6 KEARIFAN LOKAL BUDAYA MUNGGAH MOLO DAN KORELASINYA TERHADAP PANCASILA Muhammad Budi Santoso Received: 2 February 2024. Accepted: 20 February 2024. Published: 30 March 2024 Ed. : 372 - 375 Abstract The research of Munggah Molo culture as a cultural in Javanese culture during the construc- tion of the house. To discover one of the cultures that still survive until todayAos era, analyzing of cultural values contained in munggah molo and its correlation with Pancasila. Cultural practices that reflect Pancasila values such as belief in God Almighty. Indonesian unity, just and civilized humanity, democracy, and social welfare. This culture also expresses concern for all parties participating as well as respect for cultural and national identity. Munggah molo has a meaning about the continuity between humans and the hope to have goodness in the house. Therefore. Munggah molo is not just a ritual, but contains deep meaning about ancestral relationships, harmonious social life, and respect for cultural and national values. Keywords: culture. Pancasila. Munggah Molo. PENDAHULUAN Indonesia sangat kaya akan etnis, agama, golongan, bahasa dan ras yang beragam. Kemajemuan dalam budaya indonesia sangat multikultural, meksipun adanya hal tersebut indnesia masih dapat menjaka kerukunan masnyarakat pada setiap kelompok atau komunitas masnyarakan dengan budaya mereka masing-masing sampai diakui oleh dunia. Budaya adalah sikap dari gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah dibudayakan secara turun temurun sampai generasi ke generasi (Margahana Triyanto, 2. Adat atau Kebiasaan merupakan sesuatu yang telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, , waktu ,dari negara, kebudayaan, atau agama. Keberadaan etnis atau kelompok orang pada Setiap daerah khususnya jawa timur memiliki budaya dan budaya turun temurun masih dapat ditemui terutama di daerah pedesaan yang begitu kental terhadap budaya yang ada di Jawa, budaya dari suatu masnyarakat merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun temurun, hingga di era dewasa ini kegiatan masnyarakat lokal masih merlanjut salah satu budaya yang dimiliki dan masih dilakukan nganjuk, jawa timur sebagai sayarat untuk yang wajib dilakukan dalam membangun sebuah rumah, yakni budaya munggah molo atau munggah suwungan sebagai budaya selamatan yang dilakukan saat naiknya atap tertinggi pada rumah yang masih dibangun, munggah molo diartikan sebagai molo turunan dari polo diartikan sebagai kepala atau sirah dalam bahasa jawa (Widiastuti, 2. budaya dilakukan dengan menaikkan tiang ke atap rumah, dibungkus kain merah dengan persembahan, persembahan menjadi suatu sarat wajib alam sebuah budaya masnyarakat jawa sebagai sarana pengungkapan puji syukur terhadap tuhan yang maha esa, namun bisa dijumpai sebagai salah satu cara untuk meminta izin untuk penunggu lama atau mahluk gaib yang menetap di area atau lahan itu terlebih dahulu, setelah itu akan dilakukan doa bersama kiai atau ustaz, mengundangn tetangga dan tukang yang membangun calon pemilik rumah. Budaya munggah molo masih dijumpai di berbagai daerah yang ada di masnyarakat jawa dengan harapan rumah yang akan dibangun dapat kokoh baik itu menjerumus pada hal mistis maupun menunaikan sebuah kebiasaan yang mengakar pada masyarakat . analisi budaya munggah molo dilakukan dengan rumusan masalah bagaimana bagaimanan budaya munggah molo memiliki korelasi dalam nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, dan bagaimanakah konsep isi dari pancasila pada budaya munggah molo degan metode kajian pustaka (Literature Revie. sebagai cara pemecahan masalah yang bertumpu pada olah pikir mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang dapat dipertanggung jawabkan. Adapun tujuan dan manfat dari penulisan artikel ditujukan sebagai cara untuk mendapatkan informasi tentang bagaiman budaya ini dilakukan, mengetahui nilai pancasila dalam budaya munggah molo, dan mengatahui makna yang terkandung