p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 4. November 2025 GAMBARAN EFIKASI DIRI IBU HAMIL BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI DAN STATUS KESEHATAN DI PUSKESMAS KALUKU BODOA Nurleli1*. Andi Sani Silwanah1. Suarni2 Prodi Kesehatan Masyarakat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Prodi Profesi Ners. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Alamat Korespondensi: nurleli. stikma98@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Efikasi diri merupakan keyakinan individu dalam mengelola situasi, termasuk pada ibu Tingginya prevalensi anemia . ,9%) dan KEK . ,5%) pada ibu hamil di Indonesia diduga berkaitan dengan aspek psikologis ini. Tujuan: Menggambarkan distribusi efikasi diri ibu hamil berdasarkan karakteristik sosiodemografi dan status kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Kaluku Bodoa. Metode: Penelitian deskriptif, menggunakan purposive sampling melibatkan 112 ibu hamil pada MaretMei 2024. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, pengukuran LILA, dan pemeriksaan hemoglobin. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil: Sebanyak 57,1% responden memiliki efikasi diri tinggi. Proporsi tertinggi ditemukan pada ibu berpendidikan tinggi . ,2%), wiraswasta . ,0%), primigravida . ,5%), serta kelompok yang tidak mengonsumsi suplemen . ,6%) dan aktif mencari informasi kesehatan . ,2%). Status KEK lebih tinggi pada kelompok efikasi diri tinggi . ,8% vs 22,9%), namun prevalensi anemia lebih rendah pada kelompok tersebut . ,4% vs 29,2%). Kesimpulan: Mayoritas ibu hamil memiliki efikasi diri tinggi dengan variasi berdasarkan karakteristik Diperlukan intervensi terintegrasi dalam layanan antenatal untuk meningkatkan efikasi diri melalui konseling dan edukasi kesehatan berbasis digital. Kata Kunci: Efikasi diri. Ibu Hamil. Status Gizi. Hemoglobin. Sosiodemografi PENDAHULUAN Kehamilan merupakan periode kritis yang memerlukan adaptasi fisik dan psikologis Efikasi diri, yang didefinisikan melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mengelola situasi tertentu (Bandura, 1. , memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana ibu hamil menghadapi berbagai tantangan selama periode ini. Keyakinan ini sangat mempengaruhi pola pikir, motivasi, perilaku, dan ketahanan menghadapi stres (Bandura, 1. Secara global, kondisi kesehatan ibu hamil masih menjadi perhatian. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization (WHO), bahwa 36,5% ibu hamil di dunia menderita Sementara itu, prevalensi Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil di negara mencapai 10-20% (Black et al. , 2. Indonesia, masalah kesehatan ibu hamil juga cukup tinggi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2. menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia adalah 48,9%, mengalami peningkatan dari tahun 2018 yang sebesar 37,1%. Prevalensi KEK (LILA < 23,5 c. pada ibu hamil Indonesia adalah 17,5%, dan secara khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan, angkanya mencapai 18, 2%, lebih tinggi dari rata-rata nasional (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2. Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Rendahnya efikasi diri pada ibu hamil dilaporkan memiliki kaitan dengan buruknya perilaku kesehatan dan outcome kehamilan. Sebuah studi oleh Shorey et al. menemukan bahwa 40% sampel ibu hamil di Asia Tenggara dilaporkan memiliki tingkat efikasi diri yang rendah hingga sedang (Shorey et al. , 2. Ibu hamil dengan efikasi diri rendah cenderung memiliki keterampilan koping yang buruk, tingkat kecemasan yang lebih tinggi (Reece & Harkless, 2. , dan kepatuhan yang lebih rendah terhadap perawatan antenatal (Kusumaningrum et al. Di Indonesia, penelitian pendahuluan oleh Pratiwi et al. di Jawa Tengah menemukan bahwa sekitar 45% ibu hamil memiliki tingkat efikasi diri yang rendah, dan kelompok ini secara signifikan lebih mungkin untuk mengalami komplikasi kehamilan. Berdasarkan data awal dari Puskesmas Kaluku Bodoa pada tahun 2023, meskipun cakupan pelayanan Antenatal Care (ANC) telah mencapai 95%, masih ditemukan prevalensi anemia