Excellent Midwifery Journal Volume 8 No. Oktober 2025 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 ANALISIS FAKTOR RESIKO TERJADINYA EMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI KLINIK PRATAMA RAWAT INAP AR RAZI TAHUN 2024 Indah Dewi Sari1*. Rauda2. Suyanti Suwardi3 Leliana Sormin 4 1,2,3 Staf Pengajar Profesi Kebidanan Institut Kesehatan Helvetia. Medan. Indonesia 4Mahasiswa S1 Kebidanan Institut Kesehatan Helvetia. Medan. Indonesia indahdewi@helvetia. id, raudasiregar90@gmail. com, yantisetiawan2019@gmail. sorminleli12@gmail. DOI: https://doi. org/10. 55541/emj. ABSTRAK Latar Belakang: Angka prevalensi emesis gravidarum di Indonesia mencapai 80%. Sindrom ini ditandai dengan frekuensi mual muntah yang tinggi, penurunan berat badan, serta dehidrasi yang dapat dikenali melalui ketonuria dan alkalosis akibat penurunan kadar asam HCL dalam Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I. Metode: Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh ibu hamil trimester I yang melakukan kunjungan ANC dari bulan JanuariAeDesember 2023 sebanyak 85 ibu yang ditemui di Klinik Pratama Ar Razi Tahun 2024. Pengambilan data menggunakan data sekunder. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan bivariat dengan uji statistik chisquare. Hasil: Hasil penelitian berdasarkan uji chi square menunjukkan pada variable umur p-value 0,059 (<0,. , paritas p-value 0,041 (<0,. dan pekerjaan p-value 0,002 (<0,. yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara umur, paritas dan pekerjaan dengan kejadian Emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara faktor risiko, yaitu umur, paritas, dan pekerjaan, dengan kejadian emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di Klinik Pratama Ar Razi Tahun 2024. Disarankan agar tenaga kesehatan di klinik lebih peka terhadap ibu hamil, mendorong mereka untuk secara rutin melakukan kunjungan ANC, serta menyampaikan informasi yang diperoleh dari petugas kesehatan guna mencegah terjadinya emesis gravidarum. Kata Kunci: Umur. Paritas. Pekerjaan. Emesis Gravidarum. Kehamilan. ABSTRACT Morning sickness is common, affecting 8 0 % of pregnant women. This syndrome is characterised by frequent vomiting, weight loss, and dehydration due to starvation. It is also characterised by ketonuria and alkalosis due to decreased gastric HCL acid. This study aimed to identify factors associated with emesis gravidarum in pregnant women during the first This is an analytical survey using a cross-sectional approach. The study population was all pregnant women in the first trimester who visited ANC between January and December In total, 85 mothers were seen at the Ar Razi Pratama Clinic in 2024. The data were collected from secondary sources. This study employed univariate and bivariate analysis with the chi-square statistical test. The results of the study, based on the chi-square test, definitively showed that the age variable p-value was 0. 059 (<0. , the parity p-value was 041 (<0. , and the occupation p-value was 0. 002 (<0. This shows a significant relationship between age, parity, and occupation and the incidence of emesis gravidarum in pregnant women in the first trimester. This study demonstrates that age, parity, and occupation are associated with the incidence of emesis gravidarum in pregnant women in the first trimester at the Ar Razi Pratama Clinic in 2024. Health workers at the clinic must be more sensitive to the needs of pregnant women. They should make ANC visits routinely and implement information obtained from health workers to prevent the incidence of emesis gravidarum. Keywords: Age. Parity. Occupation. Emesis Gravidarum. Pregnancy. morning sicknes berkisar dari 50% hingga 90%. Sindrom ini ditandai penurunan berat badan, dehidrasi, alkalosis akibat penurunan asam HCL lambung, dan (Atiqoh dkk, 2. LATAR BELAKANG Kehamilan adalah peristiwa yang terjadi pada seorang wanita yang menyatunya sel telur . dan sel sperma. Selanjutnya, proses fertilisasi . , nidasi, dan Menurut Hidayati . , kehamilan dibagi menjadi tiga trimester. Trimester pertama berlangsung dari 