1341 J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 GERAKAN LITERASI REMAJA MELALUI SOSIALISASI DAN BEDAH NOVEL ANAK RANTAU DI SMP NEGERI 10 MEDAN Oleh Lestari Dara Cinta Utami GintingA. Lila Pelita HatiA. Intan ErwaniA, dan Vivi Adryani NasutionA A,A,A,A Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sumatera Utara E-mail: lestaridaracinta@usu. Article History: Received: 19-08-2025 Revised: 18-09-2025 Accepted: 22-09-2025 Keywords: Youth Literacy. Community Service. Novel Review. SMP Negeri 10 Medan Abstract: The literacy culture among teenagers still faces serious challenges, indicated by the declining interest in reading at schools. This community service activity aims to increase studentsAo reading interest through literacy socialization and a novel review of Anak Rantau by Ahmad Fuadi. The program was held on August 4, 2025 at SMP Negeri 10 Medan, involving 40 students accompanied by teachers and supported by Taman Baca Spirit Medan. The methods used were interactive lectures, discussions, quizzes, and literary Evaluation was conducted by distributing 34 questionnaires to participants. The results showed that 88% of students felt more motivated to read, 85% considered the material easy to understand, 82% found the novel relevant to teenage life, 78% were active in discussions, and 92% stated that the program was useful for school literacy programs. In conclusion, literaturebased literacy programs are effective in fostering reading motivation while instilling cultural values in junior high school PENDAHULUAN Literasi merupakan fondasi penting dalam perkembangan individu maupun kemajuan bangsa. UNESCO . menekankan bahwa kemampuan membaca adalah keterampilan dasar sekaligus gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas hidup. Namun, menurut Kemendikbud . , indeks aktivitas literasi membaca masyarakat Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain. Fenomena rendahnya minat baca juga terlihat di kalangan pelajar SMP. Banyak siswa lebih tertarik pada gawai dan hiburan digital ketimbang buku bacaan. Padahal, usia remaja adalah masa kritis pembentukan karakter dan kebiasaan literasi. Jika tidak segera ditangani, rendahnya minat baca akan berdampak pada daya pikir kritis, prestasi akademik, serta kualitas sumber daya manusia. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk membantu mengatasi masalah ini. Oleh karena itu. Tim Pengabdian Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU menginisiasi program Gerakan Literasi Remaja di SMP Negeri 10 Medan. Kegiatan ini menekankan sosialisasi literasi dan bedah novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi. Novel ini dipilih karena sarat nilai budaya Minangkabau dan relevan dengan pengalaman remaja. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 METODE Gambar 1. Denah Lokasi Tempat Pelaksanaan Pengabdian Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada 4 Agustus 2025 di Aula T. Amir Ridwan. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, dengan melibatkan 40 siswa SMP Negeri 10 Medan serta guru pendamping. Mitra kegiatan adalah Taman Baca Spirit Medan yang berperan dalam menyediakan dukungan bacaan serta kolaborasi program literasi. Sebelum pelaksanaan, tim pengabdian melakukan sejumlah persiapan berupa rapat internal untuk membagi tugas dan menyusun jadwal kegiatan, dilanjutkan dengan audiensi bersama pihak sekolah dan mitra. Pada tahap ini, tim juga menyiapkan materi sosialisasi dalam bentuk presentasi interaktif dan leaflet literasi, serta memilih novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi sebagai bahan utama bedah buku karena dianggap relevan dengan dunia Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sosialisasi literasi yang disampaikan dalam bentuk ceramah interaktif. Penyampaian materi dilengkapi dengan kuis dan ice breaking untuk menjaga antusiasme siswa. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan sesi bedah novel, di mana pembedah buku mengajak siswa menganalisis tokoh, konflik, pesan moral, serta nilai budaya yang terkandung dalam cerita. Diskusi dan tanya jawab dilakukan secara terbuka sehingga siswa berkesempatan menyampaikan pendapat mereka tentang isi bacaan. Di akhir kegiatan, tim pengabdian menyerahkan sumbangan buku kepada pihak sekolah dan Taman Baca Spirit Medan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, tim menyebarkan kuesioner kepada 34 siswa peserta. Instrumen ini menilai aspek-aspek penting, yaitu sejauh mana kegiatan mampu meningkatkan motivasi membaca, pemahaman materi, relevansi novel dengan kehidupan remaja, keaktifan diskusi, serta manfaat kegiatan bagi program literasi sekolah. HASIL DAN PEMBAHASAN Antusiasme Peserta Kegiatan sosialisasi dan bedah novel Anak Rantau mendapat sambutan hangat dari siswa-siswi SMP Negeri 10 Medan. Sejak registrasi hingga acara penutupan, peserta menunjukkan ketertiban, kerapian, dan kesopanan yang mencerminkan kesiapan mereka mengikuti kegiatan. Para siswa duduk dengan tenang namun penuh perhatian, menandakan rasa ingin tahu yang besar terhadap materi yang disampaikan. Antusiasme siswa tampak jelas pada beberapa momen penting. Saat kuis literasi dilaksanakan, hampir semua siswa berebut ingin menjawab pertanyaan, bahkan ada yang ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 maju ke depan kelas tanpa diminta. Suasana menjadi hidup dan interaktif, berbeda dengan pembelajaran formal sehari-hari yang cenderung satu arah. Guru pendamping mengakui bahwa metode penyampaian yang digunakan tim pengabdian mampu memotivasi siswa lebih aktif daripada pembelajaran rutin di kelas. Pada sesi bedah novel, beberapa siswa terlihat mencatat poin-poin penting dari paparan pembedah buku. Mereka menanggapi isi cerita dengan mengaitkannya pada pengalaman pribadi, misalnya tantangan menjaga hubungan pertemanan atau menghadapi perbedaan budaya. Siswa perempuan lebih banyak menyoroti pesan moral tentang pentingnya komunikasi dengan orang tua, sementara siswa laki-laki tertarik pada keberanian tokoh Hepi dalam menghadapi lingkungan baru. Testimoni yang ditulis siswa di kuesioner memperkuat pengamatan ini. Ada siswa yang menuliskan. AuSaya jadi ingin membaca novel lain setelah acara ini,Ay sementara siswa lain menuliskan. AuBedah buku membuat saya lebih paham isi cerita daripada hanya membaca Ay Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi berbasis partisipasi kolektif mampu meningkatkan pemahaman sekaligus menumbuhkan kegembiraan dalam membaca. Selain siswa, guru pendamping juga menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi ikut aktif mendengarkan, mencatat, bahkan beberapa kali mengajukan pertanyaan dalam diskusi. Seorang guru Bahasa Indonesia menyampaikan bahwa metode bedah novel yang dilakukan tim pengabdian memberi inspirasi untuk pembelajaran sastra di kelas. Guru tersebut menilai, dengan pendekatan diskusi dan analisis yang disertai kuis serta contoh konkret, siswa lebih mudah memahami isi bacaan dibandingkan metode ceramah konvensional. Bahkan ada guru yang mengusulkan agar kegiatan serupa diadakan secara rutin sebagai program kolaborasi antara universitas dan sekolah. Secara keseluruhan, antusiasme siswa dan guru pendamping memperlihatkan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberi manfaat akademik, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Antusiasme inilah yang menjadi modal penting dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan remaja serta memperkuat kerja sama sekolahAe universitas dalam bidang literasi. Gambar 2. Ketua Tim Pengabdian. Lestari Dara Cinta Utami Ginting. memberikan sosialiasi meningkatkan minat baca siswa-siswi SMP Negeri 10. Medan Gambar 2. Pembedah Novel. Sarmilah Aini sedang bercerita tentang Novel AuAnak RantauAy http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Gambar 3 Kajian tentang Novel Anak Rantau Novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi dipilih karena sarat pesan moral dan nilai Tokoh utama Hepi digambarkan sebagai remaja yang mengalami konflik keluarga, keterasingan, serta proses pencarian jati diri. Situasi ini sangat dekat dengan kehidupan remaja SMP yang sedang berada pada fase perkembangan identitas diri. Hepi dipaksa meninggalkan kenyamanan Jakarta untuk tinggal di kampung halaman ayahnya di Minangkabau. Dari pengalaman ini, ia belajar arti keluarga, keberanian, persahabatan, dan kearifan lokal. Cerita ini relevan dengan siswa SMP karena menampilkan dilema yang akrab bagi mereka: hubungan dengan orang tua, persahabatan, dan tantangan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dibandingkan dengan novel remaja lain seperti Negeri 5 Menara atau Bulan karya Tere Liye. Anak Rantau lebih kuat menekankan nilai budaya lokal. Dengan demikian, novel