JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Analisis Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Kelompok Tani Mekar Jaya Kota Tasikmalaya Gia Maulana. Reny Hidayati. Ristina Siti Sundari. 1,2,. Universitas Perjuangan Tasikmalaya Email: giamaulana7@gmail. com, renyhidayati@unper. id, ristina. sitisundari@yahoo. Abstract Cultivating oyster mushrooms is one of the farming activities that is not too difficult to undertake. However, the phenomenon often observed in this farming activity is that business practitioners rarely calculate the total expenses incurred, making it difficult to determine the income generated. This research aims to . determine the total costs of the Mekar Jaya oyster mushroom farming in Tasikmalaya City and . determine the income of the Mekar Jaya oyster mushroom farming in Tasikmalaya City. The research was conducted in the Mekar Jaya Farmer Group. Bungursari District. Tasikmalaya City. This research used the case study method. Data analysis was carried out using cost, revenue, and profit analysis, as well as feasibility analysis including the R/C Ratio. The analysis results showed that the total production cost for Mekar Jaya oyster mushroom farming during one period was Rp. 907, while the income received was Rp. 093 during the same The R/C Ratio value for Mekar Jaya oyster mushroom farming was 2,2, indicating an R/C Ratio > 1. This means that Mekar Jaya oyster mushroom farming in Tasikmalaya City is profitable and feasible to run. Keyword : Income. Farming. Oyster Mushrooms PENDAHULUAN Pembangunan sektor pertanian dapat ditingkatkan melalui penyempurnaan pola usahatani yang ada dengan penerapan teknologi pertanian dan rehabilitasi lahan, yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan hidup para petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Salah satu komoditas yang memiliki prospek pengembangan baik adalah jamur tiram putih (Pleurotus Ostreatu. , sebuah jenis jamur kayu yang cocok untuk diversifikasi pangan karena kandungan gizinya yang setara dengan daging dan ikan. Permintaan pasar, baik lokal maupun ekspor, semakin meningkat, didukung oleh waktu panen yang relatif singkat, kemudahan dalam mendapatkan bahan baku, dan kebutuhan lahan yang tidak luas. Perkembangan budidaya jamur ini di Indonesia pesat, dipicu oleh berbagai faktor seperti penggunaan lahan yang efisien, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku utama, waktu tanam yang singkat, serta harga jual yang tinggi. Substrat yang biasanya digunakan adalah serbuk gergaji, yang mudah diperoleh dan mendukung pertumbuhan jamur secara optimal. Potensi ini menunjukkan bahwa pengembangan budidaya jamur tiram putih dapat menjadi salah satu upaya diversifikasi pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkelanjutan (Suhadewa et al. , 2. Budidaya jamur tiram memiliki prospek usaha yang menjanjikan di masa depan, terutama karena masih sedikit orang yang mengetahui cara budidaya jamur ini. Budidaya jamur tiram dapat menjadi alternatif solusi untuk mengatasi masalah ekonomi Tren usaha pengolahan jamur tiram terus meningkat, yang berdampak positif terhadap permintaan Peningkatan produksi jamur tiram secara umum dapat dijadikan indikator keberhasilan usahatani dan menjadi tolak ukur kesejahteraan petani. Namun, tingginya produksi dalam suatu usahatani tidak selalu menjamin pendapatan yang akan diperoleh petani, karena pendapatan tersebut dipengaruhi oleh harga jual yang diterima dan besarnya biaya input yang dikeluarkan dalam usahatani (Inayah & Prima, 2. Usahatani adalah suatu kegiatan dilakukan oleh seorang atau sekelompok dengan menggunakan tenaga, pikiran untuk mencapai sesuatu tujuan atau hasil dalam bidang pertanian dengan melakukan kegiatan bercocok tanam hasil bumi atau memelihara ternak dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan (Beddu, 2. Usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki petani agar berjalan secara efektif dan efisien, serta memanfaatkan sumberdaya tersebut agar memperoleh keuntungan yang setinggi-tingginya (Sesanti & Handayani, 2. Dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki . ang dikuasa. sebaik-baiknya dan dikatakan efisien apabila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran . yang melebihi masukan . Biaya secara arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva yang disebut dengan istilah harga pokok, atau dalam pengertian lainnya biaya merupakan bagian dari harga pokok yang dikorbankan dalam suatu usaha untuk memperoleh JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 penghasilan (Suheri, 2. Biaya usahatani dapat dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang Biaya tunai usahatani didefinisikan sebagai jumlah uang yang dibayarkan untuk pemberian barang dan jasa bagi usahatani. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran secara tidak tunai yang dikeluarkan oleh petani, biaya ini dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri,penggunaan tenaga kerja dalam keluarga, penggunaan bibit dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi (Sadarudin W. , 2. Pendapatan mengacu kepada aliran upah, pembayaran bunga, keuntungan saham, dan hal-hal lain mengenai pertambahan nilai selama periode waktu tertentu (Maulana R. , 2. Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Pendapatan berasal dari kata dasar AudapatAy menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian pendapatan adalah hasil kerja . saha dan sebagainy. pengertian pendapatan menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan definisi secara umum (Agung B. Berdasarkan data (BPS Kota Tasikmalaya, 2. produksi jamur di Kota Tasikmalaya menunjukkan variasi yang signifikan antar kecamatan selama periode 2019-2021. Di antara kecamatan-kecamatan yang tercatat. Kecamatan Bungursari menonjol sebagai salah satu daerah dengan kontribusi produksi jamur yang konsisten setiap tahunnya. Pada tahun 2019. Bungursari menghasilkan 582 kuintal jamur, yang kemudian meningkat tajam menjadi 875 kuintal pada tahun 2020. Peningkatan ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam budidaya jamur di daerah tersebut. Namun, pada tahun 2021, produksi jamur di Kecamatan Bungursari mengalami penurunan yang sangat drastis, hanya menghasilkan 14 kuintal. Penurunan produksi ini sangat mencolok, mengingat sebelumnya kecamatan ini menjadi salah satu penghasil jamur terbesar di Kota Tasikmalaya. Penyebab utama dari penurunan produksi yang drastis ini adalah berkurangnya jumlah petani jamur yang melanjutkan usahanya setelah pandemi COVID-19. Pandemi tersebut berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha pertanian, termasuk budidaya jamur, di mana banyak petani menghadapi tantangan seperti keterbatasan akses ke pasar, peningkatan biaya produksi, dan ketidakpastian ekonomi. Akibatnya, banyak petani yang memutuskan untuk berhenti atau mengurangi skala produksi mereka, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan total produksi jamur di Kecamatan Bungursari. Kelompok Tani Mekar Jaya di Kota Tasikmalaya telah aktif dalam budidaya jamur tiram sejak tahun 2017, dengan kapasitas produksi mencapai 3. 400 baglog. Selama periode ini, pendapatan kelompok tani tersebut mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Pada tahun 2017. Kelompok Tani Mekar Jaya mencatat pendapatan sebesar Rp. 000,- dari usahatani jamur tiram. Namun, dalam beberapa tahun berikutnya, pendapatan tersebut mengalami penurunan. Meskipun demikian, pada tahun 2022, pendapatan kembali meningkat, mencapai Rp. 000,-. Peningkatan pendapatan pada tahun 2022 ini dipengaruhi oleh tren dan inovasi dalam pengolahan jamur tiram yang semakin berkembang. Produk makanan berbahan dasar jamur tiram, seperti jamur krispy dan sate jamur, menjadi populer di berbagai kalangan masyarakat, sehingga permintaan terhadap jamur tiram pun meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sempat mengalami penurunan, budidaya jamur tiram tetap bertahan dan memiliki prospek yang baik untuk terus berkembang. Budidaya jamur tiram menjadi salah satu pilihan usahatani yang menarik, terutama karena permintaan pasar yang terus meningkat, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Keunggulan lain dari budidaya jamur tiram adalah waktu panennya yang relatif singkat, kemudahan mendapatkan bahan baku, serta kebutuhan lahan yang tidak luas. Selain itu, tren usaha pengolahan jamur tiram juga terus mengalami peningkatan, yang berdampak positif terhadap permintaan produk ini. Namun, meskipun produksi jamur tiram meningkat, hal ini belum tentu menjamin pendapatan yang optimal bagi petani. Tingginya produksi tidak selalu diikuti dengan harga jual yang menguntungkan, karena pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar dan biaya input yang digunakan dalam budidaya (Hatta Jayawardhana & Hilmi Aulawi, 2. Oleh karena itu, analisis ekonomi yang cermat sangat diperlukan untuk menilai kelayakan dari usaha budidaya jamur tiram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha dalam budidaya jamur tiram sebagai usaha pertanian. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai prospek budidaya jamur tiram dan memberikan rekomendasi bagi pengembangan usahatani ini di masa depan. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 METODE PENELITIAN Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder, yang diperoleh melalui berbagai metode pengumpulan data. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan, yaitu lokasi penelitian yang berfokus pada Kelompok Tani Mekar Jaya di Kota Tasikmalaya. Data ini dikumpulkan melalui observasi langsung, di mana peneliti melakukan pengamatan secara detail terhadap proses budidaya jamur tiram, mulai dari persiapan baglog hingga tahap panen dan pemasaran. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan para anggota Kelompok Tani Mekar Jaya untuk mendapatkan informasi mengenai pengalaman mereka dalam budidaya jamur tiram, tantangan yang dihadapi, dan strategi yang digunakan untuk meningkatkan produksi serta pendapatan. Wawancara ini bertujuan untuk menggali informasi yang lebih spesifik dan mendalam dari responden yang terlibat langsung dalam kegiatan usahatani. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari sumber-sumber yang sudah ada, seperti laporan dari Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya, serta dokumen-dokumen lain yang relevan. Data sekunder ini mencakup statistik produksi jamur tiram di berbagai kecamatan, kebijakan pemerintah terkait pertanian, serta informasi lain yang mendukung analisis kelayakan ekonomi dari usahatani jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini tidak hanya terbatas pada observasi dan wawancara, tetapi juga melibatkan dokumentasi, yang mencakup pengumpulan dokumen terkait seperti program kerja kelompok tani, catatan produksi, laporan keuangan, dan dokumen lain yang relevan dengan budidaya jamur tiram. Dokumentasi ini memberikan bukti empiris yang dapat digunakan untuk mendukung analisis data dan menarik kesimpulan yang lebih akurat. Untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan, penelitian ini menggunakan berbagai teknik analisis data. Salah satu teknik yang digunakan adalah analisis penyusutan, yang penting untuk menghitung penyusutan nilai aset yang digunakan dalam budidaya jamur tiram, seperti alat-alat produksi, bangunan, dan peralatan lainnya. Penyusutan ini dihitung menggunakan rumus tertentu yang memungkinkan peneliti untuk memperkirakan pengurangan nilai aset dari tahun ke tahun, yang pada gilirannya mempengaruhi total biaya produksi dan, akhirnya, pendapatan bersih yang diperoleh oleh Kelompok Tani Mekar Jaya. Selain itu, analisis pendapatan juga akan dilakukan untuk menilai apakah usaha budidaya jamur tiram ini layak secara ekonomi dan apakah usaha ini dapat memberikan keuntungan yang berkelanjutan bagi kelompok tani. Analisis ini mencakup perhitungan berbagai aspek keuangan, seperti total pendapatan, biaya operasional, dan laba bersih. Dengan menggunakan teknik analisis yang komprehensif ini, penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kelayakan usahatani jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya dan memberikan rekomendasi untuk pengembangan usaha yang lebih baik di masa depan. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui pendapatan usahatani jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya adalah sebagai berikut: Rumus mencari penyusutan yaitu: ycyeIyeayeoyenyeiyenyeiyeCyea yecyeIyee yeiyeCyeOyenyea = ycyeCyeeyeOyeC ycyeIyeeyeayesyeIyeOyeCyea Oe ycAyeOyesyeCyeO ycyeIyeiyeOyeIyen ycyeCyeiyeC ycyeCyeayeNyeCyeCyei Keterangan: Harga Perolehan adalah biaya awal untuk memperoleh aset. Nilai Residu adalah nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya. Masa Manfaat adalah umur ekonomis aset, biasanya dalam tahun Rumus mencari biaya total yaitu: ycyc = ycyc ycyc Keterangan: = Total Cost (Biaya Tota. = Fixed Cost (Biaya Teta. = Variable Cost (Biaya Variabe. Rumus mencari penerimaan yaitu: ycyc = yc yeo yc Keterangan : = Total Revenue (Penerimaan Tota. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 = Price (Harga Jual Per Uni. = Quantity (Jumlah Produks. Rumus mencari pendapatan yaitu: ycyeI = ycyc Oe ycyc Keterangan : = Total Pendapatan Usahatani = Total Revenue (Total Penerimaa. = Total Cost (Total Biay. Rumus mencari R/C Ratio yaitu: yc/yc = ycyeayeiyeCyes ycyeIyeayeIyeeyeOyeayeCyeCyea ycyeayeiyeCyes ycyeOyeCyeoyeC Keterangan : Jika R/C > 1, berarti usahatani tomat layak di usahakan. Jika R/C = 1, maka usahatani tomat berada di titik impas Jika R/C < 1, maka usahatani tomat tidak layak untuk di usahakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden pada penelitian ini merupakan ketua Kelompok Tani Mekar Jaya. Identitas responden diperlukan untuk mengetahui latar belakang kondisi responden yang terdiri dari nama, alamat, umur, jenis kelamin. Pendidikan terakhir, tanggungan keluarga dan pekerjaan. Nama : Cucu Suryana Alamat : Kp. Rancapasung Rt. 01 Rw. 01 Kelurahan Cibunigeulis Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya Umur : 52 Tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pendidikan Terakhir : SMA Tanggungan Keluarga : 2 Orang Pekerjaan : Wiraswasta Umur responden merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keahlian dan produktivitas seseorang dalam bekerja. Responden pada penelitian ini berumur 52 tahun, yang masih berada dalam kategori umur produktif yaitu 15-64 tahun. Usia produktif ini memungkinkan responden untuk terus berkontribusi secara efektif dalam kegiatan usahataninya, dengan pengalaman yang telah terkumpul selama bertahun-tahun dalam dunia kerja. Pendidikan juga merupakan aspek penting yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengembangkan dan mengelola usaha. Responden dalam penelitian ini memiliki pendidikan terakhir di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Meskipun tidak memiliki gelar pendidikan tinggi, pengalaman praktis yang diperoleh selama bertahun-tahun dalam usaha wiraswasta, khususnya dalam budidaya jamur tiram, telah memberikan pengetahuan yang cukup untuk menjalankan dan mengembangkan usahanya. Kelompok ini telah menjadi wadah bagi para petani lokal untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam budidaya jamur tiram. Kelompok tani ini juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan keterampilan bagi anggotanya, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil budidaya jamur tiram. Sebagai seorang wiraswasta, responden telah memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada, termasuk pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun serta dari interaksi dengan petani lain di komunitasnya. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang pertanian, ketekunan dan adaptabilitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan menjadikannya figur yang berperan penting dalam pengembangan usaha tani jamur tiram di wilayahnya. Budidaya jamur tiram yang dijalankan oleh Kelompok Tani Mekar Jaya didukung oleh berbagai fasilitas dan metode inovatif yang terus dikembangkan, seperti penggunaan teknologi sederhana dalam pengolahan jamur dan teknik budidaya yang efisien. Keberhasilan dalam budidaya ini bukan hanya karena faktor teknis, tetapi juga karena adanya kolaborasi antara anggota kelompok tani dan dukungan dari lembaga-lembaga pertanian setempat. Dengan kombinasi pengalaman. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 keterampilan, dan dukungan komunitas, responden mampu terus mengembangkan usahanya dan memberikan kontribusi signifikan bagi kesejahteraan keluarganya serta komunitas lokal di Kelurahan Cibunigeulis. Berikut merupakan struktur organisasi Kelompok Tani Mekar Jaya: Gambar 1. Struktur Organisasi Usahatani Jamur Tiram Budidaya jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya. Kelurahan Cibunigeulis. Kecamatan Bungursari, melibatkan beberapa tahapan utama yang dimulai dari pencampuran media tanam seperti serbuk gergaji, dedak, tepung jagung, dan kapur yang dicampur dengan air. Proses dilanjutkan dengan pembuatan dan sterilisasi baglog untuk menghindari kontaminasi jamur lain. Setelah sterilisasi, dilakukan inokulasi bibit jamur ke dalam baglog, diikuti oleh tahap inkubasi selama sekitar 30 hari hingga miselium tumbuh setengahnya. Akhirnya, baglog dipindahkan ke kumbung hingga jamur siap dipanen. Tahapan-tahapan ini memastikan kelancaran dan kesuksesan dalam produksi jamur tiram. Tahap Persiapan Kegiatan budidaya jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya dimulai dengan tahap persiapan. Proses ini mencakup pencampuran bahan utama seperti serbuk gergaji, dedak, tepung jagung, dan kapur dengan air untuk mencapai kelembaban yang ideal. Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam plastik khusus yang disebut baglog, yang selanjutnya disterilisasi untuk membunuh hama dan mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Proses persiapan media tanam budidaya jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya, 4 tenaga kerja harian pria bekerja secara bersama-sama melakukan pekerjaan untuk menangani semua tahapan persiapan media tanam jamur tiram, mulai dari pencampuran serbuk gergaji, dedak padi, tepung jagung, dan kapur (CaCOCE) dengan air hingga mencapai kelembaban yang tepat, hingga pengisian media ke dalam plastik Setiap pekerja terlibat dalam memasukkan campuran tersebut ke dalam plastik, memadatkannya, dan menutupnya dengan karet gelang. Dalam waktu 2 hari, keempat pekerja tersebut mampu menyelesaikan 400 baglog dengan teliti untuk memastikan kualitas media tanam. Upah harian per tenaga kerja adalah Rp. 000, sehingga total biaya persiapan mencapai Rp. Tahap Pengolahan Setelah tahap persiapan, dilakukan pengolahan yang dimulai dengan sterilisasi baglog pada suhu tinggi. Langkah ini memastikan media tanam bebas dari kontaminasi. Setelah sterilisasi, baglog diisi dengan bibit jamur tiram JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 dalam kondisi steril. Baglog yang telah diinokulasi kemudian dipindahkan ke ruang inkubasi, di mana miselium mulai tumbuh dan menyebar ke seluruh media tanam. Proses inkubasi berlangsung sekitar 30 hari. Tahap pengolahan budidaya jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya menggunakan 4 kerja harian pria yang bekerja dengan efisien untuk menyelesaikan seluruh tahapan pengolahan budidaya jamur tiram, yang meliputi sterilisasi baglog, inokulasi bibit jamur tiram, serta persiapan ruang inkubasi. Masing-masing tenaga kerja meRp. nerima upah harian sebesar Rp. 000, sehingga total biaya pengolahan mencapai 800. Tahap Pemeliharaan Pada tahap pemeliharaan, baglog yang telah diinkubasi dipindahkan ke area pertumbuhan . Suhu dan kelembaban di dalam kumbung dijaga pada kondisi optimal, dan ventilasi serta pencahayaan diatur untuk mencegah penumpukan karbon dioksida dan memastikan pertumbuhan jamur yang sehat. Pemantauan rutin dilakukan untuk mendeteksi masalah seperti hama atau penyakit. Proses pemeliharaan ini membutuhkan 2 tenaga kerja pria yang bekerja selama 15 hari selama prosesproduksi dilakukan, dengan upah harian sebesar Rp. 000 per orang. Total upah yang dikeluarkan untuk pemeliharaan ini mencapai Rp. Sistem penyiraman dilakukan secara rutin, terutama ketika media baglog mulai terlihat kering, dengan frekuensi yang disesuaikan untuk menjaga kelembaban tanpa menyebabkan genangan air yang bisa memicu kontaminasi. Dengan pemeliharaan yang cermat, kondisi optimal untuk pertumbuhan jamur dapat tercapai, sehingga hasil panen diharapkan maksimal. Tahap Panen Tahap panen dimulai dengan pemeriksaan rutin baglog untuk menentukan waktu yang tepat untuk memanen jamur tiram. Jamur biasanya dipanen dalam 6 siklus per periode, dengan setiap siklus memakan waktu 7-10 hari. Jamur dipetik dengan hati-hati, dibersihkan dari sisa media tanam, dipilah berdasarkan ukuran dan kualitas, kemudian dikemas untuk menjaga kesegaran selama transportasi. Proses ini memastikan bahwa jamur tiram yang dihasilkan berkualitas tinggi dan siap dipasarkan. Dalam proses panen ini, dibutuhkan dua orang tenaga kerja pria, masing-masing dengan biaya tenaga kerja sebesar Rp 50. 