0Ae12 berlangsung dari 13Ae27 minggu. dan trimester ketiga berlangsung dari 28Ae40 minggu, atau waktu Ibu hamil mengalami peningkatan kadasar estrogen, dan pengeluaran produk hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG), (Rahayu dkk, 2. Menurut World Wellbeing Organization (WHO) . hipermesis gravidarum terjadi diseluruh dunia dengan angka kejadian mencapai 78,5 Angka kejadian hiperemesis gravidarum di Indonesia mencapai lebih dari 80 dari Kementrian Kesehatan RI . menjelaskan bahwa lebih dari 80% ibu hamil di Indonesia mengalami mual muntah menyebabkan ibu hamil menghindari jenis makanan tertentu dan akan menyebabkan risiko bagi dirinya . Trimester pertama kehamilan sering kali menjadi titik penentuan bagi seorang Wanita, menandai awal dari perjalanan sebagai ibu yang Respon psikologis terhadap kabar kehamilan bervariasi diantara Meskipun ada kegembiraan mengantisipasi peran sebagai ibu, tak jarang juga terjadi rasa sedih dan Peningkatan hormon seperti progesterone dan estrogen dapat memicu gejala seperti mual, lemah, dan kelelahan, yang bisa membuat ibu merasa tidak nyaman bahkan memberi keadaan kehamilannya . Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kejadian mual dan muntah di Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 581 ibu hamil . ,31%), meningkat pada tahun 2019 yaitu sebanyak 234 ibu hamil yang diperiksa . ,42%) Berpartisipasi (Kemenkes R1, 2. Menurut dilakukan oleh fauziah dkk tentnag FaktorAeFaktor yang Mempengaruhi Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil Trimester I Tahun 2022. Penelitian ini kuantitatif dengan desain penelitian rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 45 ibu hamil trimester I, dengan teknik total Analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian ini bahwa ada pengaruh dengan kejadian emesis gravidarum Ketidaknyamanan paling umum bagi ibu hamil di trimester pertama adalah mual dan Ini dapat terjadi pada pagi hari atau pada siang atau sore hari, dan kondisi lambung yang kosong sering menyebabkan muntah ini terjadi pada pagi hari. Hasil adalah usia ( p value = 0,. value = 0,. ,dan pekerjaa . value 0,. bnayak mengalami mula muntah dan ibu yang bekerja juga banyak mengalami mual dan muntah. Penyebab muntah saat hamil belum sepenuhnya dipahami, namun mual dan muntah dianggap sebagai masalah umum. Muntah saat hamil menyerang sebagian besar ibu hamil, pertama dan multigravida. Muntah selama kehamilan terjadi pada 6080% bayi cukup bulan dan 60-40% pada multigravida. (Atiqoh dkk, 2. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui Analisis Faktor Resiko terjadinya Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I Di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024. METODE PENELITIAN Penelitian penelitian analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi. Tujuannya Faktor resiko terjadinya Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I Di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Lokasi Penelitian ini dilakukan di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Jl. Panglima Denai No. 71/73 Kec. Medan Amplas Kota Medan. Penelitian dilakukan dari mulai bulan Januari Ae Agustus Tahun 2024. Paritas risiko terjadinya muntah pada ibu Banyak menunjukkan bahwa semakin tinggi paritasnya, semakin rendah risiko mual dan muntah. Ibu primigravida lebih banyak mengalami mual dan . Usia pemicu muntah saat hamil. Di bawah usia 20 tahun, risiko muntah Mengacu pada kondisi fisik . ubuh dan tubu. Remaja dikatakan siap secara psikologis untuk menerima kehamilan, yang kelemahan fisik dan stres. HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Berdasarkan tabel 1. dapat dilihat dari dari 85 ibu, yang memiliki umur beresiko yaitu sebanyak 41 ibu . ,2%), dan yang tidak beresiko yaitu sebanyak 44 ibu . ,8%). Yang memiliki paritas beresiko yaitu 48 . ,5%) ibu, dan yang memiliki paritas tidak beresiko yaitu 37 . ,5%) ibu. Yang bekerja yaitu 29 . ,1%) ibu, dan yang tidak bekerja . ,9%) Yang mengalami emesis gravidarum yaitu 54 . 5%) ibu, dan yang tidak mengalami yaitu 31 . 