sebesar 25% dan KEK sebesar 15% di antara I bu hamil di wilayah kerjanya. Disparitas antara cakupan pelayanan yang tinggi dan outcome kesehatan yang belum optimal ini mengindikasikan adanya faktor non-medis, psikososial, yang turut berperan. Efikasi diri diduga menjadi salah satu faktor kunci yang memediasi hubungan antara pengetahuan kesehatan dengan tindakan nyata . erilaku kesehata. pada ibu hamil (Liu et al. , 2. Penelitian ini penting dilakukan karena efikasi diri yang tinggi dapat berfungsi sebagai psychological buffer. Ibu hamil dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih proaktif dalam mencari informasi kesehatan (Lee & Kim, 2. , lebih patuh dalam mengonsumsi suplemen (Patel et al. , 2. , dan lebih resilien dalam menghadapi ketidaknyamanan selama kehamilan (Wei et al. , 2. Mereka memandang tantangan sebagai sesuatu yang dapat diatasi, bukan sebagai ancaman yang tidak dapat dihadapi (Bandura, 1. Oleh karena itu, memetakan tingkat efikasi diri dan sosiodemografi serta status kesehatan adalah langkah kritis dan strategis. Wilayah Kerja Puskesmas Kaluku Bodoa mewakili karakteristik populasi yang unik dan heterogen, mencakup area perkotaan dan Namun, komprehensif yang memotret gambaran efikasi diri ibu hamil dan kaitannya dengan status gizi (KEK) dan anemia di wilayah ini. Berdasarkan uraian dan data empiris tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran efikasi diri ibu hamil berdasarkan karakteristik sosiodemografi dan status kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Kaluku Bodoa. Pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar evidence-based untuk merancang intervensi kesehatan maternal yang lebih holistik, tidak hanya fokus pada aspek biomedis tetapi juga memperkuat aspek psikologis ibu. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif dipilih untuk menggambarkan secara sistematis dan akurat mengenai karakteristik efikasi diri ibu hamil serta distribusinya berdasarkan variabel sosiodemografi dan status Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Kaluku Bodoa selama periode Maret hingga Mei 2024. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas dan karakteristik populasi ibu hamil yang heterogen, sehingga dapat memberikan gambaran yang komprehensif. Periode tiga bulan dinilai cukup untuk mengumpulkan data dengan cakupan sampel yang memadai. Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Kaluku Bodoa selama periode penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan jumlah sampel yang berhasil dikumpulkan sebanyak 112 ibu hamil. Kriteria inklusi dalam penelitian meliputi: . Ibu hamil yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed . Ibu hamil yang dapat membaca dan . Ibu hamil yang tidak memiliki gangguan komunikasi berat. Sedangkan kriteria eksklusi adalah: . Ibu hamil dengan kondisi emergensi obstetri. Ibu hamil dengan gangguan mental atau kognitif. Instrumen pengumpulan Pengumpulan data di lakukan dengan Kuesioner responden yang berisi data sosiodemografi dan perilaku kesehatan. Kuesioner efikasi diri yang diadaptasi dari Pregnancy Self-Efficacy Questionnaire dengan modifikasi sesuai konteks local. Alat ukur LILA (Mid Upper Arm Circumferenc. untuk menentukan status KEK dengan kriteria LILA < 23,5 cm, dan Alat hemoglobinometer digital dengan kriteria anemia bila Hb < 11 g/dL. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui tiga . Wawancara karakteristik dan efikasi diri. Pengukuran antropometri dengan pita LILA untuk menilai status gizi. Pemeriksaan laboratorium sederhana untuk mengukur kadar hemoglobin Analisis Data Data secara deskriptif untuk frekuensi dan persentase setiap variabel. HASIL Hasil berdasarkan analisis data terhadap 112 responden ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kaluku Bodoa. Hasil penelitian disusun berdasarkan tujuan penelitian yang mencakup gambaran karakteristik responden, tingkat efikasi diri ibu hamil, serta hubungan faktor-faktor sosiodemografi, perilaku kesehatan, dan status Hasil penelitian berdasarkan Tabel 1, menunjukkan distribusi efikasi diri ibu hamil sosiodemografi, yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, konsumsi