000 per hari. Dengan demikian, total biaya panen mencapai Rp 600. Penggunaan tenaga kerja yang cukup dan biaya yang dikeluarkan memastikan bahwa proses panen dapat berlangsung dengan efisien dan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Biaya Usahatani Jamur Tiram Biaya Produksi yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha jamur tiram selama jamur tiram terdiri dari dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel : Tabel 1. Biaya Tetap Uraian Biaya (R. Biaya Penyusutan Total Berdasarkan Tabel 1, di atas, perhitungan biaya tetap untuk usaha tani jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya yaitu sebesar Rp. 907 yang melibatkan berbagai aset tetap yang digunakan dalam proses Aset-aset tersebut meliputi kumbung, bangunan produksi, dandang, tabung gas 12 kg, keranjang, timbangan, terpal, sekop, gayung, kompor, dan selang air. Nilai awal dari setiap aset telah dihitung berdasarkan harga satuan dan jumlah yang dibutuhkan, dengan mempertimbangkan umur ekonomis dari setiap aset tersebut. Umur ekonomis ini menunjukkan berapa lama aset tersebut dapat digunakan sebelum memerlukan penggantian. Biaya penyusutan tahunan dihitung dengan metode garis lurus, di mana nilai awal aset dibagi dengan umur ekonomisnya, dikurangi nilai sisa jika ada. Tabel 2. Biaya Variabel Uraian Biaya Produksi Biaya Tenagakerja Total Total (R. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi terdiri dari dua komponen utama, yaitu biaya produksi sebesar Rp 3. 000 dan biaya tenaga kerja sebesar Rp 000 , dengan total keseluruhan mencapai Rp 7. Biaya produksi mencakup semua pengeluaran yang diperlukan untuk menjalankan proses produksi, sedangkan biaya tenaga kerja meliputi upah yang diberikan kepada tenaga kerja yang terlibat. Tabel 3. Total Biaya Total Biaya Usahatani Jamur Tiram Uraian Total Biaya Tetap Biaya Variabel Total Biaya Berdasarkan Tabel 3, menunjukkan rincian total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani jamur tiram, yang terbagi menjadi dua kategori utama: biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap tercatat sebesar Rp4. 907, mencakup pengeluaran yang tidak terpengaruh oleh perubahan volume produksi, seperti sewa lahan, peralatan, atau biaya tetap lainnya yang harus dibayar terlepas dari tingkat produksi. Biaya variabel sebesar Rp 7. 000, mencerminkan pengeluaran yang fluktuatif berdasarkan jumlah produksi, seperti bahan baku, tenaga kerja, dan biaya operasional lainnya yang meningkat seiring dengan bertambahnya produksi. Total keseluruhan biaya usahatani jamur tiram adalah sebesar Rp 12. Angka ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai besarnya pengeluaran yang diperlukan untuk menjalankan usaha ini. Analisis ini penting untuk mengidentifikasi proporsi masing-masing jenis biaya dalam struktur total biaya. Dengan mengetahui perbandingan antara biaya tetap dan variabel, petani dapat lebih efektif dalam merencanakan anggaran dan strategi produksi untuk mengoptimalkan keuntungan serta memastikan keberlanjutan usaha. Pemahaman ini juga dapat membantu dalam evaluasi kinerja usaha dan pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya dan investasi di masa depan. Penelitian serupa yang dilakukan oleh (Heryadi et al. , 2. dengan judul penelitian Komparasi Agribisnis Jamur Tiram (Pleurotus ostreatu. Media Tanam Limbah Sabut Kelapa dan Serbuk Gergaji. Hasil penelitian menunjukan Biaya tetap yang dikeluarkan untuk agribisnis jamur tiram dengan media serbuk gergaji sebesar Rp208. 102, yang mencakup penyusutan alat sebesar Rp164. 700 dan bunga modal tetap Rp3. Sementara itu, biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp7. 000, terdiri dari bahan-bahan seperti serbuk gergaji, bekatul, dolomit, bibit jamur, plastik PP, alkohol, spiritus, koran bekas. LPG 3 kg, serta tenaga kerja. Total biaya yang dibutuhkan, yang merupakan gabungan dari biaya tetap dan biaya variabel, mencapai Rp7. Sedangkan Biaya total untuk agribisnis jamur tiram dengan media limbah serbuk gergaji terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang dikeluarkan untuk agribisnis jamur tiram dengan media limbah cocopeat sebesar Rp208. 102, termasuk penyusutan alat sebesar Rp164. 