SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen ISSN: 2722-8851 . , 2722-886X . Volume 6. No 2. Desember 2025. DOI: 10. 34307/sophia. Available at: http://sophia. iakn-toraja. Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 dari Perspektif Kepemimpinan dan Implikasinya dalam Pelayanan Misi Fandy Mulya Latif1. Samuel Herman2 1City Harvest School of Theology Singapore. Singapore. Singapore 2Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung. Bandung. Indonesia fandy121979@gmail. Article History Received 25 April 2025 Revised 01 November 2025 Accepted 02 November 2025 Abstract: This article analyzes the conflict between Paul and Barnabas in Acts 15:36Ae 41 as a leadership dynamic that reflects the tension between grace and responsibility in early church ministry. This study demonstrates that conflict is not merely an obstacle but can serve as a means of character formation, mission expansion, and the development of church leadership. Using a theological and narrative approach, the article explores practical lessons and missiological implications relevant to contemporary ministry. Keywords: Paul and Barnabas, grace, church leadership, ministry conflict, responsibility Abstrak: Artikel ini menganalisis konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 sebagai dinamika kepemimpinan yang mencerminkan ketegangan antara kasih karunia dan tanggung jawab dalam pelayanan gereja mulamula. Studi ini menunjukkan bahwa konflik bukan hanya hambatan, melainkan dapat menjadi sarana pembentukan karakter, perluasan misi, dan pengembangan kepemimpinan gereja. Dengan pendekatan teologis dan naratif, artikel ini menggali pelajaran praktis dan implikasi misiologis yang relevan bagi pelayanan kontemporer. Kata Kunci: Paulus dan Barnabas, kasih karunia, kepemimpinan gereja, konflik pelayanan, tanggung jawab Pendahuluan Konflik dalam pelayanan gereja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dinamika misi dan kepemimpinan, sebagaimana juga dialami oleh Paulus dalam berbagai Dalam beberapa suratnya. Paulus menyinggung ketegangan yang muncul dalam tubuh Kristus sebagai bagian dari proses pertumbuhan iman dan pemurnian motivasi pelayanan . Kor. 1:10Ae. Hal ini menunjukkan bahwa konflik bukanlah fenomena asing bagi gereja, melainkan realitas yang dapat dipakai Allah untuk memperdalam pemahaman rohani dan membentuk karakter para pelayan-Nya. Salah satu contoh yang menonjol dalam Alkitab adalah perselisihan antara dua tokoh penting. Paulus dan Barnabas, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15:36-41. Perselisihan ini bukan hanya sekadar perdebatan mengenai pilihan mitra misi, tetapi juga mencerminkan pergumulan teologis dan relasional yang lebih dalam, yang berhubungan dengan prinsip- This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 0 International (CC BY-SA 4. CopyrightA2025. Authors,| 133 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. prinsip dasar dalam menjalankan misi dan pelayanan gereja. Retorika naratif yang digunakan Lukas menunjukkan adanya ketegangan antara dua prioritas pelayanan yang Di satu sisi. Paulus menonjol dengan kekhawatiran akan pemeliharaan standar misi yang mencakup aspek komitmen, keandalan dalam tugas, dan konsistensi teologis. Di sisi lain. Barnabas memperlihatkan orientasi pada pemulihan personal dan pemberian kesempatan kedua melalui pendekatan pastoral yang restoratif, yang memberi ruang bagi rehabilitasi dan reintegrasi seseorang ke dalam pelayanan. Konflik ini, meskipun terlihat negatif, menyimpan pelajaran penting dari sisi praktis, teologis, dan strategis dalam pengembangan pelayanan dan karakter pemimpin gereja. Secara psikologis, konflik muncul sebagai respons alami terhadap perbedaan kebutuhan, motivasi, dan persepsi antarindividu. 1 Sementara itu, secara antropologis, konflik merupakan bagian dari dinamika manusia sebagai makhluk sosial yang terus membentuk identitas dan nilai melalui interaksi dengan sesamanya. 