suplemen, dan pencarian informasi kesehatan. Secara umum, dari total 112 responden, mayoritas ibu hamil memiliki tingkat efikasi diri tinggi . ,1%), sedangkan sisanya tergolong efikasi diri rendah . ,9%). Hal ini menandakan bahwa sebagian besar ibu hamil dalam penelitian ini memiliki keyakinan positif terhadap kemampuan dirinya dalam menjalani kehamilan dan mengatasi berbagai perubahan fisik maupun psikologis yang terjadi selama periode tersebut. Jika dilihat berdasarkan kategori umur, mayoritas responden berada pada kelompok usia risiko rendah . Ae35 tahu. dengan proporsi efikasi diri tinggi sebesar 57,1%. Sementara pada kelompok usia risiko tinggi (<20 tahun dan >35 tahu. , proporsi efikasi diri tinggi juga sama, yaitu 57,1%. Kesamaan ini menunjukkan bahwa usia tidak menjadi faktor pembeda yang kuat dalam menentukan tingkat efikasi diri pada ibu hamil. Namun demikian, kelompok usia reproduktif ideal umumnya memiliki kesiapan psikologis yang lebih baik untuk menghadapi perubahan dan tantangan selama kehamilan dibandingkan usia ekstrem. Berdasarkan tingkat pendidikan, hasil menunjukkan bahwa ibu dengan pendidikan tinggi memiliki proporsi efikasi diri tinggi Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 sebesar 66,2%, lebih tinggi dibandingkan ibu dengan pendidikan rendah yang hanya 44,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan ibu, semakin besar pula keyakinannya terhadap kemampuan diri. Pendidikan yang lebih tinggi dapat membantu ibu memahami informasi kesehatan, mengenali tanda-tanda risiko selama kehamilan, serta menerapkan perilaku pencegahan dengan lebih Hal ini memperlihatkan bahwa latar belakang pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi dan kesiapan mental ibu selama kehamilan. Dari segi pekerjaan, sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga (IRT), yaitu sebanyak 101 orang . ,2%), dengan proporsi efikasi diri tinggi sebesar 56,4%. Responden yang bekerja sebagai wiraswasta memiliki efikasi diri tinggi tertinggi . ,0%), sedangkan pada kelompok PNS sebesar 57,1%. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis pekerjaan tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat efikasi diri, meskipun ibu yang aktif bekerja di luar rumah cenderung memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dalam menghadapi situasi baru, termasuk selama kehamilan. Ibu rumah tangga pun masih menunjukkan efikasi diri yang baik, menandakan bahwa aktivitas domestik tidak selalu berkaitan dengan rendahnya kepercayaan diri, terutama jika ibu memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar. Dari segi paritas, hasil menunjukkan bahwa ibu multigravida memiliki proporsi efikasi diri tinggi sebesar 56,0%, sedikit lebih rendah dibandingkan ibu primigravida yang mencapai 59,5%. Artinya, baik ibu yang baru pertama kali hamil maupun yang sudah memiliki pengalaman kehamilan sebelumnya, sama-sama menunjukkan kepercayaan diri yang cukup baik. Bagi primigravida, efikasi diri mungkin muncul karena semangat dan antusiasme menghadapi pengalaman baru, sedangkan pada multigravida, efikasi diri bisa terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan Dari ditemukan hasil yang menarik. Ibu yang tidak mengonsumsi suplemen memiliki efikasi diri tinggi lebih besar . ,6%) dibandingkan dengan ibu yang mengonsumsi suplemen . ,0%). Hal ini bisa diinterpretasikan bahwa sebagian ibu yang tidak rutin mengonsumsi suplemen merasa kondisi kesehatannya sudah cukup baik tanpa tambahan zat besi atau vitamin, atau bisa juga menunjukkan persepsi keliru bahwa konsumsi suplemen tidak terlalu Temuan ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara persepsi dan praktik kesehatan yang perlu diperhatikan dalam program edukasi ibu hamil. Variabel pencarian informasi kesehatan menunjukkan hasil yang paling kontras. Ibu yang pernah mencari informasi kesehatan memiliki efikasi diri tinggi sebesar 59,2%, sedangkan yang tidak pernah mencari informasi hanya 33,3%. Ini menandakan bahwa aktivitas pencarian informasi sangat berperan dalam meningkatkan efikasi diri ibu. Ibu yang aktif mencari informasi, baik melalui