ini bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan karakter dan penanaman identitas kebangsaan. Hasil Kuesioner Evaluasi kegiatan dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 34 siswa peserta. Instrumen kuesioner disusun dengan lima indikator utama: . peningkatan minat baca, . pemahaman dan ketertarikan terhadap materi, . relevansi novel dengan kehidupan remaja, . partisipasi dalam diskusi, dan . manfaat kegiatan bagi program literasi sekolah. Hasil analisis menunjukkan bahwa 88% siswa menyatakan kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi membaca mereka. Persentase yang tinggi ini menandakan bahwa kegiatan literasi berbasis sastra mampu memantik semangat membaca, terutama karena dikemas dengan cara yang menyenangkan. Beberapa siswa menuliskan komentar positif, seperti AuSaya jadi ingin membaca novel lain karya Ahmad FuadiAy atau AuSebelumnya saya jarang baca buku, sekarang lebih semangat. Ay Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat memicu perubahan sikap siswa terhadap kebiasaan membaca. ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Indikator kedua, yaitu materi mudah dipahami dan menarik, mendapat respons positif dari 85% responden. Angka ini memperlihatkan bahwa penyampaian materi dengan menggunakan media visual, kuis, dan diskusi kelompok berhasil membuat siswa merasa lebih mudah mencerna pesan literasi. Metode interaktif terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah satu arah yang biasa mereka alami di kelas. Pada indikator ketiga, 82% siswa menyatakan novel Anak Rantau relevan dengan kehidupan remaja. Banyak siswa mengaku merasa dekat dengan tokoh utama Hepi yang digambarkan harus menghadapi konflik keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini menegaskan bahwa bahan bacaan yang sesuai dengan konteks usia dan pengalaman pembaca akan lebih efektif dalam membangun minat literasi. Indikator keempat, yaitu diskusi mendorong partisipasi aktif, memperoleh persentase 78%. Meskipun angka ini relatif tinggi, namun lebih rendah dibanding indikator Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih bersikap pasif dalam diskusi. Beberapa faktor penyebabnya antara lain rasa malu berbicara di depan umum atau belum terbiasa mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, strategi ke depan adalah memperkaya variasi metode, misalnya dengan lomba resensi, penulisan jurnal membaca, atau role play berbasis cerita novel. Indikator terakhir, yaitu manfaat kegiatan bagi program literasi sekolah, memperoleh persentase tertinggi, yakni 92%. Angka ini menunjukkan bahwa baik siswa maupun guru menganggap kegiatan ini bukan sekadar acara sesaat, tetapi sangat relevan dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan pemerintah. Guru pendamping bahkan menyampaikan bahwa model kegiatan seperti ini dapat dijadikan program rutin untuk menumbuhkan budaya baca di sekolah. Secara umum, hasil kuesioner memperlihatkan bahwa kegiatan sosialisasi dan bedah novel mampu meningkatkan motivasi membaca, mempermudah pemahaman materi literasi, memperlihatkan relevansi bacaan dengan kehidupan remaja, serta memperkuat program literasi sekolah. Walaupun partisipasi diskusi masih perlu ditingkatkan, hasil ini sudah cukup menjadi bukti bahwa program literasi berbasis sastra efektif dan layak dikembangkan lebih Tabel 1. Rekapitulasi hasil kuesioner . Indikator Persentase Positif Kegiatan meningkatkan minat baca Materi mudah dipahami dan menarik Novel relevan dengan kehidupan remaja Diskusi mendorong partisipasi aktif Kegiatan mendukung program literasi sekolah http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Grafik 1. Hasil Kuesioner Analisis Pembahasan Data kuantitatif dari kuesioner yang menunjukkan angka positif di atas 75% pada setiap indikator memperlihatkan efektivitas program. Namun, yang lebih penting dari sekadar angka adalah bagaimana data tersebut ditafsirkan dalam konteks perkembangan literasi remaja. Menurut teori literasi UNESCO . , kegiatan membaca akan lebih berhasil apabila pembaca menemukan keterkaitan langsung antara teks dengan kehidupan seharihari mereka. Hal ini tercermin pada indikator relevansi novel, di mana 82% siswa merasa kisah Anak Rantau dekat dengan pengalaman mereka. Novel yang dipilih bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga menjadi medium refleksi diri bagi siswa. Selain itu, temuan bahwa 88% siswa merasa lebih termotivasi membaca menunjukkan bahwa literasi dapat ditumbuhkan melalui metode partisipatif. Siswa tidak sekadar mendengar ceramah, melainkan ikut serta dalam diskusi, kuis, dan permainan. Pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif membuat literasi terasa menyenangkan, bukan beban. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliani & Lubis . yang menyebutkan bahwa penggunaan metode kreatif dapat meningkatkan antusiasme literasi Keterlibatan guru dalam kegiatan juga memberi dimensi tambahan. Guru bukan hanya pendamping, tetapi juga pengamat yang secara langsung dapat membandingkan efektivitas metode ini dengan metode mengajar konvensional. Dengan demikian, program pengabdian ini bukan sekadar sekali kegiatan, tetapi dapat memicu transformasi pendekatan pembelajaran literasi di sekolah. Testimoni Siswa Testimoni siswa memberikan warna kualitatif yang memperkuat temuan kuantitatif. Beberapa siswa menuliskan komentar seperti: A AuSaya jadi ingin membaca novel lain setelah acara ini. Ay A AuBedah buku membuat saya lebih paham isi cerita daripada hanya membaca sendiri. Ay A AuSeru sekali, apalagi ada kuis dan diskusi kelompok. Ay Komentar ini mencerminkan tiga hal penting. Pertama, kegiatan berhasil memicu rasa ingin tahu . yang menjadi inti dari budaya literasi. Kedua, kegiatan literasi berbasis diskusi memperlihatkan bahwa pemahaman lebih dalam dapat dicapai apabila siswa diajak membicarakan isi bacaan, bukan sekadar membacanya secara individual. Ketiga, adanya kuis ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 dan ice breaking menambah unsur hiburan sehingga literasi tidak dipandang sebagai kegiatan kaku. Testimoni siswa juga memperlihatkan adanya perbedaan perspektif antara siswa laki-laki dan perempuan. Siswa laki-laki cenderung menyoroti aspek petualangan tokoh Hepi, sementara siswa perempuan lebih menekankan pada nilai moral seperti komunikasi dengan orang tua. Perbedaan ini menunjukkan bahwa novel mampu menjadi ruang refleksi yang berbeda-beda bagi tiap individu, sesuai dengan kebutuhan psikologis dan sosial Testimoni Siswa dan Guru Testimoni siswa memperkuat data kuantitatif. Siswa menyampaikan bahwa mereka merasa lebih termotivasi untuk membaca novel lain, lebih paham isi cerita setelah berdiskusi, dan menikmati suasana belajar yang tidak membosankan. Siswa laki-laki cenderung menyoroti aspek petualangan tokoh Hepi, sedangkan siswa perempuan lebih fokus pada pesan moral tentang keluarga. Guru pendamping juga menilai kegiatan ini bermanfaat. Seorang guru Bahasa Indonesia menyatakan bahwa metode bedah buku yang interaktif bisa diadaptasi dalam pembelajaran sastra. Guru lain menekankan bahwa kegiatan ini membantu siswa yang biasanya pasif menjadi lebih berani menyampaikan pendapat. Testimoni dari guru ini menegaskan bahwa kegiatan tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga memberikan inspirasi bagi tenaga pendidik. Dampak Kegiatan Dampak kegiatan dapat dilihat pada tiga level yaitu siswa, guru, dan institusi mitra. Dampak bagi siswa: Peningkatan motivasi membaca secara langsung terlihat dari antusiasme mereka terhadap novel dan keinginan membaca karya sastra lainnya. Siswa lebih berani berbicara di forum terbuka, meskipun sebagian masih perlu dilatih untuk lebih aktif. Nilai budaya yang mereka serap dari novel Anak Rantau menambah wawasan mengenai kearifan lokal Indonesia, sekaligus menumbuhkan sikap menghargai Dampak bagi guru: o Guru mendapatkan inspirasi untuk mengadaptasi metode bedah buku dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. o Guru menyadari bahwa metode interaktif lebih efektif dibandingkan ceramah o Kegiatan ini memberi peluang bagi guru untuk melihat potensi siswa yang sebelumnya kurang terlihat dalam kelas formal. Dampak bagi mitra dan sekolah: o Taman Baca Spirit Medan mendapatkan tambahan koleksi buku serta jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi. o SMP Negeri 10 Medan memperoleh model program literasi yang dapat diintegrasikan dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS). o Kegiatan ini memperkuat citra sekolah sebagai institusi yang mendukung budaya baca dan mampu bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 Secara lebih luas, kegiatan ini juga berdampak pada penguatan peran universitas sebagai agen perubahan sosial. Dengan terjun langsung ke sekolah, perguruan tinggi tidak hanya menyalurkan ilmu, tetapi juga membangun jejaring sosial dan budaya literasi yang PENUTUP Kesimpulan Kegiatan Gerakan Literasi Remaja: Sosialisasi dan Bedah Novel Anak Rantau di SMP Negeri 10 Medan membuktikan bahwa pendekatan literasi berbasis sastra dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan motivasi baca remaja. Berdasarkan hasil kuesioner, lebih dari 80% siswa memberikan respon positif terhadap hampir semua indikator, dengan capaian tertinggi pada aspek manfaat bagi program literasi sekolah . %). Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memberi kontribusi signifikan terhadap penguatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Dari segi akademik, kegiatan ini memperlihatkan bahwa literasi tidak dapat dipisahkan dari konteks budaya. Novel Anak Rantau menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas kehidupan remaja sekaligus mengandung nilai budaya Minangkabau yang memperkaya pemahaman siswa tentang keragaman Indonesia. Tokoh Hepi menjadi cermin bagi siswa dalam menghadapi konflik identitas, hubungan keluarga, dan pencarian jati diri, sehingga kegiatan bedah buku tidak hanya meningkatkan keterampilan membaca, tetapi juga mendorong refleksi diri. Antusiasme siswa, partisipasi aktif guru, serta dukungan mitra komunitas literasi menegaskan bahwa pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi dapat menciptakan dampak Secara lebih luas, kegiatan ini juga memperkuat peran universitas sebagai agen transformasi sosial yang berkontribusi pada pembangunan pendidikan dan kebudayaan di tingkat lokal. Saran Berdasarkan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan, beberapa saran dapat diajukan untuk keberlanjutan program: Untuk Siswa: o Membiasakan diri membaca tidak hanya ketika ada tugas sekolah, tetapi juga sebagai aktivitas sehari-hari untuk hiburan, refleksi, dan pengayaan diri. o Membuat jurnal membaca atau resensi sederhana setelah menyelesaikan sebuah buku agar keterampilan literasi produktif ikut berkembang. Untuk Guru dan Sekolah: o Mengintegrasikan metode bedah buku atau diskusi bacaan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia maupun kegiatan ekstrakurikuler literasi. o Menambah koleksi bacaan populer di perpustakaan sekolah, termasuk novel remaja kontemporer yang relevan dengan pengalaman siswa. o Menyelenggarakan kegiatan literasi secara rutin, misalnya lomba resensi, pojok baca, atau kelas menulis kreatif. Untuk Mitra (Taman Baca Spirit Meda. o Terus mendukung sekolah dengan menyediakan bacaan bermutu, sekaligus ISSN: 2797-9210 (Prin. | 2798-2912(Onlin. http://bajangjournal. com/index. php/J-ABDI J-Abdi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 5 Oktober 2025 menjadi ruang alternatif bagi siswa untuk berinteraksi dengan komunitas literasi di luar sekolah. o Mengembangkan program kolaborasi lintas sekolah untuk memperluas dampak gerakan literasi di Medan. Untuk Tim Pengabdian dan Perguruan Tinggi: o Melakukan monitoring dan evaluasi jangka panjang terhadap perubahan minat baca siswa setelah kegiatan. o Mengembangkan program lanjutan berupa workshop menulis kreatif, pendampingan literasi digital, serta publikasi karya siswa. o Menyebarluaskan hasil kegiatan melalui publikasi ilmiah dan media massa agar menjadi best practice yang dapat direplikasi di sekolah lain. Dengan tindak lanjut yang terstruktur, kegiatan pengabdian ini diharapkan tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi juga memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap peningkatan kualitas literasi remaja, penguatan identitas budaya, dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, khususnya kepada Dekan FIB USU. Dr. Thyrhaya Zein. , beserta para Wakil Dekan yang telah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pengabdian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada pihak SMP Negeri 10 Medan sebagai mitra kegiatan. Taman Baca Spirit Medan yang turut berkolaborasi dalam mendukung gerakan literasi, serta mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah FIB USU yang berperan aktif dalam pendampingan teknis selama kegiatan berlangsung. Ucapan terima kasih ini menjadi bentuk penghargaan atas dukungan, kerja sama, dan sinergi semua pihak, sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan budaya literasi di kalangan remaja. DAFTAR PUSTAKA