2 Dari perspektif sosiologis, perbedaan pandangan, latar belakang, dan kepribadian sering kali menjadi sumber ketegangan yang justru berpotensi memperkaya relasi dan memperdalam proses pertumbuhan dalam komunitas3, termasuk dalam konteks pelayanan gereja. Dalam dinamika sosial dan pelayanan gereja, perbedaan pandangan, latar belakang, dan kepribadian sering kali melahirkan ketegangan. Hal ini sesuai dengan konsep bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membentuk melalui interaksi, dan konflik sering kali menjadi bagian dari proses pertumbuhan itu sendiri. Amsal 27:17 menyatakan, "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya," yang mencerminkan bahwa pertemuan antara berbagai perspektif dapat menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk menajamkan karakter, memperluas wawasan, dan memperdalam relasi spiritual. 5 Dalam konteks pelayanan, konflik dalam tim pelayanan sering kali menjadi katalisator bagi pertumbuhan pribadi maupun kolektif jika didekati dengan kerendahan hati dan orientasi pada Kristus. 6 Sejalan dengan pendapat John B. MacDonald, konflik yang dialami pemimpin gereja sering kali menjadi wadah pembentukan rohani yang signifikan dan ketika diproses dengan kerendahan hati dan refleksi spiritual, dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan 1 Abdur Rozek and others. AuAnalisis Konflik Organisasi Dan Strategi Penyelesaiannya Dalam Lingkungan Kerja Moderen,Ay Jurnal Akuntansi. Manajemen dan Ilmu Pendidikan . : 96Ae110. 2 Rio Febrian. Muhammad Fajrul Islam, and Purnama Yudistira. AuPeran Budaya Dalam Pembentukan Identitas Manusia,Ay RISOMA: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan 3, no. 25Ae35. 3 Muhammad Yasin. Yaqub Cikusin, and others. AuKajian Perkembangan Masyarakat Multikultural Dalam Dimensi Horizontal,Ay Jurnal Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran 6, no. 4 David Folind Zega. Teti Tri Pujianti, and Loisa Sri Rejeki Sipayung. AuPerkembangan Gereja Pentakosta Di Nusantara: Strategi Dan Tantangan Dalam Konteks Multikultural,Ay AGATHA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1, no. : 142Ae155. 5 Yakub Hendrawan Perangin Angin and Tri Astuti Yeniretnowati. AuKepemimpinan Yang Finishing Well: Kiat-Kiat Sukses Kepemimpinan Jonathan Parapak,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 78Ae96. 6 Yudhy Sanjaya. AuTransformative Leadership: Exploration of the Combination of Christian Values and Technological Advances in the Digital Era: Kepemimpinan Transformatif: Eksplorasi Perpaduan NilaiNilai Kristen Dan Kemajuan Teknologi Di Era Digital,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 5, no. : 93Ae107. CopyrightA 2025. Authors | 134 Latif & Herman: Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 pribadi dan integritas komunitas pelayanan. 7 Ini memperkuat ide bahwa konflik bukanlah tanda kegagalan, tetapi sarana pembentukan. Jadi perselisihan antara Paulus dan Barnabas membuka ruang untuk memahami bagaimana Allah bekerja melalui kelemahan manusia dalam misi-Nya. Pentingnya meneliti konflik dalam pelayanan gereja, khususnya yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15:36-41, terletak pada bagaimana konflik tersebut menggambarkan dinamika kepemimpinan gereja awal. Dalam pelayanan gereja yang semakin kompleks, dengan beragam pandangan dan pendekatan, pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana konflik dapat berfungsi sebagai bagian dari proses pematangan rohani sangat diperlukan. Misi yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas menjadi contoh konkret bahwa konflik bukanlah sekadar hambatan, melainkan bagian dari proses pembentukan yang mengarah pada pemulihan, pertumbuhan, dan perluasan kerajaan Allah. Dalam konteks gereja kontemporer, tema ini relevan karena pelayanan gereja sering kali dihadapkan pada keputusan-keputusan strategis yang melibatkan perbedaan pandangan, sehingga penting untuk memahami