TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan Volume 15. Nomor 1 (Desember 2. : 1-12 ISSN 2252-3871 . , 2746-7619 . http://ojs. id/index. php/tedeum/index DOI: https://doi. org/10. 51828/td. Submitted: 31 Mei 2025 Accepted: 15 Desember 2025 Published: 30 Desember 2025 MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN: SEBUAH ANALISIS NARATIF TERHADAP ULANGAN 6:1-9 DISCOVERING THE ROLE OF CHILDREN IN THE PROCESS OF TEACHING GOD'S WORD: A NARRATIVE ANALYSIS OF DEUTERONOMY 6:1-9 Detrianus Zai,1 Salomo Sihombing,1* Pelita Hati Surbakti2 Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat. Indonesia 2Sekolah Tinggi Teologi Cipanas. Indonesia *salomosihombing93@gmail. ABSTRACT This article aims to examine the role of children more deeply by analyzing Deuteronomy 6:1-9 through a qualitative method with a narrative analysis approach. This approach explores the narrative structure of the text . arrator, language style, point of view, plot, characters, and settin. to uncover dimensions of the child's role in the process of teaching God's Word. The study reveals that Deuteronomy 6:1-9 not only commands parents to teach their children, but also implies the active involvement of children as part of the people of Israel who listen to, receive, and internalize the teachings in daily life. The use of visual symbolism and verbal repetition in the text emphasizes the importance of holistic and contextual teaching. Children are seen as functional characters in the narrative not merely passive recipients, but active inheritors and participants in the practice of God's Word. Therefore, the findings of this study broaden the perspective on the role of children in Christian spiritual education and invite both churches and parents to design learning strategies that empower children as active subjects in the teaching of God's Word. Key phrases: Deuteronomy 6:1Ae9. role of children. role of parents. narrative analysis. biblical teaching. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk menemukan peran anak secara lebih mendalam dengan menganalisis teks Ulangan 6:1-9 melalui metode kualitatif dengan pendekatan analisis naratif. Pendekatan ini digunakan untuk menelaah struktur naratif . arator, gaya bahasa, sudut pandang, plot, karakter dan settin. dalam teks, guna menemukan dimensi-dimensi peran anak dalam proses pengajaran firman Tuhan. Dalam pembahasan menunjukkan bahwa Ulangan 6:1-9 bukan hanya memerintahkan orang tua untuk mengajar anak-anak, tetapi juga menyiratkan keterlibatan aktif anak sebagai bagian dari umat Israel yang mendengar, menerima, dan menginternalisasi ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Simbolisasi visual dan pengulangan verbal dalam teks menekankan pentingnya pengajaran yang menyeluruh dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dilihat sebagai tokoh fungsional dalam narasi, bukan sekadar penerima pasif, melainkan sebagai calon pewaris dan pelaku dari ajaran firman Tuhan secara aktif. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini dapat memperluas perspektif terhadap peran anak dalam pendidikan rohani di dalam keluarga Kristen dan mengajak gereja serta orang tua untuk merancang strategi pembelajaran yang memberdayakan anak sebagai subjek aktif dalam pengajaran firman Tuhan. Frase kunci: Ulangan 6:1-9. peran anak. peran orangtua. analisis naratif. pengajaran alkitabiah. PENDAHULUAN Pengajaran firman Tuhan dalam keluarga merupakan prinsip utama dalam kehidupan umat Allah. Setiap orang belajar melalui proses pengajaran, meskipun metode dan cara penerimaannya bisa berbedabeda. Pengajaran bukan sekadar proses penyampaian informasi, tetapi juga upaya menanamkan nilai-nilai yang membentuk karakter dan iman seseorang. Pengajaran adalah cara yang digunakan oleh pengajar untuk menerapkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 2 | MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN Ulangan 6:1-9 merupakan sebuah diskursus, namun ia merupakan bagian dari narasi besar. Upaya melihatnya, dapat ditelusuri mundur mulai Ulangan pasal 1. Dengan melakukanya, akan terlihat unsurunsur naratif yang berkaitan dengan Ulangan 6:1-9. Antara lain narator . , sudut pandang, gaya bahasa . , alur cerita . , penokohan . , dan latar cerita . aktu, tempat dan lingkunga. atau Sebagai bahan perbandingan dalam beberapa unsur-unsur naratif, juga dapat dilihat dalam Keluaran Hal ini, karena Ulangan 6:1-9 bersumber pada Keluaran 20. 1 Ketika Musa menyampaikan hukum ini dalam bentuk pengulangan dan pengajaran di dalam Ulangan 6, umat tidak lagi menyanggah atau menolak, sebab mereka telah menerima Musa sebagai perantara yang sah dalam pewarisan kehendak ilahi. Dalam Ulangan 5. Musa menceritakan ulang peristiwa yang terjadi dalam Keluaran 20 sebelum ia menyampaikan perintah yang terutama dalam Ulangan 6. Dalam memperlihatkan konteks literer dan sosial Ulangan 6:1-9, penulis merujuk beberapa pendapat dari David Pawson. 2 Pawson menyatakan bahwa pembacaan ulang Hukum Taurat, karena beberapa alasan, yaitu: . Angkatan yang baru itu adalah mereka yang ketika menyeberangi Laut Merah masih anak-anak dan berkemah di Sinai, sehingga mereka hampir tidak ingat apa yang terjadi pada orang tua mereka saat keluar dari Mesir, demikian juga pembacaan hukum Taurat di Sinai. Sebelumnya mereka sendiri di padang gurun, kini mereka menghadapi tanah yang sudah dihuni oleh para musuh, itulah sebabnya hukum Taurat dibacakan kembali supaya mereka boleh mengetahui apa yang Tuhan tuntut dari mereka. Musa tidak akan masuk bersama dengan mereka, maka Musa ingin memastikan bahwa angkatan baru ini telah diberitahu tentang masa lalu dan siap menghadapi masa depan. Woods juga mengatakan bahwa kitab Ulangan sebaiknya dipahami sebagai dokumen pembaharuan perjanjian dan bukan pernyataan awal tentang penetapan perjanjian, melainkan