Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media DOI: https://doi. org/10. 32509/dinamika. Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragam. Jakarta. Indonesia Jl. Hang Lekir I No. RT. 1/RW. Gelora. Kecamatan Tanah Abang. Kota Jakarta Pusat. Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10270 *Email Korespondensi: trisnantoadhy@yahoo. Abstract Ae This study aims to analyze the transformation of Radio Republik Indonesia (RRI) from Public Service Broadcasting (PSB) to Public Service Media (PSM) in response to the evolving digital media The research employs a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, document analysis, and observations of the ongoing public media transformation within RRI. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and thematic conclusion drawing. The findings reveal that RRI's transformation has been marked by the development of digital platforms, streaming services, podcasts, online news portals, and social media integration as part of its media convergence strategy. However, the transformation remains largely focused on technological digitalization rather than comprehensive institutional reform. Major challenges include bureaucratic organizational culture, limited funding mechanisms, regulatory frameworks that have not fully adapted to the Public Service Media paradigm, and changing audience behavior increasingly oriented toward digital platforms. This study proposes an Indonesian Public Service Media transformation model that highlights digitalization, organizational transformation, audience transformation, governance reform, and financial sustainability as key determinants of successful public media transformation in the digital era. Keywords: Public Service Media. Radio Republik Indonesia. Digital Transformation Abstrak Ae Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi Radio Republik Indonesia (RRI) dari Public Service Broadcasting (PSB) menuju Public Service Media (PSM) dalam menghadapi perubahan ekosistem media digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan observasi terhadap proses transformasi media publik yang berlangsung di lingkungan RRI. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi RRI telah ditandai oleh pengembangan berbagai platform digital, layanan streaming, podcast, portal berita daring, dan integrasi media sosial sebagai bagian dari strategi konvergensi media. Namun demikian, transformasi yang terjadi masih lebih dominan pada aspek digitalisasi teknologi dibandingkan transformasi kelembagaan secara menyeluruh. Tantangan utama yang dihadapi meliputi budaya organisasi yang masih birokratis, keterbatasan model pendanaan, regulasi yang belum sepenuhnya mendukung paradigma Public Service Media, serta perubahan perilaku audiens yang semakin berorientasi pada platform digital. Penelitian ini menghasilkan model transformasi Public Service Media Indonesia yang menempatkan digitalisasi, transformasi organisasi, transformasi audiens, tata kelola, dan keberlanjutan pendanaan sebagai faktor utama dalam keberhasilan transformasi media publik di era digital. Kata Kunci: Public Service Media. Radio Republik Indonesia. Transformasi Digital Submitted: January 2026. Accepted: May 2026. Published: June 2026 Licensed Under A Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 Pendahuluan Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah secara fundamental lanskap industri media global. Digitalisasi, konvergensi media, platformisasi, dan kecerdasan artifisial tidak hanya mengubah cara informasi diproduksi dan didistribusikan, tetapi juga mengubah pola konsumsi media masyarakat secara drastis. Perubahan tersebut mendorong lembaga penyiaran publik di berbagai negara untuk melakukan transformasi kelembagaan, teknologi, budaya organisasi, dan model bisnis agar tetap relevan dalam ekosistem media digital yang semakin kompetitif (Dimitriadis et al. , 2. Dalam konteks ini, konsep Public Service Broadcasting (PSB) yang selama puluhan tahun menjadi fondasi penyiaran publik mulai mengalami pergeseran menuju konsep Public Service Media (PSM), yang dipandang lebih adaptif terhadap dinamika masyarakat digital kontemporer (Karadimitriou & Papathanassopoulos, 2. Transformasi dari PSB menuju PSM bukan sekadar perubahan terminologi, melainkan perubahan paradigma yang mendasar mengenai bagaimana lembaga penyiaran publik menjalankan fungsi pelayanannya kepada masyarakat. Jika PSB berfokus pada penyediaan layanan penyiaran melalui medium radio dan televisi dengan model distribusi satu arah, maka PSM menempatkan masyarakat sebagai pusat layanan melalui berbagai platform komunikasi yang interaktif, partisipatif, dan berbasis kebutuhan publik (Moore, 2. Perubahan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat modern tidak lagi bergantung pada media penyiaran konvensional sebagai sumber utama informasi, melainkan mengonsumsi informasi melalui platform digital, media sosial, aplikasi streaming, podcast, dan berbagai layanan berbasis internet lainnya (Moss & Edwards, 2. Fenomena transformasi media publik tersebut terjadi hampir di seluruh dunia. Inggris. British Broadcasting Corporation (BBC) melakukan reposisi strategis sebagai media publik multiplatform dengan memperkuat layanan digital melalui BBC Sounds. BBC iPlayer, dan berbagai layanan daring lainnya (BBC, 2. Di Australia. Australian Broadcasting Corporation (ABC) secara eksplisit mengadopsi konsep digital-first organization melalui pengembangan platform digital yang memungkinkan audiens mengakses layanan publik kapan saja dan di mana saja (ABC, 2. Demikian pula Korean Broadcasting System (KBS) di Korea Selatan melakukan transformasi melalui integrasi layanan digital, penguatan keterlibatan audiens, serta pemanfaatan teknologi berbasis data untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik (Seo, 2. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan lembaga penyiaran publik pada era digital tidak lagi ditentukan oleh kekuatan transmisi siaran semata, melainkan oleh kemampuannya membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui berbagai platform komunikasi. Dalam paradigma PSM, publik tidak lagi diposisikan sebagai audiens pasif yang hanya menerima informasi, tetapi sebagai aktor aktif yang dapat berpartisipasi dalam proses produksi, distribusi, dan evaluasi konten media (Schweizer & Puppis, 2. Oleh karena itu, konsep pelayanan publik dalam konteks media mengalami perluasan makna dari sekadar penyediaan informasi menuju fasilitasi partisipasi demokratis masyarakat (Dijck et al. Perubahan tersebut semakin dipercepat oleh fenomena platformisasi media. Platform digital seperti YouTube. Spotify. TikTok. Instagram. Facebook, dan berbagai layanan berbasis algoritma telah mengubah mekanisme distribusi informasi secara global. Dalam kondisi tersebut, lembaga penyiaran publik menghadapi tantangan baru berupa menurunnya kontrol terhadap distribusi konten karena audiens lebih banyak mengakses informasi melalui platform yang dikendalikan oleh perusahaan teknologi global (Dimitriadis et al. , 2. Akibatnya. Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 hubungan langsung antara media dan audiens semakin melemah, sementara algoritma platform menjadi aktor dominan dalam menentukan visibilitas informasi (Lestari & Sumanti, 2. Dalam perspektif teori determinisme teknologi, perkembangan teknologi komunikasi secara langsung memengaruhi struktur sosial, budaya, dan organisasi masyarakat (Volti, 2. Marshall McLuhan menegaskan bahwa teknologi bukan hanya alat komunikasi, melainkan kekuatan yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan mengorganisasikan kehidupannya (Jan et al. , 2. Oleh karena itu, transformasi media publik tidak dapat dipahami hanya sebagai adaptasi teknologi, melainkan sebagai proses perubahan sosial yang lebih luas yang mencakup transformasi budaya organisasi, pola kerja, hubungan dengan audiens, serta model tata kelola kelembagaan. Dalam konteks Indonesia, transformasi tersebut menjadi semakin penting mengingat posisi strategis Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai lembaga penyiaran publik yang memiliki sejarah panjang dalam pembangunan bangsa. Sejak berdiri pada tahun 1945. RRI memainkan peran penting sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan perekat sosial masyarakat Indonesia. Sebagai lembaga penyiaran publik. RRI memiliki mandat untuk melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi, menjaga keberagaman budaya, memperkuat demokrasi, serta menyediakan informasi yang kredibel dan independen (Masduki. Namun demikian, perkembangan teknologi digital telah menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi keberlangsungan RRI. Meningkatnya penetrasi internet, berkembangnya media sosial, serta munculnya berbagai platform streaming menyebabkan perubahan signifikan dalam perilaku konsumsi media masyarakat Indonesia. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, cenderung mengakses informasi melalui media digital yang bersifat personal, interaktif, dan on-demand dibandingkan melalui siaran radio Kondisi tersebut menyebabkan lembaga penyiaran publik menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan relevansi dan keberlanjutan layanannya (Nowell et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, perubahan teknologi tersebut telah memengaruhi secara signifikan operasional dan eksistensi RRI. Digitalisasi dan platformisasi mendorong RRI untuk mengembangkan layanan streaming, aplikasi digital, dan strategi multiplatform. Akan tetapi, transformasi yang dilakukan masih lebih banyak berorientasi pada aspek teknologi dibandingkan transformasi kelembagaan secara menyeluruh. Akibatnya, transformasi yang terjadi belum mampu mengatasi berbagai persoalan mendasar seperti penurunan audiens muda, keterbatasan model bisnis, budaya organisasi yang birokratis, serta ketergantungan yang tinggi terhadap pendanaan pemerintah. Transformasi RRI menuju PSM berlangsung dalam konteks perubahan lingkungan media yang sangat dinamis. Secara global, penyiaran publik menghadapi tekanan dari perkembangan teknologi digital, perubahan perilaku audiens, serta meningkatnya dominasi platform digital global. Kondisi tersebut memaksa lembaga penyiaran publik untuk melakukan inovasi yang tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada model pelayanan publik yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern (Ofcom, 2. Di Indonesia, transformasi tersebut semakin kompleks karena berlangsung bersamaan dengan proses revisi Undang-Undang Penyiaran dan munculnya berbagai wacana mengenai masa depan kelembagaan RRI. Salah satu isu yang mengemuka adalah rencana pembentukan Radio Televisi Republik Indonesia (RTRI) melalui penggabungan RRI. TVRI, dan LKBN Antara. Wacana tersebut memunculkan perdebatan mengenai independensi, tata kelola, pendanaan, dan posisi strategis media publik dalam sistem demokrasi Indonesia. Selain itu, tantangan lain muncul dari model pendanaan yang masih sangat bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketergantungan tersebut berpotensi Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 memengaruhi independensi lembaga dan membatasi fleksibilitas organisasi dalam melakukan European Broadcasting Union . menegaskan bahwa sistem pendanaan media publik yang ideal harus memenuhi prinsip stabilitas, independensi, akuntabilitas, dan keberlanjutan agar mampu menjalankan fungsi pelayanan publik secara optimal. Dalam konteks budaya organisasi, penelitian ini menemukan bahwa transformasi RRI juga menghadapi hambatan berupa kuatnya budaya birokrasi yang masih mendominasi proses kerja organisasi. Padahal, paradigma PSM menuntut berkembangnya public service mindset yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan publik. Perubahan mindset tersebut menjadi prasyarat penting bagi keberhasilan transformasi media publik di era digital. Kajian mengenai transformasi PSB menuju PSM telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Bardoel dan Lowe menjelaskan bahwa PSM merupakan evolusi dari PSB yang bertujuan mempertahankan nilai-nilai pelayanan publik sambil beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan perilaku masyarakat. Dalam paradigma ini, media publik tidak lagi terbatas pada penyiaran tradisional, melainkan mencakup seluruh bentuk layanan komunikasi publik berbasis Menurut Hutchinson dan Hutchinson . PSM hadir sebagai respons terhadap fragmentasi audiens dan meningkatnya kompleksitas ekosistem media digital. Lembaga media publik dituntut untuk menyediakan layanan yang dapat diakses melalui berbagai platform sekaligus mempertahankan prinsip universalitas, keberagaman, independensi, dan Dalam perspektif demokrasi. Habermas menempatkan media publik sebagai institusi penting dalam membangun ruang publik yang memungkinkan terjadinya diskusi rasional dan partisipasi warga negara. Perubahan menuju PSM memperluas fungsi tersebut dengan menyediakan ruang partisipasi yang lebih luas melalui teknologi digital (Moore, 2. Penelitian Karadimitriou dan Papathanassopoulos . menunjukkan bahwa platformisasi telah menjadi tantangan utama bagi media publik modern. Dominasi platform digital menyebabkan lembaga media publik kehilangan sebagian kontrol terhadap distribusi konten dan hubungan langsung dengan audiens. Oleh karena itu, media publik perlu mengembangkan strategi baru untuk mempertahankan relevansi dan legitimasi sosialnya. Sementara itu. Dimitriadis et al. , . menegaskan bahwa transformasi media publik pada era platform harus mencakup aspek regulasi, tata kelola data, strategi distribusi konten, dan penguatan hubungan dengan masyarakat. Pendekatan yang hanya berfokus pada digitalisasi teknologi tanpa transformasi kelembagaan tidak akan menghasilkan perubahan yang Dari perspektif konvergensi media. Jenkins, . menjelaskan bahwa konvergensi bukan hanya fenomena teknologi, tetapi juga perubahan budaya yang memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi dan memproduksi informasi. Audiens modern berperan sebagai partisipan aktif yang terlibat dalam proses produksi makna melalui berbagai platform media. Temuan penelitian internasional menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi media publik sangat dipengaruhi oleh kemampuan organisasi dalam membangun budaya inovasi, memperkuat kompetensi digital SDM, mengembangkan model bisnis baru, serta menciptakan konten yang relevan dengan kebutuhan audiens digital (Moss & Edwards, 2. Namun demikian, sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada pengalaman negara-negara maju seperti Inggris. Australia. Denmark, dan Korea Selatan. Kajian yang secara khusus mengkaji transformasi PSB menuju PSM dalam konteks negara berkembang, terutama Indonesia, masih relatif terbatas. Selain itu, penelitian yang ada lebih banyak menyoroti aspek teknologi dan regulasi, sementara kajian mengenai keterkaitan antara transformasi teknologi. Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 budaya organisasi, audiens, model bisnis, dan independensi kelembagaan masih belum banyak Berdasarkan latar belakang dan kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif proses transformasi Radio Republik Indonesia dari Public Service Broadcasting menuju Public Service Media. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: . Menganalisis bagaimana transformasi PSB menuju PSM dipahami dan diimplementasikan dalam lingkungan RRI, . Mengidentifikasi pengaruh digitalisasi, konvergensi media, platformisasi, dan perkembangan teknologi terhadap proses transformasi RRI, . Menganalisis perubahan budaya organisasi, pola hubungan dengan audiens, serta strategi pengembangan konten yang dilakukan RRI, . Mengkaji tantangan regulasi, pendanaan, independensi, dan tata kelola yang memengaruhi keberhasilan transformasi media publik di Indonesia dan . Merumuskan model transformasi PSM yang relevan dengan konteks sosial, politik, dan budaya Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengembangkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai transformasi media publik di Indonesia. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya menempatkan transformasi sebagai proses digitalisasi teknologi penyiaran, penelitian ini memandang transformasi PSB menuju PSM sebagai proses multidimensional yang mencakup perubahan teknologi, budaya organisasi, perilaku audiens, model bisnis, regulasi, dan independensi kelembagaan secara simultan. Selain itu, penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual berupa model transformasi Public Service Media Indonesia yang menempatkan digitalisasi, platformisasi, transformasi budaya organisasi, transformasi audiens, inovasi model bisnis, dan reformasi regulasi sebagai elemen yang saling terhubung dalam membentuk keberhasilan media publik di era digital. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur Public Service Media, tetapi juga menyediakan rekomendasi strategis bagi para pembuat kebijakan, regulator, dan pengelola media publik dalam merancang masa depan RRI yang lebih adaptif, independen, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat digital Indonesia. Metodologi Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menganalisis transformasi Radio Republik Indonesia (RRI) dari Public Service Broadcasting (PSB) menuju Public Service Media (PSM). Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berupaya memahami secara mendalam proses transformasi kelembagaan, budaya organisasi, strategi digitalisasi, serta dinamika hubungan antara media publik dan masyarakat dalam konteks perubahan lingkungan media digital. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya melalui pengukuran kuantitatif (Creswell & Poth, 2018. Tracy, 2. Metode studi kasus dipilih karena transformasi RRI merupakan fenomena kontemporer yang berlangsung dalam konteks kehidupan nyata dan melibatkan berbagai dimensi yang saling berkaitan, seperti regulasi, teknologi, budaya organisasi, tata kelola, serta perubahan perilaku Menurut Yin, . , studi kasus sangat tepat digunakan ketika peneliti ingin menjawab pertanyaan AuhowAy dan AuwhyAy terhadap suatu fenomena yang kompleks dan kontekstual. Dalam penelitian ini, studi kasus memungkinkan eksplorasi mendalam mengenai bagaimana proses transformasi media publik berlangsung di Indonesia serta faktor-faktor yang memengaruhi Pemilihan RRI sebagai kasus penelitian didasarkan pada posisinya sebagai lembaga penyiaran publik tertua di Indonesia yang memiliki mandat konstitusional untuk memberikan Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 pelayanan informasi kepada masyarakat. Selain itu. RRI sedang menghadapi tantangan transformasi yang signifikan akibat perkembangan teknologi digital, perubahan perilaku audiens, dan tuntutan untuk beradaptasi dengan paradigma Public Service Media. Oleh karena itu, studi terhadap RRI memberikan konteks yang relevan untuk memahami dinamika transformasi media publik di negara berkembang. Paradigma Penelitian Penelitian ini berlandaskan paradigma konstruktivisme. Paradigma konstruktivisme memandang realitas sosial sebagai hasil konstruksi yang dibangun melalui interaksi manusia dalam konteks sosial tertentu (Charmaz, 2. Dalam perspektif ini, transformasi media publik tidak dipahami sebagai proses teknis yang bersifat objektif dan linear, tetapi sebagai proses sosial yang dipengaruhi oleh interpretasi, pengalaman, nilai, kepentingan, dan interaksi para aktor yang terlibat (Braun & Clarke, 2. Paradigma konstruktivisme memungkinkan peneliti memahami bagaimana para pengelola media publik, regulator, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya memaknai konsep Public Service Media serta bagaimana makna tersebut memengaruhi proses transformasi yang berlangsung di lingkungan RRI. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada hasil transformasi, tetapi juga pada proses pembentukan makna yang mendasari perubahan Dalam konteks penelitian media, paradigma konstruktivisme sering digunakan untuk menjelaskan hubungan antara teknologi, organisasi, dan masyarakat karena mampu mengungkap dinamika sosial yang tidak selalu terlihat melalui pendekatan positivistik (Denzin & Lincoln. Oleh karena itu, paradigma ini dianggap sesuai untuk mengkaji transformasi media publik yang melibatkan berbagai dimensi sosial, budaya, politik, dan teknologi secara simultan. Lokasi dan Konteks Penelitian Penelitian dilaksanakan pada Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai lembaga penyiaran publik nasional Indonesia. RRI dipilih karena sedang menjalani proses transformasi menuju model media publik berbasis digital yang ditandai oleh pengembangan berbagai platform digital, layanan streaming, podcast, media sosial, serta integrasi teknologi komunikasi dalam proses produksi dan distribusi konten. Konteks penelitian mencakup lingkungan internal organisasi RRI dan lingkungan eksternal yang memengaruhi proses transformasi tersebut. Lingkungan internal meliputi struktur organisasi, budaya kerja, sumber daya manusia, strategi digitalisasi, tata kelola kelembagaan, serta pengelolaan konten media. Sementara itu, lingkungan eksternal mencakup regulasi penyiaran, perkembangan teknologi digital, persaingan industri media, perilaku audiens, dan kebijakan pemerintah terkait media publik. Pemahaman terhadap kedua konteks tersebut menjadi penting karena transformasi Public Service Media merupakan proses multidimensional yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal organisasi, tetapi juga oleh dinamika lingkungan media yang terus berubah. Dengan memperhatikan kedua dimensi tersebut, penelitian ini berupaya menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai proses transformasi yang sedang berlangsung di RRI. Teknik Penentuan Informan Penelitian menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan Teknik ini dipilih karena memungkinkan peneliti memilih individu yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan langsung dalam proses transformasi media publik di RRI. Menurut (Patton, 2. , purposive sampling merupakan strategi yang efektif