bagaimana konflik dapat dihadapi dengan cara yang konstruktif. Isu konflik dalam pelayanan gereja juga sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi gereja saat ini, terutama dalam konteks globalisasi dan pluralisme. Perbedaan budaya, latar belakang, dan pemahaman teologis dapat menyebabkan ketegangan dalam tim pelayanan, namun di sisi lain, hal ini juga memberikan kesempatan untuk merumuskan kembali pendekatan misi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dalam gereja masa kini, pemahaman tentang bagaimana konflik bisa menjadi ruang bagi transformasi dan pengembangan karakter rohani menjadi semakin penting. Mempelajari konflik antara Paulus dan Barnabas memungkinkan gereja masa kini untuk menggali pelajaran praktis dalam menghadapi perbedaan dalam pelayanan serta bagaimana membangun kepemimpinan yang seimbang antara ketegasan dan kasih. Masalah yang diteliti dalam esai ini adalah bagaimana konflik antara Paulus dan Barnabas menggambarkan dua pendekatan kepemimpinan yang berbeda, serta bagaimana hal ini memengaruhi perkembangan misi dan pelayanan gereja. Konflik ini juga mengangkat isu pemulihan dalam pelayanan, terutama berkaitan dengan rehabilitasi Markus setelah ia sempat gagal dalam misi pertama. Dalam kajian ini, penulis akan menggali lebih dalam mengenai bagaimana konflik tersebut bisa dipahami dalam konteks teologis, serta implikasinya terhadap pengelolaan konflik dalam pelayanan gereja Artikel terdahulu yang dibuat oleh Craun dan Henson berfokus pada konsep kepemimpinan melayani dan penerapannya dalam berbagai konteks organisasi, khususnya di lingkungan nirlaba dan birokratis, serta bagaimana kepemimpinan tersebut 7 John B MacDonald. AuConflict as a Crucible for Spiritual Transformation in Congregational LeadersAy (Trinity Western University, 2. CopyrightA 2025. Authors | 135 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. memengaruhi efektivitas kelompok, kepercayaan, dan komunikasi dalam tim. 8 Sedangkan artikel terdahulu yang dibuat oleh Wynand Fourie berfokus pada eksplorasi hubungan Paulus, khususnya dalam konteks konflik dan rekonsiliasi, serta pandangan teologisnya mengenai kasih karunia dan kepemimpinan. 9 Berbeda dengan artikel terdahulu, artikel ini bertujuan menggali dinamika konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41, serta meneliti bagaimana konflik ini mencerminkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang relevan dalam pelayanan gereja masa kini. Juga untuk memberikan wawasan tentang bagaimana konflik dalam pelayanan dapat dihadapi dengan bijaksana dan digunakan sebagai sarana untuk pertumbuhan rohani. Penulis berharap bahwa artikel ini dapat memberikan perspektif baru tentang bagaimana konflik dalam pelayanan gereja dapat dikelola dengan cara yang sehat dan Dengan memahami dinamika konflik ini, diharapkan para pelayan gereja dapat lebih bijak dalam mengelola perbedaan dan menjaga keseimbangan antara integritas dalam pelayanan dan kasih yang memulihkan. Metode Penelitian Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratifteologis untuk menafsirkan peristiwa konflik antara Paulus dan Barnabas sebagaimana tercatat dalam Kisah Para Rasul 15:36-41. Analisis naratif digunakan untuk mengidentifikasi struktur cerita, tokoh, serta dinamika relasi yang terbangun dalam teks Alkitab, sedangkan pendekatan teologis membantu mengungkap makna dan implikasi rohani dari peristiwa tersebut dalam konteks kepemimpinan dan pelayanan gereja. Data utama yang dianalisis adalah teks Alkitab dari Kisah Para Rasul, khususnya pasal 15 ayat 36 hingga 41, dengan mempertimbangkan konteks literer dan historisnya. Selain itu, artikel ini juga menggunakan studi literatur sebagai data sekunder dari berbagai karya teolog, ahli Alkitab, dan pakar kepemimpinan Kristen untuk memperkaya interpretasi dan memperkuat argumentasi. Pemilihan metode ini dimaksudkan untuk memahami bukan hanya apa yang terjadi dalam narasi, tetapi