kitab ini berupaya mengantisipasi sepenuhnya perubahan yang akan terjadi akibat masuk dan menetapnya di tanah Kanaan. Dalam Ulangan 6:1-9. Allah memerintahkan umat Israel untuk mengasihi-Nya dan mengajarkan firmanNya secara terus menerus dan konsisten terhadap anak-anak. Metode pengajaran yang diuraikan dalam bagian ini menekankan pengulangan, keterlibatan aktif dalam kehidupan sehari-hari, serta keteladanan sebagai sarana utama dalam penanaman nilai-nilai iman kepada generasi berikutnya. Dengan memperhatikan secara saksama pada pengajaran anak berdasarkan Ulangan 6:1-9, menjadi penting untuk menelusuri penelitian terdahulu. Beberapa penelitian yang telah membahas Ulangan 6:1-9 antara lain. Panjaitan yang menekankan bahwa pendidikan seharusnya dimulai sejak dini. Pada usia 0-6 tahun yang disebut golden age period, dan ini adalah periode emas bagi perkembangan seluruh aspek anak. Namun demikian, sebagian keluarga mengabaikan pendidikan anak sejak dini atau lebih memilih untuk menyerahkannya kepada sekolah atau gereja. 5 Bombongan menekankan pentingnya metode pembelajaran dalam bahan ajar. Oleh karena itu, ia mencoba meneliti untuk menemukan metode pengajaran yang relevan bagi anak usia dini serta mendukung pengembangan spiritual mereka. 6 Sri Astuti meneliti konsep bangsa Israel tentang signifikansi pendidikan anak, termasuk tradisi dalam mendidik anak serta prinsipprinsip pendidikan anak yang terkandung dalam Ulangan 6:4-9. Nianda menekankan pentingnya meningkatkan daya ingat peserta didik. Ia menemukan bahwa pendekatan multisensori dan holistik efektif dalam mengajar anak, serta menyoroti pentingnya penerapan nilai-nilai dalam pendidikan. 8 Abraham menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik spiritual anak di era milenial. Ia menegaskan bahwa orang tua perlu memahami teknologi komunikasi digital agar dapat membimbing anak dalam belajar firman Tuhan secara efektif. 9 Trivena menegaskan bahwa orang tua 1 Edward J. Woods. Tyndale Old Testament Commentaries (TOTC): Deuteronomy (England: Inter-Varsity Press, 2. , 26. 2 David Pawson. Pandangan Unik Seluruh Alkitab Perjanjian Baru (Jakarta: Publishing House, 2. , 230-231. 3 Woods. Tyndale Old Testament Commentaries (TOTC): Deuteronomy, 27. 4 David Livingstone Araro. AuMenelusuri Dinamika Pendidikan Dalam Perjanjian Lama : Wawasan Bagi Komunitas Keagamaan KontemporerAy 8, no. : 93. 5 Yuni Karlina Panjaitan. AuStudi Eksegesis Ulangan 6 : 4-9 Bagi Pendidikan AnakAy 2, no. : 81, https://doi. org/10. 55649/skenoo. 6 Syani Bombongan and Rante Salu. AuImplementasi Metode Pengajaran Berdasarkan Ulangan 6 :4-9 Bagi Perkembangan Spiritualitas Anak Usia DiniAy 3, no. : 110, https://doi. org/10. 46445/djce. 7 Sri Astuti and Desi Sutresia Silalahi. AuPrinsip-Prinsip Pendidikan Anak Dalam Ulangan 6 :4-9,Ay Jurnal Teologi & Pelayanan (Keruss. 7, no. : 66, https://doi. org/10. 33856/kerusso. 8 Nianda. Metode Khusus Meningkatkan Daya Ingat Peserta Didik Berdasarkan Ulangan 6:4-9 (Jawa Barat: Widina Media Utama, 2. , 1. 9 Abraham Tefbana. AuPeran Orangtua Mendidik Spiritual Anak Di Era Revolusi Industri 4. 0 Berdasarkan Ulangan 6:4-9 (Tinjauan Teologis Dan Pedagogis Dalam Pendidikan Agama Kriste. ,Ay Journal Luxnos 7, no. 1 (Juni, 2. : 119, https://doi. org/10. 47304/jl. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. DETRIANUS ZAI. SALOMO SIHOMBING. PELITA HATI SURBAKTI | 3 memiliki tanggung jawab utama dalam membawa anak-anak mereka kepada Tuhan, sementara guru dan sekolah hanya berperan sebagai pendukung dalam pertumbuhan rohani anak. Namun, banyak orang tua sering mengabaikan tugas ini. 10 Yudi Handoko membahas tentang orang tua sebagai pendidik anak di era 0, berdasarkan Ulangan 6:1-9. Fokus utamanya adalah bagaimana orang tua dapat tetap menjalankan mandat Allah dalam mendidik iman anak-anak-anak mereka meskipun menghadapi tantangan kemajuan teknologi yang pesat, yang seringkali membuat anak-anak lebih tergantung pada perangkat digital dibandingkan dengan pembelajaran iman. Berbagai penelitian di atas, menyoroti pendidikan anak dari perspektif umum dengan penekanan pada peran orang tua dan metode pembelajaran sebagai penentu utama dalam pendidikan spiritual. Pada gilirannya belum melihat peran anak dalam proses pengajaran firman Tuhan. Karenanya, penelitian ini menghadirkan perspektif baru dari Ulangan 6:1-9, yaitu menggali peran aktif anak dalam proses pengajaran firman Tuhan. Penggalian ini penting karena sebagian besar studi sebelumnya cenderung menempatkan anak hanya sebagai objek, sementara orang tua sebagai subjek utama, tanpa mengungkapkan peran anak secara aktif dalam pembelajaran rohani. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk menggali kembali bagaimana peran anak dapat lebih diberdayakan dalam proses pengajaran firman Tuhan berdasarkan prinsip-prinsip dalam Ulangan 6:1-9. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap teks ini, diharapkan dapat membantu keluarga Kristen dalam menemukan strategi terbaik untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak, mendorong anak-anak agar menjadi bagian aktif dalam kehidupan beriman kepada Tuhan, serta mengembangkan model pengajaran berbasis keluarga yang sesuai dengan konteks zaman modern. Dengan demikian, penelitian ini menempatkan anak bukan hanya sebagai penerima pasif, tetapi juga sebagai pelaku dalam pembelajaran dan penyebaran firman Tuhan di tengah komunitas iman. Pada akhirnya, hasil dari penelitian ini dapat memperluas perspektif terhadap peran anak dalam pendidikan rohani di keluarga Kristen dan mengajak gereja serta orang tua untuk merancang strategi pembelajaran yang memberdayakan anak sebagai subjek aktif dalam pengajaran firman Tuhan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis naratif terhadap Ulangan 6:1-9. Dalam melakukan analisis naratif terhadap teks Ulangan 6:1-9 yang terbingkai dalam narasi Keluaran 20 dan Ulangan 5, diawali dengan menganalisis teks melalui unsur-unsur naratif yang meliputi pengenalan narator . , sudut pandang, gaya bahasa . , alur cerita . , penokohan . , dan latar cerita . aktu, tempat dan lingkunga. atau setting yang dijelaskan oleh Rhoads dan Michie. 