapat diikuti pula dengan supan yang di terima janin (IDAI. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubungan antara status KEK Ibu dengan kejadian stunting. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Jogja bahwa terdapat hubungan antara status gizi Ibu (KEK) saat hamil dengan kejadian stunting (Sartono, 2. Berdasarkan hasil wawancara penelitian, beberapa responden ibu menyebutkan bahwa kebutuhan vitamin, protein, mineral yang dianjurkan petugas kesehatan seperti bidan desa dan puskesmas kurang dilaksanakan sesuai anjuran karena tuntutan kegiatan seperti pekerjaan yang membuat ibu kurang memperhatikan Hal ini pula yang nantinya berhubungan pada penambahan berat badan ibu. Penambahan berat badan saat hamil merupakan faktor penting dalam perkembangan fisik janin, karna hal tersebut berhubungan dengan jumlah asupan makanan yang diterima janin. Penambahan berat badan yang kurang dipicu oleh rawan pangan pada ibu, gejala sakit saat kehamilan yang mempengaruhi nafsu makan, dan lingkungan (Arisman, 2. Dengan demikian ibu hamil yang sejak awal sudah diketahui mengalami kekurangan energi kronis dapat segera ditangani oleh petugas kesehatan, sehingga dapat dilakukan intervensi sedini mungkin. Intervensi yang diberikan kepada ibu hamil dapat meningkatkan status gizinya termasuk meningkatkan berat badan bayi dan panjang badan bayi. Adanya program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang menderita kurang energi kronis Pertambahan berat badan selama hamil merupakan komponen penting dalam perkembangan fisik janin, karena ditentukan dengan seberapa banyak konsumsi makanan yang didapat oleh janin. Kenaikan berat badan yang lebih sedikit dipicu oleh kelemahan makanan pada ibu, efek samping penyakit selama kehamilan yang mempengaruhi nafsu makan dan lingkungan (Arisman, 2. Oleh karena itu, ibu hamil yang sejak awal diketahui mengalami kekurangan energi kronis dapat segera ditangani oleh petugas kesehatan, sehingga intervensi dapat dilakukan tepat waktu sesuai harapan. Mediasi yang diberikan kepada ibu hamil dapat meningkatkan status gizinya, termasuk menambah berat badan dan panjang badan anak. Hadirnya program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang menderita kurang energi kronis. Meskipun terdapat hubungan yang signifikan dan tingkat hubungan yang kuat antara riwayat KEK selama kehamilan ibu dengan kejadian stunting balita. Masih terdapat 5 anak . ,93%) dengan ASI ekslusif akan tetapi mengalami stunting, hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang dialami bayi setelah akhir yaitu pada saat bayi mulai mendapatkan MPASI adalahi ketahanani ipangan irumah tanggai iyang Rumahi itangga iyang irawan pangani iberarti adai imasalah itentang ipangan dii idalam ikeluarga itersebut, ibaik ijumlah maupuni ijenisnya. Hali iini iakan iberpengaruh ijuga iterhadap iasupan izat igizi ipada ibayi. Bayi yangi isudah imulai imendapatkan imakanan ipendamping iASI, karenai ijumlah idan ijenis bahan makanani Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. iyang iterbatas idi idalam ikeluarga, akani iterbatas ipula iasupan izat igizinya sehinggai menderitai istunting (Soekirman, 2. 2 Hubungan antara Pemberian ASI Ekslusif dengan Kejadian Stunting Berdasarkan data karakteristik pemberian ASI ekslusif pada tabel 1 dan 3 terlihat bahwa sebagian besar responden memberikan ASI ekslusif sejumlah 33 orang . ,38%) dan dari 33 responden tersebut lebuh banyak yang tidak mengalami stunting. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,000 dengan nilai r =0,609 maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian stunting pada balita usia 24-60 bulan di wilayah kerja Puskesmas Langsek Kadok Kabupaten Pasaman. Nilai koefisien kontingensi . berada pada interval koefisien 0,600-0,799 dengan kategori AukuatAy dan bernilaihubungan positif sehingga berarti semakin baik pemberian ASI ekslusif pada anak usia 24-60 bulan, maka semakin baik pula pertumbuhan anak berdasarkan tinggi badan. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ASI ekslusif berpengaruh terhadap tumbuh kembang, peningkatan kecerdasan, kekebalan tubuh anak terhadap penyakit infeksi, dan mengurangi resiko masalah gizi (Thompson, 2. Meskipun terdapat hubungan yang signifikan dan tingkat hubungan yang kuat antara pemberian ASI ekslusif dengan stunting. Masih terdapat 9 anak . ,28%) dengan ASI ekslusif akan tetapi mengalami stunting, hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain seperti paritas, penyakit infeksi, bahkan praktek pemberian makan tambahan pada anak yang kurang baik sehingga dapat memberikan peluang terjadinya stunting (Niga & Purnomo, 2. Hasili penelitiani iini imenunjukan ibahwa ianak iyang idiberikan iASI ieksklusif sebagiani besar iberstatus igizi inormal idibandingkan idengan ianak iyang itidak diberi ASI eksklusif. Akani itetapi, ipemberian iASI ieksklusif iyang iterlalu ilama ijuga iakan iberhubungan dengani risiko ikejadian istunting. Hali iini idisebabkan ioleh ipemberian iASI iyang iterlalu ilama akani mengakibatkan itertundanya ipemberian iMP-ASI isehingga ianak itidak imendapat asupan gizi yangi kurangi iadekuat ipada iusianya (Paramashanti dkk. , 2. Kondisi lain yang menyebabkan pemberian ASI ekslusif tidak dapat memberikan pengaruh positif bagi status gizi anak juga dapat disebabkan karena frekuensi dan durasi ibu memberikan ASI yang tidak sesuai sehingga tidak mencukupi asupan gizi anak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Halim . , bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Ranomuud Kecamatan Paaldua. Masai ipertumbuhan idan iperkembangan anaki iterjadi isangat cepati isampai iusia dua tahuni yangi dikenali dengani istilahi windowsi icritikal. Periodei inii merupakani imasa perkembangani iotak dani ipertumbuhan ifisik iyang ikritis. Apabilai anaki imengalami imasalah gizii sepertii asupani nutrisii yangi tidaki adekuati dapati menyebabkani kegagalani tumbuhi padai ianak iseperti istunting. Tetapi, jikai asupani nutrisinyai cukupi dani sesuaii idengan kebutuhani makai anaki dapati tumbuhi dani berkembangi dengani baiki (Cusick. & Georgieff, 2. Hubungan Riwayat KEK dan Pemberian ASI Astuti, et. NonComm. Dis. Vol 1. Pembahasan Dalam penelitian ini, riwayati pemberiani iASI ieksklusif padai ipenelitian iini mencapai 52,38, riwayat KEK selama masa kehamilan mencapai 73,01%, dani mayoritasi anak ipada penelitian ini cendrung tidak mengalami stunting yaitu 61,90%. Ada hubungan antara pemberian ASI ekslusif dan Riwayat KEK selama kehamilan dengan kejadian stuntung, hal ini dibuktikan dengan hasil uji shi square pada masing-masing variabel dan didapatkan nilai p = 0,000 . ilai p<0,. dan nilai r keduanya pada rentang 0,600-0,799. Berdasarkani hasili dani pembahasani makai penelitii menyarankan agar ditingkatkan promosi pemberian ASI ekslusif dan persiapan kehamilan agar ibu yang hamis status gizinya normal sebagai persiapan kehamilan yang sehat dan pencegahan terhadap stunting. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan dasar bagi peneliti selanjutnya terkait penelitian intervensi dalam rangka peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan stunting. Konflik Kepentingan Tidak ada konflik kepentingan dalam artikel ini Kontribusi Penulis Semua penulis berkontribusi sama dalam tulisan ini Pendanaan Tidak ada disebutkan References