juga bagaimana dan mengapa konflik tersebut penting bagi refleksi teologis dan praktik kepemimpinan gereja masa kini. Hasil dan Pembahasan Konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36Ae41 menyimpan dinamika yang kompleks dan signifikan bagi refleksi teologis serta kepemimpinan Narasi ini tidak hanya mencatat peristiwa sejarah tentang perpecahan antara dua pemimpin besar gereja mula-mula, tetapi juga merekam pergulatan nilai, prinsip, dan visi pelayanan yang berbeda. Dalam bingkai naratif Alkitab. Lukas tidak menyembunyikan konflik ini, melainkan menyajikannya secara jujur dan terbuka sebagai bagian dari 8 Justin R Craun and Joshua D Henson. AuHow Servant Leaders Navigate Conflict: An Analysis of Acts 15: 36--41,Ay HTS Teologiese Studies/Theological Studies 78, no. : 7676. 9 Wynand Fourie. AuThe Ecclesial Conflict Management: Healthy Separation in Acts 15: 36-41,Ay Stellenbosch Theological Journal 9, no. : 1Ae23. CopyrightA 2025. Authors | 136 Latif & Herman: Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 realitas gereja yang manusiawi namun tetap dipakai Allah untuk maksud yang mulia. Dengan pendekatan naratif-teologis, pembahasan ini akan menguraikan dimensi-dimensi utama dari konflik tersebut untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang tajam dapat menjadi sarana pembentukan karakter, perluasan misi yang dipahami sebagai partisipasi umat Allah dalam karya penyelamatan dan pemberitaan Injil kepada dunia, serta transformasi dalam pelayanan. Beberapa aspek utama yang akan dianalisis meliputi: sumber konflik dan dinamika relasi antara Paulus dan Barnabas, ketegangan antara kasih karunia dan tanggung jawab dalam pelayanan, dampak konflik terhadap perluasan pelayanan Injil dan partisipasi umat Allah dalam karya keselamatan, implikasi teologis dari peristiwa tersebut, serta pelajaran praktis yang dapat diambil gereja masa kini dalam mengelola konflik pelayanan secara bijaksana. Sumber Konflik dan Dinamika Relasi Menurut narasi Lukas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41, konflik antara Paulus dan Barnabas bermula ketika mereka sepakat untuk mengunjungi kembali jemaat-jemaat yang telah mereka layani dalam perjalanan misi sebelumnya. Namun, ketegangan muncul ketika Barnabas mengusulkan untuk membawa serta Yohanes Markus. Paulus menolak usulan tersebut karena Markus pernah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak melanjutkan pelayanan bersama mereka (Kis. Penolakan ini tidak hanya memicu perbedaan pendapat biasa, tetapi berkembang menjadi suatu konflik tajam yang oleh Lukas digambarkan dengan kata Yunani paroxysmos, yang menunjuk pada letupan emosi dan ketegangan yang intens. 10 John Stott menyebut peristiwa ini sebagai Aua sad storyAy dalam sejarah gereja mula-mula, menandai bahwa perpisahan dua pemimpin besar ini terjadi setelah perjalanan pelayanan bersama yang penuh pencapaian. Analisis terhadap konflik ini dapat dilihat dari beberapa dimensi yang saling Pertama, terdapat perbedaan nilai dan prinsip antara keduanya. Paulus lebih menekankan pada aspek disiplin dan keandalan dalam pelayanan, sedangkan Barnabas, yang namanya berarti "anak penghiburan," cenderung menonjolkan aspek kasih karunia dan pemulihan terhadap mereka yang pernah gagal. 12 Ketegangan ini diperparah oleh komunikasi yang tidak efektif. Tidak adanya penyelesaian kompromi atau dialog mendalam dalam narasi tersebut mengisyaratkan bahwa komunikasi antara keduanya mengalami kebuntuan. 13 Selain itu, konflik ini juga dipengaruhi oleh pertentangan tujuan dan kepentingan pribadi. Paulus memandang Markus sebagai risiko terhadap kelancaran 10 Jeffrey J Singfiel. AuPaul the Team Leader: Strategic Planning. Intragroup Conflict, and Team Formation,Ay Theology of Leadership Journal 1, no. : 6Ae21. 11 Dwi Atni Setyowati. AuKonflik Kepemimpinan Dalam Pekabaran Injil: Sebuah Pemaknaan Terhadap Perselisihan Paulus Dan Barnabas Dalam Kisah Para Rasul 15: 35-41,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 3, no. : 33Ae47. 