12 Dengan menggunakan metode analisis naratif, dapat ditemukan apa saja peran anak dalam proses pengajaran firman Tuhan. Karena dengan analisis naratif, akan menguraikan kisah bagaimana Israel mengajarkan firman Tuhan kepada anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Naratif Terhadap Ulangan 6:1--9 Kitab Ulangan merupakan pengulangan hukum yang kedua kalinya. Sesuai dengan namanya Deuteronomy yang terdiri dari dua kata yaitu deutero yang artinya AukeduaAy dan nomos yang artinya AuhukumAy. Hal ini terlihat dari Sepuluh Perintah kembali muncul, seperti dalam kitab Keluaran. 13 Peristiwa pembacaan hukum Tuhan yang kedua kalinya, diakibatkan oleh kejahatan umat manusia, yang membuat bangsa Israel dihukum dengan mengembara di padang gurun selama 40 tahun sampai seluruh angkatan lenyap. Angkatan yang baru adalah mereka yang ketika menyeberangi Laut Merah, masih anak-anak pada saat berkemah di Sinai. Karena itu, hampir tidak mengingat apa yang telah terjadi ketika para ayah mereka ketika keluar dari Mesir, dan pasti tidak akan mengingat tentang pembacaan hukum Taurat di Sinai. Berdasarkan hal tersebut. Musa membacakan dan menjelaskan hukum Taurat yang kedua kalinya. 10 Trivena Andrianikus. AuIsrael Atau Pengakuan Iman Yahudi Ulangan 6:4-9 Menjadi Dasar Pengajaran Firman Tuhan Kepada Anak. Teks Ini Berhubungan Erat Dengan Keyakinan Orang Israel Dan Pentingnya Pendidikan Bagi Mereka. ,Ay Jurnal Voive 1 . : 8, https://ojs. id/index. php/teologi/article/view/9/6, https://doi. org/10. 54636/srkfea45. 11 Yudi Handoko and Areyne Christin. AuTantangan Orang Tua Sebagai Pendidik Menurut Ulangan 6:1-9 Dalam Mendidik Iman Anak Dalam Era Digital 4. 0Ay Jurnal Excelsis Deo 8, no. : 196Ae215, https://doi. org/10. 51730/ed. 12 David Rhoads and Donald Michie. Injil Markus Sebagai Cerita: Berkenalan Dengan Narasi Salah Satu Injil (Jakarta: Gunung Mulia, 2. , 11. 13 Pawson. Membuka Isi Alkitab Perjanjian Lama: Kilas Pandang Unik Seluruh Alkitab, 229-230. 14 Pawson, 230. 15 Pawson, 230. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 4 | MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN Karena itulah penulis melihat bahwa dalam proses pengajaran tersebut terdapat peran anak. Pribadi anak juga bagian dari umat Allah, sehingga dalam proses pengajaran, anak-anak tidak dipandang sebagai objek yang pasif, melainkan mereka memiliki peran aktif dalam proses pengajaran firman Tuhan. Hal ini, bisa ditemukan melalui uraian analisis naratif di bawah ini. Narator Seorang narator berfungsi mengendalikan jalannya cerita. Lalu pembaca dapat mengeksplorasi berbagai unsur naratif lainnya. 16 Menghimpun pendapat Rhoads dan Michie mengenai narator, maka teks ini tergolong dalam Aunarator serba tahuAy. 17 Hal ini bisa dilihat pada ayat 1, 4, 6 . isalnya: Auyang aku ajarkanA. yang menunjukkan bahwa narator ikut serta dalam cerita tersebut. Musa membacakan ulang Hukum Taurat kepada generasi baru yang lahir di padang gurun. Sebagian dari mereka masih anak-anak saat menyeberangi Laut Merah dan berkemah di Sinai, sehingga hampir tidak mengingat peristiwa-peristiwa besar, termasuk pembacaan Hukum Taurat. 18 Orang-orang dewasa telah melakukan pemberontakan terhadap hukum Tuhan. Akibat pemberontakan tersebut, mereka pun tidak mengajarkan hukum itu kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, dalam Ulangan 6:1-9. Musa kembali membacakan perintah Tuhan kepada bangsa Israel menjelang akhir hidupnya, agar generasi baru tersebut mengetahui kehendak Allah. Sudut Pandang Sudut pandang merupakan salah satu unsur narasi yang berkaitan erat dengan narator. 20 Sudut pandang adalah aspek krusial yang perlu diperhatikan oleh penulis dalam menyusun sebuah cerita. Dengan memilih sudut pandang yang tepat, pembaca akan lebih mudah memahami alur cerita dan makna yang ingin disampaikan oleh penulis. 21 Sudut pandang dalam Ulangan 6:1-9 diantaranya: . Sudut pandang orang pertama, yang terlihat dari penggunaan kata dalam ayat 1,2,6 Auaku, kuAy 22, . Sudut pandang orang kedua, yang terlihat dari penggunaan kata dalam ayat 1-9 Auengkau, kamu, muAy23, . Sudut pandang orang ketiga, yang terlihat dengan penggunaan kata dalam ayat 1-5 AuTuhanAy. Meskipun dalam Ulangan 6:1-9, hanya Musa yang berbicara dari awal sampai akhir, namun dari beberapa sudut pandang di atas, dapat terlihat interaksi antara sudut pandang orang pertama (Musa sebagai penyampa. , orang kedua . angsa Israel sebagai penerim. , dan orang ketiga (Allah sebagai sumber otorita. yang dapat dilihat dari bingkai Keluaran 20 dan Ulangan 5. Gaya Bahasa Gaya bahasa merupakan cara penulis untuk menyampaikan tuturan dalam karya-karyanya, dengan tujuan menciptakan efek tertentu. Melalui gaya bahasa, penulis dapat memberikan kesan estetik sekaligus membedakan tulisannya dari yang lain. 24 Dalam Ulangan 6:1-9, gaya bahasa yang digunakan adalah bersifat AuperintahAy. Craigie mengatakan bahwa dalam Ulangan 6:1-9, perintah dari Allah disampaikan dalam bentuk pidato kepada umat Israel. 25 Christensen mengatakan bahwa kata-kata ini juga menarik perhatian pada fungsi utama kitab Ulangan dalam kehidupan Israel. 26 Dengan demikian, gaya bahasa yang digunakan Musa dalam Ulangan 6:1-9 ini adalah gaya bahasa yang bersifat perintah. Plot (Alu. Plot merupakan keseluruhan bagian dari sebuah cerita. Dengan menggunakan plot, narator hendak membangkitkan ketertarikan pembaca, sekaligus memberikan makna yang mendalam dari berbagai 16 Elvin Atmaja Hidayat. AuMenggali Relevansi Teologis Berdasarkan Analisis Naratif atas Kisah AoKelahiran SamuelAo dalam 1 Samuel 1:1-28,Ay Diskursus: Jurnal Filsafat dan Teologi 17, no. April . : 83. 