pada budaya munggah molo pada masnyarakat jawa sehingga pembaca paham betul tentang nilai pancasila dari budaya munggah molo. PEMBAHASAN Asal-usul budaya munggah molo Berdasarkan penelitian Ula . ritual dari munggah molo merupakan budaya yang dilakukan masnyarakat jawa di penjuru wilayah, nganjuk menjadi salah satunya. Hasil yang didapat berdasarkan pendekatan kualitatif melalui wawancara kepada masyarakat didapatkan bahwasannya budaya ini tidak diketahui darimana dan sejak kapan budaya ini dilakukan masyarakat, dikarenakan budaya munggah molo telah dilakukan dari leluhur dan dilanjutkan sampai saat ini, budaya dari munggah molo erat kaitannya dengan peradaban jawa kuno. Tatacara budaya dan makna munggah molo Menurut Salikhin . Dalam budaya yang ada di indonesia pasti dijumpai sesajen munggah molo akan dijumpai persembahan seperti bendera atau kain merah, pisang 7 jenis, kelapa, tebu, bunga telon, wewedangan atau minuman seperti kopi dan teh , suket jampang priyas atau alng-alang, daun salam, jajan pasar dan tiyang tinggi. Untuk keperluan sesembahan perlu beberapa hal tersebut dan mengundang tetangga, tukang, dan ustaz sebagai pemimpin doa. dalam keperluan untuk ritual alat dan bahan yang dipakai memiliki makna filosofis masing- masing, seperti: Jajanan pasar yang diartikan sebagai simbol dari sebuah AukomunitasAy, karena jenis/warna tidak hanya satu tapi terbagi dari berapa Ae berapa eksposur pasar seperti wajik arem - arem. bunga goyang, dll. Ada pasar di sana ini adalah akhir dari persembahan mempunyai tujuan untuk membuat orang yang masih hidup di dalam rumah itu masih dalam tahap pembangunan selalu bisa berdamai dengan siapa pun tinggal di lingkungan. 7 jenis pisang Digunakan dalam persembahan sebagai simbol yang menjelaskan keinginan atau harapan dari pemilik rumah untuk menemukan kehidupan yang mudah, karena pohonnya pisang adalah jika ditanam di suatu tempat itu pasti mungkin tumbuh, jadi tujuan ada pisang di dalamnya selama pengorbanan saat membangun rumah itu sehingga bagi yang punya Rumah ini bisa ditinggali diterima dimana saja oleh masyarakat. Daun salam sebagai simbol keselamatan, tujuannya adalah seseorang yang tinggal di sana rumah tersebut selalu bisa diberikan keselamatan dunia dan selanjutnya. Rumput alang-alang mempunyai tujuan yang sama daun salam adalah Muhammad Budi Santoso. Kearifan Lokal Budaya Munggah Molo Dan Korelasinya Terhadap Pancasila. sebagai simbol kebahagiaan. Rumput alang-alang sebagai harapan untuk Tuhan akan memberi keselamatan bagi mereka yang membuat rumah. Tiga bunga sering diyakini oleh masyarakat sebagai sarana untuk berhubungan degan roh leluhur, karena menurut sebagian besar masyarakat Jawa mengatakan itu bunga ini adalah pernyataan ketiga dicintai oleh nenek moyang, khususnya nenek moyang anak perempuan, sebab terdapat tiga bunga yang dipakai oleh masyarakat desa sebagai ucapan permintaan maaf atas kesalahannyam, dan sebagai salah satu pengorbanan saat membangun rumah untuk penghormatan terhadap roh nenek moyang yang menjaga tempat tersebut. krambil/kelapa miliki makna simbolis sebagai simbol pemilik rumah tersebut diatas kemanfatan bagi untuk masyarakat. Wewedangan dari minuman kopi kopi manis, pahit, teh manis, teh pahit, pahit dan pahit - hampir tidak pernah mempunyai makna simbolis sebagai bentuk keinginan manusia. saat ada saudara atau tetangga dapat saling memberi hadiah yang cocok. Padi mempunyai makna simbolis sebagai tanda kemakmuran, tujuannya adalah itu sehingga pemilik rumah diberikan kemudahan serambi mencari peruntungan kepada Tuhan. Tebu di dalamnya saat memberikan persembahan rumah adalah sebagai bentuk keinginan mempunyai rumah untuk sekarang ditempati oleh siapapun selalu dapat memilikinya hidupnya bahagia dan mulia manis seperti tebu. Pakaian wanita digunakan untuk salah salah satu pengorbanannya mempunyai makna simbolik sebagai wujud Arti dari rumah ini adalah gi sedang raskan, kata pakaian itu dalam bentuk rumah pria