12 Adeyinka Daniel Damilare. AuTheology of Forgiveness and Reconciliation: Building Peace Through Biblical Narratives,Ay JOS Journal of Religion and Philosophy 5, no. : 219Ae232. 13 Charles Anozie Anyanwu. Agoha Emmanuel Chijoike, and C U Udumaga Cornel. AuApostolic Conflict Resolution Model (Act 15: 1-. and Its Relevance to African Church Leaders,Ay JOS Journal of Religion and Philosophy 4, no. : 232Ae247. CopyrightA 2025. Authors | 137 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. pelayanan, sedangkan Barnabas memiliki keterikatan emosional dan keluarga dengan Markus, yang disebut sebagai sepupunya dalam Kolose 4:10. Faktor psikologis dan kepribadian turut memperkuat dinamika konflik ini. Barnabas dikenal sebagai tokoh yang berjiwa pastoral, penuh empati, dan cenderung inklusif, sedangkan Paulus dikenal sebagai pemimpin yang strategis, tegas, dan memiliki orientasi misi yang kuat. Perbedaan kepribadian ini membuat pendekatan mereka terhadap masalah dan pengambilan keputusan berbeda secara signifikan. Terakhir, konflik ini juga mencerminkan ketimpangan persepsi terhadap kekuasaan dan keadilan dalam pelayanan. Perbedaan pandangan tentang siapa yang layak menjadi rekan pelayanan bisa dipandang sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam pembagian tanggung jawab dan otoritas. Kombinasi dari semua faktor ini menggambarkan bahwa konflik antara Paulus dan Barnabas bukan sekadar ketidaksepakatan teknis, tetapi mencerminkan kompleksitas relasi antarpemimpin dalam konteks pelayanan gereja mula-mula. Latar Belakang Relasi Paulus dan Barnabas Relasi antara Paulus dan Barnabas memainkan peran penting dalam perkembangan misi Gereja mula-mula, sehingga memahami dinamika hubungan mereka menjadi kunci dalam menelaah dampak dari perselisihan yang terjadi. Barnabas dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menerima dan membela Paulus setelah pertobatannya, ketika banyak orang Kristen masih meragukan perubahan hidupnya (Kis. 9:26Ae. tidak hanya membuka jalan bagi penerimaan Paulus dalam komunitas Kristen, tetapi juga mengajak Paulus untuk melayani bersama di Antiokhia. 15 Dari sinilah terbentuk tim misi yang kuat dan berpengaruh (Kis. 11:25Ae. , yang kemudian diutus dalam perjalanan misi pertama dan mengalami keberhasilan besar dalam pemberitaan Injil serta pendirian jemaat-jemaat baru (Kis. Kedekatan dan kerja sama erat antara keduanya menunjukkan betapa relasi mereka dibangun atas dasar kepercayaan, visi bersama, dan komitmen terhadap panggilan misi. Namun, hubungan yang kuat ini tetap tidak kebal terhadap konflik. Titik kritis muncul ketika mereka berselisih mengenai apakah Markus yang sebelumnya meninggalkan pelayanan mereka (Kis. itu masih layak diberi kesempatan untuk kembali bergabung dalam perjalanan misi selanjutnya. Barnabas, yang dikenal sebagai pribadi yang penuh penghiburan dan dukungan, cenderung melihat pentingnya memberi kesempatan kedua kepada Markus. Sebaliknya. Paulus lebih mempertimbangkan efektivitas pelayanan dan menilai bahwa membawa Markus adalah sebuah risiko yang tidak perlu. 16 Perbedaan pendekatan inilah yang akhirnya memicu perpisahan antara keduanya, menunjukkan bahwa bahkan di antara pemimpin-pemimpin rohani yang setia, 14 Boubakar Sanou. AuThe Role of Chaplains in Leadership Development and Conflict Management: A Reflection on Acts 15: 36-41,Ay Current: Faith Meets Life and Culture 6 . : 17Ae19. 15 J Lee Whittington et al. AuLegacy Leadership: The Leadership Wisdom of the Apostle Paul,Ay The Leadership Quarterly 16, no. : 749Ae770. 