17 Rhoads dan Michie. Injil Markus Sebagai Cerita: Berkenalan Dengan Narasi Salah Satu Injil, 39. 18 Rhoads dan Michie, 230. 19 Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab, 45. 20 Petrus Alexander Didi Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci,Ay Melintas 29, 3 . : 347, https://doi. org/10. 26593/mel. 21 Widhia Arum Wibawana. AuPengertian Sudut Pandang: Jenis-Jenis Dan Contohnya Pada Cerpen,Ay detik. com, 2023. 22 Wibawana. 23 Wibawana. 24 Anggi Lestari. AuGaya Bahasa dalam Kumpulan Drama Simbiosa Alina Karya Pringadi Abdi dan Sungging Raga,Ay Jurnal Diksatrasia 2 . : 56, http://dx. org/10. 25157/diksatrasia. 25 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 167. 26 Duanel L. Christensen. Word Bibliical Commentary: Deuteronomy 1-11, ed. John D. Watts (Texas: Word Books Publisher Dallas, 1. , 135. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. DETRIANUS ZAI. SALOMO SIHOMBING. PELITA HATI SURBAKTI | 5 kejadian yang disajikan. Plot dalam Ulangan 6:1-9 dapat dilihat melalui lima unsur yang diungkapkan oleh Marguerat dan Bourquin, yaitu:27 Eksposisi (Situasi Awa. Eksposisi atau yang sering dikenal sebagai situasi awal, juga dikenal sebagai . nciting momen. 28 Situasi awal dalam Ulangan 6:1-9, dimulai dengan kalimat Auinilah perintahAy. Sesungguhnya perintah yang disampaikan pada bagian ini berdasar pada pemberian Hukum Taurat dalam Keluaran 20. Namun, pada bagian ini. Musa mengulangi kembali kisah yang terjadi sebelumnya untuk diceritakan kepada generasi yang akan memasuki tanah perjanjian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Musa berfungsi sebagai perantara antara Allah dan manusia. Dengan demikian, situasi awal atau pengantar dalam Ulangan 6:1-9 yaitu pada ayat 1-3, sebagaimana Craige mengatakan Auketiga ayat ini berfungsi sebagai pengantar menuju bagian penting berikutnya dalam pidato MusaAy. Komplikasi Komplikasi merujuk pada serangkaian usaha atau tahapan dalam penyelesaian konflik yang muncul dalam sebuah narasi. 30 Komplikasi dalam Ul. 6:1-9 terungkap melalui seruan Musa. AuDengarlah, hai orang Israel!Ay, kalimat ini menunjukkan bahwa bangsa Israel kemungkinan tidak sepenuhnya memperhatikan Akan tetapi, dengan seruan AudengarlahAy bisa berhasil menarik perhatian mereka. Menurut Cairns, panggilan ini tampaknya merupakan istilah teknis yang semula dipakai untuk memanggil umat TUHAN agar berkumpul guna bersidang, berperang, atau beribadat. 31 Komplikasi ini mulai mengalami ketegangan ketika Musa berkata pada ayat 3 Aulakukanlah itu dengan setia. Ay Dalam hal ini, tidak mustahil muncul pertanyaan di dalam hati bangsa Israel: AuPerintah dan ketetapan manakah yang harus kami pegang dan perkataan Musa ini? Bagaimana mungkin kami melakukannya jika belum diberitahukan terlebih dahulu apa yang menjadi perintah dan ketetapan Allah?Ay Pernyataan yang disampaikan Musa, tentu membangkitkan rasa ingin tahu yang besar dari umat untuk mengetahui secara jelas apa yang menjadi perintah dan ketetapan Allah yang harus mereka lakukan. Klimaks (Punca. Klimaks merupakan puncak ketegangan masalah yang dihadapi. 32 Klimaks pada Ulangan 6:1-9 terdapat pada ayat 4 dan 5. Ketika suasana dan perhatian bangsa Israel sudah terarah kepada Musa, maka Musa mengulang lagi perkataannya pada ayat 4 Audengarlah, hai IsraelAy. Mendengar disini, bukan hanya sekadar mendengar, melainkan membutuhkan tindakan dari apa yang didengar. 33 Setelah ia berseru dengan panggilan untuk mendengar, ia melanjutkan dengan memperkenalkan TUHAN kepada bangsa Israel AuTUHANlah Allah kita. TUHAN itu esaAy. Kalimat ini merupakan suatu pengakuan iman kepada TUHAN. Allah yang esa. Musa memperkenalkan siapa TUHAN itu, karena kemungkinan sebagian besar dari mereka adalah generasi kedua, yang masih kecil atau bahkan belum lahir ketika peristiwa di Gunung Sinai (Kel. 34 Oleh karena itu, menjelang masuk ke tanah perjanjian, mereka hampir tidak mengenal ajaran hukum Taurat. Hal ini disebabkan oleh ketidaksetiaan orang tua mereka, yang rata-rata memberontak, sehingga tidak satupun dari mereka masuk ke tanah perjanjian, kecuali Yosua dan Kaleb (Bil. 14:29-. Setelah Musa memperkenalkan TUHAN kepada bangsa Israel, ia menyampaikan inti dari perintah Allah pada . Pada bagian inilah muncul pergumulan dalam diri bangsa Israel, mereka harus meninggalkan kebiasaan lama yang sulit, sementara tanah yang dijanjikan sudah terbentang di depan mata. Perintah mengasihi TUHAN dengan segenap hati, berarti menjadikan pusat pikiran dan kemauan, termasuk serangkaian emosi dan kasih sayang. 35 Perintah untuk mengasihi merupakan hal yang utama 27 Daniel Marguerat dan Yvan Bourquin. How to Read Bible Stories: An Introduction to Narrative Criticism (London: SCM Press, 1. ,42-46. Dikutip dalam Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci. , 350Ay 28 Marguerat dan Bourquin, 351. 29 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 167. 30 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci, 351. Ay 31 Cairns. Tafsiran Alkitab: Kitab Ulangan Pasal 1-11, 80. 32 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci", 351. 33 G. Johannes Botterweck. Helmer Ringgren, and Heinz Josef Fabry. Theological Dictionary OF The Old Testament: Volume XV (Michigan: William B. Eerdemans Publishing Company Grand Rapids, 1. , 273. 34 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 168. 35 Woods. Tyndale Old Testament Commentaries (TOTC): Deuteronomy, 136. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 6 | MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN karena perintah ini menyangkut pembaharuan perjanjian dengan Allah yang menuntut ketaatan. 36 Dalam konteks PL penggunaan kata AuhatiAy menunjukkan organ tubuh . , tetapi terutama menggambarkan inti atau pusat kepribadian manusia. 