tenaga kesehatan, media online, atau lingkungan sosial, cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan selama kehamilan dan cara menjaga kesehatannya, sehingga meningkatkan kepercayaan diri dalam menjalani proses tersebut. Untuk menilai keterkaitan efikasi diri dengan kondisi fisik ibu. Tabel 2 menyajikan distribusi hubungan antara tingkat efikasi diri dan status gizi berdasarkan pengukuran lingkar lengan atas (LILA) dan kadar hemoglobin ibu Berdasarkan Tabel 2, hasil penelitian menunjukkan distribusi status gizi dan kadar hemoglobin (H. pada ibu hamil jika ditinjau dari tingkat efikasi diri. Pada kelompok efikasi diri rendah, sebanyak 77,1% ibu memiliki LILA dalam batas normal dan hanya 22,9% Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK). Sedangkan pada kelompok efikasi diri tinggi, proporsi ibu dengan LILA normal sebesar 67,2%, dan 32,8% mengalami KEK. Meskipun terdapat perbedaan proporsi, hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil dalam kedua kelompok memiliki status gizi yang cukup baik. Untuk variabel kadar hemoglobin, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok efikasi diri tinggi, sebanyak 76,6% ibu memiliki kadar Hb normal, svariabel kadarmengalami anemia. Sementara itu, pada kelompok efikasi diri rendah, proporsi ibu dengan kadar Hb normal mencapai 70,8%, dan 29,2% lainnya mengalami anemia. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa ibu dengan efikasi diri tinggi cenderung memiliki dibandingkan ibu dengan efikasi diri rendah. Selain faktor sosiodemografi dan status kesehatan, efikasi diri ibu hamil juga dipengaruhi oleh akses terhadap informasi Diagram berikut menggambarkan berbagai sumber informasi yang digunakan responden dalam memperoleh pengetahuan tentang kehamilan. Grafik 1 menunjukkan bahwa internet menjadi sumber informasi kesehatan yang paling banyak digunakan oleh ibu hamil . %). Hal ini menunjukkan bahwa akses digital telah menjadi sarana utama bagi ibu dalam mencari pengetahuan seputar kehamilan karena kemudahannya dan jangkauan informasi yang Sumber informasi berikutnya adalah bidan/dokter . %) dan bidan . %), menunjukkan bahwa tenaga kesehatan masih menjadi rujukan penting meskipun tidak sebesar peran media digital. Sementara kombinasi internet dan tenaga kesehatan hanya digunakan oleh sebagian kecil ibu . Ae9%), dan dokter saja menjadi sumber informasi terendah . %). PEMBAHASAN Penelitian ini mengungkap gambaran efikasi diri ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Kaluku Bodoa dengan berbagai karakteristik sosiodemografi dan status Temuan bahwa 57,1% ibu hamil memiliki efikasi diri tinggi sejalan dengan penelitian Pratiwi et al. yang menyatakan bahwa mayoritas ibu hamil di wilayah urban memiliki keyakinan positif terhadap kemampuan diri dalam menjalani kehamilan (Pratiwi et al. , 2. Efikasi diri yang tinggi merupakan fondasi penting bagi perilaku kesehatan positif selama kehamilan (Bandura, 1. Karakteristik Sosiodemografi Temuan bahwa usia tidak menjadi faktor pembeda yang signifikan terhadap efikasi diri, dimana kedua kelompok usia risiko tinggi dan rendah memiliki proporsi efikasi diri tinggi yang sama . ,1%). Hal ini bertentangan dengan penelitian Andriani et al. yang menemukan bahwa usia maternal yang lebih muda berkorelasi dengan efikasi diri yang lebih rendah (Andriani et al. , 2. Namun, temuan ini didukung oleh Sari et al. yang menyatakan bahwa dukungan sosial yang adekuat dapat memoderasi pengaruh usia terhadap efikasi diri (Sari et al. , 2. Pendidikan terbukti prediktif penting bagi efikasi diri, dimana ibu dengan pendidikan tinggi memiliki proporsi efikasi diri tinggi . 2%) yang lebih besar dibandingkan pendidikan rendah . 7%). Hasil ini konsisten dengan meta-analisis Chen & Wang . yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi memfasilitasi akses informasi kesehatan dan kemampuan kognitif dalam memproses informasi kompleks seputar kehamilan (Chen & Wang, 2. Ibu berpendidikan tinggi cenderung memiliki health literacy yang lebih baik, sehingga lebih percaya diri dalam Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 mengambil keputusan kesehatan (Liu et al. Dari aspek pekerjaan, meskipun sebagian besar responden adalah IRT . ,2%), proporsi efikasi diri tinggi tetap baik . ,4%). Temuan ini didukung oleh Fauziah et al. yang menekankan bahwa ibu rumah tangga dengan dukungan keluarga yang optimal dapat mengembangkan efikasi diri yang baik (Fauziah et al. , 2. Sementara itu, kelompok wiraswasta menunjukkan efikasi diri tertinggi . 