16 Robin Gallaher Branch. AuBarnabas: Early Church Leader and Model of Encouragement,Ay In die Skriflig 41, no. : 295Ae322. CopyrightA 2025. Authors | 138 Latif & Herman: Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 perbedaan prinsip dapat menghasilkan konflik yang signifikan. Dinamika kepemimpinan ini, meskipun berkonflik, justru menonjolkan kekuatan masing-masing gaya kepemimpinan: keberanian untuk menjaga standar tinggi dalam pelayanan (Paulu. dan kasih yang setia untuk memulihkan dan membimbing (Barnaba. Kedua dimensi ini, meskipun berlawanan, saling melengkapi dalam membentuk kerangka kepemimpinan gereja yang dinamis, di mana prinsip integritas dan pemulihan dapat berjalan berdampingan meskipun dalam ketegangan. Ketegangan Antara Kasih Karunia dan Tanggung Jawab Pelayanan Konflik antara Paulus dan Barnabas mencapai puncaknya ketika muncul perbedaan pendapat mengenai keikutsertaan Markus dalam perjalanan misi selanjutnya. Paulus menilai bahwa Markus telah gagal membuktikan komitmennya ketika sebelumnya meninggalkan pelayanan di tengah jalan (Kis. , sehingga ia tidak layak untuk kembali dipercaya dalam tugas misi yang penuh risiko dan tuntutan. Sebaliknya. Barnabas memandang situasi tersebut sebagai kesempatan untuk pemulihan, percaya bahwa Markus layak diberikan kesempatan kedua untuk bertumbuh dan membuktikan Perbedaan pandangan ini mencerminkan ketegangan yang lebih dalam antara dua prinsip fundamental dalam pelayanan Kristen, yaitu kasih karunia dan tanggung David Peterson menyoroti konflik ini sebagai gambaran nyata dari ketegangan tersebut, di mana kasih karunia yang memberi ruang bagi pertobatan dan pemulihan bertemu dengan kebutuhan akan komitmen dan konsistensi dalam tugas pelayanan. Ben Witherington i menawarkan pendekatan struktural dalam menafsirkan konflik ini, dengan adanya perpisahan antara Paulus dan Barnabas bukan sekadar hasil dari perbedaan pribadi, melainkan sebagai momen penting yang secara providensial membuka ruang bagi diversifikasi pelayanan. 18 Dengan berpisahnya kedua pemimpin ini, terbentuklah dua tim misi baru yang independen, yang memungkinkan Injil menjangkau wilayah yang lebih luas. Witherington menekankan bahwa konflik sering kali muncul dari struktur relasi yang bersifat kompetitif alih-alih kooperatif. Ketika tujuan individu atau kelompok bersifat tidak kompatibel, maka potensi konflik akan meningkat. Hal ini memperkuat pandangan bahwa konflik antara Paulus dan Barnabas tidak semata-mata bersifat personal, melainkan mencerminkan ketegangan dalam visi dan arah pelayanan yang mereka anut. Peristiwa ini tidak hanya berbicara tentang ketegangan emosional antara dua rekan sepelayanan, tetapi juga menyingkap dinamika yang kompleks dalam pertumbuhan gereja mula-mula, di mana konflik ternyata dapat digunakan Allah untuk memperluas dampak pelayanan dan memperkaya bentuk-bentuk misi gereja. 17 Hugo De Groot Nababan and Pelita Hati Surbakti. AuPemilihan Pemimpin Dengan Undi,Ay Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayana. 14, no. : 23Ae48. 18 Akhung Berithel Ina. AuKontestasi Kuasa Di Balik Gerakan Sektarian Gereja Mula-Mula Serta Kutukan Ananias Dan Safira. Kritik Ideologi Terhadap Teks Kisah Para Rasul 4: 32-5: 11 Dan Signifikansinya Bagi Komunitas Dan Kepemimpinan Gereja Masa KiniAy (Universitas Kristen Duta Wacana, 2. CopyrightA 2025. Authors | 139 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. Dampak Konflik terhadap Pelayanan dan Ekspansi Misi Meskipun konflik antara Paulus dan Barnabas berujung pada perpisahan, catatan Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa Allah tetap memakai keduanya secara efektif dalam melanjutkan misi-Nya. Setelah perpisahan tersebut. Barnabas bersama Markus melanjutkan pelayanan ke Siprus, sementara Paulus membentuk tim baru dengan Silas dan melanjutkan perjalanan misi ke wilayah Siria dan Kilikia (Kis. Secara geografis, kedua wilayah ini menandai arah penyebaran Injil ke bagian timur Kekaisaran Romawi, menunjukkan kesinambungan gerakan misi meskipun terjadi perpisahan Lukas sengaja menutup bagian ini tanpa memberi penilaian mengenai siapa yang benar di antara keduanya, melainkan menyoroti keberlanjutan karya misi itu Hal ini memperlihatkan fokus teologis Lukas pada providensia Allah, yang tetap berkarya melalui situasi manusiawi yang penuh ketegangan untuk menuntun perluasan pelayanan Injil sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini tampak seperti kemunduran, namun dipakai Allah untuk menggandakan upaya penginjilan. 