yang memilikinya. Tujuan dari obat tersebut terwujud pakaian wanita ini sehingga rumah itu disebutkan selalu bisa tampil cantik dan cantik seperti wanita. Bendera merah putih dipasang di bagian paling atas rumah, ada pula hanya dilempar ke kajeng atau molo. Bendera dalam persembahan digunakan sebagai lambang atau tanda bahwa yang membangun rumah adalah orang asli Indonesia, bendera tersebut juga merupakan tanda penghormatan terhadap bangsa dan negara Indonesia. Nilai-Nilai Budaya munggah molo Dalam Korelasi Pancasila Dalam praktik nya mungah molo sangat berkaitan dengan pancasila, keterkaitan tersebut dapat dilihat pada sila pertama, yakni kepercayaan mengenai konsep ketuhanan pada saat kondangan yang diadakan oleh pemilik rumah dengan cara berdoa pada maha kuasa, dengan harapan kekokohan bangunan akan tetap terjaga, ini dapat dilihan dari pemakaian sebuah benda-benda yang dipakai pada sesajen dengan simbol-simbol harapan baik kepadan zat maha besar. Walaupun pengetahuan akan asal budaya munggah molo belum diketahui. Peranan sesajen juga menyasar pada makhluk gaib yang dulunya hidup di bumi, sehingga meskipun masyarakat Jawa percaya penuh kepada Yang Maha Kuasa, namun mereka tetap menyambut baik hal gaib dalam segala bidang kehidupannya. Masyarakat jawa biasa melakukan demi keharmonisan kosmos (Giri MC, 2010: . Selain itu, munggah molo juga selaras dengan sila ke dua dan ke lima, ditunjukkan dari berbagai pihak yang diharuskan ikut dalam budaya munggah molo baik itu tetangga sampai tukang yang mengerjakan pembangunan Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 365 - 375 rumah dengan suguhan makanan yang sama rata, mencerminkan kepedulian pada seluruh pihak dan keberadapan pada manusia. Dari sila ketiga dapat dilihat dari pemakaian bendera sebagai tanda dan identitas pemilik rumah, baik itu masyarakat jawa, arab, dan cina. Dalam munggah molo umunnya dipimpin oleh ustaz atau tokoh setepat. KESIMPULAN Budaya munggah molo merupakan bagian dari budaya Jawa yang memiliki akar yang sangat dalam dan terus dilestarikan oleh masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Nganjuk. budaya ini sudah dilakukan sejak zaman leluhur tanpa diketahui secara pasti asal usulnya. Namun budaya ini dianggap erat kaitannya dengan peradaban Jawa kuno. munggah molo sangat kaya dalam simbolisme budaya Jawa yang dapat dilihat dari persembahan seperti bendera merah putih, pisang 7 jenis, kelapa, tebu, bunga telon, wewedangan . opi dan te. , suket jampang priyas . lang-alan. , daun salam, jajan pasar, tiyang tinggi, dan pakaian wanita menjadi bagian integral dari ritual tersebut dengan makana yang melambangkan sebuah doa-doa baik untuk pemilik rumah. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Munggah Molo juga dapat dikaitkan dengan Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Amalan ugig molo ini mengandung doa kepada Yang Maha Esa agar kekuatan bangunan dan kehidupan yang dijalani senantiasa terjaga dan berkah. Margahana. , & Triyanto. Membangun Budaya Enterpreneurship Pada Masyarakat. Jurnal Ilmiah Edunomika, 3. , 300-309. Salikhin. Makna Simbolis Salebeting Sesajen Rikala Damel Griya Ing Desa Sikasur Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Bening: Jurnal Penelitian Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jawa, 1. Ula. Budaya Munggah Molo di Pekalongan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 10. , 1-24 Widiastuti. AuMengulik budaya munggah molo di masyarakat JawaAy,https://w. com/erzawidias tuti2982/63b3c4237767e4038b0b b6f2/mengulik-budaya-munggah-mo lo-di-masyarakat-jawa#::text=Bu daya munggah molo ada lah budaya,"polo" yang berarti kepala diakses pada 2 April 2024. Oleh karena itu, munggah molo tidak hanya sekedar ritual, namun juga mengandung makna mendalam akan sebuah hubungan. dengan nenek moyangnya. Kehidupan bermasyarakat, pengharapan keselamatan dan keberkahan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kebangsaan. DAFTAR PUSTAKA