0%), mengkonfirmasi penelitian Huang et . bahwa kemandirian finansial dan pengambilan keputusan di tempat kerja dapat mentransformasi menjadi rasa percaya diri dalam mengelola kesehatan (Huang et al. Paritas menunjukkan pola yang menarik dimana primigravida justru memiliki efikasi diri sedikit lebih tinggi . ,5%) dibandingkan multigravida . ,0%). Hal ini kontras dengan studi sebelumnya yang biasanya mengaitkan pengalaman kehamilan dengan efikasi diri yang lebih tinggi (Kusumaningrum et al. , 2. Namun, temuan ini sejalan dengan Zhang et al. yang menjelaskan bahwa primigravida di era digital cenderung lebih aktif mencari informasi dan memiliki ekspektasi positif terhadap kehamilan, sementara multigravida mungkin menghadapi kecemasan berdasarkan pengalaman sebelumnya (Zhang et al. , 2. Pencarian Informasi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan Temuan paling signifikan adalah antara pencarian kesehatan dengan efikasi diri, dimana ibu yang pernah mencari informasi memiliki efikasi diri tinggi hampir dua kali lipat . ,2%) dibandingkan yang tidak pernah . ,3%). Hasil ini konsisten dengan systematic review Lee & Kim . yang menegaskan bahwa akses informasi kesehatan merupakan determinan kritis efikasi diri maternal (Lee & Kim, 2. Dominasi internet sebagai sumber informasi utama . %) mengkonfirmasi tren digital health literacy yang semakin penting di era modern (Park et al. , 2. Hasil pada konsumsi suplemen, dimana ibu yang tidak mengonsumsi suplemen justru memiliki efikasi diri lebih tinggi . ,6%). Temuan ini berlawanan dengan harapan klinis namun didukung oleh qualitative study Aminah et al. yang mengungkap bahwa beberapa ibu "pengobatan" sehingga asosiasinya justru dengan kondisi kesehatan yang bermasalah (Aminah et al. , 2. Ibu dengan persepsi kesehatan baik mungkin merasa tidak memerlukan suplemen, mencerminkan what is known as 'health optimism bias' (Thompson & Brown, 2. Status Gizi dan Hemoglobin Temuan yang mengejutkan adalah proporsi KEK yang lebih tinggi pada kelompok efikasi diri tinggi . ,8%) dibandingkan rendah . ,9%). Ini bertentangan dengan teori sosial kognitif yang memprediksi hubungan positif antara efikasi diri dengan status gizi. Namun, systematic review Garcya et al. menjelaskan bahwa dalam konteks sumber daya terbatas, efikasi diri mungkin tidak cukup untuk mengatasi determinan struktural status gizi seperti akses pangan bergizi. Perbedaan ini menunjukkan kompleksitas determinan status gizi maternal yang melampaui faktor psikologis individu (Garcya et al. , 2. Sebaliknya, pola yang diharapkan terlihat pada kadar hemoglobin, dimana kelompok efikasi diri tinggi memiliki prevalensi anemia lebih rendah . ,4%) dibandingkan rendah . ,2%). Temuan ini selaras dengan penelitian Patel et al. yang membuktikan bahwa efikasi diri memprediksi kepatuhan konsumsi suplemen besi dan diversifikasi diet (Patel et , 2. Ibu dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih konsisten dalam menerapkan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 perilaku pencegahan anemia (Ningrum et al. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mayoritas ibu hamil . ,1%) memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi, yang mencerminkan keyakinan positif mereka dalam menghadapi masa kehamilan. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar tenaga kesehatan mengintegrasikan assessment dan intervensi untuk meningkatkan efikasi diri ibu hamil, khususnya yang berpendidikan rendah, ke dalam layanan antenatal care rutin. Selain itu, perlu dikembangkan strategi komunikasi kesehatan yang efektif serta pemanfaatan platform digital untuk menyampaikan informasi yang akurat guna memperkuat keyakinan diri ibu dalam menjalani masa kehamilan. DAFTAR PUSTAKA