19 Dengan kata lain, konflik yang terjadi antara dua tokoh besar ini menghasilkan perluasan geografis pelayanan dan memungkinkan penjangkauan Injil ke wilayah yang lebih luas secara bersamaan. Markus sempat dipandang tidak layak oleh Paulus untuk ikut dalam misi lanjutan, mengingat ketidaksetiaan Markus pada misi sebelumnya (Kisah 13:. 20 Namun, meskipun Markus sempat menjadi sumber konflik antara kedua pemimpin ini, rehabilitasi Markus di kemudian hari menunjukkan bagaimana Allah menggunakan konflik untuk membawa pemulihan. Dinamika ini juga menunjukkan keberhasilan pendekatan Barnabas dalam pemulihan karakter Markus. Meskipun pada awalnya Markus dinilai gagal dan tidak layak untuk dilibatkan kembali dalam pelayanan oleh Paulus, catatan dalam 2 Timotius 4:11 menunjukkan adanya perubahan sikap, di mana Paulus kemudian mengakui Markus sebagai sosok yang berguna dalam pelayanan, menandakan terjadinya pemulihan dan rekonsiliasi dalam relasi pelayanan mereka. Perubahan pandangan Paulus terhadap Markus tidak hanya menegaskan pertumbuhan spiritual Markus, tetapi juga membuktikan validitas pendekatan penuh kasih dan restoratif yang dilakukan Barnabas. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam pelayanan Kristen, konflik tidak selalu menghasilkan kehancuran, tetapi dapat menjadi alat pembentukan karakter dan sarana untuk memperluas dampak misi Allah di dunia. Implikasi Teologis dan Pelajaran Positif dari Konflik Paulus dan Barnabas Peristiwa perselisihan antara Paulus dan Barnabas menyimpan implikasi teologis yang mendalam dalam bidang eklesiologi dan spiritualitas komunitas. Konflik ini menegaskan bahwa gereja, sebagai tubuh Kristus yang hidup dalam sejarah, tidak steril dari ketegangan dan perbedaan, tetapi justru dibentuk melalui dinamika relasional yang 19 Singfiel. AuPaul the Team Leader: Strategic Planning. Intragroup Conflict, and Team Formation. Ay 20 Janusz Kucicki. AuThe Conflict between Paul and Barnabas. : Sitz Im Leben of Ac 15, 36Ai40. ,Ay CC ENEC. nNENEc, no. : 87Ae98. 21 Michael J Kok. AuThe Flawed Evangelist (Joh. Mark: A Neglected Clue to the Reception of MarkAos Gospel in Luke-Acts?,Ay Neotestamentica 46, no. : 244Ae259. CopyrightA 2025. Authors | 140 Latif & Herman: Analisis Perselisihan Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui kelemahan dan perbedaan untuk meneguhkan panggilan gereja sebagai komunitas yang terus Sementara itu, konflik ini mengajarkan pentingnya kerendahan hati, pengampunan, dan rekonsiliasi sebagai ekspresi nyata dari kasih karunia Allah yang mempersatukan umat-Nya. Konflik ini juga menggarisbawahi bahwa gereja bukanlah komunitas yang steril dari ketegangan, melainkan sebuah persekutuan yang terbuka terhadap dinamika relasional, termasuk perbedaan pendapat yang tajam. Dalam konteks ini, konflik tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan yang dapat dipakai oleh Allah untuk menghasilkan kebaikan yang lebih Craig S. Keener menekankan bahwa kejujuran Alkitab dalam mencatat konflik antara Paulus dan Barnabas adalah bentuk transparansi naratif yang penting. Alkitab tidak menyembunyikan kelemahan para tokoh utamanya, dan justru melalui kejujuran tersebut, spiritualitas gereja diperkaya. Transparansi ini mengajak umat untuk menyadari bahwa bahkan dalam ketegangan dan perbedaan, karya Allah tetap berlangsung secara aktif. Dalam perspektif misiologi, perpecahan ini bukan semata-mata kegagalan komunikasi atau koordinasi, melainkan dapat dipandang sebagai pemisahan strategis yang melahirkan dua jalur misi yang berbeda namun tetap sejalan dengan panggilan Allah, yakni menyebarkan Injil ke wilayah yang lebih luas. 22 Dengan terbentuknya dua tim misi yang