37 Menurut orang Ibrani, manusia merupakan suatu kesatuan psikisfisik. Memang dalam hati manusia pada prinsipnya cenderung pada kelicikan dan kekerasan (Yer. maka oleh karena itu hati perlu dibaharui melalui anugerah Allah (Yer. 38 Mengasihi TUHAN Audengan segenap jiwaAy berarti menundukkan serta mengabdikan segala perasaan dan nafsu keinginan kepada TUHAN, sehingga potensi perasaan manusia menjadi sarana kehendak-Nya. 39 Kata AujiwaAy menunjukkan pada keseluruhan hidup manusia. 40 Dengan Ausegenap kekuatanAy berarti bertindak sekuat tenaga untuk menegakkan hal-hal yang dituntut oleh tora, serta memberantas hal-hal yang dilarang oleh-Nya. 41 Dengan demikian, mengasihi TUHAN, berarti dalam diri umat ada kasih yang menyeluruh bagi Allah yang harus diekspresikan dalam ketaatan yang rela dan penuh sukacita terhadap perintah-perintah Allah. Resolusi Resolusi adalah fase yang simetris dengan komplikasi, dimana tokoh utama berusaha mencari dan menemukan jalan keluar atas masalah yang muncul di awal cerita. 43 Setelah Musa menyampaikan inti perintah itu, ia masuk pada tahap resolusi. Ia memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh pendengarpendengarnya, agar perintah itu tidak hanya sebatas didengar saja, melainkan harus dihidupi. Itulah sebabnya ia berkata di ayat 6-9 Auapa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan. mengajarkannya berulang-ulang. , engkau harus juga mengikatkannya pada tanganmu. Ay. Umat harus merenungkannya sampai pada titik di mana hukum itu dihayati, persis seperti yang dilihat dan didengar. Musa menyampaikan itu, agar ajaran yang dia sampaikan tidak berlalu begitu saja, melainkan ditanamkan di dalam hati. Dengan demikian, perintah Allah ditempatkan di tempat-tempat tersebut sebagai strategi untuk mengingatkan umat agar terus menanamkan firman-Nya dalam hati dan mengajarkannya kepada generasi Konklusi Kesimpulan dalam sebuah narasi merupakan hasil atau lanjutan dari resolusi yang telah disajikan. Dalam Ulangan 6:1-9 menekankan bahwa bangsa Israel dipanggil untuk tidak hanya mengetahui, tetapi juga secara aktif melaksanakan perintah-perintah Allah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal itu, pemahaman yang mendalam terhadap perintah merupakan persyaratan utama sebelum tindakan nyata dilakukan. Ketaatan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban mutlak bagi umat Allah yang akan menempati Tanah perjanjian. Implementasi praktis dari perintah ini terlihat dalam tindakan konkret mereka, seperti menjadikan firman Tuhan sebagai pengingat yang terus menerus hadir melalui simbol-simbol fisik seperti tefilim dan Dengan demikian, inti dari Ulangan 6:1-9 adalah seruan untuk internalisasi firman Allah secara holistik, yang tercermin dalam pikiran, perkataan, dan tindakan sehari-hari, serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Karakter atau Penokohan Karakter merupakan tokoh-tokoh yang memainkan peran penting dalam narasi. 48 Beberapa karakter dalam Ulangan 6:1-9 adalah: 36 Christensen. Word Bibliical Commentary: Deuteronomy 1-11, 143. 37 Cairns. Tafsiran Alkitab: Kitab Ulangan Pasal 1-11, 133. 38 Cairns, 133. 39 Ibid, 134. 40 Browning. Kamus Alkitab. Panduan Dasar Ke Dalam Kitab-Kitab. Tema. Tempat. Tokoh. Dan Istilah Alkitab, 164. 41 Cairns. Tafsiran Alkitab: Kitab Ulangan Pasal 1-11, 134. 42 Woods. Tyndale Old Testament Commentaries (TOTC): Deuteronomy, 136. 43 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci, " 351. 44 Christensen. Word Bibliical Commentary: Deuteronomy 1-11, 144. 45 Christensen, 135. 46 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci," 351. 47 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 170. 48 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci, " 352. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. DETRIANUS ZAI. SALOMO SIHOMBING. PELITA HATI SURBAKTI | 7 Tokoh Fungsionaris Tokoh fungsionaris memiliki peran yang krusial dalam membantu perkembangan plot. Mereka hadir dengan berbagai macam peran yang sangat penting, meskipun mungkin hanya muncul sesaat atau dalam beberapa bagian tertentu saja. 49 Dalam Ulangan 6:1-9, tokoh yang disampaikan yaitu: TUHAN. Tokoh TUHAN dalam teks tidak dijelaskan secara spesifik, kapan Tuhan berbicara kepada Musa. Namun hal ini bisa dilihat dari Keluaran 20, ketika Allah menyampaikan Hukum itu di Gunung Sinai. Berdasarkan hal ini, maka dalam Ulangan 6:1-9. TUHAN berperan sebagai tokoh fungsionaris, karena Allah tidak hadir secara langsung. Namun. Ia sangat berpengaruh dalam alur cerita ini, karena dari pada-Nya sumber perintah yang disampaikan (Kel. Tanpa perintah-Nya, maka Musa juga tidak akan menyampaikan apa-apa terhadap umat. Dengan demikian, ketika Musa berkata Auyang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN. AllahmuAy, ia menunjukkan bahwa perintah yang disampaikannya bukanlah daripadanya, melainkan dari TUHAN. Allah Israel. Musa tetap berada di hadirat Tuhan untuk menerima firman-Nya, dan kemudian keluar untuk mengajarkannya kepada orang Israel secara tertib. Anak-anak dan cucu. Anak-anak digolongkan sebagai tokoh fungsionaris, karena istilah anak dan cucuk disebutkan oleh narator sebagai bagian dari audiensnya, yang menjadi sasaran yang diharapkan menerima dan menginternalisasi ajaran-ajaran TUHAN (Ul. Ketika Musa mengatakan AuEngkau dan anak cucumu. Ay, ini menunjukkan kesetaraan antara orang tua, anak dan cucu. Hal ini, bisa dilihat dari penggunaan kata penghubung AudanAy, kata ini dalam bahasa aslinya A( ic oAANin. yang artinya Audan anakAy, waw selalu melekat pada kata berikutnya. 