700 dan bunga modal tetap sebesar Rp3. Biaya tetap ini sama dengan biaya tetap yang dikeluarkan untuk media limbah serbuk gergaji. Sedangkan biaya variabel yang dikeluarkan untuk agribisnis jamur tiram sebesar Rp7. 000, mencakup bahan-bahan seperti serbuk gergaji, bekatul, dolomit, bibit jamur, plastik PP, alkohol, spiritus, koran bekas. LPG 3 kg, serta tenaga kerja. Total biaya yang diperlukan, yang merupakan kombinasi dari biaya tetap dan biaya variabel, adalah Rp7. Penerimaan Usahatani Jamur Tiram Berikut ini merupakan penerimaan yang diterima oleh Kelompok Tani Mekar Jaya dalam melakukan kegiatan usaha:. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Tabel 4. Penerimaan usaha Uraian Panen 1 Panen 2 Panen 3 Panen 4 Panen 5 Panen 6 Jumlah Total Penerimaan Harga/Kg Total Berdasarkan tabel 6. Secara keseluruhan, total penerimaan dari enam kali panen mencapai Rp 19. Analisis ini menunjukkan variasi dalam jumlah hasil panen dan harga jual per kilogram, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi pertumbuhan jamur, permintaan pasar, dan kualitas hasil panen. Harga jual yang bervariasi antara Rp 10. 000 hingga Rp 12. 000 per kg mencerminkan dinamika pasar yang dapat memengaruhi pendapatan petani. Penerimaan dari masing-masing panen menunjukkan bahwa panen kedua dan ketiga memberikan kontribusi terbesar terhadap total pendapatan, dengan jumlah yang lebih besar dan harga jual yang relatif tinggi. Sebaliknya, panen keenam menghasilkan penerimaan terendah, yang mungkin disebabkan oleh penurunan jumlah hasil panen. Evaluasi ini penting untuk memahami kinerja produksi dan penjualan, serta untuk merencanakan strategi yang dapat meningkatkan hasil dan pendapatan di musim panen berikutnya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Permana et al. , 2. dengan judul penelitian Analisis Kelayakan Usahatani Jamur Tiram Putih dan hasil penelitian menunjukan penerimaan yang diterima yaitu sebesar Rp. Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Berikut merupakan pendapatan usaha yang diterima oleh Kelompok Tani Mekar Jaya dalam melakukan kegiatan usahatani jamur tiram. = TR - TC = Rp. 000 - Rp. = Rp. Hasil analisis dari usahatani jamur tiram menunjukkan bahwa usaha ini mampu menghasilkan pendapatan bersih yang signifikan, dengan total penerimaan sebesar Rp 19. 000 dari enam kali panen. Total biaya yang dikeluarkan, termasuk biaya tetap dan variabel, tercatat sebesar Rp 12. Dengan mengurangi total biaya dari total penerimaan, pendapatan bersih yang diperoleh mencapai Rp 7. Angka ini menunjukkan bahwa setelah mempertimbangkan semua pengeluaran yang diperlukan untuk proses produksi, usaha ini masih mampu memberikan margin keuntungan yang cukup besar. Efisiensi dalam pengelolaan biaya dan keberhasilan dalam penjualan produk menjadi faktor utama yang berkontribusi pada hasil positif ini. Pendapatan bersih yang diperoleh mengindikasikan bahwa usahatani jamur tiram ini tidak hanya beroperasi secara efisien tetapi juga memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan, yang dapat mendorong pengembangan dan ekspansi usaha di masa depan. Ini memberikan dasar yang kuat untuk perencanaan strategi bisnis lebih lanjut, baik dalam meningkatkan skala produksi, mengoptimalkan biaya, maupun mencari peluang pasar yang lebih luas untuk memperbesar keuntungan. (Nurhusaeni et al. , 2. dimana penerimaan yang diperoleh petani jamur tiram lebih besar dengan biaya prouksi. Biaya produksi yang dikeluarkan tiap per kali panen adalah Rp 983. 500,- dengan penerimaan Rp 10. 000,- dengan demikian rata-rata petani memperoleh pendapatan sebesar Rp 153,62,-. Analisis R/C Ratio Usahatani Tomat Sistem Irigasi Tetes Analisis R/C Ratio suatu usaha perlu dianalisis untuk menentukan layak dan tidaknya usaha tersebut untuk Kelayakan usaha dapat dilihat dari penerimaan usaha yang bisa menutup biaya Ae biaya yang dikeluarkan, serta akan lebih dikatakan layak apabila ada keuntungan yang diperoleh. Keuntungan yang dimaksud adalah pendapatan yang diperoleh dari selisih penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan. Kelayakan JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 usahatani jamur tiram Kelompok Tani Mekar Jaya dilakukan menggunakan analisis