dalam Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 penelitian kualitatif karena fokus pada kedalaman informasi, bukan jumlah responden. Informan penelitian dipilih berdasarkan beberapa kriteria utama, yaitu: Memiliki posisi strategis dalam organisasi RRI. Terlibat dalam pengambilan keputusan terkait transformasi digital. Memiliki pengalaman dalam pengelolaan media publik. Memahami kebijakan dan regulasi penyiaran publik. Memiliki kompetensi akademik atau profesional yang relevan dengan isu media publik. Kelompok informan meliputi pimpinan RRI, pejabat struktural, pengelola transformasi digital, praktisi media publik, regulator penyiaran, akademisi komunikasi, serta pakar media yang memiliki pemahaman mendalam mengenai transformasi Public Service Media. Pemilihan informan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan prinsip kecukupan data . ata saturatio. Proses pengumpulan data dihentikan ketika informasi yang diperoleh mulai menunjukkan pola yang berulang dan tidak lagi menghasilkan temuan baru yang signifikan. Teknik Pengumpulan Data Penelitian menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang saling melengkapi untuk meningkatkan kedalaman dan validitas temuan penelitian. Wawancara Mendalam Teknik utama yang digunakan adalah wawancara mendalam . n-depth intervie. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun berdasarkan fokus penelitian. Model wawancara semi-terstruktur memberikan fleksibilitas kepada peneliti untuk mengeksplorasi isu-isu yang muncul selama proses wawancara tanpa kehilangan fokus terhadap tujuan penelitian (Brinkmann & Kvale, 2. Wawancara diarahkan untuk menggali informasi mengenai: A Pemahaman informan terhadap konsep Public Service Media. A Strategi transformasi digital RRI. A Perubahan budaya organisasi. A Tantangan regulasi dan pendanaan. A Hubungan dengan audiens digital. A Prospek pengembangan media publik Indonesia. Setiap wawancara direkam dengan persetujuan informan dan kemudian ditranskripsikan secara verbatim untuk keperluan analisis data. Studi Dokumentasi Selain wawancara, penelitian juga menggunakan studi dokumentasi sebagai sumber data Dokumentasi meliputi: A Undang-Undang Penyiaran. A Peraturan pemerintah terkait media publik. A Laporan tahunan RRI. A Dokumen strategi transformasi digital. A Publikasi resmi RRI. A Artikel ilmiah dan laporan penelitian terkait Public Service Media. Dokumentasi digunakan untuk memahami konteks kebijakan dan memverifikasi informasi yang diperoleh dari wawancara. Observasi Observasi dilakukan untuk memperoleh pemahaman mengenai implementasi transformasi digital dalam praktik organisasi. Observasi mencakup aktivitas produksi konten. Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 penggunaan platform digital, interaksi antarunit kerja, dan proses distribusi konten melalui berbagai kanal media. Observasi membantu peneliti memperoleh data yang tidak selalu dapat diungkap melalui wawancara, terutama terkait perilaku organisasi dan praktik kerja sehari-hari. Validitas dan Keabsahan Data Untuk menjamin kredibilitas hasil penelitian, dilakukan beberapa strategi validasi data. Menurut (Guba & Lincoln, 1. , keabsahan penelitian kualitatif dapat ditingkatkan melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Triangulasi Sumber Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai kelompok informan. Data dari pimpinan RRI, praktisi media, regulator, dan akademisi dibandingkan untuk memastikan konsistensi informasi. Triangulasi Metode Triangulasi metode dilakukan dengan mengombinasikan wawancara, dokumentasi, dan Penggunaan berbagai metode memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai fenomena yang diteliti. Member Checking Member checking dilakukan dengan meminta beberapa informan meninjau kembali hasil interpretasi peneliti terhadap data yang telah diberikan. Langkah ini bertujuan memastikan bahwa hasil analisis sesuai dengan makna yang dimaksud oleh informan. Peer Debriefing Peneliti juga melakukan diskusi dengan rekan sejawat dan ahli metodologi untuk memperoleh masukan terhadap proses analisis dan interpretasi data. Strategi ini membantu mengurangi bias subjektif peneliti. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sejak proses pengumpulan data Penelitian ini mengadopsi model analisis interaktif yang dikembangkan oleh (Miles et al. , 2. , yang terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi Data Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses memilih, menyederhanakan, memfokuskan, dan mengorganisasikan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Pada tahap ini, hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi ditranskripsikan, dibaca berulang kali, kemudian dikodekan berdasarkan tema-tema yang muncul. Proses coding dilakukan secara terbuka untuk mengidentifikasi konsep-konsep penting yang berkaitan dengan transformasi Public Service Media. Selanjutnya dilakukan kategorisasi untuk mengelompokkan kode-kode yang memiliki kesamaan makna ke dalam tema-tema yang lebih besar. Penyajian Data Tahap kedua adalah penyajian data. Data yang telah direduksi disusun dalam bentuk matriks tematik, narasi deskriptif, tabel analisis, dan peta hubungan antar konsep. Penyajian data Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 bertujuan memudahkan peneliti dalam memahami pola, hubungan, dan kecenderungan yang muncul dari data penelitian. Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi hubungan antara digitalisasi, platformisasi, budaya organisasi, regulasi, pendanaan, dan perubahan audiens sebagai elemen-elemen utama dalam proses transformasi RRI menuju Public Service Media. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dibangun secara induktif berdasarkan pola-pola yang ditemukan dalam data. Proses verifikasi dilakukan secara terus-menerus selama penelitian berlangsung untuk memastikan bahwa kesimpulan yang dihasilkan memiliki dasar empiris yang kuat. Interpretasi hasil penelitian dilakukan dengan menghubungkan temuan empiris dengan teori Public Service Media, teori konvergensi media, teori platformisasi, dan teori transformasi Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai transformasi media publik di Indonesia. Etika Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian sosial. Seluruh informan diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan hak mereka untuk menarik diri dari penelitian kapan saja. Persetujuan informan diperoleh sebelum proses wawancara dilakukan. Identitas informan dijaga kerahasiaannya sesuai dengan prinsip confidentiality. Data yang diperoleh digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik dan tidak digunakan untuk tujuan lain di luar penelitian. Selain itu, peneliti berupaya menjaga objektivitas dan integritas ilmiah selama proses pengumpulan, analisis, dan pelaporan data penelitian. Dengan pendekatan metodologis tersebut, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan temuan yang kredibel, valid, dan memberikan kontribusi teoritis maupun praktis dalam pengembangan kajian Public Service Media serta transformasi media publik di Indonesia. Hasil dan Pembahasan Transformasi Public Service Broadcasting Menuju Public Service Media di RRI Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Radio Republik Indonesia (RRI) dari Public Service Broadcasting (PSB) menuju Public Service Media (PSM) merupakan proses yang sedang berlangsung dan belum sepenuhnya mencapai bentuk ideal sebagaimana yang telah diterapkan oleh berbagai lembaga media publik di negara-negara maju. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa transformasi yang terjadi di lingkungan RRI masih didominasi oleh perubahan teknologi dan digitalisasi platform, sementara transformasi pada aspek kelembagaan, budaya organisasi, tata kelola, model pendanaan, dan relasi dengan audiens masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci, transformasi yang dilakukan RRI selama beberapa tahun terakhir berfokus pada pengembangan layanan berbasis digital melalui integrasi berbagai platform komunikasi seperti streaming radio, podcast, media sosial, aplikasi RRI Digital, portal berita daring, dan berbagai kanal distribusi konten digital lainnya. Transformasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumsi media masyarakat yang semakin bergeser dari media konvensional menuju media digital berbasis Para informan menjelaskan bahwa generasi muda saat ini tidak lagi menjadikan radio konvensional sebagai sumber utama informasi. Audiens lebih memilih mengakses informasi Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 melalui smartphone, media sosial, layanan streaming, dan platform berbasis algoritma yang menawarkan fleksibilitas waktu dan ruang. Perubahan perilaku tersebut mendorong RRI untuk memperluas model distribusi konten agar dapat menjangkau audiens yang lebih beragam. Meskipun demikian, penelitian menemukan bahwa digitalisasi yang dilakukan belum sepenuhnya disertai dengan transformasi paradigma pelayanan publik. Sebagian besar program digital yang dikembangkan masih merupakan reproduksi konten siaran konvensional ke dalam format digital. Dengan kata lain, proses digitalisasi masih berada pada tahap konversi teknologi dan belum sepenuhnya menghasilkan inovasi model pelayanan publik yang berorientasi pada partisipasi audiens. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi media publik tidak cukup dilakukan melalui pengadaan teknologi baru, melainkan memerlukan perubahan cara pandang organisasi terhadap fungsi pelayanan publik di era digital. Public Service Media menuntut kemampuan organisasi untuk membangun hubungan yang lebih interaktif, partisipatif, dan kolaboratif dengan masyarakat melalui berbagai platform komunikasi digital. Digitalisasi dan Konvergensi Media Sebagai Pendorong Transformasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi merupakan faktor utama yang mendorong transformasi RRI menuju Public Service Media. Transformasi ini ditandai dengan pengembangan berbagai layanan digital yang memungkinkan audiens mengakses konten tanpa bergantung pada frekuensi siaran radio terestrial. Dalam praktiknya. RRI telah mengembangkan berbagai platform digital yang mencakup: Aplikasi RRI Digital. Layanan streaming radio. Podcast. Portal berita daring. Kanal YouTube. Media sosial. Distribusi konten berbasis mobile platform. Keberadaan berbagai platform tersebut memungkinkan RRI menjangkau audiens yang lebih luas serta memperluas akses publik terhadap informasi dan layanan media publik. Penelitian menemukan bahwa proses digitalisasi telah mengubah pola produksi konten dalam organisasi. Jika sebelumnya produksi program berorientasi pada kebutuhan siaran radio konvensional, saat ini proses produksi mulai mengadopsi pendekatan multiplatform yang memungkinkan satu konten didistribusikan melalui berbagai kanal komunikasi secara simultan. Namun demikian, para informan mengakui bahwa proses konvergensi media belum berlangsung secara optimal. Integrasi antarunit kerja masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait budaya