independen, pelayanan menjadi lebih ekspansif dan menjangkau area yang sebelumnya mungkin tidak terjangkau oleh satu tim saja. Dari sudut pandang kepemimpinan, konflik ini mengajarkan pentingnya kerendahan hati dalam menghadapi perbedaan pendapat. Proses pengambilan keputusan dalam konteks konflik tetap harus melibatkan kasih, penghormatan, dan komitmen terhadap tujuan bersama dalam Dinamika antara Paulus dan Barnabas menunjukkan dua gaya kepemimpinan yang berbeda namun saling melengkapi: Paulus menekankan prinsip dan ketegasan dalam komitmen pelayanan, sementara Barnabas menampilkan kasih dan kesetiaan dalam mendampingi dan memulihkan mereka yang pernah gagal. Keseimbangan antara keberanian dalam mengambil keputusan sulit dan kasih dalam mendukung pertumbuhan orang lain menjadi pelajaran penting dalam kepemimpinan gerejawi. Aplikasi praktis dari peristiwa ini bagi gereja masa kini terletak pada bagaimana para pemimpin dan pelayan mampu mengelola konflik dengan bijaksana. Perbedaan dalam strategi dan pendekatan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi tujuan bersama, melainkan dapat menjadi sarana untuk memperluas cakupan pelayanan dan memperkaya dinamika tim kerja. Jika dikelola dengan benar, konflik bahkan dapat berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan pelayanan dan pematangan Sisi positif dari konflik ini tercermin dalam tiga aspek utama. Pertama, ekspansi pelayanan yang signifikan melalui terbentuknya dua tim misi yang menjangkau 22 Saul Arlos Gurich. Paulus Dimas Prabowo, and others. AuKisah Para Rasul 15-16 Sebagai Cerminan Tantangan Misi Di Indonesia,Ay Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi, dan Pendidikan 8, no. CopyrightA 2025. Authors | 141 SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 6. No 2 (Desember 2. wilayah berbeda secara simultan. Ini menunjukkan bahwa konflik tidak selalu menghasilkan kehancuran, tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi perluasan pelayanan. Kedua, terjadi pemulihan personal dalam diri Markus, yang pada akhirnya tidak hanya bertumbuh secara rohani tetapi juga mendapat pengakuan kembali dari Paulus sebagai pribadi yang berguna dalam pelayanan . Tim. Ketiga, konflik ini menjadi sarana pembentukan karakter bagi para pemimpin, di mana Paulus belajar membangun relasi baru serta membimbing tokoh-tokoh muda seperti Silas dan Timotius, yang kemudian menjadi pemimpin penting dalam gereja mula-mula. Konflik antara Paulus dan Barnabas, meskipun berawal dari perbedaan tajam, pada akhirnya menjadi sarana yang Allah pakai untuk memperluas misi, membentuk karakter, dan memperlihatkan dinamika gereja yang hidup dan bertumbuh melalui kasih karunia serta hikmat dalam menghadapi Kesimpulan Konflik antara Paulus dan Barnabas dalam Kisah Para Rasul 15:36-41 bukan sekadar pertentangan pribadi, melainkan sebuah narasi yang kaya makna teologis, pedagogis, dan misiologis. Retorika naratif Lukas menyingkap ketegangan nyata dalam gereja mula-mula terkait integrasi antara kasih karunia dan standar pelayanan. Dari perspektif kepemimpinan. Paulus dan Barnabas memperlihatkan dua pendekatan yang berbeda, yaitu tegas dalam mempertahankan integritas dan setia dalam pemulihan, yang meskipun saling bertentangan, tetap memberikan kontribusi terhadap perkembangan Dalam terang providensi Allah, konflik ini justru menjadi alat perluasan misi, dengan terbentuknya dua tim yang memperluas pemberitaan Injil. Rehabilitasi Markus memperlihatkan bahwa kegagalan tidak menutup kemungkinan pemulihan, melainkan menjadi bagian dari proses transformasi dalam pelayanan. Konflik dalam pelayanan bukan hal yang harus dihindari, melainkan dapat menjadi sarana pertumbuhan, penguatan kepemimpinan, dan ekspansi misi jika dihadapi dengan hikmat, kasih, dan kesetiaan pada Injil Kristus. Kisah ini memberikan paradigma bahwa Tuhan tetap berkarya, bahkan melalui konflik dan perbedaan yang tampaknya tidak ideal. Daftar Pustaka