R/C Ratio yang merupakan hasil dari perhitungan penerimaan (Revenu. dibagi total biaya (Cos. dengan rincian sebagai berikut : Tabel 5. R/C Ratio Uraian Penerimaan Total Biaya R/C Ratio Jumlah (R. Tabel 5. menunjukan bahwa nilai Rasio R/C sebesar 1,6 untuk usaha tani jamur tiram yang dikelola oleh Kelompok Tani Mekar Jaya menunjukkan bahwa untuk setiap Rp 1 yang dikeluarkan sebagai biaya, usaha ini menghasilkan Rp 1,6 dalam penerimaan. Ini mencerminkan kinerja finansial yang sangat efisien dan menguntungkan, dengan pendapatan yang hampir dua kali lipat dari total biaya yang dikeluarkan. Rasio ini mengindikasikan bahwa Kelompok Tani Mekar Jaya tidak hanya menutupi biaya operasionalnya, tetapi juga memperoleh keuntungan yang signifikan. Struktur biaya yang efektif dan manajemen keuangan yang baik memungkinkan kelompok tani ini untuk beroperasi dengan efisiensi tinggi dan menghasilkan laba yang sehat. Selain itu, rasio ini menunjukkan potensi keuntungan yang kuat, memberikan indikasi positif mengenai kesehatan finansial usaha tani jamur tiram mereka. Memantau rasio ini secara berkala akan membantu memastikan bahwa usaha tetap berada pada jalur yang benar dan membantu dalam mengidentifikasi serta memperbaiki area yang mungkin memerlukan perbaikan lebih lanjut untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja finansial. Penelitian sebelumnya (Tari, 2. menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio lebih dari 1, seperti 1,60 di beberapa lokasi di Kota Bengkulu, menunjukkan bahwa usaha budidaya jamur tiram secara ekonomis layak. Penelitian lain (Zarkasyie et al. , 2. juga menemukan nilai R/C Ratio sebesar 1,60, yang berarti setiap Rp 1 biaya menghasilkan penerimaan Rp 1,60, menunjukkan bahwa usaha ini layak diteruskan. Penelitian ini menegaskan bahwa usahatani jamur tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya. Kota Tasikmalaya, terbukti menguntungkan dengan nilai Rasio R/C yang melebihi angka 1. Temuan ini konsisten dengan hasil studi di daerah lain, yang menunjukkan bahwa budidaya jamur tiram merupakan usaha yang berpotensi untuk dikembangkan secara ekonomi (Khasanah, 2. Penelitian serupa yang dilakukan oleh (Heryadi et al. , 2. dengan judul penelitian Komparasi Agribisnis Jamur Tiram (Pleurotus ostreatu. Media Tanam Limbah Sabut Kelapa dan Serbuk Gergaji. Tingkat kelayakan usaha agribisnis jamur tiram dengan media serbuk gergaji sebesar 2,41 menunjukkan bahwa setiap 1 rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,41 Sedangkan Tingkat kelayakan usaha agribisnis jamur tiram dengan media sabut kelapa Tingkat kelayakan usaha sebesar 2,33 berarti bahwa setiap 1 rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,33 rupiah. Melalui strategi peningkatan seperti pencatatan keuangan yang lebih akurat, diversifikasi produk, pelatihan intensif, dan adopsi teknologi terbaru, usaha budidaya jamur tiram dapat ditingkatkan untuk menghasilkan pendapatan yang lebih optimal bagi para petani. Penelitian ini tidak hanya memperkuat argumen tentang kelayakan ekonomi dari budidaya jamur tiram tetapi juga memberikan panduan praktis yang berguna untuk petani di Kota Tasikmalaya. Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis data, petani dapat lebih efektif dalam mengelola usaha mereka dan meningkatkan hasil produksi. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kontribusi signifikan bagi pengembangan industri jamur tiram di Indonesia dan memberikan dasar yang kuat bagi petani untuk memajukan usaha mereka, memastikan keberhasilan jangka panjang dalam budidaya jamur Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kelayakan Usahatani Jamur Tiram di Kelompok Tani Mekar Jaya adalah sebagai berikut : Biaya usahatani jamur tiram yang dikeluarkan oleh Kelompok Tani Mekar Jaya sebesar Rp. Penerimaan yang diterima oleh Kelompok Tani Mekar Jaya sebesar Rp. Pendapatan yang diperoleh Kelompok Tani Mekar Jaya pada usahatani jamur tiram sebesar Rp. dapat dikatakan bahwa usahatani jamur tiram mendapatkan untung. Hasil analisis R/C ratio didapatkan nilai R/C JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 yaitu 1,6 > 1 sehingga dapat dikatakan usahatani jamur tiram pada Kelompok Tani Mekar Jaya layak untuk REFERENSI