51 Kata AudanAy merupakan kata penghubung yang digunakan untuk mengaitkan antara dua klausa yang memiliki kedudukan yang sama atau setara. Beberapa hal yang ditegaskan Musa dalam teks ini terhadap seluruh bangsa Israel, termasuk anak dan cucu adalah AuTakut akan Tuhan. Ay. Anak kaliman Autakut akan TuhanAy, dalam bahasa aslinya a AoA u AA . yArA), dalam bentuk Verb Qal Imperfect, dua tunggal dari kata dasar A( o ayar. 53 Fush mengartikan kata ini adalah Augemetar, takutAy. 54 Demokristus mengatakan bahwa gagasan takut akan Tuhan merupakan sumber utama agama. 55 Kata takut akan Tuhan ini adalah sinonim dengan penghormatan, penyembahan, dan kepatuhan terhadap perintah Tuhan. 56 Dengan demikian, takut akan Tuhan bukan hanya kepada orang tua, melainkan kepada seluruh bangsa Israel termasuk anak-anak. Kemudian, kata berpegang dalam bahasa aslinya yaitu AA A( u AliAms. yang merupakan Verb Qal Infinitif dari kata dasar A( Ashama. Auto keep - KJVAy . Kata ini berarti Aumengawasi, menjaga, mengamatiAy59 ini menunjukkan bahwa kata to keep ini mengarah pada setiap ajaran atau perintah yang telah disampaikan Musa. Bangsa Israel harus memperhatikan dan melakukan ajaran itu dengan Dengan kata lain, kata shamar ini merujuk pada tindakan fisik dan orang-orang yang 60 Hal ini, menunjukkan bahwa orang yang berperan di dalamnya bukan hanya para orang tua, melainkan ada juga peran anak dalam memegang ketetapan dan perintah-Nya yang telah disampaikan oleh Musa. Ketika Musa menyuarakan pengakuan akan TUHAN, hal ini menunjukkan Allah kepada bangsa Israel. Audiens yang mendengarkan Musa bukan hanya para orang tua, melainkan ada juga anak-anak. Zobel menekankan bahwa bangsa Israel dalam hal ini bukan hanya kelompok orang tua, karena kata 49 Hidayat. AuMenggali Relevansi Teologis Berdasarkan Analisis Naratif Atas Kisah AoKelahiran SamuelAoDalam 1 Samuel 1:1-28,Ay 89. 50 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 167. 51 Page H. Kelley. Pengantar Tata Bahasa: Ibrani Biblikal (Surabaya: Momentum, 2. , 37. 52 Kanya Anindita Mutiarasari. AuPengertian Konjungsi. Jenis-Jenis. Dan Contoh Kalimatnya,Ay detik. com, 2023, https://news. com/berita/d-6512542/pengertian-konjungsi-jenis-jenis-dan-contoh-kalimatnya. 53 Jay P. Green. The Interlinear Bible: Hebrew-Greek-English (London: Hendrikson, 2. , 159. 54 Fush. Theological Dictionary Of The Old Testement. Volume VI, ed. Johannes Botterweck Ringgren and Helmer Ringgen (Michigan: William B. Eerdemans Publishing Company Grand Rapids, 1. , 291. 55 Demokritus. Rerum Natura, 1161-1240. Dikutip dalam Fush. Theological Dictionary Of The Old Testement Volume VI, ed. Johannes Botterweck Ringgren and Helmer Ringgen, 297. 56 Weiser. Religion und Sittlichkeit der Genesis, 1107. Dikutip dalam Fush. Theological Dictionary Of The Old Testement Volume VI, ed. Johannes Botterweck Ringgren and Helmer Ringgen. 57 Green. The Interlinear Bible: Hebrew-Greek-English, 159. 58 Spiros Zodhiates. The Hebrew-Greek Key Study Bible: King James Version The Old Testament (Iowa: World Bible Publisher, 1. , 252. 59 B. Otterweck. Ringgren, and Fabry. Theological Dictionary OF The Old Testament: Volume XV, 286. 60 Otterweck. Ringgren, and Fabry, 288. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 8 | MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN AuIsraelAy menekankan seluruh bangsa Israel (Ul. 1:1. 11:6. 13:1. 18:6. 31:1,11. 61 Dengan demikian, orang Israel yang mendengarkan pengajaran dari Musa, meliputi seluruh umat Israel, termasuk anak-anak. Perintah ini juga bukan hanya sekadar ajakan untuk mendengar secara fisik, melainkan mengimplikasikan tindakan internalisasi dan ketaatan yang melibatkan seluruh aspek 62 Dalam hal ini, anak-anak turut dipanggil untuk menjadi pendengar aktif yang secara bertahap dibentuk melalui repetisi dan keteladanan. Kemudian, frasa Ayajarkanlah berulang-ulangAy menempatkan anak sebagai subjek utama dari pendidikan iman dalam konteks keluarga Israel. Frasa ini menunjukkan bahwa pengajaran tidak bersifat insidental, melainkan berlangsung secara terus-menerus dan sistematis, yang menandakan adanya tanggung jawab generasional dalam pewarisan ajaran ilahi. Shoct mengatakan bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan orang Israel di Gunung Sinai. Ia tidak hanya membuatnya dengan mereka yang hadir secara fisik pada saat itu, tetapi juga untuk semua generasi yang akan datang. Karena semua umat yang dikatakan umat Allah adalah bagian dari perjanjian itu, dan setiap generasi berkewajiban untuk memastikan bahwa generasi berikutnya juga menerima perintah-perintah itu di dalam hati mereka sendiri. Kemudian, perintah untuk Aymengikatkan dan menuliskannyaAy menunjukkan pentingnya simbolisasi dan visualisasi firman Tuhan dalam kehidupan umat. Nianda mengatakan bahwa visualisasi, seperti gambar, diagram dan grafik dapat membantu peserta didik memahami dan mengingat informasi dengan baik. 64 Dengan demikian, tulisan dan ikatan di tangan, menegaskan bahwa anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi dengan tanda-tanda pengingat akan kehendak Allah, sehingga mereka secara aktif belajar mengenali dan menghidupi nilai-nilai iman sejak Dalam nas ini juga, dapat terlihat bahwa bukan hanya orang tua yang memegang peranan penting dalam meneruskan Auwarisan imanAy kepada anak-anak, tetapi anak-anak juga memiliki peran. Dengan belajar dari orang tua dan memperhatikan dengan saksama apa yang dilakukan oleh orang tua, maka anak-anak kelak akan meneruskan apa yang telah dipelajari tersebut. Round Character Round character adalah sosok yang memiliki kedalaman dan kepribadian yang kompleks, sering kali terlibat dalam konflik, dan bahkan menunjukkan kecenderungan yang saling bertentangan. 66 Dalam Ulangan 6:1-9. Musa berperan sebagai round character. Dalam hal ini. Musa tidak hanya menjalankan fungsi sebagai pemimpin bangsa Israel, tetapi juga berperan penting sebagai pengajar iman dan pembentukan identitas rohani. Ia tidak sekadar menyampaikan perintah Tuhan secara kaku, melainkan menafsirkan dan menekankan pentingnya mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Tokoh Kolektif Tokoh kolektif merupakan sekelompok karakter yang bertindak sebagai entitas dalam cerita. Mereka memiliki ciri-ciri, tujuan dan pengalaman bersama yang mewakili suatu kelompok yang lebih besar. Mereka cenderung sederhana dan mudah ditebak. 