5%) ibu. Sedangkan faktor risiko yang lain terjadinya muntah gravidarum disebabkan oleh peran psikologis terkait stres pada ibu hamil. Ibu mengalami muntah saat hamil Survei pertama yang dilakukan Januari, ditemukan tahun 2023, 26 orang ibu hamil yang menjalani ANC pernah muntah-muntah hamil rata-rata orang berusia 20-an, hanya beberapa ibu hamil yang mengalami mual muntah berusia 20 dan 30 tahun, banyak juga berusia diatas 30 tahun mengalami muntah. Pada paritas primigravida lebih Tabel 1. Distribusi Frekuensi Umur. Paritas. Pekerjaan dan Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024 Variabel Umur 20 - 35 tahun Tidak Beresiko <20, >35 tahun Beresiko Paritas Anak 1-3 tidak beresiko Anak < 3 Beresiko Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Emesis Gravidarum Tidak Mengalami Mengalami . ,6%) ibu, yang memiliki paritas berisiko dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 28 . ,9%) ibu, yang memiliki paritas tidak berisiko dan mengalami emesis garvidarum yaitu 28 . ,9%) ibu, dan yang memiliki paritas tidak berisiko dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 9 . ,6%) ibu. Faktor Pekerjaan dapat diketahui bahwa dari 85 ibu, , yang bekerja dan mengalami emesis gravidarum yaitu 25 . ,4%) ibu, yang bekerja dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 4 . ,7%) ibu, yang tidak bekerja dan mengalami emesis gravidarum 29 . ,1%) ibu, dan ibu yang tidak bekerja dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 27 . ,8%) ibu. Analisis Bivariat Tabulasi silang antara faktor Umur dapat diketahui bahwa dari 85 ibu, yang memiliki umur berisiko dan mengalami Emesis gravidarum yaitu 30 . ,3%) ibu, ibu yang memiliki umur berisiko Emesis gravidarum yaitu 11 . ,9%) ibu, ibu yang memiliki umur tidak berisiko dan mengalami emesis gravidarum yaitu 24 . ,1%) ibu, dan ibu yang memiliki umur tidak berisiko dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 20 . ,5%) Faktor Paritas dapat diketahui bahwa dari 85 ibu, yang memiliki paritas berisiko dan mengalami Tabel 2. Tabulasi Silang Hubungan Faktor Umur. Paritas. Pekerjaan dan Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024 Emesis Gravidarum Variabel Mengalami Total Tidak Mengalami 48,2 0,059 43,5 0,041 34,1 0,002 P (Si. Beresiko Tidak Beresiko Paritas Beresiko Tidak Beresiko Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja kurangnya kesiapan psikologis untuk menjadi seorang ibu menjadi faktor yang signifikan. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dan tenaga penting dalam mendampingi proses kehamilan dan persalinan, agar kesehatan ibu dan bayi dapat terjaga dengan baik. Faktor Sementara itu, kehamilan di usia lanjut sering mengalami emesis gravidarum karena ketidak siapannya menjadi seorang ibu , ketidak siapan diakibatkan oleh faktor lain seperti kegagalan dalam penggunaan kontrasepsi, pernikahan yang terjadi di usia tua, keinginan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu, serta keyakinan yang dianut oleh keluarga. Dengan mempertimbangkan halhal tersebut, sangat tidak disarankan untuk mengalami kehamilan pada usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun . Penelitian yang berjudul AuHubungan Usia. Paritas. Pekerjaan dan Stres dengan Emesis Gravidarum di Kota Bandar Lampung Tahun 2019Ay. Kejadian kehamilan pada usia dini, yaitu di bawah 20 tahun, serta pada usia lanjut, yaitu di atas 35 tahun, memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia reproduksi yang sehat. Kondisi alat reproduksi yang belum matang dan kurangnya kesiapan psikologis untuk menjadi seorang ibu sering kali dialami oleh remaja. Utama terjadinya kehamilan di usia Berdasarkan hasil penelitian, kelompok usia yang paling beresiko terhadap emesis gravidarum adalah mereka yang berusia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun. Ibu yang berusia di bawah 20 tahun sering kali belum sepenuhnya siap baik secara mereka lebih mudah mengalami masalah ini. Kadar hormon HCG yang PEMBAHASAN Hubungan Umur Ibu dengan Emesis Gravidarum pada Ibu hamil Trimester I di Klinik Paratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024 Berdasarkan hasil penelitian dapat uji statistik menggunakan uji chi square diperoleh nilai p = = 0,059 (< 0,. , hubungan umur ibu dengan emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun Usia merujuk pada keberadaan seseorang sejak dilahirkan. Dalam konteks reproduksi yang sehat, rentang usia yang dianggap aman untuk kehamilan dan persalinan adalah antara 20 hingga 35 tahun. Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun berisiko karena panggul dan perkembangan, organ reproduksi belum sepenuhnya matang, serta kematangan emosional dan psikologis yang belum optimal. Hal ini dapat Sementara itu, pada usia di atas 35 tahun, terdapat penurunan fungsi organ reproduksi dan fisiologis dibandingkan dengan usia 20 hingga Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki komplikasi obstetris serta morbiditas dan mortalitas perinatal. Kejadian kehamilan pada usia dini, yaitu di bawah 20 tahun, serta pada usia lanjut, yaitu di atas 35 tahun, memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan usia reproduksi yang ideal. Pada remaja, kondisi alat reproduksi yang belum berperan dalam memicu emesis gravidarum cenderung lebih tinggi pada kelompok usia ini. Di sisi lain, ibu yang berusia di atas 35 tahun mengalami penurunan fungsi organ menyebabkan peningkatan kadar hormon HCG, sehingga berpotensi Hubungan Paritas Ibu dengan Emesis Gravidarum pada Ibu hamil Trimester I di Klinik Paratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 ibu, yang memiliki paritas berisiko dan mengalami emesis gravidarum yaitu 26 . ,6%) ibu, yang memiliki paritas berisiko dan gravidarum yaitu 28 . ,9%) ibu, yang memiliki paritas tidak berisiko dan mengalami emesis garvidarum yaitu 28 . ,9%) ibu, dan yang memiliki paritas tidak berisiko dan tidak mengalami emesis gravidarum yaitu 9 . ,6%) Hasil uji statistik chi-square dengan taraf signifikan sig 0,05 diperoleh hasil p-value= 0,041 < 0,05, yang berarti ada hubungan garvidarum di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun Paritas merujuk pada jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang Paritas pada anak kedua atau ketiga dianggap paling aman dalam Sebaliknya, paritas yang tinggi, yaitu lebih dari tiga anak, cenderung memiliki angka kematian maternal yang lebih tinggi. Ibu yang hamil untuk pertama kali atau yang hamil lebih dari tiga anak disarankan Pada paritas rendah, ibu-ibu hamil sering kali kurang memahami tentang kehamilan dan pentingnya kehamilan, terutama bagi mereka yang memiliki kurang dari tiga anak. Bagi ibu dengan paritas rendah, kehamilan ini sangat diharapkan, sehingga mereka berupaya menjaga kehamilan sebaik-baiknya. Mereka melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur dan menjaga kesehatan demi kesejahteraan janin. Sebagian belum dapat beradaptasi dengan hormon estrogen dan gonadotropin korionik, sehingga mereka lebih rentan mengalami emesis gravidarum. Sementara itu, multigravida telah mampu beradaptasi dengan hormonhormon tersebut karena memiliki menjalani kehamilan dan proses Penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Nur Alfi Fauziah. Komalsari. Dian Nurmala Sari yang berjudul AuFaktorfaktor yang Mempengaruhi Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil Trimester I di PMB Lisnani Ali Kota Bandar Lampung Tahun 2019Ay. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa 19 responden . ,1%) dengan paritas sedangkan di antara ibu dengan paritas rendah, terdapat 6 responden . ,6%) yang mengalami kondisi Hasil analisis statistik chi-square menunjukkan nilai p-value = 0,014 < = 0,05, yang mengindikasikan adanya hubungan antara paritas dan emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di PMB Lisnani Ali Kota Bandar Lampung tahun 2019. Berdasarkan mayoritas paritas yang tidak berisiko adalah 1-3 paritas. Pada tahap ini, banyak ibu mengalami emesis gravidarum karena mereka belum perubahan fisik yang terjadi, seperti pembesaran perut dan perubahan emosional yang dialami. Ketidakbiasaan terhadap kondisi ini, ditambah dengan pengaruh lingkungan, dapat mengganggu psikologi ibu, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kadar HCG. Peningkatan HCG ini berkontribusi pada peningkatan asam lambung, yang menyebabkan keluhan mual dan emesis gravidarum. Sementara itu, pada ibu yang memiliki lebih dari tiga anak, emesis gravidarum juga dapat terjadi akibat beban tanggung jawab yang lebih besar dalam mengurus anak-anak, yang dapat menyebabkan gangguan pikiran dan stres. Hal ini juga berpotensi meningkatkan hormon HCG, sehingga memicu terjadinya emesis gravidarum. Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Emesis Gravidarum pada Ibu hamil Trimester I di Klinik Paratama Rawat Inap Ar Razi Medan Tahun 2024 Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 85 ibu, terdapat 25 ibu . ,4%) mengalami emesis gravidarum, sedangkan 4 ibu . ,7%) yang bekerja tidak mengalami kondisi Di sisi lain, 29 ibu . ,1%) yang tidak bekerja mengalami emesis gravidarum, dan 27 ibu . ,8%) yang tidak bekerja tidak mengalami emesis gravidarum. Hasil chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05 p-value 0,002, hubungan antara pekerjaan ibu dan emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan pada tahun Pekerjaan juga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya Emesis Gravidarum. Aktivitas psikologis yang dapat mempengaruhi tingkat stres pada ibu hamil. Terdapat hubungan signifikan antara pekerjaan dan kejadian emesis gravidarum. Ibu yang aktif bekerja memiliki risiko lebih tinggi mengalami emesis gravidarum dibandingkan dengan ibu yang tidak . Pekerjaan memiliki peranan penting dalam kehidupan, karena melalui bekerja kita dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam penelitian ini, responden dibagi menjadi dua kategori, yaitu yang bekerja dan yang tidak bekerja. Definisi bekerja dalam konteks ini adalah melakukan aktivitas di rumah atau di lokasi lain secara rutin atau berkala dengan tujuan memperoleh Perjalanan tempat kerja yang terburu-buru di pagi hari tanpa waktu yang cukup untuk sarapan dapat memicu mual dan muntah. Selain itu, tergantung pada jenis pekerjaan yang dijalani, aroma, bahan kimia, atau kondisi lingkungan dapat memperburuk rasa mual dan menyebabkan muntah. Merokok apakah hal ini disebabkan oleh efek penciuman, efek nutrisi, atau adanya hubungan antara kebiasaan tersebut Banyak wanita yang mengalami mual menyukai bau asap rokok dan Penelitian ini sejalan dengan studi yang berjudul AuHubungan Usia. Paritas. Pekerjaan, dan Stres dengan Emesis Gravidarum. Dari analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa di antara responden yang mengalami emesis gravidarum pada ibu yang bekerja, dibandingkan dengan yang tidak Hasil menunjukkan nilai P-value sebesar 0,001, yang menyimpulkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dan emesis gravidarum. (Fauziah dkk, 2. Banyak ibu yang bekerja mengalami emesis gravidarum, hal ini disebabkan oleh waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan, sehingga waktu istirahat ibu menjadi berkurang. Ketika ibu memengaruhi pikiran dan psikologi Misalnya, konflik dengan rekan kondisi ekonomi keluarga, serta masalah di tempat kerja dapat memperburuk gejala mual dan muntah sebagai respons terhadap kesulitan hidup. Dampak negatif dari situasi ini dapat menyebabkan pemikiran yang berlebihan. Stres plasenta untuk mengeluarkan HCG dalam jumlah lebih banyak ke dalam darah, yang pada gilirannya dalam tubuh dan memicu mual serta muntah yang berlebihan. Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan dengan p value = 0, 041. Ada antara pekerjaan ibu dengan emesis gravidarum di di Klinik Pratama Rawat Inap Ar Razi Medan dengan p value = 0, 002 SARAN Diharapkan sehingga komplikasi yang lebih gravidarum dapat dihindari. Hal ini mengikuti kelas untuk ibu hamil antenatal care (ANC). Selain itu, sosialisasi melalui konseling bagi ibu hamil pada Trimester I mengenai mual dan muntah selama kehamilan terutama bagi ibu primigravida, sangat penting. Penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi peneliti mengeksplorasi emesis gravidarum dengan mempertimbangkan lokasi penelitian dan karakteristik usia responden yang berbeda. UCAPAN TERIMA KASIH