organisasi yang selama bertahun-tahun dibentuk berdasarkan paradigma penyiaran tradisional. Akibatnya, koordinasi antara unit radio, portal berita, media sosial, dan layanan digital lainnya belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu sistem produksi yang terpadu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan transformasi organisasi. Keberhasilan konvergensi media sangat bergantung pada kemampuan organisasi mengintegrasikan sumber daya manusia, budaya kerja, struktur organisasi, dan strategi komunikasi ke dalam ekosistem digital yang lebih fleksibel dan Transformasi Budaya Organisasi dalam Era Media Digital Penelitian menemukan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam transformasi RRI Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 menuju Public Service Media adalah perubahan budaya organisasi. Sebagai lembaga penyiaran publik yang telah berdiri sejak tahun 1945. RRI memiliki tradisi birokrasi yang kuat dan pola kerja yang relatif stabil selama beberapa dekade. Dalam konteks transformasi digital, budaya organisasi tersebut menghadapi tekanan untuk berubah. Public Service Media membutuhkan organisasi yang lebih adaptif, inovatif, dan responsif terhadap perubahan teknologi serta kebutuhan audiens. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perubahan budaya masih berlangsung secara bertahap dan menghadapi resistensi pada beberapa tingkatan organisasi. Sebagian informan menyatakan bahwa masih terdapat kecenderungan mempertahankan pola kerja konvensional yang berorientasi pada prosedur administratif dibandingkan inovasi Kondisi tersebut menyebabkan implementasi berbagai program transformasi sering berjalan lebih lambat dibandingkan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku audiens. Selain itu, penelitian menemukan adanya kesenjangan kompetensi digital antarpegawai. Generasi yang lebih muda cenderung memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang lebih tinggi dibandingkan pegawai yang telah lama bekerja dalam sistem penyiaran konvensional. Kesenjangan tersebut memengaruhi kecepatan transformasi organisasi secara keseluruhan. Meski demikian, terdapat indikasi positif bahwa budaya inovasi mulai berkembang melalui berbagai program pelatihan digital, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi dengan berbagai mitra eksternal. Transformasi budaya organisasi menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan transisi dari PSB menuju PSM. Pembahasan Transformasi RRI dalam Perspektif Public Service Media Theory Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi yang dilakukan RRI mencerminkan proses pergeseran dari paradigma Public Service Broadcasting menuju Public Service Media. Dalam teori Public Service Media, pelayanan publik tidak lagi dibatasi oleh media penyiaran tradisional, tetapi diperluas ke seluruh platform komunikasi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat (Moore, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RRI telah mulai mengadopsi prinsip-prinsip tersebut melalui pengembangan berbagai layanan digital. Namun demikian, transformasi yang terjadi masih lebih banyak berorientasi pada aspek teknologi dibandingkan perubahan paradigma pelayanan publik secara menyeluruh. Kondisi ini sejalan dengan temuan Karadimitriou & Papathanassopoulos, . yang menjelaskan bahwa banyak lembaga media publik mengalami kesulitan dalam mentransformasikan struktur kelembagaannya meskipun telah berhasil melakukan digitalisasi Transformasi yang berhasil memerlukan perubahan menyeluruh yang mencakup tata kelola, budaya organisasi, model pendanaan, serta hubungan dengan masyarakat. Dalam konteks RRI, perubahan paradigma tersebut masih berada dalam tahap transisi. Organisasi telah menyadari pentingnya transformasi digital, tetapi proses internalisasi nilainilai Public Service Media masih memerlukan waktu dan dukungan kebijakan yang lebih kuat. Konvergensi Media dan Teori Media Convergence Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa transformasi RRI dapat dijelaskan melalui teori konvergensi media yang dikemukakan oleh Jenkins, . Konvergensi media tidak hanya berkaitan dengan integrasi teknologi, tetapi juga perubahan budaya yang memungkinkan terjadinya interaksi antara berbagai platform media dan audiens. Dalam kasus RRI, konvergensi media terlihat dari upaya integrasi radio, portal berita, podcast, media sosial, dan layanan streaming ke dalam satu ekosistem komunikasi. Langkah Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 tersebut memungkinkan konten media publik menjangkau audiens melalui berbagai saluran yang lebih sesuai dengan kebiasaan konsumsi media masyarakat digital. Namun penelitian menunjukkan bahwa proses konvergensi belum sepenuhnya menghasilkan integrasi organisasi yang optimal. Masih terdapat fragmentasi dalam pengelolaan konten dan koordinasi antarunit kerja. Oleh karena itu, transformasi digital perlu diikuti dengan transformasi struktur organisasi agar konvergensi media dapat berjalan secara efektif. Platformisasi dan Tantangan Kedaulatan Media Publik Salah satu temuan penting penelitian adalah meningkatnya ketergantungan media publik terhadap platform digital global. Untuk menjangkau audiens muda. RRI harus memanfaatkan berbagai platform seperti YouTube. Instagram. TikTok, dan Spotify. Di satu sisi, strategi tersebut memperluas jangkauan audiens. Namun di sisi lain, muncul ketergantungan terhadap sistem distribusi yang dikendalikan oleh perusahaan teknologi global. Dalam perspektif teori platformisasi, kondisi tersebut menciptakan paradoks bagi media Media publik memperoleh akses yang lebih luas kepada audiens, tetapi kehilangan sebagian kontrol atas distribusi konten karena visibilitas informasi ditentukan oleh algoritma platform (Duffy et al. , 2. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa tantangan utama RRI bukan hanya memproduksi konten berkualitas, tetapi juga memastikan bahwa konten tersebut dapat ditemukan dan diakses oleh masyarakat dalam lingkungan media yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, strategi Public Service Media harus mencakup kemampuan mengelola hubungan dengan platform digital tanpa kehilangan independensi dan identitas pelayanan Model Transformasi Public Service Media Indonesia Berdasarkan sintesis temuan penelitian, transformasi RRI menuju Public Service Media dapat dipahami melalui enam dimensi utama: Transformasi Teknologi Digitalisasi layanan, streaming, podcast, aplikasi, dan multiplatform. Transformasi Organisasi Perubahan struktur kerja, koordinasi lintas unit, dan budaya inovasi. Transformasi SDM Peningkatan literasi digital, kompetensi media baru, dan pengembangan kapasitas Transformasi Audiens Perubahan dari audiens pasif menjadi audiens partisipatif dan interaktif. Transformasi Tata Kelola Penguatan independensi, transparansi, dan akuntabilitas media publik. Transformasi Pendanaan Diversifikasi sumber pendanaan yang tetap menjaga independensi pelayanan publik. Model ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi Public Service Media tidak dapat dicapai hanya melalui digitalisasi teknologi. Keberhasilan transformasi bergantung pada kemampuan organisasi mengintegrasikan seluruh dimensi tersebut secara simultan dalam kerangka pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan Transformasi Radio Republik Indonesia: dari Public Service Broadcasting ke Public Service Media Anwar Mujahid Adhy Trisnanto Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi ISSN: 2776-5490 - Vol. No. , 99-112 Kesimpulan Transformasi Radio Republik Indonesia (RRI) dari Public Service Broadcasting (PSB) menuju Public Service Media (PSM) merupakan respons strategis terhadap perubahan lingkungan media yang dipicu oleh digitalisasi, konvergensi media, platformisasi, dan perubahan perilaku audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RRI telah melakukan berbagai upaya transformasi melalui pengembangan platform digital, layanan streaming, podcast, portal berita daring, serta integrasi media sosial sebagai bagian dari strategi mempertahankan relevansi pelayanan publik di era digital. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa RRI tidak lagi berorientasi semata pada penyiaran radio konvensional, tetapi mulai mengembangkan model pelayanan publik yang berbasis multiplatform. Meskipun demikian, transformasi yang berlangsung masih didominasi oleh aspek teknologi, sementara transformasi pada aspek budaya organisasi, tata kelola kelembagaan, model pendanaan, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan partisipasi audiens belum berlangsung secara optimal. Penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan transformasi menuju Public Service Media tidak hanya ditentukan oleh kemampuan organisasi mengadopsi teknologi digital, tetapi juga oleh kemampuannya membangun budaya inovasi, memperkuat independensi kelembagaan, meningkatkan kompetensi digital sumber daya manusia, serta mengembangkan model pelayanan publik yang lebih partisipatif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa tantangan utama transformasi RRI berasal dari ketergantungan terhadap regulasi penyiaran yang masih berorientasi pada paradigma broadcasting, keterbatasan model pendanaan yang bergantung pada anggaran negara, serta dominasi platform digital global yang mengubah pola distribusi informasi dan perilaku konsumsi media masyarakat. Dalam konteks tersebut, transformasi menuju Public Service Media menuntut reformasi yang lebih komprehensif yang mencakup pembaruan regulasi, penguatan tata kelola, diversifikasi sumber pendanaan yang tetap menjamin independensi, serta pengembangan strategi distribusi konten yang mampu menjangkau audiens digital tanpa kehilangan nilai-nilai pelayanan publik. Dengan demikian, masa depan media publik Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan mengadopsi teknologi baru, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem media publik yang adaptif, inklusif, partisipatif, dan Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar RRI mempercepat transformasi kelembagaan melalui penguatan strategi digital berbasis audiens, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta penguatan model tata kelola yang lebih fleksibel dan inovatif. Pemerintah dan regulator juga perlu memperbarui kerangka regulasi media publik agar sesuai dengan perkembangan ekosistem media digital dan mendukung implementasi paradigma Public Service Media di Indonesia. Dari sisi akademik, penelitian selanjutnya perlu mengembangkan model evaluasi Public Service Media yang lebih komprehensif dengan membandingkan pengalaman berbagai lembaga media publik di negara berkembang. Adapun kebaruan . penelitian ini terletak pada pengembangan model transformasi Public Service Media Indonesia yang menjelaskan keterkaitan antara digitalisasi, platformisasi, transformasi budaya organisasi, transformasi audiens, tata kelola, dan model pendanaan sebagai satu kesatuan yang menentukan keberhasilan transformasi media publik di era digital. Daftar Pustaka