68 Dengan demikian, bangsa Israel tergolong dalam tokoh kolektif yang tampil bukan sebagai individu, melainkan sebagai satu kesatuan umat yang menerima perintah dan ajaran dari Tuhan melalui Musa. Tokoh kolektif ini digambarkan sebagai pihak yang dituntut untuk menaati hukum dan perintah Tuhan secara turun-temurun, menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekumpulan individu pada masa itu, tetapi juga mencakup generasi berikutnya. Identitas mereka sebagai umat pilihan Allah ditegaskan melalui panggilan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan . Mereka diminta untuk menyimpan firman Tuhan dalam hati, mengajarkannya kepada anak-anak, dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari . yat 6Ae. Semua ini 61 Zobel. Theological Dictionary Of The Old Testement Volume VI, 416. 62 Marilyn Schott. AuThe Shema (Deut. 6:4-. : Its Significance and Implications for the 21st Century Christian FamilyAy (South African Theological Seminary, 2. , 14. 63 Schott, 16. 64 Nianda. Metode Khusus Meningkatkan Daya Ingat Peserta Didik Berdasarkan Ulangan 6:4-9, 7. 65 Daniel Nuhamara et al. Teologi Anak: Sebuah Kajian (Jakarta: Literatur Perkantas, 2. , 44. 66 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci" 352. 67 Pengertian dan Istilah. AuArti Kolektif Dalam Berbagai Aspek Di Era Modern,Ay kumparan. com, 2023, https://kumparan. com/pengertian-dan-istilah/arti-kolektif-dalam-berbagai-aspek-di-era-modern-21MbCelSMaw/full. 68 Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci," 353. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. DETRIANUS ZAI. SALOMO SIHOMBING. PELITA HATI SURBAKTI | 9 menunjukkan bahwa bangsa Israel tidak dikisahkan secara personal, tetapi sebagai satu entitas bersama yang memiliki tanggung jawab kolektif dalam menjaga dan meneruskan pengajaran. Latar atau Setting Latar cerita dalam sebuah narasi memiliki peran penting. Selain berfungsi sebagai alat simbolis, latar juga membantu pembaca dalam mengenali karakter, menandai konflik yang terjadi, serta menggambarkan struktur narasi itu sendiri. 69 Dalam Ulangan 6:1-9, latarnya adalah: Tempat Latar tempat hanya satu yaitu di seberang sungai Yordan di tanah Moab. Meskipun dalam teks Ulangan 6:1-9 tidak dijelaskan secara eksplisit, namun dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa sebelumnya (Bil 33:. Ketika mereka sampai di tepi sungai Yordan di dataran Moab. Allah memerintahkan Musa untuk berbicara kepada orang Israel (Bil. 33:50-. Itulah sebabnya Musa mulai menguraikan Hukum Taurat kepada bangsa Israel (Ul. Dengan demikian, perintah ini disampaikan di dataran Moab, di tepi Sungai Yordan, sebab Musa tidak diperkenankan menyeberangi sungai tersebut menuju tanah perjanjian. Waktu Latar waktu dari Ulangan 6:1-9 terletak pada masa transisi, yakni menjelang akhir kehidupan Musa dan sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian. Secara kronologis, bagian ini termasuk dalam rangkain pidato perpisahan Musa yang disampaikan pada tahun keempat puluh setelah keluar dari Mesir . Ul. Dengan demikian, pemberian hukum ini kepada bangsa Israel terjadi pada masa akhir kehidupan Musa, ketika ia berusia sekitar 120 tahun (Ul. 31:1-. Lingkungan Latar lingkungan, mencerminkan situasi kehidupan bangsa Israel yang sedang berada dalam masa transisi dari komunitas nomaden di padang gurun menuju kehidupan menetap di tanah yang dijanjikan. Lingkungan sosial umat saat itu sedang mengalami pergeseran, dari struktur masyarakat yang bergantung pada penyertaan Allah secara langsung, menuju lingkungan yang akan ditandai oleh kemapanan, kelimpahan materi, dan sistem sosial yang lebih stabil (Ul 6:. Dalam konteks itulah Musa menyampaikan perintah-perintah Tuhan, agar umat Israel tidak terjebak dalam rasa aman palsu dan melupakan identitas Oleh sebab itu, latar lingkungan ini menjadi dasar pentingnya internalisasi hukum Tuhan di dalam kehidupan keluarga, terutama melalui pengajaran yang berulang-ulang dan simbolik kepada anak-anak, supaya iman tetap diteruskan ditengah-tengah perubahan sosial yang besar. Tawaran Biblikal Terhadap Peran Anak Dalam Ulangan 6:1-9 Peran Anak dalam Rangka Proses Pengajaran Firman Tuhan Dalam proses pengajaran firman Tuhan, seringkali anak-anak dianggap hanya sebagai penerima Namun setelah menganalisis Ulangan 6:1-9 dengan pendekatan analisis naratif, maka ada beberapa peran anak dalam proses pengajaran firman Tuhan yaitu: Anak-anak Berperan untuk Mendengar Dalam pengajaran firman Tuhan, anak bukan sekadar penerima pasif, melainkan memiliki peran aktif yang dimulai dari mendengar. Mendengar di sini bukan hanya menyimak suara, tetapi melibatkan pemahaman, ketaatan, dan tindakan. Ketika anak diajak mendengar firman Tuhan, mereka sebenarnya diajak masuk dalam relasi yang hidup dengan kebenaran Allah. Mendengar menjadi pintu awal bagi anak untuk mengenal Allah. Dalam keluarga Israel kuno, anak mendengar firman setiap hari dari orang tua mereka saat duduk, berjalan, dan berbaring (Ul. yang menandakan bahwa mendengar adalah bagian dari hidup sehari-hari, bukan hanya aktivitas di tempat ibadah. Karena itu, mendengar firman harus dipandang sebagai bagian dari pertumbuhan rohani aktif, bukan sekadar pengulangan kata tanpa makna. Anak-Anak Berperan untuk Menyimak dan Menanamkan Firman Tuhan dalam Hati Menyimak merupakan bagian dari pendengaran, namun menyimak lebih kepada pendengaran dengan sungguh-sungguh apa yang diucapkan atau yang dibaca oleh orang lain. 70 Dalam Ulangan 6:6-7, 69 Hidayat. AuMenggali Relevansi Teologis Berdasarkan Analisis Naratif Atas Kisah AoKelahiran SamuelAo dalam 1 Samuel 1:1-28,Ay 93. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 10 | MENEMUKAN PERAN ANAK DALAM RANGKA PROSES PENGAJARAN FIRMAN TUHAN Tuhan memerintahkan agar firman-Nya diperhatikan dan diajarkan terus menerus kepada anak-anak, baik ketika duduk, berjalan, berbaring, maupun bangun. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak diharapkan untuk tidak hanya hadir, tetapi juga juga menyimak secara aktif dan menanamkan firman Tuhan dalam hati di setiap proses pengajaran firman Tuhan. 71 Melalui perhatian yang sungguh-sungguh terhadap firman, anak-anak mulai memahami siapa Allah itu, apa kehendak-Nya, dan bagaimana mereka seharusnya hidup di hadapan-Nya. Anak-Anak Berperan untuk Mencari Pengetahuan Mencari pengetahuan adalah salah satu hal yang penting dalam proses pengajaran firman Tuhan. Ketika anak-anak melihat ikatan di tangan dan lambang di dahi serta tulisan di pintu rumah dan pintu gerbang, dapat membuat anak-anak mencari tahu apa makna dari lambang tersebut. Dalam hal ini, anakanak memiliki peran untuk bertanya kepada orang dewasa yang sudah memahami apa makna dari lambanglambang tersebut, sehingga proses pengajaran pun terjadi antara kedua belah pihak antara pengajar dan Itulah sebabnya juga dikatakan dalam Ulangan 6:7, yang menunjukkan bahwa anak-anak berperan aktif dalam bertanya, berdiskusi dan berdialog kepada orang-orang dewasa. Anak-Anak Berperan Sebagai Generasi Penerus Anak-anak memegang peranan yang sangat penting dalam kesinambungan pewarisan iman yang telah diajarkan oleh Musa. Susanto berkata bahwa anak-anak berperan untuk memahami dan mengamati kehidupan keseharian keluarga sendiri. 72 Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak bukan hanya sebagai penerima pasif dari ajaran firman Tuhan, melainkan juga sebagai pihak yang dipersiapkan untuk menjadi pewaris nilai-nilai keagamaan di masa yang akan datang. Penerapan dalam Konteks Keluarga dan Gereja Masa Kini Dengan memahami Ulangan 6:1-9, hal ini menjadi bagian yang sangat mungkin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan yang paling efektif dan mendalam adalah melalui keluarga dan gereja. Penerapan dalam konteks keluarga dan gereja dapat dilakukan melalui hal-hal berikut ini: Pengajaran Melalui Teladan Menjadi teladan berarti menjadi contoh dari pengajaran yang diajarkan. Dengan demikian, orang tua perlu memahami dengan sungguh-sungguh iman kristiani dan praktik atau kebiasaan di dalam gereja, agar sanggup mengajarkan semuanya kepada anak-anak mereka. Orang tua perlu mengajarkan cara hidup mereka melalui kata-kata dan teladan sebagai pengikut Yesus Kristus bagi anak-anak. Teladan tersebut ada untuk membangun kerohanian yang baik di dalam keluarga. Pengajaran Secara Lisan Secara jelas disampaikan bahwa pengajaran dilakukan secara berulang-ulang dan membicarakannya sampai anak tersebut benar-benar memahaminya (Ul. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengemas pembicaraan mengenai firman Tuhan secara menarik dan menyenangkan. Memanfaatkan waktu yang berkualitas dalam lingkup keluarga menjadi sarana strategi untuk membangun komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Pengajaran melalui Alat Peraga Pengajaran bukan hanya melalui lisan, tetapi juga tulisan dan tanda-tanda (Ul. 6:8-. Musa mengusulkan Israel untuk mengikatkan perintah dan ketetapan itu di tangan dan menjadi lambang di dahi mereka, dan juga suatu tulisan di pintu rumah dan tiang pintu gerbang kota sebagai pengingat akan firman Tuhan. Dalam tradisi Yahudi, perintah ini telah diwujudkan dalam tanda-tanda pada tubuh, pintu rumah, dan pintu gerbang. Alat peraga yang bisa digunakan dalam pengajaran firman Tuhan, bisa melalui buku- 70 Nasioanal. KBBI, 903. 71 Craigie. The New International Commentary On The Old Testament: The Book Of Deuteronomy, 170. 72 Craigie, 148. 73 Charles M. Sell. Family Ministry (Michigan: Zondervam Publishing House, 1. , 88. 74 Sell, 152. Copyright . 2025 Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. DETRIANUS ZAI. SALOMO SIHOMBING. PELITA HATI SURBAKTI | 11 buku, dalam bentuk lukisan atau gambar, kaset audio, video, film, atau alat peraga lainnya seperti boneka dan lain sebagainya. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Ulangan 6:1Ae9 tidak hanya menempatkan anak sebagai penerima pasif ajaran iman, tetapi sebagai bagian integral dari komunitas perjanjian yang dipanggil untuk menginternalisasi dan meneruskan firman Tuhan. Melalui analisis naratif dan eksegesis, teridentifikasi bahwa meskipun teks menonjolkan peran orang tua sebagai agen utama pendidikan iman, terdapat struktur pedagogis yang secara implisit mengandaikan keterlibatan aktif anak dalam proses pembelajaran dan pewarisan iman. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa fungsi pedagogis anak dalam Ulangan 6:1-9 bersifat partisipatif, bukan hanya reseptif. Anak bukan sekadar objek pengajaran, tetapi calon pewaris iman yang dipersiapkan untuk berkontribusi pada kesinambungan tradisi iman melalui pengalaman hidup sehari-hari yang ditandai simbol-simbol, pengulangan, dan pembiasaan rohani. Implikasi bagi konteks pendidikan iman kontemporer khususnya dalam keluarga Kristen adalah perlunya pendekatan yang holistik dan partisipatif, di mana anak terlibat secara aktif dalam praktik iman keluarga melalui dialog, pembiasaan spiritual, dan keteladanan. Pendekatan ini memperkuat formasi iman anak sekaligus meningkatkan resiliensi spiritual keluarga dalam menghadapi dinamika sosial yang makin Dengan demikian, penelitian ini menegaskan kembali urgensi menjadikan firman Tuhan sebagai pusat kehidupan keluarga dan memperlakukan anak sebagai subjek penting dalam regenerasi iman yang berakar kuat pada teks dan relevan bagi tantangan masa kini. DAFTAR PUSTAKA